Showing posts with label jawa barat. Show all posts
Showing posts with label jawa barat. Show all posts

Tuesday, May 6, 2025

Mencari Kesejukan Hati di Candi Cangkuang

 Adem. Itu kata yang pertama terlintas saat saya keluar dari mobil dan menghirup udara segar di Desa Cangkuang. Sengaja saya tidak pakai kata “tiis” atau “tiris”, karena yang adem bukan hanya cuaca, tapi hati ini rasanya pun ikut adem tentrem. Bisa jadi karena suasana yang menyejukkan hati di tepi Situ Cangkuang sangat kontras dengan Situ Bagendit yang kami kunjungi sebelumnya, yang sangat panas dan hingar bingar. Tidak heran, karena Situ Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Kabupaten Garut, meliputi Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur. 

Gunung Haruman dilihat dari dermaga Pulau Panjang

Sebagai penggemar candi, sudah lama saya ingin ke Candi Cangkuang. Candi Cangkuang terletak di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Candi ini merupakan candi yang pertama kali ditemukan di Jawa Barat, sekaligus satu-satunya candi Hindu yang bertahan di Tatar Sunda.  Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1966 oleh Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita, dengan mengacu pada laporan penemuan sebelumnya oleh Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genotschap terbitan tahun 1893. 

Candi Cangkuang dan makam
Dalem Arief Muhammad

Candi inilah juga yang pertama kali ditemukan di Tatar Sunda serta merupakan satu-satunya candi Hindu yang bertahan di Tatar Sunda (sampai saat ini). Berdasarkan tingkat kelapukan batuan dan kesederhanaan bentuk candi (karena tidak ditemukan relief di badan candi), maka para ahli menduga Candi Cangkuang didirikan pada abad ke-8. Dengan dugaan ini, maka bisa jadi candi ini menjadi salah satu petunjuk mengisi kekosongan informasi sejarah antara Purnawarman dan Pajajaran.

Nama Candi Cangkuang diambil dari nama desa tempat candi ini berada. Kata 'Cangkuang' berasal dari nama tanaman sejenis pandan (Pandanus furcatus), yang banyak terdapat di sekitar candi. Tanaman ini memiliki banyak manfaat. Daunnya bisa untuk membuat tudung, membuat tikar, pembungkus gula aren, pembungkus ketupat, dan obat-obatan. Tunasnya bisa digunakan untuk obat batuk. Buahnya juga bisa digunakan untuk obat .

Pohon Cangkuang (Pandanus furcatus)

Keunikan situs Candi Cangkuang adalah keberadaan makam kuno di sebelah candi. Makam tersebut adalah makam Mbah Dalem Arief Muhammad, yang dianggap sebagai leluhur penduduk Kampung Pulo. Konon Arief Muhammad adalah salah satu Senopati dari Mataram yang menyerang Batavia. Karena kalah melawan VOC, Arief Muhammad tidak berani pulang ke Mataram, dan bermukim di Cangkuang. Arief Muhammad memiliki 6 anak perempuan dan 1 anak laki-laki, yang menjadi cikal bakal Desa Adat Kampung Pulo. 

Hari ini saya bersama teman-teman yang mengikuti program Wisata Kreatif Jakarta mengunjungi Cagar Budaya Cangkuang, ditemani Kang Gungun, pemandu wisata yang kebetulan merupakan warga local di Desa Cangkuang. Karena cagar budaya Cangkuang terletak di Kampung Pulo yang terletak di sebuah pulau di tengah Situ Cangkuang (dalam bahasa Sunda, “situ” berarti danau), kami harus menyeberang dengan menggunakan rakit bambu. Rakit-rakit tersebut memiliki kapasitas antara 15-20 orang. Karena terbuat dari bambu, rakit ini hanya memiliki daya tahan maksimal 2 tahun. Menurut Kang Gungun, biaya pembuatan 1 rakit bisa mencapai 8-9 juta.

Desa Adat Kampung Pulo

Saat mendarat di Kampung Pulo, dari dermaga kita bisa melihat Gunung Haruman dengan jelas, seolah menaungi kesejukan di Situ Cangkuang. Untuk menuju candi, Kang Gungun mengajak kami melintasi pasar seni menuju pemukiman adat Kampung Pulo. Di Desa Adat Kampung Pulo terdapat 6 rumah tradisional berbentuk rumah panggung yang dihuni keturunan anak-anak perempuan Arief Muhammad dari garis perempuan, serta 1 masjid yang melambangkan anak laki-laki dari Arief Muhammad. Saat ini penghuni Desa Adat Kampung Pulo merupakan generasi ke 8 hingga 10. 

Dari Desa Adat, Kang Gungun mengantar kami menuju bangunan candi. Terlihat bangunan candi tunggal dengan langgam arsitektur Hindu, dengan sebuah makam kuno di sebelahnya. Inilah Candi Cangkuang dan Makam Mbah Dalem Arief Muhammad. Selain terkagum melihat bangunan candi dan Lokasi yang sangat asri penuh pepohonan, ada satu hal yang paling berkesan bagi kami: suasananya sangat sejuk dan damai. Rasanya tak ingin pergi dari tempat ini…

Candi Cangkuang tampak depan

Candi yang kami saksikan sekarang merupakan hasil pemugaran tahun 1974. Rekonstruksi dilakukan dengan menyusun kembali batu-batu candi yang ditemukan di sekitar candi. Karena hanya sekitar 40% batu candi asli yang dapat ditemukan kembali, selebihnya pemugaran dilakukan dengan adukan semen, batu koral, pasir dan besi. Di dalam bilik candi terdapat arca Siwa yang kondisinya sudah tidak utuh, dengan wajah yang datar, dengan bagian tangan hingga kedua pergelangannya telah hilang.

Di depan candi dan makam, terdapat rumah joglo yang berfungsi sebagai museum, yang dibangun pada 1976. Koleksi museum merupakan benda-benda bersejarah terkait Candi Cangkuang dan Mbah Dalem Arief Muhammad. Di halaman depan museum kita juga bisa melihat pohon Cangkuang, jenis tanaman pandan yang menjadi asal usul nama Desa Cangkuang.

Dengan hawa yang sejuk, saya bisa membayangkan duduk di salah satu warung, sambil menikmati teh tawar hangat dan kudapan burayot. Burayot merupakan makanan asli Cangkuang, yang awalnya dibuat sebagai makanan untuk menyambut tamu dalam acara adat, atau jika ada perayaan keluarga. Nama "burayot" berasal dari bahasa Sunda yang berarti "menggantung" atau "terjuntai," sesuai dengan bentuknya yang lonjong dan menyerupai tetesan air yang menggantung. 

Burayot

Bahan baku burayot adalah tepung beras dan gula merah yang dikocek di atas api. Setelah adonan matang, adonan dibuat bulat-bulat, kemudian digoreng sebentar dalam minyak panas dan dicutik, kemudian digantung untuk membuat bentuk tetesan air. Tekstur burayot di bagian atas krispi, dengan rasa manis terkumpul di bagian bawah. Namun burayot sebaiknya dimakan panas-panas, takutnya ketika dingin keburu jadi rayut…

Monday, April 8, 2024

Jalan-Jalan ke Pabrik Pesawat Satu-Satunya di ASEAN

 "Siapa mau jadi pilot?"

Pertanyaan pemandu program edutainment di PT Dirgantara Indonesia ini sontak membuat pengunjung anak-anak berlomba-lomba mengacungkan tangan. Saya, satu-satunya peserta yang tidak membawa anak, barangkali sama sumringahnya dengan mereka, apalagi saat bis Bandros yang kami gunakan masuk ke area pabrik.

Program edutainment PTDI merupakan program memperkenalkan industri dirgantara PTDI sebagai satu-satunya pabrik pesawat di ASEAN. Jika factory tour umumnya dilakukan secara berombongan dengan mengirimkan surat resmi terlebih dahulu, program edutainment memungkinkan peserta perorangan untuk mengikuti factory tour di akhir pekan. Dan karena pesawat adalah cinta pertama saya pada teknologi, jadi saya harus menyegerakan untuk ikut program edutainment ini -- sebelum program ini menghilang tanpa jejak.

Memasuki area pabrik PTDI, pemandu menjelaskan tahapan pembuatan pesawat. Hanggar pertama adalah produksi fuselage yang akan menjadi badan pesawat. Fuselage dan bagian pesawat lainnya seperti sayap, ekor, dan roda pendaratan kemudian dirakit di hanggar berikutnya, serta melengkapi pesawat dengan mesin, instrumentasi, dan interior yang dibutuhkan. Setelah melewati tahap ini, pesawat akan dicat sesuai permintaan pemesan.

Hanggar berikutnya adalah tempat pengujian pesawat yang sudah dirakit. Sebelum diserahkan kepada pemesan, pesawat akan diinspeksi dan diujicoba terlebih dahulu untuk memastikan semua sistemnya berjalan dengan baik. Di dalam hanggar terdapat CN 235 flying test bed yang digunakan untuk uji coba. Sekilas saya cari di internet, kemungkinan pesawat ini digunakan untuk ujicoba green avtur.

Sebelum lanjut ke tahapan berikutnya, bis Bandros berhenti di dekat pesawat-pesawat yang parkir di depan hanggar. Pengunjung diperkenankan turun dan melihat wujud nyata pesawat produksi PTDI, walaupun tidak bisa terlalu dekat karena diberi pembatas. Saya mengenali pesawat pertama yang terlihat, kok ada Gatotkaca? Bukan, itu bukan N250 Gatotkaca yang pulang kampung dari Museum Dirgantara Mandala. Pesawat dengan bentuk dan warna yang sama dengan Gatotkaca tersebut adalah N250 Krincingwesi, "adik" N250 Gatotkaca.

Atas: N250 Krincingwesi
Bawah: N250 Gatotkaca di Museum Dirgantara Mandala

N250 merupakan pesawat penumpang turboprop 2 mesin karya BJ Habibie, sebagai wujud cita-cita agar Indonesia mampu membuat pesawat sendiri. Hal ini sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang berbentuk negara kepulauan, akan lebih mudah jika terkoneksi melalui udara. Pesawat yang diproduksi PTDI ini digadang-gadang akan menjadi tonggak sejarah kejayaan kedirgantaraan Indonesia. 

N250 Gatotkaca sebagai purwarupa pertama terbang perdana pada 10 Agustus 1995 di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Pesawat tersebut sempat mengikuti beberapa airshow, dan menjadi bintang Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Untuk pengembangan selanjutnya, dibuat purwarupa kedua N250 Krincingwesi, yang terbang perdana pada 19 Desember 1996. Krincingwesi dibuat sedikit lebih panjang daripada Gatotkaca, sehingga memiliki kapasitas lebih besar. Namun bobotnya lebih ringan, karena tata letaknya dibuat lebih efisien. Selain itu desain strukturnya juga dibuat lebih halus.

Pada 1997, seiring krisis moneter yang melanda Indonesia, Proyek N250 terpaksa harus berhenti. N250 Gatotkaca dan N250 Krincingwesi terparkir selama seperempat abad di PTDI. Atas permintaan Panglima TNI Hadi Tjahjanto, pada tahun 2020 N250 Gatotkaca dipindahkan ke Yogyakarta menjadi penghuni Museum Dirgantara Mandala, sebagai sarana edukasi masyarakat bahwa bangsa kita telah mampu merancang dan membuat pesawat sendiri. Sedangkan Krincingwesi masih berada di PTDI, dan turut menjadi sarana edukasi bagi para peserta factory tour.

CN 235 Flying Test Bed

Selain Krincingwesi, di parkiran hanggar terdapat CN 235 flying test bed yang sudah tidak digunakan lagi, CN 235 merupakan signature product pesawat penumpang PTDI yang sukses. Dikembangkan pada 1979 oleh IPTN (nama PTDI pada masa itu) dan CASA (sekarang menjadi Airbus Defense &Space), prototipe CN 235 buatan IPTN bernama Tetuko terbang pertama kali pada Desember 1983. Produksi pertama dilakukan pada 1986, dan saat ini CN 235 sudah diproduksi dengan berbagai varian dan digunakan di berbagai negara. 

Peragaan MALE di Ruang Mock Up

Ada benda panjang berwarna hitam di sisi CN 235. Benda tersebut bukan rudal, melainkan purwarupa drone jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) bernama "Elang Hitam". Drone ini hasil pengembangan Konsorsium Kementerian Pertahanan, TNI Angkatan Udara, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), PT Dirgantara Indonesia (PTDI), PT LEN Industri dan ITB. Purwarupa drone ini telah di-roll out pada 30 Desember 2019. Pesawat nirawak ini direncanakan dapaf dimanfaatkan untuk menangkal ancaman territorial, pengawasan cuaca dan pencegahan kebakaran hutan.

Dari apron, kami naik Bandros menuju hanggar pemeliharaan. Saat kami berkunjung, salah satu pesawat yang ada di dalam adalah Helikopter Super Puma. Helikopter NAS-332 Super Puma merupakan pengembangan SA-330 Puma kerjasama IPTN dengan Aeropastiale (sekarang Airbus Helicopters) dengan mesin yang diperbarui serta kabin penumpang diperbesar. Super Puma pertama kali terbang pada 1978, dan sejak 1980 menggantikan SA-330 Puma, Helikopter dengan 2 mesin ini dapat membawa 29 penumpang, serta dapat dipersenjatai dengan pod senapan, roket, dan misil, serta senjata untuk perang anti serangan laut. 

Informasi N219 di Ruang Mock Up

Hanggar terakhir sebelum masuk ruang mock up adalah tempat perakitan N219. N219 Nurtanio adalah pesawat multiguna generasi baru yang sepenuhnya karya anak bangsa. Dirancang sebagai pesawat angkutan penumpang, pesawat bermesin ganda turboprop berkapasitas 19 penumpang ini memiliki luas kabin terbesar di kelasnya. Ide dan desain N219 dikembangkan oleh PTDI, dengan pengembangan program dilakukan oleh PTDI dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. N219 dirancang dengan fixed tricycle landing gear, memungkinkan pesawat ini untuk melakukan Short Take-off and Landing (STOL), serta melakukan pendaratan dan lepas landas di medan yang sulit, seperti di bandara di ketinggian, atau di landasan bandara perintis. Purwarupa dari N219 telah melakukan uji terbang perdana pada 16 Agustus 2017, dan masih menjalani serangkaian pengujian sertifikasi, untuk menjamin keamanan dan keselamatan.

Informasi KF-21 Boramae di Ruang Mock Up

Ruang mock up merupakan ruang terakhir sebelum factory tour berakhir. Di sini terdapat informasi lebih detail tentang produk PTDI, seperti PUNA MALE, UAV Wulung, N219, CN 235 dalam berbagai varian, serta NC 212. Di antara pesawat yang diperkenalkan, terdapat KFX/IFX, pesawat hasil kerjasama PTDI dengan Korea Aerospace Industries, yang dikenal juga sebagai KF-21 Boramae. Program pesawat tempur ini didanai 80% oleh Republik Korea dan 20% oleh Republik Indonesia. 

Mock Up CN 235 ex Merpati Nusantara Airlines

Bagi yang ingin tahu seperti apa kokpit sebuah pesawat, ruangan ini memiliki mock up CN 235 yang pernah dioperasikan oleh Merpati Nusantara Airlines. Interiornya sudah dikosongkan, menyisakan galley yang digunakan untuk menyajikan makanan. Mock up ini tentunya menjadi favorit anak-anak, yang langsung menyerbu untuk bergantian menjajal kokpitnya. Sementara saya mencoba mengingat, jangan-jangan dulu saya pernah naik pesawat ini dari Halim menuju bandara Tunggul Wulung pakai mampir di Husein Sastranegara…

Wednesday, January 3, 2018

Jejak Megalitikum Situs Cibalay

“Semangat, Kakak!”
Sebuah kalimat yang terus menerus saya ucapkan di dalam hati, ketika melintasi jalan setapak menuju ke Situs Megalitikum Arca Domas, Desa Cibalay, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Situs megalitikum yang terletak dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak ini letaknya tersembunyi dari keramaian, kurang lebih berjarak 2 kilometer dari jalan raya. Sedemikian “tersembunyinya” lokasi situs ini, kendaraan roda empat hanya bisa mencapai satu titik, sebelum kami harus meneruskan perjalanan melintasi jalan setapak dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor. Kami beruntung hari ini cuaca cerah, sehingga kami ditempati panorama persawahan yang membentang di kaki Gunung Salak, serta bunga-bunga rumput yang cantik di sepanjang jalan yang kami lalui.
Terdapat 8 situs megalitikum yang terletak di Desa Cibalay, namun saat mengisi liburan Natal ini kami hanya sempat mengunjungi 2 di antaranya. Situs pertama yang kami kunjungi adalah Situs Balekambang, yang terletak di area terbuka sebelum gapura masuk bertuliskan “Selamat Datang di Situs Cibalay”. Situs ini terdiri dari batu-batu besar dan pipih, dua di antaranya merupakan menhir yang diletakkan dalam posisi berdiri, serta terdapat beberapa buah dolmen berukuran kecil. Menurut cerita penduduk setempat, konon Situs Balekambang ini berfungsi seperti pintu gerbang, sehingga sebelum melakukan peribadatan di Situs Arca Domas para penziarah harus berhenti sejenak di Situs Balekambang untuk mempersiapkan diri.

Situs Balekambang

Setelah melihat-lihat Situs Balekambang, kami memasuki gapura bertuliskan “Selamat Datang di Situs Cibalay”, dan melewati anak tangga menuju ke Situs Arca Domas. Situs ini pertama kali diteliti secara detail oleh N.J. Krom pada tahun 1914, dan hasilnya dilaporkan dalam Rapporten van den Oudheidkundige Diensten Nederlandsch-Indie: inventaris dehindoe-oudeheden. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa penemuan situs ini sudah dilaporkan oleh De Wilde pada tahun 1830. Situs ini juga pernah tercatat oleh Junghuhn pada tahun 1844, dan Muller pada tahun 1856.

Situs Arca Domas
 Jika dilihat sekilas, struktur Situs Arca Domas mengingatkan saya pada situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur, dalam skala yang lebih kecil. Situs ini terdiri dari batu-batu pipih yang disusun membentuk punden berundak lima tingkat dan menghadap ke arah Gunung Salak. Di undakan paling tinggi terlihat teras utama yang memiliki beberapa menhir berbentuk batu pipih dalam posisi berdiri. Hal ini sangat terkait dengan kepercayaan kuno bahwa roh leluhur bersemayam di tempat tinggi. Dari jauh situs ini terlihat seperti sebuah bukit hijau, karena tanah yang menyelimuti situs seluas 2500 meter persegi ini banyak ditumbuhi semacam lumut.

Altar Utama Situs Arca Domas

 Kang Deni, petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang yang mengantarkan kami, menjelaskan bahwa situs Arca Domas diperkirakan berasal dari masa 2000-3000 tahun sebelum Masehi. Walaupun diberi nama “Arca Domas”, di kawasan ini belum pernah ditemukan arca. Nama “Domas” diberikan karena diperkirakan terdapat 800 buah (domas berarti 800) batu pipih yang berbentuk seperti arca. Kang Deni sendiri mengenal situs ini dengan sangat baik, karena kakeknya juga bertugas sebagai penjaga situs dari dinas purbakala sejak tahun 1970. Satu hal, walaupun situs ini terletak di Kabupaten Bogor, namun pengelolaan situs ini berada di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya yang berkantor di Serang, Banten. Unit teknis ini berada di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan wilayah kerja meliputi Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi Lampung.

Tuesday, August 22, 2017

Situs Batujaya, candi-candi masa Tarumanegara di Tengah Sawah

Langit cerah berwarna pucat di atas wilayah Karawang menemani kami, 25 peserta Plesiran Tempo Doeloe, menelusuri pematang beton yang membelah kawasan persawahan menuju situs percandian Batujaya. Berjalan paling depan adalah Pak Dwi Cahyono, peneliti sejarah dan arkeologi, beserta Pak Kaisin, sesepuh Desa Segaran yang sudah berusia lebih dari 80 tahun. Cuaca hari itu lumayan panas, namun kami tetap bersemangat melihat situs candi tertua di Jawa Barat, yang bahkan diduga lebih tua dibandingkan Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Situs percandian Batujaya terletak 50 km di ke arah timur dari Jakarta, atau 47 km ke arah barat laut dari pusat Kota Karawang, tepatnya di kawasan Teluk Karawang yang merupakan bagian dari Teluk Jakarta. Situs ini berada di wilayah seluas 5 km2, meliputi Desa Segaran di Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya di Kecamatan Pakis. Berdasarkan hasil analisis radiocarbon pada sekam padi yang terkandung dalam batu bata yang membangun candi, para ahli menduga Situs Batujaya dibangun pada abad 2-3 Masehi, menandai peralihan dari masa prasejarah menuju masa sejarah. Hasil analisa tersebut membuat situs Batujaya sering dikaitkan dengan Kerajaan Tarumanegara yang merupakan kerajaan Hindu Waisnawa. Uniknya, temuan-temuan arkeologis di situs Batujaya menunjukkan bahwa candi-candi di Batujaya bukan merupakan candi Hindu, melainkan candi Buddha Mahayana. Hal ini membawa kesimpulan bahwa situs Batujaya bukanlah lokasi pusat kerajaan Tarumanegara.

Situs Batujaya mulai diketahui keberadaannya pada tahun 1984, ketika para peneliti dari tim survey arkeologi Universitas Indonesia akan meneliti Situs Cibuaya yang terletak tak jauh dari kawasan Batujaya. Menurut Pak Kaisin, penduduk Batujaya menyampaikan kepada para peneliti bahwa di Batujaya terdapat banyak temuan dalam bentuk batu bata. Para penduduk kemudian mengantarkan para peneliti untuk melihat “unur” (gundukan tanah) yang terdapat di kawasan persawahan. Setelah gundukan tersebut digali, ternyata di bawahnya terdapat struktur candi atau peninggalan purbakala lainnya. Sampai saat ini telah ditemukan 53 situs, yang terdiri dari 23 candi dan 30 unur yang belum digali. Dari 53 situs tersebut, baru 2 situs yang dipugar dan layak dikunjungi, yaitu Candi Jiwa (Candi Segaran 1) dan Candi Blandongan (Candi Segaran 5).

Candi pertama yang kami kunjungi adalah Candi Blandongan, yang letaknya paling jauh. Candi Blandongan mulai dipugar sejak tahun 2002. Nama Blandongan identik dengan pendopo, karena ketika masih berbentuk gundukan candi ini digunakan sebagai tempat beristirahat para gembala kambing. Kami sebenarnya tidak diijinkan mendekat ke bangunan candi, namun Pak Kaisin mengijinkan Pak Dwi untuk mendekat ke bangunan candi, sehingga dapat menjelaskan secara detail ornamen-ornamen pada bangunan candi.

Candi Blandongan
Pak Dwi memperlihatkan bahwa Candi Blandongan memiliki 4 pintu masuk di setiap penjuru. Pintu masuk utama diduga di sisi tenggara, yang ditandai bekas tiang untuk torana. Dari bentuknya, diduga bentuk asli Candi Blandongan adalah sebuah stupa, dengan adanya temuan bata berbentuk melengkung. Dijelaskan juga bahwa di bagian atas kaki candi terdapat sisa pagar langkan yang mengelilingi selasar, sehingga kemungkinan besar candi ini merupakan tempat ritual pradaksina. Pada selasar ini juga ditemukan jejak umpak, yang kemungkinan besar digunakan untuk tiang atap sepanjang selasar.

Dari Candi Blandongan, pak Dwi dan pak Kaisin membawa kami ke Candi Lempeng. Sejatinya situs ini tidak berbentuk bangunan candi, melainkan merupakan lempengan tutup dolmen atau peti mati kuno. Tutup dolmen ini semula dimiringkan untuk mengetahui apakah di bagian dalamnya terdapat inskripsi, namun tidak dikembalikan lagi ke posisi semula. Menurut pak Kaisin, lempeng batu tersebut sangat berat, bahkan 40 orang tidak kuat mengangkat lempeng batu tersebut, sehingga dibiarkan dalam kondisi miring. Di sekitar lokasi candi, terlihat beberapa unur. Menurut Pak Dwi, sebagian unur tersebut berisi struktur bangunan kuno yang sudah melalui tahap penelitian awal oleh para arkeolog, tinggal menunggu waktu untuk dapat digali dan diteliti lebih lanjut.

Candi Lempeng
Penjelajahan kami di situs Batujaya kami akhiri di Candi Jiwa. Candi yang dipugar sejak tahun 1990 ini mendapatkan namanya dari pengalaman penduduk. Menurut Pak Kaisin, daerah Batujaya sangat rawan banjir yang merupakan limpahan dari Ci Tarum yang hanya berjarak 1 km di sisi selatan dari Candi Jiwa. Jika terjadi banjir maka penduduk banyak mengungsi ke gundukan atau unur. Namun tiap kali para gembala kambing menempatkan kambingnya di gundukan yang berisi Candi Jiwa, maka kambing tersebut akan mati tanpa diketahui penyebabnya.

Candi Jiwa
Berbeda dengan Candi Blandongan yang memiliki tangga masuk di setiap penjuru, Candi Jiwa tidak memiliki tangga untuk naik ke bagian atas candi. Selain itu, selasar yang digunakan untuk pradaksina tidak terletak di atas kaki candi, melainkan dalam bentuk jalan setapak mengelilingi kaki candi. Di atas kaki candi, terlihat susunan batu bata bergelombang, seolah membentuk kelopak bunga teratai berukuran besar. Pak Dwi juga menjelaskan bahwa di Candi Jiwa banyak ditemukan tablet persembahan terakota yang berisi mantra (rapal doa) atau figure pantheon Buddha Mahayana, memperkuat dugaan para ahli bahwa bangunan Candi Jiwa diperuntukkan bagi penganut Buddha Mahayana.


Stupika yang Ditemukan di Candi Blandongan
Sebelum kembali ke Jakarta, kami menyempatkan untuk mengunjungi Museum Situs Cagar Budaya Batujaya. Bangunan yang digunakan untuk museum kecil ini awalnya adalah tempat penyelamatan hasil-hasil penelitian dan artefak hasil pemugaran, namun saat ini digunakan untuk memamerkan sebagian artefak hasil temuan, seperti stupika (stupa kecil) di candi Blandongan, tablet-tablet terakota, pecahan tembikar, dan kerangka manusia. Sebagian dari artefak yang ditemukan sudah dibawa untuk diteliti di Museum Nasional. Namun sebenarnya sebagian besar temuan disimpan di gudang yang terletak di dekat pintu masuk kawasan candi, menunggu untuk diteliti. Dengan masih banyak temuan yang harus diteliti, serta masih banyak unur yang harus digali, nampaknya masih banyak misteri Batujaya yang harus dipecahkan…

Saturday, February 14, 2015

#GAWisataDaerahmu: Suasana Jadoel Parijs Van Java

Bandung, my second hometown. Tinggal selama 9 tahun di Bandung membuat kota ini selalu ngangenin, khususnya dari sisi ke-jadoel-annya. Potensi wisata tempo doeloe di Bandung hampir tidak ada habisnya, khususnya dari peninggalan-peninggalan masa kolonial Belanda, ketika kota ini menjadi tujuan akhir pekan para Preangerplanter.

Salah Satu Sudut Jalan Braga
Salah satu tempat jadoel yang wajib dikunjungi di Bandung adalah Jalan Braga. Di masa jayanya, Jalan Braga merupakan pusat perbelanjaan paling bergengsi di Kota Bandung. Bangunan-bangunan tua bergaya art deco dibangun berjajar di sepanjang sisi kiri-kanan jalan, sebagai saksi bisu bahwa kawasan ini pernah menjadi jantung Parijs van Java di masa silam.

Etalase Tempat Memajang Roti di "Sumber Hidangan"
Melangkahkan kaki sepanjang Jalan Braga ke arah selatan, menjelang ujung jalan Anda akan menemukan toko roti "Sumber Hidangan". Toko roti dengan nama jadoel "Het Snoephuis" (secara harfiah berarti “rumah makanan manis”) ini banyak menjual aneka roti dan kue gaya Belanda. Masuklah ke dalam toko roti tersebut, dan Anda akan merasa seperti masuk ke dalam mesin waktu, karena suasana di dalam toko ini tidak jauh berbeda dengan ketika toko ini pertama kali dibuka pada tahun 1929. Interior di dalam restoran masih mempertahankan suasana tempo doeloe, termasuk kursi-meja di restoran, etalase tempat memajang roti, dan toples tempat menyimpan kue kering. Nuansa tempo doeloe ini diperkuat dengan keberadaan sebuah mesin kasir jadoel merk JVC yang masih menggunakan satuan florin-gulden.

Mesin Kasir Jadoel
 Di etalase, terlihat berbagai jenis roti dan camilan khas Belanda dari masa silam. Sebut saja bitterbalen, kaastengels, kattetong, janhagel,krentebrood, ananastaart, likeur bonbon, vruchten zandtaart, chocolade rotsjes, mocca truffel, dan bokkepoot doublet. "Sumber Hidangan" juga menjual suiker hagelslag atau gula tabur sebagai teman makan roti, dengan pilihan rasa sitrun, nanas, apel, vanila, frambozen, dan coklat. Agar pengalaman merasakan ke-jadoel-an di tempat ini semakin komplit, pesanlah salah satu camilan gaya Belanda tersebut, dan duduklah di kursi restoran Sumber Hidangan, sambil menatap Jalan Braga dan membayangkan suasana Parijs van Java di masa silam.

Seporsi Bitterbalen