Tuesday, August 22, 2017

Situs Batujaya, candi-candi masa Tarumanegara di Tengah Sawah

Langit cerah berwarna pucat di atas wilayah Karawang menemani kami, 25 peserta Plesiran Tempo Doeloe, menelusuri pematang beton yang membelah kawasan persawahan menuju situs percandian Batujaya. Berjalan paling depan adalah Pak Dwi Cahyono, peneliti sejarah dan arkeologi, beserta Pak Kaisin, sesepuh Desa Segaran yang sudah berusia lebih dari 80 tahun. Cuaca hari itu lumayan panas, namun kami tetap bersemangat melihat situs candi tertua di Jawa Barat, yang bahkan diduga lebih tua dibandingkan Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Situs percandian Batujaya terletak 50 km di ke arah timur dari Jakarta, atau 47 km ke arah barat laut dari pusat Kota Karawang, tepatnya di kawasan Teluk Karawang yang merupakan bagian dari Teluk Jakarta. Situs ini berada di wilayah seluas 5 km2, meliputi Desa Segaran di Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya di Kecamatan Pakis. Berdasarkan hasil analisis radiocarbon pada sekam padi yang terkandung dalam batu bata yang membangun candi, para ahli menduga Situs Batujaya dibangun pada abad 2-3 Masehi, menandai peralihan dari masa prasejarah menuju masa sejarah. Hasil analisa tersebut membuat situs Batujaya sering dikaitkan dengan Kerajaan Tarumanegara yang merupakan kerajaan Hindu Waisnawa. Uniknya, temuan-temuan arkeologis di situs Batujaya menunjukkan bahwa candi-candi di Batujaya bukan merupakan candi Hindu, melainkan candi Buddha Mahayana. Hal ini membawa kesimpulan bahwa situs Batujaya bukanlah lokasi pusat kerajaan Tarumanegara.

Situs Batujaya mulai diketahui keberadaannya pada tahun 1984, ketika para peneliti dari tim survey arkeologi Universitas Indonesia akan meneliti Situs Cibuaya yang terletak tak jauh dari kawasan Batujaya. Menurut Pak Kaisin, penduduk Batujaya menyampaikan kepada para peneliti bahwa di Batujaya terdapat banyak temuan dalam bentuk batu bata. Para penduduk kemudian mengantarkan para peneliti untuk melihat “unur” (gundukan tanah) yang terdapat di kawasan persawahan. Setelah gundukan tersebut digali, ternyata di bawahnya terdapat struktur candi atau peninggalan purbakala lainnya. Sampai saat ini telah ditemukan 53 situs, yang terdiri dari 23 candi dan 30 unur yang belum digali. Dari 53 situs tersebut, baru 2 situs yang dipugar dan layak dikunjungi, yaitu Candi Jiwa (Candi Segaran 1) dan Candi Blandongan (Candi Segaran 5).

Candi pertama yang kami kunjungi adalah Candi Blandongan, yang letaknya paling jauh. Candi Blandongan mulai dipugar sejak tahun 2002. Nama Blandongan identik dengan pendopo, karena ketika masih berbentuk gundukan candi ini digunakan sebagai tempat beristirahat para gembala kambing. Kami sebenarnya tidak diijinkan mendekat ke bangunan candi, namun Pak Kaisin mengijinkan Pak Dwi untuk mendekat ke bangunan candi, sehingga dapat menjelaskan secara detail ornamen-ornamen pada bangunan candi.

Candi Blandongan
Pak Dwi memperlihatkan bahwa Candi Blandongan memiliki 4 pintu masuk di setiap penjuru. Pintu masuk utama diduga di sisi tenggara, yang ditandai bekas tiang untuk torana. Dari bentuknya, diduga bentuk asli Candi Blandongan adalah sebuah stupa, dengan adanya temuan bata berbentuk melengkung. Dijelaskan juga bahwa di bagian atas kaki candi terdapat sisa pagar langkan yang mengelilingi selasar, sehingga kemungkinan besar candi ini merupakan tempat ritual pradaksina. Pada selasar ini juga ditemukan jejak umpak, yang kemungkinan besar digunakan untuk tiang atap sepanjang selasar.

Dari Candi Blandongan, pak Dwi dan pak Kaisin membawa kami ke Candi Lempeng. Sejatinya situs ini tidak berbentuk bangunan candi, melainkan merupakan lempengan tutup dolmen atau peti mati kuno. Tutup dolmen ini semula dimiringkan untuk mengetahui apakah di bagian dalamnya terdapat inskripsi, namun tidak dikembalikan lagi ke posisi semula. Menurut pak Kaisin, lempeng batu tersebut sangat berat, bahkan 40 orang tidak kuat mengangkat lempeng batu tersebut, sehingga dibiarkan dalam kondisi miring. Di sekitar lokasi candi, terlihat beberapa unur. Menurut Pak Dwi, sebagian unur tersebut berisi struktur bangunan kuno yang sudah melalui tahap penelitian awal oleh para arkeolog, tinggal menunggu waktu untuk dapat digali dan diteliti lebih lanjut.

Candi Lempeng
Penjelajahan kami di situs Batujaya kami akhiri di Candi Jiwa. Candi yang dipugar sejak tahun 1990 ini mendapatkan namanya dari pengalaman penduduk. Menurut Pak Kaisin, daerah Batujaya sangat rawan banjir yang merupakan limpahan dari Ci Tarum yang hanya berjarak 1 km di sisi selatan dari Candi Jiwa. Jika terjadi banjir maka penduduk banyak mengungsi ke gundukan atau unur. Namun tiap kali para gembala kambing menempatkan kambingnya di gundukan yang berisi Candi Jiwa, maka kambing tersebut akan mati tanpa diketahui penyebabnya.

Candi Jiwa
Berbeda dengan Candi Blandongan yang memiliki tangga masuk di setiap penjuru, Candi Jiwa tidak memiliki tangga untuk naik ke bagian atas candi. Selain itu, selasar yang digunakan untuk pradaksina tidak terletak di atas kaki candi, melainkan dalam bentuk jalan setapak mengelilingi kaki candi. Di atas kaki candi, terlihat susunan batu bata bergelombang, seolah membentuk kelopak bunga teratai berukuran besar. Pak Dwi juga menjelaskan bahwa di Candi Jiwa banyak ditemukan tablet persembahan terakota yang berisi mantra (rapal doa) atau figure pantheon Buddha Mahayana, memperkuat dugaan para ahli bahwa bangunan Candi Jiwa diperuntukkan bagi penganut Buddha Mahayana.


Stupika yang Ditemukan di Candi Blandongan
Sebelum kembali ke Jakarta, kami menyempatkan untuk mengunjungi Museum Situs Cagar Budaya Batujaya. Bangunan yang digunakan untuk museum kecil ini awalnya adalah tempat penyelamatan hasil-hasil penelitian dan artefak hasil pemugaran, namun saat ini digunakan untuk memamerkan sebagian artefak hasil temuan, seperti stupika (stupa kecil) di candi Blandongan, tablet-tablet terakota, pecahan tembikar, dan kerangka manusia. Sebagian dari artefak yang ditemukan sudah dibawa untuk diteliti di Museum Nasional. Namun sebenarnya sebagian besar temuan disimpan di gudang yang terletak di dekat pintu masuk kawasan candi, menunggu untuk diteliti. Dengan masih banyak temuan yang harus diteliti, serta masih banyak unur yang harus digali, nampaknya masih banyak misteri Batujaya yang harus dipecahkan…

Monday, August 14, 2017

Museum Dirgantara Mandala, Rekam Jejak Kejayaan Indonesia di Udara

PESAWAT! Kata ini yang terlintas ketika mobil yang saya kendarai memasuki Kompleks TNI-AU Wonocatur menuju ke Museum Dirgantara Mandala. Museum Pusat TNI AU ini menyimpan berbagai benda-benda terkait sejarah TNI Angkatan Udara, dan koleksi favorit pengunjungnya adalah pesawat-pesawat yang pernah digunakan oleh TNI AU.

A4-Skyhawk di Halaman Museum
Memasuki halaman depan museum, saya disambut beberapa pesawat berukuran besar. Pesawat terbesar yang menarik perhatian saya adalah Tupolev Tu-16 buatan Rusia. Pada masanya, Tu-16 merupakan pesawat pembom strategis yang paling ditakuti, karena merupakan pesawat dengan teknologi paling canggih, serta memiliki kecepatan tinggi dan jarak jelajah yang jauh. Pesawat ini terlibat aktif dalam operasi Trikora dan Dwikora.

Tupolev Tu-16

Setelah membeli tiket masuk seharga Rp 3.000 dan ijin potret Rp 1.000, saya mulai melihat ke bagian dalam museum. Koleksi museum ini sebagian besar adalah koleksi sejarah TNI Angkatan Udara Koleksi-koleksi ini terdiri dari surat-surat penting, foto peristiwa, foto kegiatan operasi militer dan non militer TNI AU, pakaian seragam TNI AU, dan benda-benda memorabilia dari empat orang perintis TNI AU : Marsekal Muda Anumerta Iswahyudi, Marsekal Muda Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma, Marsekal Muda Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dan Marsekal Muda Anumerta Agustinus Adisutjipto. Terdapat juga beberapa diorama yang menggambarkan berbagai peristiwa penting dalam sejarah TNI AU.

Para Perintis TNI AU
Di antara koleksi sejarah TNI AU, mata saya langsung melihat sebuah pesawat ringan yang terletak di dalam ruangan. Ternyata pesawat ini adalah replika pesawat ringan berawak tunggal WEL-I RI-X, pesawat buatan Wiweko Soepono yang merupakan pesawat pertama yang dibuat oleh bangsa Indonesia. Pesawat ini pertama kali diterbangkan pada tanggal 27 Oktober 1948 di pangkalan udara Maospati Madiun (sekarang pangkalan udara Iswahyudi). Pesawat ini merupakan replika, karena yang asli hancur ketika gerbong kereta api yang mengangkut pesawat ini terkena granat pemberontak PKI Madiun.

WEL-I RI-X Buatan Wiweko Soepono
Setelah puas melihat-lihat koleksi sejarah TNI AU, saya bergegas ke bagian hanggar, bagian favorit saya. Hanggar ini penuh sesak dengan koleksi pesawat yang berjumlah kurang lebih 46 buah. Walaupun koleksinya barangkali belum seperti museum-museum besar di mancanegara, namun koleksi pesawat di museum ini banyak bercerita kepada kita mengenai kiprah TNI AU dalam menjaga kedaulatan bangsa kita di udara. Beberapa pesawat yang wajib dilihat adalah Cureng, P-51 Mustang dan Mig-21. Pesawat Cureng adalah pesawat latih buatan Jepang produksi tahun 1933, yang menjadi pesawat pertama berbendera Indonesia yang diterbangkan di wilayah udara Indonesia pada tanggal 27 Oktober 1945 oleh Komodor Udara Agustinus Adisutjipto. Sedangkan pesawat P-51 Mustang buatan Amerika dan Mig-21 buatan Rusia merupakan pesawat tempur yang handal pada masanya, sehingga pada tahun 1950-1970-an kekuatan udara Indonesia termasuk salah satu yang disegani di dunia. Di salah satu sudut hanggar, terdapat studio foto yang menyediakan paket foto mengenakan seragam penerbang dengan latar belakang pesawat. Studio foto ini laris manis dikunjungi mereka yang ingin berfoto, terutama anak-anak

Salah satu koleksi pesawat yang patut dilihat adalah C-47 buatan Amerika, atau lebih dikenal sebagai DC-3 Dakota. Dalam sejarah dunia penerbangan, pesawat ini konon adalah pesawat paling sukses, karena merupakan pesawat yang aman, ekonomis, dan nyaman pada masanya. Sampai hari ini masih banyak DC-3 yang laik terbang dan digunakan untuk terjun payung atau joy flight. Salah satu DC-3 yang paling terkenal di Indonesia adalah RI-001 Seulawah, yang merupakan pesawat angkut pertama milik Republik Indonesia yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. DC-3 yang dipasang di museum ini merupakan versi militer, dan karena pintu pesawat sengaja dibuka, saya bisa melihat interiornya, dan tentunya kondisinya jauh berbeda dengan pesawat komersil yang kita kenal sekarang.


DC-3 Dakota Versi Militer
Menjelang pintu keluar hanggar, di dekat pintu terdapat replika bagian ekor DC-3 Dakota VT-CLA, yaitu pesawat yang ditembak Belanda pada 29 Juli 1947 di dusun Ngoto, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Peristiwa memilukan ini merupakan aksi balas dendam pengeboman di Semarang, Salatiga dan Ambarawa yang dilakukan para kadet AURI pada pagi harinya. Dalam peristiwa ini gugur beberapa tokoh perintis TNI Angkatan Udara, yaitu Agustinus Adisucipto, Abdulrahman Saleh, dan Adisumarmo Wirjokusumo.

Akhirnya saya tiba di ruangan terakhir. Sebelum mampir ke kios cenderamata, saya melihat beberapa miniatur pesawat, yang merupakan sumbangan dari penggemar miniatur pesawat. Setelah puas melihat miniatur pesawat dan cenderamata, saya bergegas keluar museum, karena masih banyak obyek wisata lain di Yogyakarta yang menunggu kehadiran saya.

(artikel pernah diposting di www.adirafacesofindonesia.com tanggal 19 November 2011)

Saturday, November 28, 2015

Wayang Orang Sriwedari, Seni Pertunjukan Yang Bertahan Lebih Dari Satu Abad

Alunan suara pesinden diiringi gamelan yang dimainkan para pengrawit mengiringi langkah kami memasuki Gedung Wayang Orang Sriwedari pada pukul 20.15. Baru baris depan yang terisi penonton, dan kami menghitung baru sekitar 10-15 orang yang sudah menempati kursi-kursi penonton. Sambil sesekali menatap ke arah panggung yang masih tertutup dan berharap pertunjukan segera dimulai, saya, Murni, Rinta dan Arum masih sibuk membahas harga tiket masuk sebesar Rp 3.000,- per orang, nilai yang kalau di Jakarta bahkan belum cukup untuk membayar parkir selama 1 jam di pusat perbelanjaan terkemuka.

Semakin malam, makin banyak penonton yang hadir dan memenuhi kursi di baris depan. Barangkali ada 4-5 baris kursi yang terisi sekitar 50-60 orang penonton. Di luar dugaan kami, ternyata cukup banyak penonton yang berusia muda, bahkan beberapa di antara penonton datang bersama keluarga dan anak-anak, padahal saat itu bukan malam libur. Rasanya senang mengetahui masih ada yang berminat menyaksikan pertunjukan tradisional seperti wayang orang.

 Wayang orang, atau dalam bahasa Jawa disebut wayang wong, adalah pertunjukan wayang yang dimainkan menggunakan orang. Pertunjukan semacam teater tradisional ini mulai berkembang di lingkungan keraton sejak diciptakan oleh Mangkunegara I dari Solo pada tahun 1757. Pertunjukan ini tidak bertahan lama, dan kemudian lebih berkembang di Yogyakarta. Di bulan April 1868, sewaktu Mangkunegara IV mengadakan acara khitanan untuk putranya, didatangkan kelompok wayang orang dari Yogyakarta, dan sejak saat itu wayang orang kembali hidup di Solo. Mangkunegara IV dan Mangkunegara V kemudian menyempurnakan pertunjukan wayang orang, khususnya dalam hal pakaian dan perlengkapan. Kisah yang ditampilkan kebanyakan bersumber pada cerita wayang purwa, yang merupakan pengembangan kisah Ramayana dan Mahabharata.

Wayang orang semakin berkibar di Solo sejak pembangunan Taman Sriwedari pada tahun 1899 oleh Susuhunan Pakubuwana X dari Surakarta. Di masa itu wayang orang masih merupakan konsumsi eksklusif bagi lingkungan keraton. Wayang Orang Sriwedari sendiri merupakan kelompok budaya komersial pertama dalam pertunjukan wayang orang. Berdiri pada tahun 1911, Wayang Orang Sriwedari mengadakan pentas secara tetap di Taman Sriwedari, yang merupakan taman hiburan umum miliki Keraton Kasunanan Surakarta. Saat ini terdapat 33 Pegawai Negeri Sipil, 30 orang non-PNS (honorer), dan 5 orang pendukung yang menjadi pemain, pengrawit dan sinden yang mendukung pertunjukan Wayang Orang Sriwedari. Mereka melakukan pementasan setiap hari pada pukul 20.00-22.00, kecuali pada hari Minggu malam.

Prabu Siwandakala dan Putri Sriwitari
Kembali ke Gedung Wayang Orang Sriwedari, pada pukul 20.30 akhirnya lampu dimatikan dan layar bergambar gunungan dibuka, menandakan pertunjukan wayang orang dimulai. Adegan pertama diawali dengan munculnya tokoh Prabu Siwandakala dari kerajaan Medang Sawanda, tiga orang pria yang sepertinya merupakan senopati (panglima perang), serta para selir yang mengenakan kemben warna merah. Karena pada waktu masuk ke ruangan saya tidak sempat melihat judul cerita pada hari itu, serta tidak ada sinopsis yang dibagikan, saya menebak-nebak dengan mencoba mendengarkan dialog yang dibawakan. Walaupun dialog disampaikan menggunakan bahasa Jawa yang masih bisa saya mengerti, namun saya masih belum bisa menyimpulkan judul pertunjukan pada hari itu, kecuali bahwa lakon yang dimainkan hari ini bukan merupakan kisah utama dari Mahabharata, melainkan salah satu kembangannya.

Suasana pertunjukan mulai menjadi meriah ketika tokoh Putri Sriwitari, adik dari Prabu Siwandakala muncul ke panggung. Walaupun merupakan seorang satria wanita yang sakti, namun Putri Sriwitari memiliki karakter yang manja pada kakaknya. Kecerewetan yang ditampilkan dalam dialog yang “mrepet” (nyaris tak berujung) dengan nada tinggi ini membuat Rinta, yang sebenarnya tidak mengerti satu pun dialog yang diucapkan dalam bahasa Jawa, sangat terhibur melihat cara sang pemain menggambarkan karakter tokohnya. Tidak hanya terhibur dengan kelucuan yang terjadi di atas panggung, Rinta juga memperhatikan bahwa walaupun harga tiket masuk sangat murah bagi kami, pertunjukan ini digarap dengan sangat serius, mulai dari panggung dengan dekor yang ditata apik, kostum yang terlihat berkilau dan terawat, dandanan para pemain yang sangat serius sesuai dengan karakternya, dan bahkan akting para pemain pun terlihat sangat serius.

Prabu Siwandakala Menyerbu Kerajaan Mandura dan Dwarawati
Beralih ke adegan berikutnya, ketika Prabu Siwandakala mengirimkan ultimatum untuk menaklukan kerajaan Mandura di bawah pimpinan Prabu Baladewa, kerajaan Dwarawati di bawah pimpinan Prabu Kresna, dan kerajaan Amarta di bawah pimpinan Puntadewa dan Pandawa Lima. Mulailah terjadi perang kembang antara para patih kerajaan Medang Sewanda dan Setyaki, panglima dari kerajaan Dwarawati, yang dibawakan melalui tarian yang seru. Sayang sekali, Setyaki harus mengakui kesaktian Prabu Siwandakala, dan para senapati dari Mandura dan Dwarawati harus mundur dari medan peperangan.

Bagong, Petruk dan Gareng Dengan Banyolannya
Munculnya para punakawan (Bagong, Petruk, dan Gareng) memberikan penyegaran suasana bagi penonton untuk sejenak tertawa melihat banyolan-banyolan mereka. Punawakan ini merupakan tokoh khas wayang Indonesia, yang tidak dijumpai di kisah Mahabharata versi asli dari India. Bagi beberapa orang, para punawakan ini seolah “berfungsi” untuk menyeimbangkan pertunjukan agar tidak terlalu “berat”. Namun para punakawan ini sebenarnya mewakili rakyat atau orang kebanyakan yang bertugas mengasuh sekaligus menasehati para ksatria yang berbudi luhur, melakukan kritis sosial, sekaligus sebagai sumber kebenaran dan kebijakan, yang dibawakan melalui banyolan.

Setelah Bagong, Petruk dan Gareng selesai mengocok perut penonton dengan banyolan baris berbarisnya, adegan beralih ketika Sriwitari bertemu dengan Arjuna. Begitu pemeran Arjuna muncul, kami langsung berkomentar, “waaa... ganteng yaaa....”. Arjuna memang dikenal sebagai “lananging jagat”, yang berparas rupawan, berhati lembut, namun sekaligus seorang kesatria unggulan dan petarung tanpa tanding di medan laga. Karakter-karakter inilah yang membuat Arjuna dianggap sebagai perwujudan lelaki seutuhnya, sehingga dalam pertunjukan wayang orang, tokoh Arjuna sedapat mungkin ditampilkan oleh penari laki-laki yang berparas tampan dan memiliki aura lembut, serta ditampilkan dengan kostum yang lebih menyolok dibandingkan karakter lainnya.

Putri Sriwitari Tengah Merayu Arjuna
Namun di dalam kisah hari ini, Arjuna menolak cinta dari Sriwitari. Rayuan Sriwitari dan penolakan Arjuna digambarkan dalam dialog dan tarian yang kalem, jauh berbeda dengan adegan-adegan penolakan cinta yang biasa kita tonton dalam sinetron. Karena cintanya ditolak Arjuna, Sriwitari dengan kesaktiannya mengutuk Arjuna menjadi banteng. Setelah adegan Arjuna berubah menjadi banteng, Murni mencoba googling, dan barulah kami tahu bahwa judul lakon yang hari ini kami saksikan adalah “Arjuna Bantheng”.

Arjuna Dikutuk Menjadi Banteng
Setelah Arjuna dikutuk menjadi banteng, Prabu Siwandakala dan para senopatinya melanjutkan penyerbuan ke Kerajaan Amarta dan menyerang keluarga Pandawa. Tidak sanggup menghadapi kesaktian Prabu Siwandakala, keluarga Pandawa menyingkir dan meminta nasihat dari Kresna. Saat itu para punakawan membawa banteng jelmaan Arjuna kepada keluarga Pandawa. Di tengah kedukaan keluarga Pandawa karena mengetahui saudara mereka dikutuk menjadi banteng, Kresna menyatukan dirinya dengan banteng tersebut, untuk kemudian menghadapi Prabu Siwandakala.

Banteng Jelmaan Arjuna dan Kresna Menghadapi Prabu Siwandakala
Perang tanding antara Prabu Siwandakala dan Putri Sriwitari melawan Kresna dan Arjuna tidak terelakkan. Ketika banteng terkena senjata candrasa milik Prabu Siwandakala, banteng tersebut berubah wujud kembali menjadi Kresna dan Arjuna, yang kemudian melanjutkan perang tanding dengan Prabu Siwandakala dan Putri Sriwitari. Pertunjukan wayang hari itu diakhiri dengan kemenangan Kresna dan Arjuna. Setelah Kresna dan Arjuna memenangkan pertandingan, layar bergambar gunungan ditutup, para pengrawit dan pesinden meninggalkan tempatnya, dan penonton pun satu per satu beranjak meninggalkan kursinya meninggalkan Gedung Pertunjukan.

Kresna dan Arjuna

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 6.


Friday, October 9, 2015

Batik Pekalongan, Potensi Destinasi Wisata Minat Khusus Budaya


Salah satu jenis wisata minat khusus yang saat ini dikembangkan di Indonesia adalah wisata sejarah dan budaya, dengan mengunjungi tempat-tempat yang bukan merupakan tempat wisata umum, namun memiliki daya tarik yang unik yang membuat para peminat sejarah dan budaya untuk datang ke tempat tersebut. Di Jawa Tengah, salah satu tempat yang potensial untuk dijadikan destinasi wisata minat khusus budaya adalah Pekalongan yang merupakan salah satu sentra batik pesisir di pantai utara Jawa.

Industri batik di Pekalongan telah tumbuh sejak periode 1850-1860. Batik Pekalongan memiliki ciri khas tersendiri, yaitu menggunakan warna-warna cerah dengan pola khas yang merupakan perpaduan pengaruh budaya Jawa, Cina, Arab, dan Eropa. Jenis batik Pekalongan yang populer adalah batik buketan (motif bunga yang dipengaruhi gaya Eropa), batik encim (motif dipengaruh budaya Cina seperti burung hong dan naga) serta batik Djawa Hokokai (motif bunga sakura dan kupu-kupu yang diciptakan pada masa penjajahan Jepang).

Salah satu pengrajin batik encim khas Pekalongan adalah Rumah Batik Liem Ping Wie di Jl. Raya No. 192, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Rumah batik ini dikelola oleh putri keenam Liem Ping Wie yang bernama Liem Poo Hien. Jika diperhatikan dengan seksama, batik encim produksi Rumah Batik Liem Ping Wie buatannya lebih halus jika dibandingkan dengan batik encim kebanyakan. Pengunjung Rumah Batik Liem Ping Wie bisa mengunjungi workshop yang terletak di belakang rumah untuk melihat proses pembuatan batik dengan teknik tulis dan cap. Mencanting dan mengoreksi hasil canting yang rusak dikerjakan oleh karyawan perempuan, sedangkan batik cap dikerjakan oleh karyawan laki-laki. Satu helai batik tulis produksi Rumah Batik Liem Ping Wie diproduksi selama 2 tahun, dengan harga mulai dari 2 juta hingga 15 juta, bergantung tingkat kehalusan motif dan kerumitan pembuatannya.

Pengrajin Batik Cap di Workshop Rumah Batik Lim Ping Wie
Jenis batik lain yang juga merupakan khas Pekalongan adalah batik Djawa Hokokai. Batik ini memiliki warna tegas dengan motif bunga sakura dan kupu-kupu yang dipengaruhi budaya Jepang. Ciri khas dari batik ini adalah motifnya yang dibuat “pagi-sore”, di mana dalam satu helai kain panjang memiliki 2 motif batik yang berbeda warna. Motif dengan warna terang digunakan untuk pagi hari, sedangkan motif dengan warna gelap digunakan untuk acara malam hari. Salah satu produsen batik Djawa Hokokai adalah Bapak Fatkhul Huda, yang memiliki workshop di Kecamatan Wiradesa.

Pengrajin Batik Tulis di Workshop Pak Fatkhul Huda
Selain jenis batik Pekalongan yang sudah dikenal masyarakat, terdapat jenis batik Pekalongan yang unik, yaitu batik Jlamprang. Batik ini merupakan kreasi batik yang diilhami motif kain Patola yang dibawa para pedagang dari Gujarat ke Jawa di abad ke-17, yang merupakan komoditi dagang yang digemari golongan masyarakat menengah ke atas. Ketika kain Patola mulai langka di pasaran, para pengusaha batik mencoba meniru motif kain Patola menggunakan proses membatik, yang kemudian disebut Batik Jlamprang. Saat ini hanya tinggal sedikit pengrajin batik Jlamprang di Pekalongan, salah satunya adalah Bapak Umar Qoyiim yang tinggal di daerah Krapyak, Kota Pekalongan.

Batik Jlamprang Kreasi Bapak Umar Qoyiim
Jika waktu kita terbatas untuk berkunjung ke pengrajin di pelosok Kabupaten Pekalongan, kita bisa berkunjung ke Kampung Wisata Batik Kauman dan Kampung Wisata Batik Pesindon yang terletak di Jl. Hayam Wuruk, Kawasan Kota Tua Pekalongan. Kedua kampung batik yang terletak berseberangan ini merupakan cikal bakal industri batik di Pekalongan. Tak hanya melihat-lihat batik, kita bisa cuci mata dengan menikmati arsitektur bangunan-bangunan kuno, serta hiasan motif batik yang dilukiskan di tembok-tembok bangunan.

Lukisan Batik di Lorong di Kampung Wisata Batik Pesindon
Jangan lupa untuk mengunjungi Museum Batik Pekalongan, yang beralamat di Jl. Jetayu No. 1, Kota Pekalongan. Museum yang menempati bangunan bergaya art deco peninggalan masa kolonial Belanda ini memiliki koleksi yang terkait dengan batik, seperti peralatan membuat batik, koleksi batik pesisir dari berbagai daerah, koleksi batik Vorstendlanden (batik pedalaman) dari keraton Yogyakarta dan Surakarta, serta aneka koleksi batik Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia. Jumlah koleksi batik museum ini mencapai lebih dari 1000 buah, dan karena keterbatasan tempat harus dipamerkan secara bergiliran. Pengunjung museum juga dapat mengetahui lebih jauh mengenai batik dengan mengunjungi perpustakaan, atau belajar membatik dengan canting tulis atau canting cap di workshop yang terletak di belakang museum.

Pengunjung Museum Belajar Menggunakan Canting

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 5.



Thursday, September 24, 2015

Piknik Itu Menyembuhkan

"Tampaknya dia kurang piknik". Kalimat ini sedang sering mencuat di berbagai media sosial, dan biasanya ditujukan bagi mereka yang sedang tegang, memiliki tingkat keseriusan sangat tinggi, atau mereka-mereka yang ngenes. Secara harfiah, "piknik" berarti wisata, liburan, dan refreshing. Jadi istilah "kurang piknik" secara harfiah berarti yang bersangkutan kurang melakukan aktivitas yang terkait dengan kesenangan. Dan sebagai penggila jalan-jalan, saya percaya "kurang piknik" memang membawa dampak kurang baik.

Kalau ditanya apakah piknik itu penting, saya akan menjawab "Ya" dengan tegas. Bagi saya, piknik bukan sekadar bersenang-senang. Piknik itu penting, karena merupakan salah satu cara saya menghilangkan kejenuhan dari rutinitas. Piknik itu penting, karena membuat saya melihat banyak hal di luar lingkungan sehari-hari tempat saya beraktivitas. Dan ternyata saya menemukan manfaat lain dari piknik: piknik itu menyembuhkan. Kok bisa?

Kisah ini berawal di bulan April 2014, ketika aktivitas saya di tempat kerja sangat padat, membuat saya kena serangan batuk nyaris tak berhenti selama berhari-hari. Besar kemungkinan saya kena batuk gara-gara kurang piknik. Di minggu kedua April, saya sudah punya rencana pergi ke Muntilan. Sempat terpikir oleh saya, lagi sakit batuk begini, apa saya masih bisa menikmati pikniknya? Tapi lagi-lagi, karena rutinitas kantor yang semakin meningkat, justru membuat saya membulatkan tekad untuk pergi ke Muntilan.

Bertepatan dengan akhir pekan liburan Paskah tahun 2014, saya, Anggi, dan Risky berangkat dari Yogya ke Muntilan, menuju Candi Borobudur. Candi Borobudur sendiri merupakan obyek wisata yang sangat mainstream, dan kami sudah beberapa kali mengunjungi candi tersebut. Yang kami tuju sebenarnya adalah Punthuk Setumbu, sebuah bukit di mana kita bisa melihat matahari terbit dari balik pasangan gunung Merapi-Merbabu, dan melihat siluet Candi Borobudur bagaikan melayang di lautan awan.

Inilah Pemandangan Yang Kami Kejar!
Setelah menginap semalam di Desa Wanurejo, Muntilan, baru keesokan paginya kami menuju ke Punthuk Setumbu. Kokok ayam bersahut-sahutan membangunkan kami tepat pukul 4 pagi, seolah mengingatkan kami untuk bangun dan bersiap-siap mengejar matahari terbit di Punthuk Setumbu. Pak Erwin, pemilik penginapan, sudah menunggu di beranda rumah dan mengingatkan agar kami berangkat sepagi mungkin, sebelum kehabisan tempat di atas bukit. Bersama tamu Pak Erwin lainnya yang berasal dari Taiwan, kami berangkat beriringan menggunakan 2 mobil. Di tengah kegelapan, melintasi jalan-jalan di perkampungan Desa Wanurejo, kami sangat tak sabar untuk menuju ke bukit yang tersohor ini.

Kami beruntung masih bisa mendapatkan tempat parkir di dekat pintu masuk. Setelah membeli tiket, saya, Anggi dan Risky mulai menapaki jalan setapak menuju puncak bukit. Tetesan embun pagi menjadikan jalan yang belum disemen itu menjadi agak becek, membuat perjalanan menjadi sedikit lebih berat. Mendekati bagian akhir, jalan mulai menanjak. Walaupun sudah dibantu undak-undakan tanah yang diperkuat bambu, rasanya kaki dan napas masih terasa berat untuk melangkah, sehingga saya harus beberapa kali berhenti untuk menarik napas dan mengumpulkan tenaga. Agak degdegan juga, takut akibat kedinginan atau terlalu capek, jangan-jangan sakit batuk saya menjadi makin parah.
Anggi, Risky, dan saya di Punthuk Setumbu
Setelah 20 menit berjalan, akhirnya kami tiba di puncak Punthuk Setumbu. Terlihat para fotografer, baik yang profesional maupun fotografer ponsel, sudah memenuhi puncak bukit. Beruntung kami masih kebagian spot di dekat pagar. Tanpa menunggu lebih lama, kami mencoba mencari di mana letak Candi Borobudur. Rupanya tak mudah menemukan siluet Candi Borobudur di tengah kegelapan. Bahkan setelah dibantu cahaya sang fajar, siluet candi tersebut masih belum bisa ditemukan. Baru setelah matahari mulai mengintip dari balik Gunung Merapi, siluet mahakarya dari wangsa Syailendra ini terlihat di sebelah kanan dari Gunung Merapi. Akhirnya, perjalanan mendaki bukit yang tampak melelahkan beberapa menit yang lalu terbayar lunas! Kami segera mengabadikan momen-momen menakjubkan ini, sebelum matahari bertambah tinggi dan kabut yang menyelimuti Borobudur menghilang ditelan cahaya.

Para Fotografer yang Mengabadikan Sunrise di Punthuk Setumbu

Lautan Awan dilihat dari Punthuk Setumbu
Cahaya matahari semakin terang ketika kami bergerak menelusuri jalan setapak, kembali ke arah parkir mobil. Masih terbayang-bayang di benak kami siluet Candi Borobudur yang seolah mengapung di atas awan. Apakah ini yang disebut dengan nirwana? Begitu saya masuk mobil dari Risky mengarahkan mobil kembali ke arah Pasar Borobudur, baru saya menyadari sesuatu: saya sama sekali tidak batuk selama perjalanan ke Punthuk Setumbu. Berarti batuk saya langsung sembuh begitu melihat pemandangan luar biasa ini!

Walaupun saya senang jalan-jalan ke luar domisili saya di Jakarta, saya berprinsip bahwa piknik tidak perlu jauh-jauh dan tidak perlu mahal. Terkadang saya juga memilih pergi ke obyek wisata yang dekat-dekat dengan Jakarta. Salah satunya adalah pergi liburan di Bogor. Masih banyak obyek menarik di Bogor yang belum saya kunjungi, terutama situs-situs sejarah di Bogor. Ada Museum PETA, ada Prasasti Batutulis, ada Makam Raden Saleh, dan masih ada situs-situs sejarah di Bogor yang menunggu untuk dikunjungi. Hmmm... sekarang saja saya sudah mulai membuka agenda, kapan ya saya bisa liburan di Bogor?

Postingan ini diikutkan pada “Lomba Blog Piknik itu Penting”.