Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts

Friday, March 20, 2026

Sepasang Mata Bola Itu Bernama Rahmi

Minggu, 22 Februari 2026, pukul 13.30. Saya dan mas Dino memantapkan langkah memasuki halaman rumah di Jl. Diponegoro No. 57, Jakarta Pusat. Dulu, hampir tiap hari saya melewati rumah tersebut, tanpa tahu bahwa rumah itu merupakan kediaman Bung Hatta, Proklamator sekaligus wakil presiden pertama Republik Indonesia. Jadi hari ini sangat istimewa, karena kami berkesempatan memasuki rumah tersebut untuk menghadiri pameran Satu Abad Rahmi Hatta, yang diselenggarakan Yayasan Hatta. 

Rumah bergaya arsitektur Nieuwe Kunst bertingkat 2 seluas 1000 meter persegi ini dibangun pada tahun 1930, bersamaan dengan pengembangan kawasan Menteng. Rumah tersebut semula digunakan para pejabat perusahaan swasta Belanda Eropa. Di tahun 1942, rumah dikuasai oleh Jepang, dan pada tahun 1943 rumah diserahkan kepada Bung Hatta, sesuai dengan peran beliau sebagai penasihat pemerintahan pendudukan bala tentara Jepang.

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta dan keluarga tinggal di Istana Wakil Presiden di Jl. Medan Merdeka Selatan 13, yang merupakan bekas kediaman Simon Hendrik Spoor (sekarang menjadi gedung Kementerian BUMN). Setelah Bung Hatta mengundurkan diri pada 1 Desember 1956, Bung Hatta dan keluarga berpindah ke rumah di Jl. Diponegoro 57. Saat ini rumah di Jl. Diponegoro telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional berdasarkan SK No. PM.13/PW.007/MKP/05 tanggal 25 April 2005.

Kembali ke masa kini, di teras rumah telah menunggu beberapa orang yang juga mendaftar untuk sesi pukul 14.00. Sambil menunggu sesi dimulai, saya dan mas Dino mengamati sekeliling. Dari balik teralis jendela, terlihat ruang kerja yang dilengkapi lemari buku. Ah, apakah ini ruang kerja Bung Hatta? Apakah nanti kami bisa memasuki ruangan tersebut? 

Surat Cinta antara Bung Hatta dan Bu Rahmi

Pukul 14.00, sesi kami dimulai. Bersama kami terdapat 10 orang peserta lainnya. Kami disambut Ibu Meutia dan Ibu Halida, putri sulung dan putri bungsu Bung Hatta. Ibu Halida memandu kami melihat sebuah ruangan penuh memorabilia Ibu Siti Rahmiati Hatta, atau kita kenal sebagai Ibu Rahmi Hatta. Ibu Rahmi lahir di Bandung pada 16 Februari 1926, sehingga pameran ini bertema satu abad Ibu Rahmi Hatta. Berbagai memorabilia Ibu Rahmi dipamerkan dalam ruangan yang tidak terlalu besar ini, mulai dari patung dada, foto-foto, catatan Ibu Rahmi, surat cinta antara Bung Hatta dan Ibu Rahmi, hingga parfum kesukaan Ibu Rahmi. Berada di ruangan itu terasa hangat, sehangat sosok Ibu Rahmi seperti yang dideskripsikan oleh Ibu Halida dan dipancarkan oleh memorabilia Ibu Rahmi.

Di balik surat cinta antara Ibu Rahmi dan Bung Hatta, terdapat andil Bung Karno yang “menjodohkan” Ibu Rahmi dengan Bung Hatta. Kedua orang tua Bu Rahmi adalah teman-teman pergerakan Bung Karno dan Bu Inggit di selama Bandung. Ayah Bu Rahmi, Abdul Rachim, berasal dari Purwokerto, pegawai maskapai Staatsspoorwegen yang aktif dalam Kepandoean Bangsa Indonesia. Sedangkan ibunya adalah Siti Satiah “Annie”, putri Tengku Mohammad Nurdin, yang juga aktif di organisasi perempuan Wanito Sejati.

Mohammad Hatta pertama kali bertemu dengan Rahmi dalam sebuah kunjungan ke Instituut Pasteur, Bandung, tempat Rahmi bekerja. Meski jatuh hati, Hatta tidak segera meminang Rahmi, karena Hatta berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Setelah proklamasi, Hatta dengan ditemani Bung Karno mendatangi orang tua Rahmi untuk melamar. Menurut Bu Halida, konon Bung Karno tidak langsung menyampaikan maksud melamar Rahmi untuk Bung Hatta. Pada kunjungan pertama, Bung Karno masih berbasa-basi, menanyakan adakah wanita cantik yang ada di Bumi Priangan. Baru pada kunjungan kedua Bung Karno mengantar Bung Hatta melamar Rahmi. Mereka menikah pada 18 November 1945 di Megamendung, dengan maskawin buku karya Bung Hatta berjudul Alam Pikiran Yunani, yang ditulis Bung Hatta ketika diasingkan di Boven Digoel.

Bu Halida dan Bu Meutia Menyambut Pengunjung Pameran

Selama berada di ruangan tersebut, samar-samar terdengar lagu Sepasang Mata Bola. Sepemahaman saya, lagu tersebut diilhami oleh kisah perjuangan saat Republik Indonesia berdiri, ketika para founding fathers harus mengungsi ke Yogyakarta untuk keselamatan mereka. Mereka mengungsi ke Yogya menggunakan kereta api pada tanggal 4 Januari 1946, ketika Bung Hatta dan Bu Rahmi masih menjadi pengantin baru. Dikisahkan oleh Bu Halida, lagu Sepasang Mata Bola diciptakan oleh Ismail Marzuki, terilhami ketika melihat Bung Hatta dan Bu Rahmi turun dari kereta di Stasiun Yogyakarta. Mendengar cerita tersebut, saya langsung menatap foto ketika Bung Hatta dan Bu Rahmi menikah di Mega Mendung di tahun 1945. Terlihat sosok Bu Rahmi yang kala itu baru berusia 19 tahun, berparas cantik dengan sepasang mata yang bulat bersinar. Tak heran jika Ismail Marzuki terpesona melihat beliau, dan terilhami untuk membuat lagu yang indah ini…

Di antara memorabilia Ibu Rahmi, terdapat catatan bu Rahmi yang ditulis tangan. Menurut Bu Halida dan Bu Meutia, bu Rahmi sangat gemar belajar hal baru. Di antara catatan tersebut, terdapat catatan belajar masak dan belajar bahasa asing. Bu Rahmi pernah belajar beberapa bahasa asing, termasuk bahasa Prancis, Jerman, Spanyol, dan aksara Arab. 

Dari ruang memorabilia, kami berpindah ke ruang tengah. Terlihat sebuah kain bludru hitam dengan bordir emas terletak di atas meja. Rupanya kain hitam tersebut adalah kiswah atau penutup ka’bah dari Raja Abdulazis bin Abdul Rahman Al Saud dari Arab Saudi pada tahun 1952, saat melawat ke Tanah Suci. Sebagai fakta tambahan, Bung Hatta merupakan pejabat Indonesia pertama yang menerima kain kiswah. Di atas penutup ka’bah tersebut, terdapat lukisan Mega Mendung, lengkap dengan Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebagai latar belakangnya. Lukisan tersebut diberikan oleh Bung Karno kepada Bu Rahmi pada 6 Juni 1957, sebagai pertanda Bung Karno memasuki usia 50 tahun. Menariknya, Bung Karno membahasakan dirinya sebagai “Oom”, mengingat beliau merupakan teman dari orang tua Bu Rahmi.

Gramofon

Di sisi lain ruangan, terdapat gramafon modern. Benda ini mencerminkan kecintaan Bu Rahmi terhadap musik. Bu Rahmi gemar menikmati musik klasik, jazz, dan berbagai genre lainnya, serta mengoleksi piringan hitam yang banyak didengarkan antara 1959-1968. Di ruang depan rumah terdapat piano klasik buatan tahun 1904, yang tutsnya masih terbuat dari gading. Piano ini sering dimainkan oleh Bu Rahmi, dan masih terawat dengan baik.

Ruang Kerja Bung Hatta

Yang paling menggetarkan hati adalah ketika kami diijinkan untuk memasuki ruang kerja Bung Hatta, yang terletak di bagian depan rumah. Ruangan yang sempat kami “intip” saat kami menunggu di teras rumah. Ruangan di mana Bung Hatta membaca buku-buku referensi dan menuangkan pikiran-pikirannya. Membayangkan Bung Hatta seharian duduk di ruangan tersebut, mempersiapkan bahan ajar atau menulis buku… energinya masih terasa dengan kuat. Masih ada beberapa memorabilia Bung Hatta di ruangan tersebut, termasuk ijasah Bung Hatta saat berkuliah di Belanda, sertifikat doctor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada, termasuk kacamata yang digunakan Bung Hatta saat bekerja.

Foto Bersama Bu Meutia dan Bu Halida

Di akhir kunjungan, setelah berfoto bersama Bu Meutia dan Bu Halida, seluruh peserta open house mendapatkan buku yang disunting oleh Ibu Meutia. Buku tersebut berisi kumpulan tulisan anak, menantu dan cucu Ibu Rahmi tentang sosok Siti Rahmiati Hatta dan kenangan bersama beliau. Sambil membubuhkan tanda tangan di buku tersebut, Ibu Meutia berpesan, jangan lupa bukunya dibaca. Sepanjang perjalanan pulang, bahkan hingga tiba di rumah, dan ketika membaca buku tersebut, terbayang-bayang sosok Ibu Rahmi Hatta: seorang perempuan cantik, intelektual, penuh kehangatan, dan setia sebagai belahan jiwa Bung Hatta dalam kondisi apa pun.


Sunday, March 30, 2025

Ngabuburit di Tanamur

Jika judul di atas dibaca oleh mereka yang tinggal di Jakarta antara tahun 1970-2005, mungkin mereka akan mengernyitkan dahi dan menganggap saya sebagai orang tak berakhlak. Namun di pertengahan bulan Ramadhan 2025 Masehi, saya (beneran) ngabuburit dengan berjalan-jalan di Tanah Abang Timur (Tanamur) bersama Tour WalkIndies, sambil singgah di (bangunan bekas) diskotek ternama bernama Tanamur.


Berbicara Tanah Abang, biasanya identik dengan pasar tekstil dan stasiun KRL. Tanah Abang telah menjadi bagian dari dinamika perkembangan Batavia sejak abad 17. Tempat ini pernah menjadi pangkalan Pasukan Mataram yang menyerang Batavia di tahun 1628. Kemungkinan besar mereka yang memberi nama tempat ini Tanah Abang, melihat tanah bukit dan rawa-rawa yang dulu ada di sekitar Tanah Abang memiliki warna merah (abang dalam bahasa Jawa berarti merah).

Tahun 1733, Justinus Vinck, seorang Landdrost (setara hakim) VOC membeli tanah yang membentang dari Tanah Abang hingga Pasar Senen. Vinck kemudian mendirikan pasar, yaitu Pasar Weltevreden (sekarang menjadi Pasar Senen), serta pasar di Tanah Abang Bukit yang khusus berjualan tekstil dan hewan ternak. Untuk menghubungkan kedua pasar tersebut, Vinck membangun jalan penghubung. Salah satu jalan yang dibangun adalah Tamarindelaan (sekarang menjadi Jl Wahid Hasyim dan Jl Prapatan Kwitang). 


Di awal abad 19, Tanah Abang berkembang menjadi perkantoran dan tempat kediaman elite. Hal ini sejalan dengan lokasi Tanah Abang yang strategis, dekat dengan area Koningsplein dan Paleis van de Gouverneur Generaal. Jalan Tanah Abang West (sekarang menjadi Jl. Abdul Muis) menjadi jalan utama yang menghubungkan Batavia dengan kawasan Tanah Abang. 

Mansion Kapiten Liem Tiang Hoey

Banyak rumah-rumah mansion milik orang-orang kaya di jaman Hindia Belanda dibangun di Tanah Abang. Salah satunya adalah mansion milik Kapiten Liem Tiang Hoey di Tanah Abang Huevel (Tanah Abang Bukit), yang saat ini menjadi Kantor Bank Mandiri Jl. Fachrudin. Kapiten Liem merupakan pendiri NV Maatschappij tot Exploitatie van Tanah Abang yang mengelola puluhan rumah dan toko di sekitar Tanah Abang. Ciri yang masih terlihat adalah kubah kecil pada atap bangunan, serta ornamen semacam pinggiran teras, yang memperlihatkan ukiran xilin, binatang mitologi Tiongkok. 

Ornamen Xilin

Di balik Kantor Bank Mandiri tersebut terdapat Rumah Hati Suci. Yayasan ini didirikan oleh Ny. Lie Tjian Tjoen pada tahun 1914, sebagai rumah perlindungan bagi anak-anak perempuan yang diperjualbelikan dalam human trafficking. Selanjutnya rumah ini berkembang menjadi panti asuhan bagi anak-anak perempuan. Tahun 2014, pada peringatan 100 tahun Yayasan Hati Suci, panti asuhan Hati Suci berubah nama menjadi Rumah Hati Suci.

Kaca Patri Kuno di Rumah Hati Suci

Kami mengunjungi Rumah Hati Suci, yang saat ini menampung 40 orang anak dengan rentang umur dari SD hingga kuliah. Mereka berasal dari keluarga kurang mampu, keluarga retak, atau yatim piatu. Salah satu anak yang kami temui mengatakan bahwa hari itu adalah hari terakhir ia berada di Rumah Hati Suci, karena ia sudah lulus kuliah dan akan kembali ke rumah orang tuanya. Melihat ia membawa kopor dan keluar dari Rumah Hati Suci, ada rasa trenyuh di hati kami, semoga masa depanmu sukses ya Dik…

Tiba waktunya shalat Ashar, sehingga kami singgah di Mesjid Jami Ar-Rohah di Jl Abdul Muis. Mesjid ini didirikan pada tahun 1920, dikembangkan dari mushalla yang sudah ada pada abad ke-19. Jalan samping masjid dulu bernama Gang Comissaris, dan berdasarkan peta kuno di belakang masjid ini pernah ada kantor Commissariaat van de betrokken wijken dan Pos Polisi, namun saat ini sudah tidak bersisa.

Jalan Budi Kemuliaan juga menyimpan banyak cerita. Di masa kolonial, tempat ini dikenal dengan nama Gang Scott, yang diambil dari nama Robert Scott, pria berkebangsaan Inggris yang menjadi kepala pelabuhan di Semarang sebelum datang ke Batavia pada 1820. Ia membangun Kampung Scott pada kedua sisi jalan. Di Gang Scott pernah berdiri Gereja untuk orang-orang Armenia, yang saat ini sudah dibongkar menjadi Gedung Bank Indonesia.

RS Budi Kemuliaan

Landmark terkenal dari Gang Scott adalah RS Budi Kemuliaan. Pendiri rumah sakit ini adalah yayasan Studiefonds Voor Opleiding Van Vrouwelijke Inlandse Artsen (SOVIA), yang didirikan pada 1 September 1912 karena terinspirasi dari Tulisan RA Kartini "Habis Gelap Terbitlah Terang". Yayasan SOVIA mendirikan RS Budi Kemuliaan pada tahun 1917 yang berlokasi di Hospitaalweg No. C7, Pejambon. Baru pada tahun 1935 RS ini dipindahkan ke Gang Scott No. 25. Nama Budi Kemuliaan sendiri baru digunakan pada tahun 1955.

Bergeser ke Jl. Tanah Abang Timur, terlihat sebuah bangunan yang terbengkalai. Bangunan tersebut pada masa jayanya merupakan diskotek Tanamur (akronim dari Tanah Abang Timur) yang merupakan diskotek pertama di Indonesia. Diskotek ini didirikan pada tahun 1970 oleh Ahmad Fahmy Alhady. Fahmi mendapatkan ilham untuk membuka diskotek di Jakarta setelah ia mengunjungi diskotek di Jerman. Hal ini bersamaan dengan dibukanya peluang untuk para investor asing, di mana gemerlap dunia malam seperti kasino dan diskotek dapat menarik investor. Diskotek Tanamur terkenal hingga ke mancanegara, bahkan berbagai pesohor dunia seperti Mick Jagger, Deep Purple, Bee Gees, Mohammad Ali, Ruud Gullit, dan Chuck Norris pernah singgah di tempat ini. 

(Bekas) Diskotek Tanamur

Eksistensi Tanamur meredup sejak krisis moneter di dekade 90-an, apalagi sejak kejadian Bom Bali 2002 membuat pengunjung semakin tidak nyaman berada di klab malam . Diskotek ini resmi menyudahi gemerlapnya pada 2005. Melihat bangunan kosong tidak terurus, saya mencoba membayangkan gemerlap bangunan ini di masa jayanya, dengan ilustrasi lagu Staying Alive dari The Bee Gees yang membuat semua orang bergoyang…

Di seberang diskotek Tanamur, terdapat Jl. Tanah Abang III. Di masa lalu, jalan ini dikenal dengan nama Laan de Riemer, karena banyaknya bangunan yang menjadi milik notaris JD de Riemer, yang membeli lahan tersebut pada tahun 1884. Di antara bangunan yang ada di lahan tersebut, terdapat rumah tinggal De Riemer yang dibangun tahun 1815 oleh Gerrit Willem Casimir van Motman, Kepala Gudang VOC. Kalau menurut peta, katanya lokasi rumah De Riemer berada di sudut Laan de Riemer dan Tanah Abang West. Loh, itu kan lokasi Gedung Pelita Air Service… aku 8 tahun pernah berkantor di situ…

Katanya di lokasi ini pernah ada rumah De Riemer

Tahun 1908, ahli waris keluarga De Riemer menjual lahan Laan de Riemer kepada pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian dijadikan kawasan perkantoran. Tahun 1930, bangunan utama rumah de Riemer diruntuhkan, dan kawasan tersebut diubah menjadi daerah hunian yang terdiri dari vila-vila besar bergaya arsitektur Art Deco hasil desain J.A. Raket. Kawasan ini dikenal sebagai Westerpark, dan beberapa bangunan tersebut masih bisa kita lihat hingga sekarang.

Vila Besar Gaya Art Deco di Westerpark (sekarang Jl Tanah Abang III)



Friday, March 28, 2025

Napak Tilas Kereta Api BOS

Panasnya kawasan kota tua di tengah bulan Ramadhan tahun 2025 tidak menyurutkan para peserta Pelesiran Tempo Doeloe Sahabat Museum yang sudah berniat ngabuburit dengan napak tilas jalur kereta yang di jaman baheula dikelola oleh BOS. Tapi omong-omong, siapa si BOS ini?

Rombongan PTD Sahabat Museum

BOS adalah Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menguasai jalur kereta api sepanjang 63 km yang menghubungkan Batavia dengan Krawang via Meester Cornelis dan Bekasi. Singkatan namanya sebenarnya BOS atau BOSM, namun lidah penduduk lokal mungkin menyebutnya sebagai Be-OS, sehingga lama-lama masyarakat menyebutnya sebagai BEOS.

Fasad Stasiun Jakarta Kota (Stasiun BEOS) sebelum pandemi

Napak tilas hari ini dimulai di Stasiun Jakarta Kota, yang sering disebut sebagai Stasiun BEOS. Sebenarnya nama ini salah kaprah, karena Stasiun Jakarta Kota (atau nama aslinya Stasiun Benedenstad) yang kita kenal saat ini bukan milik BOS, melainkan dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS). Stasiun BEOS yang asli adalah Stasiun Batavia Zud, yang saat ini sudah dibongkar. Stasiun Jakarta Kota merupakan titik nol jalur kereta api di Pulau Jawa (kita bisa melihat pal titik nol-nya di Jalur 7), dan bertipe stasiun terminus (ujung) yang tidak memiliki jalur lanjutan lagi. Cirinya adalah adanya stopper atau sepur baduk di ujung rel.

Pal Titik Nol Km Rel Kereta Api di Jalur 7

Bangunan stasiun Jakarta Kota merupakan rancangan arsitek Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels. Ghijsels mendesain bangunan stasiun dengan gaya art deco, yang walaupun sederhana, memiliki cita rasa tinggi. Konon, Stasiun Jakarta Kota merupakan salah satu karya terbaik Ghijsels. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dalam bentuk pesta satu hari satu malam. Di jaman pendudukan Jepang, semua nama yang berbau-bau Jepang diganti, sehingga stasiun ini berganti nama menjadi Stasiun Djakarta.

Hall Stasiun Jakarta Kota dengan ciri khas lengkung Art Deco

Salah satu benda yang menarik perhatian di Stasiun Jakarta Kota adalah sebuah jam kuno di tengah peron. Jam ini sebenarnya bukan asli milik Stasiun Batavia Benedenstad, melainkan dari Stasiun Sukabumi yang dibangun tahun 1882, yang diserahkan ke Stasiun Jakarta Kota pada tahun 2009. Jam antik ini diperkirakan dibuat pada tahun 1881, dan diduga diimpor oleh FM Ohlenroth, sebuah toko jam mewah di Hindia Belanda.

Jam Antik Stasiun Jakarta Kota

Dari Stasiun Jakarta Kota, napak tilas berlanjut dengan KRL menuju Stasiun Senen, transit di Kampung Bandan. Kami nyaris ketinggalan kereta transit, karena terlalu asyik ngobrol di peron atas! Hahaha… tenang, masih ada KRL yang akan lewat. Karena KRL yang kami naiki ternyata tidak berhenti di Senen, kami harus turun di stasiun Gang Sentiong, untuk kemudian naik KRL arah balik dan turun di Stasiun Pasar Senen.

Stasiun Pasar Senen, sesuai namanya, didirikan untuk mendukung pengembangan Pasar Senen, pasar tertua di Batavia yang didirikan pada tahun 1733. BOS membuka Stasiun Pasar Senen pada 31 Maret 1887 sebagai sebuah perhentian kecil. Lokasinya bukan di stasiun yang sekarang, melainkan di sekitar Gelanggang Remaja Jakarta Pusat. Pembukaan stasiun ini bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api Batavia—Bekasi. Jalur ini kemudian dibeli oleh SS pada tahun 1898 karena utang BOS yang membengkak.

Fasad Stasiun Pasar Senen

Seiring peningkatan arus penumpang, Stasiun Pasar Senen kemudian dipindahkan dan dibangun ulang pada tahun 1916, di lokasi yang sekarang. Bangunan stasiun generasi pertama yang dibangun BOS kemudian dialihfungsikan menjadi gudang, sebelum dibongkar untuk pembangunan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat.

Rombongan Sahabat Museum di Peron Stasiun Pasar Senen

Bangunan Stasiun Pasar Senen yang sekarang kita kenal diresmikan pada tanggal 19 Maret 1925, bertepatan dengan 50 tahun SS pada 6 April 1925, sekaligus untuk menyambut layanan baru SS yaitu elektrifikasi jalur Tanjung Priok-Meester Cornelis, yang menjadi cikal bakal KRL yang kita kenal sekarang. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Johan van Gendt, dengan gaya arsitektur Neo-Indische.

Kanan: Dekorasi khas Art Deco di Stasiun Pasar Senen
Kiri: Terowongan Stasiun Pasar Senen

Stasiun Pasar Senen dirancang sebagai stasiun pulau, dan merupakan stasiun pertama yang memiliki terowongan untuk lalu lintas penumpang yang masih berfungsi sampai saat ini. Di sisi peron penumpang kereta api jarak jauh, kita bisa melihat tiang bergaya art deco yang terbuat dari logam, yang diduga digunakan untuk meletakkan lampu. Posisi tiang yang berada di dekat terowongan membuka dugaan lampu di tiang tersebut berfungsi untuk menerangi terowongan tempat lalu lalang penumpang.

Puas melihat-lihat Stasiun Pasar Senen, rombongan melanjutkan perjalanan menuju pemberhentian terakhir di Stasiun Jatinegara. Karena KRL arah Jatinegara tidak berhenti di Stasiun Pasar Senen, kami harus naik KRL ke Stasiun Kemayoran, baru berpindah ke KRL arah Jatinegara. Melewati stasiun Pondok Jati yang berlokasi di sekitar Palmeriam, teringatlah kisah Gang Solitude, sebuah lokasi yang terkait dengan Perang Napoleon di Jawa (silakan lihat di sini).

Tampak Depan Stasiun Jatinegara

Dan akhirnya, tibalah kami di Stasiun Jatinegara. Stasiun Jatinegara ini aslinya adalah Stasiun Meester Cornelis yang dibangun SS dan mulai beroperasi pada 15 Oktober 1909. Sedangkan Stasiun Meester Cornelis milik BOS dibangun pada 1887 dan mulai beroperasi pada 31 Maret 1887, bersamaan dengan pembukaan jaringan kereta api Batavia-Meester Cornelis-Bekasi pada 31 Maret 1887. Karena menghadapi masalah keuangan, tahun 1889 jaringan rel Batavia-Bekasi dibeli oleh SS, termasuk Stasiun Meester Cornelis BOS. Lokasi Stasiun Meester Cornelis BOS terletak di dekat Depo Jatinegara saat ini.

Atap Ciri Khas Stasiun Jatinegara

Bangunan Stasiun Jatinegara dirancang oleh arsitek Ir. Simon Snuyf. Gaya arsitekturnya merupakan perpaduan antara Indische Empire dan kolonial modern. Ciri khas dari bangunan Stasiun Jatinegara adalah atap yang sangat miring, menyerupai gaya bangunan di Belanda. Di puncak bangunan terdapat menara yang berfungsi seperti mercusuar serta untuk penerang ruangan. Saat ini bangunan lama Stasiun Jatinegara masih dipertahankan, sementara di bagian belakang stasiun sudah berdiri bangunan baru yang lebih modern yang mampu menampung penumpang lebih banyak.

Rombongan Sahabat Museum di Stasiun Jatinegara

Gara-gara sempat mampir ke Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Jatinegara, jadi pengen naik kereta api ke luar kota. Jadi, kapan kita naik kereta api ke Surabaya?

Perang Napoleon di Jatinegara

Tahukah Anda, Jatinegara pernah menjadi saksi berbagai pertempuran, termasuk Perang Napoleon? Mungkin tidak banyak yang sadar, dampak Perang Napoleon ternyata sampai juga ke Nusantara, bersamaan dengan masuknya Inggris untuk menguasai Nusantara. Ini tidak lepas dari pergolakan politik di Eropa. 

Berawal di tahun 1810 ketika Belanda takluk dari Perancis, sehingga seluruh daerah kekuasaannya diambil Perancis, termasuk Hindia Belanda. Inggris yang berupaya mengurangi kendali Prancis atas Hindia Belanda mengirimkan ekspedisi militer di pertengahan 1811 di bawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty. Jumlahnya luar biasa, mencapai 12.000 tentara dan 100 kapal, termasuk 4 kapal perang, 14 kapal pengawal, 7 kapal penjaga, dan 8 kapal penjelajah East Indian Company. Sejarah mencatat ekspedisi ini menjadi ekspedisi militer laut terbesar sebelum Perang Dunia Kedua.

Minggu, 4 Agustus 1811, konvoi militer ini tiba di Teluk Batavia, kemudian masuk ke Batavia melalui pantai Cilincing. Pada tanggal 10 Agustus 1811, pasukan Inggris telah menguasai benteng di Weltevreden. Pasukan Inggris kemudian bergerak ke arah kamp militer pasukan Prancis di Meester Cornelis. Kamp ini dilindungi benteng pertahanan di pinggir anak Ciliwung, yang dikenal sebagai The Slokan. Pada akhirnya, kamp militer ini berhasil dikuasai. Kekuasaan Prancis di Nusantara berakhir setelah Kapitulasi Tuntang pada 16 September 1811 yang menandai penyerahan kekuasaan dari Prancis ke Inggris.

Stasiun Jatinegara, pernah jadi Stasiun Meester Cornelis
atau Stasiun Rawa Bangke

Pertempuan antara Inggris dan Prancis di Meester Cornelis meninggalkan beberapa penanda. Di antaranya adalah daerah yang bernama Rawa Bunga. Konon di kawasan ini dulu banyak mayat korban pertempuran serdadu Inggris dan Perancis, sehingga awalnya dinamakan Rawa Bangke. Di dekat Rawa Bangke inilah berdirinya Stasiun Meester Cornelis yang sekarang kita kenal sebagai Stasiun Jatinegara.

Anak Sungai Ciliwung (The Slokan)di Jl. KH Ahmad Dahlan - Palmeriam
pernah jadi bagian benteng pertahanan pasukan Prancis

Selain itu, ada sebuah tempat yang dikenal warga lokal Palmeriam sebagai Gang Solitude, yang saat ini menjadi Jl. KH Ahmad Dahlan. Tempat ini merupakan bagian dari benteng pertahanan kamp militer Perancis pada awal abad 19. Solitude sendiri bermakna “hening”. Konon nama ini berasal dari situasi ketika ada gudang mesiu yang meledak, di mana setelah ledakan itu terjadi keheningan yang luar biasa.

Suasana Gang Solitude di Era Millenials

Pada tahun 1820, kamp militer Meester Cornelis berubah fungsi menjadi penjara. Setelah kembali ke tangan pemerintah kolonial Hindia Belanda, kamp militer Meester Cornelis tetap digunakan sebagai kamp militer. Kamp militer ini dilengkapi kompleks perumahan dinas perwira Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) yang dikenal sebagai Generaal Staallaan. Rumah-rumah di kompleks tersebut memiliki gaya Indisch yang dipadu ornamen ala Betawi dan Jawa.

Roemah Djatinegara, salah satu peninggalan
General Staallaan

Selain para perwira KNIL yang umumnya berkebangsaan Belanda yang menempati kompleks tersebut, terdapat satu perwira KNIL pribumi berpangkat Kapten yang menempati salah satu rumah dinas. Beliau adalah Oerip Soemohardjo, yang menempati rumah dinas di kompleks ini antara tahun 1928-1933. Oerip Soemohardjo adalah Kepala Staf Umum TKR pertama di tahun 1945. Dulu beliau menempati rumah dinas di Generaal Staallaan nomor 17. Saat ini rumah tersebut menjadi sekolah karate.

Rombongan Sahabat Museum di salah satu rumah Generaal Staallaan

Jatinegara juga menjadi saksi pertempuran mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat sejak November 1945-Januari 1946, kerap terjadi pertempuran besar antara pemuda Indonesia melawan serdadu Inggris/Belanda di sepanjang jalur Pasar Senen-Kramat Raya-Meester Cornelis (Jatinegara). Puncaknya terjadi ketika para serdadu Inggris/Belanda di awal Jamuari 1946 datang dari arah Senen menyerbu ke Jatinegara. Para pemuda Republik dari berbagai etnis (Betawi, Tionghoa, Sunda, Jawa, Batak, Minahasa, Ambon dll) sudah melakukan penghadangan di sekitar Stasiun Rawabangke dan di bawah viaduct Jatinegara. Pertempuran pun berlangsung hebat dan menimbulkan korban di kedua pihak.

Patung Perjuangan Jatinegara
di depan Gereja Koinonia

Peristiwa ini diabadikan dalam sebuah monumen di depan gereja Koinonia, yang diresmikan pada 7 Juni 1982. Patung tersebut menggambarkan 2 orang pejuang, yang merupakan ayah dan anak. Mereka tergabung dalam  laskar KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi) yang aktif di wilayah Jakarta pada 1945-1946. Sang bapak bernama Martinus Runtunuwu, sedangkan patung anak menggambarkan putra bungsunya yang bernama Bernard. Dalam usia masih sangat muda (13 tahun), Bernard sudah ikut bersama ayahnya dalam pertempuran di Stasiun Rawa Bangke dan Viaduct, kendati hanya bersenjata sebuah katapel. Dikisahkan, Bernard Runtunuwu kemudian ikut bersama satu regu pasukan KRIS pimpinan Decky Pontoan, yang bertugas mempertahankan front Karawang.  Pada pertengahan Februari 1946, Bernard gugur di Rawa Buaya saat pasukannya harus berhadapan dengan satu unit tentara Belanda.

Saturday, August 24, 2024

Sultan Agung vs VOC di "Kota Tahi"

Anda mungkin sering mendengar cerita pertempuran antara pasukan Mataram Islam yang dikirim Sultan Agung untuk berperan melawan VOC di Batavia yang berakhir dengan kekalahan pasukan Mataram karena dilempari tinja oleh pasukan VOC. Tapi pernahkah Anda mencari tahu, di mana persisnya lokasi pertempuran dengan amunisi aneh tersebut?

Di tanggal 11 Agustus 2024 yang lalu, Sahabat Museum melakukan Plesiran Tempo Doeloe bertajuk Koetika Kompeni Terpodjok, dengan mengunjungi bekas lokasi Fort Hollandia, sebuah bastion yang berada di ujung terluar tembok kota Batavia, yang menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Mataram dan pasukan VOC tersebut. Namun sebelum tiba di bekas lokasi Fort Hollandia, sejenak kita akan kilas balik perjalanan pasukan Mataram menuju Batavia di tahun 1628, di bawah pimpinan Ki Mandurareja. Perjalanan dari keraton Mataram di Kerto menuju Batavia memakan waktu selama 3 bulan, melalui Kulon Progo-Prembun-Pekalongan-Tegal-Cirebon-Sumedang- Cianjur-Pakuan (Bogor), untuk kemudian naik rakit menyusuri Ciliwung menuju Batavia. Tak hanya pasukan berjalan kaki, Sultan Agung juga mengirim pasukan pendahuluan melalui laut yang dipimpin Tumenggung Bahureksa. 

Di bulan Agustus 1628, pasukan Mataram telah mengepung Kota Batavia selama sebulan penuh. Pada malam tanggal 21 September 1628, para prajurit Mataram berusaha mendekati Fort Hollandia (atau lebih tepatnya Redoute Hollandia) yang merupakan pertahanan terakhir VOC. Mereka berusaha memanjat kubu atau menghancurkan tembok, serta menembaki kubu dengan bedil laras panjang. Di dalam kubu, Sersan Hans Madelijn beserta 24 serdadunya mencoba bertahan. Pihak VOC sempat kewalahan, hingga mereka kehabisan amunisi. Madelijn memiliki gagasan sinting. Ia meminta anak buahnya membawa sekeranjang penuh tinja. Dengan putus asa, pasukan VOC melemparkan kantong berisi tinja ke tubuh-tubuh prajurit Mataram yang merayapi dinding kubu Hollandia. Sekejap pasukan Mataram lari tunggang-langgang karena terkena peluru tinja tersebut. Hari berikutnya, pasukan Mataram mundur, dan serangan pun gagal. Inilah yang menjadi sumber nama “Kota Tahi”, julukan pasukan Mataram untuk kubu Hollandia.

Kisah pertempuran tersebut tercatat dalam beberapa sumber. Di antaranya adalah laporan Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen pada Dewan Hindia per 3 November 1628, Namun dalam laporan tersebut, Coen tidak menyebutkan adanya amunisi unik yang digunakan untuk menghalau pasukan Mataram. Kisah tersebut tertulis dalam sebuah buku berjudul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an Tartarischen Cham (terbit tahun 1669), serta dalam Babad Tanah Jawi. Di abad berikutnya, kisah ini juga tertulis dalam buku History of Java Volume II karya Thomas Stamford Raffles, serta dalam buku Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, yang terbit pada 1911.

Rombongan Batmus di Situs Bekas Kubu Hollandia

Lalu, di mana lokasi sesungguhnya kubu Redoute Hollandia? Napak tilas dalam Pelesiran Tempo Doeloe kali ini membawa kami menelusuri Jl. Pinangsia Timur hingga ke ujung, blusukan di antara kompleks ruko dan pemukiman padat. Di ujung timur Jl. Pinangsia Timur, dibatasi oleh aliran Sungai Ciliwung, terdapat tapak bekas kubu Hollandia. Jika dibandingkan dengan peta lama dari jaman VOC, aliran Sungai Ciliwung yang pernah membatasi kubu Hollandia masih memiliki alur dan pola yang sama dengan yang kami lihat saat ini.

Lalu, seperti apakah rupa bangunan kubu Hollandia tatkala Mataram menyerbu Batavia pada 1628? Bang Ade Purnama sebagai penggerak Sahabat Museum menunjukkan gambar bahwa terdapat 2 rujukan yang memberikan gambaran berbeda. Dalam sebuah sumber tertulis, terdapat informasi bahwa kubu tersebut berbentuk Menara dengan pagar deretan kayu berujung runcing. Rujukan lain dari peta karya Frans Florisz. van Berckenrode berangka tahun 1627) menunjukkan bahwa pertahanan di timur kota itu berupa dinding batu yang melintang dari selatan hingga ke utara.  Di masa Gubernur Jendral Johan Camphuijs, kubu tersebut pernah dimasukkan dalam daftar monumen bersejarah. Namun disayangkan, bangunan tersebut menghilang di tahun 1766.

Posisi Situs Bekas Kubu Hollandia dari arah Jembatan Manggis

Setelah mendapatkan banyak cerita tentang pertempuran prajurit Mataram dan serdadu VOC di titik yang merupakan bekas tapak kubu Hollandia, kami berjalan kaki menyeberangi Sungai Ciliwung, memasuki Jl. Manggis 1, menuju Jembatan Manggis. Dari arah Jembatan Manggis, terlihat lebih jelas bekas lokasi kubu Hollandia dari arah Sungai Ciliwung. Bisa dibayangkan, kurang lebih demikianlah sudut pandang pasukan Mataram saat mendekati kubu Hollandia untuk melakukan penyerbuan. Dan hari ini, tempat yang pernah menjadi saksi sejarah pertempuran legendaris antara Mataram dan VOC tersebut hanya menyisakan keheningan tanpa jejak.


Sunday, August 18, 2024

Napak Tilas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 16 Agustus 1945 dini hari. Kala itu para pemuda dari perkumpulan "Menteng 31" yang terdiri dari Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh "menculik" Bung Karno dan Bung Hatta, untuk diamankan di Rengasdengklok, 81 km dari Jakarta. Tujuan mereka adalah untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan. Mengapa ke Rengasdengklok? Karena lokasinya yang cukup terpencil, namun tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain itu, di Rengasdengklok terdapat markas PETA. 

Gedung Joang 45 di Jl. Menteng Raya No. 31, Jakarta

Di manakah markas para pemuda “Menteng 31”? Bangunan yang berlokasi di jantung kota Jakarta ini semula merupakan hotel elite yang dibangun oleh L.C. Schomper pada tahun 1938, dan dikenal sebagai Hotel Schomper I. Pada masanya, hotel ini merupakan hotel yang megah. Saat Belanda menyerah di tahun 1942, bangunan hotel dikuasai oleh Badan Propaganda Jepang (Gunseikanbu Sendebu).  Di bulan Juli 1942, para pemuda yang terdiri dari Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik dan AM Hanafi meminta ijin kepada Jepang untuk memanfaatkan Gedung tersebut sebagai asrama, yang kemudian dikenal sebagai Asrama Menteng 31. Asrama ini kemudian berfungsi sebagai tempat Pendidikan politik kebangsaan, dengan para pengajar di antaranya Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Moh. Yamin, Mr. Achmad Subarjo, dll. Tahun 1943, Gedung Menteng 31 kemudian dijadikan sebagai markas Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Setahun kemudian, PUTERA dibubarkan dan diganti dengan organisasi baru Bernama Jawa Hokokai (Kebangkitan Rakyat Jawa), dan berkantor di Gedung tersebut.

Rumah Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok

Selama di Rengasdengklok, Bung Karno dan Bung Hatta tinggal di rumah milik Djiaw Kie Siong. Konon rencana semula Bung karno dan Bung Hatta akan ditempatkan di markas PETA di Rengasdengklok, namun karena kondisinya yang kurang layak sebagai tempat tinggal, maka para pemuda mengalihkan Bung Karno dan keluarga beserta Bung Hatta ke rumah Babah Djiaw.

Bersama Pak Yanto dan Bu Lani

Rumah milik Babah Djiaw di Rengasdengklok pernah saya singgahi bersama rombongan WalkIndies, dalam perjalanan menuju Candi Batujaya di pertengahan April 2024. Dengan sambutan hangat dari pak Yanto, cucu dari Babah Djiaw, serta ibu Lani istrinya, serta kondisi rumah bersejarah yang masih terjaga, kami malah membayangkan jangan-jangan kata “penculikan” sebenarnya agak berlebihan. Mungkin di Rengasdenglok Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda sebenarnya hanya “cangkrukan” sambil merokok dan makan gorengan. Sambil “cangkrukan”, bisa jadi Bung Karno dan Bung Hatta membujuk para pemuda agar bersabar, karena mereka tidak ingin terjadi pertumpahan darah jika proklamasi dipersiapkan secara terburu-buru.

16 Agustus 1945 tengah malam, akhirnya Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda kembali ke Jakarta. Setelah mereka mengetahui bahwa Jepang tidak memberikan ijin untuk mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia seperti yang telah dijanjikan Marsekal Terauchi di Dalat, mereka menuju kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang dan Angkatan Darat Jepang.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Di ruang makan rumah Maeda, dilakukan penyusunan teks proklamasi oleh Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Setelah konsep yang ditulis tangan dirasa cukup, Sayuti Melik mengetik naskah tersebut, dengan diawasi oleh B.M. Diah. Naskah proklamasi ketikan Sayuti Melik ini kemudian ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta di atas piano yang berada di rumah tersebut. Selanjutnya naskah ini pun dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi di kediaman Bung Karno Jl. Pegangsaan Timur 56.

Naskah Proklamasi Ketikan Sayuti Melik

Setelah proklamasi Kemerdekaan, Rumah Laksamana Maeda sempat dijadikan Markas Tentara Inggris, dan sejak itu beberapa kali beralih fungsi. Baru pada tahun 1992 rumah yang terletak di Jl. Imam Bonjol No. 1 ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Satu-satunya yang masih asli dari peristiwa perumusan naskah proklamasi tahun 1945 adalah bangunan tersebut. Sedangkan benda-benda seperti kursi, meja, mesin ketik, pulpen, serta piano yang digunakan pada masa itu sudah tidak ketahuan lagi rimbanya, sehingga yang dipamerkan di museum hanyalah replikanya saja.

Monumen Proklamator

17 Agustus 1945, pukul 10 pagi. Di kediamannya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Bung Karno membacakan Naskah Proklamasi, membuka babak baru dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pembacaan Naskah Proklamasi ini selanjutnya diikuti oleh pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit Ibu Fatmawati oleh Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed. Pengibaran ini diiringi dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh hadirin.

Tugu Petir Tempat Bung Karno Berdiri Saat Membacakan Proklamasi

Jika hari ini Anda mencari tahu di apakah kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur itu masih ada, bentuk dan suasananya sudah tidak sama dengan bentuk dan suasana di tahun 1945. Saat ini lokasi tersebut sudah menjadi Taman Proklamasi, dan rumah yang menjadi kediaman Bung Karno di tahun 1945 sudah tidak ada. Pada tahun 1961, rumah tersebut dibongkar untuk dijadikan Gedung Pola Pembangunan Semesta, yang menjadi tempat koordinasi program Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahap Pertama 1961-1969. 

Tempat Bung Karno berdiri ketika membacakan naskah proklamasi ditandai dengan Tugu Petir, yang dibangun di tahun 1961. Pada tugu terdapat plakat dengan tulisan "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta". Di taman tersebut terdapat patung Bung Karno dan Bung Hatta berukuran besar, yang menggambarkan suasana pembacaan naskah proklamasi. Di antara patung Bung Karno dan Bung Hatta, terdapat patung naskah proklamasi versi ketikan oleh Sayuti Melik, terbuat dari lempengan batu marmer hitam. Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 Agustus 1980.


Friday, March 22, 2024

Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa

 "Payah loe, udah dibantu GM*ps tapi tetep aja nyasar!"

Percakapan ini sepertinya lumrah kita dengar saat ini. Yeps, peta digital memang sangat praktis untuk keperluan mobilisasi di jaman kiwari. Peta merupakan representasi visual dari berbagai elemen yang ada di muka bumi. Perjalanan ilmu kartografi atau pembuatan peta saat ini sudah sedemikian canggih, hingga memungkinkan kita membaca peta dalam versi digital, bahkan dalam genggaman. Namun, seperti apa peta-peta di masa lampau, yang digunakan para pelaut untuk navigasi kapal-kapal mereka menjelajah samudra?

Nusa Jawa dalam pandangan kartografer Portugis Abraham Ortelius 1595

Pameran Kartografi Nusa Jawa yang diselenggarakan antara 16 Januari s/d 30 April 2024 di Museum Bahari memamerkan peta-peta kuno -- khususnya peta pulau Jawa dari abad ke-16. Jika kita bandingkan dengan peta masa kini yang penggambarannya sudah sesuai dengan kondisi nyata, peta-peta kuno tersebut sangat berbeda. Bisa dilihat bahwa peta kuno tersebut mencerminkan interpretasi para pembuat peta jaman dulu terhadap wilayah yang dipetakan. Misalnya pada peta penjelajah Belanda abad 16, pulau Jawa digambarkan sama besarnya dengan pulau Sumatera. Atau peta yang dibuat kartografer Belanda pada tahun 1606, yang memperlihatkan seolah Pulau Jawa dibelah oleh sungai besar dari pantai utara hingga pantai selatan. Peta-peta kuno tersebut saat ini dapat dianggap sebagai sebuah karya seni berbasis kartografi. Selain peta-peta kuno, kita juga diperkenalkan dengan peralatan yang membantu kartografer masa lalu untuk membuat peta atau membantu para pelaut menentukan posisi kapalnya. Di antara peralatan tersebut terdapat sekstan dan teropong panjang.

Peta Pulau Jawa Terpisah oleh Pieter Van Der Aa 1707

Salah satu peta yang ditampilkan adalah Peta Tjiela. Peta Tjiela yang asli ditemukan di Desa Ciela, Kec. Bayongbong, Garut, pada tahun 1858 oleh Karel Frederik Holle, pemilik perkebunan the di CIkajang, Garut. Tuan Holla (panggilan akrab masyarakat Cikajang kepada Holle) memang bukan sekadar juragan perkebunan the, namun juga peminat kebudayaan Sunda. Peta Tjiela tergambar pada sehelai kain kafan berukuran 1 meter x 2 meter. Peta tersebut menggambarkan wilayah yang cukup luas, mencakup wilayah yang sekarang menjadi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, sampai dengan Kabupaten Cilacap. Dalam peta tersebut termuat symbol laut, sungai, gunung, bukit, danau, jalan, dan rawa, dengan symbol yang umum digunakan pada peta yang kita kenal hari ini. Peta tersebut memuat keterangan nama yang ditulis dengan huruf Sunda kuno, seperti Cirebon, Bekassih, dan Nusa Kalapa. Di bagian tengah peta tergambar wilayah kerajaan bernama Timbangaten. Uniknya, arah utara pada peta diletakkan di bagian bawah, sedangkan arah selatan pada bagian atas peta.

Holle meyakini peta tersebut dibuat sekitar tahun 1560. Dugaan ini diperkuat oleh penelitian arkeolog lainnya, yang mengatakan kemungkinan peta tersebut berasal dari abad ke-16. Siapa pembuat peta ini, tidak diketahui, namun peta ini dibuat oleh penduduk Nusantara. Ini menjadi bukti bahwa sejatinya penduduk asli Nusantara sudah mengenal pembuatan peta sebelum para penjelajah Eropa hadir di Nusantara. Salah satu tokoh dari Nusantara yang mengenal peta dan globe adalah Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri dan penasehat utama Raja Gowa di abad ke-17. Dari hasil penelitian lebih lanjut oleh para ahli geologi Indonesia di tahun 1976-1977, penulis buku Prof. P. D. A Harvey menduga bahwa Peta Ciela memiliki kemiripan dengan peta masa awal Dinasti Han dari Cina.

Atas: Puzzle Peta Ciela di Museum Sejarah Jakarta (foto koleksi pribadi, 2019)
Bawah: Salinan Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa (foto koleksi pribadi, 2024)

Beruntung Holle sempat membuat salinan Peta Tjiela tersebut dan menuliskan ulasan tentang peta tersebut dalam sebuah majalah, karena pada tahun 1975 diketahui peta yang asli telah hilang, diduga terbakar dan hilang tenggelam bersama kapal yang mengangkutnya. Tulisan Holle menjadi sumber awal yang penting dalam menelusuri kartografi yang dilakukan penduduk Nusantara. Di Pameran Kartografi Nusa Jawa kita bisa melihat bentuk salinan dari peta tersebut, sedangkan jika kita ingin melihat dari dekat, kita bisa melihat Peta Tjiela dalam bentuk puzzle yang dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta. Saat ini salinan Peta Tjiela yang dibuat berdasarkan salinan Holle disimpan oleh keluarga Ihak Lukman di Desa Ciela, dan dianggap sebagai benda pusaka.

Mengingat pentingnya peta untuk membantu menunjukkan posisi atau lokasi relative dalam hubungannya dengan tempat lain di permukaan bumi, khususnya dalam aktivitas pelayaran di masa lalu, tidak mengherankan jika pameran ini dibuat di Museum Bahari Jakarta. Museum ini dulu merupakan gudang VOC untuk menyimpan komoditas seperti rempah, kopi, the, tembaga, timah, dan tekstil. Selain melihat-lihat koleksi terkait kebaharian Indonesia, arsitektur museum sendiri juga menarik untuk ditelisik, mengingat museum ini dibangun dengan teknologi abad ke-17, dan masih bertahan hingga sekarang, walaupun dinding-dindingnya harus menghadapi ancaman penggaraman.

Sisa Pilar Kayu dan Pintu yang Terbakar di Memorial Museum Bahari

Selesai melihat pameran peta, saya tertarik dengan ruangan di Gedung sebelah, yang pintunya terbuka dan cukup terang. Ternyata ruangan tersebut merupakan Ruang Memorial Museum Bahari, dan menyimpan informasi terkait peristiwa kebakaran besar pada 16 Januari  2018 yang melalap 64 koleksi museum. Pada ruang memorial ini dipamerkan beberapa kaki pilar, pintu, dan ambang jendela yang terbuat dari kayu jati, yang sebagian besar hangus dilalap si jago merah. Ruangan ini juga menampilkan video upaya pemadaman kebakaran, serta kliping surat kabar yang memuat berita kebakaran tersebut dan upaya pemulihan kembali museum pasca kebakaran. Saat menapakkan kaki, saya baru sadar, mungkin Ruang Memorial ini adalah salah satu ruangan yang ikut terbakar saat itu, karena terdapat bagian ruangan dengan lantai kayu yang terlihat lebih baru dibandingkan bagian ruangan lainnya. Bagi saya, Ruang Memorial ini mungkin menjadi pengingat bagi kita, untuk terus berupaya memitigasi bencana kebakaran agar tidak terjadi lagi, khususnya di museum-museum kita.

Sunday, March 3, 2024

Tarekat Mason Bebas di Nusantara

Secret Society of Batavia, wow… membayangkan di masa Hindia Belanda, ada perkumpulan rahasia di Batavia. Benarkah itu? Perjalanan saya bersama Tour WalkIndies pada awal Oktober 2023 yang lalu akhirnya menguak banyak cerita menarik tentang Perkumpulan Rahasia ini.

Yang dimaksud Perkumpulan Rahasia tersebut adalah “Freemasonry”. Freemasonry (bahasa Belanda: Vrijmetselarij, bahasa Indonesia: Tarekat Mason Bebas,) adalah organisasi persaudaraan yang asal-usulnya tidak jelas dan muncul antara akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, dan saat ini anggotanya tersebar di seluruh dunia. Freemasonry merupakan organisasi yang sangat eksklusif, tertutup dan ketat dalam penerimaan anggota barunya. Kata mason berasal dari bahasa Prancis, maçon, yang artinya "tukang batu", karena organisasi ini pertama kali dibentuk oleh para “tukang batu” (jaman sekarang profesi tersebut setara dengan insinyur). Persyaratan untuk bergabung dengan Freemason saat itu adalah harus laki-laki, memiliki agama, dan bebas dari perbudakan. Tujuan utamanya adalah membangun persaudaraan dan pengertian bersama akan kebebasan berpikir dengan standar moral yang tinggi. Hal ini mencerminkan tujuan utama Freemasonry untuk membangun persaudaraan dan pengertian bersama akan kebebasan berpikir dengan standar moral yang tinggi. 

Freemason masuk ke Nusantara sejak tahun 1762, ditandai dengan pendirian loji pertamanya di Batavia, "La Choisie", oleh J.C.M. Radermacher (1741–1783).  Radermarcher dikenal sebagai pendiri organisasi Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (cikal bakal Museum Nasional Indonesia). Di masa Hindia Belanda, Freemason berkembang cukup pesat, didorong faktor banyak tentara Belanda yang ditugaskan ke Hindia Belanda yang merupakan anggota Freemason. 

Sempat surut di masa pendudukan Jepang, ketika Indonesia Merdeka dan dinyatakan berdaulat, Freemason mulai hadir kembali. Antara 1950-1951, banyak loji-loji baru didirikan di Indonesia. Pada tanggal 7 April 1955 didirikan Tarekat Mason Indonesia. Namun keberadaan Freemason di Indonesia tidak berlangsung lama. Tahun 1961, Presiden Soekarno menerbitkan Peraturan Penguasa Perang Tertinggi Republik Indonesia nomor 7 tahun 1961 yang melarang beberapa organisasi yang dianggap bersumber dari luar Indonesia dan tidak sesuai dengan kepribadian nasional, salah satunya adalah “Vrijmetselaren-Logge" (Loge Agung Indonesia). Adanya peraturan ini membuat organisasi Freemason di Indonesia dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. 

Saat mengikuti tour “Secret Society of Batavia” bersama WalkIndies, kami melihat bukti keberadaan Freemason di Nusantara, yang ditandai dengan simbol-simbol khas pada nisan para anggota Freemason. Simbol pada nisan tersebut dapat ditemui di Museum Taman Prasasti, yang dahulu merupakan pemakaman elite modern dan tertua di dunia, dikenal dengan nama Kebon Jahe Kober. 

Nisan Mayor Schneider dengan Simbol Jangka dan Mistar

Nisan pertama di Museum Taman Prasasti yang memiliki simbol Freemason adalah nisan tembaga dari Mayor Lodewijk Schneider yang wafat tahun 1820. Pada nisan tersebut terdapat simbol jangka dan mistar, dengan atasnya terdapat Segitiga berisi mata, atau “All-Seeing Eye”. Jangka dan mistar merupakan simbol bahwa Tarekat Mason Bebas berawal dari profesi tukang batu. Simbol ini juga dapat dimaknai bahwa para Mason memiliki misi "membangun" kuil kemanusiaan. Sedangkan “All Seeing Eye” merupakan lambang Mata Ilahi yang mengawasi umat manusia, sebagai pengingat bahwa pemikiran dan perbuatan para Mason selalu diawasi oleh Tuhan.

Di Museum Taman Prasasti juga terdapat nisan Olivia Mariamne, istri Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Hindia Belanda pada masa penjajahan Inggris. Walaupun tidak dilengkapi simbol Masonik, namun kaitannya dengan Freemason adalah Raffles juga merupakan anggota Mason yang bergabung pada tahun 1812. Uniknya, Raffles dilantik menjadi anggota Mason bukan di Eropa, melainkan di Jawa. Ada yang mengatakan Raffles dilantik sebagai anggota Mason di Loji Virtutis et Artis Amici di Pondok Gede. Tahun 1813, Raffles naik jabatan menjadi Worshipful Master dengan upacara di Loji De Vriendschap di Tunjungan, Surabaya. 

Nisan JH Horst dengan Momento Mori

Tak jauh dari nisan Olivia, terdapat nisan JH Horst, kepala badan survey tanah yang mendesain Willemskerk (sekarang GPIB Immanuel Jakarta), walaupun Horst bukan seorang arsitek. Di atas nisannya terdapat simbol Masonik “Momento Mori” yang berbentuk tengkorak dengan dua tulang bersilang, yang bermakna "mengingat kematian". Melingkari simbol Memento Mori, terdapat ukiran ranting akasia. Ukiran ranting akasia ini berasal dari kisah Hiram Abiff, seorang arsitek kepala di jaman Nabi Sulaiman yang dipercaya memegang kata kunci rahasia Mason. Dalam proses pembangunan Bait Salomo yang dipimpin oleh Abiff, suatu hari terdapat 3 orang yang mencegat Abiff dan meminta kunci rahasia Mason. Abiff tak mau memberikan kata kunci tersebut, sehingga ketiga orang itu membunuhnya dan menyembunyikan jasadnya di puing-puing, kemudian menandainya dengan ranting akasia. 

Nisan Jendral Kohler dengan Ouroboros

Salah satu tokoh militer Hindia Belanda yang juga merupakan anggota Freemason adalah Jendral J.H.R. Kohler, panglima perang Hindia Belanda yang tewas dalam Perang Aceh tahun 1873.  Keterlibatan Kohler dengan Freemason ditandai dengan simbol ular yang menggigit ekornya sendiri atau Ouroboros pada nisannya. Simbol ini bermakna lingkaran siklus kehidupan: kehidupan-kematian-kelahiran kembali. Selain Ouroboros, keterlibatan Kohler dalam Freemason juga ditandai dengan simbol obor terbalik. Nyala obor menandakan kehidupan, namun karena di nisan Kohler obor tersebut diletakkan terbalik, bermakna kematian bagi Kohler. Saat jasad di pemakaman Kebon Jahe Kober dipindahkan dan tempat ini dijadikan museum, jasad Kohler dipindahkan ke Kerkhoff Peucut di Banda Aceh.

Dari Museum Taman Prasasti, tour jalan kaki berlanjut melewati Istana Merdeka, GKI Immanuel, Gedung AA Maramis, dan berakhir di Kantor Pusat Kimia Farma di Jl. Budi Utomo. Bangunan yang didirikan tahun 1830 ini dulu merupakan Loji Bintang Timur (De Ster in het Oosten), salah satu loji Freemason yang digunakan untuk tempat pertemuan. Pada masanya, terdapat tidak kurang dari 20 loji utama Freemason di Nusantara: 14 di Jawa, 3 di Sumatra, serta terdapat di Makassar dan Hollandia (Jayapura). Banyak loji yang ditutup pada masa pendudukan Jepang. Walaupun setelah masa kemerdekaan sempat berdiri beberapa loji baru, semua loji di Indonesia ditutup setelah organisasi Freemason dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

Gedung Kimia Farma, dulunya Loji Bintang Timur

Menariknya, di masa Hindia Belanda, Jl. Budi Utomo tempat berdirinya Loji Bintang Timur ini diberi nama Vrijmetselaars Weg (Jalan Fremason). Namun organisasi Budi Utomo tidak ada hubungannya dengan Freemason, walaupun beberapa tokoh pentingnya merupakan anggota Freemason, seperti Dr. Radjiman Wedyodiningrat dan Pangeran Ario Notodirodjo. Fakta lainnya, Dr. Radjiman bukan pribumi pertama yang menjadi anggota Freemason.  Anggota Freemason pribumi pertama adalah Raden Saleh, pelukis pelopor aliran Romantisme di Nusantara. Raden Saleh diketahui menjadi Freemason ketika menempuh pendidikan di maestro lukis di Den Haag.

Gedung Bappenas, dulunya Loji Adhuc Stat

Tahun 1935, Freemason membuat loji baru di Kawasan Menteng bernama Loji Adhuc Stat, yang kini digunakan sebagai Gedung Bappenas. Bangunannya merupakan desain dari NE Burkoven Jaspers, dan dibangun sejak tahun 1934. Freemason bisa mendapatkan tanah untuk membuat loji, karena walikota Batavia saat itu merupakan anggota Freemason. Masyarakat mengenal gedung Bappenas sebagai Gedung Setan, karena sering dikira sebagai tempat pemujaan setan oleh para anggota Mason.