Saturday, May 23, 2026

Senja Temaram di Markas Pasukan Lapis Baja

Di awal Mei 2026, ketika urusan saya di kampus perguruan tinggi tertua di Indonesia sudah selesai, jam menunjukkan pukul 15.30. Masih ada sedikit waktu menikmati wisata dalam Kota Bandung sebelum matahari menghilang. Tapi... mau ke mana? Museum rata-rata sudah tutup. Mau kulineran, hampir semua sudah pernah dicoba. Mau belanja... ntar dulu ah. Yah, namanya pernah jadi warlok Bandung selama 9 tahun, hampir semua tempat pernah saya jelajahi...

Tiba-tiba saya teringat di IG saya lewat informasi tentang Museum Kavaleri di Bandung. Nah, baru nih! Dari akun IG @museum.kavaleri, tampaknya seru. Ada tank-nya, ada panser-nya, tapi kok ada kafenya ya? Cek lokasi, ah, ternyata lokasi masih di tengah kota, dan mudah untuk dijangkau. Oke, cusss...

Sisi Depan Museum Kavaleri

Awan kelabu yang menggantung di Bandung tidak mengurangi kegembiraan saat saya mendarat di Museum Kavaleri. Museum Kavaleri berlokasi di Kompleks Markas Pusat Kesenjataan Kavaleri, Jl. Gatot Subroto No. 98 dan 100, Bandung. Bangunan Museum Kavaleri menempati dua rumah dinas TNI AD yang sudah dipugar dan ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Nama “Kavaleri” sejatinya berasal dari kata “cavalerie” yang memiliki akar kata “chevalier” yang berarti “kuda” dalam bahasa Perancis. Jika saat ini kavaleri identik dengan kendaraan lapis baja, pada awal pembentukannya kavaleri adalah pasukan berkuda. Pasukan berkuda sudah digunakan untuk pertempuran sejak jaman Yunani Kuno. Saat ini Satuan Kavaleri TNI AD masih memiliki detasemen Kavaleri Berkuda, namun lebih banyak digunakan untuk keperluan seremoni.

Pasukan Berkuda, Cikal Bakal Kavaleri

Satuan Kavaleri TNI AD berawal dari kendaraan-kendaraan tempur bekas KNIL, Inggris, dan Jepang yang dirampas oleh para pejuang kita. Di Pertempuran Surabaya 10 November 1945, para pemuda telah menggunakan beberapa panser yang dirampas dari Jepang, Belanda, dan Inggris. Di bulan Desember 1949 hingga awal tahun 1950, dilakukan penyerahan kendaraan tempur eks KNIL kepada Angkatan Darat RI yang dilakukan di Palembang, Medan, Bandung dan Magelang. Pada tanggal 26 Juli 1950, dilakukan penyerahan secara simbolis kesatuan panser dari KNIL kepada KSAD Kolonel A.H. Nasution, yang kemudian menunjuk Letkol Kav KGPH R.M. Soerjo Soejarso untuk menerima pengalihan tersebut. Selanjutnya Letkol Soerjo Soejarso ditunjuk sebagai pimpinan tertinggi Pasukan Berlapis Baja di seluruh Indonesia. 

Letkol Kav. KGPH Soerjo Soejarso 

Kembali ke masa kini, saat melongok ke dalam bangunan museum, area cafenya memang lebih luas daripada area museum. Namun area yang digunakan untuk museum punya koleksi yang tertata rapi, dan lumayan lengkap. Nah, ini ternyata beneran museum... mata saya tertuju pada infografis di dinding, yang menceritakan tentang Letkol KGPH RM Soerjo Soejarso. Lho... beliau ternyata suaminya Gusti Nurul, putri Mangkunegara VII yang tersohor karena kecantikan dan intelektualnya (dan terkenal karena keteguhan beliau dalam menolak poligami). Baru tahu saya…

Koleksi Senjata Pasukan Kavaleri

Museum Kavaleri dipenuhi dengan koleksi-koleksi yang berkaitan dengan korps kavaleri. Display yang pertama adalah peralatan-peralatan yang digunakan dalam pendidikan di korps kavaleri, termasuk topi tempur, overhead projector, dan slide projector. Ruangan berikutnya adalah senjata-senjata yang digunakan pasukan kavaleri, termasuk pelontar mortir kaliber 81 mm buatan Pindad dan M2 Mortar 60 mm buatan Amerika Serikat. Selanjutnya adalah satu ruangan yang didedikasikan untuk cikal bakal kavaleri, yaitu kuda. Terdapat koleksi jenis-jenis pelana dan tapal kuda yang digunakan untuk kuda kavaleri.

Pelana dan Tapal Kuda

Namun yang menjadi koleksi primadona museum ini tentunya koleksi tank dan panser yang dipasang di halaman dalam museum. Termasuk di antaranya adalah Panser V150 Intai, Panser Commando Scout, Tank AMX 13 Recovery, dan Panhard EBR. Salah satu panser yang menjadi koleksi museum ini adalah Saracen, jenis panser yang pernah digunakan mengangkut jenazah pahlawan revolusi. 

Panser Saracen

Sambil menikmati segelas es teh manis, saya duduk di cafĂ© dan menikmati cuaca sendu menjelang matahari terbenam. Terlihat banyak keluarga yang hadir di tempat ini, ada yang sekadar mencari kudapan, ada juga yang melihat-lihat koleksi museum. Beberapa anak juga terlihat penasaran dengan koleksi tank dan panser yang ada di halaman dalam museum. Mungkin museum-museum di Indonesia perlu dibuat seperti ini, sehingga dapat menghilangkan kesan suram, kuno, dan membosankan, serta menarik pengunjung untuk datang dan berlama-lama di museum. Kapan-kapan, boleh deh balik lagi ke sini…


Friday, March 20, 2026

Sepasang Mata Bola Itu Bernama Rahmi

Minggu, 22 Februari 2026, pukul 13.30. Saya dan mas Dino memantapkan langkah memasuki halaman rumah di Jl. Diponegoro No. 57, Jakarta Pusat. Dulu, hampir tiap hari saya melewati rumah tersebut, tanpa tahu bahwa rumah itu merupakan kediaman Bung Hatta, Proklamator sekaligus wakil presiden pertama Republik Indonesia. Jadi hari ini sangat istimewa, karena kami berkesempatan memasuki rumah tersebut untuk menghadiri pameran Satu Abad Rahmi Hatta, yang diselenggarakan Yayasan Hatta. 

Rumah bergaya arsitektur Nieuwe Kunst bertingkat 2 seluas 1000 meter persegi ini dibangun pada tahun 1930, bersamaan dengan pengembangan kawasan Menteng. Rumah tersebut semula digunakan para pejabat perusahaan swasta Belanda Eropa. Di tahun 1942, rumah dikuasai oleh Jepang, dan pada tahun 1943 rumah diserahkan kepada Bung Hatta, sesuai dengan peran beliau sebagai penasihat pemerintahan pendudukan bala tentara Jepang.

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta dan keluarga tinggal di Istana Wakil Presiden di Jl. Medan Merdeka Selatan 13, yang merupakan bekas kediaman Simon Hendrik Spoor (sekarang menjadi gedung Kementerian BUMN). Setelah Bung Hatta mengundurkan diri pada 1 Desember 1956, Bung Hatta dan keluarga berpindah ke rumah di Jl. Diponegoro 57. Saat ini rumah di Jl. Diponegoro telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional berdasarkan SK No. PM.13/PW.007/MKP/05 tanggal 25 April 2005.

Kembali ke masa kini, di teras rumah telah menunggu beberapa orang yang juga mendaftar untuk sesi pukul 14.00. Sambil menunggu sesi dimulai, saya dan mas Dino mengamati sekeliling. Dari balik teralis jendela, terlihat ruang kerja yang dilengkapi lemari buku. Ah, apakah ini ruang kerja Bung Hatta? Apakah nanti kami bisa memasuki ruangan tersebut? 

Surat Cinta antara Bung Hatta dan Bu Rahmi

Pukul 14.00, sesi kami dimulai. Bersama kami terdapat 10 orang peserta lainnya. Kami disambut Ibu Meutia dan Ibu Halida, putri sulung dan putri bungsu Bung Hatta. Ibu Halida memandu kami melihat sebuah ruangan penuh memorabilia Ibu Siti Rahmiati Hatta, atau kita kenal sebagai Ibu Rahmi Hatta. Ibu Rahmi lahir di Bandung pada 16 Februari 1926, sehingga pameran ini bertema satu abad Ibu Rahmi Hatta. Berbagai memorabilia Ibu Rahmi dipamerkan dalam ruangan yang tidak terlalu besar ini, mulai dari patung dada, foto-foto, catatan Ibu Rahmi, surat cinta antara Bung Hatta dan Ibu Rahmi, hingga parfum kesukaan Ibu Rahmi. Berada di ruangan itu terasa hangat, sehangat sosok Ibu Rahmi seperti yang dideskripsikan oleh Ibu Halida dan dipancarkan oleh memorabilia Ibu Rahmi.

Di balik surat cinta antara Ibu Rahmi dan Bung Hatta, terdapat andil Bung Karno yang “menjodohkan” Ibu Rahmi dengan Bung Hatta. Kedua orang tua Bu Rahmi adalah teman-teman pergerakan Bung Karno dan Bu Inggit di selama Bandung. Ayah Bu Rahmi, Abdul Rachim, berasal dari Purwokerto, pegawai maskapai Staatsspoorwegen yang aktif dalam Kepandoean Bangsa Indonesia. Sedangkan ibunya adalah Siti Satiah “Annie”, putri Tengku Mohammad Nurdin, yang juga aktif di organisasi perempuan Wanito Sejati.

Mohammad Hatta pertama kali bertemu dengan Rahmi dalam sebuah kunjungan ke Instituut Pasteur, Bandung, tempat Rahmi bekerja. Meski jatuh hati, Hatta tidak segera meminang Rahmi, karena Hatta berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Setelah proklamasi, Hatta dengan ditemani Bung Karno mendatangi orang tua Rahmi untuk melamar. Menurut Bu Halida, konon Bung Karno tidak langsung menyampaikan maksud melamar Rahmi untuk Bung Hatta. Pada kunjungan pertama, Bung Karno masih berbasa-basi, menanyakan adakah wanita cantik yang ada di Bumi Priangan. Baru pada kunjungan kedua Bung Karno mengantar Bung Hatta melamar Rahmi. Mereka menikah pada 18 November 1945 di Megamendung, dengan maskawin buku karya Bung Hatta berjudul Alam Pikiran Yunani, yang ditulis Bung Hatta ketika diasingkan di Boven Digoel.

Bu Halida dan Bu Meutia Menyambut Pengunjung Pameran

Selama berada di ruangan tersebut, samar-samar terdengar lagu Sepasang Mata Bola. Sepemahaman saya, lagu tersebut diilhami oleh kisah perjuangan saat Republik Indonesia berdiri, ketika para founding fathers harus mengungsi ke Yogyakarta untuk keselamatan mereka. Mereka mengungsi ke Yogya menggunakan kereta api pada tanggal 4 Januari 1946, ketika Bung Hatta dan Bu Rahmi masih menjadi pengantin baru. Dikisahkan oleh Bu Halida, lagu Sepasang Mata Bola diciptakan oleh Ismail Marzuki, terilhami ketika melihat Bung Hatta dan Bu Rahmi turun dari kereta di Stasiun Yogyakarta. Mendengar cerita tersebut, saya langsung menatap foto ketika Bung Hatta dan Bu Rahmi menikah di Mega Mendung di tahun 1945. Terlihat sosok Bu Rahmi yang kala itu baru berusia 19 tahun, berparas cantik dengan sepasang mata yang bulat bersinar. Tak heran jika Ismail Marzuki terpesona melihat beliau, dan terilhami untuk membuat lagu yang indah ini…

Di antara memorabilia Ibu Rahmi, terdapat catatan bu Rahmi yang ditulis tangan. Menurut Bu Halida dan Bu Meutia, bu Rahmi sangat gemar belajar hal baru. Di antara catatan tersebut, terdapat catatan belajar masak dan belajar bahasa asing. Bu Rahmi pernah belajar beberapa bahasa asing, termasuk bahasa Prancis, Jerman, Spanyol, dan aksara Arab. 

Dari ruang memorabilia, kami berpindah ke ruang tengah. Terlihat sebuah kain bludru hitam dengan bordir emas terletak di atas meja. Rupanya kain hitam tersebut adalah kiswah atau penutup ka’bah dari Raja Abdulazis bin Abdul Rahman Al Saud dari Arab Saudi pada tahun 1952, saat melawat ke Tanah Suci. Sebagai fakta tambahan, Bung Hatta merupakan pejabat Indonesia pertama yang menerima kain kiswah. Di atas penutup ka’bah tersebut, terdapat lukisan Mega Mendung, lengkap dengan Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebagai latar belakangnya. Lukisan tersebut diberikan oleh Bung Karno kepada Bu Rahmi pada 6 Juni 1957, sebagai pertanda Bung Karno memasuki usia 50 tahun. Menariknya, Bung Karno membahasakan dirinya sebagai “Oom”, mengingat beliau merupakan teman dari orang tua Bu Rahmi.

Gramofon

Di sisi lain ruangan, terdapat gramafon modern. Benda ini mencerminkan kecintaan Bu Rahmi terhadap musik. Bu Rahmi gemar menikmati musik klasik, jazz, dan berbagai genre lainnya, serta mengoleksi piringan hitam yang banyak didengarkan antara 1959-1968. Di ruang depan rumah terdapat piano klasik buatan tahun 1904, yang tutsnya masih terbuat dari gading. Piano ini sering dimainkan oleh Bu Rahmi, dan masih terawat dengan baik.

Ruang Kerja Bung Hatta

Yang paling menggetarkan hati adalah ketika kami diijinkan untuk memasuki ruang kerja Bung Hatta, yang terletak di bagian depan rumah. Ruangan yang sempat kami “intip” saat kami menunggu di teras rumah. Ruangan di mana Bung Hatta membaca buku-buku referensi dan menuangkan pikiran-pikirannya. Membayangkan Bung Hatta seharian duduk di ruangan tersebut, mempersiapkan bahan ajar atau menulis buku… energinya masih terasa dengan kuat. Masih ada beberapa memorabilia Bung Hatta di ruangan tersebut, termasuk ijasah Bung Hatta saat berkuliah di Belanda, sertifikat doctor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada, termasuk kacamata yang digunakan Bung Hatta saat bekerja.

Foto Bersama Bu Meutia dan Bu Halida

Di akhir kunjungan, setelah berfoto bersama Bu Meutia dan Bu Halida, seluruh peserta open house mendapatkan buku yang disunting oleh Ibu Meutia. Buku tersebut berisi kumpulan tulisan anak, menantu dan cucu Ibu Rahmi tentang sosok Siti Rahmiati Hatta dan kenangan bersama beliau. Sambil membubuhkan tanda tangan di buku tersebut, Ibu Meutia berpesan, jangan lupa bukunya dibaca. Sepanjang perjalanan pulang, bahkan hingga tiba di rumah, dan ketika membaca buku tersebut, terbayang-bayang sosok Ibu Rahmi Hatta: seorang perempuan cantik, intelektual, penuh kehangatan, dan setia sebagai belahan jiwa Bung Hatta dalam kondisi apa pun.