Saturday, May 9, 2020

Lorong Waktu STOVIA

Kita mengenal Museum Kebangkitan Nasional sebagai tempat berdirinya Boedi Oetomo, organisasi modern pertama yang menjadi pelopor pergerakan nasional. Namun lorong-lorong gedung yang dibangun pada tahun 1899 ini juga merupakan saksi terbentuknya generasi pertama dokter-dokter Indonesia, sekaligus menjadi cikal bakal pendidikan tinggi kedokteran di Indonesia.

Fasad depan Museum Kebangkitan Nasional
Pendidikan tinggi kedokteran di Indonesia berawal dari munculnya wabah penyakit pada abad ke-19 di Hindia Belanda. Untuk mendatangkan dokter dari Belanda akan memakan biaya besar, sehingga pada tanggal 2 Januari 1849 pemerintah kolonial Hindia Belanda memutuskan untuk membuka pendidikan kedokteran bagi masyarakat pribumi. Dua tahun kemudian berdirilah Sekolah Dokter Jawa di Rumah Sakit Militer Weltevreden (sekarang RSPAD Gatot Subroto), dan lulusannya dipekerjakan sebagai mantri cacar. Di antara para lulusan pada masa itu tersebut terdapat dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. RM Soekardi, dan dr. Abdoel Rivai.

Pada tahun 1898, dr. Hermanus Frederik Roll, Direktor Sekolah Dokter Jawa, mengusulkan kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menyelenggarakan pendidikan kedokteran yang setara dengan pendidikan kedokteran di Belanda.  Tahun 1902, berdirilah School tot Opleiding van Indlandsche Artsen (STOVIA), atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera. Setahun kemudian, dibangun gedung baru di sebelah rumah sakit militer Weltevreden, menjadi gedung yang sekarang kita kenal sebagai Museum Kebangkitan Nasional. Gedung baru ini digunakan sebagai tempat pendidikan, sekaligus dilengkapi dengan asrama.

Suasana Asrama STOVIA yang ditampilkan dalam Ruang Asrama STOVIA
Siswa STOVIA semula berasal dari golongan bangsawan tamatan sekolah Belanda. Namun pada masa Politik Etis, STOVIA mulai menerima siswa dari sekolah pribumi, dan membebaskan biaya sekolah. Kebijakan ini melahirkan golongan priyayi baru, yaitu kelompok terdidik yang berasal dari rakyat biasa. Dari sinilah muncul tokoh-tokoh pergerakan bangsa, antara lain dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan dr. Sutomo.

Diorama yang Menggambarkan Suasana Ruang Kelas Terbuka di STOVIA
Dalam aktivitas belajar mengajar, para siswa STOVIA juga melakukan praktek di laboratorium atau praktek seperti dokter. Peralatan yang digunakan sama seperti yang digunakan di rumah sakit pada masa itu. Di antara peralatan yang digunakan terdapat Alat Pemecah Kepala yang digunakan untuk memecahkan kepala pada mayat. Tujuannya adalah mempelajari isi kepala dan otak sebagai pusat utama organ tubuh manusia. Peralatan lain adalah Elektrokardiograf tempoe doeloe, yang digunakan untuk mendukung fisiologi jantung.


Alat Pemecah Kepala
Peristiwa penting yang pernah terjadi di STOVIA adalah berdirinya Boedi Oetomo, organisasi modern pertama dalam pergerakan nasional. Peristiwa tanggal 20 Mei 1908 ini terjadi di Ruang Anatomi. Situasi saat para siswa STOVIA mendeklarasikan Boedi Oetomo ini diabadikan dalam diorama di Ruang Anatomi. Untuk mempertahankan suasana asli pada saat itu, di ruangan masih terpasang meja bedah sebuah kerangka manusia asli yang digunakan untuk belajar anatomi. Seolah mengingatkan bahwa peristiwa ini diprakarsai oleh para siswa STOVIA, di dinding selatan terdapat cuplikan Sumpah Hippocrates dalam bahasa Latin.  Sumpah ini merupakan sumpah wajib bagi seluruh dokter di dunia tentang etika yang harus dilakukan dalam menjalankan praktik profesinya.

Ruang Memorial Boedi Oetomo yang menempati kelas Ruang Anatomi
Karena keberaniannya mendirikan Boedi Oetomo, Soetomo menimbulkan keresahan di staf pengajar STOVIA. Para staf pengajar sempat memperdebatkan hukuman pemecatan Soetomo dari STOVIA, karena takut dinilai gagal membina anak didiknya. Namun H.F. Roll yang saat itu masih menjabat sebagai Direktur STOVIA memberikan pandangan dalam rapat dosen, yang berakhir dengan keputusan Soetomo tetap diperkenankan menyelesaikan pendidikannya di STOVIA. Suasana rapat ini terekam dalam diorama di Ruang Dosen.

Diorama suasana rapat di Ruang Dosen
STOVIA menjalankan fungsinya untuk meluluskan dokter-dokter terbaik dari kalangan bumiputra. Beberapa di antara para lulusannya memberikan andil yang besar dalam perkembangan kesehatan di Indonesia. Seperti dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang terjun langsung dalam memberantas wabah pes di Malang, dr. Soeradji Tirtonegoro yang berperan penting dalam pemberantasan wabah busung lapar di Klaten, dr. Jacob Bernadus Sitanala yang meneliti penyakit kusta, dr. Achmad Mochtar yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi kepala Lembaga Eijkman, dr. Djoehana Wiradikarta yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi kepala Lembaga Pasteur, dan dr. Margono Soekardjo selaku ahli bedah pertama Indonesia.

Gedung STOVIA di Hospitaalweg mengakhiri tugasnya pada tahun 1920 sebagai tempat menggodok calon-calon dokter Indonesia, setelah dibangun gedung baru yang lebih representatif di Salemba, bersebelahan dengan rumah sakit terpadu yang dapat menampung lebih banyak siswa pendidikan kedokteran. Selama beberapa waktu, gedung ini masih berfungsi sebagai asrama dan tempat tinggal, sebelum digunakan untuk Museum Kebangkitan Nasional. Keberadaan Museum Kebangkitan Nasional tidak hanya sekadar menampilkan koleksi terkait sejarah pergerakan nasional, namun juga menjadi lorong waktu yang menampilkan bukti-bukti keberadaan lembaga pendidikan STOVIA sebagai pendidikan tinggi kedokteran pertama di tanah air.