Showing posts with label candi. Show all posts
Showing posts with label candi. Show all posts

Tuesday, May 6, 2025

Mencari Kesejukan Hati di Candi Cangkuang

 Adem. Itu kata yang pertama terlintas saat saya keluar dari mobil dan menghirup udara segar di Desa Cangkuang. Sengaja saya tidak pakai kata “tiis” atau “tiris”, karena yang adem bukan hanya cuaca, tapi hati ini rasanya pun ikut adem tentrem. Bisa jadi karena suasana yang menyejukkan hati di tepi Situ Cangkuang sangat kontras dengan Situ Bagendit yang kami kunjungi sebelumnya, yang sangat panas dan hingar bingar. Tidak heran, karena Situ Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Kabupaten Garut, meliputi Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur. 

Gunung Haruman dilihat dari dermaga Pulau Panjang

Sebagai penggemar candi, sudah lama saya ingin ke Candi Cangkuang. Candi Cangkuang terletak di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Candi ini merupakan candi yang pertama kali ditemukan di Jawa Barat, sekaligus satu-satunya candi Hindu yang bertahan di Tatar Sunda.  Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1966 oleh Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita, dengan mengacu pada laporan penemuan sebelumnya oleh Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genotschap terbitan tahun 1893. 

Candi Cangkuang dan makam
Dalem Arief Muhammad

Candi inilah juga yang pertama kali ditemukan di Tatar Sunda serta merupakan satu-satunya candi Hindu yang bertahan di Tatar Sunda (sampai saat ini). Berdasarkan tingkat kelapukan batuan dan kesederhanaan bentuk candi (karena tidak ditemukan relief di badan candi), maka para ahli menduga Candi Cangkuang didirikan pada abad ke-8. Dengan dugaan ini, maka bisa jadi candi ini menjadi salah satu petunjuk mengisi kekosongan informasi sejarah antara Purnawarman dan Pajajaran.

Nama Candi Cangkuang diambil dari nama desa tempat candi ini berada. Kata 'Cangkuang' berasal dari nama tanaman sejenis pandan (Pandanus furcatus), yang banyak terdapat di sekitar candi. Tanaman ini memiliki banyak manfaat. Daunnya bisa untuk membuat tudung, membuat tikar, pembungkus gula aren, pembungkus ketupat, dan obat-obatan. Tunasnya bisa digunakan untuk obat batuk. Buahnya juga bisa digunakan untuk obat .

Pohon Cangkuang (Pandanus furcatus)

Keunikan situs Candi Cangkuang adalah keberadaan makam kuno di sebelah candi. Makam tersebut adalah makam Mbah Dalem Arief Muhammad, yang dianggap sebagai leluhur penduduk Kampung Pulo. Konon Arief Muhammad adalah salah satu Senopati dari Mataram yang menyerang Batavia. Karena kalah melawan VOC, Arief Muhammad tidak berani pulang ke Mataram, dan bermukim di Cangkuang. Arief Muhammad memiliki 6 anak perempuan dan 1 anak laki-laki, yang menjadi cikal bakal Desa Adat Kampung Pulo. 

Hari ini saya bersama teman-teman yang mengikuti program Wisata Kreatif Jakarta mengunjungi Cagar Budaya Cangkuang, ditemani Kang Gungun, pemandu wisata yang kebetulan merupakan warga local di Desa Cangkuang. Karena cagar budaya Cangkuang terletak di Kampung Pulo yang terletak di sebuah pulau di tengah Situ Cangkuang (dalam bahasa Sunda, “situ” berarti danau), kami harus menyeberang dengan menggunakan rakit bambu. Rakit-rakit tersebut memiliki kapasitas antara 15-20 orang. Karena terbuat dari bambu, rakit ini hanya memiliki daya tahan maksimal 2 tahun. Menurut Kang Gungun, biaya pembuatan 1 rakit bisa mencapai 8-9 juta.

Desa Adat Kampung Pulo

Saat mendarat di Kampung Pulo, dari dermaga kita bisa melihat Gunung Haruman dengan jelas, seolah menaungi kesejukan di Situ Cangkuang. Untuk menuju candi, Kang Gungun mengajak kami melintasi pasar seni menuju pemukiman adat Kampung Pulo. Di Desa Adat Kampung Pulo terdapat 6 rumah tradisional berbentuk rumah panggung yang dihuni keturunan anak-anak perempuan Arief Muhammad dari garis perempuan, serta 1 masjid yang melambangkan anak laki-laki dari Arief Muhammad. Saat ini penghuni Desa Adat Kampung Pulo merupakan generasi ke 8 hingga 10. 

Dari Desa Adat, Kang Gungun mengantar kami menuju bangunan candi. Terlihat bangunan candi tunggal dengan langgam arsitektur Hindu, dengan sebuah makam kuno di sebelahnya. Inilah Candi Cangkuang dan Makam Mbah Dalem Arief Muhammad. Selain terkagum melihat bangunan candi dan Lokasi yang sangat asri penuh pepohonan, ada satu hal yang paling berkesan bagi kami: suasananya sangat sejuk dan damai. Rasanya tak ingin pergi dari tempat ini…

Candi Cangkuang tampak depan

Candi yang kami saksikan sekarang merupakan hasil pemugaran tahun 1974. Rekonstruksi dilakukan dengan menyusun kembali batu-batu candi yang ditemukan di sekitar candi. Karena hanya sekitar 40% batu candi asli yang dapat ditemukan kembali, selebihnya pemugaran dilakukan dengan adukan semen, batu koral, pasir dan besi. Di dalam bilik candi terdapat arca Siwa yang kondisinya sudah tidak utuh, dengan wajah yang datar, dengan bagian tangan hingga kedua pergelangannya telah hilang.

Di depan candi dan makam, terdapat rumah joglo yang berfungsi sebagai museum, yang dibangun pada 1976. Koleksi museum merupakan benda-benda bersejarah terkait Candi Cangkuang dan Mbah Dalem Arief Muhammad. Di halaman depan museum kita juga bisa melihat pohon Cangkuang, jenis tanaman pandan yang menjadi asal usul nama Desa Cangkuang.

Dengan hawa yang sejuk, saya bisa membayangkan duduk di salah satu warung, sambil menikmati teh tawar hangat dan kudapan burayot. Burayot merupakan makanan asli Cangkuang, yang awalnya dibuat sebagai makanan untuk menyambut tamu dalam acara adat, atau jika ada perayaan keluarga. Nama "burayot" berasal dari bahasa Sunda yang berarti "menggantung" atau "terjuntai," sesuai dengan bentuknya yang lonjong dan menyerupai tetesan air yang menggantung. 

Burayot

Bahan baku burayot adalah tepung beras dan gula merah yang dikocek di atas api. Setelah adonan matang, adonan dibuat bulat-bulat, kemudian digoreng sebentar dalam minyak panas dan dicutik, kemudian digantung untuk membuat bentuk tetesan air. Tekstur burayot di bagian atas krispi, dengan rasa manis terkumpul di bagian bawah. Namun burayot sebaiknya dimakan panas-panas, takutnya ketika dingin keburu jadi rayut…

Tuesday, September 29, 2020

Misteri Sang Arjuna di Dataran Tinggi Dieng

Hari ini, 29 September 2020. Masih segar dalam ingatan saya, tepat 2 tahun yang lalu saya dan beberapa teman menikmati cuaca cerah di Dataran Tinggi Dieng. Sore itu kami baru saja turun dari mobil untuk meluruskan kaki, setelah perjalanan dari Kawah Sikidang. Di depan mobil, terlihat bangunan bertuliskan Pendopo Soeharto-Whitlam. Walau penasaran mengenai informasi terkait bangunan bersejarah tersebut, namun saya tak punya waktu untuk berlama-lama di sini. Kaki saya langsung mengikuti rombongan, menuju jalan setapak yang mengarah pada Kompleks Candi Arjuna.

Sambil melangkah cepat, saya mencoba menggali apa yang pernah saya baca tentang candi-candi di Dieng. Ternyata tidak banyak, selain saya diingatkan kembali tentang asal nama Dieng. Konon “Dieng” berasal dari kata dihyang, yang bermakna tempat para leluhur atau dewa. Dalam kepercayaan Hindu Kuno, dewa bertempat tinggal di tempat yang tinggi, yang melambangkan puncak Mahameru. Bisa jadi di masa lalu dataran tinggi ini diberi nama “Dieng”, karena dianggap sebagai tempat sakral yang mempertemukan antara manusia dan hyang atau dewa. Untuk itulah didirikan candi-candi yang menjadi tempat pemujaan kepada dewa.

Situs Candi Arjuna (foto koleksi pribadi)

Setibanya kami di Kompleks Candi Arjuna, baru saya bisa melihat secara jelas sosok salah satu cagar budaya kebanggaan Dieng. Bentuk candi di tempat ini sangat mirip dengan candi-candi di Gedong Songo. Dari sinilah para ahli menyimpulkan bahwa Kompleks Candi Arjuna didirikan pada masa yang sama dengan candi Gedong Songo, di antara abad ke-7 hingga abad ke-9, pada masa pemerintahan Wangsa Sanjaya. Para ahli juga memperkirakan candi-candi ini merupakan bangunan keagamaan tertua di Jawa Tengah. Namun, kapan persisnya dan alasan candi-candi ini didirikan, masih menjadi misteri. Prasasti-prasasti yang ditemukan di Dieng pun tidak ada yang secara tegas menjelaskan mengenai tahun pendirian candi atau alasan pendirian candi.

Sambil berkeliling melihat bangunan candi, sebuah pertanyaan timbul di benak saya: mengapa candi-candi di Dieng diberi nama seperti nama wayang? Kemungkinan besar nama-nama ini diberikan oleh penduduk setempat di abad ke-19, setelah candi-candi ini ditemukan pada tahun 1814 oleh Letnan H.C. Cornelius dan Captain Godfrey Phipps Baker, dalam sebuah ekspedisi arkeologi atas perintah dari Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Hindia Belanda pada masa itu. Dalam sketsa yang dibuat oleh Cornelius dan Baker, mereka tidak menyebutkan nama candi-candi tersebut, hanya menyebut sebagai “Candi Bramin”. Nampaknya nama-nama ini berasal dari imajinasi penduduk setempat berdasarkan bentuk candi yang mereka lihat. Seperti nama “Arjuna” diberikan pada candi yang terlihat paling gagah. Sedangkan nama “Semar” diberikan pada candi yang pendek dan melebar di depan Candi Arjuna, seolah mengikuti “Sang Arjuna” sebagai punakawan.

Candi Arjuna dan Candi Semar (foto koleksi pribadi)

Kompleks Candi Arjuna merupakan kompleks candi Dieng yang pertama ditemukan pada tahun 1814, dengan jumlah bangunan terbanyak dan dalam kondisi yang relatif utuh. Saat itu lahan yang ditempati Kompleks Candi Arjuna tergenang membentuk danau kecil. Penyelamatan candi-candi Dieng dilakukan sejak tahun 1856 ketika seorang fotografer arkeologi bernama Isidore van Kinsbergen memimpin upaya pengeringan danau dengan tujuan memotret candi-candi tersebut dengan lebih jelas. Setelah itu dilakukan upaya pemugaran dan penelitian, yang diteruskan hingga hari ini.

Kompleks Candi Arjuna terdiri dari 5 bangunan candi. Membentang dari utara ke selatan, tersebar candi-candi yang berbentuk untuk pemujaan, seperti Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Di depan Candi Arjuna terdapat Candi Semar, candi sarana yang kemungkinan digunakan sebagai tempat menyimpan sarana upacara. Dari bentuk candi-candi tersebut, sangat logis jika para ahli menyimpulkan tempat ini merupakan pusat kegiatan relijius. Hal ini didukung oleh isi Prasasti Kuti berangka tahun 809 M yang ditemukan di dekat Candi Arjuna, yang menyebutkan bahwa Gunung Dihyang merupakan pusat kegiatan religious.

Candi Srikandi dan Candi Puntadewa (foto koleksi pribadi)

Saya mendekat ke bangunan candi, untuk melihat lebih dekat seperti apa detail dari candi tersebut. Dari kelima candi yang ada di kompleks ini, terlihat Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, dan Candi Puntadewa berdiri dengan utuh, sedangkan Candi Sembadra dalam proses pemugaran. Namun hanya Candi Arjuna dan Candi Semar yang dapat dimasuki wisatawan. Sekilas bentuknya memang tipikal candi-candi Hindu dari Jawa bagian utara: candi tunggal dengan ukuran kecil dan memiliki ornamen sederhana. Hal ini sangat kontras dengan candi-candi di Jawa bagian Selatan yang berukuran besar dan kaya dekorasi, seperti Candi Prambanan.

Perbedaan gaya ornamen Kala yang terletak di atas pintu candi menunjukkan perbedaan masa pembangunan keempat candi tersebut. Dari gaya ornamen Kala, diduga Candi Arjuna dan Candi Semar merupakan candi yang dibangun pertama kali, antara tahun 760-812 M. Di masa berikutnya antara tahun 812-928 M, dibangun Candi Puntadewa. Sedangkan Candi Sembadra dan Candi Srikandi diperkirakan dibangun setelah tahun 928 M. Ini dipertegas dengan gaya arsitektur keempat candi yang sedikit berbeda satu dengan yang lain. Jika Candi Arjuna dipengaruhi gaya candi India yang memiliki relung yang menjorok ke dalam, candi-candi pemujaan lainnya justru memiliki lebih banyak pengaruh budaya lokal dengan relung yang menjorok keluar.

Yoni di Candi Arjuna (foto koleksi pribadi) 

Jaladwara di Dinding Utara Candi Arjuna (foto koleksi pribadi)

Saya mencoba masuk ke Candi Arjuna, walaupun tidak bisa berlama-lama karena berebutan dengan wisatawan lain. Di dalam ruangan candi terlihat yoni berukuran sedang. Yoni merupakan bagian dari upacara suci, di mana biasanya digunakan berpasangan dengan lingga. Lingga dan yoni biasanya merupakan lambang kesuburan. Dalam upacara, air dituangkan di atas lingga, yang akan mengalir ke yoni. Dari yoni air mengalir ke luar candi melalui saluran air dengan ornamen jaladwara, untuk diterima umat di luar. Di Candi Arjuna, jaladwara tersebut terpasang di dinding utara candi, tepat di bawah relung.

Sebuah info menyebutkan bahwa jumlah candi yang tersebar di kawasan ini diperkirakan berjumlah 400 buah. Saat ini hanya tersisa 8 bangunan yang tersebar dalam 4 kelompok. Seperti candi-candi di daerah lain, kemungkinan candi-candi lain rusak akibat bencana alam, aus karena cuaca, dijarah pencuri, atau terkena gusur karena perluasan pemukiman. Namun di Dieng ada faktor lain yang membuat candi-candi ini lebih cepat rusak, yaitu karena adanya uap solfatara dari kawah Sikidang yang bersifat korosif. Untuk itu perlu dipikirkan bagaimana melindungi candi-candi yang sudah dipugar agar tidak cepat rusak termakan cuaca dan uap solfatara.


Para Seniman Berpakaian Wayang di Candi Arjuna
(foto koleksi pribadi)

Setelah selesai dipugar pada tahun 2008, Kompleks Candi Arjuna resmi ditetapkan sebagai cagar budaya, sesuai dengan UU RI No. 11 tahun 2010. Hal ini menandakan pemerintah menyadari bahwa Situs Candi Arjuna memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, agama dan kebudayaan, sehingga wajib untuk dilestarikan. Agar cagar budaya dalam bentuk situs ini juga berfungsi untuk melindungi warisan budaya lainnya, Dinas Pariwisata Banjarnegara dan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) memanfaatkan Situs Candi Arjuna sebagai venue acara budaya tahunan Dieng Culture Festival sejak tahun 2010. Berbagai acara dilaksanakan di tempat ini, termasuk tradisi Ruwatan Rambut Gimbal, serta ibadah Galungan bagi umat Hindu.

Saya dan Rekan-Rekan Seperjalanan (foto koleksi pribadi)

Sayang sekali, karena hari sudah sore, dan kami sudah letih setelah paginya mengejar matahari terbit di Posong, kami tak sempat melihat candi-candi lain. Dalam perjalanan kembali ke Temanggung, terlihat sosok Candi Bima yang berdiri dengan gagah, seolah memanggil kami untuk singgah. Sabar ya, setelah pandemi ini berakhir, saya akan kembali untuk menemui kalian...

Thursday, May 31, 2018

Kuil-Kuil Hindu di Kota Bangkok

Kita mengenal Thailand sebagai salah satu negara dengan mayoritas penduduknya menganut agama Buddha. Di seluruh penjuru negeri, tersebar arca Sang Buddha dan vihara yang digunakan untuk beribadah. Tapi tahukah Anda bahwa Thailand juga memiliki kuil Hindu, di pusat keramaian kota Bangkok?

Medio Juli 2016, hari ini jadwal saya terbang dari Swarnabhumi masih pukul 14.00, sehingga saya membunuh waktu dengan naik Bangkok Skytrain menuju pusat kota. Tujuan saya adalah Kuil Erawan yang menjadi salah satu ikon Kota Bangkok. Kuil Erawan, atau San Thao Maha Phrom, terletak di Grand Hyatt Erawan Hotel, di daerah Pathum Wan, dikelilingi beberapa pusat perbelanjaan besar lainnya. Kuil ini didirikan bersamaan dengan pembangunan Hotel Erawan pada tahun 1956, yang berdiri di lahan tempat Hotel Grand Hyatt Erawan saat ini. Saat Hotel Erawan didirikan, banyak hambatan dalam pembangunannya, sehingga pemerintah Thailand sebagai pemiliknya merasa perlu untuk membangun sebuah kuil untuk menetralisir karma buruk tersebut. Percaya atau tidak, setelah pendirian kuil ini, pembangunan Hotel Erawan berjalan lancar. Tahun 1987, hotel ini diruntuhkan, dan kemudian dibangun Hotel Grand Hyatt Erawan.

Phra Phrom di Kuil Erawan
Kuil Erawan merupakan rumah bagi arca Phra Phrom, yaitu perwujudan Dewa Brahma atau dewa pencipta dalam kepercayaan Hindu. Keistimewaan arca Phra Prhom adalah memiliki empat wajah yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Empat wajah ini merupakan perlambang dari 4 sifat baik, yaitu welas asih, murah hati, adil, dan meditasi. Phra Phrom digambarkan memiliki 8 tangan, yang melambangkan kehadiran dan kekuatan. Dari 8 tangan tersebut, 4 tangan memegang benda suci, sedangkan 4 tangan lainnya memegang senjata untuk mengusir kebathilan.

Penziarah di Phra Phrom
Dewa Brahma merupakan dewa agama Hindu, sehingga Kuil Erawan sejatinya adalah kuil untuk agama Hindu. Karena terletak di Bangkok, banyak yang salah kaprah menyebut arca Phra Phrom sebagai Four-Faced Buddha. Namun tampaknya hal ini tidak menjadi permasalahan bagi masyarakat Bangkok, bahkan terlihat banyak penduduk yang lewat dan memanjatkan doa di kuil tersebut. Dengan lokasi yang berada di sudut persimpangan besar dan merupakan kuil terbuka, Kuil Erawan banyak dikunjungi orang, baik yang akan beribadah maupun hanya melihat-lihat.

Penjual Bunga dan Perlengkapan Ibadah
Di trotoar sekitar Kuil Erawan banyak deretan penjual bunga dan perlengkapan untuk ibadah, sehingga kuil ini terlihat hidup dan penuh warna. Para penziarah mempersembahkan karangan bunga marigold, dupa, lilin, serta memanjatkan doa meminta perlindungan dan agar segala hambatan disingkirkan. Saya beruntung sekali, karena pada saat bersamaan dapat menyaksikan persembahan tari tradisional Thailand sebagai lambang doa kepada Dewa Brahma.

Penari Tradisional Thailand di Kuil Erawan
Dari kuil Erawan, saya berjalan ke arah Central World, menuju dua kuil Hindu yang terlihat sangat mencolok di halaman Central World. Inilah Phra Trimurti (Thep Thattatheraya atau kuil Trimurti) dan Phra Phi Khanet (kuil Ganesha). Kuil Trimurti merupakan perwujudan dari 3 dewa utama dalam agama Hindu: Brahma (sang pencipta), Vishnu (sang pemelihara), dan Shiva (sang penghancur). Dalam kepercayaan masyarakat Thailand, Trimurti merupakan dewa cinta. Kuil ini didirikan untuk mengimbangi kekuatan dari Kuil Erawan. Mereka yang patah hati, kesepian, atau pasangan yang ingin hubungannya langgeng akan berdoa di kuil ini, dengan mempersembahkan bunga seperti mawar merah.

Kuil Trimurti di Depan Central World
Sedangkan kuil yang terletak di samping kanan kuil Trimurti adalah tempat memuja Ganesha, yang merupakan dewa pendidikan, ilmu pengetahuan, kebijakan, dan kesejahteraan. Dewa ini sangat populer di kalangan pelajar, guru, dan profesi lain yang membutuhkan kebijaksanaan. Dikenal sangat menyukai adi karya seni, Ganesha menginspirasi kreativitas dan kesuksesan bagi para pemujanya. Para pemujanya akan membawa bunga marigold, buah-buahan, dupa, atau kudapan khas Thailand, serta berdoa untuk keberuntungan dan berkat berupa kebijakan dan kreativitas.

Kuil Ganesha di sisi kanan Kuil Trimurti
Dewa Ganesha mudah dikenali karena berbentuk manusia berkepala gajah dengan perut buncit. Ganesha memiliki 4 buah tangan, tangan pertama memegang jerat yang bermakna memotong nafsu duniawi dan menaklukan emosi. Tangan kedua memegang senjata yang membantu menghancurkan kejahatan. Tangan ketiga memegang potongan gading yang melambangkan menghancurkan segala penghalang. Tangan keempat memegang kudapan manis yang melambangkan kesuksesan.

Kuil Dewi Uma
Dari kuil Ganesha, saya menyeberang ke arah Big C Supercenter, untuk melihat Phra Mae Umadhevi (Kuil Dewi Uma) yang terletak di depan gedung pertokoan tersebut. Dewi Uma dikenal sebagai istri Dewa Shiva, dan dikenal akan rasa cinta yang besar dan ketaatannya kepada Shiva. Dewi Uma banyak dipuja oleh para wanita, khususnya yang menginginkan kesuksesan, kepemimpinan, kesuburan, kebahagiaan dalam berumah tangga, dan perlindungan dari marabahaya. Para penziarah umumnya mempersembahkan bunga, buah-buahan, dan dupa.

Kuil Amarindradhiraja
Dalam perjalanan kembali ke stasiun Skytrain Chitlom, saya singgah di Thao Amarindradhiraja. Kuil yang terletak di depan Amarin Plaza ini merupakan rumah bagi arca Dewa Indra yang terbuat dari batu giok berwarna hijau. Dalam kepercayaan Hindu, Dewa Indra merupakan penguasa guntur dan penguasa surga, serta merupakan raja para dewa. Dewa Indra juga merupakan penyingkir segala rintangan dan pembawa kebahagiaan. Sedangkan dalam kepercayaan agama Buddha, Indra merupakan dewa yang mendorong Siddharta menjadi guru bagi umat manusia, dan merupakan dewa pelindung dan pembela. Dewa Indra yang tengah mengendarai gajah juga seringkali muncul di segel Kota Bangkok, sehingga Dewa Indra juga merupakan dewa penting dalam kepercayaan Buddha di Thailand. Para penziarah biasanya mempersembahkan bunga marigold dan dupa, serta memanjatkan doa untuk kesejahteraan dan perlindungan dari kejahatan.

Sad Stories of Ayutthaya

Siang itu Mr. Pattarakeat Phaniert atau Pak Oat (seharusnya kami memanggilnya Mr. Oat, tapi kami lebih suka menyapanya dengan panggilan "Pak"), guide yang mendampingi kami selama di Thailand, mengarahkan mobil memasuki kawasan Ayutthaya Historical Park yang merupakan reruntuhan kota lama Ayutthaya. Sekilas kawasan ini menyerupai Trowulan, namun dengan densitas sisa bangunan candi yang lebih rapat. Ke mana pun arah mata memandang, terlihat sisa bangunan candi di mana-mana. Tidak mengherankan, karena tidak kurang dari 3000 candi terdapat di Ayutthaya.


Ayutthata, atau lengkapnya Phra Nakhon Si Ayutthaya, adalah ibukota Provinsi Ayutthaya. Kota ini semula merupakan ibukota Kerajaan Ayutthaya di Siam, yang didirikan oleh Raja Ramathibodi I (Uthong) pada tahun 1350 saat mengalahkan dinasti kerajaan Sukhothai. Nama Ayutthaya diambil dari kata Ayodhya, nama kerajaan yang dipimpin oleh Sri Rama dalam kisah Ramayana. Wilayah yang digunakan sebagai ibukota merupakan wilayah yang dikelilingi 3 buah sungai, salah satunya adalah Chao Phraya, sehingga sangat subur.

Kerajaan Ayutthaya hampir tak pernah lepas dari kisah pertumpahan darah, baik perebutan wilayah oleh kerajaan tetangga, maupun perebutan kekuasaan antar dinasti. Seperti di tahun 1569, kota Ayutthaya dikuasai oleh Burma. Masa kedamaian diperoleh saat Ayutthaya mencapai masa keemasannya di perempat kedua abad ke-18. Di tahun 1715, Ayutthaya kembali berperang melawan dinasti Nguyen dari Vietnam Selatan untuk memperebutkan kekuasaan atas Kamboja. Pada tahun 1765, wilayah Ayutthaya diserang oleh pasukan Burma yang dipimpin Raja Alaungpaya, dan pada tahun 1767 Ayutthaya menyerah dan dibumihanguskan, sebelum ditinggalkan dalam keadaan hancur, menyebabkan berakhirnya kerajaan Ayutthaya yang sudah diperintah oleh 35 raja.

Reruntuhan di Ayutthaya dimulai sejak tahun 1969 oleh Departemen Seni Rupa. Upaya renovasi ini menjadi lebih serius setelah lokasi ini dinyatakan sebagai Historical Park di tahun 1976. Sebagian dari Historical Park di Ayutthaya kemudian dinyatakan sebagai UNESCO World Heritage Site pada tahun 1991.


WAT PHRA SI SANPHET 
Pertama kali Pak Oat mengajak kami ke Wat Phra Si Sanphet, atau “Temple of the Holy, Splendid Omniscient”. Candi ini semula merupakan tempat paling suci di Istana Raja di Ayutthaya dan secara eksklusif digunakan sebagai tempat ibadah raja-raja Ayutthaya, sebelum dibumihanguskan oleh tentara Burma pada tahun 1767, bersamaan dengan kehancuran kota Ayutthaya. Candi ini merupakan candi terbesar dan tercantik di Ayutthaya, dan arsitekturnya menjadi inspirasi yang ditiru oleh Wat Phra Kaeo (Temple of Emerald Buddha) yang berlokasi di Grand Palace Bangkok.


Lokasi tempat berdirinya Wat Phra Si Sanphet semula merupakan tempat istana raja yang didirikan oleh Raja Uthong pada tahun 1350. Ketika istana tersebut dipindahkan ke lokasi baru pada tahun 1448 oleh Raja Boroma-Tri-Loka-Nat, tempat ini kemudian dijadikan tempat ibadah bagi keluarga kerajaan, sekaligus tempat diselenggarakanya upacara-upacara keagamaan kerajaan.


Ciri khas dari candi ini adalah 3 buah stupa besar (chedi) bergaya arsitektur Ceylon. Ketiga stupa ini dibangun pada masa yang berbeda-beda. Stupa di sisi timur dan di tengah dibangun oleh Raja Ramathibodi II pada tahun 1492 untuk menyimpan abu Raja Boroma-Tri-Loka-Nat dan Raja Boroma-Rachathirat III, sedangkan stupa di sisi barat dibangun pada tahun 1592 oleh Raja Borommaracha IV untuk menyimpan abu Raja Ramathibodi II.Stupa-stupa yang kami lihat hari ini merupakan hasil pemugaran pada tahun 1956.


Pak Oat juga menambahkan bahwa Wat Phra Si Sanphet merupakan salah satu tempat paling berhantu di Thailand, dan bahkan mendapat gelar sebagai 6th most haunted place di Asia. Konon di tempat ini pernah terjadi pembantaian besar-besaran oleh tentara kerajaan Burma, dan sebagian penduduk Ayutthaya masih sering melihat hantu para penduduk yang dibunuh pada peristiwa tersebut, gentayangan di sekitar reruntuhan. Mendengar cerita Pak Oat, mau tak mau bulu kuduk kami pun berdiri, membayangkan betapa menyeramkan suasana pada saat itu.


WAT MAHA THAT 
Pak Oat kemudian membawa kami ke Wat Phra Sri Rattana Mahathat, atau lebih dikenal sebagai Wat Maha That (Temple of the Great Relic). Candi ini didirikan pada tahun 1374 oleh Raja Borommaracha I (Somdet Phra Borommarachathirat) dan Phra Mahathera Thammakanlayan, dan diselesaikan pada tahun 1384 oleh Raja Ramesuan. Pada masa kejayaan Ayutthaya, Wat Maha That menjadi salah satu candi penting, karena merupakan pusat ibadah dan menyimpan relic sang Buddha.


Berbeda dengan Wat Phra Si Sanphet yang memiliki stupa bergaya arsitektur Ceylon, bangunan pada kompleks candi Wat Maha That memiliki gaya arsitektur Khmer. Candi ini memiliki prang (menara) utama dengan gaya arsitektur Khmer setinggi 46 meter. Bahan baku pembangunan candi adalah laterite dan batu bata, yang diperkuat stuko (semen putih yang terdiri dari campuran abu bakaran kayu, getah pohon dan serbuk kerang). Pagoda tersebut pernah runtuh di masa pemerintahan Raja Songtham di tahun 1610, dan kemudian direnovasi pada tahun 1633 pada masa pemerintahan Raja Prasat Thong naik tahta. Ketika Ayutthaya hancur pada tahun 1767, prang utama ini tetap bertahan, sebelum runtuh di tahun 1904. Prang yang saat ini ada merupakan hasil restorasi.


Namun atraksi utama dari Wat Maha That adalah kepala arca Buddha yang dibelit akar pohon beringin, seolah “terjebak” di batang pohon tersebut. Ekspresi wajah arca yang terlihat teduh ini meninggalkan kesan mendalam bagi yang melihat. Pak Oat mengatakan bahwa kemungkinan besar kepala arca ini berasal dari arca Buddha yang dipenggal oleh para pencuri yang mencari harta karun di reruntuhan candi, namun tertinggal di halaman candi. Seiring berjalannya waktu, pohon yang berada di dekat kepala arca tersebut tumbuh dan sulur-sulurnya membelit arca, menghasilkan posisi yang kita lihat sekarang. Saat kami akan berfoto, Pak Oat mengingatkan agar kami berfoto dalam posisi berlutut/berjongkok, untuk menghormati arca tersebut.


Saat menjelaskan tentang prang utama yang ada di candi ini, Pak Oat berbagi kisah-kisah misteri yang terjadi di Wat Maha That. Pada saat penggalian di tahun 1956, pernah tercium aroma cendana dari reruntuhan candi, dan tidak lama kemudian ditemukan relik dan barang berharga yang semula disimpan di candi ini. Kisah lain yang tak kalah seru adalah ketika terjadi penjarahan di prang utama candi pada tahun 1991, dari 20 orang pencuri yang melakukan penjarahan, 11 orang di antaranya mati misterius. Kejadian ini ditambah dengan terbakarnya 7 toko emas yang menjadi penadah benda-benda yang dicuri. Pada akhirnya sisa pencuri yang menjarah candi ini kemudian menyerah kepada pihak berwajib. Sungguh merupakan pelajaran berharga agar kita tidak melakukan hal-hal yang tidak baik, khususnya pada rumah ibadah.


WAT CHAIWATTHANARAM 
Setelah makan siang, kami mengunjungi Wat Chaiwatthanaram (“Temple of Long Reign and Glorious Era) yang terletak di sisi barat Sungai Chao Phraya. Lokasi candi ini berada di luar “pulau” Ayutthaya, dan walaupun memiliki kompleks yang besar, candi ini bukan merupakan bagian dari Historic City of Ayutthaya yang berstatus UNESCO World Heritage Site.


Candi dengan gaya arsitektur Khmer ini didirikan pada tahun 1630 oleh Raja Prasat Thong sebagai tempat pelaksanaan upacara keagamaan, seperti upacara kremasi keluarga kerajaan. Candi ini sempat digunakan sebagai perkemahan tentara pada masa perang dengan kerajaan Myanmar di tahun 1767. Setelah kehancuran Ayutthaya, Wat Chaiwatthanaram ditinggalkan oleh penghuninya, dan perlahan-lahan turut mengalami kehancuran.


Dengan gaya arsitektur dan bangunan yang berbeda daripada candi-candi lain di Ayutthaya, Wat Chaiwatthanaram dianggap merupakan salah satu candi tercantik di masa kejayaan Ayutthaya. Struktur bangunan Wat Chaiwatthanaram didesain untuk merefleksikan cara pandang Sang Buddha terhadap dunia. Candi utama (Prang Prathan) setinggi 35 meter merupakan symbol Gunung Meru (Khao Phra Sumen) atau pusat dunia. Di sekelilingnya terdapat 4 prang kecil yang melambangkan empat penjuru mata angin. Pondasi persegi panjang yang melandasi menara-menara ini merupakan dunia, sedangkan lorong persegi panjang yang membatasi sisi luar pondasi merupakan perbatasan dunia. Di sepanjang dinding lorong terdapat 120 arca Buddha dalam posisi duduk, dan seluruh arca tersebut menghadap ke arah Prang Prathan. Arca yang terdapat di dalam bangunan sudut merupakan Buddha yang diberi mahkota, sebagai lambing perwujudan raja.


Titik pusat candi dikelilingi oleh delapan buah chedi yang memiliki lukisan di dinding dalam. Sedangkan di dinding luar terdapat 12 relief yang menceritakan kisah hidup Sang Buddha, namun hanya sebagian dari lukisan dan relief tersebut yang bertahan. Ketika Pak Oat menjelaskan tentang keberadaan lukisan dan relief ini, Pak Oat sempat menyatakan bahwa ia ingin pergi ke Borobudur. Ah, saya baru menyadari, barangkali bagi para penganut agama Buddha, pergi ke Borobudur memiliki nilai relijius yang berharga, seperti halnya ketika umat Muslim akan pergi umroh ke Baitullah…


Tak lupa Pak Oat menyampaikan kisah pilu sebuah tragedi yang terkait dengan Wat Chaiwatthanaram. Raja Borommarachathirat III, atau lebih dikenal sebagai Raja Borommakot, memerintah di Ayutthaya antara tahun 1733-1758. Walaupun masa pemerintahannya berjalan dengan damai, Raja Borommakot dikenal sebagai raja yang kejam. Raja Borommakot memperoleh tahtanya pada tahun 1732 dengan merebutnya dari Pangeran Aphai dan Pangeran Paramet, dua orang putra raja Thai Sa yang saat itu merupakan raja Ayutthaya. Tahun 1741, Raja Borommakot mengangkat Pangeran Thanmathibet sebagai putra mahkota. Namun Thanmathibet berselingkuh dengan Putri Sangwal dan Putri Nim, keduanya selir Raja Borommakot. Kisah cinta segitiga ini tertangkap basah pada tahun 1746, dan ketiga orang pelakunya mendapat hukuman cambuk. Pangeran Thanmathibet mendapat 120 cambukan, sementara kedua selir mendapat masing-masing 30 cambukan. Pangeran Thanmathibet meninggal saat sedang menjalani hukuman, dan Putri Sangwal wafat tiga hari kemudian. Putri Nim tetap hidup, namun diusir dari istana. Setelah upacara kremasi Pangeran Thanmathibet, Raja Borommakot menginstruksikan untuk membuat pagoda (Chedi) di Wat Chaiwatthanaram untuk menyimpan abu Pangeran Thanmathibet. Konon penduduk setempat masih sering mendengar suara isak tangis di dekat prang yang menyimpan abu Pangeran Thanmathibet.

Sunday, August 27, 2017

Dhamma Vihara Sundara, Candi Putih di Tepi Bengawan Solo

Dhamma Vihara Sundara. Nama rumah ibadah umat Buddha Sangha Theravada yang terletak di Jl. Ir. H. Juanda No. 223 B, Pucangsawit, Jebres, Surakarta ini pertama kali diperkenalkan di Instagram, dengan embel-embel “seperti di Thailand”. Tapi impresi itu langsung sirna ketika saya datang ke sana dan melihat sendiri seperti apa vihara tersebut. Sejatinya, vihara ini lebih cantik daripada yang saya bayangkan, jauh lebih cantik dari candi-candi yang pernah saya lihat di Thailand.

Vihara yang terletak tak jauh dari aliran Bengawan Solo ini didirikan oleh Sundara Husea, pengusaha pemilik Sun Motor group. Diresmikan pada 24 Maret 2002, kompleks rumah ibadah ini terdiri dari 2 buah bangunan. Bangunan utama vihara merupakan gedung bertingkat dengan atap berbentuk limasan. Di lantai atas merupakan Ruang Dhammasala (ruang ibadah), sedangkan di bagian bawah digunakan sebagai kantor dan toko yang menjual buku serta video terkait ibadah umat Buddha.Sedangkan bangunan kedua merupakan candi berwarna putih yang menyerupai candi-candi khas kerajaan Nusantara kuno. Saat ini Dhamma Vihara Sundara tidak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah, tetapi juga menjadi salah satu tujuan wisata religi di Kota Solo.


Ruang Dhammasala

Memasuki dari pintu utama, kita disambut sepasang patung singa yang menyerupai patung singa penjaga pintu gerbang di Candi Borobudur. Menurut kepercayaan Buddha, singa adalah kendaraan sang Buddha menuju nirwana. Singa juga merupakan symbol dari Sang Buddha, karena singa merupakan raja para binatang yang melambangkan kekuatan, keberanian, kemenangan, serta kemampuan untuk melindungi para penganut agama Buddha. Pada undakan menuju Ruang Dhammasala, terdapat sepasang arca dengan kepala manusia dan berbadan burung. Menaiki undakan menuju Ruang Dhammasala, di cungkup depan bangunan terlihat lukisan kaca patri yang menggambarkan rusa dalam posisi berhadapan dengan mulut mencium roda, serta dua kepala naga dengan mulut terbuka di kedua sudut kaca menghadap ke arah luar. Penggambaran rusa yang mencium roda ini merupakan ikon khas Buddha yang menggambarkan khutbah pertama Sang Buddha di Taman Rusa Isipatana di Sarnath, Varanasi.

Arca Buddha di Ruang Dhammasala

Memasuki Ruang Dhammasala, di bagian altar terdapat arca Buddha berwarna emas dalam posisi kaki bersila, dengan mudra (posisi tangan) telapak tangan kiri terbuka ke atas diletakkan di atas lipatan kaki, dan telapak tangan tertelungkup diletakkan di atas lutut kanan.Posisi ini melambangkan Dhyani Buddha Aksobhya, yang memanggil bumi sebagai saksi. Arca ini diapit oleh patung 2 murid sang Buddha dengan tangan bertangkup di depan dada. Di depan arca-arca tersebut terdapat perlengkapan upacara seperti hio dan lilin. Sehari sebelum ibadah, petugas biasanya akan menata alas duduk dan papan silang tempat kitab suci. Saya menengadah ke atas, ternyata langit-langit ruangan berbentuk kubah. Kubah tersebut dihiasi 8 lukisan kaca patri yang menggambarkan berbagai simbol terkait sang Buddha, seperti dharmachakra, gajah putih, dan pohon bodhi.

Candi Batu Putih
Keluar dari Ruang Dhammasala, saya berjalan ke arah bangunan candi yang terbuat dari batu berwarna putih. Bangunan tersebut berdiri di atas pelataran batu berwarna hitam, dan memiliki arsitektur menyerupai candi-candi Buddha dari masa Mataram Kuno dengan ukuran menyerupai Candi Sojiwan. Di puncak bangunan terdapat sebuah stupa besar yang dikelilingi stupa-stupa kecil. Bagian atas puncak stupa besar dihiasi catra yang terbuat dari logam. Di sisi kiri, kanan, dan belakang, terdapat tiga relief sang Buddha dengan pakaian dan mudra yang berbeda. Pada pintu masuk candi, bagian atasnya dihiasi ornament Kala. Terdapat pintu masuk ke dalam candi, namun pintu masuk tersebut terkunci. Bagi para penggemar candi kuno, bangunan ini seolah merupakan bentuk utuh dari candi-candi Buddha kuno dari Nusantara.

Candi dari batu putih ini di”kawal” oleh sepasang gajah berwarna putih, yang mungkin membuat orang mengatakan bahwa tempat ini seperti di Thailand. Di bagian depan candi terdapat patung Sundara Husea, pendiri Dhamma Vihara Sundara. Patung ini diresmikan pada tanggal 24 Maret 2013, sebagai peringatan atas 3 tahun wafatnya Sundara Husea. Sundara Husea wafat pada tanggal 23 Maret 2010, dan dikremasi di Taman Memorial Delingan, Karanganyar pada 27 Maret 2010.

Tuesday, August 22, 2017

Situs Batujaya, candi-candi masa Tarumanegara di Tengah Sawah

Langit cerah berwarna pucat di atas wilayah Karawang menemani kami, 25 peserta Plesiran Tempo Doeloe, menelusuri pematang beton yang membelah kawasan persawahan menuju situs percandian Batujaya. Berjalan paling depan adalah Pak Dwi Cahyono, peneliti sejarah dan arkeologi, beserta Pak Kaisin, sesepuh Desa Segaran yang sudah berusia lebih dari 80 tahun. Cuaca hari itu lumayan panas, namun kami tetap bersemangat melihat situs candi tertua di Jawa Barat, yang bahkan diduga lebih tua dibandingkan Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Situs percandian Batujaya terletak 50 km di ke arah timur dari Jakarta, atau 47 km ke arah barat laut dari pusat Kota Karawang, tepatnya di kawasan Teluk Karawang yang merupakan bagian dari Teluk Jakarta. Situs ini berada di wilayah seluas 5 km2, meliputi Desa Segaran di Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya di Kecamatan Pakis. Berdasarkan hasil analisis radiocarbon pada sekam padi yang terkandung dalam batu bata yang membangun candi, para ahli menduga Situs Batujaya dibangun pada abad 2-3 Masehi, menandai peralihan dari masa prasejarah menuju masa sejarah. Hasil analisa tersebut membuat situs Batujaya sering dikaitkan dengan Kerajaan Tarumanegara yang merupakan kerajaan Hindu Waisnawa. Uniknya, temuan-temuan arkeologis di situs Batujaya menunjukkan bahwa candi-candi di Batujaya bukan merupakan candi Hindu, melainkan candi Buddha Mahayana. Hal ini membawa kesimpulan bahwa situs Batujaya bukanlah lokasi pusat kerajaan Tarumanegara.

Situs Batujaya mulai diketahui keberadaannya pada tahun 1984, ketika para peneliti dari tim survey arkeologi Universitas Indonesia akan meneliti Situs Cibuaya yang terletak tak jauh dari kawasan Batujaya. Menurut Pak Kaisin, penduduk Batujaya menyampaikan kepada para peneliti bahwa di Batujaya terdapat banyak temuan dalam bentuk batu bata. Para penduduk kemudian mengantarkan para peneliti untuk melihat “unur” (gundukan tanah) yang terdapat di kawasan persawahan. Setelah gundukan tersebut digali, ternyata di bawahnya terdapat struktur candi atau peninggalan purbakala lainnya. Sampai saat ini telah ditemukan 53 situs, yang terdiri dari 23 candi dan 30 unur yang belum digali. Dari 53 situs tersebut, baru 2 situs yang dipugar dan layak dikunjungi, yaitu Candi Jiwa (Candi Segaran 1) dan Candi Blandongan (Candi Segaran 5).

Candi pertama yang kami kunjungi adalah Candi Blandongan, yang letaknya paling jauh. Candi Blandongan mulai dipugar sejak tahun 2002. Nama Blandongan identik dengan pendopo, karena ketika masih berbentuk gundukan candi ini digunakan sebagai tempat beristirahat para gembala kambing. Kami sebenarnya tidak diijinkan mendekat ke bangunan candi, namun Pak Kaisin mengijinkan Pak Dwi untuk mendekat ke bangunan candi, sehingga dapat menjelaskan secara detail ornamen-ornamen pada bangunan candi.

Candi Blandongan
Pak Dwi memperlihatkan bahwa Candi Blandongan memiliki 4 pintu masuk di setiap penjuru. Pintu masuk utama diduga di sisi tenggara, yang ditandai bekas tiang untuk torana. Dari bentuknya, diduga bentuk asli Candi Blandongan adalah sebuah stupa, dengan adanya temuan bata berbentuk melengkung. Dijelaskan juga bahwa di bagian atas kaki candi terdapat sisa pagar langkan yang mengelilingi selasar, sehingga kemungkinan besar candi ini merupakan tempat ritual pradaksina. Pada selasar ini juga ditemukan jejak umpak, yang kemungkinan besar digunakan untuk tiang atap sepanjang selasar.

Dari Candi Blandongan, pak Dwi dan pak Kaisin membawa kami ke Candi Lempeng. Sejatinya situs ini tidak berbentuk bangunan candi, melainkan merupakan lempengan tutup dolmen atau peti mati kuno. Tutup dolmen ini semula dimiringkan untuk mengetahui apakah di bagian dalamnya terdapat inskripsi, namun tidak dikembalikan lagi ke posisi semula. Menurut pak Kaisin, lempeng batu tersebut sangat berat, bahkan 40 orang tidak kuat mengangkat lempeng batu tersebut, sehingga dibiarkan dalam kondisi miring. Di sekitar lokasi candi, terlihat beberapa unur. Menurut Pak Dwi, sebagian unur tersebut berisi struktur bangunan kuno yang sudah melalui tahap penelitian awal oleh para arkeolog, tinggal menunggu waktu untuk dapat digali dan diteliti lebih lanjut.

Candi Lempeng
Penjelajahan kami di situs Batujaya kami akhiri di Candi Jiwa. Candi yang dipugar sejak tahun 1990 ini mendapatkan namanya dari pengalaman penduduk. Menurut Pak Kaisin, daerah Batujaya sangat rawan banjir yang merupakan limpahan dari Ci Tarum yang hanya berjarak 1 km di sisi selatan dari Candi Jiwa. Jika terjadi banjir maka penduduk banyak mengungsi ke gundukan atau unur. Namun tiap kali para gembala kambing menempatkan kambingnya di gundukan yang berisi Candi Jiwa, maka kambing tersebut akan mati tanpa diketahui penyebabnya.

Candi Jiwa
Berbeda dengan Candi Blandongan yang memiliki tangga masuk di setiap penjuru, Candi Jiwa tidak memiliki tangga untuk naik ke bagian atas candi. Selain itu, selasar yang digunakan untuk pradaksina tidak terletak di atas kaki candi, melainkan dalam bentuk jalan setapak mengelilingi kaki candi. Di atas kaki candi, terlihat susunan batu bata bergelombang, seolah membentuk kelopak bunga teratai berukuran besar. Pak Dwi juga menjelaskan bahwa di Candi Jiwa banyak ditemukan tablet persembahan terakota yang berisi mantra (rapal doa) atau figure pantheon Buddha Mahayana, memperkuat dugaan para ahli bahwa bangunan Candi Jiwa diperuntukkan bagi penganut Buddha Mahayana.


Stupika yang Ditemukan di Candi Blandongan
Sebelum kembali ke Jakarta, kami menyempatkan untuk mengunjungi Museum Situs Cagar Budaya Batujaya. Bangunan yang digunakan untuk museum kecil ini awalnya adalah tempat penyelamatan hasil-hasil penelitian dan artefak hasil pemugaran, namun saat ini digunakan untuk memamerkan sebagian artefak hasil temuan, seperti stupika (stupa kecil) di candi Blandongan, tablet-tablet terakota, pecahan tembikar, dan kerangka manusia. Sebagian dari artefak yang ditemukan sudah dibawa untuk diteliti di Museum Nasional. Namun sebenarnya sebagian besar temuan disimpan di gudang yang terletak di dekat pintu masuk kawasan candi, menunggu untuk diteliti. Dengan masih banyak temuan yang harus diteliti, serta masih banyak unur yang harus digali, nampaknya masih banyak misteri Batujaya yang harus dipecahkan…

Thursday, September 24, 2015

Piknik Itu Menyembuhkan

"Tampaknya dia kurang piknik". Kalimat ini sedang sering mencuat di berbagai media sosial, dan biasanya ditujukan bagi mereka yang sedang tegang, memiliki tingkat keseriusan sangat tinggi, atau mereka-mereka yang ngenes. Secara harfiah, "piknik" berarti wisata, liburan, dan refreshing. Jadi istilah "kurang piknik" secara harfiah berarti yang bersangkutan kurang melakukan aktivitas yang terkait dengan kesenangan. Dan sebagai penggila jalan-jalan, saya percaya "kurang piknik" memang membawa dampak kurang baik.

Kalau ditanya apakah piknik itu penting, saya akan menjawab "Ya" dengan tegas. Bagi saya, piknik bukan sekadar bersenang-senang. Piknik itu penting, karena merupakan salah satu cara saya menghilangkan kejenuhan dari rutinitas. Piknik itu penting, karena membuat saya melihat banyak hal di luar lingkungan sehari-hari tempat saya beraktivitas. Dan ternyata saya menemukan manfaat lain dari piknik: piknik itu menyembuhkan. Kok bisa?

Kisah ini berawal di bulan April 2014, ketika aktivitas saya di tempat kerja sangat padat, membuat saya kena serangan batuk nyaris tak berhenti selama berhari-hari. Besar kemungkinan saya kena batuk gara-gara kurang piknik. Di minggu kedua April, saya sudah punya rencana pergi ke Muntilan. Sempat terpikir oleh saya, lagi sakit batuk begini, apa saya masih bisa menikmati pikniknya? Tapi lagi-lagi, karena rutinitas kantor yang semakin meningkat, justru membuat saya membulatkan tekad untuk pergi ke Muntilan.

Bertepatan dengan akhir pekan liburan Paskah tahun 2014, saya, Anggi, dan Risky berangkat dari Yogya ke Muntilan, menuju Candi Borobudur. Candi Borobudur sendiri merupakan obyek wisata yang sangat mainstream, dan kami sudah beberapa kali mengunjungi candi tersebut. Yang kami tuju sebenarnya adalah Punthuk Setumbu, sebuah bukit di mana kita bisa melihat matahari terbit dari balik pasangan gunung Merapi-Merbabu, dan melihat siluet Candi Borobudur bagaikan melayang di lautan awan.

Inilah Pemandangan Yang Kami Kejar!
Setelah menginap semalam di Desa Wanurejo, Muntilan, baru keesokan paginya kami menuju ke Punthuk Setumbu. Kokok ayam bersahut-sahutan membangunkan kami tepat pukul 4 pagi, seolah mengingatkan kami untuk bangun dan bersiap-siap mengejar matahari terbit di Punthuk Setumbu. Pak Erwin, pemilik penginapan, sudah menunggu di beranda rumah dan mengingatkan agar kami berangkat sepagi mungkin, sebelum kehabisan tempat di atas bukit. Bersama tamu Pak Erwin lainnya yang berasal dari Taiwan, kami berangkat beriringan menggunakan 2 mobil. Di tengah kegelapan, melintasi jalan-jalan di perkampungan Desa Wanurejo, kami sangat tak sabar untuk menuju ke bukit yang tersohor ini.

Kami beruntung masih bisa mendapatkan tempat parkir di dekat pintu masuk. Setelah membeli tiket, saya, Anggi dan Risky mulai menapaki jalan setapak menuju puncak bukit. Tetesan embun pagi menjadikan jalan yang belum disemen itu menjadi agak becek, membuat perjalanan menjadi sedikit lebih berat. Mendekati bagian akhir, jalan mulai menanjak. Walaupun sudah dibantu undak-undakan tanah yang diperkuat bambu, rasanya kaki dan napas masih terasa berat untuk melangkah, sehingga saya harus beberapa kali berhenti untuk menarik napas dan mengumpulkan tenaga. Agak degdegan juga, takut akibat kedinginan atau terlalu capek, jangan-jangan sakit batuk saya menjadi makin parah.
Anggi, Risky, dan saya di Punthuk Setumbu
Setelah 20 menit berjalan, akhirnya kami tiba di puncak Punthuk Setumbu. Terlihat para fotografer, baik yang profesional maupun fotografer ponsel, sudah memenuhi puncak bukit. Beruntung kami masih kebagian spot di dekat pagar. Tanpa menunggu lebih lama, kami mencoba mencari di mana letak Candi Borobudur. Rupanya tak mudah menemukan siluet Candi Borobudur di tengah kegelapan. Bahkan setelah dibantu cahaya sang fajar, siluet candi tersebut masih belum bisa ditemukan. Baru setelah matahari mulai mengintip dari balik Gunung Merapi, siluet mahakarya dari wangsa Syailendra ini terlihat di sebelah kanan dari Gunung Merapi. Akhirnya, perjalanan mendaki bukit yang tampak melelahkan beberapa menit yang lalu terbayar lunas! Kami segera mengabadikan momen-momen menakjubkan ini, sebelum matahari bertambah tinggi dan kabut yang menyelimuti Borobudur menghilang ditelan cahaya.

Para Fotografer yang Mengabadikan Sunrise di Punthuk Setumbu

Lautan Awan dilihat dari Punthuk Setumbu
Cahaya matahari semakin terang ketika kami bergerak menelusuri jalan setapak, kembali ke arah parkir mobil. Masih terbayang-bayang di benak kami siluet Candi Borobudur yang seolah mengapung di atas awan. Apakah ini yang disebut dengan nirwana? Begitu saya masuk mobil dari Risky mengarahkan mobil kembali ke arah Pasar Borobudur, baru saya menyadari sesuatu: saya sama sekali tidak batuk selama perjalanan ke Punthuk Setumbu. Berarti batuk saya langsung sembuh begitu melihat pemandangan luar biasa ini!

Walaupun saya senang jalan-jalan ke luar domisili saya di Jakarta, saya berprinsip bahwa piknik tidak perlu jauh-jauh dan tidak perlu mahal. Terkadang saya juga memilih pergi ke obyek wisata yang dekat-dekat dengan Jakarta. Salah satunya adalah pergi liburan di Bogor. Masih banyak obyek menarik di Bogor yang belum saya kunjungi, terutama situs-situs sejarah di Bogor. Ada Museum PETA, ada Prasasti Batutulis, ada Makam Raden Saleh, dan masih ada situs-situs sejarah di Bogor yang menunggu untuk dikunjungi. Hmmm... sekarang saja saya sudah mulai membuka agenda, kapan ya saya bisa liburan di Bogor?

Postingan ini diikutkan pada “Lomba Blog Piknik itu Penting”.

Saturday, July 4, 2015

10 Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya Favorit di Jawa Tengah

Anda pecinta wisata sejarah dan budaya? Jawa Tengah adalah tempat yang tepat dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Jawa Tengah merupakan tempat asal muasal manusia Jawa. Jawa Tengah juga merupakan pusat peradaban sejak masa silam yang menjadi pusat perkembangan budaya manusia. Inilah mengapa di Jawa Tengah Anda bisa menemukan berbagai ragam destinasi wisata sejarah dan budaya yang menarik. Banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di Jawa Tengah, sehingga begitu banyak peninggalan sejarah yang kemudian dijadikan destinasi wisata. Demikian juga dengan budaya, begitu banyak kekayaan budaya di Jawa Tengah yang dijadikan destinasi wisata, baik budaya khas Jawa Tengah, maupun budaya-budaya lokal yang telah menyerap berbagai pengaruh dari luar.

Apa saja destinasi wisata sejarah dan budaya favorit Jawa Tengah? Inilah 10 destinasi wisata sejarah dan budaya favorit Jawa Tengah versi saya!

 1. CANDI BOROBUDUR
Tak ada yang memungkiri Borobudur adalah destinasi wisata budaya paling top di Jawa Tengah. Candi Buddha terbesar di dunia ini terletak di Muntilan, Magelang. Didirikan pada abad ke 8-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra dari kerajaan Mataram Kuno, saat ini Candi Borobudur sudah diakui UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia.


Keunikan dari Candi Borobudur adalah bangunannya dibuat menutupi sebuah bukit alam. Candi ini juga dilengkapi dengan deretan relief yang jika dijajarkan, panjangnya mencapai 3000 meter. Relief-relief ini terdiri dari kisah Sang Budha, berbagai ajaran sang Budha dari India, serta gambaran kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu. Relief yang ada di candi Borobudur diakui sebagai relief yang paling elegan dan anggun di antara karya seni berlanggam Buddha lainnya.

Saat ini Candi Borobudur masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan. Setiap tahunnya umat Buddha dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Candi Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Lengkapi kunjungan ke Candi Borobudur dengan mengunjungi Candi Mendut dan Candi Pawon, yang merupakan bagian dari prosesi para biksu dalam memperingati Hari Raya Waisak. Tak lupa singgah juga di Vihara Mendut untuk melihat rupang Sleeping Buddha di halaman depan vihara.

 2. LAWANG SEWU 
Bangunan antik yang terletak di depan Tugu Muda, Kota Semarang ini memiliki begitu banyak pintu, sehingga diberi nama “Lawang Sewu”. Sejarah bangunan ini terkait erat dengan sejarah kereta api di Indonesia. Bangunan ini dibuat pada tahun 1904, dan pada awalnya digunakan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api yang menjadi cikal bakal perusahaan kereta api di Indonesia.


Dengan bentuknya yang unik, Lawang Sewu sering digunakan sebagai tempat pameran atau dijadikan lokasi syuting film. Banyak spot-spot foto yang menarik di tempat ini, salah satunya adalah jendela di antara tangga yang dihiasi kaca patri warna warni. Namun tempat yang paling membuat penasaran adalah ruang bawah tanah yang dibangun pada tahun 1916. Awalnya ruang bawah tanah ini digunakan sebagai penampung air, khususnya karena Kota Semarang rawan banjir. Namun saat Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang di tahun 1942, ruangan ini digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan. Oleh karena lokasinya yang wingit, banyak yang melakukan “Uji Nyali” di tempat ini.

 3. LITTLE NEDERLAND 
Jalan-jalan ke Semarang, jangan lewatkan untuk melihat Kawasan Kota Tua Semarang, atau dikenal sebagai Little Nederland. Di kawasan seluas 30 hektar yang terletak di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara ini terdapat bangunan-bangunan antik yang mendapat pengaruh gaya bangunan Eropa. Karena dikelilingi jalan satu arah, untuk bisa menikmati keindahan bangunan di kawasan ini sebaiknya kita masuk melalui Jl. Merak, kemudian lanjut ke Jl.Cendrawasih, dan berbelok kanan ke Jl. Dr. Suprapto.

Di antara bangunan-bangunan antik yang terdapat di Little Nederland, terdapat beberapa bangunan yang cukup menonjol dan menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Di antaranya adalah Marabunta Gedung Multiguna, replika dari gedung pertunjukan Komedi Stadschouwburg. Gedung yang dicirikan dengan patung semut raksasa di atas atapnya ini terkenal karena pernah menjadi tempat pementasan Mata Hari, seorang penari eksotis berkebangsaan Belanda yang menjadi mata-mata Jerman pada Perang Dunia I.


Ikon Kawasan Kota Tua Semarang adalah Gereja Blenduk. Bangunan dengan nama resmi GPIB Immanuel ini memiliki ciri khas atap berbentuk kubah, yang dalam bahasa Jawa disebut “blenduk”. Dari bangunan-bangunan di Kawasan Kota Tua, Gereja Blenduk merupakan bangunan yang paling terawat. Di dalam bangunan gereja, kita bisa melihat orgel antik yang diletakkan di atas balkon. Sayang orgel ini sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

 4. SAM POO KONG 
Semarang dikenal sebagai kota 1001 klenteng, karena kota ini memiliki kutur budaya etnis Tionghoa yang begitu kuat. Di antara klenteng-klenteng yang tersebar di seluruh Kota Semarang, terdapat sebuah klenteng yang unik dan menjadi ikon Kota Semarang, yaitu Klenteng Sam Poo Kong yang terletak di Jl. Simongan, Bongsari.

Klenteng Sam Poo Kong merupakan petilasan Laksamana Cheng Ho, seorang laksamana muslim kepercayaan Kaisar Tiongkok, yang memimpin ekspedisi kekaisaran Tiongkok ke Nusantara di awal abad ke-15. Klenteng ini didirikan oleh anak buang Cheng Ho di Semarang sebagai penghormatan kepada Cheng Ho yang dianggap telah berjasa dalam memimpin anak buahnya selama melakukan ekspedisi. Klenteng ini dikenal sebagai Gedung Batu, karena bangunan utamanya berbentuk gua batu besar yang diyakini merupakan tempat pendaratan ekspedisi Cheng Ho di Jawa. Di dalam gua ini terdapat patung Sam Poo Tay Djien, yang dianggap sebagai perwujudan Laksamana Cheng Ho.


Selain Gedung Batu, Klenteng Sam Poo Kong dilengkapi dengan berbagai bangunan yang menjadi tempat ibadah. Berbeda dengan klenteng pada umumnya, bangunan-bangunan di kompleks Klenteng Sam Poo Kong dibuat dengan arsitektur perpaduan antara gaya arsitektur Tiongkok dan Jawa. Uniknya, bangunan terbesar di kompleks klenteng ini dibangun dengan menghadap ke arah kiblat. Di tempat ini juga terdapat Anjungan Kyai Djangkar, di mana terdapat sebuah jangkar yang dipercaya merupakan jangkar dari kapal yang digunakan Laksamana Cheng Ho untuk melakukan ekspedisi ke Nusantara.

5. CANDI GEDONG SONGO
Kompleks Candi Gedong Songo terletak di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Nama “Gedong Songo” menunjukkan bahwa kompleks candi ini terdiri dari 9 bangunan yang tersebar di lereng Gunung Ungaran, di antara hutan pinus dan perkebunan sayur milik masyarakat, memberikan panorama yang unik sekaligus indah yang jarang ditemukan di tempat lain.


Tidak ada catatan atau prasasti yang menunjukkan secara pasti kapan Kompleks Candi Gedong Songo dibangun. Namun berdasarkan hasil penelitian para ahli, kompleks percandian ini dibangun pada masa yang sama dengan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng, dari masa Dinasti Sanjaya di Mataram Kuno. Diperkirakan Candi Gedong Songo merupakan bangunan agama Hindu tertua di Jawa, lebih tua dibandingkan Candi Borobudur dan Prambanan.

Untuk melihat seluruh bangunan candi yang tersebar, terdapat jalan setapak sepanjang 4 kilometer yang mengelilingi kompleks percandian. Jalan setapak ini melewati daerah perbukitan dengan kontur naik turun, dan sepanjang jalan kita bisa menikmati panorama Gunung Ungaran yang asri. Jika Anda merasa tidak kuat atau memiliki waktu yang terbatas, manfaatkan jasa transportasi kuda untuk berkeliling kompleks bangunan candi.

6. KAMPUNG BATIK LAWEYAN 
Mengunjungi Solo, jangan lupa mampir ke Kampung Batik Laweyan. Kawasan sentra batik ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Pajang di tahun 1546 Masehi. Kampung batik ini juga merupakan salah satu saksi bisu gerakan perjuangan bangsa Indonesia, ketika organisasi Sarekat Dagang Islam (cikal bakal organisasi Sarekat Islam) didirikan oleh Haji Samanhudi di Solo pada tahun 1905.


Kampung Batik Laweyan menempati wilayah seluas 24 hektar yang menampung ratusan pengrajin batik. Batik yang dijual di tempat ini umumnya batik dengan motif khas Solo, seperti Tirto Tejo dan Truntum. Selain menjual kain, toko-toko di kawasan ini juga menjual pakaian jadi dalam berbagai model dan kualitas. Beberapa toko memiliki workshop, di mana Anda bisa melihat proses pembuatan batik tulis dan batik cap oleh para pengrajin batik. Tak hanya melihat batik, Anda juga bisa melakukan “blusukan” untuk melihat rumah-rumah khas Jawa tempo doeloe.

7. CANDI CETHO 
Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, di ketinggian 1400 meter dpl. Nama “Cetho”dalam bahasa Jawa berarti “jelas”, dan nama ini diberikan karena dari tempat ini dapat terlihat pemandangan ke berbagai arah dengan jelas. Dari hasil penelitian para ahli, diketahui Candi Cetho merupakan candi bercorak Hindu, dan berasal dari masa akhir kerajaan Majapahit di abad ke-15. Sampai saat ini candi ini masih digunakan untuk beribadah oleh penduduk setempat yang memeluk agama Hindu.


Saat penggalian, diketahui kompleks Candi Cetho berbentuk seperti punden berundak yang terdiri dari 14 teras bertingkat. Dari 14 tingkat tersebut, hanya 9 teras yang dipugar, seperti yang terlihat saat ini. Keunikan dari Candi Cetho terletak di teras ketiga, di mana terdapat tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan simbol phallus, simbol surya Majapahit, dan kura-kura raksasa. Simbol-simbol ini diduga merupakan simbol penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia. Sedangkan di teras keempat terdapat jajaran batu yang memuat relief kisah Sudhamala, yang mendasari upacara ruwatan di masyarakat Jawa.

8. MUSEUM PURBAKALA SANGIRAN 
Tahukah Anda bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu tempat munculnya peradaban manusia purba awal? Di Museum Purbakala Sangiran kita akan mendapatkan informasi lengkap mengenai hal ini. Museum ini menyimpan berbagai peninggalan arkeologis dan paleontologis yang ditemukan di Situs Kepurbakalaan Sangiran yang terletak di lembah Bengawan Solo. Tak hanya penting bagi Indonesia, UNESCO sudah mengakui bahwa kawasan Sangiran merupakan tempat penelitian kehidupan prasejarah terpenting di dunia, dan di tahun 1996 menetapkan Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia. Tidak kurang dari 13.809 fosil ditemukan di tempat ini, sejak penelitian Koeningswald yang dimulai pada tahun 1936.


Pendirian Museum Sangiran berawal dari adanya kebutuhan wisatawan yang ingin melihat fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran, yang saat itu disimpan di kediaman Bapak Toto Sumarsono. Setelah Sangiran ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada tahun 1977, di tahun 1980 mulai dibangun sebuah museum yang representatif. Adapun Museum Purbakala Sangiran yang berdiri sekarang adalah bangunan baru yang diresmikan pada tahun 2011. Museum ini sudah ditata secara modern, di mana kisah sejarah manusia purba dipaparkan secara runut dan sistematis. Di dalam museum ini dipamerkan berbagai fosil manusia purba, hewan bertulang belakang, binatang air, tumbuhan laut, serta berbagai artefak peralatan dari batu.

9. MUSEUM KERETA API AMBARAWA 
Naik kereta api, tut tut tut, siapa hendak turut! Kereta api saat ini kembali menjadi salah satu moda transportasi favorit untuk bepergian antar kota. Sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai di Semarang, dengan berdirinya Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij yang berkantor di Lawang Sewu. Tapi mengapa Museum Kereta Api-nya terletak di Ambarawa ya?


Rupanya hal ini tidak lepas dari keunikan Stasiun Ambarawa. Stasiun Ambarawa merupakan stasiun transit antara jalur kereta Semarang-Ambarawa yang menggunakan lebar rel 1435 mm, dengan jalur Ambarawa-Magelang-Yogyakarta yang menggunakan lebar rel 1067 mm. Keberadaan stasiun ini tidak lepas dari fungsi Ambarawa sebagai kota militer, di mana kereta api digunakan untuk mengangkut tentara dari Ambarawa ke Semarang. Untuk itu Raja Willem I memerintahkan membangun stasiun kereta api, yang kita kenal sebagai Stasiun Ambarawa.

Museum Kereta Api Ambarawa yang beralamat resmi di Jl. Stasiun Ambarawa No. 1, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang merupakan museum terbuka dengan koleksi utama berupa lokomotif dan perlengkapan dunia perkeretaapian. Museum ini diresmikan pada tahun 1978, dan memamerkan koleksi utama berupa 22 lokomotif uap. Di antara lokomotif yang disimpan di museum ini, 2 di antaranya merupakan lokomotif bergigi yang masih bisa berfungsi menarik gerbong wisata di jalur menanjak antara stasiun Jambu dan Bedono. Selain lokomotif, Museum Kereta Api Ambarawa juga memiliki koleksi alat-alat dari dunia kereta api, termasuk mesin pencetak tiket, alat pengatur sinyal, peluit, dan seragam petugas kereta api.

10. MUSEUM BATIK PEKALONGAN 
Pekalongan merupakan sentra batik pesisir di utara Jawa, sehingga sudah sepantasnya kota ini memiliki museum batik. Museum Batik Pekalongan terletak di Jl. Jetayu No. 1, Pekalongan, di dekat Alun-Alun yang menjadi jantung Kota Pekalongan. Menempati sebuah gedung tua peninggalan kolonial Belanda bergaya art deco, museum ini merupakan tempat kita belajar batik sekaligus belajar membatik.


Koleksi batik di Museum Batik Pekalongan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu koleksi batik pesisir, koleksi batik Nusantara, dan koleksi batik pedalaman dari Yogyakarta dan Surakarta. Di museum juga terdapat peragaan bahan-bahan pembuat batik. Sedangkan di bagian belakang museum terdapat workshop, di mana terdapat peragaan pembuatan batik. Pengunjung dapat mencoba mencanting malam ke atas kain mori, untuk merasakan sendiri bagaimana salah satu bagian dari proses membuat batik.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Utama Blog Visit Jawa Tengah 2015