Showing posts with label solo traveling. Show all posts
Showing posts with label solo traveling. Show all posts

Friday, June 27, 2025

Menjaga Kedaulatan Negara di Ambarawa

Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata “Ambarawa”? Biasanya kita langsung teringat Museum Kereta Api. Sejarah perkeretaapian di Ambarawa tak lepas dari keberadaan Ambarawa sebagai kota militer di masa kolonial Belanda, yang menyokong kota garnizun Magelang untuk mengontrol area Vorstenlanden. (kawasan Solo-Yogyakarta).

Monumen Palagan Ambarawa

Pemilihan Ambarawa sebagai kota militer berawal sejak masa Perang Diponegoro, ketika Colonel Hoorn mendapat instruksi untuk membangun titik suplai logistik dan barak militer di sekitar Bawen, untuk memberikan bantuan logistik dan tentara dalam peperangan. Bawen dipilih karena berada di persimpangan antara Semarang, Yogyakarta, Salatiga, dan Surakarta. Di tahun 1840, Ambarawa sudah menjadi kota militer yang strategis, yang berfungsi sebagai choke point antara Semarang dan Surakarta, dalam rangka menjaga hubungan dengan Kesultanan di Surakarta dan Yogyakarta, serta mencegah pergerakan tentara keraton. Setelah Benteng Willem I rampung pada tahun 1848 di Ambarawa, Raja Willem I memerintahkan untuk membangun jaringan kereta api untuk mobilisasi tentara. Jalur kereta yang dibangun menghubungkan Ambarawa ke Semarang dan Ambarawa ke Vorstenlanden. 

Lokomotif dan gerbong (antik)
di Monumen Palagan Ambarawa

Di masa mempertahankan kemerdekaan, terjadi peristiwa Palagan Ambarawa di tahun 1945, yang merupakan salah satu tonggak sejarah perjuangan bangsa. Palagan Ambarawa adalah peristiwa perlawanan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan badan perjuangan terhadap Tentara Sekutu yang terjadi di Ambarawa pada tanggal 20 Oktober–15 Desember 1945, dengan puncak pertempuran terjadi pada 12-15 Desember 1945. 


Berawal pada 19 Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah komando Letnan Kolonel Edwardes mendarat di Semarang untuk melucuti senjata pasukan Jepang dan membebaskan tawanan perang yang masih ditahan di kamp di Jawa Tengah. Ketika pasukan Sekutu dan NICA mulai membebaskan dan mempersenjatai tawanan perang Belanda yang dibebaskan di Ambarawa dan Magelang, banyak penduduk yang marah. Hubungan semakin memburuk ketika Sekutu mulai melucuti senjata anggota TKR. 

Pada 21 November 1945, Resimen Kedu Tengah 1 di bawah komando Letkol M. Sarbini mulai mengepung pasukan Sekutu di Magelang sebagai balasan atas upaya pelucutan senjata TKR. Setelah ada campur tangan Soekarno, Sekutu diam-diam meninggalkan Magelang menuju benteng mereka di Ambarawa. Resimen Sarbini mengikuti Sekutu dalam pengejaran, dan kemudian bergabung dengan pasukan Indonesia lainnya dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta. Pasukan Sekutu terhenti di Desa Jambu karena dihadang pasukan Angkatan Muda di bawah pimpinan Oni Sastrodihardjo, dan Pasukan Sekutu berhasil diusir dari Desa Jambu. Di Desa Ngipik, pasukan Sekutu kembali dicegat Batalion 1 Soerjosoempeno, dan dipaksa mundur lagi oleh TKR. 

23 November 1945, ketika matahari mulai terbit, pasukan Indonesia mulai menembaki pasukan Sekutu di Ambarawa. Pasukan Sekutu bertahan di kompleks gereja dan kerkhof Belanda di Jl. Margo Agoeng. Indonesia terdiri dari Yon. Imam Adrongi, Yon. Soeharto, dan Yon. Soegeng. Tentara Sekutu mengerahkan tawanan Jepang dengan diperkuat tank-nya, menyusup ke tempat kedudukan Indonesia dari arah belakang. Serangan balik dari Sekutu memaksa TKR mundur ke Desa Bedono.

Untuk memperkuat komando pertempuran Divisi 5, Kolonel Soedirman sebagai Panglima Divisi 5 Banyumas mengirimkan Letkol Isdiman . Pasukan Indonesia di bawah komando Letkol Isdiman mencoba membebaskan desa yang dikuasai Sekutu, tetapi pada 26 November 1945, Isdiman tewas dalam pertempuran tersebut sebelum bala bantuan tiba. Oleh karena itu Kolonel Soedirman turun ke medan pertempuran untuk memimpin sendiri. Pertempuran masih terus berlanjut. Tanggal 5 Desember 1945, Benteng Banyubiru jatuh ke tangan TKR. Tanggal 9 Desember 1945, lapangan terbang Kalibanteng jatuh ke tangan TKR, hingga bantuan logistik Sekutu untuk Ambarawa terputus sama sekali.

Peta Pertempuran Palagan Ambarawa 
dan Supit Urang

Mengingat pertempuran yang berlarut-larut, serta persenjataan di pihak Indonesia yang terbatas, pada 11 Desember 1945 Kolonel Soedirman mengadakan pertemuan untuk merundingkan strategi mengusir Sekutu secepatnya dari Ambarawa, mengingat Ambarawa merupakan kunci untuk menguasai seluruh Jawa Tengah dan Yogyakarta. Siasat yang disepakati adalah penyerangan mendadak di tiap sektor dengan taktik Mangkara Yudha atau Supit Urang, komando penyerangan dipegang sektor TKR, badan perjuangan sebagai barisan belakang, dan serangan akan dimulai besok pagi jam 04.30 tepat.

Tanggal 12 Desember 1945 pukul 04.30, pasukan Indonesia memulai serangan serentak dari segala jurusan. Ketika jalan raya Semarang-Ambarawa direbut oleh pasukan Indonesia, Soedirman memerintahkan pasukannya untuk memotong jalur logistik pasukan Sekutu yang tersisa dengan taktik Supit Urang. Taktik “Supit Urang” dilakukan dengan pendobrakan oleh pasukan pemukul dari arah selatan dan barat menuju timur (arah Semarang). Tujuannya agar musuh benar-benar dalam kondisi terkurung dan komunikasi dengan pusat terputus. Bala bantuan terus berdatangan dari Yogyakarta, Surakarta, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang dll. Tanggal 15 Desember 1945 Benteng Willem I sebagai pusat pertahanan terakhir Sekutu di Ambarawa jatuh ke tangan TKR. Sisa logistik dan senjata mereka tidak dibawa mundur ke Semarang. Pasukan Sekutu mundur ke Semarang, dan Ambarawa dikuasai oleh pasukan TKR. Dapat dikatakan peristiwa ini merupakan serangan Indonesia yang paling sukses selama masa Revolusi Nasional. 

Peristiwa Palagan Ambarawa diabadikan di 3 situs, yaitu Museum Dharma Wiratama Yogyakarta, Museum Sasmitaloka Panglima Besar Soedirman Yogyakarta, dan Monumen Palagan Ambarawa serta Museum Isdiman di Ambarawa. Kita bisa melihat memorabilia berupa peta pertempuran, senjata, serta penjelasan jalannya pertempuran dan taktik Supit Urang yang digunakan pada peristiwa tersebut.

Koleksi terlengkap ada di Monumen Palagan Ambarawa, yang diresmikan pada 15 Desember 1974 oleh Presiden Soeharto. Pada relief monumen kita bisa melihat gambaran singkat sejarah pertempuran tersebut. Di halaman kompleks monumen terdapat Lokomotif B2501 beserta gerbong kayu yang digunakan untuk membawa pasukan saat Palagan Ambarawa. Selain itu terdapat truk Dodge, tank kuno, dan beberapa meriam. 

Replika P-51 Mustang di
Kompleks Monumen Palagan Ambarawa

Yang paling menarik bagi saya, di monumen ini terdapat pesawat P-51 Mustang bercat bendera Belanda, sebagai replika pesawat Mustang milik Belanda yang berhasil ditembak dan jatuh ke Rawa Pening. Dalam keterangannya, tertulis bahwa pesawat itu dikenal sebagai “Si Cocor Merah”. Setahu saya, julukan “Cocor Merah” berasal dari nose art berbentuk mulut ikan hiu berwarna merah, yang ada di seluruh monumen P-51 Mustang milik TNI AU. Tapi yang ini kok beda ya… setelah saya amati lagi, saya baru menyadari kalau P-51 Mustang yang ada di Ambarawa tidak memiliki nose art berbentuk mulut ikan hiu. Adanya adalah warna baut pengunci propeller di depan baling-baling yang berwarna merah. Barangkali lebih cocok kalau pesawat Belanda ini kita namakan si “Cingur Merah” ya…


Saturday, September 21, 2024

Wisata Pemakaman PD II (7): Ereveld Kalibanteng

Menuntaskan perjalanan saya ke 7 ereveld di Indonesia, dari Ereveld Candi, saya menuju ke Ereveld Kalibanteng, yang terletak tak jauh dari bandara Ahmad Yani Semarang, bersebelahan dengan Kawasan Pusdik Penerbad, Pangkalan Udara Ahmad Yani. Secara resmi, Ereveld Kalibanteng beralamat di Jl. Siliwangi 293, Semarang, terletak di tepi jalan raya yang merupakan bagian dari Jalan Raya Pos yang dibangun oleh H.W. Daendels. 

Diresmikan pada tanggal 22 April 1949, tempat ini merupakan tempat peristirahatan 3100 korban perang, sebagian besar merupakan korban sipil dari kamp konsentrasi tentara Jepang di Jawa Tengah, seperti Ambarawa, Banyubiru, Lampersari, Halmahera, Bangkong, Gedangan, dan Karangpanas. Pada saat penggabungan ereveld di Indonesia, Ereveld Kalibanteng menerima pemindahan makam dari ereveld di Tegal, Kobong, Blora, Tarakan (1964), Balikpapan (1967), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Saat tiba di Ereveld Kalibanteng, pintu gerbang dalam keadaan terbuka, sehingga saya masuk ke dalam. Saya bertemu pak Eko, penjaga ereveld yang sedang merawat tanaman. Setelah menjelaskan maksud saya berkunjung ke ereveld, Pak Eko mempersilakan saya untuk melihat ke dalam.

Ereveld Kalibanteng yang dikelilingi pohon cemara

Ereveld ini berbentuk segitiga sama sisi, dengan sekeliling lahan ereveld terdapat parit besar yang berisi air. Menurut pak Eko, air pada parit ini berasal dari sungai, dan digunakan untuk perawatan tanaman di Ereveld. Jika melihat dari dalam ke arah jalan raya, akan terlihat pemandangan Gunung Ungaran di kejauhan. Namun kontras dengan Ereveld Candi, Ereveld Kalibanteng terletak di dataran dekat pantai, hanya beberapa ratus meter dari tepi laut. Salah satu keunikan lain dari ereveld ini adalah deretan pohon cemara yang mengelilingi lahan ereveld.

Bagian Malam Perempuan di Sisi Barat Ereveld

Ereveld Kalibanteng dikenal sebagai “Vrouwen-Ereveld” (Ereveld Perempuan), karena banyaknya wanita dan anak-anak yang dimakamkan di tempat ini. di mana di sisi barat digunakan untuk makam wanita, dan di sisi timur digunakan mayoritas untuk makam pria. Sedangkan makam anak-anak terdapat di area tengah, menghadap ke jalan raya. Di Ereveld Kalibanteng juga terdapat pemakaman muslim, yang terletak di sisi belakang ereveld.

Monumen Peti Mati untuk
Korban Perempuan Tak Dikenal

Di dekat tiang bendera terdapat patung batu berbentuk peti mati. Jika biasanya peti mati tersebut untuk mengenang prajurit tak dikenal, kali ini peti mati tersebut ditujukan khusus untuk mengenang korban perempuan tak dikenal. Di seberang peti mati terdapat lempengan batu peringatan dari marmer putih dengan teks yang ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris yang berbunyi “Ter eerbiedige negadachtenis aan de vele ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.”, yang bermakna untuk mengenang mereka yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan.

Monumen "Jongen Kampen"

Berjalan ke arah belakang melintasi jalur yang diapit 18 pilar, terlihat dua buah monumen yang mencerminkan keberadaan Perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perang. Monumen pertama adalah monument “Jongen Kampen” (Kamp Anak Laki-Laki) karya Anton Beysens pada tahun 1988. Monumen ini untuk mengenang para anak lelaki yang dipisahkan dari ibunya dan gugur di kamp konsentrasi laki-laki, seperti di di Ambarawa, Bangkong, Gedongjati, dan Cimahi. Patung perunggu tersebut menunjukkan seorang anak lelaki kurus yang membawa pacul di atas pundaknya, bersandar pada kapak, dan tubuhnya hanya dibalut selembar kain. Terdapat tulisan pada monumen itu “Zij waren nog zo jong”, yang bermakna “Mereka masih sangat muda”.

Monumen Perempuan

Di seberang monumen ini terdapat taman dengan monumen dua orang wanita buatan Marian Gobius pada tahun 1954. Monumen perunggu tersebut menggambarkan seorang wanita yang bangga dan berdiri tegap, tengah memegang wanita lain yang membungkuk, seolah berusaha menenangkan. Mereka sama-sama menggandeng tangan seorang anak kecil yang berada di antara mereka berdua. Monumen ini menggambarkan perasaan senasib antara Wanita dan anak-anaknya, khususnya di masa sulit tersebut. 

Wisata Pemakaman PD II (6): Ereveld Candi

Setelah beberapa waktu, akhirnya saya berkesempatan ke Semarang (lebih cepat daripada perkiraan saya), yang saya manfaatkan untuk menuntaskan perjalanan mengunjungi 7 Ereveld yang ada di Indonesia. Pagi itu cuaca sangat cerah, ketika saya memulai perjalanan menuju Ereveld Candi.

Ereveld Candi terletak di Jl. Taman Jendral Sudirman 4, Bendungan Gajahmungkur, Candi Baru, di atas bukit di sisi selatan Kota Semarang. Ereveld ini dibangun atas inisiatif pasukan pertama Belanda dari Tijgerbrigade (T-Brigade) yang mendarat di Semarang pada 12 Maret 1946. Mereka memilih tempat pemakaman untuk rekan-rekan mereka yang gugur di puncak bukit Candi, yang saat itu merupakan Tillemaplein (Taman Tillema, diberi nama dari Hendrik Freerk Tillema, pendiri air minum kemasan pertama di Semarang). Pemakaman tersebut dirancang oleh Letnan Satu Ir. H. Stippel dari pasukan zeni. Pemakaman ini diresmikan pada bulan Maret 1947 dan diberi nama Ereveld Tillemaplein. Namun pada tahun 1967, atas permintaan dari pihak Indonesia, nama ereveld ini berubah menjadi Ereveld Candi.

Ereveld Candi di bawah naungan Gunung Ungaran

Ketika saya tiba di gerbang ereveld ini, yang pertama kali menarik perhatian adalah panorama gunung Ungaran yang seolah menaungi Ereveld Candi. Ini bukan satu-satunya ereveld yang memiliki panorama gunung, karena Ereveld Pandu dan Ereveld Leuwigajah pun juga dinaungi oleh gunung. Namun keunikan dari Ereveld Candi adalah letaknya di lereng bukit, sehingga lahannya dibentuk seperti terasering, dengan 5 teras yang berbentuk setengah lingkaran, Masing-masing teras dihubungkan dengan tangga dari batu alam. 

Karena saya tidak melihat petugas di dekat pintu (dan bel pintu sepertinya tidak berfungsi), saya mencoba membuka gerbang yang tidak dikunci. Dari jauh terlihat ada beberapa petugas sedang melakukan perawatan tanaman ereveld. Di kantor ereveld ternyata ada petugas yang sedang bekerja di depan computer, yang kemudian mengijinkan saya untuk melihat ke dalam ereveld. 

Dari informasi yang saya baca dari berbagai sumber, tempat ini merupakan satu-satunya ereveld khusus militer di Indonesia. Dan sejauh mata memandang nisan-nisan yang ada di Ereveld Candi, terlihat bahwa semua yang dimakamkan di tempat ini adalah laki-laki, tidak ada perempuan. Demikian juga tidak ada orang muslim yang dimakamkan di sini, hanya ada beberapa makam Yahudi dan Tionghoa.

Pada awal didirikan, tempat ini hanya ditujukan untuk memakamkan kembali seluruh tentara yang gugur masa perang kemerdekaan di Jawa Tengah. Namun pada akhirnya tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir para tentara yang gugur di Jawa Tengah pada masa Perang Dunia II. Saat ini hampir 1000 anggota tentara Belanda (KNIL) yang dimakamkan di tempat ini, termasuk menampung makam yang dipindahkan dari pemakaman tentara Belanda di Kampung Ploso (Pacitan), Gundih (Semarang), Mario Tjamba (Maros), Patjinang (Makassar), dan Palembang, antara tahun 1960-1970.

Monumen Salib

Tempat ini memiliki monumen salib berwarna putih berukuran besar yang terletak di bagian tengah pemakaman, dihiasi jalan setapak yang terbentuk dari batu-batu alam. Di bagian kaki salib tersebut terdapat prasasti dengan tulisan “Voor Veiligheid en Recht”, atau berarti “For Security and Justice”, yang menjadi titik fokus untuk merefleksikan kedua nilai ini. Pada tangga menuju salib, terdapat plakat yang menandakan ucapan dari Palang Merah Semarang. Pada tangga sisi kanan menuju salib, terdapat plakat bertulisan “Uw plichtsbetrachting maakte ons werk van naastenliefde mogelijk” dari Roode Kruis Semarang (Palang Merah Semarang pada masa Agresi Militer), yang bermakna “Pengabdian Anda pada tugas membuat pekerjaan amal kami bisa terwujud.”

Seperti di ereveld lain, terdapat monument untuk mengenang mereka yang gugur dalam perang namun tak dimakamkan di ereveld. Jika di ereveld lain monumen tersebut dalam bentuk patung peti mati, maka di Ereveld Candi monument tersebut dalam bentuk sebongkah batu berbentuk persegi di dekat tiang bendera, yang bertuliskan “Ter eerbiedige nagedachtenis aan de velle ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.” (Untuk mengenang banyak orang yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan). 

Monumen II-13 R.I.

Terdapat juga monumen untuk memperingati gugurnya 8 tentara dari Batalyon II – 13 R.I. (Regiment Infanterie), atau dikenal sebagai Batalyon Limburg. Delapan orang yang namanya terdapat di monumen tersebut sepertinya tidak dimakamkan di ereveld Candi. Batalyon II-13 sebelumnya memperkuat tentara Sekutu di Munich-Gladbach, sebelum diberangkatkan menuju Indonesia melalui Inggris pada 12 Oktober 1945, dan mendarat di Semarang pada 9 Maret 1946. Selama bertugas di Indonesia, mereka berada di bawah pimpinan Letnan Kolonel D.A. Erdman. Mereka sempat ditugaskan di Semarang, Salatiga, Pameungpeuk, Garut, Darmaredja, Gempol, dan Plered, sebelum pada 26 Februari 1948 mereka dipulangkan ke Belanda. 


Wednesday, February 14, 2024

Wisata Pemakaman PD II (4): Ereveld Leuwigajah

Setelah menembus rangkaian kemacetan dari Bandung menuju Cimahi, akhirnya kami tiba di depan gerbang TPU Leuwigajah di Jl. Kerkof. Di gerbang TPU Leuwigajah, terlihat tulisan Ereveld Leuwigajah yang sudah pudar. Sempat terbersit keraguan, apakah ini benar jalan masuk menuju Ereveld Leuwigajah, mengingat secara resmi Ereveld Leuwigajah beralamat di Jl. Cibogo 16, dan tidak terlihat gerbang ereveld yang khas seperti di ereveld yang lain. Ditambah lagi, di TPU sedang ada proses pemakaman, sehingga suasana sangat ramai. Namun petugas TPU mengkonfirmasi bahwa gerbang tersebut memang jalan masuk menuju Ereveld Leuwigajah, dan membantu saya membunyikan bel untuk memanggil petugas Ereveld.

Pintu Gerbang Ereveld Leuwigajah,
tersembunyi di balik TPU Leuwigajah Cimahi

Ereveld Leuwigajah diresmikan pada 20 Desember 1949 oleh Mayor Jendral P. Alons dan Wali Negara Pasoendan Raden Temenggoeng Djoewarsa. Di antara seluruh ereveld di Indonesia, Ereveld Leuwigajah merupakan ereveld terbesar, dengan jumlah makam kurang lebih 5181. Sebelum menjadi ereveld, lahan yang saat ini menjadi lokasi Ereveld Leuwigajah sudah digunakan tentara Jepang untuk memakamkan tawanan yang meninggal di kamp konsentrasi Jepang di Cimahi. 

Sesuai informasi dari pak Sutisna, penjaga ereveld yang sudah bekerja di Leuwigajah selama 31 tahun, mereka yang dimakamkan di sini adalah mereka yang gugur selama Perang Dunia Kedua, khususnya di masa pendudukan Jepang (1941-1945) dan selama masa revolusi (1945-1949). Sebagian dari mereka adalah anggota Tentara Angkatan Darat Kerajaan Belanda (Koninklijk Landmacht) dan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), walaupun terdapat orang-orang sipil yang juga dimakamkan di sini. Antara tahun 1960-1970, seiring dengan perjanjian sentralisasi makam Belanda, dilakukan pemindahan makam dari ereveld lain di Indonesia, termasuk dari Muntok (1960), Padang (1962), Tarakan (1964), Medan (1966), Palembang (1967), dan Balikpapan (1967). 

Latar belakang bukit Pasir Gajahlangu dan Pasir Menteng

Jika ereveld Menteng Pulo dan ereveld Kembang Kuning dikelilingi oleh Gedung tinggi, ereveld Leuwigajah memiliki lokasi yang cukup indah, dengan latar belakang bukit Pasir Gajahlangu dan Pasir Menteng. Seluas mata memandang, yang terlihat adalah nisan berwarna putih, yang didominasi bentuk salib. Dari bentuk nisannya, dapat diketahui agama dari yang dimakamkan di tempat tersebut. apakah Kristen, Islam, Buddha, atau Yahudi (ya, di ereveld ini saya menemukan satu nisan berbentuk Bintang Daud). Jika yang bersangkutan adalah personil militer, biasanya disebutkan pangkat dan dari satuan mana yang bersangkutan berasal. Beberapa makam bertuliskan “Onbekend”, yang berarti “tidak dikenal”. Beberapa makam juga memiliki tulisan yang menjelaskan makam tersebut merupakan pindahan dari ereveld lain. Bedanya dengan di ereveld lain, nisan pemakaman muslim di Ereveld Leuwigajah menghadap ke arah yang sama dengan nisan lainnya. Setelah saya cek arah mata angin, tampaknya arah pemakaman tersebut memungkinkan jenazah mereka yang beragama Islam bisa menghadap ke kiblat dengan tetap searah dengan nisan lainnya.

Di sisi belakang Ereveld, terdapat prasasti yang didirikan untuk mengenang tenggelamnya kapal barang “Junyo Maru” milik Kekaisaran Jepang. Jika dibandingkan dengan monumen perang Laut Jawa di Ereveld Kembang Kuning, prasasti ini dapat dikatakan mungil. Namun tragedi “Junyo Maru” sendiri dapat dikatakan sebagai salah satu bencana maritime terburuk selama Perang Dunia II.

Monumen "Junyo Maru"

Kapal “Junyo Maru” digunakan untuk mengangkut tawanan perang dan romusha yang akan ditugaskan membangun rel kereta api dari Pekanbaru ke Muaro Jambi. Pada 16 September 1944, Junyo Maru bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Padang, membawa 2300 tawanan perang yang terdiri dari tentara Belanda, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia, serta membawa 4200 romusha dari Jawa. 18 September 1944, saat menelusuri Pantai Barat Sumatera, tepatnya di sekitar Muko-Muko, Bengkulu, Junyo Maru diserang torpedo kapal selam HMS Tradewind milik Angkatan Laut Inggris, yang tidak mengetahui bahwa Junyo Maru membawa tawanan perang. Mereka menyerang Junyo Maru karena hanya melihat bendera Hinomaru di atas kapal, sehingga langsung bereaksi untuk menenggelamkannya. 

Dari 6500 penumpang, sebanyak 680 tawanan perang dan 200 romusha berhasil diselamatkan oleh kapal Jepang, sedangkan 5620 penumpang lainnya tewas bersama kapal yang karam. Mereka yang selamat masih harus melakukan kerja paksa membangun jaringan rel KA Pekanbaru-Muarosijinjing. Tragedi Junyo Maru ternyata bukan sekadar banyaknya korban yang tewas. Kapal tersebut juga dikenal sebagai kapal neraka, karena fasilitas di dalam kapal sangat tidak manusiawi. Menurut mereka yang selamat dari Junyo Maru, tentara Jepang sebagai pemilik kapal tidak menyediakan air minum, tidak ada sekoci, tidak ada jalur evakuasi darurat, serta tidak ada ventilasi yang layak.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, Yayasan Stichting Junyo Maru mendirikan monument pada 21 September 1984. Monumen ini juga ditujukan untuk mengenang seluruh korban yang tewas pada pertempuran laut di Asia Tenggara antara 1942-1945. Mengapa monument ini didirikan di Cimahi? Kemungkinan besar karena pada masa pendudukan Jepang, Cimahi merupakan salah satu kamp interniran besar di Jawa, yang menampung 10.000 tahanan perang.


Museum Raja Ali Haji Batam

Di Batam ada museum? Pertanyaan ini terdengar iseng, apa mungkin di Kota Industri berbentuk kepulauan seperti Batam, yang nota bene bukan ibukota provinsi, ada museumnya. Suprisingly… ada dong!


Museum Raja Ali Haji adalah museum daerah milik Pemerintah Kota Batam. Terletak di Dataran Engku Putri, Kawasan Alun-Alun Batam Center, museum menempati bangunan yang pernah digunakan sebagai tempat pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional tahun 2014. Dari jauh, bentuk museum serupa dengan masjid, yang terdiri dari kubah dan Menara berwarna putih. Di depan museum juga terdapat mimbar yang digunakan untuk pelaksanaan MTQ 204. Museum Kota Batam Raja Ali Haji dibuka pada 18 Desember 2020, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kota Batam ke-191. 

Pembukaan museum ditandai dengan Walikota Batam Muhammad Rudi membuka tirai sketsa wajah Raja Isa bin Raja Ali, atau dikenal sebagai Nong Isa. Nong Isa adalah penguasa pertama Pulau Batam yang menerima mandat Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah dari Kesultanan Lingga untuk memerintah Kawasan Nongsa. Surat mandat tersebut diterima pada 18 Desember 1829, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Batam. Sejatinya tak ada yang tahu wajah asli Nong Isa, karena tidak ada foto atau lukisan beliau. Untuk itu pemerintah menghubungi ahli waris Nong Isa untuk membuat sketsa wajah beliau. Pembuatan sketsa memakan waktu cukup lama, mencapai 40 kali revisi hingga menjadi sketsa yang bisa kita lihat di museum saat ini.


Semula ada 3 pilihan nama yang dipersiapkan untuk museum, yaitu Raja Haji Fisabillilah, Raja Ali Haji, dan Raja Ali Kelana. Walikota Batam saat itu, Muhammad Rudi, memutuskan museum diberi nama Raja Ali Haji. Raja Ali Haji adalah pahlawan nasional asal Kepulauan Riau. Lahir di Pulau Penyengat pada tahun 1808, beliau adalah ulama, sejarawan, dan pujangga yang merupakan cucu Raja Haji Fisabilillah, serta memiliki keturunan bangsawan Bugis. Beliau merupakan pencatat pertama dasar-dasar tata Bahasa Melayu, serta merupakan penulis buku Gurindam Dua Belas. Raja Ali Haji wafat di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau pada 1873, dan ditetapkan sebagai pahlawan Nasional pada 5 November 2004.

Koleksi museum ditata sesuai linimasa sejarah Pulau Batam, sejak masa Kerajaan Melayu Riau-Lingga, masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang, awal masa kemerdekaan, masa Otorita Batam, hingga masa kini. Tidak ada biaya tiket untuk masuk ke museum, pengunjung cukup mengisi buku tamu.  Bagi saya yang lebih sering melihat candi dan arca batu dari jaman klasik, menjelajahi budaya Melayu di museum ini menjadi menarik, dengan hal-hal baru yang saya temui. 


Salah satunya adalah (replika) Nasi Besar. Nasi Besar merupakan semacam tumpeng yang terbuat dari ketan berwarna kuning berukuran diameter 34 cm dan tinggi 82 cm, yang disajikan di atas pahar/dulang berkaki. Hiasannya adalah bunga puncak yang ditancapkan di sisi tengah, kemudian bunga telur yang harus berjumlah ganjil dan maksimal 25 buah, sesuai jumlah para Rasul dalam agama Islam. Nama Nasi Besar bermakna bahwa hidangan ini disajikan dalam hajatan besar seperti resepsi pernikahan, khitanan, atau khatam Al Quran, sebagai tanda kehalusan budi pekerti Masyarakat Melayu.

Koleksi yang sangat menarik perhatian adalah Cogan, yaitu regalia atau symbol kebesaran Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang, yang saat itu wilayahnya meliputi Kepulauan Riau, Riau Daratan, Jambi, Malaysia, dan Singapura. Cogan hanya dikeluarkan untuk diarak saat penabalan para raja. Bentuknya berupa lempengan seperti daun sirih, dengan ukuran besar mencapai 175 cm x 165 cm. Coba terbuat dari tembaga berhias emas, perak dan permata, dengan kedua sisinya terdapat ukiran timbul dalam aksara Arab berbahasa Melayu atau Arab Melayu. Cogan ini dibuat pada tahun 2014 bersamaan dengan event MTQ, semula tersimpan di Museum Nasional, dan menjadi koleksi museum sejak 15 November 2019.


Museum juga memiliki koleksi Topeng Makyong yang sudah berusia 260 tahun. Mak Yong adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu khas Pulau Mantang, yang berasal dari daerah Nara Yala, Pattani (Thailand Selatan). Mak Yong ditampilkan dengan menggabungkan unsur ritual, tari, nyanyi dan musik, dengan cerita bertopik kehidupan istana, lengkap dengan pesan moral yang hendak disampaikan. Topeng Mak Yong yang dipamerkan di tata pamer Khazanah Melayu ini dibuat dari kayu dan bubur kertas, dan diperkirakan dibuat tahun 1960-an. Topeng ini diturunkan secara turun-temurun oleh generasi sebelumnya. Untuk mengiringi Teater Mak Yong, digunakan alat musik Gedombak yang terbuat dari kayu, kulit dan rotan.

Sebelum memasuki lorong untuk menuju ruang koleksi, di lobi museum pengunjung disambut miniature kayu kapal berbendera Belanda, buatan Hamdan dari Pulau Galang. Kapal ini adalah HMS Malaka’s Welvaren dengan komandan Arnoldus Lenker, yang ditenggelamkan Kerajaan Lingga karena melanggar perjanjian dagang. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Perang Sosoh, yang dipimpin Raja Haji Fisabilliah dari Pulau Bayan, untuk merebut kembali Pulau Penyengat. Kegigihan Raja Haji Fisabillillah ini membuat beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1997.


Kemudian terdapat foto-foto dari jaman Jepang, di mana di Pulau Rempang-Galang sempat menjadi tempat penampungan tentara Jepang yang menjadi tawanan Sekutu antara tahun 1945-1946. Terdapat foto tugu Minamisebo, monument saksi Sejarah keberadaan serdadu Jepang di Pulau Rempang dan Galang. Kurang lebih 112.708 orang direpatriasi, sedangkan 128 di antaranya wafat di Rempang dan Galang.

Di masa kemerdekaan, Batam menjadi kota administrative. Dengan posisinya yang strategis dan dekat dengan Singapura, Pemerintah Indonesia bermaksud membangun Batam sebagai proyek nasional. Tahun 1970, Pertamina di bawah kepemimpinan Ibnu Sutowo diberi tugas untuk menjadikan Pulau Batam sebagai pangkalan logistic dan operasional yang berhubungan dengan eksplorasi dan eksploitasi minyak lepas pantai, sekaligus merintis Otorita Batam. Namun nama yang lebih sering diasosiasikan dengan Otorita Batam adalah Bachruddin Jusuf Habibie, yang memimpin dari 1978 hingga 1998. Habibie memiliki visi lebih jauh dari sekadar pangkalan logistic, untuk memanfaatkan keunggulan letak geografi strategi Batam. Museum ini menyimpan memorabilia dari BJ Habibie, termasuk telepon dan laptop yang pernah digunakan beliau saat menjadi Ketua Otorita Batam.

Museum juga menyimpan 4 buah jam dinding merk Seiko berdiameter 50 cm, yang selama bertahun-tahun digunakan di tugu pertigaan Simpang Jam. Mungkin jam ini terlihat biasa, namun bagi warga Batam, jam ini merupakan jam bersejarah. Jam ini semula didirikan pada tahun 1991 di Simpang Jam, dan menjadi landmark Kota Batam. Tugu jam ini harus dibongkar pada tahun 2019, karena akan dibangun flyover Laluan Madani. Jam ini menjadi koleksi museum sejak 28 Oktober 2020.

 

Wednesday, August 9, 2023

Wisata Pemakaman PD II (3): Ereveld Kembang Kuning

Jalan Kembang Kuning barangkali identic dengan pemakaman, khususnya bagi warga Surabaya. Di tempat ini memang merupakan TPU untuk berbagai kepercayaan, termasuk untuk muslim, Nasrani, Tionghoa, dan bahkan ada pemeluk agama Yahudi. Bahkan di salah satu sudut jalan, terdapat kompleks pemakaman elite warga Belanda, yang saat ini tampaknya kurang terurus. Kompleks pemakaman Kembang Kuning dibuka pada tahun 1917 oleh walikota Surabaya G.J. Dijkerman.

Di dalam kompleks pemakaman Kembang Kuning inilah terletak Ereveld (Taman Makam Kehormatan) Kembang Kuning, yang secara resmi beralamat di Jl. Makam Kembang Kuning I Atas. Untuk mencapai Ereveld Kembang Kuning, kita harus masuk lebih dalam lagi ke Kawasan TPU Kembang Kuning, melewati tugu malaikat yang menjadi penanda dibukanya kompleks pemakaman ini pada tahun 1917. Berbelok kiri dari tugu malaikat, tak jauh dari tugu tersebut akan terlihat gerbang bertuliskan “Ereveld Kembang Kuning”. Kami diijinkan masuk oleh petugas, dan dipersilakan memarkir mobil di dalam. Petugas menanyakan apakah saya mau ziarah ke salah satu makam. Saya menyampaikan bahwa saya hanya mau melihat-lihat. Tujuan utama saya adalah melihat monumen Karel Doorman. 

Ereveld Kembang Kuning

Ereveld Kembang Kuning merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari 5000 korban personil militer dari KNIL, Koninklijke Landmacht, dan Koninklijke Maritime, serta warga sipil yang gugur di kamp konsentrasi di Jawa Timur, yang merupakan korban Periode Bersiap pada tahun 1945. Ereveld Kembang Kuning juga menampung makam yang dipindahkan dari ereveld Tarakan (1964), Kupang (1966), Ambon (1967), Balikpapan (1967), Makassar (1968), dan New Guinea (1974).

Seluas mata memandang, yang terlihat adalah nisan berwarna putih, yang didominasi bentuk salib. Dari bentuk nisannya, dapat diketahui agama dari yang dimakamkan di tempat tersebut. apakah Kristen, Islam, Buddha, atau Yahudi. Jika yang bersangkutan adalah personil militer, biasanya disebutkan pangkat dan dari satuan mana yang bersangkutan berasal. Beberapa makam terlihat bertuliskan “Onbekend”, yang berarti “tidak dikenal”. Beberapa makam juga memiliki tulisan yang menjelaskan makam tersebut merupakan pindahan dari ereveld lain. Khusus pemakaman muslim, mereka dikumpulkan dalam 1 blok tersendiri, dan diatur menghadap ke kiblat.

Petugas makam mengingatkan saya, jika saya akan memotret makam, mohon agar tidak memperlihatkan nama-nama pada nisan. “Aturan” serupa pernah saya dengar sebelumnya, ketika saya berkunjung ke Ereveld Ancol dan Ereveld Menteng Pulo. Alasannya masuk akal: tidak semua ahli waris berkenan nama-nama mereka yang dimakamkan di ereveld beredar secara luas.

Suasana ereveld Kembang Kuning tidak jauh berbeda dengan Ereveld Menteng Pulo. Letaknya menempel dengan pemakaman umum Kembang Kuning, dan dibatasi oleh pagar. Dari jauh terlihat beberapa gedung tinggi yang menjulang ke atas langit Surabaya, walaupun tidak sebanyak gedung pencakar langit yang mengepung Ereveld Menteng Pulo. Suasana sangat hening, namun saya tidak merasa kesepian, karena terlihat beberapa petugas makam tengah melakukan perawatan taman makam.

Monumen Karel Doorman dan Monumen Peti Mati
Untuk Pelaut Tak DIkenal

Tanpa menunggu terlalu lama, saya menelusuri jalan berpaving di bagian tengah ereveld. Dari jauh sudah terlihat bangunan yang menjadi tujuan saya: Monumen Karel Doorman. Monumen ini dirancang oleh W.J.G. Zeedijk dan didirikan pada 7 Mei 1954. Monumen ini menandai peristiwa Pertempuan Laut Jawa pada 27 Februari 1942, di mana saat itu pasukan Belanda dan pasukan Sekutu mengalami kekalahan telak dari pasukan Jepang. Dalam pertempuran tersebut, kapal Hr.Ms. De Ruyter yang ditumpangi Laksamana Karel Doorman ditenggelamkan kapal Jepang Haguro, bersama HMAS Perth, USS Houston, Hr.Ms. Java, dan 915 awak kapal di Laut Jawa. 

Di depan monumen Karel Doorman, terdapat monumen kecil berbentuk peti mati bertuliskan "De Onbekende Zeeman". Monumen ini ditujukan bagi awak kapal yang namanya tak dikenal dan gugur semasa perang. Walaupun monumen kecil itu bukan merupakan peti mati dan hanya terbuat dari batu, namun berdiri di dekat monument tersebut membuat saya merenung sekaligus merinding: berapa banyak korban yang telah jatuh selama masa peperangan, termasuk 915 awak 3 kapal perang Sekutu yang tidak pernah kembali dari Pertempuran Laut Jawa, yang bahkan jasadnya tidak dimakamkan di ereveld ini karena berada di dasar laut.

Di bagian depan monumen, terdapat tiga buah plakat. Plakat pertama adalah penjelasan mengenai Laksamana Karel Willem Frederik Marie Doorman, pimpinan pasukan Komando American-British-Dutch Australian (ABDA) di Pasifik, yang memilih tetap tinggal di atas kapal Hr. Ms. De Ruyter saat kapal tersebut mulai tenggelam akibat tak bisa mengatasi serangan kapal tempur Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Dalam plakat tersebut tertuang perkataan terakhirnya kepada awak kapal: "Ik val aan, volg mij!" (saya sedang menyerang, ikuti saya). 

Di plakat sebelah kiri adalah relief kapal The Seven Province yang dikomandoi Michiel Adriaenszoon de Ruyter, laksamana Angkatan Laut Kerajaan Belanda dari masa Perang Anglo-Belanda di abad ke-17, yang namanya digunakan untuk kapal pemimpin armada Sekutu. Terdapat tulisan yang merupakan kutipan dari Laksamana de Ruyter dalam Bahasa Belanda, yang setelah saya terjemahkan dengan bantuan aplikasi, saya menginterpretasikan artinya bahwa beliau rela melaksanakan perintah dari penguasa negara untuk mempertahankan tanah air, bahkan jika itu harus mempertaruhkan nyawa. Sedangkan di plakat sebelah kiri terdapat relief kapal Hr. Ms. De Ruyter, HMAS Perth, dan Hr. Ms. Java. Tulisan pada plakat menunjukkan bahwa plakat ini didedikasikan untuk menghormati seluruh prajurit Sekutu yang tidak pernah kembali dari Pertempuran Laut Jawa, 27 Februari 1942.

Tampak Belakang Monumen Karel Doorman
dengan Plakat Nama-Nama Awak Kapal yang Gugur
di Pertempuran Laut Jawa
 

Nama-nama 915 awak dari 3 kapal perang yang gugur dalam Pertempuran Laut Jawa tersebut terdaftar dalam 15 prasasti perunggu yang terdapat di sisi belakang monumen Karel Doorman. Di antara nama-nama prajurit tersebut, sekitar 20-30% adalah bangsa Indonesia yang bergabung dengan Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Jadi, sejatinya korban dari pertempuran tersebut bukan semata-mata pasukan Sekutu yang terdiri dari orang-orang Eropa. Bahkan bangsa kita yang saat itu menjadi awak kapal perang Belanda pun turut menjadi korban.

Dalam peristiwa Pertempuran Laut Jawa, Hr.Ms. De Ruyter merupakan kapal pemimpin armada tempat Laksamana Karel Doorman memimpin armada kapal perang Sekutu. Kapten De Ruyter sendiri adalah Eugene Lacomble. Pada malam 27 Februari 1942, armada Komando ABDA disergap oleh kapal perang Angkatan Laut Kekaisaran Jepang Nachi dan Haguro. Beberapa menit setelah Hr. Ms. Java ditorpedo dan tenggelam, Hr. Ms. De Ruyter terkena torpedo yang diluncurkan Haguro pada pukul 23:40. Torpedo tersebut merusak sistim kelistrikan kapal, sehingga awak kapal tidak bisa memadamkan api atau memompa air akibat kebocoran. Hr. Ms. De Ruyter akhirnya tenggelam pada pukul 02:30 dinihari bersama 367 awaknya, termasuk Laksamana Doorman dan Kapten Lacomble. Bangkai Hr. Ms. De Ruyter akhirnya ditemukan pada 1 Desember 2002, dan titik situs tersebut dinyatakan sebagai makam perang.


Thursday, June 4, 2015

Bersama Penyu di Pulau Serangan

"Sendiri aja, Mbak?" Ini pertanyaan klasik yang sering dilontarkan orang-orang ketika melihat saya solo traveling. Tapi bagi saya, solo traveling berarti kita bisa memilih pergi ke tempat yang benar-benar kita inginkan, tanpa "membebani" teman perjalanan kita. Solo traveling juga memungkinkan kita memakaimalkan interaksi dengan lingkungan yang kita sambangi. Akan lebih baik lagi jika interaksi kita dapat memberikan manfaat baik bagi kita maupun lingkungan yang kita kunjungi. Seperti yang saya lakukan hari ini di Bali.

Di solo traveling kali ini saya memilih untuk datang ke Turtle Conservation and Education Center di Pulau Serangan. Karena tidak ada kendaraan umum yang lewat di depan tempat tersebut, saya menyewa mobil untuk mencapai tempat ini. Eh, tunggu dulu, ke Pulau Serangan naik mobil? Ya, Pulau Serangan semula terpisah dari Pulau Bali, dan hanya bisa dicapai dengan perahu dari Tanjung Benoa. Pada dekade 1990-an, pulau ini direklamasi oleh sekelompok investor dengan tujuan untuk dijadikan resort, sehingga pulau ini kemudian “menyatu” dengan Bali. Akibat pergantian rezim di tahun 1998, berakhir pula proses pembangunan resort, membuat pulau ini sempat terbengkalai. Saat ini Pulau Serangan kembali dikembangkan untuk olahraga air, seperti kayak, main perahu, atau paralayang.

Selamat Datang di Pusat Konservasi Penyu
Penangkaran Penyu di Pulau Serangan telah didirikan sejak tahun 2004. Semula tempat ini didanai oleh WWF, namun karena dinilai sudah bisa mandiri, maka pengelolaan tempat ini diserahkan pada Desa Pakraman Serangan. Pertama kali saya dibawa oleh Made Ki, salah satu petugas di kawasan konservasi, untuk melihat kandang tetas telur penyu. Menurut Made Ki, telur penyu yang ditetaskan di tempat ini berasal dari beberapa tempat, di antaranya Pulau Serangan, Pantai Jumpai (Klungkung), Pantai Intercon (Jimbaran), Pantai Saba (Gianyar), dan Padang Bai (Karangasem). Telur-telur ini dibawa oleh para nelayan yang telah mendapat pengarahan agar menyelamatkan telur penyu dari sarang untuk dibawa ke pusat konservasi.

Kandang Tetas
Para petugas konservasi, termasuk Made Ki, umumnya dapat membedakan telur penyu berdasarkan bentuknya. Jika bentuknya kecil seperti bola pingpong adalah telur penyu lekang, sedangkan jika bentuknya agak besar adalah telur penyu hijau. Saya beruntung bisa melihat salah satu telur yang baru saja menetas. Biasanya tukik (bayi penyu) yang baru lahir kemudian diletakkan di atas tumpukan pasir selama 1 hari, menunggu ari-ari mereka kering. Setelah ari-ari mereka kering, tukik baru dilepas di kolam penangkaran dan diberi makan sisa tulang ikan dan rumput laut. Saat tukik berusia 1 bulan, mereka akan dilepas kembali ke laut.

Para Tukik Yang Ditangkarkan
Di deretan kolam penangkaran, Made Ki menunjukkan beberapa kolam yang diisolasi. Di dalam kolam ini terlihat beberapa penyu yang bagian tempurung belakangnya tidak sempurna. Menurut Made Ki, penyu-penyu ini tidak cacat dari lahir. Bagiam tempurungnya tidak sempurna akibat perebutan makanan dengan teman-temannya, sehingga beberapa ekor penyu yang lebih kuat akan mengkanibal temannya sendiri. Duh, saya seperti disadarkan, walaupun kita berupaya untuk menjaga kelestarian penyu-penyu ini, namun sampai kapan pun manusia tidak akan bisa menghentikan hukum alam…

Pusat Konservasi Penyu juga memiliki beberapa ekor penyu dewasa, yang sengaja mereka pelihara untuk menunjukkan bentuk penyu ketika dewasa kepada pengunjung. Di dalam kolam yang dibentuk seperti penyu, Made Ki menunjukkan terdapat 3 spesies penyu yang ditangkarkan di konservasi ini, yaitu penyu hijau, penyu sisik, dan penyu lekang. Orang awam seperti saya agak sulit membedakan setiap spesies penyu, apalagi mereka memiliki ukuran dan penampilan yang serupa satu sama lain, ditambah mereka terus menerus bergerak di dalam kolam. Penyu-penyu ini berusia rata-rata 10 tahun, dan akan dilepas ke alam saat mereka mencapai usia reproduksi. Menurut Made Ki, proses reproduksi penyu memakan waktu berhari-hari, dan kondisi ini tidak bisa direkayasa di tempat penangkaran.

Dua Ekor Penyu Dewasa
Made Ki menawarkan kepada saya barangkali saya mau berpartisipasi dalam program adopsi tukik. Berbeda dengan adopsi anjing atau kucing di mana kita bisa membawa mereka pulang ke rumah, program adopsi tukik tidak demikian. Dengan membayar Rp 50.000, kita "mengganti" biaya perawatan, kemudian membawa tukik tersebut ke Pantai Penyu untuk dilepas ke lautan. Karena tidak tega kalau hanya melepas satu tukik ke pantai untuk dilepas, saya tetap memberikan donasi, namun saya tidak bermaksud melepas tukik tersebut ke pantai. Bagi saya, sekecil apa pun donasi yang saya berikan, mudah-mudahan dapat berarti bagi kelestarian para penyu.

Selain Pusat Konservasi Penyu, Bali juga memiliki banyak tempat-tempat menarik lainnya yang bisa dikunjungi dan dinikmati dengan solo traveling. Ada pantai-pantai cantik yang masing-masing memiliki keunikan, mulai dari Pantai Sanur dengan panorama sunrisenya sampai Pantai Kuta dengan segala hingar bingarnya menjelang sunset. Ada museum-museum dan bangunan-bangunan unik yang menanti untuk dikunjungi dan dieksplorasi, mulai dari Museum Subak, Museum Antonio Blanco, Bale Gili Kerthagosa, Tirta Gangga, dan Taman Ujung Sukasada. Masih belum puas solo travelingnya? Kunjungi juga berbagai desa wisata di Bali, seperti Desa Tenganan, Desa Belimbing, dan desa-desa wisata lainnya.


Tulisan ini diikutkan dalam lomba “Travelio #YourTripYourPrice Solo Traveling Blog Competition” yang di-host oleh wiranurmansyah.com dan disponsori oleh Travelio.com. Tulisan sudah diedit kembali sebagai referensi materi training Travel Writing online.