Hari itu akhir pekan pertama di bulan Oktober tahun 2011, dan langit
yang terang benderang tanpa angin seolah mengiringi kami berenam dalam
perjalanan menjelajahi pulau-pulau kecil di perairan pantai utara Pulau
Belitung. Belitung, atau oleh masyarakat asli pulau ini disebut sebagai
Belitong, adalah pulau kecil di sisi timur Pulau Sumatra, dan merupakan
bagian dari Provinsi Bangka Belitung. Pulau penghasil lada dan timah ini
menjadi populer sebagai destinasi wisata alam, seiring dengan ketenaran
film Laskar Pelangi yang menampilkan keindahan pantai pasir putih dan
batu-batu granit yang menyembul di permukaan air.
 |
Di Pantai Tanjung Kelayang |
Perjalanan kami mengarungi perairan di sisi utara Belitung sangat
menyenangkan, karena arus perairan yang tenang nyaris tanpa alunan
ombak. Warna langit yang cerah terpantul pada permukaan air, sehingga
tampak biru berkilau. Cerahnya langit membuat kami dapat melihat batas
antara laut dangkal dan laut yang lebih dalam dengan jelas. Pemandangan
ini diperkaya dengan garis pantai berpasir putih yang menghiasi hampir
setiap pulau yang ada di perairan ini, dihiasi formasi batu granit khas
pantai-pantai di Belitung. Warna laut yang biru berkilau berpadu dengan
batu granit yang besar-besar memberikan pemandangan yang menakjubkan,
yang jarang ditemui di tempat lain.
Kami memulai perjalanan dari Pantai Tanjung Kelayang. Setelah kapal
nelayan menyalakan mesin dan mengangkat sauh untuk menuju ke gugusan
pulau-pulau kecil tersebut, kami pun mulai menikmati pemandangan formasi
batu-batu unik khas pantai Belitung. Formasi pertama yang kami temui
adalah Pulau Batu Kelayang yang terletak di seberang Pantai Tanjung
Kelayang. Bentuk formasi batu ini sangat unik, karena menyerupai bentuk
burung kelayang atau burung garuda, sehingga formasi ini sering disebut
sebagai Batu Garuda.
 |
Batu Garuda di Pantai Tanjung Kelayang |
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah lokasi Pulau Pasir, yang berupa
hamparan pasir putih yang halus dan hanya terlihat ketika air sedang
surut. Sayang sekali, ketika kami lewat laut sedang pasang, sehingga
kami tak bisa melihatnya dan hanya bisa membayangkan pulau berpasir yang
halus dengan bintang-bintang laut bertaburan di atasnya. Namun nelayan
yang membawa kami sengaja membawa kapalnya memutari lokasi pulau ini,
agar kami bisa mengintip keindahan Pulau Pasir dari balik permukaan air.
Kapal kemudian mengarah ke Pulau Babi Kecil, yang terletak di sisi
selatan Pulau Babi, pulau terbesar di gugusan pulau pantai utara
Belitung. Keistimewaan pulau ini adalah adanya batu granit terbesar yang
bisa ditemui di gugusan pulau-pulau pantai utara Belitung. Ketika kami
mencoba mendaki batu yang paling besar untuk berfoto di atasnya, kami
sempat mengalami kesulitan. Namun setelah kami berhasil mencapai bagian
atas batu dan melihat pemandangan dari sana, rasanya luar biasa…
 |
Panorama dari Pulau Babi Kecil |
Puas berfoto-foto di Pulau Babi Kecil, kami pun berpindah ke Pulau
Lengkuas. Pulau ini merupakan pulau terluar di gugusan pulau pantai
utara Belitung, sekaligus pulau yang paling terkenal karena keberadaan
mercusuar di sana. Dalam perjalanan menuju Pulau Lengkuas, kami mulai
merasakan perahu yang terayun-ayun. Rupanya karena letak pulau ini
berbatasan dengan laut lepas, pertemuan antara arus laut antar pulau dan
laut lepas mengakibatkan arus laut yang berada di perairan ini lebih
kuat dibandingkan yang kami rasakan sebelumnya.
Mendarat di Pulau Lengkuas, rupanya banyak wisatawan lain yang juga
berkunjung di sana. Tanpa membuang waktu, kami bergegas menuju
mercusuar. Mercusuar setinggi 60 meter buatan tahun 1882 ini masih
berfungsi dengan baik untuk menuntun lalu lintas kapal keluar masuk
pulau Belitung. Semula kami ingin menaiki mercusuar untuk melihat
pulau-pulau lain di sekitar Pulau Lengkuas, namun ternyata pintu
mercusuar tertutup dan kami tak bisa masuk. Walaupun agak kecewa, kami
mengerti karena mercusuar ini masih berfungsi sebagai penuntun kapal,
sehingga jika didatangi terlalu banyak wisatawan dikhawatirkan akan
mengganggu para petugasnya.
Saat itu sudah tengah hari, sehingga kami menggelar tikar dan membuka
perbekalan yang kami bawa. Di pulau ini tidak ada penjual makanan,
sehingga semua wisatawan yang datang ke tempat ini memang harus membawa
sendiri perbekalannya dari Belitung. Sambil menikmati makan siang, kami
mulai mengamati aktivitas para wisatawan di pulau ini. Pada umumnya
mereka datang ke pulau ini untuk duduk-duduk menikmati pemandangan.
Sekelompok pecinta fotografi tampak sedang berburu foto. Sedangkan di
salah satu formasi batu granit yang terletak di pantai, terdapat sekelompok orang yang sedang belajar snorkeling.
 |
Mercusuar Pulau Lengkuas |
Pulau Lengkuas memiliki formasi batu-batu besar yang terletak di pantai
yang sangat menawan untuk dijadikan lokasi berfoto. Tanpa membuang
waktu, setelah makan siang kami pun mulai menjelajahi batu-batu besar
tersebut. Untuk mencapainya, kami harus melewati genangan air laut
setinggi lutut. Basah sedikit tak mengapa, asal mendapatkan pemandangan
Pulau Lengkuas yang unik dan menakjubkan!
Setelah puas menjelajah Pulau Lengkuas, kami kembali ke perahu dan
nelayan mengarahkan perahu menuju Pulau Burung. Nama pulau ini berasal
dari formasi batu berbentuk paruh burung yang terletak di perairan pulau
ini. Pulau ini terasa lebih sejuk dibandingkan pulau-pulau yang kami
kunjungi sebelumnya, karena banyaknya pepohonan. Setelah berfoto-foto
dan bermain pasir, kami beristirahat dan minum kelapa muda segar dari
warung yang ada di pulau ini.
 |
Landmark Pulau Burung |
Melihat langit mulai berawan gelap, kami memutuskan untuk segera naik ke
perahu dan kembali ke Tanjung Kelayang. Perjalanan kembali ke Pantai
Tanjung Kelayang terasa lebih mendebarkan daripada sebelumnya, karena
perahu berayun-ayun terkena arus laut yang lebih kencang. Ketika kami
melihat sekeliling, suasana terlihat sangat dramatis, di mana warna
langit yang gelap terpancar pada warna lautan. Nelayan yang membawa kami
sempat menunjukkan Batu Berlayar, formasi batu granit yang menjulang
tinggi seperti layar perahu. Jika laut sedang surut, kapal bisa merapat
dan batu ini bisa didekati. Namun karena saat itu laut sedang pasang,
dan cuaca buruk, kami hanya mengambil foto batu tersebut dari atas
perahu. Untungnya ketika kami merapat di Pantai Tanjung Kelayang, cuaca
sudah cukup terang.
Sore itu kami diberkahi cuaca yang cerah, sehingga semula kami berniat
melihat matahari terbenam dari Tanjung Binga, sesuai rekomendasi nelayan
yang mengantar kami keliling pulau. Namun karena saat itu sudah terlalu
sore, maka kami mencoba menikmati panorama matahari terbenam dari
pantai di depan Hotel Lor In tempat kami menginap. Pada akhirnya, kami
mendapatkan matahari yang tampak malu-malu terbenam di sela-sela langit
yang berawan. Paduan panorama matahari terbenam dengan pantai berpasir
putih yang lengang dan air laut yang jernih membuat hati kami bergidik,
betapa indahnya panorama Pulau Belitung.
 |
Sunset di Pulau Belitung |
No comments:
Post a Comment