16 Agustus 1945 dini hari. Kala itu para pemuda dari perkumpulan "Menteng 31" yang terdiri dari Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh "menculik" Bung Karno dan Bung Hatta, untuk diamankan di Rengasdengklok, 81 km dari Jakarta. Tujuan mereka adalah untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan. Mengapa ke Rengasdengklok? Karena lokasinya yang cukup terpencil, namun tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain itu, di Rengasdengklok terdapat markas PETA.
Gedung Joang 45 di Jl. Menteng Raya No. 31, Jakarta |
Di manakah markas para pemuda “Menteng 31”? Bangunan yang berlokasi di jantung kota Jakarta ini semula merupakan hotel elite yang dibangun oleh L.C. Schomper pada tahun 1938, dan dikenal sebagai Hotel Schomper I. Pada masanya, hotel ini merupakan hotel yang megah. Saat Belanda menyerah di tahun 1942, bangunan hotel dikuasai oleh Badan Propaganda Jepang (Gunseikanbu Sendebu). Di bulan Juli 1942, para pemuda yang terdiri dari Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik dan AM Hanafi meminta ijin kepada Jepang untuk memanfaatkan Gedung tersebut sebagai asrama, yang kemudian dikenal sebagai Asrama Menteng 31. Asrama ini kemudian berfungsi sebagai tempat Pendidikan politik kebangsaan, dengan para pengajar di antaranya Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Moh. Yamin, Mr. Achmad Subarjo, dll. Tahun 1943, Gedung Menteng 31 kemudian dijadikan sebagai markas Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Setahun kemudian, PUTERA dibubarkan dan diganti dengan organisasi baru Bernama Jawa Hokokai (Kebangkitan Rakyat Jawa), dan berkantor di Gedung tersebut.
![]() |
Rumah Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok |
Selama di Rengasdengklok, Bung Karno dan Bung Hatta tinggal di rumah milik Djiaw Kie Siong. Konon rencana semula Bung karno dan Bung Hatta akan ditempatkan di markas PETA di Rengasdengklok, namun karena kondisinya yang kurang layak sebagai tempat tinggal, maka para pemuda mengalihkan Bung Karno dan keluarga beserta Bung Hatta ke rumah Babah Djiaw.
![]() |
Bersama Pak Yanto dan Bu Lani |
16 Agustus 1945 tengah malam, akhirnya Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda kembali ke Jakarta. Setelah mereka mengetahui bahwa Jepang tidak memberikan ijin untuk mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia seperti yang telah dijanjikan Marsekal Terauchi di Dalat, mereka menuju kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang dan Angkatan Darat Jepang.
![]() |
Museum Perumusan Naskah Proklamasi |
Di ruang makan rumah Maeda, dilakukan penyusunan teks proklamasi oleh Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Setelah konsep yang ditulis tangan dirasa cukup, Sayuti Melik mengetik naskah tersebut, dengan diawasi oleh B.M. Diah. Naskah proklamasi ketikan Sayuti Melik ini kemudian ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta di atas piano yang berada di rumah tersebut. Selanjutnya naskah ini pun dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi di kediaman Bung Karno Jl. Pegangsaan Timur 56.
![]() |
Naskah Proklamasi Ketikan Sayuti Melik |
Setelah proklamasi Kemerdekaan, Rumah Laksamana Maeda sempat dijadikan Markas Tentara Inggris, dan sejak itu beberapa kali beralih fungsi. Baru pada tahun 1992 rumah yang terletak di Jl. Imam Bonjol No. 1 ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Satu-satunya yang masih asli dari peristiwa perumusan naskah proklamasi tahun 1945 adalah bangunan tersebut. Sedangkan benda-benda seperti kursi, meja, mesin ketik, pulpen, serta piano yang digunakan pada masa itu sudah tidak ketahuan lagi rimbanya, sehingga yang dipamerkan di museum hanyalah replikanya saja.
![]() |
Monumen Proklamator |
17 Agustus 1945, pukul 10 pagi. Di kediamannya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Bung Karno membacakan Naskah Proklamasi, membuka babak baru dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pembacaan Naskah Proklamasi ini selanjutnya diikuti oleh pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit Ibu Fatmawati oleh Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed. Pengibaran ini diiringi dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh hadirin.
Tugu Petir Tempat Bung Karno Berdiri Saat Membacakan Proklamasi |
Jika hari ini Anda mencari tahu di apakah kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur itu masih ada, bentuk dan suasananya sudah tidak sama dengan bentuk dan suasana di tahun 1945. Saat ini lokasi tersebut sudah menjadi Taman Proklamasi, dan rumah yang menjadi kediaman Bung Karno di tahun 1945 sudah tidak ada. Pada tahun 1961, rumah tersebut dibongkar untuk dijadikan Gedung Pola Pembangunan Semesta, yang menjadi tempat koordinasi program Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahap Pertama 1961-1969.
Tempat Bung Karno berdiri ketika membacakan naskah proklamasi ditandai dengan Tugu Petir, yang dibangun di tahun 1961. Pada tugu terdapat plakat dengan tulisan "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta". Di taman tersebut terdapat patung Bung Karno dan Bung Hatta berukuran besar, yang menggambarkan suasana pembacaan naskah proklamasi. Di antara patung Bung Karno dan Bung Hatta, terdapat patung naskah proklamasi versi ketikan oleh Sayuti Melik, terbuat dari lempengan batu marmer hitam. Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 Agustus 1980.
No comments:
Post a Comment