Showing posts with label sahabat museum. Show all posts
Showing posts with label sahabat museum. Show all posts

Saturday, May 23, 2026

Senja Temaram di Markas Pasukan Lapis Baja

Di awal Mei 2026, ketika urusan saya di kampus perguruan tinggi tertua di Indonesia sudah selesai, jam menunjukkan pukul 15.30. Masih ada sedikit waktu menikmati wisata dalam Kota Bandung sebelum matahari menghilang. Tapi... mau ke mana? Museum rata-rata sudah tutup. Mau kulineran, hampir semua sudah pernah dicoba. Mau belanja... ntar dulu ah. Yah, namanya pernah jadi warlok Bandung selama 9 tahun, hampir semua tempat pernah saya jelajahi...

Tiba-tiba saya teringat di IG saya lewat informasi tentang Museum Kavaleri di Bandung. Nah, baru nih! Dari akun IG @museum.kavaleri, tampaknya seru. Ada tank-nya, ada panser-nya, tapi kok ada kafenya ya? Cek lokasi, ah, ternyata lokasi masih di tengah kota, dan mudah untuk dijangkau. Oke, cusss...

Sisi Depan Museum Kavaleri

Awan kelabu yang menggantung di Bandung tidak mengurangi kegembiraan saat saya mendarat di Museum Kavaleri. Museum Kavaleri berlokasi di Kompleks Markas Pusat Kesenjataan Kavaleri, Jl. Gatot Subroto No. 98 dan 100, Bandung. Bangunan Museum Kavaleri menempati dua rumah dinas TNI AD yang sudah dipugar dan ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Nama “Kavaleri” sejatinya berasal dari kata “cavalerie” yang memiliki akar kata “chevalier” yang berarti “kuda” dalam bahasa Perancis. Jika saat ini kavaleri identik dengan kendaraan lapis baja, pada awal pembentukannya kavaleri adalah pasukan berkuda. Pasukan berkuda sudah digunakan untuk pertempuran sejak jaman Yunani Kuno. Saat ini Satuan Kavaleri TNI AD masih memiliki detasemen Kavaleri Berkuda, namun lebih banyak digunakan untuk keperluan seremoni.

Pasukan Berkuda, Cikal Bakal Kavaleri

Satuan Kavaleri TNI AD berawal dari kendaraan-kendaraan tempur bekas KNIL, Inggris, dan Jepang yang dirampas oleh para pejuang kita. Di Pertempuran Surabaya 10 November 1945, para pemuda telah menggunakan beberapa panser yang dirampas dari Jepang, Belanda, dan Inggris. Di bulan Desember 1949 hingga awal tahun 1950, dilakukan penyerahan kendaraan tempur eks KNIL kepada Angkatan Darat RI yang dilakukan di Palembang, Medan, Bandung dan Magelang. Pada tanggal 26 Juli 1950, dilakukan penyerahan secara simbolis kesatuan panser dari KNIL kepada KSAD Kolonel A.H. Nasution, yang kemudian menunjuk Letkol Kav KGPH R.M. Soerjo Soejarso untuk menerima pengalihan tersebut. Selanjutnya Letkol Soerjo Soejarso ditunjuk sebagai pimpinan tertinggi Pasukan Berlapis Baja di seluruh Indonesia. 

Letkol Kav. KGPH Soerjo Soejarso 

Kembali ke masa kini, saat melongok ke dalam bangunan museum, area cafenya memang lebih luas daripada area museum. Namun area yang digunakan untuk museum punya koleksi yang tertata rapi, dan lumayan lengkap. Nah, ini ternyata beneran museum... mata saya tertuju pada infografis di dinding, yang menceritakan tentang Letkol KGPH RM Soerjo Soejarso. Lho... beliau ternyata suaminya Gusti Nurul, putri Mangkunegara VII yang tersohor karena kecantikan dan intelektualnya (dan terkenal karena keteguhan beliau dalam menolak poligami). Baru tahu saya…

Koleksi Senjata Pasukan Kavaleri

Museum Kavaleri dipenuhi dengan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan korps kavaleri. Display yang pertama adalah peralatan-peralatan yang digunakan dalam pendidikan di korps kavaleri, termasuk topi tempur, overhead projector, dan slide projector. Ruangan berikutnya adalah senjata-senjata yang digunakan pasukan kavaleri, termasuk pelontar mortir kaliber 81 mm buatan Pindad dan M2 Mortar 60 mm buatan Amerika Serikat. Selanjutnya adalah satu ruangan yang didedikasikan untuk cikal bakal kavaleri, yaitu kuda. Terdapat koleksi jenis-jenis pelana dan tapal kuda yang digunakan untuk kuda kavaleri.

Pelana dan Tapal Kuda

Namun yang menjadi koleksi primadona museum ini tentunya koleksi tank dan panser yang dipasang di halaman dalam museum. Termasuk di antaranya adalah Panser V150 Intai, Panser Commando Scout, Tank AMX 13 Recovery, dan Panhard EBR. Salah satu panser yang menjadi koleksi museum ini adalah Saracen, jenis panser yang pernah digunakan mengangkut jenazah pahlawan revolusi. 

Panser Saracen

Sambil menikmati segelas es teh manis, saya duduk di café dan menikmati cuaca sendu menjelang matahari terbenam. Terlihat banyak keluarga yang hadir di tempat ini, ada yang sekadar mencari kudapan, ada juga yang melihat-lihat koleksi museum. Beberapa anak juga terlihat penasaran dengan koleksi tank dan panser yang ada di halaman dalam museum. Mungkin museum-museum di Indonesia perlu dibuat seperti ini, sehingga dapat menghilangkan kesan suram, kuno, dan membosankan, serta menarik pengunjung untuk datang dan berlama-lama di museum. Kapan-kapan, boleh deh balik lagi ke sini…


Friday, March 20, 2026

Sepasang Mata Bola Itu Bernama Rahmi

Minggu, 22 Februari 2026, pukul 13.30. Saya dan mas Dino memantapkan langkah memasuki halaman rumah di Jl. Diponegoro No. 57, Jakarta Pusat. Dulu, hampir tiap hari saya melewati rumah tersebut, tanpa tahu bahwa rumah itu merupakan kediaman Bung Hatta, Proklamator sekaligus wakil presiden pertama Republik Indonesia. Jadi hari ini sangat istimewa, karena kami berkesempatan memasuki rumah tersebut untuk menghadiri pameran Satu Abad Rahmi Hatta, yang diselenggarakan Yayasan Hatta. 

Rumah bergaya arsitektur Nieuwe Kunst bertingkat 2 seluas 1000 meter persegi ini dibangun pada tahun 1930, bersamaan dengan pengembangan kawasan Menteng. Rumah tersebut semula digunakan para pejabat perusahaan swasta Belanda Eropa. Di tahun 1942, rumah dikuasai oleh Jepang, dan pada tahun 1943 rumah diserahkan kepada Bung Hatta, sesuai dengan peran beliau sebagai penasihat pemerintahan pendudukan bala tentara Jepang.

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta dan keluarga tinggal di Istana Wakil Presiden di Jl. Medan Merdeka Selatan 13, yang merupakan bekas kediaman Simon Hendrik Spoor (sekarang menjadi gedung Kementerian BUMN). Setelah Bung Hatta mengundurkan diri pada 1 Desember 1956, Bung Hatta dan keluarga berpindah ke rumah di Jl. Diponegoro 57. Saat ini rumah di Jl. Diponegoro telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional berdasarkan SK No. PM.13/PW.007/MKP/05 tanggal 25 April 2005.

Kembali ke masa kini, di teras rumah telah menunggu beberapa orang yang juga mendaftar untuk sesi pukul 14.00. Sambil menunggu sesi dimulai, saya dan mas Dino mengamati sekeliling. Dari balik teralis jendela, terlihat ruang kerja yang dilengkapi lemari buku. Ah, apakah ini ruang kerja Bung Hatta? Apakah nanti kami bisa memasuki ruangan tersebut? 

Surat Cinta antara Bung Hatta dan Bu Rahmi

Pukul 14.00, sesi kami dimulai. Bersama kami terdapat 10 orang peserta lainnya. Kami disambut Ibu Meutia dan Ibu Halida, putri sulung dan putri bungsu Bung Hatta. Ibu Halida memandu kami melihat sebuah ruangan penuh memorabilia Ibu Siti Rahmiati Hatta, atau kita kenal sebagai Ibu Rahmi Hatta. Ibu Rahmi lahir di Bandung pada 16 Februari 1926, sehingga pameran ini bertema satu abad Ibu Rahmi Hatta. Berbagai memorabilia Ibu Rahmi dipamerkan dalam ruangan yang tidak terlalu besar ini, mulai dari patung dada, foto-foto, catatan Ibu Rahmi, surat cinta antara Bung Hatta dan Ibu Rahmi, hingga parfum kesukaan Ibu Rahmi. Berada di ruangan itu terasa hangat, sehangat sosok Ibu Rahmi seperti yang dideskripsikan oleh Ibu Halida dan dipancarkan oleh memorabilia Ibu Rahmi.

Di balik surat cinta antara Ibu Rahmi dan Bung Hatta, terdapat andil Bung Karno yang “menjodohkan” Ibu Rahmi dengan Bung Hatta. Kedua orang tua Bu Rahmi adalah teman-teman pergerakan Bung Karno dan Bu Inggit di selama Bandung. Ayah Bu Rahmi, Abdul Rachim, berasal dari Purwokerto, pegawai maskapai Staatsspoorwegen yang aktif dalam Kepandoean Bangsa Indonesia. Sedangkan ibunya adalah Siti Satiah “Annie”, putri Tengku Mohammad Nurdin, yang juga aktif di organisasi perempuan Wanito Sejati.

Mohammad Hatta pertama kali bertemu dengan Rahmi dalam sebuah kunjungan ke Instituut Pasteur, Bandung, tempat Rahmi bekerja. Meski jatuh hati, Hatta tidak segera meminang Rahmi, karena Hatta berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Setelah proklamasi, Hatta dengan ditemani Bung Karno mendatangi orang tua Rahmi untuk melamar. Menurut Bu Halida, konon Bung Karno tidak langsung menyampaikan maksud melamar Rahmi untuk Bung Hatta. Pada kunjungan pertama, Bung Karno masih berbasa-basi, menanyakan adakah wanita cantik yang ada di Bumi Priangan. Baru pada kunjungan kedua Bung Karno mengantar Bung Hatta melamar Rahmi. Mereka menikah pada 18 November 1945 di Megamendung, dengan maskawin buku karya Bung Hatta berjudul Alam Pikiran Yunani, yang ditulis Bung Hatta ketika diasingkan di Boven Digoel.

Bu Halida dan Bu Meutia Menyambut Pengunjung Pameran

Selama berada di ruangan tersebut, samar-samar terdengar lagu Sepasang Mata Bola. Sepemahaman saya, lagu tersebut diilhami oleh kisah perjuangan saat Republik Indonesia berdiri, ketika para founding fathers harus mengungsi ke Yogyakarta untuk keselamatan mereka. Mereka mengungsi ke Yogya menggunakan kereta api pada tanggal 4 Januari 1946, ketika Bung Hatta dan Bu Rahmi masih menjadi pengantin baru. Dikisahkan oleh Bu Halida, lagu Sepasang Mata Bola diciptakan oleh Ismail Marzuki, terilhami ketika melihat Bung Hatta dan Bu Rahmi turun dari kereta di Stasiun Yogyakarta. Mendengar cerita tersebut, saya langsung menatap foto ketika Bung Hatta dan Bu Rahmi menikah di Mega Mendung di tahun 1945. Terlihat sosok Bu Rahmi yang kala itu baru berusia 19 tahun, berparas cantik dengan sepasang mata yang bulat bersinar. Tak heran jika Ismail Marzuki terpesona melihat beliau, dan terilhami untuk membuat lagu yang indah ini…

Di antara memorabilia Ibu Rahmi, terdapat catatan bu Rahmi yang ditulis tangan. Menurut Bu Halida dan Bu Meutia, bu Rahmi sangat gemar belajar hal baru. Di antara catatan tersebut, terdapat catatan belajar masak dan belajar bahasa asing. Bu Rahmi pernah belajar beberapa bahasa asing, termasuk bahasa Prancis, Jerman, Spanyol, dan aksara Arab. 

Dari ruang memorabilia, kami berpindah ke ruang tengah. Terlihat sebuah kain bludru hitam dengan bordir emas terletak di atas meja. Rupanya kain hitam tersebut adalah kiswah atau penutup ka’bah dari Raja Abdulazis bin Abdul Rahman Al Saud dari Arab Saudi pada tahun 1952, saat melawat ke Tanah Suci. Sebagai fakta tambahan, Bung Hatta merupakan pejabat Indonesia pertama yang menerima kain kiswah. Di atas penutup ka’bah tersebut, terdapat lukisan Mega Mendung, lengkap dengan Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebagai latar belakangnya. Lukisan tersebut diberikan oleh Bung Karno kepada Bu Rahmi pada 6 Juni 1957, sebagai pertanda Bung Karno memasuki usia 50 tahun. Menariknya, Bung Karno membahasakan dirinya sebagai “Oom”, mengingat beliau merupakan teman dari orang tua Bu Rahmi.

Gramofon

Di sisi lain ruangan, terdapat gramafon modern. Benda ini mencerminkan kecintaan Bu Rahmi terhadap musik. Bu Rahmi gemar menikmati musik klasik, jazz, dan berbagai genre lainnya, serta mengoleksi piringan hitam yang banyak didengarkan antara 1959-1968. Di ruang depan rumah terdapat piano klasik buatan tahun 1904, yang tutsnya masih terbuat dari gading. Piano ini sering dimainkan oleh Bu Rahmi, dan masih terawat dengan baik.

Ruang Kerja Bung Hatta

Yang paling menggetarkan hati adalah ketika kami diijinkan untuk memasuki ruang kerja Bung Hatta, yang terletak di bagian depan rumah. Ruangan yang sempat kami “intip” saat kami menunggu di teras rumah. Ruangan di mana Bung Hatta membaca buku-buku referensi dan menuangkan pikiran-pikirannya. Membayangkan Bung Hatta seharian duduk di ruangan tersebut, mempersiapkan bahan ajar atau menulis buku… energinya masih terasa dengan kuat. Masih ada beberapa memorabilia Bung Hatta di ruangan tersebut, termasuk ijasah Bung Hatta saat berkuliah di Belanda, sertifikat doctor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada, termasuk kacamata yang digunakan Bung Hatta saat bekerja.

Foto Bersama Bu Meutia dan Bu Halida

Di akhir kunjungan, setelah berfoto bersama Bu Meutia dan Bu Halida, seluruh peserta open house mendapatkan buku yang disunting oleh Ibu Meutia. Buku tersebut berisi kumpulan tulisan anak, menantu dan cucu Ibu Rahmi tentang sosok Siti Rahmiati Hatta dan kenangan bersama beliau. Sambil membubuhkan tanda tangan di buku tersebut, Ibu Meutia berpesan, jangan lupa bukunya dibaca. Sepanjang perjalanan pulang, bahkan hingga tiba di rumah, dan ketika membaca buku tersebut, terbayang-bayang sosok Ibu Rahmi Hatta: seorang perempuan cantik, intelektual, penuh kehangatan, dan setia sebagai belahan jiwa Bung Hatta dalam kondisi apa pun.


Friday, March 28, 2025

Napak Tilas Kereta Api BOS

Panasnya kawasan kota tua di tengah bulan Ramadhan tahun 2025 tidak menyurutkan para peserta Pelesiran Tempo Doeloe Sahabat Museum yang sudah berniat ngabuburit dengan napak tilas jalur kereta yang di jaman baheula dikelola oleh BOS. Tapi omong-omong, siapa si BOS ini?

Rombongan PTD Sahabat Museum

BOS adalah Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menguasai jalur kereta api sepanjang 63 km yang menghubungkan Batavia dengan Krawang via Meester Cornelis dan Bekasi. Singkatan namanya sebenarnya BOS atau BOSM, namun lidah penduduk lokal mungkin menyebutnya sebagai Be-OS, sehingga lama-lama masyarakat menyebutnya sebagai BEOS.

Fasad Stasiun Jakarta Kota (Stasiun BEOS) sebelum pandemi

Napak tilas hari ini dimulai di Stasiun Jakarta Kota, yang sering disebut sebagai Stasiun BEOS. Sebenarnya nama ini salah kaprah, karena Stasiun Jakarta Kota (atau nama aslinya Stasiun Benedenstad) yang kita kenal saat ini bukan milik BOS, melainkan dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS). Stasiun BEOS yang asli adalah Stasiun Batavia Zud, yang saat ini sudah dibongkar. Stasiun Jakarta Kota merupakan titik nol jalur kereta api di Pulau Jawa (kita bisa melihat pal titik nol-nya di Jalur 7), dan bertipe stasiun terminus (ujung) yang tidak memiliki jalur lanjutan lagi. Cirinya adalah adanya stopper atau sepur baduk di ujung rel.

Pal Titik Nol Km Rel Kereta Api di Jalur 7

Bangunan stasiun Jakarta Kota merupakan rancangan arsitek Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels. Ghijsels mendesain bangunan stasiun dengan gaya art deco, yang walaupun sederhana, memiliki cita rasa tinggi. Konon, Stasiun Jakarta Kota merupakan salah satu karya terbaik Ghijsels. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dalam bentuk pesta satu hari satu malam. Di jaman pendudukan Jepang, semua nama yang berbau-bau Jepang diganti, sehingga stasiun ini berganti nama menjadi Stasiun Djakarta.

Hall Stasiun Jakarta Kota dengan ciri khas lengkung Art Deco

Salah satu benda yang menarik perhatian di Stasiun Jakarta Kota adalah sebuah jam kuno di tengah peron. Jam ini sebenarnya bukan asli milik Stasiun Batavia Benedenstad, melainkan dari Stasiun Sukabumi yang dibangun tahun 1882, yang diserahkan ke Stasiun Jakarta Kota pada tahun 2009. Jam antik ini diperkirakan dibuat pada tahun 1881, dan diduga diimpor oleh FM Ohlenroth, sebuah toko jam mewah di Hindia Belanda.

Jam Antik Stasiun Jakarta Kota

Dari Stasiun Jakarta Kota, napak tilas berlanjut dengan KRL menuju Stasiun Senen, transit di Kampung Bandan. Kami nyaris ketinggalan kereta transit, karena terlalu asyik ngobrol di peron atas! Hahaha… tenang, masih ada KRL yang akan lewat. Karena KRL yang kami naiki ternyata tidak berhenti di Senen, kami harus turun di stasiun Gang Sentiong, untuk kemudian naik KRL arah balik dan turun di Stasiun Pasar Senen.

Stasiun Pasar Senen, sesuai namanya, didirikan untuk mendukung pengembangan Pasar Senen, pasar tertua di Batavia yang didirikan pada tahun 1733. BOS membuka Stasiun Pasar Senen pada 31 Maret 1887 sebagai sebuah perhentian kecil. Lokasinya bukan di stasiun yang sekarang, melainkan di sekitar Gelanggang Remaja Jakarta Pusat. Pembukaan stasiun ini bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api Batavia—Bekasi. Jalur ini kemudian dibeli oleh SS pada tahun 1898 karena utang BOS yang membengkak.

Fasad Stasiun Pasar Senen

Seiring peningkatan arus penumpang, Stasiun Pasar Senen kemudian dipindahkan dan dibangun ulang pada tahun 1916, di lokasi yang sekarang. Bangunan stasiun generasi pertama yang dibangun BOS kemudian dialihfungsikan menjadi gudang, sebelum dibongkar untuk pembangunan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat.

Rombongan Sahabat Museum di Peron Stasiun Pasar Senen

Bangunan Stasiun Pasar Senen yang sekarang kita kenal diresmikan pada tanggal 19 Maret 1925, bertepatan dengan 50 tahun SS pada 6 April 1925, sekaligus untuk menyambut layanan baru SS yaitu elektrifikasi jalur Tanjung Priok-Meester Cornelis, yang menjadi cikal bakal KRL yang kita kenal sekarang. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Johan van Gendt, dengan gaya arsitektur Neo-Indische.

Kanan: Dekorasi khas Art Deco di Stasiun Pasar Senen
Kiri: Terowongan Stasiun Pasar Senen

Stasiun Pasar Senen dirancang sebagai stasiun pulau, dan merupakan stasiun pertama yang memiliki terowongan untuk lalu lintas penumpang yang masih berfungsi sampai saat ini. Di sisi peron penumpang kereta api jarak jauh, kita bisa melihat tiang bergaya art deco yang terbuat dari logam, yang diduga digunakan untuk meletakkan lampu. Posisi tiang yang berada di dekat terowongan membuka dugaan lampu di tiang tersebut berfungsi untuk menerangi terowongan tempat lalu lalang penumpang.

Puas melihat-lihat Stasiun Pasar Senen, rombongan melanjutkan perjalanan menuju pemberhentian terakhir di Stasiun Jatinegara. Karena KRL arah Jatinegara tidak berhenti di Stasiun Pasar Senen, kami harus naik KRL ke Stasiun Kemayoran, baru berpindah ke KRL arah Jatinegara. Melewati stasiun Pondok Jati yang berlokasi di sekitar Palmeriam, teringatlah kisah Gang Solitude, sebuah lokasi yang terkait dengan Perang Napoleon di Jawa (silakan lihat di sini).

Tampak Depan Stasiun Jatinegara

Dan akhirnya, tibalah kami di Stasiun Jatinegara. Stasiun Jatinegara ini aslinya adalah Stasiun Meester Cornelis yang dibangun SS dan mulai beroperasi pada 15 Oktober 1909. Sedangkan Stasiun Meester Cornelis milik BOS dibangun pada 1887 dan mulai beroperasi pada 31 Maret 1887, bersamaan dengan pembukaan jaringan kereta api Batavia-Meester Cornelis-Bekasi pada 31 Maret 1887. Karena menghadapi masalah keuangan, tahun 1889 jaringan rel Batavia-Bekasi dibeli oleh SS, termasuk Stasiun Meester Cornelis BOS. Lokasi Stasiun Meester Cornelis BOS terletak di dekat Depo Jatinegara saat ini.

Atap Ciri Khas Stasiun Jatinegara

Bangunan Stasiun Jatinegara dirancang oleh arsitek Ir. Simon Snuyf. Gaya arsitekturnya merupakan perpaduan antara Indische Empire dan kolonial modern. Ciri khas dari bangunan Stasiun Jatinegara adalah atap yang sangat miring, menyerupai gaya bangunan di Belanda. Di puncak bangunan terdapat menara yang berfungsi seperti mercusuar serta untuk penerang ruangan. Saat ini bangunan lama Stasiun Jatinegara masih dipertahankan, sementara di bagian belakang stasiun sudah berdiri bangunan baru yang lebih modern yang mampu menampung penumpang lebih banyak.

Rombongan Sahabat Museum di Stasiun Jatinegara

Gara-gara sempat mampir ke Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Jatinegara, jadi pengen naik kereta api ke luar kota. Jadi, kapan kita naik kereta api ke Surabaya?

Perang Napoleon di Jatinegara

Tahukah Anda, Jatinegara pernah menjadi saksi berbagai pertempuran, termasuk Perang Napoleon? Mungkin tidak banyak yang sadar, dampak Perang Napoleon ternyata sampai juga ke Nusantara, bersamaan dengan masuknya Inggris untuk menguasai Nusantara. Ini tidak lepas dari pergolakan politik di Eropa. 

Berawal di tahun 1810 ketika Belanda takluk dari Perancis, sehingga seluruh daerah kekuasaannya diambil Perancis, termasuk Hindia Belanda. Inggris yang berupaya mengurangi kendali Prancis atas Hindia Belanda mengirimkan ekspedisi militer di pertengahan 1811 di bawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty. Jumlahnya luar biasa, mencapai 12.000 tentara dan 100 kapal, termasuk 4 kapal perang, 14 kapal pengawal, 7 kapal penjaga, dan 8 kapal penjelajah East Indian Company. Sejarah mencatat ekspedisi ini menjadi ekspedisi militer laut terbesar sebelum Perang Dunia Kedua.

Minggu, 4 Agustus 1811, konvoi militer ini tiba di Teluk Batavia, kemudian masuk ke Batavia melalui pantai Cilincing. Pada tanggal 10 Agustus 1811, pasukan Inggris telah menguasai benteng di Weltevreden. Pasukan Inggris kemudian bergerak ke arah kamp militer pasukan Prancis di Meester Cornelis. Kamp ini dilindungi benteng pertahanan di pinggir anak Ciliwung, yang dikenal sebagai The Slokan. Pada akhirnya, kamp militer ini berhasil dikuasai. Kekuasaan Prancis di Nusantara berakhir setelah Kapitulasi Tuntang pada 16 September 1811 yang menandai penyerahan kekuasaan dari Prancis ke Inggris.

Stasiun Jatinegara, pernah jadi Stasiun Meester Cornelis
atau Stasiun Rawa Bangke

Pertempuan antara Inggris dan Prancis di Meester Cornelis meninggalkan beberapa penanda. Di antaranya adalah daerah yang bernama Rawa Bunga. Konon di kawasan ini dulu banyak mayat korban pertempuran serdadu Inggris dan Perancis, sehingga awalnya dinamakan Rawa Bangke. Di dekat Rawa Bangke inilah berdirinya Stasiun Meester Cornelis yang sekarang kita kenal sebagai Stasiun Jatinegara.

Anak Sungai Ciliwung (The Slokan)di Jl. KH Ahmad Dahlan - Palmeriam
pernah jadi bagian benteng pertahanan pasukan Prancis

Selain itu, ada sebuah tempat yang dikenal warga lokal Palmeriam sebagai Gang Solitude, yang saat ini menjadi Jl. KH Ahmad Dahlan. Tempat ini merupakan bagian dari benteng pertahanan kamp militer Perancis pada awal abad 19. Solitude sendiri bermakna “hening”. Konon nama ini berasal dari situasi ketika ada gudang mesiu yang meledak, di mana setelah ledakan itu terjadi keheningan yang luar biasa.

Suasana Gang Solitude di Era Millenials

Pada tahun 1820, kamp militer Meester Cornelis berubah fungsi menjadi penjara. Setelah kembali ke tangan pemerintah kolonial Hindia Belanda, kamp militer Meester Cornelis tetap digunakan sebagai kamp militer. Kamp militer ini dilengkapi kompleks perumahan dinas perwira Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) yang dikenal sebagai Generaal Staallaan. Rumah-rumah di kompleks tersebut memiliki gaya Indisch yang dipadu ornamen ala Betawi dan Jawa.

Roemah Djatinegara, salah satu peninggalan
General Staallaan

Selain para perwira KNIL yang umumnya berkebangsaan Belanda yang menempati kompleks tersebut, terdapat satu perwira KNIL pribumi berpangkat Kapten yang menempati salah satu rumah dinas. Beliau adalah Oerip Soemohardjo, yang menempati rumah dinas di kompleks ini antara tahun 1928-1933. Oerip Soemohardjo adalah Kepala Staf Umum TKR pertama di tahun 1945. Dulu beliau menempati rumah dinas di Generaal Staallaan nomor 17. Saat ini rumah tersebut menjadi sekolah karate.

Rombongan Sahabat Museum di salah satu rumah Generaal Staallaan

Jatinegara juga menjadi saksi pertempuran mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat sejak November 1945-Januari 1946, kerap terjadi pertempuran besar antara pemuda Indonesia melawan serdadu Inggris/Belanda di sepanjang jalur Pasar Senen-Kramat Raya-Meester Cornelis (Jatinegara). Puncaknya terjadi ketika para serdadu Inggris/Belanda di awal Jamuari 1946 datang dari arah Senen menyerbu ke Jatinegara. Para pemuda Republik dari berbagai etnis (Betawi, Tionghoa, Sunda, Jawa, Batak, Minahasa, Ambon dll) sudah melakukan penghadangan di sekitar Stasiun Rawabangke dan di bawah viaduct Jatinegara. Pertempuran pun berlangsung hebat dan menimbulkan korban di kedua pihak.

Patung Perjuangan Jatinegara
di depan Gereja Koinonia

Peristiwa ini diabadikan dalam sebuah monumen di depan gereja Koinonia, yang diresmikan pada 7 Juni 1982. Patung tersebut menggambarkan 2 orang pejuang, yang merupakan ayah dan anak. Mereka tergabung dalam  laskar KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi) yang aktif di wilayah Jakarta pada 1945-1946. Sang bapak bernama Martinus Runtunuwu, sedangkan patung anak menggambarkan putra bungsunya yang bernama Bernard. Dalam usia masih sangat muda (13 tahun), Bernard sudah ikut bersama ayahnya dalam pertempuran di Stasiun Rawa Bangke dan Viaduct, kendati hanya bersenjata sebuah katapel. Dikisahkan, Bernard Runtunuwu kemudian ikut bersama satu regu pasukan KRIS pimpinan Decky Pontoan, yang bertugas mempertahankan front Karawang.  Pada pertengahan Februari 1946, Bernard gugur di Rawa Buaya saat pasukannya harus berhadapan dengan satu unit tentara Belanda.

Saturday, September 21, 2024

Wisata Pemakaman PD II (7): Ereveld Kalibanteng

Menuntaskan perjalanan saya ke 7 ereveld di Indonesia, dari Ereveld Candi, saya menuju ke Ereveld Kalibanteng, yang terletak tak jauh dari bandara Ahmad Yani Semarang, bersebelahan dengan Kawasan Pusdik Penerbad, Pangkalan Udara Ahmad Yani. Secara resmi, Ereveld Kalibanteng beralamat di Jl. Siliwangi 293, Semarang, terletak di tepi jalan raya yang merupakan bagian dari Jalan Raya Pos yang dibangun oleh H.W. Daendels. 

Diresmikan pada tanggal 22 April 1949, tempat ini merupakan tempat peristirahatan 3100 korban perang, sebagian besar merupakan korban sipil dari kamp konsentrasi tentara Jepang di Jawa Tengah, seperti Ambarawa, Banyubiru, Lampersari, Halmahera, Bangkong, Gedangan, dan Karangpanas. Pada saat penggabungan ereveld di Indonesia, Ereveld Kalibanteng menerima pemindahan makam dari ereveld di Tegal, Kobong, Blora, Tarakan (1964), Balikpapan (1967), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Saat tiba di Ereveld Kalibanteng, pintu gerbang dalam keadaan terbuka, sehingga saya masuk ke dalam. Saya bertemu pak Eko, penjaga ereveld yang sedang merawat tanaman. Setelah menjelaskan maksud saya berkunjung ke ereveld, Pak Eko mempersilakan saya untuk melihat ke dalam.

Ereveld Kalibanteng yang dikelilingi pohon cemara

Ereveld ini berbentuk segitiga sama sisi, dengan sekeliling lahan ereveld terdapat parit besar yang berisi air. Menurut pak Eko, air pada parit ini berasal dari sungai, dan digunakan untuk perawatan tanaman di Ereveld. Jika melihat dari dalam ke arah jalan raya, akan terlihat pemandangan Gunung Ungaran di kejauhan. Namun kontras dengan Ereveld Candi, Ereveld Kalibanteng terletak di dataran dekat pantai, hanya beberapa ratus meter dari tepi laut. Salah satu keunikan lain dari ereveld ini adalah deretan pohon cemara yang mengelilingi lahan ereveld.

Bagian Malam Perempuan di Sisi Barat Ereveld

Ereveld Kalibanteng dikenal sebagai “Vrouwen-Ereveld” (Ereveld Perempuan), karena banyaknya wanita dan anak-anak yang dimakamkan di tempat ini. di mana di sisi barat digunakan untuk makam wanita, dan di sisi timur digunakan mayoritas untuk makam pria. Sedangkan makam anak-anak terdapat di area tengah, menghadap ke jalan raya. Di Ereveld Kalibanteng juga terdapat pemakaman muslim, yang terletak di sisi belakang ereveld.

Monumen Peti Mati untuk
Korban Perempuan Tak Dikenal

Di dekat tiang bendera terdapat patung batu berbentuk peti mati. Jika biasanya peti mati tersebut untuk mengenang prajurit tak dikenal, kali ini peti mati tersebut ditujukan khusus untuk mengenang korban perempuan tak dikenal. Di seberang peti mati terdapat lempengan batu peringatan dari marmer putih dengan teks yang ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris yang berbunyi “Ter eerbiedige negadachtenis aan de vele ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.”, yang bermakna untuk mengenang mereka yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan.

Monumen "Jongen Kampen"

Berjalan ke arah belakang melintasi jalur yang diapit 18 pilar, terlihat dua buah monumen yang mencerminkan keberadaan Perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perang. Monumen pertama adalah monument “Jongen Kampen” (Kamp Anak Laki-Laki) karya Anton Beysens pada tahun 1988. Monumen ini untuk mengenang para anak lelaki yang dipisahkan dari ibunya dan gugur di kamp konsentrasi laki-laki, seperti di di Ambarawa, Bangkong, Gedongjati, dan Cimahi. Patung perunggu tersebut menunjukkan seorang anak lelaki kurus yang membawa pacul di atas pundaknya, bersandar pada kapak, dan tubuhnya hanya dibalut selembar kain. Terdapat tulisan pada monumen itu “Zij waren nog zo jong”, yang bermakna “Mereka masih sangat muda”.

Monumen Perempuan

Di seberang monumen ini terdapat taman dengan monumen dua orang wanita buatan Marian Gobius pada tahun 1954. Monumen perunggu tersebut menggambarkan seorang wanita yang bangga dan berdiri tegap, tengah memegang wanita lain yang membungkuk, seolah berusaha menenangkan. Mereka sama-sama menggandeng tangan seorang anak kecil yang berada di antara mereka berdua. Monumen ini menggambarkan perasaan senasib antara Wanita dan anak-anaknya, khususnya di masa sulit tersebut. 

Wisata Pemakaman PD II (6): Ereveld Candi

Setelah beberapa waktu, akhirnya saya berkesempatan ke Semarang (lebih cepat daripada perkiraan saya), yang saya manfaatkan untuk menuntaskan perjalanan mengunjungi 7 Ereveld yang ada di Indonesia. Pagi itu cuaca sangat cerah, ketika saya memulai perjalanan menuju Ereveld Candi.

Ereveld Candi terletak di Jl. Taman Jendral Sudirman 4, Bendungan Gajahmungkur, Candi Baru, di atas bukit di sisi selatan Kota Semarang. Ereveld ini dibangun atas inisiatif pasukan pertama Belanda dari Tijgerbrigade (T-Brigade) yang mendarat di Semarang pada 12 Maret 1946. Mereka memilih tempat pemakaman untuk rekan-rekan mereka yang gugur di puncak bukit Candi, yang saat itu merupakan Tillemaplein (Taman Tillema, diberi nama dari Hendrik Freerk Tillema, pendiri air minum kemasan pertama di Semarang). Pemakaman tersebut dirancang oleh Letnan Satu Ir. H. Stippel dari pasukan zeni. Pemakaman ini diresmikan pada bulan Maret 1947 dan diberi nama Ereveld Tillemaplein. Namun pada tahun 1967, atas permintaan dari pihak Indonesia, nama ereveld ini berubah menjadi Ereveld Candi.

Ereveld Candi di bawah naungan Gunung Ungaran

Ketika saya tiba di gerbang ereveld ini, yang pertama kali menarik perhatian adalah panorama gunung Ungaran yang seolah menaungi Ereveld Candi. Ini bukan satu-satunya ereveld yang memiliki panorama gunung, karena Ereveld Pandu dan Ereveld Leuwigajah pun juga dinaungi oleh gunung. Namun keunikan dari Ereveld Candi adalah letaknya di lereng bukit, sehingga lahannya dibentuk seperti terasering, dengan 5 teras yang berbentuk setengah lingkaran, Masing-masing teras dihubungkan dengan tangga dari batu alam. 

Karena saya tidak melihat petugas di dekat pintu (dan bel pintu sepertinya tidak berfungsi), saya mencoba membuka gerbang yang tidak dikunci. Dari jauh terlihat ada beberapa petugas sedang melakukan perawatan tanaman ereveld. Di kantor ereveld ternyata ada petugas yang sedang bekerja di depan computer, yang kemudian mengijinkan saya untuk melihat ke dalam ereveld. 

Dari informasi yang saya baca dari berbagai sumber, tempat ini merupakan satu-satunya ereveld khusus militer di Indonesia. Dan sejauh mata memandang nisan-nisan yang ada di Ereveld Candi, terlihat bahwa semua yang dimakamkan di tempat ini adalah laki-laki, tidak ada perempuan. Demikian juga tidak ada orang muslim yang dimakamkan di sini, hanya ada beberapa makam Yahudi dan Tionghoa.

Pada awal didirikan, tempat ini hanya ditujukan untuk memakamkan kembali seluruh tentara yang gugur masa perang kemerdekaan di Jawa Tengah. Namun pada akhirnya tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir para tentara yang gugur di Jawa Tengah pada masa Perang Dunia II. Saat ini hampir 1000 anggota tentara Belanda (KNIL) yang dimakamkan di tempat ini, termasuk menampung makam yang dipindahkan dari pemakaman tentara Belanda di Kampung Ploso (Pacitan), Gundih (Semarang), Mario Tjamba (Maros), Patjinang (Makassar), dan Palembang, antara tahun 1960-1970.

Monumen Salib

Tempat ini memiliki monumen salib berwarna putih berukuran besar yang terletak di bagian tengah pemakaman, dihiasi jalan setapak yang terbentuk dari batu-batu alam. Di bagian kaki salib tersebut terdapat prasasti dengan tulisan “Voor Veiligheid en Recht”, atau berarti “For Security and Justice”, yang menjadi titik fokus untuk merefleksikan kedua nilai ini. Pada tangga menuju salib, terdapat plakat yang menandakan ucapan dari Palang Merah Semarang. Pada tangga sisi kanan menuju salib, terdapat plakat bertulisan “Uw plichtsbetrachting maakte ons werk van naastenliefde mogelijk” dari Roode Kruis Semarang (Palang Merah Semarang pada masa Agresi Militer), yang bermakna “Pengabdian Anda pada tugas membuat pekerjaan amal kami bisa terwujud.”

Seperti di ereveld lain, terdapat monument untuk mengenang mereka yang gugur dalam perang namun tak dimakamkan di ereveld. Jika di ereveld lain monumen tersebut dalam bentuk patung peti mati, maka di Ereveld Candi monument tersebut dalam bentuk sebongkah batu berbentuk persegi di dekat tiang bendera, yang bertuliskan “Ter eerbiedige nagedachtenis aan de velle ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.” (Untuk mengenang banyak orang yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan). 

Monumen II-13 R.I.

Terdapat juga monumen untuk memperingati gugurnya 8 tentara dari Batalyon II – 13 R.I. (Regiment Infanterie), atau dikenal sebagai Batalyon Limburg. Delapan orang yang namanya terdapat di monumen tersebut sepertinya tidak dimakamkan di ereveld Candi. Batalyon II-13 sebelumnya memperkuat tentara Sekutu di Munich-Gladbach, sebelum diberangkatkan menuju Indonesia melalui Inggris pada 12 Oktober 1945, dan mendarat di Semarang pada 9 Maret 1946. Selama bertugas di Indonesia, mereka berada di bawah pimpinan Letnan Kolonel D.A. Erdman. Mereka sempat ditugaskan di Semarang, Salatiga, Pameungpeuk, Garut, Darmaredja, Gempol, dan Plered, sebelum pada 26 Februari 1948 mereka dipulangkan ke Belanda. 


Saturday, August 24, 2024

Sultan Agung vs VOC di "Kota Tahi"

Anda mungkin sering mendengar cerita pertempuran antara pasukan Mataram Islam yang dikirim Sultan Agung untuk berperan melawan VOC di Batavia yang berakhir dengan kekalahan pasukan Mataram karena dilempari tinja oleh pasukan VOC. Tapi pernahkah Anda mencari tahu, di mana persisnya lokasi pertempuran dengan amunisi aneh tersebut?

Di tanggal 11 Agustus 2024 yang lalu, Sahabat Museum melakukan Plesiran Tempo Doeloe bertajuk Koetika Kompeni Terpodjok, dengan mengunjungi bekas lokasi Fort Hollandia, sebuah bastion yang berada di ujung terluar tembok kota Batavia, yang menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Mataram dan pasukan VOC tersebut. Namun sebelum tiba di bekas lokasi Fort Hollandia, sejenak kita akan kilas balik perjalanan pasukan Mataram menuju Batavia di tahun 1628, di bawah pimpinan Ki Mandurareja. Perjalanan dari keraton Mataram di Kerto menuju Batavia memakan waktu selama 3 bulan, melalui Kulon Progo-Prembun-Pekalongan-Tegal-Cirebon-Sumedang- Cianjur-Pakuan (Bogor), untuk kemudian naik rakit menyusuri Ciliwung menuju Batavia. Tak hanya pasukan berjalan kaki, Sultan Agung juga mengirim pasukan pendahuluan melalui laut yang dipimpin Tumenggung Bahureksa. 

Di bulan Agustus 1628, pasukan Mataram telah mengepung Kota Batavia selama sebulan penuh. Pada malam tanggal 21 September 1628, para prajurit Mataram berusaha mendekati Fort Hollandia (atau lebih tepatnya Redoute Hollandia) yang merupakan pertahanan terakhir VOC. Mereka berusaha memanjat kubu atau menghancurkan tembok, serta menembaki kubu dengan bedil laras panjang. Di dalam kubu, Sersan Hans Madelijn beserta 24 serdadunya mencoba bertahan. Pihak VOC sempat kewalahan, hingga mereka kehabisan amunisi. Madelijn memiliki gagasan sinting. Ia meminta anak buahnya membawa sekeranjang penuh tinja. Dengan putus asa, pasukan VOC melemparkan kantong berisi tinja ke tubuh-tubuh prajurit Mataram yang merayapi dinding kubu Hollandia. Sekejap pasukan Mataram lari tunggang-langgang karena terkena peluru tinja tersebut. Hari berikutnya, pasukan Mataram mundur, dan serangan pun gagal. Inilah yang menjadi sumber nama “Kota Tahi”, julukan pasukan Mataram untuk kubu Hollandia.

Kisah pertempuran tersebut tercatat dalam beberapa sumber. Di antaranya adalah laporan Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen pada Dewan Hindia per 3 November 1628, Namun dalam laporan tersebut, Coen tidak menyebutkan adanya amunisi unik yang digunakan untuk menghalau pasukan Mataram. Kisah tersebut tertulis dalam sebuah buku berjudul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an Tartarischen Cham (terbit tahun 1669), serta dalam Babad Tanah Jawi. Di abad berikutnya, kisah ini juga tertulis dalam buku History of Java Volume II karya Thomas Stamford Raffles, serta dalam buku Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, yang terbit pada 1911.

Rombongan Batmus di Situs Bekas Kubu Hollandia

Lalu, di mana lokasi sesungguhnya kubu Redoute Hollandia? Napak tilas dalam Pelesiran Tempo Doeloe kali ini membawa kami menelusuri Jl. Pinangsia Timur hingga ke ujung, blusukan di antara kompleks ruko dan pemukiman padat. Di ujung timur Jl. Pinangsia Timur, dibatasi oleh aliran Sungai Ciliwung, terdapat tapak bekas kubu Hollandia. Jika dibandingkan dengan peta lama dari jaman VOC, aliran Sungai Ciliwung yang pernah membatasi kubu Hollandia masih memiliki alur dan pola yang sama dengan yang kami lihat saat ini.

Lalu, seperti apakah rupa bangunan kubu Hollandia tatkala Mataram menyerbu Batavia pada 1628? Bang Ade Purnama sebagai penggerak Sahabat Museum menunjukkan gambar bahwa terdapat 2 rujukan yang memberikan gambaran berbeda. Dalam sebuah sumber tertulis, terdapat informasi bahwa kubu tersebut berbentuk Menara dengan pagar deretan kayu berujung runcing. Rujukan lain dari peta karya Frans Florisz. van Berckenrode berangka tahun 1627) menunjukkan bahwa pertahanan di timur kota itu berupa dinding batu yang melintang dari selatan hingga ke utara.  Di masa Gubernur Jendral Johan Camphuijs, kubu tersebut pernah dimasukkan dalam daftar monumen bersejarah. Namun disayangkan, bangunan tersebut menghilang di tahun 1766.

Posisi Situs Bekas Kubu Hollandia dari arah Jembatan Manggis

Setelah mendapatkan banyak cerita tentang pertempuran prajurit Mataram dan serdadu VOC di titik yang merupakan bekas tapak kubu Hollandia, kami berjalan kaki menyeberangi Sungai Ciliwung, memasuki Jl. Manggis 1, menuju Jembatan Manggis. Dari arah Jembatan Manggis, terlihat lebih jelas bekas lokasi kubu Hollandia dari arah Sungai Ciliwung. Bisa dibayangkan, kurang lebih demikianlah sudut pandang pasukan Mataram saat mendekati kubu Hollandia untuk melakukan penyerbuan. Dan hari ini, tempat yang pernah menjadi saksi sejarah pertempuran legendaris antara Mataram dan VOC tersebut hanya menyisakan keheningan tanpa jejak.


Friday, March 22, 2024

Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa

 "Payah loe, udah dibantu GM*ps tapi tetep aja nyasar!"

Percakapan ini sepertinya lumrah kita dengar saat ini. Yeps, peta digital memang sangat praktis untuk keperluan mobilisasi di jaman kiwari. Peta merupakan representasi visual dari berbagai elemen yang ada di muka bumi. Perjalanan ilmu kartografi atau pembuatan peta saat ini sudah sedemikian canggih, hingga memungkinkan kita membaca peta dalam versi digital, bahkan dalam genggaman. Namun, seperti apa peta-peta di masa lampau, yang digunakan para pelaut untuk navigasi kapal-kapal mereka menjelajah samudra?

Nusa Jawa dalam pandangan kartografer Portugis Abraham Ortelius 1595

Pameran Kartografi Nusa Jawa yang diselenggarakan antara 16 Januari s/d 30 April 2024 di Museum Bahari memamerkan peta-peta kuno -- khususnya peta pulau Jawa dari abad ke-16. Jika kita bandingkan dengan peta masa kini yang penggambarannya sudah sesuai dengan kondisi nyata, peta-peta kuno tersebut sangat berbeda. Bisa dilihat bahwa peta kuno tersebut mencerminkan interpretasi para pembuat peta jaman dulu terhadap wilayah yang dipetakan. Misalnya pada peta penjelajah Belanda abad 16, pulau Jawa digambarkan sama besarnya dengan pulau Sumatera. Atau peta yang dibuat kartografer Belanda pada tahun 1606, yang memperlihatkan seolah Pulau Jawa dibelah oleh sungai besar dari pantai utara hingga pantai selatan. Peta-peta kuno tersebut saat ini dapat dianggap sebagai sebuah karya seni berbasis kartografi. Selain peta-peta kuno, kita juga diperkenalkan dengan peralatan yang membantu kartografer masa lalu untuk membuat peta atau membantu para pelaut menentukan posisi kapalnya. Di antara peralatan tersebut terdapat sekstan dan teropong panjang.

Peta Pulau Jawa Terpisah oleh Pieter Van Der Aa 1707

Salah satu peta yang ditampilkan adalah Peta Tjiela. Peta Tjiela yang asli ditemukan di Desa Ciela, Kec. Bayongbong, Garut, pada tahun 1858 oleh Karel Frederik Holle, pemilik perkebunan the di CIkajang, Garut. Tuan Holla (panggilan akrab masyarakat Cikajang kepada Holle) memang bukan sekadar juragan perkebunan the, namun juga peminat kebudayaan Sunda. Peta Tjiela tergambar pada sehelai kain kafan berukuran 1 meter x 2 meter. Peta tersebut menggambarkan wilayah yang cukup luas, mencakup wilayah yang sekarang menjadi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, sampai dengan Kabupaten Cilacap. Dalam peta tersebut termuat symbol laut, sungai, gunung, bukit, danau, jalan, dan rawa, dengan symbol yang umum digunakan pada peta yang kita kenal hari ini. Peta tersebut memuat keterangan nama yang ditulis dengan huruf Sunda kuno, seperti Cirebon, Bekassih, dan Nusa Kalapa. Di bagian tengah peta tergambar wilayah kerajaan bernama Timbangaten. Uniknya, arah utara pada peta diletakkan di bagian bawah, sedangkan arah selatan pada bagian atas peta.

Holle meyakini peta tersebut dibuat sekitar tahun 1560. Dugaan ini diperkuat oleh penelitian arkeolog lainnya, yang mengatakan kemungkinan peta tersebut berasal dari abad ke-16. Siapa pembuat peta ini, tidak diketahui, namun peta ini dibuat oleh penduduk Nusantara. Ini menjadi bukti bahwa sejatinya penduduk asli Nusantara sudah mengenal pembuatan peta sebelum para penjelajah Eropa hadir di Nusantara. Salah satu tokoh dari Nusantara yang mengenal peta dan globe adalah Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri dan penasehat utama Raja Gowa di abad ke-17. Dari hasil penelitian lebih lanjut oleh para ahli geologi Indonesia di tahun 1976-1977, penulis buku Prof. P. D. A Harvey menduga bahwa Peta Ciela memiliki kemiripan dengan peta masa awal Dinasti Han dari Cina.

Atas: Puzzle Peta Ciela di Museum Sejarah Jakarta (foto koleksi pribadi, 2019)
Bawah: Salinan Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa (foto koleksi pribadi, 2024)

Beruntung Holle sempat membuat salinan Peta Tjiela tersebut dan menuliskan ulasan tentang peta tersebut dalam sebuah majalah, karena pada tahun 1975 diketahui peta yang asli telah hilang, diduga terbakar dan hilang tenggelam bersama kapal yang mengangkutnya. Tulisan Holle menjadi sumber awal yang penting dalam menelusuri kartografi yang dilakukan penduduk Nusantara. Di Pameran Kartografi Nusa Jawa kita bisa melihat bentuk salinan dari peta tersebut, sedangkan jika kita ingin melihat dari dekat, kita bisa melihat Peta Tjiela dalam bentuk puzzle yang dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta. Saat ini salinan Peta Tjiela yang dibuat berdasarkan salinan Holle disimpan oleh keluarga Ihak Lukman di Desa Ciela, dan dianggap sebagai benda pusaka.

Mengingat pentingnya peta untuk membantu menunjukkan posisi atau lokasi relative dalam hubungannya dengan tempat lain di permukaan bumi, khususnya dalam aktivitas pelayaran di masa lalu, tidak mengherankan jika pameran ini dibuat di Museum Bahari Jakarta. Museum ini dulu merupakan gudang VOC untuk menyimpan komoditas seperti rempah, kopi, the, tembaga, timah, dan tekstil. Selain melihat-lihat koleksi terkait kebaharian Indonesia, arsitektur museum sendiri juga menarik untuk ditelisik, mengingat museum ini dibangun dengan teknologi abad ke-17, dan masih bertahan hingga sekarang, walaupun dinding-dindingnya harus menghadapi ancaman penggaraman.

Sisa Pilar Kayu dan Pintu yang Terbakar di Memorial Museum Bahari

Selesai melihat pameran peta, saya tertarik dengan ruangan di Gedung sebelah, yang pintunya terbuka dan cukup terang. Ternyata ruangan tersebut merupakan Ruang Memorial Museum Bahari, dan menyimpan informasi terkait peristiwa kebakaran besar pada 16 Januari  2018 yang melalap 64 koleksi museum. Pada ruang memorial ini dipamerkan beberapa kaki pilar, pintu, dan ambang jendela yang terbuat dari kayu jati, yang sebagian besar hangus dilalap si jago merah. Ruangan ini juga menampilkan video upaya pemadaman kebakaran, serta kliping surat kabar yang memuat berita kebakaran tersebut dan upaya pemulihan kembali museum pasca kebakaran. Saat menapakkan kaki, saya baru sadar, mungkin Ruang Memorial ini adalah salah satu ruangan yang ikut terbakar saat itu, karena terdapat bagian ruangan dengan lantai kayu yang terlihat lebih baru dibandingkan bagian ruangan lainnya. Bagi saya, Ruang Memorial ini mungkin menjadi pengingat bagi kita, untuk terus berupaya memitigasi bencana kebakaran agar tidak terjadi lagi, khususnya di museum-museum kita.

Saturday, March 16, 2024

Wisata Pemakaman PD II (5): Ereveld Pandu

Lautan awan yang menggantung di langit Kota Bandung menemani saya melangkahkan kaki dari pintu masuk TPU Pandu, menuju Kompleks Ereveld Pandu. Di pintu masuk TPU Pandu, sudah tertulis bahwa bagi mereka yang akan berkunjung ke Ereveld agar berjalan terus sejauh 100 meter untuk kemudian menekan bel di pintu gerbang. Sesampainya di gerbang Ereveld yang tertutup, saya dibantu salah satu petugas TPU untuk membukakan gerbang Ereveld, sebelum kemudian membunyikan bel memanggil petugas Ereveld.

Ereveld Pandu adalah Taman Makam Kehormatan Belanda yang terletak di tengah-tengah TPU Pandu, tepatnya di Jl. Pandu No. 32, Bandung. TPU Pandu sendiri berdiri pada 1932, lebih tua daripada Ereveld Pandu yang didirikan pada 1948. Ereveld Pandu diresmikan pada 7 Maret 1948 oleh Jendral S.H. Spoor. Pemilihan tanggal tersebut bersamaan dengan peringatan pertempuran Tjiaterstelling di tahun 1942, di mana dalam upacara peresmian Ereveld dilakukan pemakaman kembali 14 jenasah tentara KNIL yang gugur pada pertempuran tersebut. 

Terdapat lebih dari 4000 makam di Ereveld Pandu. Mereka yang dimakamkan di sini adalah mereka yang meninggal di kamp konsentrasi Jepang atau gugur dalam pertempuran selama Perang Dunia II dan di masa Perang Kemerdekaan, baik dari miiter maupun sipil. Antara tahun 1960-1970, sesuai dengan perjanjian sentralisasi Makam Belanda, Ereveld Pandu menerima pemakaman kembali mereka yang semula dimakamkan di ereveld dari Muntok (1960), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Mereka berbaring di bawah naungan Tangkuban Perahu

Saya datang di hari Minggu, sehingga ereveld sangat sepi. Menurut informasi pak Wiradi, petugas jaga malam Ereveld Pandu, Ereveld Pandu banyak menerima pengunjung dari mereka yang ingin berziarah mencari makam kerabatnya, serta dari individu atau rombongan komunitas peminat sejarah. Sekilas melihat, ereveld ini terlihat lebih luas daripada Ereveld Leuwigajah yang saya datangi sebulan lalu, walaupun jumlah makam di Pandu lebih sedikit dibandingkan di Leuwigajah. 

Mirip seperti Ereveld Leuwigajah, Ereveld Pandu juga dilatari pemandangan gunung. Di sisi utara, terlihat jelas siluet Gunung Tangkuban Parahu, walaupun cuaca sedang tidak terlalu cerah. Sedangkan di sisi selatan, terdapat siluet Gunung Halimun, seolah saling berhadapan dengan Gunung Tangkuban Parahu.

Seluas mata memandang, yang terlihat adalah nisan berwarna putih, yang didominasi bentuk salib. Dari bentuk nisannya, dapat diketahui agama dari yang dimakamkan di tempat tersebut. apakah Kristen, Islam, atau Buddha. Jika yang bersangkutan adalah personil militer, biasanya disebutkan pangkat dan asal satuannya. Beberapa makam bertuliskan “Onbekend”, yang berarti “tidak dikenal”. Beberapa makam juga memiliki tulisan yang menjelaskan makam tersebut merupakan pindahan dari ereveld lain. Khusus pemakaman muslim, mereka ditempatkan di blok sendiri dan jenasahnya diatur menghadap kiblat.

Monumen Umum di pintu masuk ereveld

Kekhasan Ereveld Pandu adalah 4 monumen untuk mengenang momen penting, lebih banyak dibandingkan ereveld lain. Monumen pertama adalah monumen umum rancangan A.W. Gmelig Meyling. Monumen ini berdiri di atas platform dan disangga 8 pilar. Di atas monumen terdapat kalimat “Opgerichtter Gedachtenis Aan Hen Die Vielen Als Offer In De Strijd Om Vrede En Recht”, yang bermakna “Dalam kenangan kepada mereka yang gugur berkorban memperjuangkan perdamaian dan keadilan”. Jika di ereveld lain umumnya hanya terdapat 1 monumen peti batu, monumen ini memiliki 2 peti batu yang mengapit tablet granit dengan relief Singa Belanda. Peti batu di sisi kiri diberi lambang helm dan pedang, merupakan monumen bagi “Prajurit Tak Dikenal”. Sedangkan peti batu di sisi kanan diberi lambang obor, merupakan monumen bagi “Warga Sipil Tak Dikenal”.

Monumen KNIL

Monumen kedua adalah Monumen KNIL, yang merupakan replika monumen di Koninklijk Tehuis voor Oud-militairen “Bronbeek” di Arnhem, Belanda. Monumen yang didesain oleh Mrs. Therese de Groot-Haider ini didirikan pada 15 Agustus 1991, menggambarkan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijke Nederlands-Indische Leger - KNIL) dengan pakaian dinas lapangan, dilengkapi klewang dan pistol carbine yang menjadi ciri khas KNIL. Keberadaan monumen ini di Ereveld Pandu merupakan bentuk ikatan antara KNIL dan Bandung, karena markas besar KNIL terletak di Bandung.

Monumen ketiga adalah Monumen Padalarang yang terbuat dari 5 pilar dan sebuah buku. Monumen ini merupakan peringatan gugurnya 5 musisi dalam kecelakaan pesawat Koninklijke Luchtvaart Maatschappij Interinsulair Bedrijf DC-3 PK-REA tanggal 10 Februari 1948 yang jatuh di Padalarang akibat cuaca buruk. Menurut saksi mata, pesawat terbakar di bagian mesin dan kondisi badai, sehingga pesawat tak terkendali dan jatuh pada pukul 16.05 WIB di dekat lintasan rel antara Stasiun Cilame dan Sasaksaat. Pesawat tersebut membawa 4 awak dan 15 penumpang, bertolak dari Andir menuju ke Kemayoran.

Monumen Musisi Korban Kecelakaan PK-REA

Di antara 15 penumpang, terdapat lima warga sipil yang terdiri dari tiga musisi klasik asal Belanda, yaitu pianis Elisabeth Everts (28 tahun), pemain cello Johan Gutlich (36 tahun), dan violist Rudi Broer van Dijk (22 tahun), eluctionist Francina Geertruida Maria Gerrese (46 tahun), serta seorang pensiunan sersan KNIL Leendert Paay (45 tahun). Mereka datang ke Hindia Belanda sejak bulan Oktober 1947 dalam rangka misi pentas untuk menghibur para serdadu KNIL. Pentas mereka didukung organisasi Nationale Inspanning Welzijnsverzorging Indië (NIWIN), sebuah organisasi amal untuk kesejahteraan pasukan Belanda di Indonesia. Jenasah mereka semula dimakamkan pada tanggal 12 Februari 1948 di Ereveld Parkweg Bandung (sekarang Kampus Unisba). Karena dianggap berjasa menghibur pasukan KNIL, maka pada tanggal 21 Maret 1950 kelima jenasah tersebut dipindahkan ke Ereveld Pandu. Adapun penumpang lainnya yang merupakan anggota ML KNIL dimakamkan di Ereveld Tjililitan, sebelum kemudian dipindahkan ke Ereveld Menteng Pulo.

Monumen Tjiaterstelling

Monumen keempat adalah monumen Tjiaterstelling (Pos Ciater), sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang gugur ketika melawan Jepang antara 1-8 Maret 1942 di sekitar Subang, Kalijati dan Ciater. Pertempuran Perlintasan Ciater terjadi di antara perkebunan Ciater dan hutan Jayagiri Cikole, berlangsung dari 5 hingga 7 Maret 1942 antara pasukan invasi Jepang melawan pasukan KNIL. Pertempuran ini memperebutkan Perlintasan Ciater yang merupakan garis pertahanan terakhir Batalion 5 KNIL di Bandung, dalam upaya mempertahankan Kota Bandung. Pertempuran berakhir dengan kekalahan pasukan KNIL. Dari 72 orang yang dieksekusi di Ciater, hanya 3 orang yang selamat. Pada 8 Maret 1942 pemerintah Hindia Belanda menyerahkan Hindia Belanda kepada Jepang di Kalijati.

Monumen Tjiaterstelling berbentuk 12 prasasti yang melingkari tiang bendera pada monumen, bertuliskan nama-nama mereka yang gugur di Tjiaterstelling dan Subangtelling. Di pondasi tiang bendera terdapat 12 simbol zodiak dan simbol 4 agama besar di dunia. Sedangkan di dasar tiang terdapat nama-nama tempat pertempuran KNIL: Subang, Ciater, Kalijati, Cihapit, Karees, Batalyon 15, Sukamiskin, Cirebon, Banyumas, Cianjur, dan Preanger.