Friday, March 20, 2026

Sepasang Mata Bola Itu Bernama Rahmi

Minggu, 22 Februari 2026, pukul 13.30. Saya dan mas Dino memantapkan langkah memasuki halaman rumah di Jl. Diponegoro No. 57, Jakarta Pusat. Dulu, hampir tiap hari saya melewati rumah tersebut, tanpa tahu bahwa rumah itu merupakan kediaman Bung Hatta, Proklamator sekaligus wakil presiden pertama Republik Indonesia. Jadi hari ini sangat istimewa, karena kami berkesempatan memasuki rumah tersebut untuk menghadiri pameran Satu Abad Rahmi Hatta, yang diselenggarakan Yayasan Hatta. 

Rumah bergaya arsitektur Nieuwe Kunst bertingkat 2 seluas 1000 meter persegi ini dibangun pada tahun 1930, bersamaan dengan pengembangan kawasan Menteng. Rumah tersebut semula digunakan para pejabat perusahaan swasta Belanda Eropa. Di tahun 1942, rumah dikuasai oleh Jepang, dan pada tahun 1943 rumah diserahkan kepada Bung Hatta, sesuai dengan peran beliau sebagai penasihat pemerintahan pendudukan bala tentara Jepang.

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta dan keluarga tinggal di Istana Wakil Presiden di Jl. Medan Merdeka Selatan 13, yang merupakan bekas kediaman Simon Hendrik Spoor (sekarang menjadi gedung Kementerian BUMN). Setelah Bung Hatta mengundurkan diri pada 1 Desember 1956, Bung Hatta dan keluarga berpindah ke rumah di Jl. Diponegoro 57. Saat ini rumah di Jl. Diponegoro telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional berdasarkan SK No. PM.13/PW.007/MKP/05 tanggal 25 April 2005.

Kembali ke masa kini, di teras rumah telah menunggu beberapa orang yang juga mendaftar untuk sesi pukul 14.00. Sambil menunggu sesi dimulai, saya dan mas Dino mengamati sekeliling. Dari balik teralis jendela, terlihat ruang kerja yang dilengkapi lemari buku. Ah, apakah ini ruang kerja Bung Hatta? Apakah nanti kami bisa memasuki ruangan tersebut? 

Surat Cinta antara Bung Hatta dan Bu Rahmi

Pukul 14.00, sesi kami dimulai. Bersama kami terdapat 10 orang peserta lainnya. Kami disambut Ibu Meutia dan Ibu Halida, putri sulung dan putri bungsu Bung Hatta. Ibu Halida memandu kami melihat sebuah ruangan penuh memorabilia Ibu Siti Rahmiati Hatta, atau kita kenal sebagai Ibu Rahmi Hatta. Ibu Rahmi lahir di Bandung pada 16 Februari 1926, sehingga pameran ini bertema satu abad Ibu Rahmi Hatta. Berbagai memorabilia Ibu Rahmi dipamerkan dalam ruangan yang tidak terlalu besar ini, mulai dari patung dada, foto-foto, catatan Ibu Rahmi, surat cinta antara Bung Hatta dan Ibu Rahmi, hingga parfum kesukaan Ibu Rahmi. Berada di ruangan itu terasa hangat, sehangat sosok Ibu Rahmi seperti yang dideskripsikan oleh Ibu Halida dan dipancarkan oleh memorabilia Ibu Rahmi.

Di balik surat cinta antara Ibu Rahmi dan Bung Hatta, terdapat andil Bung Karno yang “menjodohkan” Ibu Rahmi dengan Bung Hatta. Kedua orang tua Bu Rahmi adalah teman-teman pergerakan Bung Karno dan Bu Inggit di selama Bandung. Ayah Bu Rahmi, Abdul Rachim, berasal dari Purwokerto, pegawai maskapai Staatsspoorwegen yang aktif dalam Kepandoean Bangsa Indonesia. Sedangkan ibunya adalah Siti Satiah “Annie”, putri Tengku Mohammad Nurdin, yang juga aktif di organisasi perempuan Wanito Sejati.

Mohammad Hatta pertama kali bertemu dengan Rahmi dalam sebuah kunjungan ke Instituut Pasteur, Bandung, tempat Rahmi bekerja. Meski jatuh hati, Hatta tidak segera meminang Rahmi, karena Hatta berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Setelah proklamasi, Hatta dengan ditemani Bung Karno mendatangi orang tua Rahmi untuk melamar. Menurut Bu Halida, konon Bung Karno tidak langsung menyampaikan maksud melamar Rahmi untuk Bung Hatta. Pada kunjungan pertama, Bung Karno masih berbasa-basi, menanyakan adakah wanita cantik yang ada di Bumi Priangan. Baru pada kunjungan kedua Bung Karno mengantar Bung Hatta melamar Rahmi. Mereka menikah pada 18 November 1945 di Megamendung, dengan maskawin buku karya Bung Hatta berjudul Alam Pikiran Yunani, yang ditulis Bung Hatta ketika diasingkan di Boven Digoel.

Bu Halida dan Bu Meutia Menyambut Pengunjung Pameran

Selama berada di ruangan tersebut, samar-samar terdengar lagu Sepasang Mata Bola. Sepemahaman saya, lagu tersebut diilhami oleh kisah perjuangan saat Republik Indonesia berdiri, ketika para founding fathers harus mengungsi ke Yogyakarta untuk keselamatan mereka. Mereka mengungsi ke Yogya menggunakan kereta api pada tanggal 4 Januari 1946, ketika Bung Hatta dan Bu Rahmi masih menjadi pengantin baru. Dikisahkan oleh Bu Halida, lagu Sepasang Mata Bola diciptakan oleh Ismail Marzuki, terilhami ketika melihat Bung Hatta dan Bu Rahmi turun dari kereta di Stasiun Yogyakarta. Mendengar cerita tersebut, saya langsung menatap foto ketika Bung Hatta dan Bu Rahmi menikah di Mega Mendung di tahun 1945. Terlihat sosok Bu Rahmi yang kala itu baru berusia 19 tahun, berparas cantik dengan sepasang mata yang bulat bersinar. Tak heran jika Ismail Marzuki terpesona melihat beliau, dan terilhami untuk membuat lagu yang indah ini…

Di antara memorabilia Ibu Rahmi, terdapat catatan bu Rahmi yang ditulis tangan. Menurut Bu Halida dan Bu Meutia, bu Rahmi sangat gemar belajar hal baru. Di antara catatan tersebut, terdapat catatan belajar masak dan belajar bahasa asing. Bu Rahmi pernah belajar beberapa bahasa asing, termasuk bahasa Prancis, Jerman, Spanyol, dan aksara Arab. 

Dari ruang memorabilia, kami berpindah ke ruang tengah. Terlihat sebuah kain bludru hitam dengan bordir emas terletak di atas meja. Rupanya kain hitam tersebut adalah kiswah atau penutup ka’bah dari Raja Abdulazis bin Abdul Rahman Al Saud dari Arab Saudi pada tahun 1952, saat melawat ke Tanah Suci. Sebagai fakta tambahan, Bung Hatta merupakan pejabat Indonesia pertama yang menerima kain kiswah. Di atas penutup ka’bah tersebut, terdapat lukisan Mega Mendung, lengkap dengan Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebagai latar belakangnya. Lukisan tersebut diberikan oleh Bung Karno kepada Bu Rahmi pada 6 Juni 1957, sebagai pertanda Bung Karno memasuki usia 50 tahun. Menariknya, Bung Karno membahasakan dirinya sebagai “Oom”, mengingat beliau merupakan teman dari orang tua Bu Rahmi.

Gramofon

Di sisi lain ruangan, terdapat gramafon modern. Benda ini mencerminkan kecintaan Bu Rahmi terhadap musik. Bu Rahmi gemar menikmati musik klasik, jazz, dan berbagai genre lainnya, serta mengoleksi piringan hitam yang banyak didengarkan antara 1959-1968. Di ruang depan rumah terdapat piano klasik buatan tahun 1904, yang tutsnya masih terbuat dari gading. Piano ini sering dimainkan oleh Bu Rahmi, dan masih terawat dengan baik.

Ruang Kerja Bung Hatta

Yang paling menggetarkan hati adalah ketika kami diijinkan untuk memasuki ruang kerja Bung Hatta, yang terletak di bagian depan rumah. Ruangan yang sempat kami “intip” saat kami menunggu di teras rumah. Ruangan di mana Bung Hatta membaca buku-buku referensi dan menuangkan pikiran-pikirannya. Membayangkan Bung Hatta seharian duduk di ruangan tersebut, mempersiapkan bahan ajar atau menulis buku… energinya masih terasa dengan kuat. Masih ada beberapa memorabilia Bung Hatta di ruangan tersebut, termasuk ijasah Bung Hatta saat berkuliah di Belanda, sertifikat doctor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada, termasuk kacamata yang digunakan Bung Hatta saat bekerja.

Foto Bersama Bu Meutia dan Bu Halida

Di akhir kunjungan, setelah berfoto bersama Bu Meutia dan Bu Halida, seluruh peserta open house mendapatkan buku yang disunting oleh Ibu Meutia. Buku tersebut berisi kumpulan tulisan anak, menantu dan cucu Ibu Rahmi tentang sosok Siti Rahmiati Hatta dan kenangan bersama beliau. Sambil membubuhkan tanda tangan di buku tersebut, Ibu Meutia berpesan, jangan lupa bukunya dibaca. Sepanjang perjalanan pulang, bahkan hingga tiba di rumah, dan ketika membaca buku tersebut, terbayang-bayang sosok Ibu Rahmi Hatta: seorang perempuan cantik, intelektual, penuh kehangatan, dan setia sebagai belahan jiwa Bung Hatta dalam kondisi apa pun.


No comments: