Showing posts with label travel guide. Show all posts
Showing posts with label travel guide. Show all posts

Sunday, August 18, 2024

Napak Tilas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 16 Agustus 1945 dini hari. Kala itu para pemuda dari perkumpulan "Menteng 31" yang terdiri dari Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh "menculik" Bung Karno dan Bung Hatta, untuk diamankan di Rengasdengklok, 81 km dari Jakarta. Tujuan mereka adalah untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan. Mengapa ke Rengasdengklok? Karena lokasinya yang cukup terpencil, namun tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain itu, di Rengasdengklok terdapat markas PETA. 

Gedung Joang 45 di Jl. Menteng Raya No. 31, Jakarta

Di manakah markas para pemuda “Menteng 31”? Bangunan yang berlokasi di jantung kota Jakarta ini semula merupakan hotel elite yang dibangun oleh L.C. Schomper pada tahun 1938, dan dikenal sebagai Hotel Schomper I. Pada masanya, hotel ini merupakan hotel yang megah. Saat Belanda menyerah di tahun 1942, bangunan hotel dikuasai oleh Badan Propaganda Jepang (Gunseikanbu Sendebu).  Di bulan Juli 1942, para pemuda yang terdiri dari Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik dan AM Hanafi meminta ijin kepada Jepang untuk memanfaatkan Gedung tersebut sebagai asrama, yang kemudian dikenal sebagai Asrama Menteng 31. Asrama ini kemudian berfungsi sebagai tempat Pendidikan politik kebangsaan, dengan para pengajar di antaranya Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Moh. Yamin, Mr. Achmad Subarjo, dll. Tahun 1943, Gedung Menteng 31 kemudian dijadikan sebagai markas Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Setahun kemudian, PUTERA dibubarkan dan diganti dengan organisasi baru Bernama Jawa Hokokai (Kebangkitan Rakyat Jawa), dan berkantor di Gedung tersebut.

Rumah Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok

Selama di Rengasdengklok, Bung Karno dan Bung Hatta tinggal di rumah milik Djiaw Kie Siong. Konon rencana semula Bung karno dan Bung Hatta akan ditempatkan di markas PETA di Rengasdengklok, namun karena kondisinya yang kurang layak sebagai tempat tinggal, maka para pemuda mengalihkan Bung Karno dan keluarga beserta Bung Hatta ke rumah Babah Djiaw.

Bersama Pak Yanto dan Bu Lani

Rumah milik Babah Djiaw di Rengasdengklok pernah saya singgahi bersama rombongan WalkIndies, dalam perjalanan menuju Candi Batujaya di pertengahan April 2024. Dengan sambutan hangat dari pak Yanto, cucu dari Babah Djiaw, serta ibu Lani istrinya, serta kondisi rumah bersejarah yang masih terjaga, kami malah membayangkan jangan-jangan kata “penculikan” sebenarnya agak berlebihan. Mungkin di Rengasdenglok Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda sebenarnya hanya “cangkrukan” sambil merokok dan makan gorengan. Sambil “cangkrukan”, bisa jadi Bung Karno dan Bung Hatta membujuk para pemuda agar bersabar, karena mereka tidak ingin terjadi pertumpahan darah jika proklamasi dipersiapkan secara terburu-buru.

16 Agustus 1945 tengah malam, akhirnya Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda kembali ke Jakarta. Setelah mereka mengetahui bahwa Jepang tidak memberikan ijin untuk mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia seperti yang telah dijanjikan Marsekal Terauchi di Dalat, mereka menuju kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang dan Angkatan Darat Jepang.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Di ruang makan rumah Maeda, dilakukan penyusunan teks proklamasi oleh Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Setelah konsep yang ditulis tangan dirasa cukup, Sayuti Melik mengetik naskah tersebut, dengan diawasi oleh B.M. Diah. Naskah proklamasi ketikan Sayuti Melik ini kemudian ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta di atas piano yang berada di rumah tersebut. Selanjutnya naskah ini pun dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi di kediaman Bung Karno Jl. Pegangsaan Timur 56.

Naskah Proklamasi Ketikan Sayuti Melik

Setelah proklamasi Kemerdekaan, Rumah Laksamana Maeda sempat dijadikan Markas Tentara Inggris, dan sejak itu beberapa kali beralih fungsi. Baru pada tahun 1992 rumah yang terletak di Jl. Imam Bonjol No. 1 ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Satu-satunya yang masih asli dari peristiwa perumusan naskah proklamasi tahun 1945 adalah bangunan tersebut. Sedangkan benda-benda seperti kursi, meja, mesin ketik, pulpen, serta piano yang digunakan pada masa itu sudah tidak ketahuan lagi rimbanya, sehingga yang dipamerkan di museum hanyalah replikanya saja.

Monumen Proklamator

17 Agustus 1945, pukul 10 pagi. Di kediamannya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Bung Karno membacakan Naskah Proklamasi, membuka babak baru dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pembacaan Naskah Proklamasi ini selanjutnya diikuti oleh pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit Ibu Fatmawati oleh Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed. Pengibaran ini diiringi dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh hadirin.

Tugu Petir Tempat Bung Karno Berdiri Saat Membacakan Proklamasi

Jika hari ini Anda mencari tahu di apakah kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur itu masih ada, bentuk dan suasananya sudah tidak sama dengan bentuk dan suasana di tahun 1945. Saat ini lokasi tersebut sudah menjadi Taman Proklamasi, dan rumah yang menjadi kediaman Bung Karno di tahun 1945 sudah tidak ada. Pada tahun 1961, rumah tersebut dibongkar untuk dijadikan Gedung Pola Pembangunan Semesta, yang menjadi tempat koordinasi program Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahap Pertama 1961-1969. 

Tempat Bung Karno berdiri ketika membacakan naskah proklamasi ditandai dengan Tugu Petir, yang dibangun di tahun 1961. Pada tugu terdapat plakat dengan tulisan "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta". Di taman tersebut terdapat patung Bung Karno dan Bung Hatta berukuran besar, yang menggambarkan suasana pembacaan naskah proklamasi. Di antara patung Bung Karno dan Bung Hatta, terdapat patung naskah proklamasi versi ketikan oleh Sayuti Melik, terbuat dari lempengan batu marmer hitam. Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 Agustus 1980.


Wednesday, February 14, 2024

Museum Raja Ali Haji Batam

Di Batam ada museum? Pertanyaan ini terdengar iseng, apa mungkin di Kota Industri berbentuk kepulauan seperti Batam, yang nota bene bukan ibukota provinsi, ada museumnya. Suprisingly… ada dong!


Museum Raja Ali Haji adalah museum daerah milik Pemerintah Kota Batam. Terletak di Dataran Engku Putri, Kawasan Alun-Alun Batam Center, museum menempati bangunan yang pernah digunakan sebagai tempat pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional tahun 2014. Dari jauh, bentuk museum serupa dengan masjid, yang terdiri dari kubah dan Menara berwarna putih. Di depan museum juga terdapat mimbar yang digunakan untuk pelaksanaan MTQ 204. Museum Kota Batam Raja Ali Haji dibuka pada 18 Desember 2020, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kota Batam ke-191. 

Pembukaan museum ditandai dengan Walikota Batam Muhammad Rudi membuka tirai sketsa wajah Raja Isa bin Raja Ali, atau dikenal sebagai Nong Isa. Nong Isa adalah penguasa pertama Pulau Batam yang menerima mandat Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah dari Kesultanan Lingga untuk memerintah Kawasan Nongsa. Surat mandat tersebut diterima pada 18 Desember 1829, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Batam. Sejatinya tak ada yang tahu wajah asli Nong Isa, karena tidak ada foto atau lukisan beliau. Untuk itu pemerintah menghubungi ahli waris Nong Isa untuk membuat sketsa wajah beliau. Pembuatan sketsa memakan waktu cukup lama, mencapai 40 kali revisi hingga menjadi sketsa yang bisa kita lihat di museum saat ini.


Semula ada 3 pilihan nama yang dipersiapkan untuk museum, yaitu Raja Haji Fisabillilah, Raja Ali Haji, dan Raja Ali Kelana. Walikota Batam saat itu, Muhammad Rudi, memutuskan museum diberi nama Raja Ali Haji. Raja Ali Haji adalah pahlawan nasional asal Kepulauan Riau. Lahir di Pulau Penyengat pada tahun 1808, beliau adalah ulama, sejarawan, dan pujangga yang merupakan cucu Raja Haji Fisabilillah, serta memiliki keturunan bangsawan Bugis. Beliau merupakan pencatat pertama dasar-dasar tata Bahasa Melayu, serta merupakan penulis buku Gurindam Dua Belas. Raja Ali Haji wafat di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau pada 1873, dan ditetapkan sebagai pahlawan Nasional pada 5 November 2004.

Koleksi museum ditata sesuai linimasa sejarah Pulau Batam, sejak masa Kerajaan Melayu Riau-Lingga, masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, awal masa kemerdekaan, masa Otorita Batam, hingga masa kini. Tidak ada biaya tiket untuk masuk ke museum, pengunjung cukup mengisi buku tamu.  Bagi saya yang lebih sering melihat candi dan arca batu dari jaman klasik, menjelajahi budaya Melayu di museum ini menjadi menarik, dengan hal-hal baru yang saya temui. 


Salah satunya adalah (replika) Nasi Besar. Nasi Besar merupakan semacam tumpeng yang terbuat dari ketan berwarna kuning berukuran diameter 34 cm dan tinggi 82 cm, yang disajikan di atas pahar/dulang berkaki. Hiasannya adalah bunga puncak yang ditancapkan di sisi tengah, kemudian bunga telur yang harus berjumlah ganjil dan maksimal 25 buah, sesuai jumlah para Rasul dalam agama Islam. Nama Nasi Besar bermakna bahwa hidangan ini disajikan dalam hajatan besar seperti resepsi pernikahan, khitanan, atau khatam Al Quran, sebagai tanda kehalusan budi pekerti Masyarakat Melayu.

Koleksi yang sangat menarik perhatian adalah Cogan, yaitu regalia atau symbol kebesaran Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang, yang saat itu wilayahnya meliputi Kepulauan Riau, Riau Daratan, Jambi, Malaysia, dan Singapura. Cogan hanya dikeluarkan untuk diarak saat penabalan para raja. Bentuknya berupa lempengan seperti daun sirih, dengan ukuran besar mencapai 175 cm x 165 cm. Coba terbuat dari tembaga berhias emas, perak dan permata, dengan kedua sisinya terdapat ukiran timbul dalam aksara Arab berbahasa Melayu atau Arab Melayu. Cogan ini dibuat pada tahun 2014 bersamaan dengan event MTQ, semula tersimpan di Museum Nasional, dan menjadi koleksi museum sejak 15 November 2019.


Museum juga memiliki koleksi Topeng Makyong yang sudah berusia 260 tahun. Mak Yong adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu khas Pulau Mantang, yang berasal dari daerah Nara Yala, Pattani (Thailand Selatan). Mak Yong ditampilkan dengan menggabungkan unsur ritual, tari, nyanyi dan musik, dengan cerita bertopik kehidupan istana, lengkap dengan pesan moral yang hendak disampaikan. Topeng Mak Yong yang dipamerkan di tata pamer Khazanah Melayu ini dibuat dari kayu dan bubur kertas, dan diperkirakan dibuat tahun 1960-an. Topeng ini diturunkan secara turun-temurun oleh generasi sebelumnya. Untuk mengiringi Teater Mak Yong, digunakan alat musik Gedombak yang terbuat dari kayu, kulit dan rotan.

Sebelum memasuki lorong untuk menuju ruang koleksi, di lobi museum pengunjung disambut miniature kayu kapal berbendera Belanda, buatan Hamdan dari Pulau Galang. Kapal ini adalah HMS Malaka’s Welvaren dengan komandan Arnoldus Lenker, yang ditenggelamkan Kerajaan Lingga karena melanggar perjanjian dagang. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Perang Sosoh, yang dipimpin Raja Haji Fisabilliah dari Pulau Bayan, untuk merebut kembali Pulau Penyengat. Kegigihan Raja Haji Fisabillillah ini membuat beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1997.


Kemudian terdapat foto-foto dari jaman Jepang, di mana di Pulau Rempang-Galang sempat menjadi tempat penampungan tentara Jepang yang menjadi tawanan Sekutu antara tahun 1945-1946. Terdapat foto tugu Minamisebo, monument saksi Sejarah keberadaan serdadu Jepang di Pulau Rempang dan Galang. Kurang lebih 112.708 orang direpatriasi, sedangkan 128 di antaranya wafat di Rempang dan Galang.

Di masa kemerdekaan, Batam menjadi kota administrative. Dengan posisinya yang strategis dan dekat dengan Singapura, Pemerintah Indonesia bermaksud membangun Batam sebagai proyek nasional. Tahun 1970, Pertamina di bawah kepemimpinan Ibnu Sutowo diberi tugas untuk menjadikan Pulau Batam sebagai pangkalan logistic dan operasional yang berhubungan dengan eksplorasi dan eksploitasi minyak lepas pantai, sekaligus merintis Otorita Batam. Namun nama yang lebih sering diasosiasikan dengan Otorita Batam adalah Bachruddin Jusuf Habibie, yang memimpin dari 1978 hingga 1998. Habibie memiliki visi lebih jauh dari sekadar pangkalan logistic, untuk memanfaatkan keunggulan letak geografi strategi Batam. Museum ini menyimpan memorabilia dari BJ Habibie, termasuk telepon dan laptop yang pernah digunakan beliau saat menjadi Ketua Otorita Batam.

Museum juga menyimpan 4 buah jam dinding merk Seiko berdiameter 50 cm, yang selama bertahun-tahun digunakan di tugu pertigaan Simpang Jam. Mungkin jam ini terlihat biasa, namun bagi warga Batam, jam ini merupakan jam bersejarah. Jam ini semula didirikan pada tahun 1991 di Simpang Jam, dan menjadi landmark Kota Batam. Tugu jam ini harus dibongkar pada tahun 2019, karena akan dibangun flyover Laluan Madani. Jam ini menjadi koleksi museum sejak 28 Oktober 2020.

 

Saturday, July 4, 2015

10 Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya Favorit di Jawa Tengah

Anda pecinta wisata sejarah dan budaya? Jawa Tengah adalah tempat yang tepat dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Jawa Tengah merupakan tempat asal muasal manusia Jawa. Jawa Tengah juga merupakan pusat peradaban sejak masa silam yang menjadi pusat perkembangan budaya manusia. Inilah mengapa di Jawa Tengah Anda bisa menemukan berbagai ragam destinasi wisata sejarah dan budaya yang menarik. Banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di Jawa Tengah, sehingga begitu banyak peninggalan sejarah yang kemudian dijadikan destinasi wisata. Demikian juga dengan budaya, begitu banyak kekayaan budaya di Jawa Tengah yang dijadikan destinasi wisata, baik budaya khas Jawa Tengah, maupun budaya-budaya lokal yang telah menyerap berbagai pengaruh dari luar.

Apa saja destinasi wisata sejarah dan budaya favorit Jawa Tengah? Inilah 10 destinasi wisata sejarah dan budaya favorit Jawa Tengah versi saya!

 1. CANDI BOROBUDUR
Tak ada yang memungkiri Borobudur adalah destinasi wisata budaya paling top di Jawa Tengah. Candi Buddha terbesar di dunia ini terletak di Muntilan, Magelang. Didirikan pada abad ke 8-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra dari kerajaan Mataram Kuno, saat ini Candi Borobudur sudah diakui UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia.


Keunikan dari Candi Borobudur adalah bangunannya dibuat menutupi sebuah bukit alam. Candi ini juga dilengkapi dengan deretan relief yang jika dijajarkan, panjangnya mencapai 3000 meter. Relief-relief ini terdiri dari kisah Sang Budha, berbagai ajaran sang Budha dari India, serta gambaran kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu. Relief yang ada di candi Borobudur diakui sebagai relief yang paling elegan dan anggun di antara karya seni berlanggam Buddha lainnya.

Saat ini Candi Borobudur masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan. Setiap tahunnya umat Buddha dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Candi Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Lengkapi kunjungan ke Candi Borobudur dengan mengunjungi Candi Mendut dan Candi Pawon, yang merupakan bagian dari prosesi para biksu dalam memperingati Hari Raya Waisak. Tak lupa singgah juga di Vihara Mendut untuk melihat rupang Sleeping Buddha di halaman depan vihara.

 2. LAWANG SEWU 
Bangunan antik yang terletak di depan Tugu Muda, Kota Semarang ini memiliki begitu banyak pintu, sehingga diberi nama “Lawang Sewu”. Sejarah bangunan ini terkait erat dengan sejarah kereta api di Indonesia. Bangunan ini dibuat pada tahun 1904, dan pada awalnya digunakan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api yang menjadi cikal bakal perusahaan kereta api di Indonesia.


Dengan bentuknya yang unik, Lawang Sewu sering digunakan sebagai tempat pameran atau dijadikan lokasi syuting film. Banyak spot-spot foto yang menarik di tempat ini, salah satunya adalah jendela di antara tangga yang dihiasi kaca patri warna warni. Namun tempat yang paling membuat penasaran adalah ruang bawah tanah yang dibangun pada tahun 1916. Awalnya ruang bawah tanah ini digunakan sebagai penampung air, khususnya karena Kota Semarang rawan banjir. Namun saat Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang di tahun 1942, ruangan ini digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan. Oleh karena lokasinya yang wingit, banyak yang melakukan “Uji Nyali” di tempat ini.

 3. LITTLE NEDERLAND 
Jalan-jalan ke Semarang, jangan lewatkan untuk melihat Kawasan Kota Tua Semarang, atau dikenal sebagai Little Nederland. Di kawasan seluas 30 hektar yang terletak di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara ini terdapat bangunan-bangunan antik yang mendapat pengaruh gaya bangunan Eropa. Karena dikelilingi jalan satu arah, untuk bisa menikmati keindahan bangunan di kawasan ini sebaiknya kita masuk melalui Jl. Merak, kemudian lanjut ke Jl.Cendrawasih, dan berbelok kanan ke Jl. Dr. Suprapto.

Di antara bangunan-bangunan antik yang terdapat di Little Nederland, terdapat beberapa bangunan yang cukup menonjol dan menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Di antaranya adalah Marabunta Gedung Multiguna, replika dari gedung pertunjukan Komedi Stadschouwburg. Gedung yang dicirikan dengan patung semut raksasa di atas atapnya ini terkenal karena pernah menjadi tempat pementasan Mata Hari, seorang penari eksotis berkebangsaan Belanda yang menjadi mata-mata Jerman pada Perang Dunia I.


Ikon Kawasan Kota Tua Semarang adalah Gereja Blenduk. Bangunan dengan nama resmi GPIB Immanuel ini memiliki ciri khas atap berbentuk kubah, yang dalam bahasa Jawa disebut “blenduk”. Dari bangunan-bangunan di Kawasan Kota Tua, Gereja Blenduk merupakan bangunan yang paling terawat. Di dalam bangunan gereja, kita bisa melihat orgel antik yang diletakkan di atas balkon. Sayang orgel ini sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

 4. SAM POO KONG 
Semarang dikenal sebagai kota 1001 klenteng, karena kota ini memiliki kutur budaya etnis Tionghoa yang begitu kuat. Di antara klenteng-klenteng yang tersebar di seluruh Kota Semarang, terdapat sebuah klenteng yang unik dan menjadi ikon Kota Semarang, yaitu Klenteng Sam Poo Kong yang terletak di Jl. Simongan, Bongsari.

Klenteng Sam Poo Kong merupakan petilasan Laksamana Cheng Ho, seorang laksamana muslim kepercayaan Kaisar Tiongkok, yang memimpin ekspedisi kekaisaran Tiongkok ke Nusantara di awal abad ke-15. Klenteng ini didirikan oleh anak buang Cheng Ho di Semarang sebagai penghormatan kepada Cheng Ho yang dianggap telah berjasa dalam memimpin anak buahnya selama melakukan ekspedisi. Klenteng ini dikenal sebagai Gedung Batu, karena bangunan utamanya berbentuk gua batu besar yang diyakini merupakan tempat pendaratan ekspedisi Cheng Ho di Jawa. Di dalam gua ini terdapat patung Sam Poo Tay Djien, yang dianggap sebagai perwujudan Laksamana Cheng Ho.


Selain Gedung Batu, Klenteng Sam Poo Kong dilengkapi dengan berbagai bangunan yang menjadi tempat ibadah. Berbeda dengan klenteng pada umumnya, bangunan-bangunan di kompleks Klenteng Sam Poo Kong dibuat dengan arsitektur perpaduan antara gaya arsitektur Tiongkok dan Jawa. Uniknya, bangunan terbesar di kompleks klenteng ini dibangun dengan menghadap ke arah kiblat. Di tempat ini juga terdapat Anjungan Kyai Djangkar, di mana terdapat sebuah jangkar yang dipercaya merupakan jangkar dari kapal yang digunakan Laksamana Cheng Ho untuk melakukan ekspedisi ke Nusantara.

5. CANDI GEDONG SONGO
Kompleks Candi Gedong Songo terletak di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Nama “Gedong Songo” menunjukkan bahwa kompleks candi ini terdiri dari 9 bangunan yang tersebar di lereng Gunung Ungaran, di antara hutan pinus dan perkebunan sayur milik masyarakat, memberikan panorama yang unik sekaligus indah yang jarang ditemukan di tempat lain.


Tidak ada catatan atau prasasti yang menunjukkan secara pasti kapan Kompleks Candi Gedong Songo dibangun. Namun berdasarkan hasil penelitian para ahli, kompleks percandian ini dibangun pada masa yang sama dengan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng, dari masa Dinasti Sanjaya di Mataram Kuno. Diperkirakan Candi Gedong Songo merupakan bangunan agama Hindu tertua di Jawa, lebih tua dibandingkan Candi Borobudur dan Prambanan.

Untuk melihat seluruh bangunan candi yang tersebar, terdapat jalan setapak sepanjang 4 kilometer yang mengelilingi kompleks percandian. Jalan setapak ini melewati daerah perbukitan dengan kontur naik turun, dan sepanjang jalan kita bisa menikmati panorama Gunung Ungaran yang asri. Jika Anda merasa tidak kuat atau memiliki waktu yang terbatas, manfaatkan jasa transportasi kuda untuk berkeliling kompleks bangunan candi.

6. KAMPUNG BATIK LAWEYAN 
Mengunjungi Solo, jangan lupa mampir ke Kampung Batik Laweyan. Kawasan sentra batik ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Pajang di tahun 1546 Masehi. Kampung batik ini juga merupakan salah satu saksi bisu gerakan perjuangan bangsa Indonesia, ketika organisasi Sarekat Dagang Islam (cikal bakal organisasi Sarekat Islam) didirikan oleh Haji Samanhudi di Solo pada tahun 1905.


Kampung Batik Laweyan menempati wilayah seluas 24 hektar yang menampung ratusan pengrajin batik. Batik yang dijual di tempat ini umumnya batik dengan motif khas Solo, seperti Tirto Tejo dan Truntum. Selain menjual kain, toko-toko di kawasan ini juga menjual pakaian jadi dalam berbagai model dan kualitas. Beberapa toko memiliki workshop, di mana Anda bisa melihat proses pembuatan batik tulis dan batik cap oleh para pengrajin batik. Tak hanya melihat batik, Anda juga bisa melakukan “blusukan” untuk melihat rumah-rumah khas Jawa tempo doeloe.

7. CANDI CETHO 
Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, di ketinggian 1400 meter dpl. Nama “Cetho”dalam bahasa Jawa berarti “jelas”, dan nama ini diberikan karena dari tempat ini dapat terlihat pemandangan ke berbagai arah dengan jelas. Dari hasil penelitian para ahli, diketahui Candi Cetho merupakan candi bercorak Hindu, dan berasal dari masa akhir kerajaan Majapahit di abad ke-15. Sampai saat ini candi ini masih digunakan untuk beribadah oleh penduduk setempat yang memeluk agama Hindu.


Saat penggalian, diketahui kompleks Candi Cetho berbentuk seperti punden berundak yang terdiri dari 14 teras bertingkat. Dari 14 tingkat tersebut, hanya 9 teras yang dipugar, seperti yang terlihat saat ini. Keunikan dari Candi Cetho terletak di teras ketiga, di mana terdapat tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan simbol phallus, simbol surya Majapahit, dan kura-kura raksasa. Simbol-simbol ini diduga merupakan simbol penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia. Sedangkan di teras keempat terdapat jajaran batu yang memuat relief kisah Sudhamala, yang mendasari upacara ruwatan di masyarakat Jawa.

8. MUSEUM PURBAKALA SANGIRAN 
Tahukah Anda bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu tempat munculnya peradaban manusia purba awal? Di Museum Purbakala Sangiran kita akan mendapatkan informasi lengkap mengenai hal ini. Museum ini menyimpan berbagai peninggalan arkeologis dan paleontologis yang ditemukan di Situs Kepurbakalaan Sangiran yang terletak di lembah Bengawan Solo. Tak hanya penting bagi Indonesia, UNESCO sudah mengakui bahwa kawasan Sangiran merupakan tempat penelitian kehidupan prasejarah terpenting di dunia, dan di tahun 1996 menetapkan Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia. Tidak kurang dari 13.809 fosil ditemukan di tempat ini, sejak penelitian Koeningswald yang dimulai pada tahun 1936.


Pendirian Museum Sangiran berawal dari adanya kebutuhan wisatawan yang ingin melihat fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran, yang saat itu disimpan di kediaman Bapak Toto Sumarsono. Setelah Sangiran ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada tahun 1977, di tahun 1980 mulai dibangun sebuah museum yang representatif. Adapun Museum Purbakala Sangiran yang berdiri sekarang adalah bangunan baru yang diresmikan pada tahun 2011. Museum ini sudah ditata secara modern, di mana kisah sejarah manusia purba dipaparkan secara runut dan sistematis. Di dalam museum ini dipamerkan berbagai fosil manusia purba, hewan bertulang belakang, binatang air, tumbuhan laut, serta berbagai artefak peralatan dari batu.

9. MUSEUM KERETA API AMBARAWA 
Naik kereta api, tut tut tut, siapa hendak turut! Kereta api saat ini kembali menjadi salah satu moda transportasi favorit untuk bepergian antar kota. Sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai di Semarang, dengan berdirinya Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij yang berkantor di Lawang Sewu. Tapi mengapa Museum Kereta Api-nya terletak di Ambarawa ya?


Rupanya hal ini tidak lepas dari keunikan Stasiun Ambarawa. Stasiun Ambarawa merupakan stasiun transit antara jalur kereta Semarang-Ambarawa yang menggunakan lebar rel 1435 mm, dengan jalur Ambarawa-Magelang-Yogyakarta yang menggunakan lebar rel 1067 mm. Keberadaan stasiun ini tidak lepas dari fungsi Ambarawa sebagai kota militer, di mana kereta api digunakan untuk mengangkut tentara dari Ambarawa ke Semarang. Untuk itu Raja Willem I memerintahkan membangun stasiun kereta api, yang kita kenal sebagai Stasiun Ambarawa.

Museum Kereta Api Ambarawa yang beralamat resmi di Jl. Stasiun Ambarawa No. 1, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang merupakan museum terbuka dengan koleksi utama berupa lokomotif dan perlengkapan dunia perkeretaapian. Museum ini diresmikan pada tahun 1978, dan memamerkan koleksi utama berupa 22 lokomotif uap. Di antara lokomotif yang disimpan di museum ini, 2 di antaranya merupakan lokomotif bergigi yang masih bisa berfungsi menarik gerbong wisata di jalur menanjak antara stasiun Jambu dan Bedono. Selain lokomotif, Museum Kereta Api Ambarawa juga memiliki koleksi alat-alat dari dunia kereta api, termasuk mesin pencetak tiket, alat pengatur sinyal, peluit, dan seragam petugas kereta api.

10. MUSEUM BATIK PEKALONGAN 
Pekalongan merupakan sentra batik pesisir di utara Jawa, sehingga sudah sepantasnya kota ini memiliki museum batik. Museum Batik Pekalongan terletak di Jl. Jetayu No. 1, Pekalongan, di dekat Alun-Alun yang menjadi jantung Kota Pekalongan. Menempati sebuah gedung tua peninggalan kolonial Belanda bergaya art deco, museum ini merupakan tempat kita belajar batik sekaligus belajar membatik.


Koleksi batik di Museum Batik Pekalongan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu koleksi batik pesisir, koleksi batik Nusantara, dan koleksi batik pedalaman dari Yogyakarta dan Surakarta. Di museum juga terdapat peragaan bahan-bahan pembuat batik. Sedangkan di bagian belakang museum terdapat workshop, di mana terdapat peragaan pembuatan batik. Pengunjung dapat mencoba mencanting malam ke atas kain mori, untuk merasakan sendiri bagaimana salah satu bagian dari proses membuat batik.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Utama Blog Visit Jawa Tengah 2015

Thursday, September 4, 2014

Travel Guide: Museum Sultan Mahmud Badaruddin II - Palembang

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) merupakan salah satu destinasi wisata yang populer di Kota Palembang di pusat Kota Palembang. Nama museum ini diambil dari nama Sultan Mahmud Badaruddin II, raja terakhir dari dinasti Palembang dan juga merupakan sultan yang paling terkenal karena perjuangannya menentang kaum kolonial. Saat ini Museum SMB II dikelola oleh Pemda Sumatera Selatan.
Tampak Depan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
 Museum SMB II menempati bangunan tua dan antik yang pernah digunakan sebagai rumah Regeering Commissaris pada masa kolonial Belanda. Arsitektur bangunan ini unik, karena merupakan paduan arsitektur Melayu dan Eropa. Konon lokasi tempat berdirinya bangunan ini merupakan situs Keraton Kuto Tengkuruk yang merupakan istana tempat Sultan Palembang bertahta. Istana Kesultanan Palembang ini kemudian dibumihanguskan oleh Belanda pada tahun 1823, untuk kemudian dibangun lagi menjadi bangunan yang kita lihat sekarang. Walaupun merupakan bangunan antik, namun suasana museum tidak terkesan menyeramkan.

Koleksi Museum SMB II terdiri dari replika prasasti, benda-benda kebudayaan Sumatera Selatan, dan sejarah kesultanan Palembang. Terdapat juga patung-patung peninggalan kerajaan Sriwijaya, yang merupakan bukti kebesaran kerajaan tersebut pada masa jayanya. Sedangkan pada koleksi budaya, Anda bisa melihat pelaminan adat pengantin Sumatera Selatan, alat-alat musik khas Sumatera Selatan, kain songket dan batik khas Sumatera Selatan, serta penjelasan mengenai makanan khas Sumatera Selatan. 

Lokasi dan Cara Menuju Ke Destinasi
Museum SMB II terletak di Jl. Sultan Mahmud Badaruddin II No. 2, Palembang. Untuk mencapai museum ini, anda bisa naik angkutan kota Palembang jurusan terminal Jembatan Ampera (misalnya Kertapati-Ampera, Tangga Buntung-Ampera, Plaju-Ampera, Pakjo-Ampera), turun di Terminal Jembatan Ampera. Anda juga bisa naik Bus Rapid Transit Trans Musi koridor 1 (Terminal Alang-Alang Lebar-Jembatan Ampera) dan turun di Terminal Jembatan Ampera. Dari Terminal Jembatan Ampera, anda meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki ke arah Dermaga Benteng Kuto Besak menuju Museum. Jika menggunakan kendaraan pribadi, masuk melalui Jalan Merdeka, belok kiri sebelum kantor Walikota ke Jalan Rumah Bari, di ujung jalan belok kiri dan lurus melewati Benteng Kuto Besar menuju Museum. Museum SMB II terletak kurang lebih di depan Dermaga Benteng Kuto Besak.

Jam Buka dan Harga Tiket 
Museum buka setiap hari Senin sampai dengan Kamis pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, Jum’at pukul 08.00 hingga 11.30 WIB, dan Sabtu dan Minggu pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Harga tiket masuk Rp 2.000,- per orang.

Tempat Menarik Lain Di Sekitar Destinasi
Dari Museum SMB II, Anda dapat melihat Jembatan Ampera dari dekat. Jembatan Ampera merupakan sarana penghubung Seberang Ulu dan Seberang Ilir dari kota Palembang. Jembatan ini dibangun pada tahun 1962 atas prakarsa Bung Karno, dan semula diberi nama Jembatan Bung Karno. Pada masa itu, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Namun pada masa awal orde baru, jembatan ini berganti nama menjadi Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera). Pada awalnya badan jembatan ini bisa diangkat sehingga kapal besar bisa melintas di bawahnya, namun sejak tahun 1970 tidak pernah diangkat lagi karena mengganggu lalu lintas.
Jembatan Ampera
Di sisi barat Museum SMB II terdapat Benteng Kuto Besak, yang merupakan salah satu situs bersejarah lainnya di Kota Palembang. Benteng berukuran 288,75 meter x 183,75 meter setinggi 10 meter dengan ketebalan dinding 2 meter ini dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1780. Namun benteng ini tidak dibuka untuk umum, karena digunakan untuk kantor Kodim.

Pada hari Sabtu, Minggu atau hari libur nasional, anda bisa melakukan perjalanan menyusuri sungai Musi dengan KM Putri Kembang Dadar dan melihat aktivitas di sepanjang sungai Musi, termasuk Pasar 16 Ilir, pelabuhan Boom Baru, pabrik pupuk PT Pusri, dan kompleks Pertamina Plaju. Pada hari-hari lain, dari dermaga BKB, anda dapat menyewa perahu motor, perahu wisata kecil atau kapal ketek untuk menyusuri Sungai Musi hingga ke pulau Kemaro. Pulau Kemaro merupakan delta Sungai Musi di mana di sana terdapat kelenteng yang ramai dikunjungi penziarah, terutama saat peringatan Cap Go Meh.

Tulisan ini merupakancontoh travel guide untuk event Giveaway #WisataNusantara Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis