Showing posts with label bandung. Show all posts
Showing posts with label bandung. Show all posts

Saturday, May 23, 2026

Senja Temaram di Markas Pasukan Lapis Baja

Di awal Mei 2026, ketika urusan saya di kampus perguruan tinggi tertua di Indonesia sudah selesai, jam menunjukkan pukul 15.30. Masih ada sedikit waktu menikmati wisata dalam Kota Bandung sebelum matahari menghilang. Tapi... mau ke mana? Museum rata-rata sudah tutup. Mau kulineran, hampir semua sudah pernah dicoba. Mau belanja... ntar dulu ah. Yah, namanya pernah jadi warlok Bandung selama 9 tahun, hampir semua tempat pernah saya jelajahi...

Tiba-tiba saya teringat di IG saya lewat informasi tentang Museum Kavaleri di Bandung. Nah, baru nih! Dari akun IG @museum.kavaleri, tampaknya seru. Ada tank-nya, ada panser-nya, tapi kok ada kafenya ya? Cek lokasi, ah, ternyata lokasi masih di tengah kota, dan mudah untuk dijangkau. Oke, cusss...

Sisi Depan Museum Kavaleri

Awan kelabu yang menggantung di Bandung tidak mengurangi kegembiraan saat saya mendarat di Museum Kavaleri. Museum Kavaleri berlokasi di Kompleks Markas Pusat Kesenjataan Kavaleri, Jl. Gatot Subroto No. 98 dan 100, Bandung. Bangunan Museum Kavaleri menempati dua rumah dinas TNI AD yang sudah dipugar dan ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Nama “Kavaleri” sejatinya berasal dari kata “cavalerie” yang memiliki akar kata “chevalier” yang berarti “kuda” dalam bahasa Perancis. Jika saat ini kavaleri identik dengan kendaraan lapis baja, pada awal pembentukannya kavaleri adalah pasukan berkuda. Pasukan berkuda sudah digunakan untuk pertempuran sejak jaman Yunani Kuno. Saat ini Satuan Kavaleri TNI AD masih memiliki detasemen Kavaleri Berkuda, namun lebih banyak digunakan untuk keperluan seremoni.

Pasukan Berkuda, Cikal Bakal Kavaleri

Satuan Kavaleri TNI AD berawal dari kendaraan-kendaraan tempur bekas KNIL, Inggris, dan Jepang yang dirampas oleh para pejuang kita. Di Pertempuran Surabaya 10 November 1945, para pemuda telah menggunakan beberapa panser yang dirampas dari Jepang, Belanda, dan Inggris. Di bulan Desember 1949 hingga awal tahun 1950, dilakukan penyerahan kendaraan tempur eks KNIL kepada Angkatan Darat RI yang dilakukan di Palembang, Medan, Bandung dan Magelang. Pada tanggal 26 Juli 1950, dilakukan penyerahan secara simbolis kesatuan panser dari KNIL kepada KSAD Kolonel A.H. Nasution, yang kemudian menunjuk Letkol Kav KGPH R.M. Soerjo Soejarso untuk menerima pengalihan tersebut. Selanjutnya Letkol Soerjo Soejarso ditunjuk sebagai pimpinan tertinggi Pasukan Berlapis Baja di seluruh Indonesia. 

Letkol Kav. KGPH Soerjo Soejarso 

Kembali ke masa kini, saat melongok ke dalam bangunan museum, area cafenya memang lebih luas daripada area museum. Namun area yang digunakan untuk museum punya koleksi yang tertata rapi, dan lumayan lengkap. Nah, ini ternyata beneran museum... mata saya tertuju pada infografis di dinding, yang menceritakan tentang Letkol KGPH RM Soerjo Soejarso. Lho... beliau ternyata suaminya Gusti Nurul, putri Mangkunegara VII yang tersohor karena kecantikan dan intelektualnya (dan terkenal karena keteguhan beliau dalam menolak poligami). Baru tahu saya…

Koleksi Senjata Pasukan Kavaleri

Museum Kavaleri dipenuhi dengan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan korps kavaleri. Display yang pertama adalah peralatan-peralatan yang digunakan dalam pendidikan di korps kavaleri, termasuk topi tempur, overhead projector, dan slide projector. Ruangan berikutnya adalah senjata-senjata yang digunakan pasukan kavaleri, termasuk pelontar mortir kaliber 81 mm buatan Pindad dan M2 Mortar 60 mm buatan Amerika Serikat. Selanjutnya adalah satu ruangan yang didedikasikan untuk cikal bakal kavaleri, yaitu kuda. Terdapat koleksi jenis-jenis pelana dan tapal kuda yang digunakan untuk kuda kavaleri.

Pelana dan Tapal Kuda

Namun yang menjadi koleksi primadona museum ini tentunya koleksi tank dan panser yang dipasang di halaman dalam museum. Termasuk di antaranya adalah Panser V150 Intai, Panser Commando Scout, Tank AMX 13 Recovery, dan Panhard EBR. Salah satu panser yang menjadi koleksi museum ini adalah Saracen, jenis panser yang pernah digunakan mengangkut jenazah pahlawan revolusi. 

Panser Saracen

Sambil menikmati segelas es teh manis, saya duduk di cafĂ© dan menikmati cuaca sendu menjelang matahari terbenam. Terlihat banyak keluarga yang hadir di tempat ini, ada yang sekadar mencari kudapan, ada juga yang melihat-lihat koleksi museum. Beberapa anak juga terlihat penasaran dengan koleksi tank dan panser yang ada di halaman dalam museum. Mungkin museum-museum di Indonesia perlu dibuat seperti ini, sehingga dapat menghilangkan kesan suram, kuno, dan membosankan, serta menarik pengunjung untuk datang dan berlama-lama di museum. Kapan-kapan, boleh deh balik lagi ke sini…


Monday, April 8, 2024

Jalan-Jalan ke Pabrik Pesawat Satu-Satunya di ASEAN

 "Siapa mau jadi pilot?"

Pertanyaan pemandu program edutainment di PT Dirgantara Indonesia ini sontak membuat pengunjung anak-anak berlomba-lomba mengacungkan tangan. Saya, satu-satunya peserta yang tidak membawa anak, barangkali sama sumringahnya dengan mereka, apalagi saat bis Bandros yang kami gunakan masuk ke area pabrik.

Program edutainment PTDI merupakan program memperkenalkan industri dirgantara PTDI sebagai satu-satunya pabrik pesawat di ASEAN. Jika factory tour umumnya dilakukan secara berombongan dengan mengirimkan surat resmi terlebih dahulu, program edutainment memungkinkan peserta perorangan untuk mengikuti factory tour di akhir pekan. Dan karena pesawat adalah cinta pertama saya pada teknologi, jadi saya harus menyegerakan untuk ikut program edutainment ini -- sebelum program ini menghilang tanpa jejak.

Memasuki area pabrik PTDI, pemandu menjelaskan tahapan pembuatan pesawat. Hanggar pertama adalah produksi fuselage yang akan menjadi badan pesawat. Fuselage dan bagian pesawat lainnya seperti sayap, ekor, dan roda pendaratan kemudian dirakit di hanggar berikutnya, serta melengkapi pesawat dengan mesin, instrumentasi, dan interior yang dibutuhkan. Setelah melewati tahap ini, pesawat akan dicat sesuai permintaan pemesan.

Hanggar berikutnya adalah tempat pengujian pesawat yang sudah dirakit. Sebelum diserahkan kepada pemesan, pesawat akan diinspeksi dan diujicoba terlebih dahulu untuk memastikan semua sistemnya berjalan dengan baik. Di dalam hanggar terdapat CN 235 flying test bed yang digunakan untuk uji coba. Sekilas saya cari di internet, kemungkinan pesawat ini digunakan untuk ujicoba green avtur.

Sebelum lanjut ke tahapan berikutnya, bis Bandros berhenti di dekat pesawat-pesawat yang parkir di depan hanggar. Pengunjung diperkenankan turun dan melihat wujud nyata pesawat produksi PTDI, walaupun tidak bisa terlalu dekat karena diberi pembatas. Saya mengenali pesawat pertama yang terlihat, kok ada Gatotkaca? Bukan, itu bukan N250 Gatotkaca yang pulang kampung dari Museum Dirgantara Mandala. Pesawat dengan bentuk dan warna yang sama dengan Gatotkaca tersebut adalah N250 Krincingwesi, "adik" N250 Gatotkaca.

Atas: N250 Krincingwesi
Bawah: N250 Gatotkaca di Museum Dirgantara Mandala

N250 merupakan pesawat penumpang turboprop 2 mesin karya BJ Habibie, sebagai wujud cita-cita agar Indonesia mampu membuat pesawat sendiri. Hal ini sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang berbentuk negara kepulauan, akan lebih mudah jika terkoneksi melalui udara. Pesawat yang diproduksi PTDI ini digadang-gadang akan menjadi tonggak sejarah kejayaan kedirgantaraan Indonesia. 

N250 Gatotkaca sebagai purwarupa pertama terbang perdana pada 10 Agustus 1995 di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Pesawat tersebut sempat mengikuti beberapa airshow, dan menjadi bintang Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Untuk pengembangan selanjutnya, dibuat purwarupa kedua N250 Krincingwesi, yang terbang perdana pada 19 Desember 1996. Krincingwesi dibuat sedikit lebih panjang daripada Gatotkaca, sehingga memiliki kapasitas lebih besar. Namun bobotnya lebih ringan, karena tata letaknya dibuat lebih efisien. Selain itu desain strukturnya juga dibuat lebih halus.

Pada 1997, seiring krisis moneter yang melanda Indonesia, Proyek N250 terpaksa harus berhenti. N250 Gatotkaca dan N250 Krincingwesi terparkir selama seperempat abad di PTDI. Atas permintaan Panglima TNI Hadi Tjahjanto, pada tahun 2020 N250 Gatotkaca dipindahkan ke Yogyakarta menjadi penghuni Museum Dirgantara Mandala, sebagai sarana edukasi masyarakat bahwa bangsa kita telah mampu merancang dan membuat pesawat sendiri. Sedangkan Krincingwesi masih berada di PTDI, dan turut menjadi sarana edukasi bagi para peserta factory tour.

CN 235 Flying Test Bed

Selain Krincingwesi, di parkiran hanggar terdapat CN 235 flying test bed yang sudah tidak digunakan lagi, CN 235 merupakan signature product pesawat penumpang PTDI yang sukses. Dikembangkan pada 1979 oleh IPTN (nama PTDI pada masa itu) dan CASA (sekarang menjadi Airbus Defense &Space), prototipe CN 235 buatan IPTN bernama Tetuko terbang pertama kali pada Desember 1983. Produksi pertama dilakukan pada 1986, dan saat ini CN 235 sudah diproduksi dengan berbagai varian dan digunakan di berbagai negara. 

Peragaan MALE di Ruang Mock Up

Ada benda panjang berwarna hitam di sisi CN 235. Benda tersebut bukan rudal, melainkan purwarupa drone jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) bernama "Elang Hitam". Drone ini hasil pengembangan Konsorsium Kementerian Pertahanan, TNI Angkatan Udara, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), PT Dirgantara Indonesia (PTDI), PT LEN Industri dan ITB. Purwarupa drone ini telah di-roll out pada 30 Desember 2019. Pesawat nirawak ini direncanakan dapaf dimanfaatkan untuk menangkal ancaman territorial, pengawasan cuaca dan pencegahan kebakaran hutan.

Dari apron, kami naik Bandros menuju hanggar pemeliharaan. Saat kami berkunjung, salah satu pesawat yang ada di dalam adalah Helikopter Super Puma. Helikopter NAS-332 Super Puma merupakan pengembangan SA-330 Puma kerjasama IPTN dengan Aeropastiale (sekarang Airbus Helicopters) dengan mesin yang diperbarui serta kabin penumpang diperbesar. Super Puma pertama kali terbang pada 1978, dan sejak 1980 menggantikan SA-330 Puma, Helikopter dengan 2 mesin ini dapat membawa 29 penumpang, serta dapat dipersenjatai dengan pod senapan, roket, dan misil, serta senjata untuk perang anti serangan laut. 

Informasi N219 di Ruang Mock Up

Hanggar terakhir sebelum masuk ruang mock up adalah tempat perakitan N219. N219 Nurtanio adalah pesawat multiguna generasi baru yang sepenuhnya karya anak bangsa. Dirancang sebagai pesawat angkutan penumpang, pesawat bermesin ganda turboprop berkapasitas 19 penumpang ini memiliki luas kabin terbesar di kelasnya. Ide dan desain N219 dikembangkan oleh PTDI, dengan pengembangan program dilakukan oleh PTDI dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. N219 dirancang dengan fixed tricycle landing gear, memungkinkan pesawat ini untuk melakukan Short Take-off and Landing (STOL), serta melakukan pendaratan dan lepas landas di medan yang sulit, seperti di bandara di ketinggian, atau di landasan bandara perintis. Purwarupa dari N219 telah melakukan uji terbang perdana pada 16 Agustus 2017, dan masih menjalani serangkaian pengujian sertifikasi, untuk menjamin keamanan dan keselamatan.

Informasi KF-21 Boramae di Ruang Mock Up

Ruang mock up merupakan ruang terakhir sebelum factory tour berakhir. Di sini terdapat informasi lebih detail tentang produk PTDI, seperti PUNA MALE, UAV Wulung, N219, CN 235 dalam berbagai varian, serta NC 212. Di antara pesawat yang diperkenalkan, terdapat KFX/IFX, pesawat hasil kerjasama PTDI dengan Korea Aerospace Industries, yang dikenal juga sebagai KF-21 Boramae. Program pesawat tempur ini didanai 80% oleh Republik Korea dan 20% oleh Republik Indonesia. 

Mock Up CN 235 ex Merpati Nusantara Airlines

Bagi yang ingin tahu seperti apa kokpit sebuah pesawat, ruangan ini memiliki mock up CN 235 yang pernah dioperasikan oleh Merpati Nusantara Airlines. Interiornya sudah dikosongkan, menyisakan galley yang digunakan untuk menyajikan makanan. Mock up ini tentunya menjadi favorit anak-anak, yang langsung menyerbu untuk bergantian menjajal kokpitnya. Sementara saya mencoba mengingat, jangan-jangan dulu saya pernah naik pesawat ini dari Halim menuju bandara Tunggul Wulung pakai mampir di Husein Sastranegara…

Sunday, March 17, 2024

TPU Pandu, Tempat Peristirahatan Terakhir Tokoh-Tokoh Kota Bandung

Mengunjungi Ereveld Pandu, rasanya tak lengkap kalau tak sekalian menjelajah TPU Pandu. TPU Pandu didirikan pada tahun 1932, sebagai bagian dari penertiban pemakaman di Kota Bandung sesuai Bouwverrordening van Bandung tahun 1917. Berdiri di lahan seluas 83.000 m2 (kurang lebih 10 hektar), TPU Pandu memiliki jumlah makam hingga 21 ribu. Daya tarik makam ini adalah merupakan tempat peristirahatan terakhir beberapa tokoh terkenal di Kota Bandung. Tahun 1973, TPU Pandu merupakan salah satu TPU yang digunakan untuk merelokasi makam dari Kerkhoff Kebon Jahe (sekarang menjadi Sarana Olahraga Sport Hall Pajajaran).

Nisan Profesor Schoemaker

Di antara ribuan makam yang ada di TPU Pandu, terdapat nisan Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker, seorang arsitek dan guru besar Technische Hogeschool te Bandoeng (sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung). Prof. Schoemaker lahir di Banyubiru, Ambarawa, pada 25 Juli 1882. Karirnya diawali sebagai insinyur KNIL, sebelum kemudian mengundurkan diri dan bekerja di biro arsitek. Sebagai guru besar di THB, salah satu murid Schoemaker adalah Ir. Soekarno, presiden pertama RI. Karya arsitektur Schoemaker masih dapat kita lihat hari ini, seperti Gedung Merdeka, Hotel Preanger, Katedral Santo Petrus, Gereja Bethel, Villa Isola, dan Masjid Cipaganti. 

Gedung Merdeka, salah satu karya Prof Schoemaker

Schoemaker wafat pada 22 Mei 1949 dan dimakamkan di TPU Pandu. Namun ironisnya, makam Schoemaker tidak seartistik karya-karyanya. Nisan yang bertuliskan tanggal lahir, tanggal wafat, dan gelar kehormatan Ridder in De Orde van Denetherlandse Leeuw (Ksatria Ordo Singa Belanda) ini seperti batu nisan biasa, tanpa ornament berlebihan, dan terhimpit batu nisan makam-makam lain, sehingga untuk mencapai makam Schoemaker, kita harus melewati atau meloncati makam-makam lainnya.

Konon makam Schoemaker merupakan salah satu makam yang sempat terancam akan dibongkar di tahun 2002, karena tidak ada yang membayar retribusinya. Namun rencana ini urung dilaksanakan, setelah putra mendiang Presiden Soekarno, Guruh Sukarnoputra, mengulurkan bantuan. Di tahun 2003, Juan Schoemaker, cucu dari Schomaker yang sudah lama mencari makam mendiang kakeknya, akhirnya berhasil berkunjung ke makam ini.

Selain makam Schoemaker, di TPU Pandu terdapat makam keluarga Ursone. Keluarga Ursone berkebangsaan Italia, dan datang ke Bandung di tahun 1890-an sebagai musisi. Mereka kemudian mengembangkan usaha pemerahan susu sapi yang berada di Lembang sejak tahun 1895. Mereka merupakan pendiri Bandoengsche Melk Centrale (BMC), yang saat ini masih beroperasi di Jalan Aceh. Keluarga Ursone memiliki lahan yang cukup luas di Lembang, bahkan lahan observatorium Bosscha merupakan hibah dari keluarga Ursone.

Mausoleum Keluarga Ursone

Dibandingkan makam Schoemaker, makam Ursone terlihat lebih menonjol, karena dapat dikatakan merupakan makam paling megah di antara makam yang ada di TPU Pandu. Makam berbentuk mausoleum dengan pilar tinggi ini dihiasi sepasang patung wanita yang sedang menunduk seolah menunjukkan kedukaan. Di atas pilarnya bertuliskan “Orate Pro Nobis” yang bermakna “doakan kami”. Di mausoleum tersebut terdapat nama 8 anggota keluarga Ursone yang (semula) dimakamkan di mausoleum tersebut. Makam bergaya barok ini terbuat dari marmer. Hal ini kemungkinan sangat berkaitan karena salah satu anggota keluarga Ursone, A. Ursone pernah membuka usaha batu marmer yang bernama Carrara Marmerhandel en bewerking di daerah Banceuy, Kota Bandung. Makam ini bukan merupakan makam asli di TPU Pandu, melainkan pindahan dari Kerkhof Kebon Jahe (sekarang GOR Pajajaran). 


Saturday, March 16, 2024

Wisata Pemakaman PD II (5): Ereveld Pandu

Lautan awan yang menggantung di langit Kota Bandung menemani saya melangkahkan kaki dari pintu masuk TPU Pandu, menuju Kompleks Ereveld Pandu. Di pintu masuk TPU Pandu, sudah tertulis bahwa bagi mereka yang akan berkunjung ke Ereveld agar berjalan terus sejauh 100 meter untuk kemudian menekan bel di pintu gerbang. Sesampainya di gerbang Ereveld yang tertutup, saya dibantu salah satu petugas TPU untuk membukakan gerbang Ereveld, sebelum kemudian membunyikan bel memanggil petugas Ereveld.

Ereveld Pandu adalah Taman Makam Kehormatan Belanda yang terletak di tengah-tengah TPU Pandu, tepatnya di Jl. Pandu No. 32, Bandung. TPU Pandu sendiri berdiri pada 1932, lebih tua daripada Ereveld Pandu yang didirikan pada 1948. Ereveld Pandu diresmikan pada 7 Maret 1948 oleh Jendral S.H. Spoor. Pemilihan tanggal tersebut bersamaan dengan peringatan pertempuran Tjiaterstelling di tahun 1942, di mana dalam upacara peresmian Ereveld dilakukan pemakaman kembali 14 jenasah tentara KNIL yang gugur pada pertempuran tersebut. 

Terdapat lebih dari 4000 makam di Ereveld Pandu. Mereka yang dimakamkan di sini adalah mereka yang meninggal di kamp konsentrasi Jepang atau gugur dalam pertempuran selama Perang Dunia II dan di masa Perang Kemerdekaan, baik dari miiter maupun sipil. Antara tahun 1960-1970, sesuai dengan perjanjian sentralisasi Makam Belanda, Ereveld Pandu menerima pemakaman kembali mereka yang semula dimakamkan di ereveld dari Muntok (1960), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Mereka berbaring di bawah naungan Tangkuban Perahu

Saya datang di hari Minggu, sehingga ereveld sangat sepi. Menurut informasi pak Wiradi, petugas jaga malam Ereveld Pandu, Ereveld Pandu banyak menerima pengunjung dari mereka yang ingin berziarah mencari makam kerabatnya, serta dari individu atau rombongan komunitas peminat sejarah. Sekilas melihat, ereveld ini terlihat lebih luas daripada Ereveld Leuwigajah yang saya datangi sebulan lalu, walaupun jumlah makam di Pandu lebih sedikit dibandingkan di Leuwigajah. 

Mirip seperti Ereveld Leuwigajah, Ereveld Pandu juga dilatari pemandangan gunung. Di sisi utara, terlihat jelas siluet Gunung Tangkuban Parahu, walaupun cuaca sedang tidak terlalu cerah. Sedangkan di sisi selatan, terdapat siluet Gunung Halimun, seolah saling berhadapan dengan Gunung Tangkuban Parahu.

Seluas mata memandang, yang terlihat adalah nisan berwarna putih, yang didominasi bentuk salib. Dari bentuk nisannya, dapat diketahui agama dari yang dimakamkan di tempat tersebut. apakah Kristen, Islam, atau Buddha. Jika yang bersangkutan adalah personil militer, biasanya disebutkan pangkat dan asal satuannya. Beberapa makam bertuliskan “Onbekend”, yang berarti “tidak dikenal”. Beberapa makam juga memiliki tulisan yang menjelaskan makam tersebut merupakan pindahan dari ereveld lain. Khusus pemakaman muslim, mereka ditempatkan di blok sendiri dan jenasahnya diatur menghadap kiblat.

Monumen Umum di pintu masuk ereveld

Kekhasan Ereveld Pandu adalah 4 monumen untuk mengenang momen penting, lebih banyak dibandingkan ereveld lain. Monumen pertama adalah monumen umum rancangan A.W. Gmelig Meyling. Monumen ini berdiri di atas platform dan disangga 8 pilar. Di atas monumen terdapat kalimat “Opgerichtter Gedachtenis Aan Hen Die Vielen Als Offer In De Strijd Om Vrede En Recht”, yang bermakna “Dalam kenangan kepada mereka yang gugur berkorban memperjuangkan perdamaian dan keadilan”. Jika di ereveld lain umumnya hanya terdapat 1 monumen peti batu, monumen ini memiliki 2 peti batu yang mengapit tablet granit dengan relief Singa Belanda. Peti batu di sisi kiri diberi lambang helm dan pedang, merupakan monumen bagi “Prajurit Tak Dikenal”. Sedangkan peti batu di sisi kanan diberi lambang obor, merupakan monumen bagi “Warga Sipil Tak Dikenal”.

Monumen KNIL

Monumen kedua adalah Monumen KNIL, yang merupakan replika monumen di Koninklijk Tehuis voor Oud-militairen “Bronbeek” di Arnhem, Belanda. Monumen yang didesain oleh Mrs. Therese de Groot-Haider ini didirikan pada 15 Agustus 1991, menggambarkan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijke Nederlands-Indische Leger - KNIL) dengan pakaian dinas lapangan, dilengkapi klewang dan pistol carbine yang menjadi ciri khas KNIL. Keberadaan monumen ini di Ereveld Pandu merupakan bentuk ikatan antara KNIL dan Bandung, karena markas besar KNIL terletak di Bandung.

Monumen ketiga adalah Monumen Padalarang yang terbuat dari 5 pilar dan sebuah buku. Monumen ini merupakan peringatan gugurnya 5 musisi dalam kecelakaan pesawat Koninklijke Luchtvaart Maatschappij Interinsulair Bedrijf DC-3 PK-REA tanggal 10 Februari 1948 yang jatuh di Padalarang akibat cuaca buruk. Menurut saksi mata, pesawat terbakar di bagian mesin dan kondisi badai, sehingga pesawat tak terkendali dan jatuh pada pukul 16.05 WIB di dekat lintasan rel antara Stasiun Cilame dan Sasaksaat. Pesawat tersebut membawa 4 awak dan 15 penumpang, bertolak dari Andir menuju ke Kemayoran.

Monumen Musisi Korban Kecelakaan PK-REA

Di antara 15 penumpang, terdapat lima warga sipil yang terdiri dari tiga musisi klasik asal Belanda, yaitu pianis Elisabeth Everts (28 tahun), pemain cello Johan Gutlich (36 tahun), dan violist Rudi Broer van Dijk (22 tahun), eluctionist Francina Geertruida Maria Gerrese (46 tahun), serta seorang pensiunan sersan KNIL Leendert Paay (45 tahun). Mereka datang ke Hindia Belanda sejak bulan Oktober 1947 dalam rangka misi pentas untuk menghibur para serdadu KNIL. Pentas mereka didukung organisasi Nationale Inspanning Welzijnsverzorging Indië (NIWIN), sebuah organisasi amal untuk kesejahteraan pasukan Belanda di Indonesia. Jenasah mereka semula dimakamkan pada tanggal 12 Februari 1948 di Ereveld Parkweg Bandung (sekarang Kampus Unisba). Karena dianggap berjasa menghibur pasukan KNIL, maka pada tanggal 21 Maret 1950 kelima jenasah tersebut dipindahkan ke Ereveld Pandu. Adapun penumpang lainnya yang merupakan anggota ML KNIL dimakamkan di Ereveld Tjililitan, sebelum kemudian dipindahkan ke Ereveld Menteng Pulo.

Monumen Tjiaterstelling

Monumen keempat adalah monumen Tjiaterstelling (Pos Ciater), sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang gugur ketika melawan Jepang antara 1-8 Maret 1942 di sekitar Subang, Kalijati dan Ciater. Pertempuran Perlintasan Ciater terjadi di antara perkebunan Ciater dan hutan Jayagiri Cikole, berlangsung dari 5 hingga 7 Maret 1942 antara pasukan invasi Jepang melawan pasukan KNIL. Pertempuran ini memperebutkan Perlintasan Ciater yang merupakan garis pertahanan terakhir Batalion 5 KNIL di Bandung, dalam upaya mempertahankan Kota Bandung. Pertempuran berakhir dengan kekalahan pasukan KNIL. Dari 72 orang yang dieksekusi di Ciater, hanya 3 orang yang selamat. Pada 8 Maret 1942 pemerintah Hindia Belanda menyerahkan Hindia Belanda kepada Jepang di Kalijati.

Monumen Tjiaterstelling berbentuk 12 prasasti yang melingkari tiang bendera pada monumen, bertuliskan nama-nama mereka yang gugur di Tjiaterstelling dan Subangtelling. Di pondasi tiang bendera terdapat 12 simbol zodiak dan simbol 4 agama besar di dunia. Sedangkan di dasar tiang terdapat nama-nama tempat pertempuran KNIL: Subang, Ciater, Kalijati, Cihapit, Karees, Batalyon 15, Sukamiskin, Cirebon, Banyumas, Cianjur, dan Preanger.


Wednesday, February 14, 2024

Wisata Pemakaman PD II (4): Ereveld Leuwigajah

Setelah menembus rangkaian kemacetan dari Bandung menuju Cimahi, akhirnya kami tiba di depan gerbang TPU Leuwigajah di Jl. Kerkof. Di gerbang TPU Leuwigajah, terlihat tulisan Ereveld Leuwigajah yang sudah pudar. Sempat terbersit keraguan, apakah ini benar jalan masuk menuju Ereveld Leuwigajah, mengingat secara resmi Ereveld Leuwigajah beralamat di Jl. Cibogo 16, dan tidak terlihat gerbang ereveld yang khas seperti di ereveld yang lain. Ditambah lagi, di TPU sedang ada proses pemakaman, sehingga suasana sangat ramai. Namun petugas TPU mengkonfirmasi bahwa gerbang tersebut memang jalan masuk menuju Ereveld Leuwigajah, dan membantu saya membunyikan bel untuk memanggil petugas Ereveld.

Pintu Gerbang Ereveld Leuwigajah,
tersembunyi di balik TPU Leuwigajah Cimahi

Ereveld Leuwigajah diresmikan pada 20 Desember 1949 oleh Mayor Jendral P. Alons dan Wali Negara Pasoendan Raden Temenggoeng Djoewarsa. Di antara seluruh ereveld di Indonesia, Ereveld Leuwigajah merupakan ereveld terbesar, dengan jumlah makam kurang lebih 5181. Sebelum menjadi ereveld, lahan yang saat ini menjadi lokasi Ereveld Leuwigajah sudah digunakan tentara Jepang untuk memakamkan tawanan yang meninggal di kamp konsentrasi Jepang di Cimahi. 

Sesuai informasi dari pak Sutisna, penjaga ereveld yang sudah bekerja di Leuwigajah selama 31 tahun, mereka yang dimakamkan di sini adalah mereka yang gugur selama Perang Dunia Kedua, khususnya di masa pendudukan Jepang (1941-1945) dan selama masa revolusi (1945-1949). Sebagian dari mereka adalah anggota Tentara Angkatan Darat Kerajaan Belanda (Koninklijk Landmacht) dan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), walaupun terdapat orang-orang sipil yang juga dimakamkan di sini. Antara tahun 1960-1970, seiring dengan perjanjian sentralisasi makam Belanda, dilakukan pemindahan makam dari ereveld lain di Indonesia, termasuk dari Muntok (1960), Padang (1962), Tarakan (1964), Medan (1966), Palembang (1967), dan Balikpapan (1967). 

Latar belakang bukit Pasir Gajahlangu dan Pasir Menteng

Jika ereveld Menteng Pulo dan ereveld Kembang Kuning dikelilingi oleh Gedung tinggi, ereveld Leuwigajah memiliki lokasi yang cukup indah, dengan latar belakang bukit Pasir Gajahlangu dan Pasir Menteng. Seluas mata memandang, yang terlihat adalah nisan berwarna putih, yang didominasi bentuk salib. Dari bentuk nisannya, dapat diketahui agama dari yang dimakamkan di tempat tersebut. apakah Kristen, Islam, Buddha, atau Yahudi (ya, di ereveld ini saya menemukan satu nisan berbentuk Bintang Daud). Jika yang bersangkutan adalah personil militer, biasanya disebutkan pangkat dan dari satuan mana yang bersangkutan berasal. Beberapa makam bertuliskan “Onbekend”, yang berarti “tidak dikenal”. Beberapa makam juga memiliki tulisan yang menjelaskan makam tersebut merupakan pindahan dari ereveld lain. Bedanya dengan di ereveld lain, nisan pemakaman muslim di Ereveld Leuwigajah menghadap ke arah yang sama dengan nisan lainnya. Setelah saya cek arah mata angin, tampaknya arah pemakaman tersebut memungkinkan jenazah mereka yang beragama Islam bisa menghadap ke kiblat dengan tetap searah dengan nisan lainnya.

Di sisi belakang Ereveld, terdapat prasasti yang didirikan untuk mengenang tenggelamnya kapal barang “Junyo Maru” milik Kekaisaran Jepang. Jika dibandingkan dengan monumen perang Laut Jawa di Ereveld Kembang Kuning, prasasti ini dapat dikatakan mungil. Namun tragedi “Junyo Maru” sendiri dapat dikatakan sebagai salah satu bencana maritime terburuk selama Perang Dunia II.

Monumen "Junyo Maru"

Kapal “Junyo Maru” digunakan untuk mengangkut tawanan perang dan romusha yang akan ditugaskan membangun rel kereta api dari Pekanbaru ke Muaro Jambi. Pada 16 September 1944, Junyo Maru bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Padang, membawa 2300 tawanan perang yang terdiri dari tentara Belanda, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia, serta membawa 4200 romusha dari Jawa. 18 September 1944, saat menelusuri Pantai Barat Sumatera, tepatnya di sekitar Muko-Muko, Bengkulu, Junyo Maru diserang torpedo kapal selam HMS Tradewind milik Angkatan Laut Inggris, yang tidak mengetahui bahwa Junyo Maru membawa tawanan perang. Mereka menyerang Junyo Maru karena hanya melihat bendera Hinomaru di atas kapal, sehingga langsung bereaksi untuk menenggelamkannya. 

Dari 6500 penumpang, sebanyak 680 tawanan perang dan 200 romusha berhasil diselamatkan oleh kapal Jepang, sedangkan 5620 penumpang lainnya tewas bersama kapal yang karam. Mereka yang selamat masih harus melakukan kerja paksa membangun jaringan rel KA Pekanbaru-Muarosijinjing. Tragedi Junyo Maru ternyata bukan sekadar banyaknya korban yang tewas. Kapal tersebut juga dikenal sebagai kapal neraka, karena fasilitas di dalam kapal sangat tidak manusiawi. Menurut mereka yang selamat dari Junyo Maru, tentara Jepang sebagai pemilik kapal tidak menyediakan air minum, tidak ada sekoci, tidak ada jalur evakuasi darurat, serta tidak ada ventilasi yang layak.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, Yayasan Stichting Junyo Maru mendirikan monument pada 21 September 1984. Monumen ini juga ditujukan untuk mengenang seluruh korban yang tewas pada pertempuran laut di Asia Tenggara antara 1942-1945. Mengapa monument ini didirikan di Cimahi? Kemungkinan besar karena pada masa pendudukan Jepang, Cimahi merupakan salah satu kamp interniran besar di Jawa, yang menampung 10.000 tahanan perang.


Sunday, May 14, 2023

Amazing Race Oude Paris Van Java

Program TV Amazing Race mungkin sudah tidak asing bagi kita. Siapa yang tercepat mencapai satu titik, siapa yang tercepat menyelesaikan tantangan di masing-masing pos, dan siapa yang tercepat menyelesaikan seluruh rangkaian tantangan, untuk memperebutkan hadiah sejumlah uang. Saat ini konsep Amazing Race sudah ditiru oleh banyak acara outing – terutama outing Korporat – walaupun versinya lebih sederhana dibandingkan yang dimainkan dalam Program TV.

Seperti pada acara raker Korporat kami menjelang liburan Natal tahun 2022, program berkonsep serupa Amazing Race ini menjadi acara outing yang dilakukan di hari terakhir. Ya, hitung-hitung sekalian refreshing, karena Amazing Race-nya dilakukan dengan berkeliling Kota Bandung. Titik-titik yang dijadikan tempat persinggahan dan menyelesaikan tantangan merupakan landmark terkenal di Kota Bandung. Program kami hari ini rencananya harus mengunjungi 5 titik persinggahan. Eit, tapi di mana titik persinggahannya, sebelumnya kami harus memecahkan clue yang diberikan panitia. Clue-nya gampang-gampang susah, tapi bagi pecinta Kota Bandung, pasti bisa memecahkannya.

Kelompok "Geulis"

Kelompok kami yang terdiri dari 7 orang – kebetulan perempuan semua – kebetulan mendapat titik persinggahan pertama di Titik Nol Bandung. Clue-nya susah-susah gampang, karena harus mencari tempat di mana Gubernur Jendral Daendels konon pernah menancapkan tongkat dan berkata, “usahakan bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota”. Padahal, titik ini termasuk titik yang ramai dilewati orang.. Daendels memang tak pernah kembali, tapi nyatanya tempat ini telah menjadi kota yang sangat popular.

Titik Nol Bandung, Jl. Asia-Afrika

Setelah berhasil memecahkan tantangan di Titik Nol Bandung, titik persinggahan berikutnya adalah Cikapundung Riverspot. Wah, mana pula itu? Jaman saya kuliah di Bandung belum ada! Ternyata, Plaza Cikapundung Riverspot adalah semacam open public space di tepi Cikapundung, tak jauh dari Titik Nol. Di sana tantangannya lompat tali pakai karet. Hadeuh... udah berapa puluh tahun ga pernah main beginian! Akhirnya setelah mencoba beberapa kali, berhasil, berhasil!

Cikapundung Riverspot

Main tali karet selesai, kami berpindah di titik persinggahan berikutnya di Monumen Bandung Lautan Api. Masuk dari pintu di Jl. Otto Iskandar Dinata (yang ditandai dengan clue “Si Jalak Harupat”), kami harus melintas Lapangan Tegallega untuk sampai ke tempat tantangan berikutnya. Ternyata… kami harus mencoba memanah dengan Panah Sumedang! Hadeuh… mana busurnya berat, dan membutuhkan tenaga serta strategi yang tepat agar panahnya bisa menancap di sasaran! Tapi seru juga… jadi kepikir abis ini mau nyoba olahraga panahan, hihihi.

Monumen Bandung Lautan Api

Tantangan panah selesai, kami berpindah ke persinggahan berikutnya di Padepokan Jugala Gugum Gumbira. Ketika tiba di tempatnya yang terletak di Jl. Kopo 15-17, tidak terlihat ada tanda-tanda yang jelas. Sempat bingung, namun setelah kami menjawab tantangan harus ngibing sambil nyanyi lagu Peuyeum Bandung, akhirnya kami diijinkan masuk ke padepokan melalui gank di antara bangunan.

Foto Abah Gugum di Padepokan Jugala

Rupanya Padepokan Jugala letaknya tersembunyi di dalam gank. Di dalam terdapat pendopo kecil, serta halaman kecil yang bisa digunakan untuk menari. Kami menyaksikan kelompok teman-teman kami yang tiba terlebih dahulu sudah melakukan latihan tari Jaipongan. Ha, seru! Tapi kami harus bersabar menunggu giliran kami.

Setelah tiba giliran kami latihan tari Jaipongan, sebelum mulai, ada Kang Aji yang menjelaskan tentang Padepokan Jugala yang didirikan almarhum Gugum Gumbira Tirasonjaya. Abah Gugum adalah pencipta tari Jaipongan, yang merupakan pengembangan dari tarian ketuk tilu, dikombinasikan dengan seni bela diri pencak silat, tari topeng banjet, dan teater Wayang Golek. Jaipongan memulai debutnya pada tahun 1974, ketika Abah Gugum beserta penari dan para pemain gamelan tampil di depan umum. Nama “Jaipongan” digunakan Abah Gugum untuk membedakan tari Jaipongan dari tari Ketuk Tilu. Nama “Jaipongan” berasal dari kata “Jaipong”, yang sebelumnya tidak ada maknanya. 

Foto Ibu Euis di Padepokan Jugala

Abah Gugum memiliki istri Euis Komariah, yang juga seniman di bidang tarik suara tradisional Sunda. Ibu Euis juga merupakan penyanyi dari Orkestra Jugala. Mereka memiliki 4 orang putri, dan hari ini kami dipimpin oleh Ibu Mira Tejaningrum, putri sulung Abah Gugum dan Ibu Euis, untuk mencoba menari Jaipongan.

Ternyata, tidak gampang sodara-sodara! Antara tangan dan kaki harus sinkron. Belum lagi harus ada efek “ngeper” dari gerakan kaki. Buat yang jarang olahraga, ternyata bikin pegal-pega juga. Bu Mira juga menjelaskan bahwa Jaipongan sebenarnya tidak ada unsur geal geol, yang ada pinggul bergerak mengikuti gerakan kaki.

Museum Kota Bandung di Tahun 2019

Dari Padepokan Jugala, seharusnya kami melanjutkan ke pos terakhir di Museum Kota Bandung. Museum ini menempati bangunan antik di Jl. Aceh, yang didirikan tahun 1920. Di museum ini ditampilkan informasi sejarah Kota Bandung, termasuk Piagam Sultan Agung, Besluit Gubernur Jendral Daendels mengenai pendirian Bandung, rencana pembangunan Negorij Bandoeng oleh Dalem RAA Wiranatakusumah II, serta berbagai informasi terkait Bandung lainnya. Sayangnya, karena waktu tidak memungkinkan, kami harus segera bergabung di Bandoengsche Melk Centrum untuk melanjutkan acara Korporat. Ketika kami kembali melewati museum tersebut (yang hanya 100 meter dari BMC), ternyata museum dalam kondisi tutup. Untung saya pernah ke museum ini di tahun 2019!

Saturday, January 11, 2020

Kedai Kopi di (bekas) Toko Buku Tempo Doeloe

Sore itu menjelang perayaan Natal di tahun 2019, cuaca Bandung agak sendu manja. Namun ini tidak menyurutkan hasrat para wisatawan untuk berpartisipasi dalam keramaian di kawasan Braga. Dari arah Braga Permai, terlihat etalase toko berkaca bening, bertuliskan " Kopi Toko Djawa". Masih segar dalam ingatan saya sebuah toko buku kecil di tempat yang sama. Toko Buku Djawa. Toko buku tempo doeloe yang berdiri sejak tahun 1955, bersamaan dengan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Di masa jayanya antara dekade 1960-1980-an, toko ini direferensikan oleh banyak pelajar di Bandung. Salah satu pelanggannya adalah mantan presiden Republik Indonesia B.J. Habibie.

Toko Buku Djawa di Tahun 2011
Di masa ketika saya masih berkeliaran di Bandung pada akhir dekade 1990-an, saya masih terbayang-bayang ketika tiap kali saya mampir ke toko buku ini. Walaupun tampak jadoel, namun sebenarnya mereka cukup canggih, karena pada masa itu buku dan majalah yang dijual cukup update. Saat itu, belum banyak toko buku kecil yang mau bertransaksi dengan credit card, namun saya pernah membeli majalah berbahasa Inggris di Toko Buku Djawa dan membayarnya dengan credit card.

Kopi Toko Djawa di tahun 2019
Ketika melihat berita di internet, hati kecil saya sempat trenyuh, Toko Buku Djawa ternyata harus tergerus kemajuan jaman. Tahun 2015, toko buku kecil ini terpaksa tutup karena kalah bersaing. Namun rasa trenyuh itu terobati dengan kenyataan bangunan tua itu tidak dibongkar. Sejak tahun 2017, bangunan dan difungsikan sebagai café yang digunakan untuk tempat kongkow yang kekinian. Bahkan papan nama Toko Buku Djawa masih terpampang, untuk mengenang masa jayanya saat menjadi sebuah toko buku.

Kopi Gula Aren dan Merchandise di event Semasa di Kota Tua

Setelah sempat mencicipi Kopi Gula Aren Kopi Toko Djawa (yang nendang banget) di event Semasa Di Kota Tua di akhir November yang lalu di Jakarta, akhirnya saya berkesempatan untuk hadir di Toko Kopi Djawa. Seperti halnya toko-toko kopi kekinian, Kopi Toko Djawa telah dikelola secara modern, dan antrian para pembeli kopi pun tampak mengular. Sebagian besar tampak duduk di dekat meja barista, menunggu pesanan kopi mereka selesai untuk di-take away. Sebagian yang lain duduk di meja-meja, mungkin bermaksud menghabiskan waktu lebih lama di tempat ini. Bahkan ada yang hanya sekadar duduk-duduk di kursi depan café, menikmati hawa dingin di Kawasan Braga.


Saya memang tak bermaksud untuk berlama-lama di sana, hanya sekadar membeli minuman panas sambil mencicipi apakah vibe dari masa lalu masih terasa hingga kini. Pada dasarnya suasana cafenya cozy, namun tidak menghilangkan hawa-hawa tempo doeloe-nya. Hal yang "diwariskan" dari Toko Buku Djawa adalah cafe ini menyediakan buku-buku bacaan untuk para pengunjungnya. Seandainya ada waktu , rasanya ingin tinggal lebih lama untuk menikmati suasana jadoel di tempat ini.

Tuesday, December 24, 2019

Linimasa Sejarah Bandung di Museum Kota Bandung

Cuaca Bandung di akhir pekan yang lalu sangat sendu, namun Taman Sejarah Bandung di Kawasan Balai Kota tetap ramai dengan para wisatawan. Semula saya hanya ingin menghabiskan waktu di Taman Sejarah Bandung, namun mata saya justru tertuju pada sebuah bangunan tua bertuliskan "Museum Kota Bandung". Nah, menarik ini…

Kutipan Bung Karno
"Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah". Kutipan Bung Karno yang terkenal ini mengawali kunjungan saya sebelum masuk ke bangunan antik yang menjadi rumah dari Museum Kota Bandung. Bangunan antik di Jl. Aceh No. 47 ini berdiri pada tahun 1920, pertama kali digunakan sebagai Frobelschool (Taman Kanak-Kanak) milik kelompok Vrijmetselarij (Freemasonry) Bandung. Setelah bangunan ini diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, bangunan ini digunakan sebagai Sekolah Pendidikan Olahraga dan Kantor KONI Jawa Barat, sebelum pada tahun 2013 dihibahkan kepada Pemerintah Kota Bandung dan digunakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Bandung. Tanggal 31 Oktober 2018, Walikota Bandung Oded M. Danial meresmikan bangunan ini menjadi Museum Kota Bandung.

Tampak Depan Bangunan Museum
Masuk ke dalam bangunan museum, ternyata saat ini museum belum berfungsi secara penuh. Baru 2 ruangan yang digunakan untuk menampilkan informasi sejarah Kota Bandung. Di dalam ruangan pertama berisi milestone peristiwa bersejarah di Bandung, serta nama-nama walikota Bandung dari masa ke masa, mulai dari Bertus Coops hingga Oded M. Danial. Sedangkan ruangan kedua berisi penjelasan lebih detail mengenai tonggak peristiwa bersejarah Kota Bandung, mulai dari Piagam Sultan Agung, hingga pemindahan ibukota karesidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung.

Mural di Dinding Ruangan Pertama
Sebuah pengetahuan baru bagi saya, bahwa kemungkinan catatan peristiwa bersejarah Kota Bandung yang tertua adalah Piagam Sultan Agung. Piagam tertanggal 20 April 1641 ini berisi tentang pembagian bekas daerah kekuasaan Dipati Ukur menjadi 3: wilayah Sukapura kepada Tumenggung Wiradadaha, wilayah Bandung kepada Tumenggung Wirangunagun, dan wilayah Parakanmuncang kepada Tanubaya. Namun, seiring dengan kemunduran kerajaan Mataram, pada tahun 1677 wilayah Bandung dikuasai oleh VOC.

Piagam Sultan Agung
Bandung kembali muncul dalam sejarah Indonesia pada masa pembangunan Jalan Raya Pos. Di tahun 1810, Gubernur Jendral Daendels datang ke lokasi Jalan Raya Pos yang melintasi sungai Cikapundung, dan menancapkan tongkat kayu sambil mengucapkan "Usahakan bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota". Tempat ini kemudian menjadi Titik Nol Bandung Namun Daendels tak pernah kembali. Pada akhirnya, Dalem Wiranatakusumah II memindahkan ibukota Negorij Priangan dari Krapyak ke Bandung, namun tidak berpusat pada titik Daendels menancapkan.tongkat, melainkan di tempat yang sekarang menjadi Pendopo Kota Bandung di dekat alun-alun.

Besluit Daendels Tahun 1810 tentang Perintah Pendirian Kota Bandung
Pembangunan Bandung di masa kolonial Hindia Belanda sangat pesat. Banyak bangunan fasilitas public didirikan dengan gaya arsitektur Eropa, membuat kota ini dijuluki Europe in De Tropen (Kawasan Eropa di daerah tropis). Demikian juga adanya jalur KA Cianjur-Bandung dan Bandung-Surabaya di akhir abad ke-19 membuka lebih banyak akses menuju Bandung. Masih banyak sejarah Bandung yang belum tersampaikan di museum ini, sehingga semoga museum ini dapat segera melengkapi koleksi dan informasi yang disampaikan, sebagai sarana edukasi yang lebih komprehensif mengenai sejarah Kota Bandung.

Saturday, February 14, 2015

#GAWisataDaerahmu: Suasana Jadoel Parijs Van Java

Bandung, my second hometown. Tinggal selama 9 tahun di Bandung membuat kota ini selalu ngangenin, khususnya dari sisi ke-jadoel-annya. Potensi wisata tempo doeloe di Bandung hampir tidak ada habisnya, khususnya dari peninggalan-peninggalan masa kolonial Belanda, ketika kota ini menjadi tujuan akhir pekan para Preangerplanter.

Salah Satu Sudut Jalan Braga
Salah satu tempat jadoel yang wajib dikunjungi di Bandung adalah Jalan Braga. Di masa jayanya, Jalan Braga merupakan pusat perbelanjaan paling bergengsi di Kota Bandung. Bangunan-bangunan tua bergaya art deco dibangun berjajar di sepanjang sisi kiri-kanan jalan, sebagai saksi bisu bahwa kawasan ini pernah menjadi jantung Parijs van Java di masa silam.

Etalase Tempat Memajang Roti di "Sumber Hidangan"
Melangkahkan kaki sepanjang Jalan Braga ke arah selatan, menjelang ujung jalan Anda akan menemukan toko roti "Sumber Hidangan". Toko roti dengan nama jadoel "Het Snoephuis" (secara harfiah berarti “rumah makanan manis”) ini banyak menjual aneka roti dan kue gaya Belanda. Masuklah ke dalam toko roti tersebut, dan Anda akan merasa seperti masuk ke dalam mesin waktu, karena suasana di dalam toko ini tidak jauh berbeda dengan ketika toko ini pertama kali dibuka pada tahun 1929. Interior di dalam restoran masih mempertahankan suasana tempo doeloe, termasuk kursi-meja di restoran, etalase tempat memajang roti, dan toples tempat menyimpan kue kering. Nuansa tempo doeloe ini diperkuat dengan keberadaan sebuah mesin kasir jadoel merk JVC yang masih menggunakan satuan florin-gulden.

Mesin Kasir Jadoel
 Di etalase, terlihat berbagai jenis roti dan camilan khas Belanda dari masa silam. Sebut saja bitterbalen, kaastengels, kattetong, janhagel,krentebrood, ananastaart, likeur bonbon, vruchten zandtaart, chocolade rotsjes, mocca truffel, dan bokkepoot doublet. "Sumber Hidangan" juga menjual suiker hagelslag atau gula tabur sebagai teman makan roti, dengan pilihan rasa sitrun, nanas, apel, vanila, frambozen, dan coklat. Agar pengalaman merasakan ke-jadoel-an di tempat ini semakin komplit, pesanlah salah satu camilan gaya Belanda tersebut, dan duduklah di kursi restoran Sumber Hidangan, sambil menatap Jalan Braga dan membayangkan suasana Parijs van Java di masa silam.

Seporsi Bitterbalen