Saturday, August 31, 2013

"Blusukan" ke Pengrajin Batik di Pekalongan

Hawa panas yang bercampur aroma malam di ruangan kerja yang penuh sesak itu tidak membuat kami mengurungkan niat untuk melihat-lihat proses pembuatan batik. Terlihat tangan-tangan terampil para pembatik wanita tengah sibuk membubuhkan malam panas dengan canting di atas kain mori, sementara para pembatik pria terlihat penuh tenaga menempelkan malam panas menggunakan cap.

Inilah tipikal suasana yang dapat ditemui di hampir semua pengrajin batik, khususnya di Pekalongan. Di bulan Maret 2013, saya dan beberapa teman pecinta batik melakukan perjalanan “blusukan” ke pengrajin batik di Pekalongan. Sebagian besar teman-teman seperjalanan saya mengikuti perjalanan ini lebih untuk wisata belanja, namun bagi saya, perjalanan ini untuk memuaskan keingintahuan saya mengenai proses pembuatan batik secara lebih mendalam.

Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Rumah Batik Liem Ping Wie, yang terletak di Jl. Raya 192, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, 30 menit perjalanan dari Kota Pekalongan. Kedungwuni merupakan salah satu pusat batik Encim atau batik motif Peranakan, yang mulai berkembang pada awal abad ke-20. Salah satu perintis usaha batik Encim di Kedungwuni adalah Oei Kiem Boen, kakek dari Liem Ping Wie. Saat ini dikelola oleh putri keenam Liem Ping Wie yang bernama Liem Poo Hien.

Ketika kami memasuki Rumah Batik Liem Ping Wie, Mbak Hien, demikian panggilan akrab Ibu Liem Poo Hien, menyambut kami dan segera menunjukkan workshop tempat memproduksi batik. Dimulai dari mola (mempola), mencanting dan menembok, mencap, mewarnai, melorot, dan bahkan ada petugas khusus yang mengerok malam yang rusak akibat proses pelorotan. Memang belum seluruh proses pembuatan batik dapat kami saksikan, namun hal itu sudah mewakili sebagian proses pembuatan batik yang terbilang rumit. Warna dan pola batik yang diproduksi di workshop ini adalah tipikal batik Encim, yaitu motif burung hong, kura-kura, liong (naga), yang dipadukan dengan warna-warna cerah.


Mas Huda, salah satu pengusaha muda batik Pekalongan yang mengantar kami, menunjukkan salah satu batik tulis hasil produksi Rumah Batik Liem Ping Wie. Sekilas dilihat, pola batik tersebut sangat halus dan detail. Mas Huda menjelaskan bahwa untuk menghasilkan batik tulis halus tersebut membutuhkan waktu hingga 2 tahun. Tak heran jika harganya menjadi mahal, berkisar antara 2 juta hingga 15 juta Rupiah, bergantung pada tingkat kehalusan batik. Namun jika diperhatikan dengan seksama, Batik Encim yang diproduksi oleh Rumah Batik Liem Ping Wie memang memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan Batik Encim pada umumnya. 


Usai melihat-lihat workshop, kami pun memilih-milih batik yang dijual oleh Rumah Batik Liem Ping Wie. Sambil melayani transaksi pembelian batik, Mbak Hien menjelaskan bahwa membuat batik itu tidak mudah, bahkan bisa menimbulkan stress. Ada kesalahan sedikit dalam proses pembuatan, misalnya malam yang rusak atau kain yang robek, seluruh proses harus diulang dari awal. Belum lagi saat ini jumlah pengrajin di Pekalongan sangat banyak, sehingga mereka harus bersaing dengan para pengrajin batik lainnya. Namun semua itu dijalani Mbak Hien sambil berserah diri pada Yang Maha Kuasa. 


Mbak Hien juga menyebutkan bahwa para karyawannya yang berjumlah 15 orang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses produksi batiknya. Berulangkali Mbak Hien menekankan bahwa kesejahteraan karyawan dan keluarga mereka penting untuk diperhatikan. Sebuah keunikan di daerah Pekalongan, para pengrajin batik telah sepakat tidak meliburkan karyawan pada hari Minggu, melainkan pada hari Jum’at, karena mereka tidak ingin jam kerjanya terpotong waktu shalat Jum’at. Oleh karena itu, pocokan atau bayaran para pembatik biasanya dibayarkan pada hari Kamis sore. Demikian juga dengan Mbak Hien, setiap hari Kamis ia harus mempersiapkan bayaran bagi para karyawannya. Bagi Mbak Hien, para karyawan, atau lebih sering disebut sebagai “anak-anak”, adalah bagian dari keluarganya.

Setelah transaksi pembelian batik selesai dan kami beranjak dari Rumah Batik Liem Ping Wie, saya merasa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Batik rupanya tidak sekadar kain dengan motif cantik dan warna yang menawan, tetapi lebih dari itu, batik adalah sebuah karya seni yang dihasilkan secara kolektif dengan melibatkan banyak tangan-tangan terampil. Menjaga keberadaan industri batik di Pekalongan tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya tradisional Indonesia, namun lebih dari itu, industri batik juga turut berperan dalam meningkatkan kesejahteraan mereka yang terlibat di dalamnya.
Lomba Blog MTTP - @BPKoprol

3 comments:

Zulfa said...

Pengalaman yang berharga tentang Indonesia. Disini kita bisa menghargai suatu hasil karya. Bukan jalan jalan biasa.

Atika Rf said...

Kak, izin jadikan bahan referensi artikel ya :)

arini said...

Oke. Semoga bermanfaat. :)