Showing posts with label travel writing. Show all posts
Showing posts with label travel writing. Show all posts

Saturday, May 23, 2026

Senja Temaram di Markas Pasukan Lapis Baja

Di awal Mei 2026, ketika urusan saya di kampus perguruan tinggi tertua di Indonesia sudah selesai, jam menunjukkan pukul 15.30. Masih ada sedikit waktu menikmati wisata dalam Kota Bandung sebelum matahari menghilang. Tapi... mau ke mana? Museum rata-rata sudah tutup. Mau kulineran, hampir semua sudah pernah dicoba. Mau belanja... ntar dulu ah. Yah, namanya pernah jadi warlok Bandung selama 9 tahun, hampir semua tempat pernah saya jelajahi...

Tiba-tiba saya teringat di IG saya lewat informasi tentang Museum Kavaleri di Bandung. Nah, baru nih! Dari akun IG @museum.kavaleri, tampaknya seru. Ada tank-nya, ada panser-nya, tapi kok ada kafenya ya? Cek lokasi, ah, ternyata lokasi masih di tengah kota, dan mudah untuk dijangkau. Oke, cusss...

Sisi Depan Museum Kavaleri

Awan kelabu yang menggantung di Bandung tidak mengurangi kegembiraan saat saya mendarat di Museum Kavaleri. Museum Kavaleri berlokasi di Kompleks Markas Pusat Kesenjataan Kavaleri, Jl. Gatot Subroto No. 98 dan 100, Bandung. Bangunan Museum Kavaleri menempati dua rumah dinas TNI AD yang sudah dipugar dan ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Nama “Kavaleri” sejatinya berasal dari kata “cavalerie” yang memiliki akar kata “chevalier” yang berarti “kuda” dalam bahasa Perancis. Jika saat ini kavaleri identik dengan kendaraan lapis baja, pada awal pembentukannya kavaleri adalah pasukan berkuda. Pasukan berkuda sudah digunakan untuk pertempuran sejak jaman Yunani Kuno. Saat ini Satuan Kavaleri TNI AD masih memiliki detasemen Kavaleri Berkuda, namun lebih banyak digunakan untuk keperluan seremoni.

Pasukan Berkuda, Cikal Bakal Kavaleri

Satuan Kavaleri TNI AD berawal dari kendaraan-kendaraan tempur bekas KNIL, Inggris, dan Jepang yang dirampas oleh para pejuang kita. Di Pertempuran Surabaya 10 November 1945, para pemuda telah menggunakan beberapa panser yang dirampas dari Jepang, Belanda, dan Inggris. Di bulan Desember 1949 hingga awal tahun 1950, dilakukan penyerahan kendaraan tempur eks KNIL kepada Angkatan Darat RI yang dilakukan di Palembang, Medan, Bandung dan Magelang. Pada tanggal 26 Juli 1950, dilakukan penyerahan secara simbolis kesatuan panser dari KNIL kepada KSAD Kolonel A.H. Nasution, yang kemudian menunjuk Letkol Kav KGPH R.M. Soerjo Soejarso untuk menerima pengalihan tersebut. Selanjutnya Letkol Soerjo Soejarso ditunjuk sebagai pimpinan tertinggi Pasukan Berlapis Baja di seluruh Indonesia. 

Letkol Kav. KGPH Soerjo Soejarso 

Kembali ke masa kini, saat melongok ke dalam bangunan museum, area cafenya memang lebih luas daripada area museum. Namun area yang digunakan untuk museum punya koleksi yang tertata rapi, dan lumayan lengkap. Nah, ini ternyata beneran museum... mata saya tertuju pada infografis di dinding, yang menceritakan tentang Letkol KGPH RM Soerjo Soejarso. Lho... beliau ternyata suaminya Gusti Nurul, putri Mangkunegara VII yang tersohor karena kecantikan dan intelektualnya (dan terkenal karena keteguhan beliau dalam menolak poligami). Baru tahu saya…

Koleksi Senjata Pasukan Kavaleri

Museum Kavaleri dipenuhi dengan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan korps kavaleri. Display yang pertama adalah peralatan-peralatan yang digunakan dalam pendidikan di korps kavaleri, termasuk topi tempur, overhead projector, dan slide projector. Ruangan berikutnya adalah senjata-senjata yang digunakan pasukan kavaleri, termasuk pelontar mortir kaliber 81 mm buatan Pindad dan M2 Mortar 60 mm buatan Amerika Serikat. Selanjutnya adalah satu ruangan yang didedikasikan untuk cikal bakal kavaleri, yaitu kuda. Terdapat koleksi jenis-jenis pelana dan tapal kuda yang digunakan untuk kuda kavaleri.

Pelana dan Tapal Kuda

Namun yang menjadi koleksi primadona museum ini tentunya koleksi tank dan panser yang dipasang di halaman dalam museum. Termasuk di antaranya adalah Panser V150 Intai, Panser Commando Scout, Tank AMX 13 Recovery, dan Panhard EBR. Salah satu panser yang menjadi koleksi museum ini adalah Saracen, jenis panser yang pernah digunakan mengangkut jenazah pahlawan revolusi. 

Panser Saracen

Sambil menikmati segelas es teh manis, saya duduk di cafĂ© dan menikmati cuaca sendu menjelang matahari terbenam. Terlihat banyak keluarga yang hadir di tempat ini, ada yang sekadar mencari kudapan, ada juga yang melihat-lihat koleksi museum. Beberapa anak juga terlihat penasaran dengan koleksi tank dan panser yang ada di halaman dalam museum. Mungkin museum-museum di Indonesia perlu dibuat seperti ini, sehingga dapat menghilangkan kesan suram, kuno, dan membosankan, serta menarik pengunjung untuk datang dan berlama-lama di museum. Kapan-kapan, boleh deh balik lagi ke sini…


Friday, March 20, 2026

Sepasang Mata Bola Itu Bernama Rahmi

Minggu, 22 Februari 2026, pukul 13.30. Saya dan mas Dino memantapkan langkah memasuki halaman rumah di Jl. Diponegoro No. 57, Jakarta Pusat. Dulu, hampir tiap hari saya melewati rumah tersebut, tanpa tahu bahwa rumah itu merupakan kediaman Bung Hatta, Proklamator sekaligus wakil presiden pertama Republik Indonesia. Jadi hari ini sangat istimewa, karena kami berkesempatan memasuki rumah tersebut untuk menghadiri pameran Satu Abad Rahmi Hatta, yang diselenggarakan Yayasan Hatta. 

Rumah bergaya arsitektur Nieuwe Kunst bertingkat 2 seluas 1000 meter persegi ini dibangun pada tahun 1930, bersamaan dengan pengembangan kawasan Menteng. Rumah tersebut semula digunakan para pejabat perusahaan swasta Belanda Eropa. Di tahun 1942, rumah dikuasai oleh Jepang, dan pada tahun 1943 rumah diserahkan kepada Bung Hatta, sesuai dengan peran beliau sebagai penasihat pemerintahan pendudukan bala tentara Jepang.

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta dan keluarga tinggal di Istana Wakil Presiden di Jl. Medan Merdeka Selatan 13, yang merupakan bekas kediaman Simon Hendrik Spoor (sekarang menjadi gedung Kementerian BUMN). Setelah Bung Hatta mengundurkan diri pada 1 Desember 1956, Bung Hatta dan keluarga berpindah ke rumah di Jl. Diponegoro 57. Saat ini rumah di Jl. Diponegoro telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional berdasarkan SK No. PM.13/PW.007/MKP/05 tanggal 25 April 2005.

Kembali ke masa kini, di teras rumah telah menunggu beberapa orang yang juga mendaftar untuk sesi pukul 14.00. Sambil menunggu sesi dimulai, saya dan mas Dino mengamati sekeliling. Dari balik teralis jendela, terlihat ruang kerja yang dilengkapi lemari buku. Ah, apakah ini ruang kerja Bung Hatta? Apakah nanti kami bisa memasuki ruangan tersebut? 

Surat Cinta antara Bung Hatta dan Bu Rahmi

Pukul 14.00, sesi kami dimulai. Bersama kami terdapat 10 orang peserta lainnya. Kami disambut Ibu Meutia dan Ibu Halida, putri sulung dan putri bungsu Bung Hatta. Ibu Halida memandu kami melihat sebuah ruangan penuh memorabilia Ibu Siti Rahmiati Hatta, atau kita kenal sebagai Ibu Rahmi Hatta. Ibu Rahmi lahir di Bandung pada 16 Februari 1926, sehingga pameran ini bertema satu abad Ibu Rahmi Hatta. Berbagai memorabilia Ibu Rahmi dipamerkan dalam ruangan yang tidak terlalu besar ini, mulai dari patung dada, foto-foto, catatan Ibu Rahmi, surat cinta antara Bung Hatta dan Ibu Rahmi, hingga parfum kesukaan Ibu Rahmi. Berada di ruangan itu terasa hangat, sehangat sosok Ibu Rahmi seperti yang dideskripsikan oleh Ibu Halida dan dipancarkan oleh memorabilia Ibu Rahmi.

Di balik surat cinta antara Ibu Rahmi dan Bung Hatta, terdapat andil Bung Karno yang “menjodohkan” Ibu Rahmi dengan Bung Hatta. Kedua orang tua Bu Rahmi adalah teman-teman pergerakan Bung Karno dan Bu Inggit di selama Bandung. Ayah Bu Rahmi, Abdul Rachim, berasal dari Purwokerto, pegawai maskapai Staatsspoorwegen yang aktif dalam Kepandoean Bangsa Indonesia. Sedangkan ibunya adalah Siti Satiah “Annie”, putri Tengku Mohammad Nurdin, yang juga aktif di organisasi perempuan Wanito Sejati.

Mohammad Hatta pertama kali bertemu dengan Rahmi dalam sebuah kunjungan ke Instituut Pasteur, Bandung, tempat Rahmi bekerja. Meski jatuh hati, Hatta tidak segera meminang Rahmi, karena Hatta berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Setelah proklamasi, Hatta dengan ditemani Bung Karno mendatangi orang tua Rahmi untuk melamar. Menurut Bu Halida, konon Bung Karno tidak langsung menyampaikan maksud melamar Rahmi untuk Bung Hatta. Pada kunjungan pertama, Bung Karno masih berbasa-basi, menanyakan adakah wanita cantik yang ada di Bumi Priangan. Baru pada kunjungan kedua Bung Karno mengantar Bung Hatta melamar Rahmi. Mereka menikah pada 18 November 1945 di Megamendung, dengan maskawin buku karya Bung Hatta berjudul Alam Pikiran Yunani, yang ditulis Bung Hatta ketika diasingkan di Boven Digoel.

Bu Halida dan Bu Meutia Menyambut Pengunjung Pameran

Selama berada di ruangan tersebut, samar-samar terdengar lagu Sepasang Mata Bola. Sepemahaman saya, lagu tersebut diilhami oleh kisah perjuangan saat Republik Indonesia berdiri, ketika para founding fathers harus mengungsi ke Yogyakarta untuk keselamatan mereka. Mereka mengungsi ke Yogya menggunakan kereta api pada tanggal 4 Januari 1946, ketika Bung Hatta dan Bu Rahmi masih menjadi pengantin baru. Dikisahkan oleh Bu Halida, lagu Sepasang Mata Bola diciptakan oleh Ismail Marzuki, terilhami ketika melihat Bung Hatta dan Bu Rahmi turun dari kereta di Stasiun Yogyakarta. Mendengar cerita tersebut, saya langsung menatap foto ketika Bung Hatta dan Bu Rahmi menikah di Mega Mendung di tahun 1945. Terlihat sosok Bu Rahmi yang kala itu baru berusia 19 tahun, berparas cantik dengan sepasang mata yang bulat bersinar. Tak heran jika Ismail Marzuki terpesona melihat beliau, dan terilhami untuk membuat lagu yang indah ini…

Di antara memorabilia Ibu Rahmi, terdapat catatan bu Rahmi yang ditulis tangan. Menurut Bu Halida dan Bu Meutia, bu Rahmi sangat gemar belajar hal baru. Di antara catatan tersebut, terdapat catatan belajar masak dan belajar bahasa asing. Bu Rahmi pernah belajar beberapa bahasa asing, termasuk bahasa Prancis, Jerman, Spanyol, dan aksara Arab. 

Dari ruang memorabilia, kami berpindah ke ruang tengah. Terlihat sebuah kain bludru hitam dengan bordir emas terletak di atas meja. Rupanya kain hitam tersebut adalah kiswah atau penutup ka’bah dari Raja Abdulazis bin Abdul Rahman Al Saud dari Arab Saudi pada tahun 1952, saat melawat ke Tanah Suci. Sebagai fakta tambahan, Bung Hatta merupakan pejabat Indonesia pertama yang menerima kain kiswah. Di atas penutup ka’bah tersebut, terdapat lukisan Mega Mendung, lengkap dengan Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebagai latar belakangnya. Lukisan tersebut diberikan oleh Bung Karno kepada Bu Rahmi pada 6 Juni 1957, sebagai pertanda Bung Karno memasuki usia 50 tahun. Menariknya, Bung Karno membahasakan dirinya sebagai “Oom”, mengingat beliau merupakan teman dari orang tua Bu Rahmi.

Gramofon

Di sisi lain ruangan, terdapat gramafon modern. Benda ini mencerminkan kecintaan Bu Rahmi terhadap musik. Bu Rahmi gemar menikmati musik klasik, jazz, dan berbagai genre lainnya, serta mengoleksi piringan hitam yang banyak didengarkan antara 1959-1968. Di ruang depan rumah terdapat piano klasik buatan tahun 1904, yang tutsnya masih terbuat dari gading. Piano ini sering dimainkan oleh Bu Rahmi, dan masih terawat dengan baik.

Ruang Kerja Bung Hatta

Yang paling menggetarkan hati adalah ketika kami diijinkan untuk memasuki ruang kerja Bung Hatta, yang terletak di bagian depan rumah. Ruangan yang sempat kami “intip” saat kami menunggu di teras rumah. Ruangan di mana Bung Hatta membaca buku-buku referensi dan menuangkan pikiran-pikirannya. Membayangkan Bung Hatta seharian duduk di ruangan tersebut, mempersiapkan bahan ajar atau menulis buku… energinya masih terasa dengan kuat. Masih ada beberapa memorabilia Bung Hatta di ruangan tersebut, termasuk ijasah Bung Hatta saat berkuliah di Belanda, sertifikat doctor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada, termasuk kacamata yang digunakan Bung Hatta saat bekerja.

Foto Bersama Bu Meutia dan Bu Halida

Di akhir kunjungan, setelah berfoto bersama Bu Meutia dan Bu Halida, seluruh peserta open house mendapatkan buku yang disunting oleh Ibu Meutia. Buku tersebut berisi kumpulan tulisan anak, menantu dan cucu Ibu Rahmi tentang sosok Siti Rahmiati Hatta dan kenangan bersama beliau. Sambil membubuhkan tanda tangan di buku tersebut, Ibu Meutia berpesan, jangan lupa bukunya dibaca. Sepanjang perjalanan pulang, bahkan hingga tiba di rumah, dan ketika membaca buku tersebut, terbayang-bayang sosok Ibu Rahmi Hatta: seorang perempuan cantik, intelektual, penuh kehangatan, dan setia sebagai belahan jiwa Bung Hatta dalam kondisi apa pun.


Friday, June 27, 2025

Menjaga Kedaulatan Negara di Ambarawa

Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata “Ambarawa”? Biasanya kita langsung teringat Museum Kereta Api. Sejarah perkeretaapian di Ambarawa tak lepas dari keberadaan Ambarawa sebagai kota militer di masa kolonial Belanda, yang menyokong kota garnizun Magelang untuk mengontrol area Vorstenlanden. (kawasan Solo-Yogyakarta).

Monumen Palagan Ambarawa

Pemilihan Ambarawa sebagai kota militer berawal sejak masa Perang Diponegoro, ketika Colonel Hoorn mendapat instruksi untuk membangun titik suplai logistik dan barak militer di sekitar Bawen, untuk memberikan bantuan logistik dan tentara dalam peperangan. Bawen dipilih karena berada di persimpangan antara Semarang, Yogyakarta, Salatiga, dan Surakarta. Di tahun 1840, Ambarawa sudah menjadi kota militer yang strategis, yang berfungsi sebagai choke point antara Semarang dan Surakarta, dalam rangka menjaga hubungan dengan Kesultanan di Surakarta dan Yogyakarta, serta mencegah pergerakan tentara keraton. Setelah Benteng Willem I rampung pada tahun 1848 di Ambarawa, Raja Willem I memerintahkan untuk membangun jaringan kereta api untuk mobilisasi tentara. Jalur kereta yang dibangun menghubungkan Ambarawa ke Semarang dan Ambarawa ke Vorstenlanden. 

Lokomotif dan gerbong (antik)
di Monumen Palagan Ambarawa

Di masa mempertahankan kemerdekaan, terjadi peristiwa Palagan Ambarawa di tahun 1945, yang merupakan salah satu tonggak sejarah perjuangan bangsa. Palagan Ambarawa adalah peristiwa perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan badan perjuangan terhadap Tentara Sekutu yang terjadi di Ambarawa pada tanggal 20 Oktober–15 Desember 1945, dengan puncak pertempuran terjadi pada 12-15 Desember 1945. 


Berawal pada 19 Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah komando Letnan Kolonel Edwardes mendarat di Semarang untuk melucuti senjata pasukan Jepang dan membebaskan tawanan perang yang masih ditahan di kamp di Jawa Tengah. Ketika pasukan Sekutu dan NICA mulai membebaskan dan mempersenjatai tawanan perang Belanda yang dibebaskan di Ambarawa dan Magelang, banyak penduduk yang marah. Hubungan semakin memburuk ketika Sekutu mulai melucuti senjata anggota TKR. 

Pada 21 November 1945, Resimen Kedu Tengah 1 di bawah komando Letkol M. Sarbini mulai mengepung pasukan Sekutu di Magelang sebagai balasan atas upaya pelucutan senjata TKR. Setelah ada campur tangan Soekarno, Sekutu diam-diam meninggalkan Magelang menuju benteng mereka di Ambarawa. Resimen Sarbini mengikuti Sekutu dalam pengejaran, dan kemudian bergabung dengan pasukan Indonesia lainnya dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta. Pasukan Sekutu terhenti di Desa Jambu karena dihadang pasukan Angkatan Muda di bawah pimpinan Oni Sastrodihardjo, dan Pasukan Sekutu berhasil diusir dari Desa Jambu. Di Desa Ngipik, pasukan Sekutu kembali dicegat Batalion 1 Soerjosoempeno, dan dipaksa mundur lagi oleh TKR. 

23 November 1945, ketika matahari mulai terbit, pasukan Indonesia mulai menembaki pasukan Sekutu di Ambarawa. Pasukan Sekutu bertahan di kompleks gereja dan kerkhof Belanda di Jl. Margo Agoeng. Indonesia terdiri dari Yon. Imam Adrongi, Yon. Soeharto, dan Yon. Soegeng. Tentara Sekutu mengerahkan tawanan Jepang dengan diperkuat tank-nya, menyusup ke tempat kedudukan Indonesia dari arah belakang. Serangan balik dari Sekutu memaksa TKR mundur ke Desa Bedono.

Untuk memperkuat komando pertempuran Divisi 5, Kolonel Soedirman sebagai Panglima Divisi 5 Banyumas mengirimkan Letkol Isdiman . Pasukan Indonesia di bawah komando Letkol Isdiman mencoba membebaskan desa yang dikuasai Sekutu, tetapi pada 26 November 1945, Isdiman tewas dalam pertempuran tersebut sebelum bala bantuan tiba. Oleh karena itu Kolonel Soedirman turun ke medan pertempuran untuk memimpin sendiri. Pertempuran masih terus berlanjut. Tanggal 5 Desember 1945, Benteng Banyubiru jatuh ke tangan TKR. Tanggal 9 Desember 1945, lapangan terbang Kalibanteng jatuh ke tangan TKR, hingga bantuan logistik Sekutu untuk Ambarawa terputus sama sekali.

Peta Pertempuran Palagan Ambarawa 
dan Supit Urang

Mengingat pertempuran yang berlarut-larut, serta persenjataan di pihak Indonesia yang terbatas, pada 11 Desember 1945 Kolonel Soedirman mengadakan pertemuan untuk merundingkan strategi mengusir Sekutu secepatnya dari Ambarawa, mengingat Ambarawa merupakan kunci untuk menguasai seluruh Jawa Tengah dan Yogyakarta. Siasat yang disepakati adalah penyerangan mendadak di tiap sektor dengan taktik Mangkara Yudha atau Supit Urang, komando penyerangan dipegang sektor TKR, badan perjuangan sebagai barisan belakang, dan serangan akan dimulai besok pagi jam 04.30 tepat.

Tanggal 12 Desember 1945 pukul 04.30, pasukan Indonesia memulai serangan serentak dari segala jurusan. Ketika jalan raya Semarang-Ambarawa direbut oleh pasukan Indonesia, Soedirman memerintahkan pasukannya untuk memotong jalur logistik pasukan Sekutu yang tersisa dengan taktik Supit Urang. Taktik “Supit Urang” dilakukan dengan pendobrakan oleh pasukan pemukul dari arah selatan dan barat menuju timur (arah Semarang). Tujuannya agar musuh benar-benar dalam kondisi terkurung dan komunikasi dengan pusat terputus. Bala bantuan terus berdatangan dari Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang dll. Tanggal 15 Desember 1945 Benteng Willem I sebagai pusat pertahanan terakhir Sekutu di Ambarawa jatuh ke tangan TKR. Sisa logistik dan senjata mereka tidak dibawa mundur ke Semarang. Pasukan Sekutu mundur ke Semarang, dan Ambarawa dikuasai oleh pasukan TKR. Dapat dikatakan peristiwa ini merupakan serangan Indonesia yang paling sukses selama masa Revolusi Nasional. 

Peristiwa Palagan Ambarawa diabadikan di 3 situs, yaitu Museum Dharma Wiratama Yogyakarta, Museum Sasmitaloka Panglima Besar Soedirman Yogyakarta, dan Monumen Palagan Ambarawa serta Museum Isdiman di Ambarawa. Kita bisa melihat memorabilia berupa peta pertempuran, senjata, serta penjelasan jalannya pertempuran dan taktik Supit Urang yang digunakan pada peristiwa tersebut.

Koleksi terlengkap ada di Monumen Palagan Ambarawa, yang diresmikan pada 15 Desember 1974 oleh Presiden Soeharto. Pada relief monumen kita bisa melihat gambaran singkat sejarah pertempuran tersebut. Di halaman kompleks monumen terdapat Lokomotif B2501 beserta gerbong kayu yang digunakan untuk membawa pasukan saat Palagan Ambarawa. Selain itu terdapat truk Dodge, tank kuno, dan beberapa meriam. 

Replika P-51 Mustang di
Kompleks Monumen Palagan Ambarawa

Yang paling menarik bagi saya, di monumen ini terdapat pesawat P-51 Mustang bercat bendera Belanda, sebagai replika pesawat Mustang milik Belanda yang berhasil ditembak dan jatuh ke Rawa Pening. Dalam keterangannya, tertulis bahwa pesawat itu dikenal sebagai “Si Cocor Merah”. Setahu saya, julukan “Cocor Merah” berasal dari nose art berbentuk mulut ikan hiu berwarna merah, yang ada di seluruh monumen P-51 Mustang milik TNI AU. Tapi yang ini kok beda ya… setelah saya amati lagi, saya baru menyadari kalau P-51 Mustang yang ada di Ambarawa tidak memiliki nose art berbentuk mulut ikan hiu. Adanya adalah warna baut pengunci propeller di depan baling-baling yang berwarna merah. Barangkali lebih cocok kalau pesawat Belanda ini kita namakan si “Cingur Merah” ya…


Tuesday, May 6, 2025

Mencari Kesejukan Hati di Candi Cangkuang

 Adem. Itu kata yang pertama terlintas saat saya keluar dari mobil dan menghirup udara segar di Desa Cangkuang. Sengaja saya tidak pakai kata “tiis” atau “tiris”, karena yang adem bukan hanya cuaca, tapi hati ini rasanya pun ikut adem tentrem. Bisa jadi karena suasana yang menyejukkan hati di tepi Situ Cangkuang sangat kontras dengan Situ Bagendit yang kami kunjungi sebelumnya, yang sangat panas dan hingar bingar. Tidak heran, karena Situ Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Kabupaten Garut, meliputi Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur. 

Gunung Haruman dilihat dari dermaga Pulau Panjang

Sebagai penggemar candi, sudah lama saya ingin ke Candi Cangkuang. Candi Cangkuang terletak di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Candi ini merupakan candi yang pertama kali ditemukan di Jawa Barat, sekaligus satu-satunya candi Hindu yang bertahan di Tatar Sunda.  Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1966 oleh Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita, dengan mengacu pada laporan penemuan sebelumnya oleh Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genotschap terbitan tahun 1893. 

Candi Cangkuang dan makam
Dalem Arief Muhammad

Candi inilah juga yang pertama kali ditemukan di Tatar Sunda serta merupakan satu-satunya candi Hindu yang bertahan di Tatar Sunda (sampai saat ini). Berdasarkan tingkat kelapukan batuan dan kesederhanaan bentuk candi (karena tidak ditemukan relief di badan candi), maka para ahli menduga Candi Cangkuang didirikan pada abad ke-8. Dengan dugaan ini, maka bisa jadi candi ini menjadi salah satu petunjuk mengisi kekosongan informasi sejarah antara Purnawarman dan Pajajaran.

Nama Candi Cangkuang diambil dari nama desa tempat candi ini berada. Kata 'Cangkuang' berasal dari nama tanaman sejenis pandan (Pandanus furcatus), yang banyak terdapat di sekitar candi. Tanaman ini memiliki banyak manfaat. Daunnya bisa untuk membuat tudung, membuat tikar, pembungkus gula aren, pembungkus ketupat, dan obat-obatan. Tunasnya bisa digunakan untuk obat batuk. Buahnya juga bisa digunakan untuk obat .

Pohon Cangkuang (Pandanus furcatus)

Keunikan situs Candi Cangkuang adalah keberadaan makam kuno di sebelah candi. Makam tersebut adalah makam Mbah Dalem Arief Muhammad, yang dianggap sebagai leluhur penduduk Kampung Pulo. Konon Arief Muhammad adalah salah satu Senopati dari Mataram yang menyerang Batavia. Karena kalah melawan VOC, Arief Muhammad tidak berani pulang ke Mataram, dan bermukim di Cangkuang. Arief Muhammad memiliki 6 anak perempuan dan 1 anak laki-laki, yang menjadi cikal bakal Desa Adat Kampung Pulo. 

Hari ini saya bersama teman-teman yang mengikuti program Wisata Kreatif Jakarta mengunjungi Cagar Budaya Cangkuang, ditemani Kang Gungun, pemandu wisata yang kebetulan merupakan warga local di Desa Cangkuang. Karena cagar budaya Cangkuang terletak di Kampung Pulo yang terletak di sebuah pulau di tengah Situ Cangkuang (dalam bahasa Sunda, “situ” berarti danau), kami harus menyeberang dengan menggunakan rakit bambu. Rakit-rakit tersebut memiliki kapasitas antara 15-20 orang. Karena terbuat dari bambu, rakit ini hanya memiliki daya tahan maksimal 2 tahun. Menurut Kang Gungun, biaya pembuatan 1 rakit bisa mencapai 8-9 juta.

Desa Adat Kampung Pulo

Saat mendarat di Kampung Pulo, dari dermaga kita bisa melihat Gunung Haruman dengan jelas, seolah menaungi kesejukan di Situ Cangkuang. Untuk menuju candi, Kang Gungun mengajak kami melintasi pasar seni menuju pemukiman adat Kampung Pulo. Di Desa Adat Kampung Pulo terdapat 6 rumah tradisional berbentuk rumah panggung yang dihuni keturunan anak-anak perempuan Arief Muhammad dari garis perempuan, serta 1 masjid yang melambangkan anak laki-laki dari Arief Muhammad. Saat ini penghuni Desa Adat Kampung Pulo merupakan generasi ke 8 hingga 10. 

Dari Desa Adat, Kang Gungun mengantar kami menuju bangunan candi. Terlihat bangunan candi tunggal dengan langgam arsitektur Hindu, dengan sebuah makam kuno di sebelahnya. Inilah Candi Cangkuang dan Makam Mbah Dalem Arief Muhammad. Selain terkagum melihat bangunan candi dan Lokasi yang sangat asri penuh pepohonan, ada satu hal yang paling berkesan bagi kami: suasananya sangat sejuk dan damai. Rasanya tak ingin pergi dari tempat ini…

Candi Cangkuang tampak depan

Candi yang kami saksikan sekarang merupakan hasil pemugaran tahun 1974. Rekonstruksi dilakukan dengan menyusun kembali batu-batu candi yang ditemukan di sekitar candi. Karena hanya sekitar 40% batu candi asli yang dapat ditemukan kembali, selebihnya pemugaran dilakukan dengan adukan semen, batu koral, pasir dan besi. Di dalam bilik candi terdapat arca Siwa yang kondisinya sudah tidak utuh, dengan wajah yang datar, dengan bagian tangan hingga kedua pergelangannya telah hilang.

Di depan candi dan makam, terdapat rumah joglo yang berfungsi sebagai museum, yang dibangun pada 1976. Koleksi museum merupakan benda-benda bersejarah terkait Candi Cangkuang dan Mbah Dalem Arief Muhammad. Di halaman depan museum kita juga bisa melihat pohon Cangkuang, jenis tanaman pandan yang menjadi asal usul nama Desa Cangkuang.

Dengan hawa yang sejuk, saya bisa membayangkan duduk di salah satu warung, sambil menikmati teh tawar hangat dan kudapan burayot. Burayot merupakan makanan asli Cangkuang, yang awalnya dibuat sebagai makanan untuk menyambut tamu dalam acara adat, atau jika ada perayaan keluarga. Nama "burayot" berasal dari bahasa Sunda yang berarti "menggantung" atau "terjuntai," sesuai dengan bentuknya yang lonjong dan menyerupai tetesan air yang menggantung. 

Burayot

Bahan baku burayot adalah tepung beras dan gula merah yang dikocek di atas api. Setelah adonan matang, adonan dibuat bulat-bulat, kemudian digoreng sebentar dalam minyak panas dan dicutik, kemudian digantung untuk membuat bentuk tetesan air. Tekstur burayot di bagian atas krispi, dengan rasa manis terkumpul di bagian bawah. Namun burayot sebaiknya dimakan panas-panas, takutnya ketika dingin keburu jadi rayut…

Friday, March 28, 2025

Napak Tilas Kereta Api BOS

Panasnya kawasan kota tua di tengah bulan Ramadhan tahun 2025 tidak menyurutkan para peserta Pelesiran Tempo Doeloe Sahabat Museum yang sudah berniat ngabuburit dengan napak tilas jalur kereta yang di jaman baheula dikelola oleh BOS. Tapi omong-omong, siapa si BOS ini?

Rombongan PTD Sahabat Museum

BOS adalah Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menguasai jalur kereta api sepanjang 63 km yang menghubungkan Batavia dengan Krawang via Meester Cornelis dan Bekasi. Singkatan namanya sebenarnya BOS atau BOSM, namun lidah penduduk lokal mungkin menyebutnya sebagai Be-OS, sehingga lama-lama masyarakat menyebutnya sebagai BEOS.

Fasad Stasiun Jakarta Kota (Stasiun BEOS) sebelum pandemi

Napak tilas hari ini dimulai di Stasiun Jakarta Kota, yang sering disebut sebagai Stasiun BEOS. Sebenarnya nama ini salah kaprah, karena Stasiun Jakarta Kota (atau nama aslinya Stasiun Benedenstad) yang kita kenal saat ini bukan milik BOS, melainkan dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS). Stasiun BEOS yang asli adalah Stasiun Batavia Zud, yang saat ini sudah dibongkar. Stasiun Jakarta Kota merupakan titik nol jalur kereta api di Pulau Jawa (kita bisa melihat pal titik nol-nya di Jalur 7), dan bertipe stasiun terminus (ujung) yang tidak memiliki jalur lanjutan lagi. Cirinya adalah adanya stopper atau sepur baduk di ujung rel.

Pal Titik Nol Km Rel Kereta Api di Jalur 7

Bangunan stasiun Jakarta Kota merupakan rancangan arsitek Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels. Ghijsels mendesain bangunan stasiun dengan gaya art deco, yang walaupun sederhana, memiliki cita rasa tinggi. Konon, Stasiun Jakarta Kota merupakan salah satu karya terbaik Ghijsels. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dalam bentuk pesta satu hari satu malam. Di jaman pendudukan Jepang, semua nama yang berbau-bau Jepang diganti, sehingga stasiun ini berganti nama menjadi Stasiun Djakarta.

Hall Stasiun Jakarta Kota dengan ciri khas lengkung Art Deco

Salah satu benda yang menarik perhatian di Stasiun Jakarta Kota adalah sebuah jam kuno di tengah peron. Jam ini sebenarnya bukan asli milik Stasiun Batavia Benedenstad, melainkan dari Stasiun Sukabumi yang dibangun tahun 1882, yang diserahkan ke Stasiun Jakarta Kota pada tahun 2009. Jam antik ini diperkirakan dibuat pada tahun 1881, dan diduga diimpor oleh FM Ohlenroth, sebuah toko jam mewah di Hindia Belanda.

Jam Antik Stasiun Jakarta Kota

Dari Stasiun Jakarta Kota, napak tilas berlanjut dengan KRL menuju Stasiun Senen, transit di Kampung Bandan. Kami nyaris ketinggalan kereta transit, karena terlalu asyik ngobrol di peron atas! Hahaha… tenang, masih ada KRL yang akan lewat. Karena KRL yang kami naiki ternyata tidak berhenti di Senen, kami harus turun di stasiun Gang Sentiong, untuk kemudian naik KRL arah balik dan turun di Stasiun Pasar Senen.

Stasiun Pasar Senen, sesuai namanya, didirikan untuk mendukung pengembangan Pasar Senen, pasar tertua di Batavia yang didirikan pada tahun 1733. BOS membuka Stasiun Pasar Senen pada 31 Maret 1887 sebagai sebuah perhentian kecil. Lokasinya bukan di stasiun yang sekarang, melainkan di sekitar Gelanggang Remaja Jakarta Pusat. Pembukaan stasiun ini bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api Batavia—Bekasi. Jalur ini kemudian dibeli oleh SS pada tahun 1898 karena utang BOS yang membengkak.

Fasad Stasiun Pasar Senen

Seiring peningkatan arus penumpang, Stasiun Pasar Senen kemudian dipindahkan dan dibangun ulang pada tahun 1916, di lokasi yang sekarang. Bangunan stasiun generasi pertama yang dibangun BOS kemudian dialihfungsikan menjadi gudang, sebelum dibongkar untuk pembangunan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat.

Rombongan Sahabat Museum di Peron Stasiun Pasar Senen

Bangunan Stasiun Pasar Senen yang sekarang kita kenal diresmikan pada tanggal 19 Maret 1925, bertepatan dengan 50 tahun SS pada 6 April 1925, sekaligus untuk menyambut layanan baru SS yaitu elektrifikasi jalur Tanjung Priok-Meester Cornelis, yang menjadi cikal bakal KRL yang kita kenal sekarang. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Johan van Gendt, dengan gaya arsitektur Neo-Indische.

Kanan: Dekorasi khas Art Deco di Stasiun Pasar Senen
Kiri: Terowongan Stasiun Pasar Senen

Stasiun Pasar Senen dirancang sebagai stasiun pulau, dan merupakan stasiun pertama yang memiliki terowongan untuk lalu lintas penumpang yang masih berfungsi sampai saat ini. Di sisi peron penumpang kereta api jarak jauh, kita bisa melihat tiang bergaya art deco yang terbuat dari logam, yang diduga digunakan untuk meletakkan lampu. Posisi tiang yang berada di dekat terowongan membuka dugaan lampu di tiang tersebut berfungsi untuk menerangi terowongan tempat lalu lalang penumpang.

Puas melihat-lihat Stasiun Pasar Senen, rombongan melanjutkan perjalanan menuju pemberhentian terakhir di Stasiun Jatinegara. Karena KRL arah Jatinegara tidak berhenti di Stasiun Pasar Senen, kami harus naik KRL ke Stasiun Kemayoran, baru berpindah ke KRL arah Jatinegara. Melewati stasiun Pondok Jati yang berlokasi di sekitar Palmeriam, teringatlah kisah Gang Solitude, sebuah lokasi yang terkait dengan Perang Napoleon di Jawa (silakan lihat di sini).

Tampak Depan Stasiun Jatinegara

Dan akhirnya, tibalah kami di Stasiun Jatinegara. Stasiun Jatinegara ini aslinya adalah Stasiun Meester Cornelis yang dibangun SS dan mulai beroperasi pada 15 Oktober 1909. Sedangkan Stasiun Meester Cornelis milik BOS dibangun pada 1887 dan mulai beroperasi pada 31 Maret 1887, bersamaan dengan pembukaan jaringan kereta api Batavia-Meester Cornelis-Bekasi pada 31 Maret 1887. Karena menghadapi masalah keuangan, tahun 1889 jaringan rel Batavia-Bekasi dibeli oleh SS, termasuk Stasiun Meester Cornelis BOS. Lokasi Stasiun Meester Cornelis BOS terletak di dekat Depo Jatinegara saat ini.

Atap Ciri Khas Stasiun Jatinegara

Bangunan Stasiun Jatinegara dirancang oleh arsitek Ir. Simon Snuyf. Gaya arsitekturnya merupakan perpaduan antara Indische Empire dan kolonial modern. Ciri khas dari bangunan Stasiun Jatinegara adalah atap yang sangat miring, menyerupai gaya bangunan di Belanda. Di puncak bangunan terdapat menara yang berfungsi seperti mercusuar serta untuk penerang ruangan. Saat ini bangunan lama Stasiun Jatinegara masih dipertahankan, sementara di bagian belakang stasiun sudah berdiri bangunan baru yang lebih modern yang mampu menampung penumpang lebih banyak.

Rombongan Sahabat Museum di Stasiun Jatinegara

Gara-gara sempat mampir ke Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Jatinegara, jadi pengen naik kereta api ke luar kota. Jadi, kapan kita naik kereta api ke Surabaya?

Saturday, September 21, 2024

Wisata Pemakaman PD II (7): Ereveld Kalibanteng

Menuntaskan perjalanan saya ke 7 ereveld di Indonesia, dari Ereveld Candi, saya menuju ke Ereveld Kalibanteng, yang terletak tak jauh dari bandara Ahmad Yani Semarang, bersebelahan dengan Kawasan Pusdik Penerbad, Pangkalan Udara Ahmad Yani. Secara resmi, Ereveld Kalibanteng beralamat di Jl. Siliwangi 293, Semarang, terletak di tepi jalan raya yang merupakan bagian dari Jalan Raya Pos yang dibangun oleh H.W. Daendels. 

Diresmikan pada tanggal 22 April 1949, tempat ini merupakan tempat peristirahatan 3100 korban perang, sebagian besar merupakan korban sipil dari kamp konsentrasi tentara Jepang di Jawa Tengah, seperti Ambarawa, Banyubiru, Lampersari, Halmahera, Bangkong, Gedangan, dan Karangpanas. Pada saat penggabungan ereveld di Indonesia, Ereveld Kalibanteng menerima pemindahan makam dari ereveld di Tegal, Kobong, Blora, Tarakan (1964), Balikpapan (1967), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Saat tiba di Ereveld Kalibanteng, pintu gerbang dalam keadaan terbuka, sehingga saya masuk ke dalam. Saya bertemu pak Eko, penjaga ereveld yang sedang merawat tanaman. Setelah menjelaskan maksud saya berkunjung ke ereveld, Pak Eko mempersilakan saya untuk melihat ke dalam.

Ereveld Kalibanteng yang dikelilingi pohon cemara

Ereveld ini berbentuk segitiga sama sisi, dengan sekeliling lahan ereveld terdapat parit besar yang berisi air. Menurut pak Eko, air pada parit ini berasal dari sungai, dan digunakan untuk perawatan tanaman di Ereveld. Jika melihat dari dalam ke arah jalan raya, akan terlihat pemandangan Gunung Ungaran di kejauhan. Namun kontras dengan Ereveld Candi, Ereveld Kalibanteng terletak di dataran dekat pantai, hanya beberapa ratus meter dari tepi laut. Salah satu keunikan lain dari ereveld ini adalah deretan pohon cemara yang mengelilingi lahan ereveld.

Bagian Malam Perempuan di Sisi Barat Ereveld

Ereveld Kalibanteng dikenal sebagai “Vrouwen-Ereveld” (Ereveld Perempuan), karena banyaknya wanita dan anak-anak yang dimakamkan di tempat ini. di mana di sisi barat digunakan untuk makam wanita, dan di sisi timur digunakan mayoritas untuk makam pria. Sedangkan makam anak-anak terdapat di area tengah, menghadap ke jalan raya. Di Ereveld Kalibanteng juga terdapat pemakaman muslim, yang terletak di sisi belakang ereveld.

Monumen Peti Mati untuk
Korban Perempuan Tak Dikenal

Di dekat tiang bendera terdapat patung batu berbentuk peti mati. Jika biasanya peti mati tersebut untuk mengenang prajurit tak dikenal, kali ini peti mati tersebut ditujukan khusus untuk mengenang korban perempuan tak dikenal. Di seberang peti mati terdapat lempengan batu peringatan dari marmer putih dengan teks yang ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris yang berbunyi “Ter eerbiedige negadachtenis aan de vele ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.”, yang bermakna untuk mengenang mereka yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan.

Monumen "Jongen Kampen"

Berjalan ke arah belakang melintasi jalur yang diapit 18 pilar, terlihat dua buah monumen yang mencerminkan keberadaan Perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perang. Monumen pertama adalah monument “Jongen Kampen” (Kamp Anak Laki-Laki) karya Anton Beysens pada tahun 1988. Monumen ini untuk mengenang para anak lelaki yang dipisahkan dari ibunya dan gugur di kamp konsentrasi laki-laki, seperti di di Ambarawa, Bangkong, Gedongjati, dan Cimahi. Patung perunggu tersebut menunjukkan seorang anak lelaki kurus yang membawa pacul di atas pundaknya, bersandar pada kapak, dan tubuhnya hanya dibalut selembar kain. Terdapat tulisan pada monumen itu “Zij waren nog zo jong”, yang bermakna “Mereka masih sangat muda”.

Monumen Perempuan

Di seberang monumen ini terdapat taman dengan monumen dua orang wanita buatan Marian Gobius pada tahun 1954. Monumen perunggu tersebut menggambarkan seorang wanita yang bangga dan berdiri tegap, tengah memegang wanita lain yang membungkuk, seolah berusaha menenangkan. Mereka sama-sama menggandeng tangan seorang anak kecil yang berada di antara mereka berdua. Monumen ini menggambarkan perasaan senasib antara Wanita dan anak-anaknya, khususnya di masa sulit tersebut. 

Wisata Pemakaman PD II (6): Ereveld Candi

Setelah beberapa waktu, akhirnya saya berkesempatan ke Semarang (lebih cepat daripada perkiraan saya), yang saya manfaatkan untuk menuntaskan perjalanan mengunjungi 7 Ereveld yang ada di Indonesia. Pagi itu cuaca sangat cerah, ketika saya memulai perjalanan menuju Ereveld Candi.

Ereveld Candi terletak di Jl. Taman Jendral Sudirman 4, Bendungan Gajahmungkur, Candi Baru, di atas bukit di sisi selatan Kota Semarang. Ereveld ini dibangun atas inisiatif pasukan pertama Belanda dari Tijgerbrigade (T-Brigade) yang mendarat di Semarang pada 12 Maret 1946. Mereka memilih tempat pemakaman untuk rekan-rekan mereka yang gugur di puncak bukit Candi, yang saat itu merupakan Tillemaplein (Taman Tillema, diberi nama dari Hendrik Freerk Tillema, pendiri air minum kemasan pertama di Semarang). Pemakaman tersebut dirancang oleh Letnan Satu Ir. H. Stippel dari pasukan zeni. Pemakaman ini diresmikan pada bulan Maret 1947 dan diberi nama Ereveld Tillemaplein. Namun pada tahun 1967, atas permintaan dari pihak Indonesia, nama ereveld ini berubah menjadi Ereveld Candi.

Ereveld Candi di bawah naungan Gunung Ungaran

Ketika saya tiba di gerbang ereveld ini, yang pertama kali menarik perhatian adalah panorama gunung Ungaran yang seolah menaungi Ereveld Candi. Ini bukan satu-satunya ereveld yang memiliki panorama gunung, karena Ereveld Pandu dan Ereveld Leuwigajah pun juga dinaungi oleh gunung. Namun keunikan dari Ereveld Candi adalah letaknya di lereng bukit, sehingga lahannya dibentuk seperti terasering, dengan 5 teras yang berbentuk setengah lingkaran, Masing-masing teras dihubungkan dengan tangga dari batu alam. 

Karena saya tidak melihat petugas di dekat pintu (dan bel pintu sepertinya tidak berfungsi), saya mencoba membuka gerbang yang tidak dikunci. Dari jauh terlihat ada beberapa petugas sedang melakukan perawatan tanaman ereveld. Di kantor ereveld ternyata ada petugas yang sedang bekerja di depan computer, yang kemudian mengijinkan saya untuk melihat ke dalam ereveld. 

Dari informasi yang saya baca dari berbagai sumber, tempat ini merupakan satu-satunya ereveld khusus militer di Indonesia. Dan sejauh mata memandang nisan-nisan yang ada di Ereveld Candi, terlihat bahwa semua yang dimakamkan di tempat ini adalah laki-laki, tidak ada perempuan. Demikian juga tidak ada orang muslim yang dimakamkan di sini, hanya ada beberapa makam Yahudi dan Tionghoa.

Pada awal didirikan, tempat ini hanya ditujukan untuk memakamkan kembali seluruh tentara yang gugur masa perang kemerdekaan di Jawa Tengah. Namun pada akhirnya tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir para tentara yang gugur di Jawa Tengah pada masa Perang Dunia II. Saat ini hampir 1000 anggota tentara Belanda (KNIL) yang dimakamkan di tempat ini, termasuk menampung makam yang dipindahkan dari pemakaman tentara Belanda di Kampung Ploso (Pacitan), Gundih (Semarang), Mario Tjamba (Maros), Patjinang (Makassar), dan Palembang, antara tahun 1960-1970.

Monumen Salib

Tempat ini memiliki monumen salib berwarna putih berukuran besar yang terletak di bagian tengah pemakaman, dihiasi jalan setapak yang terbentuk dari batu-batu alam. Di bagian kaki salib tersebut terdapat prasasti dengan tulisan “Voor Veiligheid en Recht”, atau berarti “For Security and Justice”, yang menjadi titik fokus untuk merefleksikan kedua nilai ini. Pada tangga menuju salib, terdapat plakat yang menandakan ucapan dari Palang Merah Semarang. Pada tangga sisi kanan menuju salib, terdapat plakat bertulisan “Uw plichtsbetrachting maakte ons werk van naastenliefde mogelijk” dari Roode Kruis Semarang (Palang Merah Semarang pada masa Agresi Militer), yang bermakna “Pengabdian Anda pada tugas membuat pekerjaan amal kami bisa terwujud.”

Seperti di ereveld lain, terdapat monument untuk mengenang mereka yang gugur dalam perang namun tak dimakamkan di ereveld. Jika di ereveld lain monumen tersebut dalam bentuk patung peti mati, maka di Ereveld Candi monument tersebut dalam bentuk sebongkah batu berbentuk persegi di dekat tiang bendera, yang bertuliskan “Ter eerbiedige nagedachtenis aan de velle ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.” (Untuk mengenang banyak orang yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan). 

Monumen II-13 R.I.

Terdapat juga monumen untuk memperingati gugurnya 8 tentara dari Batalyon II – 13 R.I. (Regiment Infanterie), atau dikenal sebagai Batalyon Limburg. Delapan orang yang namanya terdapat di monumen tersebut sepertinya tidak dimakamkan di ereveld Candi. Batalyon II-13 sebelumnya memperkuat tentara Sekutu di Munich-Gladbach, sebelum diberangkatkan menuju Indonesia melalui Inggris pada 12 Oktober 1945, dan mendarat di Semarang pada 9 Maret 1946. Selama bertugas di Indonesia, mereka berada di bawah pimpinan Letnan Kolonel D.A. Erdman. Mereka sempat ditugaskan di Semarang, Salatiga, Pameungpeuk, Garut, Darmaredja, Gempol, dan Plered, sebelum pada 26 Februari 1948 mereka dipulangkan ke Belanda. 


Sunday, August 18, 2024

Napak Tilas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 16 Agustus 1945 dini hari. Kala itu para pemuda dari perkumpulan "Menteng 31" yang terdiri dari Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh "menculik" Bung Karno dan Bung Hatta, untuk diamankan di Rengasdengklok, 81 km dari Jakarta. Tujuan mereka adalah untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan. Mengapa ke Rengasdengklok? Karena lokasinya yang cukup terpencil, namun tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain itu, di Rengasdengklok terdapat markas PETA. 

Gedung Joang 45 di Jl. Menteng Raya No. 31, Jakarta

Di manakah markas para pemuda “Menteng 31”? Bangunan yang berlokasi di jantung kota Jakarta ini semula merupakan hotel elite yang dibangun oleh L.C. Schomper pada tahun 1938, dan dikenal sebagai Hotel Schomper I. Pada masanya, hotel ini merupakan hotel yang megah. Saat Belanda menyerah di tahun 1942, bangunan hotel dikuasai oleh Badan Propaganda Jepang (Gunseikanbu Sendebu).  Di bulan Juli 1942, para pemuda yang terdiri dari Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik dan AM Hanafi meminta ijin kepada Jepang untuk memanfaatkan Gedung tersebut sebagai asrama, yang kemudian dikenal sebagai Asrama Menteng 31. Asrama ini kemudian berfungsi sebagai tempat Pendidikan politik kebangsaan, dengan para pengajar di antaranya Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Moh. Yamin, Mr. Achmad Subarjo, dll. Tahun 1943, Gedung Menteng 31 kemudian dijadikan sebagai markas Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Setahun kemudian, PUTERA dibubarkan dan diganti dengan organisasi baru Bernama Jawa Hokokai (Kebangkitan Rakyat Jawa), dan berkantor di Gedung tersebut.

Rumah Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok

Selama di Rengasdengklok, Bung Karno dan Bung Hatta tinggal di rumah milik Djiaw Kie Siong. Konon rencana semula Bung karno dan Bung Hatta akan ditempatkan di markas PETA di Rengasdengklok, namun karena kondisinya yang kurang layak sebagai tempat tinggal, maka para pemuda mengalihkan Bung Karno dan keluarga beserta Bung Hatta ke rumah Babah Djiaw.

Bersama Pak Yanto dan Bu Lani

Rumah milik Babah Djiaw di Rengasdengklok pernah saya singgahi bersama rombongan WalkIndies, dalam perjalanan menuju Candi Batujaya di pertengahan April 2024. Dengan sambutan hangat dari pak Yanto, cucu dari Babah Djiaw, serta ibu Lani istrinya, serta kondisi rumah bersejarah yang masih terjaga, kami malah membayangkan jangan-jangan kata “penculikan” sebenarnya agak berlebihan. Mungkin di Rengasdenglok Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda sebenarnya hanya “cangkrukan” sambil merokok dan makan gorengan. Sambil “cangkrukan”, bisa jadi Bung Karno dan Bung Hatta membujuk para pemuda agar bersabar, karena mereka tidak ingin terjadi pertumpahan darah jika proklamasi dipersiapkan secara terburu-buru.

16 Agustus 1945 tengah malam, akhirnya Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda kembali ke Jakarta. Setelah mereka mengetahui bahwa Jepang tidak memberikan ijin untuk mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia seperti yang telah dijanjikan Marsekal Terauchi di Dalat, mereka menuju kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang dan Angkatan Darat Jepang.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Di ruang makan rumah Maeda, dilakukan penyusunan teks proklamasi oleh Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Setelah konsep yang ditulis tangan dirasa cukup, Sayuti Melik mengetik naskah tersebut, dengan diawasi oleh B.M. Diah. Naskah proklamasi ketikan Sayuti Melik ini kemudian ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta di atas piano yang berada di rumah tersebut. Selanjutnya naskah ini pun dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi di kediaman Bung Karno Jl. Pegangsaan Timur 56.

Naskah Proklamasi Ketikan Sayuti Melik

Setelah proklamasi Kemerdekaan, Rumah Laksamana Maeda sempat dijadikan Markas Tentara Inggris, dan sejak itu beberapa kali beralih fungsi. Baru pada tahun 1992 rumah yang terletak di Jl. Imam Bonjol No. 1 ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Satu-satunya yang masih asli dari peristiwa perumusan naskah proklamasi tahun 1945 adalah bangunan tersebut. Sedangkan benda-benda seperti kursi, meja, mesin ketik, pulpen, serta piano yang digunakan pada masa itu sudah tidak ketahuan lagi rimbanya, sehingga yang dipamerkan di museum hanyalah replikanya saja.

Monumen Proklamator

17 Agustus 1945, pukul 10 pagi. Di kediamannya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Bung Karno membacakan Naskah Proklamasi, membuka babak baru dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pembacaan Naskah Proklamasi ini selanjutnya diikuti oleh pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit Ibu Fatmawati oleh Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed. Pengibaran ini diiringi dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh hadirin.

Tugu Petir Tempat Bung Karno Berdiri Saat Membacakan Proklamasi

Jika hari ini Anda mencari tahu di apakah kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur itu masih ada, bentuk dan suasananya sudah tidak sama dengan bentuk dan suasana di tahun 1945. Saat ini lokasi tersebut sudah menjadi Taman Proklamasi, dan rumah yang menjadi kediaman Bung Karno di tahun 1945 sudah tidak ada. Pada tahun 1961, rumah tersebut dibongkar untuk dijadikan Gedung Pola Pembangunan Semesta, yang menjadi tempat koordinasi program Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahap Pertama 1961-1969. 

Tempat Bung Karno berdiri ketika membacakan naskah proklamasi ditandai dengan Tugu Petir, yang dibangun di tahun 1961. Pada tugu terdapat plakat dengan tulisan "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta". Di taman tersebut terdapat patung Bung Karno dan Bung Hatta berukuran besar, yang menggambarkan suasana pembacaan naskah proklamasi. Di antara patung Bung Karno dan Bung Hatta, terdapat patung naskah proklamasi versi ketikan oleh Sayuti Melik, terbuat dari lempengan batu marmer hitam. Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 Agustus 1980.


Friday, March 22, 2024

Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa

 "Payah loe, udah dibantu GM*ps tapi tetep aja nyasar!"

Percakapan ini sepertinya lumrah kita dengar saat ini. Yeps, peta digital memang sangat praktis untuk keperluan mobilisasi di jaman kiwari. Peta merupakan representasi visual dari berbagai elemen yang ada di muka bumi. Perjalanan ilmu kartografi atau pembuatan peta saat ini sudah sedemikian canggih, hingga memungkinkan kita membaca peta dalam versi digital, bahkan dalam genggaman. Namun, seperti apa peta-peta di masa lampau, yang digunakan para pelaut untuk navigasi kapal-kapal mereka menjelajah samudra?

Nusa Jawa dalam pandangan kartografer Portugis Abraham Ortelius 1595

Pameran Kartografi Nusa Jawa yang diselenggarakan antara 16 Januari s/d 30 April 2024 di Museum Bahari memamerkan peta-peta kuno -- khususnya peta pulau Jawa dari abad ke-16. Jika kita bandingkan dengan peta masa kini yang penggambarannya sudah sesuai dengan kondisi nyata, peta-peta kuno tersebut sangat berbeda. Bisa dilihat bahwa peta kuno tersebut mencerminkan interpretasi para pembuat peta jaman dulu terhadap wilayah yang dipetakan. Misalnya pada peta penjelajah Belanda abad 16, pulau Jawa digambarkan sama besarnya dengan pulau Sumatera. Atau peta yang dibuat kartografer Belanda pada tahun 1606, yang memperlihatkan seolah Pulau Jawa dibelah oleh sungai besar dari pantai utara hingga pantai selatan. Peta-peta kuno tersebut saat ini dapat dianggap sebagai sebuah karya seni berbasis kartografi. Selain peta-peta kuno, kita juga diperkenalkan dengan peralatan yang membantu kartografer masa lalu untuk membuat peta atau membantu para pelaut menentukan posisi kapalnya. Di antara peralatan tersebut terdapat sekstan dan teropong panjang.

Peta Pulau Jawa Terpisah oleh Pieter Van Der Aa 1707

Salah satu peta yang ditampilkan adalah Peta Tjiela. Peta Tjiela yang asli ditemukan di Desa Ciela, Kec. Bayongbong, Garut, pada tahun 1858 oleh Karel Frederik Holle, pemilik perkebunan the di CIkajang, Garut. Tuan Holla (panggilan akrab masyarakat Cikajang kepada Holle) memang bukan sekadar juragan perkebunan the, namun juga peminat kebudayaan Sunda. Peta Tjiela tergambar pada sehelai kain kafan berukuran 1 meter x 2 meter. Peta tersebut menggambarkan wilayah yang cukup luas, mencakup wilayah yang sekarang menjadi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, sampai dengan Kabupaten Cilacap. Dalam peta tersebut termuat symbol laut, sungai, gunung, bukit, danau, jalan, dan rawa, dengan symbol yang umum digunakan pada peta yang kita kenal hari ini. Peta tersebut memuat keterangan nama yang ditulis dengan huruf Sunda kuno, seperti Cirebon, Bekassih, dan Nusa Kalapa. Di bagian tengah peta tergambar wilayah kerajaan bernama Timbangaten. Uniknya, arah utara pada peta diletakkan di bagian bawah, sedangkan arah selatan pada bagian atas peta.

Holle meyakini peta tersebut dibuat sekitar tahun 1560. Dugaan ini diperkuat oleh penelitian arkeolog lainnya, yang mengatakan kemungkinan peta tersebut berasal dari abad ke-16. Siapa pembuat peta ini, tidak diketahui, namun peta ini dibuat oleh penduduk Nusantara. Ini menjadi bukti bahwa sejatinya penduduk asli Nusantara sudah mengenal pembuatan peta sebelum para penjelajah Eropa hadir di Nusantara. Salah satu tokoh dari Nusantara yang mengenal peta dan globe adalah Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri dan penasehat utama Raja Gowa di abad ke-17. Dari hasil penelitian lebih lanjut oleh para ahli geologi Indonesia di tahun 1976-1977, penulis buku Prof. P. D. A Harvey menduga bahwa Peta Ciela memiliki kemiripan dengan peta masa awal Dinasti Han dari Cina.

Atas: Puzzle Peta Ciela di Museum Sejarah Jakarta (foto koleksi pribadi, 2019)
Bawah: Salinan Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa (foto koleksi pribadi, 2024)

Beruntung Holle sempat membuat salinan Peta Tjiela tersebut dan menuliskan ulasan tentang peta tersebut dalam sebuah majalah, karena pada tahun 1975 diketahui peta yang asli telah hilang, diduga terbakar dan hilang tenggelam bersama kapal yang mengangkutnya. Tulisan Holle menjadi sumber awal yang penting dalam menelusuri kartografi yang dilakukan penduduk Nusantara. Di Pameran Kartografi Nusa Jawa kita bisa melihat bentuk salinan dari peta tersebut, sedangkan jika kita ingin melihat dari dekat, kita bisa melihat Peta Tjiela dalam bentuk puzzle yang dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta. Saat ini salinan Peta Tjiela yang dibuat berdasarkan salinan Holle disimpan oleh keluarga Ihak Lukman di Desa Ciela, dan dianggap sebagai benda pusaka.

Mengingat pentingnya peta untuk membantu menunjukkan posisi atau lokasi relative dalam hubungannya dengan tempat lain di permukaan bumi, khususnya dalam aktivitas pelayaran di masa lalu, tidak mengherankan jika pameran ini dibuat di Museum Bahari Jakarta. Museum ini dulu merupakan gudang VOC untuk menyimpan komoditas seperti rempah, kopi, the, tembaga, timah, dan tekstil. Selain melihat-lihat koleksi terkait kebaharian Indonesia, arsitektur museum sendiri juga menarik untuk ditelisik, mengingat museum ini dibangun dengan teknologi abad ke-17, dan masih bertahan hingga sekarang, walaupun dinding-dindingnya harus menghadapi ancaman penggaraman.

Sisa Pilar Kayu dan Pintu yang Terbakar di Memorial Museum Bahari

Selesai melihat pameran peta, saya tertarik dengan ruangan di Gedung sebelah, yang pintunya terbuka dan cukup terang. Ternyata ruangan tersebut merupakan Ruang Memorial Museum Bahari, dan menyimpan informasi terkait peristiwa kebakaran besar pada 16 Januari  2018 yang melalap 64 koleksi museum. Pada ruang memorial ini dipamerkan beberapa kaki pilar, pintu, dan ambang jendela yang terbuat dari kayu jati, yang sebagian besar hangus dilalap si jago merah. Ruangan ini juga menampilkan video upaya pemadaman kebakaran, serta kliping surat kabar yang memuat berita kebakaran tersebut dan upaya pemulihan kembali museum pasca kebakaran. Saat menapakkan kaki, saya baru sadar, mungkin Ruang Memorial ini adalah salah satu ruangan yang ikut terbakar saat itu, karena terdapat bagian ruangan dengan lantai kayu yang terlihat lebih baru dibandingkan bagian ruangan lainnya. Bagi saya, Ruang Memorial ini mungkin menjadi pengingat bagi kita, untuk terus berupaya memitigasi bencana kebakaran agar tidak terjadi lagi, khususnya di museum-museum kita.