Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Sunday, May 14, 2023

Amazing Race Oude Paris Van Java

Program TV Amazing Race mungkin sudah tidak asing bagi kita. Siapa yang tercepat mencapai satu titik, siapa yang tercepat menyelesaikan tantangan di masing-masing pos, dan siapa yang tercepat menyelesaikan seluruh rangkaian tantangan, untuk memperebutkan hadiah sejumlah uang. Saat ini konsep Amazing Race sudah ditiru oleh banyak acara outing – terutama outing Korporat – walaupun versinya lebih sederhana dibandingkan yang dimainkan dalam Program TV.

Seperti pada acara raker Korporat kami menjelang liburan Natal tahun 2022, program berkonsep serupa Amazing Race ini menjadi acara outing yang dilakukan di hari terakhir. Ya, hitung-hitung sekalian refreshing, karena Amazing Race-nya dilakukan dengan berkeliling Kota Bandung. Titik-titik yang dijadikan tempat persinggahan dan menyelesaikan tantangan merupakan landmark terkenal di Kota Bandung. Program kami hari ini rencananya harus mengunjungi 5 titik persinggahan. Eit, tapi di mana titik persinggahannya, sebelumnya kami harus memecahkan clue yang diberikan panitia. Clue-nya gampang-gampang susah, tapi bagi pecinta Kota Bandung, pasti bisa memecahkannya.

Kelompok "Geulis"

Kelompok kami yang terdiri dari 7 orang – kebetulan perempuan semua – kebetulan mendapat titik persinggahan pertama di Titik Nol Bandung. Clue-nya susah-susah gampang, karena harus mencari tempat di mana Gubernur Jendral Daendels konon pernah menancapkan tongkat dan berkata, “usahakan bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota”. Padahal, titik ini termasuk titik yang ramai dilewati orang.. Daendels memang tak pernah kembali, tapi nyatanya tempat ini telah menjadi kota yang sangat popular.

Titik Nol Bandung, Jl. Asia-Afrika

Setelah berhasil memecahkan tantangan di Titik Nol Bandung, titik persinggahan berikutnya adalah Cikapundung Riverspot. Wah, mana pula itu? Jaman saya kuliah di Bandung belum ada! Ternyata, Plaza Cikapundung Riverspot adalah semacam open public space di tepi Cikapundung, tak jauh dari Titik Nol. Di sana tantangannya lompat tali pakai karet. Hadeuh... udah berapa puluh tahun ga pernah main beginian! Akhirnya setelah mencoba beberapa kali, berhasil, berhasil!

Cikapundung Riverspot

Main tali karet selesai, kami berpindah di titik persinggahan berikutnya di Monumen Bandung Lautan Api. Masuk dari pintu di Jl. Otto Iskandar Dinata (yang ditandai dengan clue “Si Jalak Harupat”), kami harus melintas Lapangan Tegallega untuk sampai ke tempat tantangan berikutnya. Ternyata… kami harus mencoba memanah dengan Panah Sumedang! Hadeuh… mana busurnya berat, dan membutuhkan tenaga serta strategi yang tepat agar panahnya bisa menancap di sasaran! Tapi seru juga… jadi kepikir abis ini mau nyoba olahraga panahan, hihihi.

Monumen Bandung Lautan Api

Tantangan panah selesai, kami berpindah ke persinggahan berikutnya di Padepokan Jugala Gugum Gumbira. Ketika tiba di tempatnya yang terletak di Jl. Kopo 15-17, tidak terlihat ada tanda-tanda yang jelas. Sempat bingung, namun setelah kami menjawab tantangan harus ngibing sambil nyanyi lagu Peuyeum Bandung, akhirnya kami diijinkan masuk ke padepokan melalui gank di antara bangunan.

Foto Abah Gugum di Padepokan Jugala

Rupanya Padepokan Jugala letaknya tersembunyi di dalam gank. Di dalam terdapat pendopo kecil, serta halaman kecil yang bisa digunakan untuk menari. Kami menyaksikan kelompok teman-teman kami yang tiba terlebih dahulu sudah melakukan latihan tari Jaipongan. Ha, seru! Tapi kami harus bersabar menunggu giliran kami.

Setelah tiba giliran kami latihan tari Jaipongan, sebelum mulai, ada Kang Aji yang menjelaskan tentang Padepokan Jugala yang didirikan almarhum Gugum Gumbira Tirasonjaya. Abah Gugum adalah pencipta tari Jaipongan, yang merupakan pengembangan dari tarian ketuk tilu, dikombinasikan dengan seni bela diri pencak silat, tari topeng banjet, dan teater Wayang Golek. Jaipongan memulai debutnya pada tahun 1974, ketika Abah Gugum beserta penari dan para pemain gamelan tampil di depan umum. Nama “Jaipongan” digunakan Abah Gugum untuk membedakan tari Jaipongan dari tari Ketuk Tilu. Nama “Jaipongan” berasal dari kata “Jaipong”, yang sebelumnya tidak ada maknanya. 

Foto Ibu Euis di Padepokan Jugala

Abah Gugum memiliki istri Euis Komariah, yang juga seniman di bidang tarik suara tradisional Sunda. Ibu Euis juga merupakan penyanyi dari Orkestra Jugala. Mereka memiliki 4 orang putri, dan hari ini kami dipimpin oleh Ibu Mira Tejaningrum, putri sulung Abah Gugum dan Ibu Euis, untuk mencoba menari Jaipongan.

Ternyata, tidak gampang sodara-sodara! Antara tangan dan kaki harus sinkron. Belum lagi harus ada efek “ngeper” dari gerakan kaki. Buat yang jarang olahraga, ternyata bikin pegal-pega juga. Bu Mira juga menjelaskan bahwa Jaipongan sebenarnya tidak ada unsur geal geol, yang ada pinggul bergerak mengikuti gerakan kaki.

Museum Kota Bandung di Tahun 2019

Dari Padepokan Jugala, seharusnya kami melanjutkan ke pos terakhir di Museum Kota Bandung. Museum ini menempati bangunan antik di Jl. Aceh, yang didirikan tahun 1920. Di museum ini ditampilkan informasi sejarah Kota Bandung, termasuk Piagam Sultan Agung, Besluit Gubernur Jendral Daendels mengenai pendirian Bandung, rencana pembangunan Negorij Bandoeng oleh Dalem RAA Wiranatakusumah II, serta berbagai informasi terkait Bandung lainnya. Sayangnya, karena waktu tidak memungkinkan, kami harus segera bergabung di Bandoengsche Melk Centrum untuk melanjutkan acara Korporat. Ketika kami kembali melewati museum tersebut (yang hanya 100 meter dari BMC), ternyata museum dalam kondisi tutup. Untung saya pernah ke museum ini di tahun 2019!

Monday, August 17, 2020

Jejak Sang Pangeran di Balai Kota Batavia

 “Aku melihatnya turun di Batavia dari kapal uap yang telah membawanya dari Semarang. Kereta gubernur dan para ajudan berada di dermaga untuk menyambutnya. Dengan kereta itulah ia diangkut ke penjara, tempat ia diasingkan, tak ada yang tahu letaknya di mana, dan sejak itu tak terdengar lagi kabar beritanya.”

George Frank Davidson menjadi saksi ketika Pangeran Diponegoro tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal 8 April 1830 menggunakan kapal uap SS Van Der Capellen yang dinahkodai oleh kakak Davidson, pasca peristiwa penangkapan oleh Jendral Hendrik Merkus Baron De Kock pada tanggal 28 Maret 1830 di Magelang. Bertolak belakang dengan catatan Davidson yang menyatakan tak ada yang tahu di mana lokasi tempat Pangeran Diponegoro diasingkan, sejarah mencatat Pangeran Diponegoro diasingkan di Stadhuis Batavia (sekarang Museum Sejarah Jakarta), di sebuah kamar yang berada di atas penjara wanita. Tidak heran Davidson tidak mengetahui di mana lokasi pengasingan Pangeran Diponegoro di Batavia, karena peristiwa kedatangan Pangeran Diponegoro di Batavia tidak diberitakan sama sekali dalam Javasche Courant (Lembaran Negara) dan koran-koran lainnya.

Suasana di kamar yang digunakan Pangeran Diponegoro

Kamar yang digunakan oleh Pangeran Diponegoro sebenarnya merupakan kamar pribadi kepala penjara Batavia, yang difungsikan sebagai kamar sementara jika ada tahanan politik yang berstatus tinggi. Seperti kita ketahui, beberapa pahlawan nasional kita juga pernah mendekam di penjara Stadhuis Batavia,  seperti Untung Suropati, Kyai Maja, dan Tjoet Nyak Dien. Namun Pangeran Diponegoro merupakan tahanan politik berstatus tinggi yang disegani oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga beliau tidak menempati penjara bawah tanah Stadhuis Batavia.

Di kamar ini Pangeran Diponegoro tinggal bersama istrinya Raden Ayu Retnoningsih, adiknya Raden Ayu Dipowiyono, iparnya Raden Tumenggung Dipowiyono, serta 16 abdi yang terdiri dari punakawan, pelayan, dan koki. Mereka menghabiskan waktu 26 hari di kamar ini, sebelum pada 30 April 1830 Gubernur Jendral Johannes Graaf Van den Bosch mengeluarkan besluit (surat keputusan) mengenai pengasingan seumur hidup Diponegoro di Sulawesi Utara. Bagi Pangeran Diponegoro, perjalanan meninggalkan Tanah Jawa menuju tempat pengasingan di Sulawesi ini mengakhiri tiga “tsunami” besar dalam kehidupannya. Tsunami pertama adalah pada tahun 1793, ketika Diponegoro keluar dari Keraton Yogyakarta dan diasuh oleh nenek buyutnya. Tsunami kedua adalah pada 20 Juli 1825, ketika kediamannya di Tegalrejo diserbu tentara Hindia Belanda. Sedangkan tsunami ketiga adalah pada 28 Maret 1830 ketika Diponegoro dikhianati dan ditangkap di Magelang.

Lukisan Kuilkorvet Pollux

Tanggal 3 Mei 1830, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya bertolak dengan Kuilkorvet Pollux menuju Manado. Setelah tiga tahun menjalani masa pengasingannya di Fort Nieuw Amsterdam, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya dipindahkan ke Fort Rotterdam Makassar, hingga akhir hayatnya pada 8 Januari 1855. Pangeran Diponegoro dimakamkan di Kampung Melayu, Makassar, di dekat makam putra keduanya, Raden Mas Sarkumo.

Sejak tahun 2018, kamar tempat pengasingan Pangeran Diponegoro tersebut ditata dengan koleksi terkait peristiwa tersebut, dan mulai tanggal 1 April 2019 kamar tersebut dibuka untuk umum. Koleksi ruangan ini ditata dengan dibantu oleh Sejarawan Peter Carey sebagai kurator. Untuk berkunjung ke Ruang Diponegoro, pengunjung harus melepas alas kaki dan menggantinya dengan sandal yang sudah disiapkan, serta jumlahnya dibatasi maksimum 20 orang dalam satu waktu. Hal ini untuk menjaga agar lantai kayu ruangan tersebut lebih awet.


Lukisan Diponegoro 

Saat menaiki tangga menuju Ruang Diponegoro, koleksi pertama yang ditemui adalah foto lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh, yang dibuat pada tahun 1857. Lukisan yang asli merupakan koleksi Istana Kepresidenan RI. Raden Saleh membuat lukisan ini setelah mendapat inspirasi dari lukisan kejadian serupa karya Pieneman dengan judul “De onderwerping van Diepo Negoro aan Luitenant-Generaal De Kock, 28 Maart 1830” (penyerahan diri Dipo Negoro kepada Letnan Jendral De Kock, 28 Maret 1830). Lukisan Pieneman ini semula dimiliki ahli waris De Kock, yang kemudian diserahkan kepada Rijksmuseum di Amsterdam.

Replika lukisan "Penangkapan Pangeran Diponegoro"

Dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang dibuat Raden Saleh, digambarkan ekspresi Pangeran Diponegoro yang sangat marah, dipertegas dengan tangan kiri yang mengepal. Di belakang Sang Pangeran, istri beliau Raden Retnaningsih terlihat menangis. Jika diperhatikan, sosok orang-orang Belanda yang ada di lukisan tersebut digambarkan memiliki kepala lebih besar dibandingkan badannya. Hal ini seolah menggambarkan mereka sebagai monster yang licik. Yang menarik, di dalam lukisannya Raden Saleh selalu menyelipkan sosok dirinya. Jika ingin tahu seperti apa wajah Raden Saleh, cari saja tiga orang anggota pasukan Belanda yang berblangkon dengan wajah yang sama, itulah wajah Raden Saleh.

Lukisan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam

Selain lukisan karya Raden Saleh yang terkenal, di ruangan ini juga terpasang foto lukisan khayali berwarna yang menggambarkan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam sedang membaca teks tentang ilmu mistik Islam (tasawuf) didampingi istri beliau Raden Ayu Retnoningsih, putri bupati Keniten (Madiun) dan seorang putra – disebut Pangeran “Ali Basah” – yang sedang melihat bayangan mahluk halus atau sedang ditegur punakawan Diponegoro, Banteng Wareng, seorang bertubuh pendek, yang bertindak sebagai tutor untuk anak Diponegoro yang lahir si Sulawesi. Lukisan ini merupakan koleksi Snouck Hurgronje, dan foto yang dipamerkan di ruangan ini berasal dari Leiden Codex Orientalis 7398 atas ijin Universitetsbibliotheek Leiden.


Aktivitas Pangeran Diponegoro di Batavia

Kamar yang digunakan Pangeran Diponegoro tidak memiliki banyak jendela, dan jendela yang ada hanya mengarah ke stadhuisplein. Dapat dibayangkan saat itu Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya hanya bisa melihat aktivitas yang terjadi di halaman depan balai kota Batavia. Konon selama di Batavia, Pangeran Diponegoro beraktivitas sambil mengunyah sirih dan minum jamu (temu lawak dan beras kencur), untuk mengatasi penyakit malaria yang dideritanya. 

Satu-satunya jendela di kamar dengan pemandangan ke stadhuisplein

Kamar ini dilengkapi dengan dipan kayu berhias kelambu, 1 set meja kerja, dan beberapa pusaka yang pernah dibawa Sang Pangeran. Benda-benda ini bukan merupakan perabot asli, hanya merupakan replika untuk menggambarkan situasi pada saat Pangeran Diponegoro mendiami kamar ini. Dapat dibayangkan ketika Pangeran Diponegoro duduk di meja kerja di ruangan ini, untuk menulis surat kepada keluarga dekatnya. Surat pertama ditujukan kepada ibunda beliau, Raden Ayu Mangkorowati, yang meminta agar ibunda beliau tidak khawatir kepada nasibnya. Sedangkan surat kedua ditujukan kepada putra sulung beliau, Pangeran Diponegoro Muda, yang berisi pesan untuk menjaga adik-adiknya.

Kehadiran Pangeran Diponegoro di Batavia diabadikan dalam sketsa pensil oleh Hakim Batavia Adrianus Johannes Bik, yang bertugas mengawasi Pangeran Diponegoro selama berada di Batavia. Bik minta ijin untuk melukis Diponegoro di sela-sela masa penahanan beliau, tak lama sebelum Diponegoro berangkat menuju Sulawesi. Bik sendiri memiliki keahlian sebagai pelukis piring porselen di Belanda, sebelum merantau ke Hindia Belanda pada tahun 1821.

Atas: foto Adrianus Johannes Bik
Bawah: lukisan Diponegoro karya Bik

Bik mencitrakan Diponegoro sebagai ulama sekaligus panglima perang. Diponegoro digambarkan mengenakan pakaian ulama selama Perang Jawa, yaitu sorban, baju koko tanpa kerah, dan jubah. Di bahu kanannya tersampir selempang, serta terselip keris pusaka Kanjeng Kiai Ageng Bondoyudo Sripaduka Petarung Tanpa Senjata pada ikat punggang yang terbuat dari bahan sutra. Diponegoro sendiri digambarkan memiliki pipi cekung akibat serangan malaria yang diperoleh saat bergerilya di daerah Bagelen dan Banyuurip pada akhir masa Perang Jawa. Lukisan ini sangat hidup sekali. Setelah Bik wafat di Amsterdam pada tahun 1872, lukisan ini dihibahkan keponakannya ke Rijkmuseum.


Saturday, May 9, 2020

Lorong Waktu STOVIA

Kita mengenal Museum Kebangkitan Nasional sebagai tempat berdirinya Boedi Oetomo, organisasi modern pertama yang menjadi pelopor pergerakan nasional. Namun lorong-lorong gedung yang dibangun pada tahun 1899 ini juga merupakan saksi terbentuknya generasi pertama dokter-dokter Indonesia, sekaligus menjadi cikal bakal pendidikan tinggi kedokteran di Indonesia.

Fasad depan Museum Kebangkitan Nasional
Pendidikan tinggi kedokteran di Indonesia berawal dari munculnya wabah penyakit pada abad ke-19 di Hindia Belanda. Untuk mendatangkan dokter dari Belanda akan memakan biaya besar, sehingga pada tanggal 2 Januari 1849 pemerintah kolonial Hindia Belanda memutuskan untuk membuka pendidikan kedokteran bagi masyarakat pribumi. Dua tahun kemudian berdirilah Sekolah Dokter Jawa di Rumah Sakit Militer Weltevreden (sekarang RSPAD Gatot Subroto), dan lulusannya dipekerjakan sebagai mantri cacar. Di antara para lulusan pada masa itu tersebut terdapat dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. RM Soekardi, dan dr. Abdoel Rivai.

Pada tahun 1898, dr. Hermanus Frederik Roll, Direktor Sekolah Dokter Jawa, mengusulkan kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menyelenggarakan pendidikan kedokteran yang setara dengan pendidikan kedokteran di Belanda.  Tahun 1902, berdirilah School tot Opleiding van Indlandsche Artsen (STOVIA), atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera. Setahun kemudian, dibangun gedung baru di sebelah rumah sakit militer Weltevreden, menjadi gedung yang sekarang kita kenal sebagai Museum Kebangkitan Nasional. Gedung baru ini digunakan sebagai tempat pendidikan, sekaligus dilengkapi dengan asrama.

Suasana Asrama STOVIA yang ditampilkan dalam Ruang Asrama STOVIA
Siswa STOVIA semula berasal dari golongan bangsawan tamatan sekolah Belanda. Namun pada masa Politik Etis, STOVIA mulai menerima siswa dari sekolah pribumi, dan membebaskan biaya sekolah. Kebijakan ini melahirkan golongan priyayi baru, yaitu kelompok terdidik yang berasal dari rakyat biasa. Dari sinilah muncul tokoh-tokoh pergerakan bangsa, antara lain dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan dr. Sutomo.

Diorama yang Menggambarkan Suasana Ruang Kelas Terbuka di STOVIA
Dalam aktivitas belajar mengajar, para siswa STOVIA juga melakukan praktek di laboratorium atau praktek seperti dokter. Peralatan yang digunakan sama seperti yang digunakan di rumah sakit pada masa itu. Di antara peralatan yang digunakan terdapat Alat Pemecah Kepala yang digunakan untuk memecahkan kepala pada mayat. Tujuannya adalah mempelajari isi kepala dan otak sebagai pusat utama organ tubuh manusia. Peralatan lain adalah Elektrokardiograf tempoe doeloe, yang digunakan untuk mendukung fisiologi jantung.


Alat Pemecah Kepala
Peristiwa penting yang pernah terjadi di STOVIA adalah berdirinya Boedi Oetomo, organisasi modern pertama dalam pergerakan nasional. Peristiwa tanggal 20 Mei 1908 ini terjadi di Ruang Anatomi. Situasi saat para siswa STOVIA mendeklarasikan Boedi Oetomo ini diabadikan dalam diorama di Ruang Anatomi. Untuk mempertahankan suasana asli pada saat itu, di ruangan masih terpasang meja bedah sebuah kerangka manusia asli yang digunakan untuk belajar anatomi. Seolah mengingatkan bahwa peristiwa ini diprakarsai oleh para siswa STOVIA, di dinding selatan terdapat cuplikan Sumpah Hippocrates dalam bahasa Latin.  Sumpah ini merupakan sumpah wajib bagi seluruh dokter di dunia tentang etika yang harus dilakukan dalam menjalankan praktik profesinya.

Ruang Memorial Boedi Oetomo yang menempati kelas Ruang Anatomi
Karena keberaniannya mendirikan Boedi Oetomo, Soetomo menimbulkan keresahan di staf pengajar STOVIA. Para staf pengajar sempat memperdebatkan hukuman pemecatan Soetomo dari STOVIA, karena takut dinilai gagal membina anak didiknya. Namun H.F. Roll yang saat itu masih menjabat sebagai Direktur STOVIA memberikan pandangan dalam rapat dosen, yang berakhir dengan keputusan Soetomo tetap diperkenankan menyelesaikan pendidikannya di STOVIA. Suasana rapat ini terekam dalam diorama di Ruang Dosen.

Diorama suasana rapat di Ruang Dosen
STOVIA menjalankan fungsinya untuk meluluskan dokter-dokter terbaik dari kalangan bumiputra. Beberapa di antara para lulusannya memberikan andil yang besar dalam perkembangan kesehatan di Indonesia. Seperti dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang terjun langsung dalam memberantas wabah pes di Malang, dr. Soeradji Tirtonegoro yang berperan penting dalam pemberantasan wabah busung lapar di Klaten, dr. Jacob Bernadus Sitanala yang meneliti penyakit kusta, dr. Achmad Mochtar yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi kepala Lembaga Eijkman, dr. Djoehana Wiradikarta yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi kepala Lembaga Pasteur, dan dr. Margono Soekardjo selaku ahli bedah pertama Indonesia.

Gedung STOVIA di Hospitaalweg mengakhiri tugasnya pada tahun 1920 sebagai tempat menggodok calon-calon dokter Indonesia, setelah dibangun gedung baru yang lebih representatif di Salemba, bersebelahan dengan rumah sakit terpadu yang dapat menampung lebih banyak siswa pendidikan kedokteran. Selama beberapa waktu, gedung ini masih berfungsi sebagai asrama dan tempat tinggal, sebelum digunakan untuk Museum Kebangkitan Nasional. Keberadaan Museum Kebangkitan Nasional tidak hanya sekadar menampilkan koleksi terkait sejarah pergerakan nasional, namun juga menjadi lorong waktu yang menampilkan bukti-bukti keberadaan lembaga pendidikan STOVIA sebagai pendidikan tinggi kedokteran pertama di tanah air.

Saturday, February 22, 2020

Samudramanthana dari Sirah Kencong

Kisah Samudramanthana – atau pengadukan Lautan Susu – merupakan salah satu kisah mitologi Hindu yang termuat dalam kitab Adiparwa, yang merupakan bagian dari kisah Mahabharata. Berasal dari India, Samudramanthana telah dikenal luas di daerah-daerah yang dipengaruhi budaya India, termasuk di Kamboja, Thailand, dan Indonesia. Kisah ini telah dikenal oleh masyarakat Jawa, dan telah disalin ke dalam bahasa Jawa Kuno sejak jaman Dharmawangsa Teguh, Raja Mataram Hindu yang memerintah sekitara tahun 991-1016 Masehi.

Samudramanthana menceritakan perburuan air keabadian (Tirta Amrita) di Ksirarwana / Ksira Arnawa (Samudra Susu) yang melibatkan penyu Akupa, naga Basuki, gunung Mandaragiri, para dewa, dan para asura (raksasa). Gunung Mandara digunakan sebagai alat pengaduk Samudra Susu. Kura-Kura Akupa – yang merupakan penjelmaan dewa Wisnu -- menjadi tumpuan Mandaragiri agar tidak tenggelam ke dasar Samudra Susu. Naga Basuki yang melilit Mandaragiri berfungsi sebagai tali untuk mengaduk Samudra Susu. Bagian kepala naga ditarik oleh para asura, sedangkan ekornya ditarik oleh para dewa. Dewa Indra duduk di puncak Mandaragiri, agar gunung tersebut tidak melambung. Dari pengadukan tersebut muncul ratna (benda-benda berharga), dan yang terakhir keluar adalah Dhanwantari, penyembuh surga yang membawa air keabadian Tirta Amrita. Dengan keluarnya Tirta Amrita, rencana para dewa untuk memperoleh Tirta Amrita telah selesai, sehingga mereka mengirim para asura dari surga kembali ke neraka.

Arca Samudramanthana dari Sirah Kencong, disimpan di Museum Nasional
Terinspirasi dari tulisan arkeolog M. Dwi Cahyono tentang arca Samudramanthana dari perkebunan teh Sirah Kencong di lereng barat Gunung Suci Kawi, kabupaten Blitar, Jawa Timur, saya membongkar foto-foto saat saya main ke Museum Nasional di mana arca tersebut disimpan. Ternyata arca tersebut masuk dalam pengamatan saya ketika saya berkunjung ke museum tersebut. Arca batu andesit setinggi kurang lebih 1 meter ini berasal dari abad ke 13-14 Masehi, diperkirakan dari masa kerajaan Majapahit. Arca ini diduga berfungsi sebagai jaladwara (pancuran), karena memiliki lubang di bagian bawah yang tembus ke bagian atas.  Diduga arca ini menaungi sumber air (tuk) yang diyakini sebagai air suci, karena keberadaannya di lereng Gunung Kawi yang dianggap sebagai “gunung suci”.

Bagian bawah arca berupa pedestal berbentuk padma (teratai merekah), perlambang bunga suci seolah menegaskan bahwa benda-benda di atasnya merupakan perangkat keagamaan yang suci. Di atas padmasana terdapat figur Kura-Kura Akupa, sebagai alas putar puncak Mandaragiri. Di sisi luar Mandaragiri berbentuk pahatan tokoh-tokoh yang berperan dalam kisah Samudramanthana. Di atas kepala Akupa terdapat Naga Basuki yang dililitkan pada Mandaragiri. Di sisi kanan Basuki terdapat dewa-dewa, sedangkan di sisi kiri Basuki terdapat para asura. Di bagian atas arca terdapat binatang-binatang mitologis dalam kepercayaan Hindu yang keluar selama proses pengadukan, antara lain sapi Kamadhenu, kuda Ucchaiswara, dan gajah Airawata.

Tugu Pancuran Ampelgading di Museum Trowulan


Arca dari Sirah Kencong bukan satu-satunya peninggalan purbakala di Indonesia yang merekam kisah Samudramanthana. Kisah ini juga dipahatkan pada tugu pancuran yang ditemukan di Ampelgading, Kabupaten Malang, yang saat ini disimpan di Museum Trowulan. Bagian bawah tugu memiliki lubang, dan di atas lubang tersebut berdiri figure Kura-Kura Akupa. Di atas Akupa terdapat tiang persegi empat yang dikelilingi panel berpahat figure dewa-dewa dan para asura. Di atas tiang terdapat ornament pahatan menara-menara kecil yang bertingkat, yang kemungkinan melambangkan Mandaragiri.

Teras Ketiga Candi Sukuh
Sedangkan di Jawa Tengah, kisah Samudramanthana juga divisualisasikan di Candi Sukuh, tepatnya di teras ketiga. Di teras ini terdapat bangunan induk berbentuk piramida terpancung, serta arca kura-kura. Bangunan induk diibaratkan sebagai Mandaragiri yang berfungsi sebagai alat pengaduk Samudra Susu. Arca kura-kura berukuran besar yang terletak di depan bangunan induk merupakan simbol dari Akupa. Candi Sukuh sendiri diduga berasal dari masa akhir kerajaan Majapahit.

Patung "The Churning of The Milk Ocean"
Di Thailand, kisah Samudramanthana divisualisasikan di bandara Suvarnabhumi dalam bentuk patung berukuran besar yang menggambarkan Mandaragiri yang diletakkan di atas Kura-Kura Akupa, dililit oleh Naga Basuki yang berkepala tiga. Bagian kepala Basuki ditarik oleh para asura, sedangkan bagian ekor Basuki ditarik oleh para dewa. Di atas Mandaragiri, berdiri Dewa Indra untuk memastikan gunung tersebut tidak melambung. Patung ini sangat menarik perhatian, karena berukuran cukup besar dan terletak di terminal internasional, tepat setelah penumpang menyelesaikan proses imigrasi dan masuk menuju area duty free shopping.

Friday, April 26, 2019

Mengenang "Kejayaan" Ampiun di Nusantara

Alm. Bapak pernah bercerita bahwa waktu beliau kecil dan tinggal di sekitar Cikini, ada simpangan rel dari stasiun Cikini menuju gang Ampiun. Tapi saya tak pernah melihat bukti keberadaan rel tersebut, dan saya baru faham rel apa yang beliau maksud, setelah ikut Pelesiran Tempo Doeloe (PTD) yang digagas Bang Adep di Kampus Salemba UI pada tanggal 31 Maret 2019 yang lalu.

Yang manakah saya?
(sumber foto FB Indah Fidia Kalim)
Siapa yang mengira bahwa perdagangan candu di Indonesia ternyata cukup berpengaruh pada masa kolonial Belanda, dan salah satu bekas pabriknya berada tak jauh dari kita? Opium, apiun, atau candu adalah getah bahan baku narkoba yang diperoleh dari bunga Papaver somniferum atau P. Paoniflorum (bunga poppy) yang belum matang. Tanaman opium berasal dari kawasan pegunungan Eropa Tenggara, dan dibudidayakan di pegunungan kawasan subtropis. Di Asia, tanaman opium banyak dibudidayakan di Afganistan dan "segitiga emas" Myanmar-Thailand-Laos.

Kampus Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi & Bisnis UI
yang menempati bangunan bekas pabrik opium
Orang Jawa mengenal candu sejak VOC memonopoli perdagangan candu di Nusantara, melalui perantara kaum elit Tionghoa di Jawa. Kebijakan ini tidak mengherankan, karena sampai hari ini negara Belanda masih melegalkan narkoba di lokasi tertentu dengan dosis tertentu. Bunga poppy sebagai bahan dasar candu tidak tumbuh di Jawa, sehingga diduga candu didatangkan dari Turki atau Persia. Penikmat candu meluas khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama di Kediri. Para penikmat candu mulai dari kaum bangsawan Jawa dan para elite Tionghoa, para seniman, kuli-kuli, dan para serdadu. Selain sebagai gaya hidup, candu juga digunakan untuk menikmati sensasi khayali dan mengurangi pegal-pegal di badan. Di Banten dan Preanger, jumlah pecandu tidak banyak, karena mayoritas masyarakatnya pemeluk agama Islam yang relijius.

Laboratorium Farmakokinetik Departemen Farmakologi dan Terapeutik
Fakultas Kedokteran UI yang menempati bangunan bekas pabrik opium
Sejak muncul gerakan Politik Etis di Belanda yang dipelopori C.T. van Deventer di tahun 1899, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan kebijakan untuk perbaikan kesejahteraan pribumi, termasuk pengaturan peredaran candu. Pemerintah kolonial Belanda membentuk lembaga Regie Candu yang mengendalikan peredaran candu. Selain itu semua urusan opium dipusatkan di Batavia, demikian juga pabrik opium yang semula tersebar di daerah kini dipusatkan di Batavia.

Suasana Pabrik Opium
Semula pabrik opium dibangun pada tahun 1894 di daerah Paseban dan di Meester Cornelis. Namun melonjaknya permintaan membuat kedua pabrik ini tak mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk memenuhi permintaan opium yang semakin meningkat, pada tahun 1901 pemerintah kolonial Belanda membangun pabrik opium modern di jalan raya yang menghubungkan Batavia Centrum dengan Meester Cornelis, dengan kapasitas pengolahan bahan baku 100 ton candu mentah menjadi 70 ton candu hisap. Di tahun 1914, dengan jumlah tenaga kerja menjadi 1000 orang, kapasitas produksi pabrik ini meningkat menjadi 100 ton candu hisap. Pabrik ini dilengkapi dengan jalur kereta api untuk mengangkut bahan baku opium mentah yang diimpor dari Benggala, India, serta mengangkut produk opium hisap untuk didistribusikan ke seluruh kepulauan Nusantara. Pabrik candu ini berhenti beroperasi di masa pendudukan Jepang, karena larangan perdagangan dan penggunaan opium. Pemerintah kolonial Jepang beranggapan opium dapat melemahkan rakyat Indonesia yang diharapkan dapat membantu Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya.

Kemungkinan bekas jalur rel dari pabrik opium
ke Stasiun Salemba
Di masa kini, Bang Adep dan pak Rushdy Hoesin membawa rombongan PTD ke bangunan bekas pabrik opium yang sudah menjadi bagian dari Kampus Universitas Indonesia, yang lebih dikenal sebagai Kampus Salemba 4. Sebagian besar bangunan digunakan untuk ruang kelas program pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. Di masa lalu, bangunan pabrik terdiri dari 4 baris bangunan. Yang masih terlihat hari ini adalah bangunan dengan langit-langit tinggi khas pabrik.

Bekas Stasiun Salemba

Sambil mengisahkan masa lalu pabrik opium dan sejarah berdirinya Universitas Indonesia, pak Rushdy membawa kami berkeliling Kampus Salemba 4. Salah satu tempat yang ditunjukkan adalah lokasi dekat bangunan program Magister Manajemen (MMUI) yang kemungkinan merupakan bekas jalur rel dari pabrik opium menuju Stasiun Salemba. Membicarakan pabrik candu di Kampus Salemba 4 memang tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan jalur kereta api dan Stasiun Salemba yang digunakan untuk mengangkut bahan baku dan produk opium.

Bekas pintu stasiun di dalam rumah Ibu Aliansyah
Setelah berkeliling Kampus Salemba 4, rombongan PTD kemudian menelusuri Jl. Kenari II, menuju (bekas) Stasiun Salemba. Stasiun Salemba semula merupakan stasiun sentral yang memiliki banyak cabang, namun ketika dilakukan pemindahan stasiun sentral ke Stasiun Manggarai pada tahun 1922, banyak jalur yang ditutup, menyisakan jalur Stasiun Salemba-Halte Pegangsaan yang merupakan jalur pengangkut opium. Penutupan pabrik opium di tahun 1950-an membuat jalur kereta api Stasiun Salemba ke Halte Pegangsaan tidak difungsikan lagi, dan Stasiun Salemba resmi ditutup di tahun 1981. Saat ini kita sudah tidak bisa melihat Halte Pegangsaan lagi, karena sudah digantikan dengan Stasiun Cikini. 

Jembatan Kenari
(sumber foto FB Bang Adep)
Bangunan bekas Stasiun Salemba terletak di depan sebuah mushalla, tak jauh dari Museum M. Husni Thamrin, dan sudah dibagi menjadi 4 rumah tinggal pensiunan pegawai PJKA. Kami beruntung karena Ibu Aliansyah, penghuni salah satu rumah bekas stasiun Salemba, mengijinkan untuk melihat bagian dalam rumah. Di ruang makan rumah yang mungil tersebut terlihat pintu yang jaman dulunya menuju ruang kantor. Hal menarik lainnya, lantai rumah Ibu Aliansyah masih menggunakan lantai peron orisinil, dan konon katanya sulit dibersihkan dengan pel biasa. 

Pasar Cikini Ampiun
Dari Stasiun Salemba, kami menelusuri (bekas) jalur rel antara Stasiun Salemba-Halte Pegangsaan dengan mengikuti jalan setapak dari rumah Ibu Aliansyah ke arah Gang Cikini Ampiun. Nama “Ampiun” sendiri berasal dari kata “Amfioen”, kata bahasa Belanda kuno untuk opium, komoditas yang diangkut melalui jalur tersebut. Jalur rel tersebut melintas di atas Kali Ciliwung, di atas jembatan yang dikenal sebagai Jembatan Kenari. Jalur rel tersebut berakhir di tempat yang kita kenal sebagai Pasar Cikini Ampiun.

Saturday, December 8, 2018

Wisata Pemakaman PD II (2): Ereveld Menteng Pulo dan Jakarta War Cemetery

Dari Ereveld Ancol, kami berpindah ke Ereveld Menteng Pulo. Dalam perjalanan dari Ancol ke kawasan Casablanca, di bis Bang Adep memutarkan film Tuan Papa, kisah dokumenter anak-anak indo hasil perkawinan antara tentara Belanda dan orang Indonesia di masa Perang Kemerdekaan. Sebagian besar dari anak-anak indo tersebut menghabiskan masa kecilnya tanpa pernah bertemu ayah kandungnya, dan baru setelah beberapa puluh tahun kemudian sebagian dari mereka dapat bertemu dengan ayah kandungnya. Melihat film tersebut, hati ini merinding, perang ternyata tidak hanya menimbulkan kepiluan akibat kematian. Banyak drama kehidupan lain sebagai dampak dari peperangan, dan walaupun beberapa drama tersebut berakhir dengan happy ending, tapi sebagian masih menyisakan kepedihan.

Ms. Eveline dan Ibu Wulan
Tiba di Menteng Pulo, Eveline sudah menyambut kami bersama Ibu Wulan, “kuncen” dari Ereveld Menteng Pulo, dan mengawali kunjungan kami dengan kisah berdirinya Ereveld Menteng Pulo. Eereveld ini bukan yang terbesar di Indonesia, tetapi merupakan ereveld yang paling dikenal. Diresmikan pada tanggal 8 Desember 1947 oleh Jendral Spoor, sebelumnya tempat ini sudah digunakan sebagai area pemakaman. Desain pemakaman dirancang oleh Letkol Hugo Anthonius van Oerle, seorang arsitek dari sekaligus pimpinan batalion zeni Divisi 7 Desember Koninklijke Landmacht  (Angkatan Darat) Kerajaan Belanda.

Ereveld Menteng Poelo
Dikepung oleh gedung-gedung tinggi di seputaran kawasan Casablanca, Ereveld Menteng Pulo merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi 4300 orang, baik dari kalangan militer maupun sipil, termasuk wanita dan anak-anak yang merupakan korban perang dunia kedua di Indonesia. Sebagian besar yang dimakamkan di sini adalah orang-orang Belanda, serta orang-orang Indo Belanda atau orang Indonesia yang menjadi prajurit KNIL. Ereveld Menteng Pulo juga menerima pindahan dari ereveld lain, seperti dari Banjarmasin, Tarakan, Menado, Palembang, Balikpapan, Makassar, dan Cililitan, sesuai perjanjian sentralisasi makam Belanda.

Blok Muslim
Blok paling dekat pintu masuk adalah pemakaman untuk Muslim, yang sebagian besar merupakan orang Indonesia yang menjadi prajurit KNIL. Makam di blok ini menghadap ke arah yang berbeda dengan makam-makam lain, karena diatur agar menghadap ke kiblat. Di belakangnya terdapat Blok Tjililitan, yang merupakan pindahan dari Ereveld Tjililitan (yang semula terletak di kawasan Pangkalan Udara Militer Halim Perdanakusuma) pada tahun 1968. Blok ini ditandai dengan tugu yang dihiasi baling-baling pesawat dan prasasti bertuliskan “ter nagedachtenis aan onze gevallen kameraden” yang bermakna “Untuk rekan-rekan kami yang telah jatuh”.

Tugu Baling-Baling Patah
Di sisi kanan dekat pintu masuk merupakan makam prajurit Belanda dari KNIL maupun Koninklijke Landmacht (KL – Angkatan Darat). Pada umumnya mereka beragama Kristen, namun terdapat pula mereka yang beragama Yahudi dan Buddha yang dimakamkan di tempat ini. Di blok ini terdapat makam Jendral Spoor, panglima tertinggi Tentara Belanda di Indonesia antara 1946-1949. Beliau adalah orang dengan pangkat tertinggi yang dimakamkan di Menteng Pulo. Tidak ada perbedaan antara makam Spoor dengan makam para prajurit lainnya. Seperti mengutip kata-kata Spoor sendiri, “mereka berada di sini tanpa [peduli] ras, agama, etnis, pangkat, atau jabatan”.

Makam Jendral Spoor
Di sisi kanan jauh terdapat Blok Divisi 7 Desember yang merupakan tempat peristirahatan terakhir anggota Pasukan Belanda dari Divisi Pertama 7 Desember yang dikirim pada tahun 1946 ke Indonesia untuk misi pemulihan setelah kekalahan Jepang. Blok ini ditandai dengan kode 7DD, dan terdapat sebuah tugu dengan kalimat di latar belakangnya “Onze eenheid is bevestigd door ons gezamenlijk lijden”, atau “Kesatuan kami diteguhkan dalam penderitaan bersama.”. Sedangkan di bagian belakang kompleks terdapat makam wanita dan anak-anak yang merupakan warga sipil. Mereka umumnya merupakan korban eksekusi yang dilakukan di kamp tawanan perang di Indonesia.

Simultaankerk

Eveline mengajak kami masuk ke Gereja Simultan (Simultaankerk).Walaupun disebut gereja, tempat ini berfungsi sebagai tempat upacara sebelum jenazah dimakamkan, dan saat ini bangunan tersebut digunakan sebagai tempat peringatan. Setidaknya setiap tahunnya Ereveld Menteng Pulo menyelenggarakan dua kali peringatan, yaitu pada tanggal 14 Mei untuk memperingati berakhirnya perang dunia II di Eropa, serta pada tanggal 15 Agustus sebagai peringatan berakhirnya perang dunia II di Asia Tenggara.Di dekat altar Gereja Simultan terdapat salib kayu besar. Salib ini terbuat dari bantalan rel kereta api, sebagai peringatan korban perang yang dipaksa militer Jepang untuk membangun jalur kereta api antara Siam dan Burma. Para korban berasal dari beberapa negara, yaitu Australia, Belanda, Inggris, dan Amerika.

Salib Dari Kayu Rel Kereta Api
Di sisi kanan Gereja Simultan terdapat Columbarium (rumah abu), yang dibangun pada tahun 1950. Bangunan ini ditopang deretan pilar berwarna putih dengan sebuah kubah berwarna tosca di atasnya. Columbarium menyimpan 754 guci logam berisi abu jenazah para prajurit Belanda yang menjadi tawanan perang Jepang terutama mereka yang menjadi korban dalam pembangunan jalur rel Siam-Birma. Ketika mereka meninggal pihak militer Jepang melakukan kremasi pada jenazahnya. Pada setiap guci tertulis nama, pangkat, tanggal lahir, dan tanggal wafat.

Deretan Guci Abu di Columbarium
Baik Gereja Simultan maupun Columbarium dihiasi dengan kaca patri berwarna-warni. Tepat di bawah kubah berwarna tosca, terdapat meja yang di atasnya terdapat satu buah guci abu, serta relief wanita yang di atas kepalanya tertulis “De geest heeft overwonnen”, yang berarti “roh telah menang”. Kalimat ini merupakan semboyan dari Seksi Pemakaman Angkatan Darat Belanda. Meja dan relief ini merupakan tanda peringatan bagi mereka yang wafat dan tidak dikenal.

Peringatan Bagi Mereka Yang Tak Dikenal
Dari Ereveld Menteng Pulo, kami masuk melalui sebuah pintu kecil menuju Jakarta War Cemetery (JWC) yang bersebelahan pagar dengan Ereveld Menteng Pulo. Pemakaman ini merupakan tempat peristirahan terakhir korban perang dari tentara Sekutu yang berasal dari negara-negara Persemakmuran Inggris. Tempat ini dikelola oleh Commonwealth War Graves Cemetery (CWGC), yang merupakan mitra dari OGS dalam mengelola makam orang-orang Belanda yang dimakamkan di pemakaman korban perang dari Inggris.

Jakarta War Cemetery
Berbeda dengan Ereveld Menteng Pulo yang juga digunakan sebagai makam korban perang sipil, Jakarta War Cemetary yang didesain oleh Ralph Hobday O.B.E., arsitek senior dari CWGC, hanya diperuntukkan bagi personil militer anggota tentara Persemakmuran yang berasal dari Inggris, India, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Afrika Selatan, yang gugur pada pertempuran antara tahun 1942-1949. Di awal berdirinya, tempat ini memiliki 474 makam. Pada tahun 1961, atas permintaan pemerintah Republik Indonesia, makam para prajurit Persemakmuran yang berada di Ereveld Kembang Kuning, Palembang, Medan, dan Muntok dipindahkan ke JWC, sehingga total makam yang ada sekarang berjumlah 1181 makam.

Jakarta War Cemetery
Berbeda dengan ereveld yang menggunakan nisan berbentuk patok, nisan di JWC menggunakan marmer prasasti dengan posisi horizontal. Di masing-masing nisan tertulis nama, pangkat, lambang kesatuan, agama (dilambangkan dengan huruf Arab, tanda salib,bintang Daud, atau aksara Hindi), dan tanggal kematiannya. Di setiap nisan juga ditulis kata-kata mutiara dari keluarga. Yang khas dari pemakaman ini adalah adanya taman kecil di sisi kiri-kanan dari setiap nisan.

Kelompok Makam Prajurit Persemakmuran dari India dan Pakistan
Seperti halnya Ereveld Menteng Pulo, para prajurit yang dimakamkan di tempat ini memiliki pangkat yang beragam, dari mulai prajurit rendah hingga perwira tinggi. Terdapat kelompok makam yang khusus bagi para prajurit yang direkrut Inggris dari India atau Pakistan, di mana nisan mereka ditandai dengan tulisan Arab atau tulisan Hindi. Pasukan India ini bukanlah pasukan Gurkha, dan berasal dari beberapa suku di India.

Makam Brigadir Mallaby
Salah satu perwira tinggi yang dimakamkan di tempat ini adalah Brigadier A.W.S. Mallaby. Nama ini tidak asing bagi penggemar sejarah revolusi Indonesia, karena merupakan Mallaby yang gugur di Surabaya pada tanggal 30 Oktober 1945, dan kematiannya memicu “Pertempuran Surabaya 10 November 1945”. Makam Brigadir Mallaby juga tidak berbeda dengan para prajurit yang lain. Semula makam Mallaby terletak di Surabaya, dan baru pada tahun 1947 dipindah ke Jakarta.

Wisata Pemakaman PD II (1): Ereveld Antjol

Ereveld, atau Makam Kehormatan, adalah kompleks pemakaman yang dibangun pemerintah Belanda sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi para korban perang dunia II. Keberadaan makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga sebagai pengingat agar para korban dan kisah-kisah mereka akan tetap dikenang, dan penggalan sejarah kelam ini mendapat perhatian dan pengakuan sebagaimana layaknya.

Gerbang Ereveld Ancol
Siang itu Bang Adep dan Pak Rushdy Hosein memimpin kami, rombongan Pelesiran Tempo Doeloe, mengunjungi Ereveld Ancol yang terletak di dalam Kompleks Taman Impian Jaya Ancol, tepat di sisi timur Pantai Carnaval. Cuaca yang panas sekaligus lembab tidak membuat semangat kami surut untuk segera menjelajahi area pemakaman. Namun sesaat setelah kami menginjakkan kaki di dekat area pemakaman, keheningan menyergap kehadiran kami. Terlihat deretan nisan berwarna putih – kebanyakan berbentuk salib – berjajar di antara hamparan rumput hijau yang asri. Sangat jauh dari suasana mencekam dan tidak nyaman yang dibayangkan sebelumnya.

Tampak Depan Ereveld Ancol
Sebelum masuk ke area pemakaman, Miss Eveline de Vink, sukarelawan dari OGS, dan pak Dicky, “kuncen” dari Ereveld Ancol, menjelaskan kisah berdirinya Ereveld Ancol. Berawal dari berakhirnya Perang Dunia II, pada tahun 1946 pemerintah Belanda bermaksud mendata berapa jumlah sebenarnya korban dari pihak Belanda. Dalam proses pendataan, mereka tiba di kawasan rawa di daerah Ancol. Setelah bertanya kepada banyak saksi mata, serta memperoleh informasi dari seorang biksu bisu tuli di Kelenteng Bahtera Bakti yang terletak tak jauh dari rawa tersebut, diketahui bahwa rawa tersebut merupakan tempat eksekusi tawanan oleh tentara Jepang.

Penjelasan Ms. Eveline di Pendopo
Pemerintah Belanda membersihkan rawa tersebut, menggali pemakaman massal, kemudian memakamkan kembali kerangka para korban eksekusi di tempat tersebut dan mendirikan Ereveld Ancol sebagai ereveld pertama yang didirikan di Indonesia. Selanjutnya Ereveld Ancol juga menerima beberapa makam yang dipindahkan dari pemakaman Belanda di tempat lain, seperti dari Banjarmasin, Pontianak, Medan, Makassar, dan Mandor. Di antara 2000 makam di tempat ini, terdapat 128 makam tentara Inggris dan Australia yang merupakan korban eksekusi tentara Jepang.

Setelah Eveline selesai menceritakan latar belakang Ereveld Ancol, kami diperkenankan masuk ke area pemakaman. Ada rasa yang bercampur aduk ketika kami berjalan di antara nisan-nisan tersebut. Khususnya di dekat nisan yang bertulisan “Geëxecuteerd” (berarti “korban eksekusi”), tidak terbayangkan apa yang terjadi pada masa itu, seperti apa suasananya, berapa banyak korbannya. Melihat nisan-nisan tersebut, seolah kami diingatkan bahwa perang akan selalu menyisakan kepiluan.

Makam Korban Eksekusi di Mandor
Dari bentuk nisannya, dapat diketahui agama mereka yang dimakamkan di tempat tersebut, apakah Kristen, Islam, Buddha, atau Yahudi. Terdapat nisan khusus yang menunjukkan pemakaman massal (verzamelbord). Beberapa makam terlihat bertuliskan “Onbekend”, yang berarti “tidak dikenal”. Eveline mengingatkan bahwa walaupun kita diperkenankan memotret makam, namun jika foto tersebut akan diunggah ke media social, mohon agar nama-nama pada nisan dapat disamarkan, karena tidak semua ahli waris berkenan nama-nama mereka yang dimakamkan di ereveld tersebut beredar secara luas.

Tampak Belakang Nisan di Ereveld Ancol
Sambil berjalan di area pemakaman, pak Rushdy mengisahkan sejarah Prof. Dr. Achmad Mochtar, dokter dan ilmuwan Indonesia lulusan STOVIA dan merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat direktur Lembaga Eijkman.Pada masa pendudukan Jepang, para peneliti Lembaga Eijkman ditangkap oleh pihak militer Jepang dengan tuduhan pencemaran vaksin tetanus yang menewaskan 900 romusha di Klender. Prof. Mochtar bernegosiasi dengan pihak militer Jepang, di mana ia menyetujui mengakui tuduhan sabotase tersebut, bila para koleganya dilepaskan.

Makam Prof. Achmad Mochtar
Prof. Mochtar kemudian dieksekusi militer Jepang pada tanggal 3 Juli 1945, namun makamnya tidak pernah diketahui. Melalui investigasi pada tahun 2010 yang dilakukan Direktur Lembaga Eijkman Sangkot Marzuki dan koleganya Kevin Baird, mereka menemukan informasi keberadaan makam prof. Mochtar di Ereveld Ancol melalui dokumen milik Institut Dokumentasi Perang di Amsterdam. Selanjutnya pada tanggal 3 Juli 2010 dilakukan seremoni di makam prof. Mochtar.

Pohon Surga
Di salah satu sudut pemakaman terdapat (bekas) pohon Mindi atau Alianthus excelsa, dikenal juga sebagai Pohon Surga karena ranting-ranting pohon tersebut menengadah ke atas seperti orang berdoa. Menurut saksi mata, eksekusi tawanan di Ancol dilakukan tentara Jepang di bawah pohon tersebut, di mana saat itu merupakan satu-satunya pohon besar yang tumbuh di tempat tersebut. Pada batang pohon Mindi tersebut dipasang prasasti penggalan puisi “For the Fallen” karya Laurence Binyon:

They shall grow not old, as we that are left grow old:
Age shall not weary them, nor the years condemn.
At the going down of the sun and in the morning
We shall remember them. 
We shall remember them

Antjol, 1942-1945

Sebuah makam terletak terpisah dari deretan nisan yang lain, tak jauh dari pohon Mindi. Menurut Eveline, makam atas nama L. Ubels tersebut memiliki kisah istimewa. Luchien Ubels, atau biasa dipanggil Luut, adalah sekretaris di salah satu bank di Batavia. Sedangkan adiknya, Lambert, bekerja di Algemeen Landbouw Syndicaat (ALS) di Batavia. Pada bulan Juni tahun 1943, Direksi ALS menandatangani Deklarasi Kesetiaan kepada pemerintah kolonial Jepang. Lambert dan beberapa temannya membuat petisi menentang kebijakan tersebut. Pada 27 Agustus 1943, tentara Jepang tiba di kediaman keluarga Ubels, mencari L. Ubels atau Lambert yang terlibat dalam petisi tersebut. Namun karena Luut memiliki inisial yang sama, Luut mengaku bahwa ia yang dicari, dan kemudian ditangkap oleh tentara Jepang. Dalam tahanan Jepang, Luut juga menolak menandatangani Deklarasi Kesetiaan kepada Kempetai. Pada bulan September 1943 Luut dieksekusi bersama 18 orang ALS di Ancol.Kisah pengorbanan Luut ini baru diketahui Lambert dan keluarganya setelah perang berakhir.

Peristirahatan Terakhir Luut Ubels dan Tugu di Tengah Ereveld Ancol
Selain berziarah ke pemakaman, di Ereveld Ancol kita juga bisa menyaksikan teknologi tanggul khas Belanda. Tanggul ini dibuat pada tahn 2007 untuk mencegah air pasang masuk ke area ereveld, mengingat Ereveld Ancol terletak tepat di bibir pantai, hanya di ketinggian 50 cm di atas permukaan air. Tanggul ini diresmikan pada 25 Februari 2010, dan diberi nama “Stenen Kustdijk”, berasal dari nama P. Steenmeijer, direktur OGS Indonesia dan R. Da Costa, Kepala Bagian Teknik OGS Indonesia yang memimpin pembangunan tanggul. Apabila posisi air pasang  tinggi dan berisiko terjadi banjir di ereveld, pompa-pompa di tanggul akan menyala untuk memompa air keluar dari kompleks ereveld.