Showing posts with label semarang. Show all posts
Showing posts with label semarang. Show all posts

Saturday, September 21, 2024

Wisata Pemakaman PD II (7): Ereveld Kalibanteng

Menuntaskan perjalanan saya ke 7 ereveld di Indonesia, dari Ereveld Candi, saya menuju ke Ereveld Kalibanteng, yang terletak tak jauh dari bandara Ahmad Yani Semarang, bersebelahan dengan Kawasan Pusdik Penerbad, Pangkalan Udara Ahmad Yani. Secara resmi, Ereveld Kalibanteng beralamat di Jl. Siliwangi 293, Semarang, terletak di tepi jalan raya yang merupakan bagian dari Jalan Raya Pos yang dibangun oleh H.W. Daendels. 

Diresmikan pada tanggal 22 April 1949, tempat ini merupakan tempat peristirahatan 3100 korban perang, sebagian besar merupakan korban sipil dari kamp konsentrasi tentara Jepang di Jawa Tengah, seperti Ambarawa, Banyubiru, Lampersari, Halmahera, Bangkong, Gedangan, dan Karangpanas. Pada saat penggabungan ereveld di Indonesia, Ereveld Kalibanteng menerima pemindahan makam dari ereveld di Tegal, Kobong, Blora, Tarakan (1964), Balikpapan (1967), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Saat tiba di Ereveld Kalibanteng, pintu gerbang dalam keadaan terbuka, sehingga saya masuk ke dalam. Saya bertemu pak Eko, penjaga ereveld yang sedang merawat tanaman. Setelah menjelaskan maksud saya berkunjung ke ereveld, Pak Eko mempersilakan saya untuk melihat ke dalam.

Ereveld Kalibanteng yang dikelilingi pohon cemara

Ereveld ini berbentuk segitiga sama sisi, dengan sekeliling lahan ereveld terdapat parit besar yang berisi air. Menurut pak Eko, air pada parit ini berasal dari sungai, dan digunakan untuk perawatan tanaman di Ereveld. Jika melihat dari dalam ke arah jalan raya, akan terlihat pemandangan Gunung Ungaran di kejauhan. Namun kontras dengan Ereveld Candi, Ereveld Kalibanteng terletak di dataran dekat pantai, hanya beberapa ratus meter dari tepi laut. Salah satu keunikan lain dari ereveld ini adalah deretan pohon cemara yang mengelilingi lahan ereveld.

Bagian Malam Perempuan di Sisi Barat Ereveld

Ereveld Kalibanteng dikenal sebagai “Vrouwen-Ereveld” (Ereveld Perempuan), karena banyaknya wanita dan anak-anak yang dimakamkan di tempat ini. di mana di sisi barat digunakan untuk makam wanita, dan di sisi timur digunakan mayoritas untuk makam pria. Sedangkan makam anak-anak terdapat di area tengah, menghadap ke jalan raya. Di Ereveld Kalibanteng juga terdapat pemakaman muslim, yang terletak di sisi belakang ereveld.

Monumen Peti Mati untuk
Korban Perempuan Tak Dikenal

Di dekat tiang bendera terdapat patung batu berbentuk peti mati. Jika biasanya peti mati tersebut untuk mengenang prajurit tak dikenal, kali ini peti mati tersebut ditujukan khusus untuk mengenang korban perempuan tak dikenal. Di seberang peti mati terdapat lempengan batu peringatan dari marmer putih dengan teks yang ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris yang berbunyi “Ter eerbiedige negadachtenis aan de vele ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.”, yang bermakna untuk mengenang mereka yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan.

Monumen "Jongen Kampen"

Berjalan ke arah belakang melintasi jalur yang diapit 18 pilar, terlihat dua buah monumen yang mencerminkan keberadaan Perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perang. Monumen pertama adalah monument “Jongen Kampen” (Kamp Anak Laki-Laki) karya Anton Beysens pada tahun 1988. Monumen ini untuk mengenang para anak lelaki yang dipisahkan dari ibunya dan gugur di kamp konsentrasi laki-laki, seperti di di Ambarawa, Bangkong, Gedongjati, dan Cimahi. Patung perunggu tersebut menunjukkan seorang anak lelaki kurus yang membawa pacul di atas pundaknya, bersandar pada kapak, dan tubuhnya hanya dibalut selembar kain. Terdapat tulisan pada monumen itu “Zij waren nog zo jong”, yang bermakna “Mereka masih sangat muda”.

Monumen Perempuan

Di seberang monumen ini terdapat taman dengan monumen dua orang wanita buatan Marian Gobius pada tahun 1954. Monumen perunggu tersebut menggambarkan seorang wanita yang bangga dan berdiri tegap, tengah memegang wanita lain yang membungkuk, seolah berusaha menenangkan. Mereka sama-sama menggandeng tangan seorang anak kecil yang berada di antara mereka berdua. Monumen ini menggambarkan perasaan senasib antara Wanita dan anak-anaknya, khususnya di masa sulit tersebut. 

Wisata Pemakaman PD II (6): Ereveld Candi

Setelah beberapa waktu, akhirnya saya berkesempatan ke Semarang (lebih cepat daripada perkiraan saya), yang saya manfaatkan untuk menuntaskan perjalanan mengunjungi 7 Ereveld yang ada di Indonesia. Pagi itu cuaca sangat cerah, ketika saya memulai perjalanan menuju Ereveld Candi.

Ereveld Candi terletak di Jl. Taman Jendral Sudirman 4, Bendungan Gajahmungkur, Candi Baru, di atas bukit di sisi selatan Kota Semarang. Ereveld ini dibangun atas inisiatif pasukan pertama Belanda dari Tijgerbrigade (T-Brigade) yang mendarat di Semarang pada 12 Maret 1946. Mereka memilih tempat pemakaman untuk rekan-rekan mereka yang gugur di puncak bukit Candi, yang saat itu merupakan Tillemaplein (Taman Tillema, diberi nama dari Hendrik Freerk Tillema, pendiri air minum kemasan pertama di Semarang). Pemakaman tersebut dirancang oleh Letnan Satu Ir. H. Stippel dari pasukan zeni. Pemakaman ini diresmikan pada bulan Maret 1947 dan diberi nama Ereveld Tillemaplein. Namun pada tahun 1967, atas permintaan dari pihak Indonesia, nama ereveld ini berubah menjadi Ereveld Candi.

Ereveld Candi di bawah naungan Gunung Ungaran

Ketika saya tiba di gerbang ereveld ini, yang pertama kali menarik perhatian adalah panorama gunung Ungaran yang seolah menaungi Ereveld Candi. Ini bukan satu-satunya ereveld yang memiliki panorama gunung, karena Ereveld Pandu dan Ereveld Leuwigajah pun juga dinaungi oleh gunung. Namun keunikan dari Ereveld Candi adalah letaknya di lereng bukit, sehingga lahannya dibentuk seperti terasering, dengan 5 teras yang berbentuk setengah lingkaran, Masing-masing teras dihubungkan dengan tangga dari batu alam. 

Karena saya tidak melihat petugas di dekat pintu (dan bel pintu sepertinya tidak berfungsi), saya mencoba membuka gerbang yang tidak dikunci. Dari jauh terlihat ada beberapa petugas sedang melakukan perawatan tanaman ereveld. Di kantor ereveld ternyata ada petugas yang sedang bekerja di depan computer, yang kemudian mengijinkan saya untuk melihat ke dalam ereveld. 

Dari informasi yang saya baca dari berbagai sumber, tempat ini merupakan satu-satunya ereveld khusus militer di Indonesia. Dan sejauh mata memandang nisan-nisan yang ada di Ereveld Candi, terlihat bahwa semua yang dimakamkan di tempat ini adalah laki-laki, tidak ada perempuan. Demikian juga tidak ada orang muslim yang dimakamkan di sini, hanya ada beberapa makam Yahudi dan Tionghoa.

Pada awal didirikan, tempat ini hanya ditujukan untuk memakamkan kembali seluruh tentara yang gugur masa perang kemerdekaan di Jawa Tengah. Namun pada akhirnya tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir para tentara yang gugur di Jawa Tengah pada masa Perang Dunia II. Saat ini hampir 1000 anggota tentara Belanda (KNIL) yang dimakamkan di tempat ini, termasuk menampung makam yang dipindahkan dari pemakaman tentara Belanda di Kampung Ploso (Pacitan), Gundih (Semarang), Mario Tjamba (Maros), Patjinang (Makassar), dan Palembang, antara tahun 1960-1970.

Monumen Salib

Tempat ini memiliki monumen salib berwarna putih berukuran besar yang terletak di bagian tengah pemakaman, dihiasi jalan setapak yang terbentuk dari batu-batu alam. Di bagian kaki salib tersebut terdapat prasasti dengan tulisan “Voor Veiligheid en Recht”, atau berarti “For Security and Justice”, yang menjadi titik fokus untuk merefleksikan kedua nilai ini. Pada tangga menuju salib, terdapat plakat yang menandakan ucapan dari Palang Merah Semarang. Pada tangga sisi kanan menuju salib, terdapat plakat bertulisan “Uw plichtsbetrachting maakte ons werk van naastenliefde mogelijk” dari Roode Kruis Semarang (Palang Merah Semarang pada masa Agresi Militer), yang bermakna “Pengabdian Anda pada tugas membuat pekerjaan amal kami bisa terwujud.”

Seperti di ereveld lain, terdapat monument untuk mengenang mereka yang gugur dalam perang namun tak dimakamkan di ereveld. Jika di ereveld lain monumen tersebut dalam bentuk patung peti mati, maka di Ereveld Candi monument tersebut dalam bentuk sebongkah batu berbentuk persegi di dekat tiang bendera, yang bertuliskan “Ter eerbiedige nagedachtenis aan de velle ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.” (Untuk mengenang banyak orang yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan). 

Monumen II-13 R.I.

Terdapat juga monumen untuk memperingati gugurnya 8 tentara dari Batalyon II – 13 R.I. (Regiment Infanterie), atau dikenal sebagai Batalyon Limburg. Delapan orang yang namanya terdapat di monumen tersebut sepertinya tidak dimakamkan di ereveld Candi. Batalyon II-13 sebelumnya memperkuat tentara Sekutu di Munich-Gladbach, sebelum diberangkatkan menuju Indonesia melalui Inggris pada 12 Oktober 1945, dan mendarat di Semarang pada 9 Maret 1946. Selama bertugas di Indonesia, mereka berada di bawah pimpinan Letnan Kolonel D.A. Erdman. Mereka sempat ditugaskan di Semarang, Salatiga, Pameungpeuk, Garut, Darmaredja, Gempol, dan Plered, sebelum pada 26 Februari 1948 mereka dipulangkan ke Belanda. 


Saturday, July 4, 2015

10 Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya Favorit di Jawa Tengah

Anda pecinta wisata sejarah dan budaya? Jawa Tengah adalah tempat yang tepat dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Jawa Tengah merupakan tempat asal muasal manusia Jawa. Jawa Tengah juga merupakan pusat peradaban sejak masa silam yang menjadi pusat perkembangan budaya manusia. Inilah mengapa di Jawa Tengah Anda bisa menemukan berbagai ragam destinasi wisata sejarah dan budaya yang menarik. Banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di Jawa Tengah, sehingga begitu banyak peninggalan sejarah yang kemudian dijadikan destinasi wisata. Demikian juga dengan budaya, begitu banyak kekayaan budaya di Jawa Tengah yang dijadikan destinasi wisata, baik budaya khas Jawa Tengah, maupun budaya-budaya lokal yang telah menyerap berbagai pengaruh dari luar.

Apa saja destinasi wisata sejarah dan budaya favorit Jawa Tengah? Inilah 10 destinasi wisata sejarah dan budaya favorit Jawa Tengah versi saya!

 1. CANDI BOROBUDUR
Tak ada yang memungkiri Borobudur adalah destinasi wisata budaya paling top di Jawa Tengah. Candi Buddha terbesar di dunia ini terletak di Muntilan, Magelang. Didirikan pada abad ke 8-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra dari kerajaan Mataram Kuno, saat ini Candi Borobudur sudah diakui UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia.


Keunikan dari Candi Borobudur adalah bangunannya dibuat menutupi sebuah bukit alam. Candi ini juga dilengkapi dengan deretan relief yang jika dijajarkan, panjangnya mencapai 3000 meter. Relief-relief ini terdiri dari kisah Sang Budha, berbagai ajaran sang Budha dari India, serta gambaran kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu. Relief yang ada di candi Borobudur diakui sebagai relief yang paling elegan dan anggun di antara karya seni berlanggam Buddha lainnya.

Saat ini Candi Borobudur masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan. Setiap tahunnya umat Buddha dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Candi Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Lengkapi kunjungan ke Candi Borobudur dengan mengunjungi Candi Mendut dan Candi Pawon, yang merupakan bagian dari prosesi para biksu dalam memperingati Hari Raya Waisak. Tak lupa singgah juga di Vihara Mendut untuk melihat rupang Sleeping Buddha di halaman depan vihara.

 2. LAWANG SEWU 
Bangunan antik yang terletak di depan Tugu Muda, Kota Semarang ini memiliki begitu banyak pintu, sehingga diberi nama “Lawang Sewu”. Sejarah bangunan ini terkait erat dengan sejarah kereta api di Indonesia. Bangunan ini dibuat pada tahun 1904, dan pada awalnya digunakan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api yang menjadi cikal bakal perusahaan kereta api di Indonesia.


Dengan bentuknya yang unik, Lawang Sewu sering digunakan sebagai tempat pameran atau dijadikan lokasi syuting film. Banyak spot-spot foto yang menarik di tempat ini, salah satunya adalah jendela di antara tangga yang dihiasi kaca patri warna warni. Namun tempat yang paling membuat penasaran adalah ruang bawah tanah yang dibangun pada tahun 1916. Awalnya ruang bawah tanah ini digunakan sebagai penampung air, khususnya karena Kota Semarang rawan banjir. Namun saat Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang di tahun 1942, ruangan ini digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan. Oleh karena lokasinya yang wingit, banyak yang melakukan “Uji Nyali” di tempat ini.

 3. LITTLE NEDERLAND 
Jalan-jalan ke Semarang, jangan lewatkan untuk melihat Kawasan Kota Tua Semarang, atau dikenal sebagai Little Nederland. Di kawasan seluas 30 hektar yang terletak di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara ini terdapat bangunan-bangunan antik yang mendapat pengaruh gaya bangunan Eropa. Karena dikelilingi jalan satu arah, untuk bisa menikmati keindahan bangunan di kawasan ini sebaiknya kita masuk melalui Jl. Merak, kemudian lanjut ke Jl.Cendrawasih, dan berbelok kanan ke Jl. Dr. Suprapto.

Di antara bangunan-bangunan antik yang terdapat di Little Nederland, terdapat beberapa bangunan yang cukup menonjol dan menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Di antaranya adalah Marabunta Gedung Multiguna, replika dari gedung pertunjukan Komedi Stadschouwburg. Gedung yang dicirikan dengan patung semut raksasa di atas atapnya ini terkenal karena pernah menjadi tempat pementasan Mata Hari, seorang penari eksotis berkebangsaan Belanda yang menjadi mata-mata Jerman pada Perang Dunia I.


Ikon Kawasan Kota Tua Semarang adalah Gereja Blenduk. Bangunan dengan nama resmi GPIB Immanuel ini memiliki ciri khas atap berbentuk kubah, yang dalam bahasa Jawa disebut “blenduk”. Dari bangunan-bangunan di Kawasan Kota Tua, Gereja Blenduk merupakan bangunan yang paling terawat. Di dalam bangunan gereja, kita bisa melihat orgel antik yang diletakkan di atas balkon. Sayang orgel ini sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

 4. SAM POO KONG 
Semarang dikenal sebagai kota 1001 klenteng, karena kota ini memiliki kutur budaya etnis Tionghoa yang begitu kuat. Di antara klenteng-klenteng yang tersebar di seluruh Kota Semarang, terdapat sebuah klenteng yang unik dan menjadi ikon Kota Semarang, yaitu Klenteng Sam Poo Kong yang terletak di Jl. Simongan, Bongsari.

Klenteng Sam Poo Kong merupakan petilasan Laksamana Cheng Ho, seorang laksamana muslim kepercayaan Kaisar Tiongkok, yang memimpin ekspedisi kekaisaran Tiongkok ke Nusantara di awal abad ke-15. Klenteng ini didirikan oleh anak buang Cheng Ho di Semarang sebagai penghormatan kepada Cheng Ho yang dianggap telah berjasa dalam memimpin anak buahnya selama melakukan ekspedisi. Klenteng ini dikenal sebagai Gedung Batu, karena bangunan utamanya berbentuk gua batu besar yang diyakini merupakan tempat pendaratan ekspedisi Cheng Ho di Jawa. Di dalam gua ini terdapat patung Sam Poo Tay Djien, yang dianggap sebagai perwujudan Laksamana Cheng Ho.


Selain Gedung Batu, Klenteng Sam Poo Kong dilengkapi dengan berbagai bangunan yang menjadi tempat ibadah. Berbeda dengan klenteng pada umumnya, bangunan-bangunan di kompleks Klenteng Sam Poo Kong dibuat dengan arsitektur perpaduan antara gaya arsitektur Tiongkok dan Jawa. Uniknya, bangunan terbesar di kompleks klenteng ini dibangun dengan menghadap ke arah kiblat. Di tempat ini juga terdapat Anjungan Kyai Djangkar, di mana terdapat sebuah jangkar yang dipercaya merupakan jangkar dari kapal yang digunakan Laksamana Cheng Ho untuk melakukan ekspedisi ke Nusantara.

5. CANDI GEDONG SONGO
Kompleks Candi Gedong Songo terletak di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Nama “Gedong Songo” menunjukkan bahwa kompleks candi ini terdiri dari 9 bangunan yang tersebar di lereng Gunung Ungaran, di antara hutan pinus dan perkebunan sayur milik masyarakat, memberikan panorama yang unik sekaligus indah yang jarang ditemukan di tempat lain.


Tidak ada catatan atau prasasti yang menunjukkan secara pasti kapan Kompleks Candi Gedong Songo dibangun. Namun berdasarkan hasil penelitian para ahli, kompleks percandian ini dibangun pada masa yang sama dengan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng, dari masa Dinasti Sanjaya di Mataram Kuno. Diperkirakan Candi Gedong Songo merupakan bangunan agama Hindu tertua di Jawa, lebih tua dibandingkan Candi Borobudur dan Prambanan.

Untuk melihat seluruh bangunan candi yang tersebar, terdapat jalan setapak sepanjang 4 kilometer yang mengelilingi kompleks percandian. Jalan setapak ini melewati daerah perbukitan dengan kontur naik turun, dan sepanjang jalan kita bisa menikmati panorama Gunung Ungaran yang asri. Jika Anda merasa tidak kuat atau memiliki waktu yang terbatas, manfaatkan jasa transportasi kuda untuk berkeliling kompleks bangunan candi.

6. KAMPUNG BATIK LAWEYAN 
Mengunjungi Solo, jangan lupa mampir ke Kampung Batik Laweyan. Kawasan sentra batik ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Pajang di tahun 1546 Masehi. Kampung batik ini juga merupakan salah satu saksi bisu gerakan perjuangan bangsa Indonesia, ketika organisasi Sarekat Dagang Islam (cikal bakal organisasi Sarekat Islam) didirikan oleh Haji Samanhudi di Solo pada tahun 1905.


Kampung Batik Laweyan menempati wilayah seluas 24 hektar yang menampung ratusan pengrajin batik. Batik yang dijual di tempat ini umumnya batik dengan motif khas Solo, seperti Tirto Tejo dan Truntum. Selain menjual kain, toko-toko di kawasan ini juga menjual pakaian jadi dalam berbagai model dan kualitas. Beberapa toko memiliki workshop, di mana Anda bisa melihat proses pembuatan batik tulis dan batik cap oleh para pengrajin batik. Tak hanya melihat batik, Anda juga bisa melakukan “blusukan” untuk melihat rumah-rumah khas Jawa tempo doeloe.

7. CANDI CETHO 
Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, di ketinggian 1400 meter dpl. Nama “Cetho”dalam bahasa Jawa berarti “jelas”, dan nama ini diberikan karena dari tempat ini dapat terlihat pemandangan ke berbagai arah dengan jelas. Dari hasil penelitian para ahli, diketahui Candi Cetho merupakan candi bercorak Hindu, dan berasal dari masa akhir kerajaan Majapahit di abad ke-15. Sampai saat ini candi ini masih digunakan untuk beribadah oleh penduduk setempat yang memeluk agama Hindu.


Saat penggalian, diketahui kompleks Candi Cetho berbentuk seperti punden berundak yang terdiri dari 14 teras bertingkat. Dari 14 tingkat tersebut, hanya 9 teras yang dipugar, seperti yang terlihat saat ini. Keunikan dari Candi Cetho terletak di teras ketiga, di mana terdapat tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan simbol phallus, simbol surya Majapahit, dan kura-kura raksasa. Simbol-simbol ini diduga merupakan simbol penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia. Sedangkan di teras keempat terdapat jajaran batu yang memuat relief kisah Sudhamala, yang mendasari upacara ruwatan di masyarakat Jawa.

8. MUSEUM PURBAKALA SANGIRAN 
Tahukah Anda bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu tempat munculnya peradaban manusia purba awal? Di Museum Purbakala Sangiran kita akan mendapatkan informasi lengkap mengenai hal ini. Museum ini menyimpan berbagai peninggalan arkeologis dan paleontologis yang ditemukan di Situs Kepurbakalaan Sangiran yang terletak di lembah Bengawan Solo. Tak hanya penting bagi Indonesia, UNESCO sudah mengakui bahwa kawasan Sangiran merupakan tempat penelitian kehidupan prasejarah terpenting di dunia, dan di tahun 1996 menetapkan Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia. Tidak kurang dari 13.809 fosil ditemukan di tempat ini, sejak penelitian Koeningswald yang dimulai pada tahun 1936.


Pendirian Museum Sangiran berawal dari adanya kebutuhan wisatawan yang ingin melihat fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran, yang saat itu disimpan di kediaman Bapak Toto Sumarsono. Setelah Sangiran ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada tahun 1977, di tahun 1980 mulai dibangun sebuah museum yang representatif. Adapun Museum Purbakala Sangiran yang berdiri sekarang adalah bangunan baru yang diresmikan pada tahun 2011. Museum ini sudah ditata secara modern, di mana kisah sejarah manusia purba dipaparkan secara runut dan sistematis. Di dalam museum ini dipamerkan berbagai fosil manusia purba, hewan bertulang belakang, binatang air, tumbuhan laut, serta berbagai artefak peralatan dari batu.

9. MUSEUM KERETA API AMBARAWA 
Naik kereta api, tut tut tut, siapa hendak turut! Kereta api saat ini kembali menjadi salah satu moda transportasi favorit untuk bepergian antar kota. Sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai di Semarang, dengan berdirinya Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij yang berkantor di Lawang Sewu. Tapi mengapa Museum Kereta Api-nya terletak di Ambarawa ya?


Rupanya hal ini tidak lepas dari keunikan Stasiun Ambarawa. Stasiun Ambarawa merupakan stasiun transit antara jalur kereta Semarang-Ambarawa yang menggunakan lebar rel 1435 mm, dengan jalur Ambarawa-Magelang-Yogyakarta yang menggunakan lebar rel 1067 mm. Keberadaan stasiun ini tidak lepas dari fungsi Ambarawa sebagai kota militer, di mana kereta api digunakan untuk mengangkut tentara dari Ambarawa ke Semarang. Untuk itu Raja Willem I memerintahkan membangun stasiun kereta api, yang kita kenal sebagai Stasiun Ambarawa.

Museum Kereta Api Ambarawa yang beralamat resmi di Jl. Stasiun Ambarawa No. 1, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang merupakan museum terbuka dengan koleksi utama berupa lokomotif dan perlengkapan dunia perkeretaapian. Museum ini diresmikan pada tahun 1978, dan memamerkan koleksi utama berupa 22 lokomotif uap. Di antara lokomotif yang disimpan di museum ini, 2 di antaranya merupakan lokomotif bergigi yang masih bisa berfungsi menarik gerbong wisata di jalur menanjak antara stasiun Jambu dan Bedono. Selain lokomotif, Museum Kereta Api Ambarawa juga memiliki koleksi alat-alat dari dunia kereta api, termasuk mesin pencetak tiket, alat pengatur sinyal, peluit, dan seragam petugas kereta api.

10. MUSEUM BATIK PEKALONGAN 
Pekalongan merupakan sentra batik pesisir di utara Jawa, sehingga sudah sepantasnya kota ini memiliki museum batik. Museum Batik Pekalongan terletak di Jl. Jetayu No. 1, Pekalongan, di dekat Alun-Alun yang menjadi jantung Kota Pekalongan. Menempati sebuah gedung tua peninggalan kolonial Belanda bergaya art deco, museum ini merupakan tempat kita belajar batik sekaligus belajar membatik.


Koleksi batik di Museum Batik Pekalongan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu koleksi batik pesisir, koleksi batik Nusantara, dan koleksi batik pedalaman dari Yogyakarta dan Surakarta. Di museum juga terdapat peragaan bahan-bahan pembuat batik. Sedangkan di bagian belakang museum terdapat workshop, di mana terdapat peragaan pembuatan batik. Pengunjung dapat mencoba mencanting malam ke atas kain mori, untuk merasakan sendiri bagaimana salah satu bagian dari proses membuat batik.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Utama Blog Visit Jawa Tengah 2015

Tuesday, March 24, 2015

Wisata Cagar Budaya Jateng: Ketika Matahari Bersinar Terang di Candi Gedongsongo

“Naik kuda, Mbak?”
 Teguran salah satu pengasuh kuda di Candi Gedongsongo mengalihkan perhatian saya dari bangunan candi yang terlihat di depan mata. Bangunan candi yang ada di depan saya adalah Candi Gedong I, seperti yang tertera pada papan di dekat candi tersebut, dan tidak terlihat bangunan candi lainnya. Setelah melihat keterangan di papan mengenai Kompleks Candi Gedong Songo, ternyata untuk mengelilingi seluruh kompleks, saya harus menempuh jalan setapak dengan kontur yang naik turun sejauh 4 kilometer. Karena waktu terbatas dan untuk menghemat tenaga, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi kuda. Pengelola Kompleks Candi Gedong Songo sudah menetapkan standar tarif wisata berkuda, sehingga saya tak perlu repot tawar menawar dengan para pengasuh kuda. Akhirnya saya menyambut tawaran Mas Apip, pengasuh kuda yang menegur saya, untuk menggunakan jasa kudanya yang bernama Riska berkeliling seluruh kompleks candi.

Saya dan Riska di Depan Candi Gedong IV
Kompleks Candi Gedong Songo terletak di Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Kompleks percandian ini pertama kali ditemukan pada tahun 1740 oleh Loten. Nama Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa “Gedong” yang berarti bangunan, serta “Songo” yang berarti sembilan, karena di kawasan candi ini terdapat sembilan kelompok bangunan yang dibagi dalam 5 kelompok besar. Bangunan-bangunan tersebut tersebar di lereng Gunung Ungaran, di antara hutan pinus dan perkebunan sayur masyarakat, memberikan paduan panorama indah dan unik yang sulit ditemukan di tempat lain. Tidak diketahui secara pasti kapan kompleks percandian ini dibangun, namun diperkirakan candi ini dibangun oleh Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad VII Masehi, dan merupakan bangunan agama Hindu tertua di Jawa, lebih tua daripada Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Mas Apip mengarahkan Riska untuk membawa saya menuju ke Candi Gedong V terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan menuju Candi Gedong V, terlihat hamparan pepohonan dan perkebunan sayur milik warga, dinaungi langit yang terang benderang. Di kompleks candi yang berada di ketinggian 1200 meter ini, hawanya biasanya cukup dingin, dan sering kali kabut tipis turun. Namun hari ini matahari sedang “berbaik hati”, cuaca yang terang benderang membuat saya bisa melihat keindahan panorama alam ini, termasuk melihat dengan jelas candi-candi yang terdapat di kompleks percandian ini dari kejauhan. Karena tak terbiasa naik kuda, awalnya saya sempat tegang, terutama saat melewati jalan yang terjal sekaligus berkelok. Mas Apip berulang kali mengingatkan agar badan saya lentur mengikuti gerakan kudanya.

Setelah mendaki selama 20 menit dan menembus deretan pepohonan pinus, tanpa terasa kami tiba di lapangan terdekat dengan Candi Gedong V. Saya turun dari punggung Riska, kemudian melangkahkan kaki ke arah Candi Gedong V. Inilah candi dengan tempat tertinggi di kompleks pecandian Gedong Songo, di ketinggian 1308 meter dari permukaan laut. Di tempat ini, hanya tersisa sebuah candi yang relatif utuh, sedangkan sisanya berupa reruntuhan batu yang sulit untuk disusun ulang. Dari tempat ini terlihat pemandangan gugusan pegunungan Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Telomoyo yang mengelilingi kawasan candi Gedong Songo. Saat melihat ke arah bawah, terlihat candi-candi lain seperti bangunan kecil yang menyembul di antara hamparan hijau tumbuh-tumbuhan.


Candi Gedong V Dengan Latar Belakang Pegunungan Telomoyo
Dari Candi Gedong V, saya kembali ke lapangan. Di sisi seberang lapangan, terlihat Candi Gedong IV. Setelah melepas dahaga dengan minuman yang saya beli dari penjaja minuman di dekat Candi Gedong V, saya menyeberangi lapangan untuk melihat Candi Gedong IV dari dekat. Di Candi Gedong IV terlihat satu candi yang masih utuh, sisanya adalah reruntuhan candi yang tinggal puing-puing. Kurang lebih 50 meter dari Candi Gedong IV, terlihat satu buah candi perwara yang baru selesai direnovasi pada tahun 2010. Dari sisa bangunan yang ada, Candi Gedong IV diperkirakan semula memiliki 12 bangunan. Dari Candi Gedong IV, saya naik ke punggung Riska, dan Mas Apip membawa kami melewati jalan setapak melewati sumber air panas untuk menuju Candi Gedong III. Mendekati lokasi sumber air panas, mulai terlihat kepulan uap air dan tercium bau belerang. Batu-batuan yang berada di sekitar kawah terlihat kekuningan, menandakan kandungan belerang yang cukup tinggi. Air panas yang mengandung belerang ini dialirkan ke kolam khusus untuk digunakan berendam, dan konon berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit, khususnya penyakit kulit.

Candi Gedong IV

Salah Satu Kawah Belerang di Dekat Sumber Air Panas
Sambil melanjutkan perjalanan menuju Candi Gedong III, saya mencoba membayangkan posisi bangunan candi yang ada di Gedong Songo, seolah candi-candi tersebut dibuat mengitari sumber air panas. Banyak penafsiran para ahli terhadap lokasi bangunan candi yang terpencar-pencar. Satu pendapat mengatakan bahwa candi-candi ini dibuat untuk melindungi sumber air panas yang dianggap suci. Pendapat lain adalah candi-candi ini menggambarkan petunjuk rangkaian prosesi keagamaan yang dilakukan dari candi terbawah hingga teratas. Dugaan lain, posisi candi yang berderet dari bawah hingga ke atas merupakan gambaran hirarki kesucian, di mana candi yang di atas posisinya lebih suci dibandingkan candi di bawahnya. Mana pendapat yang paling tepat, tentunya perlu penelitian lebih lanjut. Tiba di Candi Gedong III, saya turun dari punggung Riska untuk melihat ke Candi Gedong III. Di antara kompleks candi yang ada di Gedong Songo, Candi Gedong III merupakan yang paling lengkap. Candi ini dibatasi dengan beranda dan terdiri dari 3 buah bangunan. Masih terlihat beberapa arca di relung luar candi induk, yaitu arca Durga dan Ganesha, serta arca pengawal dewa Syiwa Nandiswara dan Mahakala yang berada di samping kanan kiri pintu candi.

Candi Gedong III
Puas memotret di Candi Gedong III, saya kembali naik ke punggung Riska dan melanjutkan perjalanan ke Candi II. Di Candi Gedong II yang berada di ketinggian 1274 meter, terdapat dua bangunan candi induk yang menghadap ke barat, dengan reruntuhan candi perwara yang berhadapan dengan candi induk. Candi induk di kompleks ini merupakan candi yang paling besar yang terdapat di Gedong Songo. Karena bentuknya yang relatif utuh, candi ini menjadi favorit wisatawan untuk berfoto ria.

Candi Gedong II Dilihat Dari Atas
Setelah selesai melihat-lihat di Candi Gedong II, saya kembali naik ke punggung Riska, dan Mas Apip membawa kami menelusuri jalan setapak kembali ke titik awal pemberangkatan kami di dekat Candi Gedong I. Setelah turun dari punggung Riska dan membayar tarif wisata kuda ke Mas Apip sebesar Rp 70.000,-, saya melihat jam tangan, rupanya saya sudah berkeliling Kompleks Candi Gedongsongo selama 1 jam 15 menit. Saya kemudian mendekati bangunan Candi Gedong I yang hanya terdiri dari 1 bangunan. Saat melongok ke dalam ruangan candi, ternyata Candi Gedong I adalah satu-satunya candi yang masih memiliki yoni tanpa lingga, sedangkan candi lainnya kosong. Di dalam ruangan candi Gedong I terlihat tebaran bunga sesaji, menunjukkan bahwa tempat ini masih digunakan untuk pemujaan.

Candi Gedong I
Sebelum keluar dari Kompleks Candi Gedong Songo, sekali lagi saya memandang ke arah perbukitan. Masih melekat kuat dalam benak perjalanan yang baru saja saya lakukan bersama Riska dan Mas Apip. Tanpa Riska dan Mas Apip, rasanya tak mungkin saya bisa menjangkau seluruh candi di kompleks ini dalam waktu singkat. Sebuah pengalaman yang akan terus saya kenang, berkeliling candi-candi cantik di perbukitan dengan naik kuda.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 2.

Wednesday, June 18, 2014

Asyik, Jelajah Nusantara!



Alhamdulillah, antologi kedua saya akhirnya terbit ...

Masih tentang traveling, dan masih dengan grup Diva Press, antologi yang ditulis dan dikumpulkan oleh para penulis dari Komunitas Kampung Sastra ini sejatinya ditulis sebelum Love Journey #2, namun atas kebijakan dari Diva Press, Love Journey #2 ternyata diterbitkan lebih dulu daripada buku Asyik Jelajah Nusantara ini. Sebelum membeli buku yang dibanderol dengan harga Rp 50.000 per eksemplar. Mari kita lihat sinopsisnya berikut ini.

Selain kekayaan alam, Indonesia juga kaya akan tempat-tempat eksotis. Hal inilah yang menyebabkan banyak wisatawan, baik dari manca maupun lokal, yang tertarik untuk mengunjunginya, walaupun sangat jauh dari tempat tinggal. Selain menawarkan keindahan pesona alam, ada juga tempat yang menyajikan kekayaan budaya atau sejarah masa lalu. Tidak banyak negara yang mempunyai potensi negara yang sedemikian elok. Hanya di negara kita, negara Indonesia.

 Lalu, tempat-tempat wisata apa sajakah yang menawarkan banyak pesona itu? Baca saja buku ini! Di dalamnya, diberikan gambaran beberapa tempat wisata dari Sabang sampai Merauke, mulai dari Gua Jepang dan Gua Belanda di Jawa Barat sampai Kepulauan Raja Ampat di Papua. Semuanya disajikan secara lugas dalam penuturan beberapa penulis yang benar-benar pernah berkunjung ke tempat-tempat tersebut.

 Penasaran pengen tahu lebih jauh tentang tempat-tempat wisata tersebut? Segera miliki buku ini dan berkunjunglah ke sana. Niscaya, kita akan semakin bersyukur dengan anugerah Tuhan. Selamat membaca!

Tuesday, July 23, 2013

Menikmati “Little Nederland” di Semarang



Semarang, ibu Kota provinsi Jawa Tengah. Kota tua di pantai utara Jawa ini tumbuh seiring dengan majunya perdagangan komoditas perkebunan di masa kolonial Belanda. Perkembangannya didukung dengan pembangunan De Grote Postweg di awal abad 19 yang membentang antara Anyer hingga Panarukan, melewati Semarang.

Sebagai salah satu pusat perdagangan VOC di pantai utara Jawa, tak mengherankan jika Semarang memiliki berbagai peninggalan arsitektur dari masa kolonial Belanda, yang terkonsentrasi di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara. Kawasan yang dikenal dengan nama “Outstadt” ini dipenuhi dengan bangunan bergaya arsitektur khas Eropa, yang mengingatkan sebagian orang dengan suasana negeri Belanda di masa lalu. Tak heran jika Kawasan Kota Tua ini kemudian dijuluki “Little Nederland”.

Titik awal untuk masuk ke kawasan “Little Nederland” adalah Stasiun Semarang Tawang. Stasiun Induk Kota Semarang ini merupakan stasiun kereta api besar tertua di Indonesia, setelah Stasiun Semarang Gudang (yang saat ini sudah tidak berfungsi). Stasiun Tawang mulai digunakan sejak 1868, namun bangunan yang sekarang terlihat adalah bangunan hasil renovasi tahun 1911. Di depan stasiun Tawang terdapat kolam penampungan air atau Polder Tawang, yang berfungsi untuk mengatur sirkulasi air di Semarang, terutama saat terjadi banjir rob yang sering melanda kawasan Semarang Utara.

Stasiun Tawang dilihat dari seberang Polder Tawang

Dari Stasiun Tawang, Anda bisa masuk melalui Jl. Merak atau Jl. Cendrawasih. Jika melalui Jl. Cendrawasih, Anda akan menemui Gedung Marabunta. Ciri gedung ini adalah dua buah patung semut Marabunta (semut merah raksasa) yang terletak di atap gedung.  Bangunan ini adalah replika gedung Komedi Stadschouwburg, yang semula berdiri di atas lahan yang sama. Gedung Komedi Stadschouwburg menjadi terkenal karena pernah menjadi tempat pementasan Mata Hari, seorang penari eksotis berkebangsaan Belanda yang dituduh menjadi mata-mata Jerman pada Perang Dunia I. Jika Anda masuk ke dalamnya terasa seperti memasuki lorong waktu, karena interior bangunan masih mempertahankan interior asli gedung Komedi Stadschouwburg, terutama bagian lantai dan langit-langitnya yang masih terbuat dari kayu.

Gedung Marabunta
 Sebelum berbelok Jl. Letjen Suprapto, Anda akan melihat satu-satunya toko oleh-oleh di kawasan Kota Tua Semarang, yaitu Wingko Babat Cap Kereta Api. Walau dikenal sebagai oleh-oleh khas Semarang, wingko yang terbuat dari kelapa ini sebenarnya berasal dari Kota Babat, Jawa Timur. Wingko Babat Cap Kereta Api merupakan produsen wingko pertama di Semarang, yang didirikan oleh Loe Lan Hwa dan The Ek Tjong. Di toko Wingko Babat Cap Kereta Api, selain membeli wingko, Anda bisa membeli oleh-oleh khas Semarang lainnya.

Wingko Babat Cap Kereta Api


Lanjutkan perjalanan Anda menelusuri Jl. Letjen Suprapto menuju Gereja Blenduk. Ikon Little Nederland dengan nama resmi Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel ini tidak memiliki pagar, sehingga seolah menyatu dengan lingkungan di sekitarnya. Bangunan beratap kubah yang kita lihat sekarang merupakan hasil renovasi pada tahun 1895, dengan gaya arsitektur Pseudo Baroque. Gereja ini masih berfungsi sebagai rumah ibadah. Di luar jam-jam ibadah, Anda bisa melihat ke dalam dengan meminta tolong kepada petugas, dan membayar biaya kebersihan sebesar Rp 10.000 per orang. Namun jika Anda tidak ingin masuk, menikmati suasana sejuk di Taman Srigunting yang terletak bersebelahan dengan Gereja Blenduk pun sudah cukup menarik.

Gereja Blenduk


Tulisan ini disertakan dalam http://www.voucherhotel.com/travel/kontes/