Showing posts with label wisata sejarah. Show all posts
Showing posts with label wisata sejarah. Show all posts

Friday, June 27, 2025

Menjaga Kedaulatan Negara di Ambarawa

Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata “Ambarawa”? Biasanya kita langsung teringat Museum Kereta Api. Sejarah perkeretaapian di Ambarawa tak lepas dari keberadaan Ambarawa sebagai kota militer di masa kolonial Belanda, yang menyokong kota garnizun Magelang untuk mengontrol area Vorstenlanden. (kawasan Solo-Yogyakarta).

Monumen Palagan Ambarawa

Pemilihan Ambarawa sebagai kota militer berawal sejak masa Perang Diponegoro, ketika Colonel Hoorn mendapat instruksi untuk membangun titik suplai logistik dan barak militer di sekitar Bawen, untuk memberikan bantuan logistik dan tentara dalam peperangan. Bawen dipilih karena berada di persimpangan antara Semarang, Yogyakarta, Salatiga, dan Surakarta. Di tahun 1840, Ambarawa sudah menjadi kota militer yang strategis, yang berfungsi sebagai choke point antara Semarang dan Surakarta, dalam rangka menjaga hubungan dengan Kesultanan di Surakarta dan Yogyakarta, serta mencegah pergerakan tentara keraton. Setelah Benteng Willem I rampung pada tahun 1848 di Ambarawa, Raja Willem I memerintahkan untuk membangun jaringan kereta api untuk mobilisasi tentara. Jalur kereta yang dibangun menghubungkan Ambarawa ke Semarang dan Ambarawa ke Vorstenlanden. 

Lokomotif dan gerbong (antik)
di Monumen Palagan Ambarawa

Di masa mempertahankan kemerdekaan, terjadi peristiwa Palagan Ambarawa di tahun 1945, yang merupakan salah satu tonggak sejarah perjuangan bangsa. Palagan Ambarawa adalah peristiwa perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan badan perjuangan terhadap Tentara Sekutu yang terjadi di Ambarawa pada tanggal 20 Oktober–15 Desember 1945, dengan puncak pertempuran terjadi pada 12-15 Desember 1945. 


Berawal pada 19 Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah komando Letnan Kolonel Edwardes mendarat di Semarang untuk melucuti senjata pasukan Jepang dan membebaskan tawanan perang yang masih ditahan di kamp di Jawa Tengah. Ketika pasukan Sekutu dan NICA mulai membebaskan dan mempersenjatai tawanan perang Belanda yang dibebaskan di Ambarawa dan Magelang, banyak penduduk yang marah. Hubungan semakin memburuk ketika Sekutu mulai melucuti senjata anggota TKR. 

Pada 21 November 1945, Resimen Kedu Tengah 1 di bawah komando Letkol M. Sarbini mulai mengepung pasukan Sekutu di Magelang sebagai balasan atas upaya pelucutan senjata TKR. Setelah ada campur tangan Soekarno, Sekutu diam-diam meninggalkan Magelang menuju benteng mereka di Ambarawa. Resimen Sarbini mengikuti Sekutu dalam pengejaran, dan kemudian bergabung dengan pasukan Indonesia lainnya dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta. Pasukan Sekutu terhenti di Desa Jambu karena dihadang pasukan Angkatan Muda di bawah pimpinan Oni Sastrodihardjo, dan Pasukan Sekutu berhasil diusir dari Desa Jambu. Di Desa Ngipik, pasukan Sekutu kembali dicegat Batalion 1 Soerjosoempeno, dan dipaksa mundur lagi oleh TKR. 

23 November 1945, ketika matahari mulai terbit, pasukan Indonesia mulai menembaki pasukan Sekutu di Ambarawa. Pasukan Sekutu bertahan di kompleks gereja dan kerkhof Belanda di Jl. Margo Agoeng. Indonesia terdiri dari Yon. Imam Adrongi, Yon. Soeharto, dan Yon. Soegeng. Tentara Sekutu mengerahkan tawanan Jepang dengan diperkuat tank-nya, menyusup ke tempat kedudukan Indonesia dari arah belakang. Serangan balik dari Sekutu memaksa TKR mundur ke Desa Bedono.

Untuk memperkuat komando pertempuran Divisi 5, Kolonel Soedirman sebagai Panglima Divisi 5 Banyumas mengirimkan Letkol Isdiman . Pasukan Indonesia di bawah komando Letkol Isdiman mencoba membebaskan desa yang dikuasai Sekutu, tetapi pada 26 November 1945, Isdiman tewas dalam pertempuran tersebut sebelum bala bantuan tiba. Oleh karena itu Kolonel Soedirman turun ke medan pertempuran untuk memimpin sendiri. Pertempuran masih terus berlanjut. Tanggal 5 Desember 1945, Benteng Banyubiru jatuh ke tangan TKR. Tanggal 9 Desember 1945, lapangan terbang Kalibanteng jatuh ke tangan TKR, hingga bantuan logistik Sekutu untuk Ambarawa terputus sama sekali.

Peta Pertempuran Palagan Ambarawa 
dan Supit Urang

Mengingat pertempuran yang berlarut-larut, serta persenjataan di pihak Indonesia yang terbatas, pada 11 Desember 1945 Kolonel Soedirman mengadakan pertemuan untuk merundingkan strategi mengusir Sekutu secepatnya dari Ambarawa, mengingat Ambarawa merupakan kunci untuk menguasai seluruh Jawa Tengah dan Yogyakarta. Siasat yang disepakati adalah penyerangan mendadak di tiap sektor dengan taktik Mangkara Yudha atau Supit Urang, komando penyerangan dipegang sektor TKR, badan perjuangan sebagai barisan belakang, dan serangan akan dimulai besok pagi jam 04.30 tepat.

Tanggal 12 Desember 1945 pukul 04.30, pasukan Indonesia memulai serangan serentak dari segala jurusan. Ketika jalan raya Semarang-Ambarawa direbut oleh pasukan Indonesia, Soedirman memerintahkan pasukannya untuk memotong jalur logistik pasukan Sekutu yang tersisa dengan taktik Supit Urang. Taktik “Supit Urang” dilakukan dengan pendobrakan oleh pasukan pemukul dari arah selatan dan barat menuju timur (arah Semarang). Tujuannya agar musuh benar-benar dalam kondisi terkurung dan komunikasi dengan pusat terputus. Bala bantuan terus berdatangan dari Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang dll. Tanggal 15 Desember 1945 Benteng Willem I sebagai pusat pertahanan terakhir Sekutu di Ambarawa jatuh ke tangan TKR. Sisa logistik dan senjata mereka tidak dibawa mundur ke Semarang. Pasukan Sekutu mundur ke Semarang, dan Ambarawa dikuasai oleh pasukan TKR. Dapat dikatakan peristiwa ini merupakan serangan Indonesia yang paling sukses selama masa Revolusi Nasional. 

Peristiwa Palagan Ambarawa diabadikan di 3 situs, yaitu Museum Dharma Wiratama Yogyakarta, Museum Sasmitaloka Panglima Besar Soedirman Yogyakarta, dan Monumen Palagan Ambarawa serta Museum Isdiman di Ambarawa. Kita bisa melihat memorabilia berupa peta pertempuran, senjata, serta penjelasan jalannya pertempuran dan taktik Supit Urang yang digunakan pada peristiwa tersebut.

Koleksi terlengkap ada di Monumen Palagan Ambarawa, yang diresmikan pada 15 Desember 1974 oleh Presiden Soeharto. Pada relief monumen kita bisa melihat gambaran singkat sejarah pertempuran tersebut. Di halaman kompleks monumen terdapat Lokomotif B2501 beserta gerbong kayu yang digunakan untuk membawa pasukan saat Palagan Ambarawa. Selain itu terdapat truk Dodge, tank kuno, dan beberapa meriam. 

Replika P-51 Mustang di
Kompleks Monumen Palagan Ambarawa

Yang paling menarik bagi saya, di monumen ini terdapat pesawat P-51 Mustang bercat bendera Belanda, sebagai replika pesawat Mustang milik Belanda yang berhasil ditembak dan jatuh ke Rawa Pening. Dalam keterangannya, tertulis bahwa pesawat itu dikenal sebagai “Si Cocor Merah”. Setahu saya, julukan “Cocor Merah” berasal dari nose art berbentuk mulut ikan hiu berwarna merah, yang ada di seluruh monumen P-51 Mustang milik TNI AU. Tapi yang ini kok beda ya… setelah saya amati lagi, saya baru menyadari kalau P-51 Mustang yang ada di Ambarawa tidak memiliki nose art berbentuk mulut ikan hiu. Adanya adalah warna baut pengunci propeller di depan baling-baling yang berwarna merah. Barangkali lebih cocok kalau pesawat Belanda ini kita namakan si “Cingur Merah” ya…


Sunday, March 30, 2025

Ngabuburit di Tanamur

Jika judul di atas dibaca oleh mereka yang tinggal di Jakarta antara tahun 1970-2005, mungkin mereka akan mengernyitkan dahi dan menganggap saya sebagai orang tak berakhlak. Namun di pertengahan bulan Ramadhan 2025 Masehi, saya (beneran) ngabuburit dengan berjalan-jalan di Tanah Abang Timur (Tanamur) bersama Tour WalkIndies, sambil singgah di (bangunan bekas) diskotek ternama bernama Tanamur.


Berbicara Tanah Abang, biasanya identik dengan pasar tekstil dan stasiun KRL. Tanah Abang telah menjadi bagian dari dinamika perkembangan Batavia sejak abad 17. Tempat ini pernah menjadi pangkalan Pasukan Mataram yang menyerang Batavia di tahun 1628. Kemungkinan besar mereka yang memberi nama tempat ini Tanah Abang, melihat tanah bukit dan rawa-rawa yang dulu ada di sekitar Tanah Abang memiliki warna merah (abang dalam bahasa Jawa berarti merah).

Tahun 1733, Justinus Vinck, seorang Landdrost (setara hakim) VOC membeli tanah yang membentang dari Tanah Abang hingga Pasar Senen. Vinck kemudian mendirikan pasar, yaitu Pasar Weltevreden (sekarang menjadi Pasar Senen), serta pasar di Tanah Abang Bukit yang khusus berjualan tekstil dan hewan ternak. Untuk menghubungkan kedua pasar tersebut, Vinck membangun jalan penghubung. Salah satu jalan yang dibangun adalah Tamarindelaan (sekarang menjadi Jl Wahid Hasyim dan Jl Prapatan Kwitang). 


Di awal abad 19, Tanah Abang berkembang menjadi perkantoran dan tempat kediaman elite. Hal ini sejalan dengan lokasi Tanah Abang yang strategis, dekat dengan area Koningsplein dan Paleis van de Gouverneur Generaal. Jalan Tanah Abang West (sekarang menjadi Jl. Abdul Muis) menjadi jalan utama yang menghubungkan Batavia dengan kawasan Tanah Abang. 

Mansion Kapiten Liem Tiang Hoey

Banyak rumah-rumah mansion milik orang-orang kaya di jaman Hindia Belanda dibangun di Tanah Abang. Salah satunya adalah mansion milik Kapiten Liem Tiang Hoey di Tanah Abang Huevel (Tanah Abang Bukit), yang saat ini menjadi Kantor Bank Mandiri Jl. Fachrudin. Kapiten Liem merupakan pendiri NV Maatschappij tot Exploitatie van Tanah Abang yang mengelola puluhan rumah dan toko di sekitar Tanah Abang. Ciri yang masih terlihat adalah kubah kecil pada atap bangunan, serta ornamen semacam pinggiran teras, yang memperlihatkan ukiran xilin, binatang mitologi Tiongkok. 

Ornamen Xilin

Di balik Kantor Bank Mandiri tersebut terdapat Rumah Hati Suci. Yayasan ini didirikan oleh Ny. Lie Tjian Tjoen pada tahun 1914, sebagai rumah perlindungan bagi anak-anak perempuan yang diperjualbelikan dalam human trafficking. Selanjutnya rumah ini berkembang menjadi panti asuhan bagi anak-anak perempuan. Tahun 2014, pada peringatan 100 tahun Yayasan Hati Suci, panti asuhan Hati Suci berubah nama menjadi Rumah Hati Suci.

Kaca Patri Kuno di Rumah Hati Suci

Kami mengunjungi Rumah Hati Suci, yang saat ini menampung 40 orang anak dengan rentang umur dari SD hingga kuliah. Mereka berasal dari keluarga kurang mampu, keluarga retak, atau yatim piatu. Salah satu anak yang kami temui mengatakan bahwa hari itu adalah hari terakhir ia berada di Rumah Hati Suci, karena ia sudah lulus kuliah dan akan kembali ke rumah orang tuanya. Melihat ia membawa kopor dan keluar dari Rumah Hati Suci, ada rasa trenyuh di hati kami, semoga masa depanmu sukses ya Dik…

Tiba waktunya shalat Ashar, sehingga kami singgah di Mesjid Jami Ar-Rohah di Jl Abdul Muis. Mesjid ini didirikan pada tahun 1920, dikembangkan dari mushalla yang sudah ada pada abad ke-19. Jalan samping masjid dulu bernama Gang Comissaris, dan berdasarkan peta kuno di belakang masjid ini pernah ada kantor Commissariaat van de betrokken wijken dan Pos Polisi, namun saat ini sudah tidak bersisa.

Jalan Budi Kemuliaan juga menyimpan banyak cerita. Di masa kolonial, tempat ini dikenal dengan nama Gang Scott, yang diambil dari nama Robert Scott, pria berkebangsaan Inggris yang menjadi kepala pelabuhan di Semarang sebelum datang ke Batavia pada 1820. Ia membangun Kampung Scott pada kedua sisi jalan. Di Gang Scott pernah berdiri Gereja untuk orang-orang Armenia, yang saat ini sudah dibongkar menjadi Gedung Bank Indonesia.

RS Budi Kemuliaan

Landmark terkenal dari Gang Scott adalah RS Budi Kemuliaan. Pendiri rumah sakit ini adalah yayasan Studiefonds Voor Opleiding Van Vrouwelijke Inlandse Artsen (SOVIA), yang didirikan pada 1 September 1912 karena terinspirasi dari Tulisan RA Kartini "Habis Gelap Terbitlah Terang". Yayasan SOVIA mendirikan RS Budi Kemuliaan pada tahun 1917 yang berlokasi di Hospitaalweg No. C7, Pejambon. Baru pada tahun 1935 RS ini dipindahkan ke Gang Scott No. 25. Nama Budi Kemuliaan sendiri baru digunakan pada tahun 1955.

Bergeser ke Jl. Tanah Abang Timur, terlihat sebuah bangunan yang terbengkalai. Bangunan tersebut pada masa jayanya merupakan diskotek Tanamur (akronim dari Tanah Abang Timur) yang merupakan diskotek pertama di Indonesia. Diskotek ini didirikan pada tahun 1970 oleh Ahmad Fahmy Alhady. Fahmi mendapatkan ilham untuk membuka diskotek di Jakarta setelah ia mengunjungi diskotek di Jerman. Hal ini bersamaan dengan dibukanya peluang untuk para investor asing, di mana gemerlap dunia malam seperti kasino dan diskotek dapat menarik investor. Diskotek Tanamur terkenal hingga ke mancanegara, bahkan berbagai pesohor dunia seperti Mick Jagger, Deep Purple, Bee Gees, Mohammad Ali, Ruud Gullit, dan Chuck Norris pernah singgah di tempat ini. 

(Bekas) Diskotek Tanamur

Eksistensi Tanamur meredup sejak krisis moneter di dekade 90-an, apalagi sejak kejadian Bom Bali 2002 membuat pengunjung semakin tidak nyaman berada di klab malam . Diskotek ini resmi menyudahi gemerlapnya pada 2005. Melihat bangunan kosong tidak terurus, saya mencoba membayangkan gemerlap bangunan ini di masa jayanya, dengan ilustrasi lagu Staying Alive dari The Bee Gees yang membuat semua orang bergoyang…

Di seberang diskotek Tanamur, terdapat Jl. Tanah Abang III. Di masa lalu, jalan ini dikenal dengan nama Laan de Riemer, karena banyaknya bangunan yang menjadi milik notaris JD de Riemer, yang membeli lahan tersebut pada tahun 1884. Di antara bangunan yang ada di lahan tersebut, terdapat rumah tinggal De Riemer yang dibangun tahun 1815 oleh Gerrit Willem Casimir van Motman, Kepala Gudang VOC. Kalau menurut peta, katanya lokasi rumah De Riemer berada di sudut Laan de Riemer dan Tanah Abang West. Loh, itu kan lokasi Gedung Pelita Air Service… aku 8 tahun pernah berkantor di situ…

Katanya di lokasi ini pernah ada rumah De Riemer

Tahun 1908, ahli waris keluarga De Riemer menjual lahan Laan de Riemer kepada pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian dijadikan kawasan perkantoran. Tahun 1930, bangunan utama rumah de Riemer diruntuhkan, dan kawasan tersebut diubah menjadi daerah hunian yang terdiri dari vila-vila besar bergaya arsitektur Art Deco hasil desain J.A. Raket. Kawasan ini dikenal sebagai Westerpark, dan beberapa bangunan tersebut masih bisa kita lihat hingga sekarang.

Vila Besar Gaya Art Deco di Westerpark (sekarang Jl Tanah Abang III)



Friday, March 28, 2025

Perang Napoleon di Jatinegara

Tahukah Anda, Jatinegara pernah menjadi saksi berbagai pertempuran, termasuk Perang Napoleon? Mungkin tidak banyak yang sadar, dampak Perang Napoleon ternyata sampai juga ke Nusantara, bersamaan dengan masuknya Inggris untuk menguasai Nusantara. Ini tidak lepas dari pergolakan politik di Eropa. 

Berawal di tahun 1810 ketika Belanda takluk dari Perancis, sehingga seluruh daerah kekuasaannya diambil Perancis, termasuk Hindia Belanda. Inggris yang berupaya mengurangi kendali Prancis atas Hindia Belanda mengirimkan ekspedisi militer di pertengahan 1811 di bawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty. Jumlahnya luar biasa, mencapai 12.000 tentara dan 100 kapal, termasuk 4 kapal perang, 14 kapal pengawal, 7 kapal penjaga, dan 8 kapal penjelajah East Indian Company. Sejarah mencatat ekspedisi ini menjadi ekspedisi militer laut terbesar sebelum Perang Dunia Kedua.

Minggu, 4 Agustus 1811, konvoi militer ini tiba di Teluk Batavia, kemudian masuk ke Batavia melalui pantai Cilincing. Pada tanggal 10 Agustus 1811, pasukan Inggris telah menguasai benteng di Weltevreden. Pasukan Inggris kemudian bergerak ke arah kamp militer pasukan Prancis di Meester Cornelis. Kamp ini dilindungi benteng pertahanan di pinggir anak Ciliwung, yang dikenal sebagai The Slokan. Pada akhirnya, kamp militer ini berhasil dikuasai. Kekuasaan Prancis di Nusantara berakhir setelah Kapitulasi Tuntang pada 16 September 1811 yang menandai penyerahan kekuasaan dari Prancis ke Inggris.

Stasiun Jatinegara, pernah jadi Stasiun Meester Cornelis
atau Stasiun Rawa Bangke

Pertempuan antara Inggris dan Prancis di Meester Cornelis meninggalkan beberapa penanda. Di antaranya adalah daerah yang bernama Rawa Bunga. Konon di kawasan ini dulu banyak mayat korban pertempuran serdadu Inggris dan Perancis, sehingga awalnya dinamakan Rawa Bangke. Di dekat Rawa Bangke inilah berdirinya Stasiun Meester Cornelis yang sekarang kita kenal sebagai Stasiun Jatinegara.

Anak Sungai Ciliwung (The Slokan)di Jl. KH Ahmad Dahlan - Palmeriam
pernah jadi bagian benteng pertahanan pasukan Prancis

Selain itu, ada sebuah tempat yang dikenal warga lokal Palmeriam sebagai Gang Solitude, yang saat ini menjadi Jl. KH Ahmad Dahlan. Tempat ini merupakan bagian dari benteng pertahanan kamp militer Perancis pada awal abad 19. Solitude sendiri bermakna “hening”. Konon nama ini berasal dari situasi ketika ada gudang mesiu yang meledak, di mana setelah ledakan itu terjadi keheningan yang luar biasa.

Suasana Gang Solitude di Era Millenials

Pada tahun 1820, kamp militer Meester Cornelis berubah fungsi menjadi penjara. Setelah kembali ke tangan pemerintah kolonial Hindia Belanda, kamp militer Meester Cornelis tetap digunakan sebagai kamp militer. Kamp militer ini dilengkapi kompleks perumahan dinas perwira Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) yang dikenal sebagai Generaal Staallaan. Rumah-rumah di kompleks tersebut memiliki gaya Indisch yang dipadu ornamen ala Betawi dan Jawa.

Roemah Djatinegara, salah satu peninggalan
General Staallaan

Selain para perwira KNIL yang umumnya berkebangsaan Belanda yang menempati kompleks tersebut, terdapat satu perwira KNIL pribumi berpangkat Kapten yang menempati salah satu rumah dinas. Beliau adalah Oerip Soemohardjo, yang menempati rumah dinas di kompleks ini antara tahun 1928-1933. Oerip Soemohardjo adalah Kepala Staf Umum TKR pertama di tahun 1945. Dulu beliau menempati rumah dinas di Generaal Staallaan nomor 17. Saat ini rumah tersebut menjadi sekolah karate.

Rombongan Sahabat Museum di salah satu rumah Generaal Staallaan

Jatinegara juga menjadi saksi pertempuran mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat sejak November 1945-Januari 1946, kerap terjadi pertempuran besar antara pemuda Indonesia melawan serdadu Inggris/Belanda di sepanjang jalur Pasar Senen-Kramat Raya-Meester Cornelis (Jatinegara). Puncaknya terjadi ketika para serdadu Inggris/Belanda di awal Jamuari 1946 datang dari arah Senen menyerbu ke Jatinegara. Para pemuda Republik dari berbagai etnis (Betawi, Tionghoa, Sunda, Jawa, Batak, Minahasa, Ambon dll) sudah melakukan penghadangan di sekitar Stasiun Rawabangke dan di bawah viaduct Jatinegara. Pertempuran pun berlangsung hebat dan menimbulkan korban di kedua pihak.

Patung Perjuangan Jatinegara
di depan Gereja Koinonia

Peristiwa ini diabadikan dalam sebuah monumen di depan gereja Koinonia, yang diresmikan pada 7 Juni 1982. Patung tersebut menggambarkan 2 orang pejuang, yang merupakan ayah dan anak. Mereka tergabung dalam  laskar KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi) yang aktif di wilayah Jakarta pada 1945-1946. Sang bapak bernama Martinus Runtunuwu, sedangkan patung anak menggambarkan putra bungsunya yang bernama Bernard. Dalam usia masih sangat muda (13 tahun), Bernard sudah ikut bersama ayahnya dalam pertempuran di Stasiun Rawa Bangke dan Viaduct, kendati hanya bersenjata sebuah katapel. Dikisahkan, Bernard Runtunuwu kemudian ikut bersama satu regu pasukan KRIS pimpinan Decky Pontoan, yang bertugas mempertahankan front Karawang.  Pada pertengahan Februari 1946, Bernard gugur di Rawa Buaya saat pasukannya harus berhadapan dengan satu unit tentara Belanda.

Saturday, September 21, 2024

Wisata Pemakaman PD II (7): Ereveld Kalibanteng

Menuntaskan perjalanan saya ke 7 ereveld di Indonesia, dari Ereveld Candi, saya menuju ke Ereveld Kalibanteng, yang terletak tak jauh dari bandara Ahmad Yani Semarang, bersebelahan dengan Kawasan Pusdik Penerbad, Pangkalan Udara Ahmad Yani. Secara resmi, Ereveld Kalibanteng beralamat di Jl. Siliwangi 293, Semarang, terletak di tepi jalan raya yang merupakan bagian dari Jalan Raya Pos yang dibangun oleh H.W. Daendels. 

Diresmikan pada tanggal 22 April 1949, tempat ini merupakan tempat peristirahatan 3100 korban perang, sebagian besar merupakan korban sipil dari kamp konsentrasi tentara Jepang di Jawa Tengah, seperti Ambarawa, Banyubiru, Lampersari, Halmahera, Bangkong, Gedangan, dan Karangpanas. Pada saat penggabungan ereveld di Indonesia, Ereveld Kalibanteng menerima pemindahan makam dari ereveld di Tegal, Kobong, Blora, Tarakan (1964), Balikpapan (1967), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Saat tiba di Ereveld Kalibanteng, pintu gerbang dalam keadaan terbuka, sehingga saya masuk ke dalam. Saya bertemu pak Eko, penjaga ereveld yang sedang merawat tanaman. Setelah menjelaskan maksud saya berkunjung ke ereveld, Pak Eko mempersilakan saya untuk melihat ke dalam.

Ereveld Kalibanteng yang dikelilingi pohon cemara

Ereveld ini berbentuk segitiga sama sisi, dengan sekeliling lahan ereveld terdapat parit besar yang berisi air. Menurut pak Eko, air pada parit ini berasal dari sungai, dan digunakan untuk perawatan tanaman di Ereveld. Jika melihat dari dalam ke arah jalan raya, akan terlihat pemandangan Gunung Ungaran di kejauhan. Namun kontras dengan Ereveld Candi, Ereveld Kalibanteng terletak di dataran dekat pantai, hanya beberapa ratus meter dari tepi laut. Salah satu keunikan lain dari ereveld ini adalah deretan pohon cemara yang mengelilingi lahan ereveld.

Bagian Malam Perempuan di Sisi Barat Ereveld

Ereveld Kalibanteng dikenal sebagai “Vrouwen-Ereveld” (Ereveld Perempuan), karena banyaknya wanita dan anak-anak yang dimakamkan di tempat ini. di mana di sisi barat digunakan untuk makam wanita, dan di sisi timur digunakan mayoritas untuk makam pria. Sedangkan makam anak-anak terdapat di area tengah, menghadap ke jalan raya. Di Ereveld Kalibanteng juga terdapat pemakaman muslim, yang terletak di sisi belakang ereveld.

Monumen Peti Mati untuk
Korban Perempuan Tak Dikenal

Di dekat tiang bendera terdapat patung batu berbentuk peti mati. Jika biasanya peti mati tersebut untuk mengenang prajurit tak dikenal, kali ini peti mati tersebut ditujukan khusus untuk mengenang korban perempuan tak dikenal. Di seberang peti mati terdapat lempengan batu peringatan dari marmer putih dengan teks yang ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris yang berbunyi “Ter eerbiedige negadachtenis aan de vele ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.”, yang bermakna untuk mengenang mereka yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan.

Monumen "Jongen Kampen"

Berjalan ke arah belakang melintasi jalur yang diapit 18 pilar, terlihat dua buah monumen yang mencerminkan keberadaan Perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perang. Monumen pertama adalah monument “Jongen Kampen” (Kamp Anak Laki-Laki) karya Anton Beysens pada tahun 1988. Monumen ini untuk mengenang para anak lelaki yang dipisahkan dari ibunya dan gugur di kamp konsentrasi laki-laki, seperti di di Ambarawa, Bangkong, Gedongjati, dan Cimahi. Patung perunggu tersebut menunjukkan seorang anak lelaki kurus yang membawa pacul di atas pundaknya, bersandar pada kapak, dan tubuhnya hanya dibalut selembar kain. Terdapat tulisan pada monumen itu “Zij waren nog zo jong”, yang bermakna “Mereka masih sangat muda”.

Monumen Perempuan

Di seberang monumen ini terdapat taman dengan monumen dua orang wanita buatan Marian Gobius pada tahun 1954. Monumen perunggu tersebut menggambarkan seorang wanita yang bangga dan berdiri tegap, tengah memegang wanita lain yang membungkuk, seolah berusaha menenangkan. Mereka sama-sama menggandeng tangan seorang anak kecil yang berada di antara mereka berdua. Monumen ini menggambarkan perasaan senasib antara Wanita dan anak-anaknya, khususnya di masa sulit tersebut. 

Wisata Pemakaman PD II (6): Ereveld Candi

Setelah beberapa waktu, akhirnya saya berkesempatan ke Semarang (lebih cepat daripada perkiraan saya), yang saya manfaatkan untuk menuntaskan perjalanan mengunjungi 7 Ereveld yang ada di Indonesia. Pagi itu cuaca sangat cerah, ketika saya memulai perjalanan menuju Ereveld Candi.

Ereveld Candi terletak di Jl. Taman Jendral Sudirman 4, Bendungan Gajahmungkur, Candi Baru, di atas bukit di sisi selatan Kota Semarang. Ereveld ini dibangun atas inisiatif pasukan pertama Belanda dari Tijgerbrigade (T-Brigade) yang mendarat di Semarang pada 12 Maret 1946. Mereka memilih tempat pemakaman untuk rekan-rekan mereka yang gugur di puncak bukit Candi, yang saat itu merupakan Tillemaplein (Taman Tillema, diberi nama dari Hendrik Freerk Tillema, pendiri air minum kemasan pertama di Semarang). Pemakaman tersebut dirancang oleh Letnan Satu Ir. H. Stippel dari pasukan zeni. Pemakaman ini diresmikan pada bulan Maret 1947 dan diberi nama Ereveld Tillemaplein. Namun pada tahun 1967, atas permintaan dari pihak Indonesia, nama ereveld ini berubah menjadi Ereveld Candi.

Ereveld Candi di bawah naungan Gunung Ungaran

Ketika saya tiba di gerbang ereveld ini, yang pertama kali menarik perhatian adalah panorama gunung Ungaran yang seolah menaungi Ereveld Candi. Ini bukan satu-satunya ereveld yang memiliki panorama gunung, karena Ereveld Pandu dan Ereveld Leuwigajah pun juga dinaungi oleh gunung. Namun keunikan dari Ereveld Candi adalah letaknya di lereng bukit, sehingga lahannya dibentuk seperti terasering, dengan 5 teras yang berbentuk setengah lingkaran, Masing-masing teras dihubungkan dengan tangga dari batu alam. 

Karena saya tidak melihat petugas di dekat pintu (dan bel pintu sepertinya tidak berfungsi), saya mencoba membuka gerbang yang tidak dikunci. Dari jauh terlihat ada beberapa petugas sedang melakukan perawatan tanaman ereveld. Di kantor ereveld ternyata ada petugas yang sedang bekerja di depan computer, yang kemudian mengijinkan saya untuk melihat ke dalam ereveld. 

Dari informasi yang saya baca dari berbagai sumber, tempat ini merupakan satu-satunya ereveld khusus militer di Indonesia. Dan sejauh mata memandang nisan-nisan yang ada di Ereveld Candi, terlihat bahwa semua yang dimakamkan di tempat ini adalah laki-laki, tidak ada perempuan. Demikian juga tidak ada orang muslim yang dimakamkan di sini, hanya ada beberapa makam Yahudi dan Tionghoa.

Pada awal didirikan, tempat ini hanya ditujukan untuk memakamkan kembali seluruh tentara yang gugur masa perang kemerdekaan di Jawa Tengah. Namun pada akhirnya tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir para tentara yang gugur di Jawa Tengah pada masa Perang Dunia II. Saat ini hampir 1000 anggota tentara Belanda (KNIL) yang dimakamkan di tempat ini, termasuk menampung makam yang dipindahkan dari pemakaman tentara Belanda di Kampung Ploso (Pacitan), Gundih (Semarang), Mario Tjamba (Maros), Patjinang (Makassar), dan Palembang, antara tahun 1960-1970.

Monumen Salib

Tempat ini memiliki monumen salib berwarna putih berukuran besar yang terletak di bagian tengah pemakaman, dihiasi jalan setapak yang terbentuk dari batu-batu alam. Di bagian kaki salib tersebut terdapat prasasti dengan tulisan “Voor Veiligheid en Recht”, atau berarti “For Security and Justice”, yang menjadi titik fokus untuk merefleksikan kedua nilai ini. Pada tangga menuju salib, terdapat plakat yang menandakan ucapan dari Palang Merah Semarang. Pada tangga sisi kanan menuju salib, terdapat plakat bertulisan “Uw plichtsbetrachting maakte ons werk van naastenliefde mogelijk” dari Roode Kruis Semarang (Palang Merah Semarang pada masa Agresi Militer), yang bermakna “Pengabdian Anda pada tugas membuat pekerjaan amal kami bisa terwujud.”

Seperti di ereveld lain, terdapat monument untuk mengenang mereka yang gugur dalam perang namun tak dimakamkan di ereveld. Jika di ereveld lain monumen tersebut dalam bentuk patung peti mati, maka di Ereveld Candi monument tersebut dalam bentuk sebongkah batu berbentuk persegi di dekat tiang bendera, yang bertuliskan “Ter eerbiedige nagedachtenis aan de velle ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.” (Untuk mengenang banyak orang yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan). 

Monumen II-13 R.I.

Terdapat juga monumen untuk memperingati gugurnya 8 tentara dari Batalyon II – 13 R.I. (Regiment Infanterie), atau dikenal sebagai Batalyon Limburg. Delapan orang yang namanya terdapat di monumen tersebut sepertinya tidak dimakamkan di ereveld Candi. Batalyon II-13 sebelumnya memperkuat tentara Sekutu di Munich-Gladbach, sebelum diberangkatkan menuju Indonesia melalui Inggris pada 12 Oktober 1945, dan mendarat di Semarang pada 9 Maret 1946. Selama bertugas di Indonesia, mereka berada di bawah pimpinan Letnan Kolonel D.A. Erdman. Mereka sempat ditugaskan di Semarang, Salatiga, Pameungpeuk, Garut, Darmaredja, Gempol, dan Plered, sebelum pada 26 Februari 1948 mereka dipulangkan ke Belanda. 


Saturday, August 24, 2024

Sultan Agung vs VOC di "Kota Tahi"

Anda mungkin sering mendengar cerita pertempuran antara pasukan Mataram Islam yang dikirim Sultan Agung untuk berperan melawan VOC di Batavia yang berakhir dengan kekalahan pasukan Mataram karena dilempari tinja oleh pasukan VOC. Tapi pernahkah Anda mencari tahu, di mana persisnya lokasi pertempuran dengan amunisi aneh tersebut?

Di tanggal 11 Agustus 2024 yang lalu, Sahabat Museum melakukan Plesiran Tempo Doeloe bertajuk Koetika Kompeni Terpodjok, dengan mengunjungi bekas lokasi Fort Hollandia, sebuah bastion yang berada di ujung terluar tembok kota Batavia, yang menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Mataram dan pasukan VOC tersebut. Namun sebelum tiba di bekas lokasi Fort Hollandia, sejenak kita akan kilas balik perjalanan pasukan Mataram menuju Batavia di tahun 1628, di bawah pimpinan Ki Mandurareja. Perjalanan dari keraton Mataram di Kerto menuju Batavia memakan waktu selama 3 bulan, melalui Kulon Progo-Prembun-Pekalongan-Tegal-Cirebon-Sumedang- Cianjur-Pakuan (Bogor), untuk kemudian naik rakit menyusuri Ciliwung menuju Batavia. Tak hanya pasukan berjalan kaki, Sultan Agung juga mengirim pasukan pendahuluan melalui laut yang dipimpin Tumenggung Bahureksa. 

Di bulan Agustus 1628, pasukan Mataram telah mengepung Kota Batavia selama sebulan penuh. Pada malam tanggal 21 September 1628, para prajurit Mataram berusaha mendekati Fort Hollandia (atau lebih tepatnya Redoute Hollandia) yang merupakan pertahanan terakhir VOC. Mereka berusaha memanjat kubu atau menghancurkan tembok, serta menembaki kubu dengan bedil laras panjang. Di dalam kubu, Sersan Hans Madelijn beserta 24 serdadunya mencoba bertahan. Pihak VOC sempat kewalahan, hingga mereka kehabisan amunisi. Madelijn memiliki gagasan sinting. Ia meminta anak buahnya membawa sekeranjang penuh tinja. Dengan putus asa, pasukan VOC melemparkan kantong berisi tinja ke tubuh-tubuh prajurit Mataram yang merayapi dinding kubu Hollandia. Sekejap pasukan Mataram lari tunggang-langgang karena terkena peluru tinja tersebut. Hari berikutnya, pasukan Mataram mundur, dan serangan pun gagal. Inilah yang menjadi sumber nama “Kota Tahi”, julukan pasukan Mataram untuk kubu Hollandia.

Kisah pertempuran tersebut tercatat dalam beberapa sumber. Di antaranya adalah laporan Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen pada Dewan Hindia per 3 November 1628, Namun dalam laporan tersebut, Coen tidak menyebutkan adanya amunisi unik yang digunakan untuk menghalau pasukan Mataram. Kisah tersebut tertulis dalam sebuah buku berjudul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an Tartarischen Cham (terbit tahun 1669), serta dalam Babad Tanah Jawi. Di abad berikutnya, kisah ini juga tertulis dalam buku History of Java Volume II karya Thomas Stamford Raffles, serta dalam buku Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, yang terbit pada 1911.

Rombongan Batmus di Situs Bekas Kubu Hollandia

Lalu, di mana lokasi sesungguhnya kubu Redoute Hollandia? Napak tilas dalam Pelesiran Tempo Doeloe kali ini membawa kami menelusuri Jl. Pinangsia Timur hingga ke ujung, blusukan di antara kompleks ruko dan pemukiman padat. Di ujung timur Jl. Pinangsia Timur, dibatasi oleh aliran Sungai Ciliwung, terdapat tapak bekas kubu Hollandia. Jika dibandingkan dengan peta lama dari jaman VOC, aliran Sungai Ciliwung yang pernah membatasi kubu Hollandia masih memiliki alur dan pola yang sama dengan yang kami lihat saat ini.

Lalu, seperti apakah rupa bangunan kubu Hollandia tatkala Mataram menyerbu Batavia pada 1628? Bang Ade Purnama sebagai penggerak Sahabat Museum menunjukkan gambar bahwa terdapat 2 rujukan yang memberikan gambaran berbeda. Dalam sebuah sumber tertulis, terdapat informasi bahwa kubu tersebut berbentuk Menara dengan pagar deretan kayu berujung runcing. Rujukan lain dari peta karya Frans Florisz. van Berckenrode berangka tahun 1627) menunjukkan bahwa pertahanan di timur kota itu berupa dinding batu yang melintang dari selatan hingga ke utara.  Di masa Gubernur Jendral Johan Camphuijs, kubu tersebut pernah dimasukkan dalam daftar monumen bersejarah. Namun disayangkan, bangunan tersebut menghilang di tahun 1766.

Posisi Situs Bekas Kubu Hollandia dari arah Jembatan Manggis

Setelah mendapatkan banyak cerita tentang pertempuran prajurit Mataram dan serdadu VOC di titik yang merupakan bekas tapak kubu Hollandia, kami berjalan kaki menyeberangi Sungai Ciliwung, memasuki Jl. Manggis 1, menuju Jembatan Manggis. Dari arah Jembatan Manggis, terlihat lebih jelas bekas lokasi kubu Hollandia dari arah Sungai Ciliwung. Bisa dibayangkan, kurang lebih demikianlah sudut pandang pasukan Mataram saat mendekati kubu Hollandia untuk melakukan penyerbuan. Dan hari ini, tempat yang pernah menjadi saksi sejarah pertempuran legendaris antara Mataram dan VOC tersebut hanya menyisakan keheningan tanpa jejak.


Sunday, August 18, 2024

Napak Tilas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 16 Agustus 1945 dini hari. Kala itu para pemuda dari perkumpulan "Menteng 31" yang terdiri dari Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh "menculik" Bung Karno dan Bung Hatta, untuk diamankan di Rengasdengklok, 81 km dari Jakarta. Tujuan mereka adalah untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan. Mengapa ke Rengasdengklok? Karena lokasinya yang cukup terpencil, namun tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain itu, di Rengasdengklok terdapat markas PETA. 

Gedung Joang 45 di Jl. Menteng Raya No. 31, Jakarta

Di manakah markas para pemuda “Menteng 31”? Bangunan yang berlokasi di jantung kota Jakarta ini semula merupakan hotel elite yang dibangun oleh L.C. Schomper pada tahun 1938, dan dikenal sebagai Hotel Schomper I. Pada masanya, hotel ini merupakan hotel yang megah. Saat Belanda menyerah di tahun 1942, bangunan hotel dikuasai oleh Badan Propaganda Jepang (Gunseikanbu Sendebu).  Di bulan Juli 1942, para pemuda yang terdiri dari Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik dan AM Hanafi meminta ijin kepada Jepang untuk memanfaatkan Gedung tersebut sebagai asrama, yang kemudian dikenal sebagai Asrama Menteng 31. Asrama ini kemudian berfungsi sebagai tempat Pendidikan politik kebangsaan, dengan para pengajar di antaranya Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Moh. Yamin, Mr. Achmad Subarjo, dll. Tahun 1943, Gedung Menteng 31 kemudian dijadikan sebagai markas Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Setahun kemudian, PUTERA dibubarkan dan diganti dengan organisasi baru Bernama Jawa Hokokai (Kebangkitan Rakyat Jawa), dan berkantor di Gedung tersebut.

Rumah Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok

Selama di Rengasdengklok, Bung Karno dan Bung Hatta tinggal di rumah milik Djiaw Kie Siong. Konon rencana semula Bung karno dan Bung Hatta akan ditempatkan di markas PETA di Rengasdengklok, namun karena kondisinya yang kurang layak sebagai tempat tinggal, maka para pemuda mengalihkan Bung Karno dan keluarga beserta Bung Hatta ke rumah Babah Djiaw.

Bersama Pak Yanto dan Bu Lani

Rumah milik Babah Djiaw di Rengasdengklok pernah saya singgahi bersama rombongan WalkIndies, dalam perjalanan menuju Candi Batujaya di pertengahan April 2024. Dengan sambutan hangat dari pak Yanto, cucu dari Babah Djiaw, serta ibu Lani istrinya, serta kondisi rumah bersejarah yang masih terjaga, kami malah membayangkan jangan-jangan kata “penculikan” sebenarnya agak berlebihan. Mungkin di Rengasdenglok Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda sebenarnya hanya “cangkrukan” sambil merokok dan makan gorengan. Sambil “cangkrukan”, bisa jadi Bung Karno dan Bung Hatta membujuk para pemuda agar bersabar, karena mereka tidak ingin terjadi pertumpahan darah jika proklamasi dipersiapkan secara terburu-buru.

16 Agustus 1945 tengah malam, akhirnya Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda kembali ke Jakarta. Setelah mereka mengetahui bahwa Jepang tidak memberikan ijin untuk mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia seperti yang telah dijanjikan Marsekal Terauchi di Dalat, mereka menuju kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang dan Angkatan Darat Jepang.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Di ruang makan rumah Maeda, dilakukan penyusunan teks proklamasi oleh Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Setelah konsep yang ditulis tangan dirasa cukup, Sayuti Melik mengetik naskah tersebut, dengan diawasi oleh B.M. Diah. Naskah proklamasi ketikan Sayuti Melik ini kemudian ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta di atas piano yang berada di rumah tersebut. Selanjutnya naskah ini pun dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi di kediaman Bung Karno Jl. Pegangsaan Timur 56.

Naskah Proklamasi Ketikan Sayuti Melik

Setelah proklamasi Kemerdekaan, Rumah Laksamana Maeda sempat dijadikan Markas Tentara Inggris, dan sejak itu beberapa kali beralih fungsi. Baru pada tahun 1992 rumah yang terletak di Jl. Imam Bonjol No. 1 ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Satu-satunya yang masih asli dari peristiwa perumusan naskah proklamasi tahun 1945 adalah bangunan tersebut. Sedangkan benda-benda seperti kursi, meja, mesin ketik, pulpen, serta piano yang digunakan pada masa itu sudah tidak ketahuan lagi rimbanya, sehingga yang dipamerkan di museum hanyalah replikanya saja.

Monumen Proklamator

17 Agustus 1945, pukul 10 pagi. Di kediamannya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Bung Karno membacakan Naskah Proklamasi, membuka babak baru dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pembacaan Naskah Proklamasi ini selanjutnya diikuti oleh pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit Ibu Fatmawati oleh Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed. Pengibaran ini diiringi dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh hadirin.

Tugu Petir Tempat Bung Karno Berdiri Saat Membacakan Proklamasi

Jika hari ini Anda mencari tahu di apakah kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur itu masih ada, bentuk dan suasananya sudah tidak sama dengan bentuk dan suasana di tahun 1945. Saat ini lokasi tersebut sudah menjadi Taman Proklamasi, dan rumah yang menjadi kediaman Bung Karno di tahun 1945 sudah tidak ada. Pada tahun 1961, rumah tersebut dibongkar untuk dijadikan Gedung Pola Pembangunan Semesta, yang menjadi tempat koordinasi program Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahap Pertama 1961-1969. 

Tempat Bung Karno berdiri ketika membacakan naskah proklamasi ditandai dengan Tugu Petir, yang dibangun di tahun 1961. Pada tugu terdapat plakat dengan tulisan "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta". Di taman tersebut terdapat patung Bung Karno dan Bung Hatta berukuran besar, yang menggambarkan suasana pembacaan naskah proklamasi. Di antara patung Bung Karno dan Bung Hatta, terdapat patung naskah proklamasi versi ketikan oleh Sayuti Melik, terbuat dari lempengan batu marmer hitam. Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 Agustus 1980.


Friday, March 22, 2024

Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa

 "Payah loe, udah dibantu GM*ps tapi tetep aja nyasar!"

Percakapan ini sepertinya lumrah kita dengar saat ini. Yeps, peta digital memang sangat praktis untuk keperluan mobilisasi di jaman kiwari. Peta merupakan representasi visual dari berbagai elemen yang ada di muka bumi. Perjalanan ilmu kartografi atau pembuatan peta saat ini sudah sedemikian canggih, hingga memungkinkan kita membaca peta dalam versi digital, bahkan dalam genggaman. Namun, seperti apa peta-peta di masa lampau, yang digunakan para pelaut untuk navigasi kapal-kapal mereka menjelajah samudra?

Nusa Jawa dalam pandangan kartografer Portugis Abraham Ortelius 1595

Pameran Kartografi Nusa Jawa yang diselenggarakan antara 16 Januari s/d 30 April 2024 di Museum Bahari memamerkan peta-peta kuno -- khususnya peta pulau Jawa dari abad ke-16. Jika kita bandingkan dengan peta masa kini yang penggambarannya sudah sesuai dengan kondisi nyata, peta-peta kuno tersebut sangat berbeda. Bisa dilihat bahwa peta kuno tersebut mencerminkan interpretasi para pembuat peta jaman dulu terhadap wilayah yang dipetakan. Misalnya pada peta penjelajah Belanda abad 16, pulau Jawa digambarkan sama besarnya dengan pulau Sumatera. Atau peta yang dibuat kartografer Belanda pada tahun 1606, yang memperlihatkan seolah Pulau Jawa dibelah oleh sungai besar dari pantai utara hingga pantai selatan. Peta-peta kuno tersebut saat ini dapat dianggap sebagai sebuah karya seni berbasis kartografi. Selain peta-peta kuno, kita juga diperkenalkan dengan peralatan yang membantu kartografer masa lalu untuk membuat peta atau membantu para pelaut menentukan posisi kapalnya. Di antara peralatan tersebut terdapat sekstan dan teropong panjang.

Peta Pulau Jawa Terpisah oleh Pieter Van Der Aa 1707

Salah satu peta yang ditampilkan adalah Peta Tjiela. Peta Tjiela yang asli ditemukan di Desa Ciela, Kec. Bayongbong, Garut, pada tahun 1858 oleh Karel Frederik Holle, pemilik perkebunan the di CIkajang, Garut. Tuan Holla (panggilan akrab masyarakat Cikajang kepada Holle) memang bukan sekadar juragan perkebunan the, namun juga peminat kebudayaan Sunda. Peta Tjiela tergambar pada sehelai kain kafan berukuran 1 meter x 2 meter. Peta tersebut menggambarkan wilayah yang cukup luas, mencakup wilayah yang sekarang menjadi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, sampai dengan Kabupaten Cilacap. Dalam peta tersebut termuat symbol laut, sungai, gunung, bukit, danau, jalan, dan rawa, dengan symbol yang umum digunakan pada peta yang kita kenal hari ini. Peta tersebut memuat keterangan nama yang ditulis dengan huruf Sunda kuno, seperti Cirebon, Bekassih, dan Nusa Kalapa. Di bagian tengah peta tergambar wilayah kerajaan bernama Timbangaten. Uniknya, arah utara pada peta diletakkan di bagian bawah, sedangkan arah selatan pada bagian atas peta.

Holle meyakini peta tersebut dibuat sekitar tahun 1560. Dugaan ini diperkuat oleh penelitian arkeolog lainnya, yang mengatakan kemungkinan peta tersebut berasal dari abad ke-16. Siapa pembuat peta ini, tidak diketahui, namun peta ini dibuat oleh penduduk Nusantara. Ini menjadi bukti bahwa sejatinya penduduk asli Nusantara sudah mengenal pembuatan peta sebelum para penjelajah Eropa hadir di Nusantara. Salah satu tokoh dari Nusantara yang mengenal peta dan globe adalah Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri dan penasehat utama Raja Gowa di abad ke-17. Dari hasil penelitian lebih lanjut oleh para ahli geologi Indonesia di tahun 1976-1977, penulis buku Prof. P. D. A Harvey menduga bahwa Peta Ciela memiliki kemiripan dengan peta masa awal Dinasti Han dari Cina.

Atas: Puzzle Peta Ciela di Museum Sejarah Jakarta (foto koleksi pribadi, 2019)
Bawah: Salinan Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa (foto koleksi pribadi, 2024)

Beruntung Holle sempat membuat salinan Peta Tjiela tersebut dan menuliskan ulasan tentang peta tersebut dalam sebuah majalah, karena pada tahun 1975 diketahui peta yang asli telah hilang, diduga terbakar dan hilang tenggelam bersama kapal yang mengangkutnya. Tulisan Holle menjadi sumber awal yang penting dalam menelusuri kartografi yang dilakukan penduduk Nusantara. Di Pameran Kartografi Nusa Jawa kita bisa melihat bentuk salinan dari peta tersebut, sedangkan jika kita ingin melihat dari dekat, kita bisa melihat Peta Tjiela dalam bentuk puzzle yang dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta. Saat ini salinan Peta Tjiela yang dibuat berdasarkan salinan Holle disimpan oleh keluarga Ihak Lukman di Desa Ciela, dan dianggap sebagai benda pusaka.

Mengingat pentingnya peta untuk membantu menunjukkan posisi atau lokasi relative dalam hubungannya dengan tempat lain di permukaan bumi, khususnya dalam aktivitas pelayaran di masa lalu, tidak mengherankan jika pameran ini dibuat di Museum Bahari Jakarta. Museum ini dulu merupakan gudang VOC untuk menyimpan komoditas seperti rempah, kopi, the, tembaga, timah, dan tekstil. Selain melihat-lihat koleksi terkait kebaharian Indonesia, arsitektur museum sendiri juga menarik untuk ditelisik, mengingat museum ini dibangun dengan teknologi abad ke-17, dan masih bertahan hingga sekarang, walaupun dinding-dindingnya harus menghadapi ancaman penggaraman.

Sisa Pilar Kayu dan Pintu yang Terbakar di Memorial Museum Bahari

Selesai melihat pameran peta, saya tertarik dengan ruangan di Gedung sebelah, yang pintunya terbuka dan cukup terang. Ternyata ruangan tersebut merupakan Ruang Memorial Museum Bahari, dan menyimpan informasi terkait peristiwa kebakaran besar pada 16 Januari  2018 yang melalap 64 koleksi museum. Pada ruang memorial ini dipamerkan beberapa kaki pilar, pintu, dan ambang jendela yang terbuat dari kayu jati, yang sebagian besar hangus dilalap si jago merah. Ruangan ini juga menampilkan video upaya pemadaman kebakaran, serta kliping surat kabar yang memuat berita kebakaran tersebut dan upaya pemulihan kembali museum pasca kebakaran. Saat menapakkan kaki, saya baru sadar, mungkin Ruang Memorial ini adalah salah satu ruangan yang ikut terbakar saat itu, karena terdapat bagian ruangan dengan lantai kayu yang terlihat lebih baru dibandingkan bagian ruangan lainnya. Bagi saya, Ruang Memorial ini mungkin menjadi pengingat bagi kita, untuk terus berupaya memitigasi bencana kebakaran agar tidak terjadi lagi, khususnya di museum-museum kita.

Sunday, March 17, 2024

TPU Pandu, Tempat Peristirahatan Terakhir Tokoh-Tokoh Kota Bandung

Mengunjungi Ereveld Pandu, rasanya tak lengkap kalau tak sekalian menjelajah TPU Pandu. TPU Pandu didirikan pada tahun 1932, sebagai bagian dari penertiban pemakaman di Kota Bandung sesuai Bouwverrordening van Bandung tahun 1917. Berdiri di lahan seluas 83.000 m2 (kurang lebih 10 hektar), TPU Pandu memiliki jumlah makam hingga 21 ribu. Daya tarik makam ini adalah merupakan tempat peristirahatan terakhir beberapa tokoh terkenal di Kota Bandung. Tahun 1973, TPU Pandu merupakan salah satu TPU yang digunakan untuk merelokasi makam dari Kerkhoff Kebon Jahe (sekarang menjadi Sarana Olahraga Sport Hall Pajajaran).

Nisan Profesor Schoemaker

Di antara ribuan makam yang ada di TPU Pandu, terdapat nisan Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker, seorang arsitek dan guru besar Technische Hogeschool te Bandoeng (sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung). Prof. Schoemaker lahir di Banyubiru, Ambarawa, pada 25 Juli 1882. Karirnya diawali sebagai insinyur KNIL, sebelum kemudian mengundurkan diri dan bekerja di biro arsitek. Sebagai guru besar di THB, salah satu murid Schoemaker adalah Ir. Soekarno, presiden pertama RI. Karya arsitektur Schoemaker masih dapat kita lihat hari ini, seperti Gedung Merdeka, Hotel Preanger, Katedral Santo Petrus, Gereja Bethel, Villa Isola, dan Masjid Cipaganti. 

Gedung Merdeka, salah satu karya Prof Schoemaker

Schoemaker wafat pada 22 Mei 1949 dan dimakamkan di TPU Pandu. Namun ironisnya, makam Schoemaker tidak seartistik karya-karyanya. Nisan yang bertuliskan tanggal lahir, tanggal wafat, dan gelar kehormatan Ridder in De Orde van Denetherlandse Leeuw (Ksatria Ordo Singa Belanda) ini seperti batu nisan biasa, tanpa ornament berlebihan, dan terhimpit batu nisan makam-makam lain, sehingga untuk mencapai makam Schoemaker, kita harus melewati atau meloncati makam-makam lainnya.

Konon makam Schoemaker merupakan salah satu makam yang sempat terancam akan dibongkar di tahun 2002, karena tidak ada yang membayar retribusinya. Namun rencana ini urung dilaksanakan, setelah putra mendiang Presiden Soekarno, Guruh Sukarnoputra, mengulurkan bantuan. Di tahun 2003, Juan Schoemaker, cucu dari Schomaker yang sudah lama mencari makam mendiang kakeknya, akhirnya berhasil berkunjung ke makam ini.

Selain makam Schoemaker, di TPU Pandu terdapat makam keluarga Ursone. Keluarga Ursone berkebangsaan Italia, dan datang ke Bandung di tahun 1890-an sebagai musisi. Mereka kemudian mengembangkan usaha pemerahan susu sapi yang berada di Lembang sejak tahun 1895. Mereka merupakan pendiri Bandoengsche Melk Centrale (BMC), yang saat ini masih beroperasi di Jalan Aceh. Keluarga Ursone memiliki lahan yang cukup luas di Lembang, bahkan lahan observatorium Bosscha merupakan hibah dari keluarga Ursone.

Mausoleum Keluarga Ursone

Dibandingkan makam Schoemaker, makam Ursone terlihat lebih menonjol, karena dapat dikatakan merupakan makam paling megah di antara makam yang ada di TPU Pandu. Makam berbentuk mausoleum dengan pilar tinggi ini dihiasi sepasang patung wanita yang sedang menunduk seolah menunjukkan kedukaan. Di atas pilarnya bertuliskan “Orate Pro Nobis” yang bermakna “doakan kami”. Di mausoleum tersebut terdapat nama 8 anggota keluarga Ursone yang (semula) dimakamkan di mausoleum tersebut. Makam bergaya barok ini terbuat dari marmer. Hal ini kemungkinan sangat berkaitan karena salah satu anggota keluarga Ursone, A. Ursone pernah membuka usaha batu marmer yang bernama Carrara Marmerhandel en bewerking di daerah Banceuy, Kota Bandung. Makam ini bukan merupakan makam asli di TPU Pandu, melainkan pindahan dari Kerkhof Kebon Jahe (sekarang GOR Pajajaran). 


Saturday, March 16, 2024

Wisata Pemakaman PD II (5): Ereveld Pandu

Lautan awan yang menggantung di langit Kota Bandung menemani saya melangkahkan kaki dari pintu masuk TPU Pandu, menuju Kompleks Ereveld Pandu. Di pintu masuk TPU Pandu, sudah tertulis bahwa bagi mereka yang akan berkunjung ke Ereveld agar berjalan terus sejauh 100 meter untuk kemudian menekan bel di pintu gerbang. Sesampainya di gerbang Ereveld yang tertutup, saya dibantu salah satu petugas TPU untuk membukakan gerbang Ereveld, sebelum kemudian membunyikan bel memanggil petugas Ereveld.

Ereveld Pandu adalah Taman Makam Kehormatan Belanda yang terletak di tengah-tengah TPU Pandu, tepatnya di Jl. Pandu No. 32, Bandung. TPU Pandu sendiri berdiri pada 1932, lebih tua daripada Ereveld Pandu yang didirikan pada 1948. Ereveld Pandu diresmikan pada 7 Maret 1948 oleh Jendral S.H. Spoor. Pemilihan tanggal tersebut bersamaan dengan peringatan pertempuran Tjiaterstelling di tahun 1942, di mana dalam upacara peresmian Ereveld dilakukan pemakaman kembali 14 jenasah tentara KNIL yang gugur pada pertempuran tersebut. 

Terdapat lebih dari 4000 makam di Ereveld Pandu. Mereka yang dimakamkan di sini adalah mereka yang meninggal di kamp konsentrasi Jepang atau gugur dalam pertempuran selama Perang Dunia II dan di masa Perang Kemerdekaan, baik dari miiter maupun sipil. Antara tahun 1960-1970, sesuai dengan perjanjian sentralisasi Makam Belanda, Ereveld Pandu menerima pemakaman kembali mereka yang semula dimakamkan di ereveld dari Muntok (1960), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Mereka berbaring di bawah naungan Tangkuban Perahu

Saya datang di hari Minggu, sehingga ereveld sangat sepi. Menurut informasi pak Wiradi, petugas jaga malam Ereveld Pandu, Ereveld Pandu banyak menerima pengunjung dari mereka yang ingin berziarah mencari makam kerabatnya, serta dari individu atau rombongan komunitas peminat sejarah. Sekilas melihat, ereveld ini terlihat lebih luas daripada Ereveld Leuwigajah yang saya datangi sebulan lalu, walaupun jumlah makam di Pandu lebih sedikit dibandingkan di Leuwigajah. 

Mirip seperti Ereveld Leuwigajah, Ereveld Pandu juga dilatari pemandangan gunung. Di sisi utara, terlihat jelas siluet Gunung Tangkuban Parahu, walaupun cuaca sedang tidak terlalu cerah. Sedangkan di sisi selatan, terdapat siluet Gunung Halimun, seolah saling berhadapan dengan Gunung Tangkuban Parahu.

Seluas mata memandang, yang terlihat adalah nisan berwarna putih, yang didominasi bentuk salib. Dari bentuk nisannya, dapat diketahui agama dari yang dimakamkan di tempat tersebut. apakah Kristen, Islam, atau Buddha. Jika yang bersangkutan adalah personil militer, biasanya disebutkan pangkat dan asal satuannya. Beberapa makam bertuliskan “Onbekend”, yang berarti “tidak dikenal”. Beberapa makam juga memiliki tulisan yang menjelaskan makam tersebut merupakan pindahan dari ereveld lain. Khusus pemakaman muslim, mereka ditempatkan di blok sendiri dan jenasahnya diatur menghadap kiblat.

Monumen Umum di pintu masuk ereveld

Kekhasan Ereveld Pandu adalah 4 monumen untuk mengenang momen penting, lebih banyak dibandingkan ereveld lain. Monumen pertama adalah monumen umum rancangan A.W. Gmelig Meyling. Monumen ini berdiri di atas platform dan disangga 8 pilar. Di atas monumen terdapat kalimat “Opgerichtter Gedachtenis Aan Hen Die Vielen Als Offer In De Strijd Om Vrede En Recht”, yang bermakna “Dalam kenangan kepada mereka yang gugur berkorban memperjuangkan perdamaian dan keadilan”. Jika di ereveld lain umumnya hanya terdapat 1 monumen peti batu, monumen ini memiliki 2 peti batu yang mengapit tablet granit dengan relief Singa Belanda. Peti batu di sisi kiri diberi lambang helm dan pedang, merupakan monumen bagi “Prajurit Tak Dikenal”. Sedangkan peti batu di sisi kanan diberi lambang obor, merupakan monumen bagi “Warga Sipil Tak Dikenal”.

Monumen KNIL

Monumen kedua adalah Monumen KNIL, yang merupakan replika monumen di Koninklijk Tehuis voor Oud-militairen “Bronbeek” di Arnhem, Belanda. Monumen yang didesain oleh Mrs. Therese de Groot-Haider ini didirikan pada 15 Agustus 1991, menggambarkan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijke Nederlands-Indische Leger - KNIL) dengan pakaian dinas lapangan, dilengkapi klewang dan pistol carbine yang menjadi ciri khas KNIL. Keberadaan monumen ini di Ereveld Pandu merupakan bentuk ikatan antara KNIL dan Bandung, karena markas besar KNIL terletak di Bandung.

Monumen ketiga adalah Monumen Padalarang yang terbuat dari 5 pilar dan sebuah buku. Monumen ini merupakan peringatan gugurnya 5 musisi dalam kecelakaan pesawat Koninklijke Luchtvaart Maatschappij Interinsulair Bedrijf DC-3 PK-REA tanggal 10 Februari 1948 yang jatuh di Padalarang akibat cuaca buruk. Menurut saksi mata, pesawat terbakar di bagian mesin dan kondisi badai, sehingga pesawat tak terkendali dan jatuh pada pukul 16.05 WIB di dekat lintasan rel antara Stasiun Cilame dan Sasaksaat. Pesawat tersebut membawa 4 awak dan 15 penumpang, bertolak dari Andir menuju ke Kemayoran.

Monumen Musisi Korban Kecelakaan PK-REA

Di antara 15 penumpang, terdapat lima warga sipil yang terdiri dari tiga musisi klasik asal Belanda, yaitu pianis Elisabeth Everts (28 tahun), pemain cello Johan Gutlich (36 tahun), dan violist Rudi Broer van Dijk (22 tahun), eluctionist Francina Geertruida Maria Gerrese (46 tahun), serta seorang pensiunan sersan KNIL Leendert Paay (45 tahun). Mereka datang ke Hindia Belanda sejak bulan Oktober 1947 dalam rangka misi pentas untuk menghibur para serdadu KNIL. Pentas mereka didukung organisasi Nationale Inspanning Welzijnsverzorging Indiƫ (NIWIN), sebuah organisasi amal untuk kesejahteraan pasukan Belanda di Indonesia. Jenasah mereka semula dimakamkan pada tanggal 12 Februari 1948 di Ereveld Parkweg Bandung (sekarang Kampus Unisba). Karena dianggap berjasa menghibur pasukan KNIL, maka pada tanggal 21 Maret 1950 kelima jenasah tersebut dipindahkan ke Ereveld Pandu. Adapun penumpang lainnya yang merupakan anggota ML KNIL dimakamkan di Ereveld Tjililitan, sebelum kemudian dipindahkan ke Ereveld Menteng Pulo.

Monumen Tjiaterstelling

Monumen keempat adalah monumen Tjiaterstelling (Pos Ciater), sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang gugur ketika melawan Jepang antara 1-8 Maret 1942 di sekitar Subang, Kalijati dan Ciater. Pertempuran Perlintasan Ciater terjadi di antara perkebunan Ciater dan hutan Jayagiri Cikole, berlangsung dari 5 hingga 7 Maret 1942 antara pasukan invasi Jepang melawan pasukan KNIL. Pertempuran ini memperebutkan Perlintasan Ciater yang merupakan garis pertahanan terakhir Batalion 5 KNIL di Bandung, dalam upaya mempertahankan Kota Bandung. Pertempuran berakhir dengan kekalahan pasukan KNIL. Dari 72 orang yang dieksekusi di Ciater, hanya 3 orang yang selamat. Pada 8 Maret 1942 pemerintah Hindia Belanda menyerahkan Hindia Belanda kepada Jepang di Kalijati.

Monumen Tjiaterstelling berbentuk 12 prasasti yang melingkari tiang bendera pada monumen, bertuliskan nama-nama mereka yang gugur di Tjiaterstelling dan Subangtelling. Di pondasi tiang bendera terdapat 12 simbol zodiak dan simbol 4 agama besar di dunia. Sedangkan di dasar tiang terdapat nama-nama tempat pertempuran KNIL: Subang, Ciater, Kalijati, Cihapit, Karees, Batalyon 15, Sukamiskin, Cirebon, Banyumas, Cianjur, dan Preanger.