Tuesday, March 24, 2015

Wisata Cagar Budaya Jateng: Ketika Matahari Bersinar Terang di Candi Gedongsongo

“Naik kuda, Mbak?”
 Teguran salah satu pengasuh kuda di Candi Gedongsongo mengalihkan perhatian saya dari bangunan candi yang terlihat di depan mata. Bangunan candi yang ada di depan saya adalah Candi Gedong I, seperti yang tertera pada papan di dekat candi tersebut, dan tidak terlihat bangunan candi lainnya. Setelah melihat keterangan di papan mengenai Kompleks Candi Gedong Songo, ternyata untuk mengelilingi seluruh kompleks, saya harus menempuh jalan setapak dengan kontur yang naik turun sejauh 4 kilometer. Karena waktu terbatas dan untuk menghemat tenaga, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi kuda. Pengelola Kompleks Candi Gedong Songo sudah menetapkan standar tarif wisata berkuda, sehingga saya tak perlu repot tawar menawar dengan para pengasuh kuda. Akhirnya saya menyambut tawaran Mas Apip, pengasuh kuda yang menegur saya, untuk menggunakan jasa kudanya yang bernama Riska berkeliling seluruh kompleks candi.

Saya dan Riska di Depan Candi Gedong IV
Kompleks Candi Gedong Songo terletak di Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Kompleks percandian ini pertama kali ditemukan pada tahun 1740 oleh Loten. Nama Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa “Gedong” yang berarti bangunan, serta “Songo” yang berarti sembilan, karena di kawasan candi ini terdapat sembilan kelompok bangunan yang dibagi dalam 5 kelompok besar. Bangunan-bangunan tersebut tersebar di lereng Gunung Ungaran, di antara hutan pinus dan perkebunan sayur masyarakat, memberikan paduan panorama indah dan unik yang sulit ditemukan di tempat lain. Tidak diketahui secara pasti kapan kompleks percandian ini dibangun, namun diperkirakan candi ini dibangun oleh Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad VII Masehi, dan merupakan bangunan agama Hindu tertua di Jawa, lebih tua daripada Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Mas Apip mengarahkan Riska untuk membawa saya menuju ke Candi Gedong V terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan menuju Candi Gedong V, terlihat hamparan pepohonan dan perkebunan sayur milik warga, dinaungi langit yang terang benderang. Di kompleks candi yang berada di ketinggian 1200 meter ini, hawanya biasanya cukup dingin, dan sering kali kabut tipis turun. Namun hari ini matahari sedang “berbaik hati”, cuaca yang terang benderang membuat saya bisa melihat keindahan panorama alam ini, termasuk melihat dengan jelas candi-candi yang terdapat di kompleks percandian ini dari kejauhan. Karena tak terbiasa naik kuda, awalnya saya sempat tegang, terutama saat melewati jalan yang terjal sekaligus berkelok. Mas Apip berulang kali mengingatkan agar badan saya lentur mengikuti gerakan kudanya.

Setelah mendaki selama 20 menit dan menembus deretan pepohonan pinus, tanpa terasa kami tiba di lapangan terdekat dengan Candi Gedong V. Saya turun dari punggung Riska, kemudian melangkahkan kaki ke arah Candi Gedong V. Inilah candi dengan tempat tertinggi di kompleks pecandian Gedong Songo, di ketinggian 1308 meter dari permukaan laut. Di tempat ini, hanya tersisa sebuah candi yang relatif utuh, sedangkan sisanya berupa reruntuhan batu yang sulit untuk disusun ulang. Dari tempat ini terlihat pemandangan gugusan pegunungan Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Telomoyo yang mengelilingi kawasan candi Gedong Songo. Saat melihat ke arah bawah, terlihat candi-candi lain seperti bangunan kecil yang menyembul di antara hamparan hijau tumbuh-tumbuhan.


Candi Gedong V Dengan Latar Belakang Pegunungan Telomoyo
Dari Candi Gedong V, saya kembali ke lapangan. Di sisi seberang lapangan, terlihat Candi Gedong IV. Setelah melepas dahaga dengan minuman yang saya beli dari penjaja minuman di dekat Candi Gedong V, saya menyeberangi lapangan untuk melihat Candi Gedong IV dari dekat. Di Candi Gedong IV terlihat satu candi yang masih utuh, sisanya adalah reruntuhan candi yang tinggal puing-puing. Kurang lebih 50 meter dari Candi Gedong IV, terlihat satu buah candi perwara yang baru selesai direnovasi pada tahun 2010. Dari sisa bangunan yang ada, Candi Gedong IV diperkirakan semula memiliki 12 bangunan. Dari Candi Gedong IV, saya naik ke punggung Riska, dan Mas Apip membawa kami melewati jalan setapak melewati sumber air panas untuk menuju Candi Gedong III. Mendekati lokasi sumber air panas, mulai terlihat kepulan uap air dan tercium bau belerang. Batu-batuan yang berada di sekitar kawah terlihat kekuningan, menandakan kandungan belerang yang cukup tinggi. Air panas yang mengandung belerang ini dialirkan ke kolam khusus untuk digunakan berendam, dan konon berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit, khususnya penyakit kulit.

Candi Gedong IV

Salah Satu Kawah Belerang di Dekat Sumber Air Panas
Sambil melanjutkan perjalanan menuju Candi Gedong III, saya mencoba membayangkan posisi bangunan candi yang ada di Gedong Songo, seolah candi-candi tersebut dibuat mengitari sumber air panas. Banyak penafsiran para ahli terhadap lokasi bangunan candi yang terpencar-pencar. Satu pendapat mengatakan bahwa candi-candi ini dibuat untuk melindungi sumber air panas yang dianggap suci. Pendapat lain adalah candi-candi ini menggambarkan petunjuk rangkaian prosesi keagamaan yang dilakukan dari candi terbawah hingga teratas. Dugaan lain, posisi candi yang berderet dari bawah hingga ke atas merupakan gambaran hirarki kesucian, di mana candi yang di atas posisinya lebih suci dibandingkan candi di bawahnya. Mana pendapat yang paling tepat, tentunya perlu penelitian lebih lanjut. Tiba di Candi Gedong III, saya turun dari punggung Riska untuk melihat ke Candi Gedong III. Di antara kompleks candi yang ada di Gedong Songo, Candi Gedong III merupakan yang paling lengkap. Candi ini dibatasi dengan beranda dan terdiri dari 3 buah bangunan. Masih terlihat beberapa arca di relung luar candi induk, yaitu arca Durga dan Ganesha, serta arca pengawal dewa Syiwa Nandiswara dan Mahakala yang berada di samping kanan kiri pintu candi.

Candi Gedong III
Puas memotret di Candi Gedong III, saya kembali naik ke punggung Riska dan melanjutkan perjalanan ke Candi II. Di Candi Gedong II yang berada di ketinggian 1274 meter, terdapat dua bangunan candi induk yang menghadap ke barat, dengan reruntuhan candi perwara yang berhadapan dengan candi induk. Candi induk di kompleks ini merupakan candi yang paling besar yang terdapat di Gedong Songo. Karena bentuknya yang relatif utuh, candi ini menjadi favorit wisatawan untuk berfoto ria.

Candi Gedong II Dilihat Dari Atas
Setelah selesai melihat-lihat di Candi Gedong II, saya kembali naik ke punggung Riska, dan Mas Apip membawa kami menelusuri jalan setapak kembali ke titik awal pemberangkatan kami di dekat Candi Gedong I. Setelah turun dari punggung Riska dan membayar tarif wisata kuda ke Mas Apip sebesar Rp 70.000,-, saya melihat jam tangan, rupanya saya sudah berkeliling Kompleks Candi Gedongsongo selama 1 jam 15 menit. Saya kemudian mendekati bangunan Candi Gedong I yang hanya terdiri dari 1 bangunan. Saat melongok ke dalam ruangan candi, ternyata Candi Gedong I adalah satu-satunya candi yang masih memiliki yoni tanpa lingga, sedangkan candi lainnya kosong. Di dalam ruangan candi Gedong I terlihat tebaran bunga sesaji, menunjukkan bahwa tempat ini masih digunakan untuk pemujaan.

Candi Gedong I
Sebelum keluar dari Kompleks Candi Gedong Songo, sekali lagi saya memandang ke arah perbukitan. Masih melekat kuat dalam benak perjalanan yang baru saja saya lakukan bersama Riska dan Mas Apip. Tanpa Riska dan Mas Apip, rasanya tak mungkin saya bisa menjangkau seluruh candi di kompleks ini dalam waktu singkat. Sebuah pengalaman yang akan terus saya kenang, berkeliling candi-candi cantik di perbukitan dengan naik kuda.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 2.

5 comments:

Dewi Rieka said...

wah seru yaa..aku cuma pernah di candi pertama aja hihihihi..ngga kuku apalagi gerimis pisan...semoga menang ya mak..

Wind. said...

Terakhir kesana tahun 2003, lihat ini jadi pengen kesana lagi.

Ririe Khayan said...

seru banget itu keliling candi dengan naik kuda, sensasinya berasa spt di Jaman Brama Kumbara kan? hehehe

abby onety said...

Sukses lombanya ya mbk. Semoga menang (y)

Fahmi Anhar said...

saya belum pernah ke candi gedong songo malah haha, kapan2 kesana ah