Showing posts with label kota tua. Show all posts
Showing posts with label kota tua. Show all posts

Saturday, August 24, 2024

Sultan Agung vs VOC di "Kota Tahi"

Anda mungkin sering mendengar cerita pertempuran antara pasukan Mataram Islam yang dikirim Sultan Agung untuk berperan melawan VOC di Batavia yang berakhir dengan kekalahan pasukan Mataram karena dilempari tinja oleh pasukan VOC. Tapi pernahkah Anda mencari tahu, di mana persisnya lokasi pertempuran dengan amunisi aneh tersebut?

Di tanggal 11 Agustus 2024 yang lalu, Sahabat Museum melakukan Plesiran Tempo Doeloe bertajuk Koetika Kompeni Terpodjok, dengan mengunjungi bekas lokasi Fort Hollandia, sebuah bastion yang berada di ujung terluar tembok kota Batavia, yang menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Mataram dan pasukan VOC tersebut. Namun sebelum tiba di bekas lokasi Fort Hollandia, sejenak kita akan kilas balik perjalanan pasukan Mataram menuju Batavia di tahun 1628, di bawah pimpinan Ki Mandurareja. Perjalanan dari keraton Mataram di Kerto menuju Batavia memakan waktu selama 3 bulan, melalui Kulon Progo-Prembun-Pekalongan-Tegal-Cirebon-Sumedang- Cianjur-Pakuan (Bogor), untuk kemudian naik rakit menyusuri Ciliwung menuju Batavia. Tak hanya pasukan berjalan kaki, Sultan Agung juga mengirim pasukan pendahuluan melalui laut yang dipimpin Tumenggung Bahureksa. 

Di bulan Agustus 1628, pasukan Mataram telah mengepung Kota Batavia selama sebulan penuh. Pada malam tanggal 21 September 1628, para prajurit Mataram berusaha mendekati Fort Hollandia (atau lebih tepatnya Redoute Hollandia) yang merupakan pertahanan terakhir VOC. Mereka berusaha memanjat kubu atau menghancurkan tembok, serta menembaki kubu dengan bedil laras panjang. Di dalam kubu, Sersan Hans Madelijn beserta 24 serdadunya mencoba bertahan. Pihak VOC sempat kewalahan, hingga mereka kehabisan amunisi. Madelijn memiliki gagasan sinting. Ia meminta anak buahnya membawa sekeranjang penuh tinja. Dengan putus asa, pasukan VOC melemparkan kantong berisi tinja ke tubuh-tubuh prajurit Mataram yang merayapi dinding kubu Hollandia. Sekejap pasukan Mataram lari tunggang-langgang karena terkena peluru tinja tersebut. Hari berikutnya, pasukan Mataram mundur, dan serangan pun gagal. Inilah yang menjadi sumber nama “Kota Tahi”, julukan pasukan Mataram untuk kubu Hollandia.

Kisah pertempuran tersebut tercatat dalam beberapa sumber. Di antaranya adalah laporan Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen pada Dewan Hindia per 3 November 1628, Namun dalam laporan tersebut, Coen tidak menyebutkan adanya amunisi unik yang digunakan untuk menghalau pasukan Mataram. Kisah tersebut tertulis dalam sebuah buku berjudul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an Tartarischen Cham (terbit tahun 1669), serta dalam Babad Tanah Jawi. Di abad berikutnya, kisah ini juga tertulis dalam buku History of Java Volume II karya Thomas Stamford Raffles, serta dalam buku Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, yang terbit pada 1911.

Rombongan Batmus di Situs Bekas Kubu Hollandia

Lalu, di mana lokasi sesungguhnya kubu Redoute Hollandia? Napak tilas dalam Pelesiran Tempo Doeloe kali ini membawa kami menelusuri Jl. Pinangsia Timur hingga ke ujung, blusukan di antara kompleks ruko dan pemukiman padat. Di ujung timur Jl. Pinangsia Timur, dibatasi oleh aliran Sungai Ciliwung, terdapat tapak bekas kubu Hollandia. Jika dibandingkan dengan peta lama dari jaman VOC, aliran Sungai Ciliwung yang pernah membatasi kubu Hollandia masih memiliki alur dan pola yang sama dengan yang kami lihat saat ini.

Lalu, seperti apakah rupa bangunan kubu Hollandia tatkala Mataram menyerbu Batavia pada 1628? Bang Ade Purnama sebagai penggerak Sahabat Museum menunjukkan gambar bahwa terdapat 2 rujukan yang memberikan gambaran berbeda. Dalam sebuah sumber tertulis, terdapat informasi bahwa kubu tersebut berbentuk Menara dengan pagar deretan kayu berujung runcing. Rujukan lain dari peta karya Frans Florisz. van Berckenrode berangka tahun 1627) menunjukkan bahwa pertahanan di timur kota itu berupa dinding batu yang melintang dari selatan hingga ke utara.  Di masa Gubernur Jendral Johan Camphuijs, kubu tersebut pernah dimasukkan dalam daftar monumen bersejarah. Namun disayangkan, bangunan tersebut menghilang di tahun 1766.

Posisi Situs Bekas Kubu Hollandia dari arah Jembatan Manggis

Setelah mendapatkan banyak cerita tentang pertempuran prajurit Mataram dan serdadu VOC di titik yang merupakan bekas tapak kubu Hollandia, kami berjalan kaki menyeberangi Sungai Ciliwung, memasuki Jl. Manggis 1, menuju Jembatan Manggis. Dari arah Jembatan Manggis, terlihat lebih jelas bekas lokasi kubu Hollandia dari arah Sungai Ciliwung. Bisa dibayangkan, kurang lebih demikianlah sudut pandang pasukan Mataram saat mendekati kubu Hollandia untuk melakukan penyerbuan. Dan hari ini, tempat yang pernah menjadi saksi sejarah pertempuran legendaris antara Mataram dan VOC tersebut hanya menyisakan keheningan tanpa jejak.


Sunday, June 4, 2023

Waterfront Batavia Tempo Doeloe

 Hari ini, Minggu 29 Mei 2023, PTD komunitas Sahabat Museum yang kesekian kalinya, bertepatan dengan 20 tahun Sahabat Museum. Saya tertarik untuk hadir di PTD kali ini, karena kami akan eksplorasi Menara Syahbandar, Museum Bahari, tembok kota Batavia, dan juga Pelabuhan Sunda Kelapa, Yay! Kapan lagi bisa ke tempat-tempat aneh tapi rame-rame, plus dapat cerita-cerita sejarahnya?

Setelah semua berkumpul di Menara Syahbandar, kami berjalan menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Sunda Kelapa merupakan cikal bakal kota Jakarta. Kala itu Kalapa – nama aslinya – merupakan pelabuhan Kerajaan Sunda, yang direbut oleh pasukan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah. Di jaman VOC, Sunda Kelapa merupakan pintu masuk Batavia di abad ke-17.

Pelabuhan Tradisional Sunda Kelapa

Saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa dikelola oleh PT Pelindo II, dan hanya melayani kapal antar pulau. Kapal-kapal tradisional yang bersandar umumnya mengangkut barang kelontong, sembako, dan tekstil dari Jakarta, ditukar dengan kayu, rotan, dan kopra dari luar Jawa. Menurut petugas HSSE yang kebetulan kami temui, pemilik kapal-kapal kayu di Sunda Kelapa umumnya orang-orang Bugis. Kapal-kapal tradisional ini mengangkut barang ke perairan yang bisa dijangkau kapal, seperti Palembang atau Kalimantan.

Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, rombongan PTD kembali ke Menara Syahbandar, yang terletak di Jalan Pasar Ikan Nomor 1, Penjaringan, Jakarta Utara. Menara tersebut (Uitkijk Post atau Lookout Post) dibangun sekitar tahun 1839 yang berfungsi sebagai menara pemantau bagi kapal-kapal yang keluar-masuk Kota Batavia lewat jalur laut serta berfungsi kantor "pabean" Pelabuhan Sunda Kelapa.

Menara Syahbandar Yang "Baru"

Menara ini menempati bekas bastion Culemborg yang dibangun sekitar 1645, seiring pembuatan tembok Kota Batavia oleh Gubernur Jenderal Antolo van Dieman. Nama “Culemborg” merujuk tempat kelahiran Dieman. Pada awal abad ke-19, dengan perpindahan pusat Kota Batavia ke Weltevreden, tembok kota dan banteng tidak lagi diperlukan dan sebagian besar telah dibongkar, hanya menyisakan bastion Culemborg dan Zeeburg. Bastion Culemborg kemudian digunakan sebagai tempat untuk memasang alat bantu navigasi. 

Prasasti Penanda Meridian 0 Batavia

Pada tahun 1839, menara pertama dibangun memiliki tinggi sekitar 18 meter. Di bangunan ini juga pernah terdapat kronometer yang sangat akurat, untuk menentukan meridian Batavia. Penetapan garis bujur nol Batavia juga didokumentasikan dalam prasasti dengan tulisan Tionghoa, yang menyatakan bahwa berdasarkan hasil survey, tempat tersebut merupakan garis bujur nol Batavia. Titik nol meridian Batavia masih digunakan untuk memproduksi peta Indonesia sampai tahun 1942, mesikpun sejak 1883 meridian Greenwich sudah diterima secara universal sebagai meridian utama. 

Di menara ini dipasang bola waktu yang digunakan untuk menyesuaikan jam kapal dengan waktu standar, sekaligus mengkalibrasi alat yang digunakan untuk menentukan posisi kapal saat di laut. Karena menara kemudian digunakan untuk kegiatan lain, pada tahun 1850 didirikan menara sinyal yang baru setinggi 40 meter, sekaligus berfungsi sebagai menara pengamat untuk mengawasi kapal-kapal di depan pelabuhan.  

Tugu Penanda Nol Kilometer Jakarta

Di masa kemerdekaan, dilakukan penataan kembali bangunan, dan pada tanggal 7 Juli 1977, bersamaan dengan peresmian Museum Bahari, Menara Syahbandar diresmikan kembali. Saat itu juga dilakukan peresmian tugu penanda kilometer 0 Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Selama beberapa tahun, tempat ini masih digunakan sebagai penanda kilometer 0 Jakarta, sebelum pada tahun 1980 titik kilometer 0 Jakarta dipindahkan ke Monas.

Walaupun bangunan Menara Syahbandar diberitakan perlahan miring karena usia yang semakin tua, adanya penurunan muka tanah, serta getaran kendaraan berat yang melintas di Jalan Pasar ikan, namun bangunan tersebut masih cukup terawat. Peserta PTD hari ini bergantian naik tangga kayu jati yang cukup curam ke lantai 3 menara. Dari jendela-jendela pantau kita bisa memandang deretan perahu di Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari di utara, Kafe VOC yang dulunya merupakan galangan, serta pemandangan jalan raya.

Salah Satu Bagian Bekas Tembok Kota Batavia

Sebelum masuk ke Museum Bahari, kami melihat situs tembok Kota Batavia. Tembok ini semula setinggi 5 meter, namun saat ini ketinggiannya sudah berkurang karena pendangkalan/sedimentasi. Saat ini tembok yang masih tersisa adalah di Jl. Tongkol dan bagian utara tembok di dekat Museum Bahari. Keadaannya sudah parah, tak terawat, hampir roboh, dan penuh tanaman liar. Di beberapa bagian tembok terlihat lapisan keramik seperti dari dapur atau kamar mandi. Kemungkinan besar tembok ini pernah dimanfaatkan sebagai tembok pemukiman warga. 

PTD kami hari ini berakhir di Museum Bahari. Kompleks bangunan museum ini dibangun antara tahun 1652-1773. Dan berfungsi sebagai gudang komoditas VOC untuk menyimpan rempah (pala, cengkeh), kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil. Gedung yang digunakan di Museum Bahari semula adalah Gudang Barat (Westzijdsche Pakhuizen). Ketika masa pendudukan Jepang, bangunan beralih fungsi menjadi gudang logistik tentara Jepang. Setelah Indonesia Merdeka, bangunan digunakan untuk gudang PLN dan PTT. Tahun 1976, bangunan ini mengalami pemugaran, dan pada tanggal 7 Juli 1977 gedung ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sebagai Museum Bahari.

Museum Bahari

Gedung yang digunakan sebagai tempat Museum Bahari ini dibangun di atas rawa, menggunakan teknologi bangunan di Belanda pada masa itu. Seperti kita ketahui, Belanda sangat ahli dalam mengeringkan lahan dan memanfaatkannya. Tembok dibuat dari batu bata dengan tebal dinding 1 meter, karena harus memikul seluruh beban bangunan. Untuk menopang lantai dua, digunakan balok-balok kayu jati sepanjang 4 meter. 

Perahu Borobudur

Koleksi museum yang berjumlah kurang lebih 1835 koleksi sangat terkait dengan sejarah kebaharian dan kenelayanan Indonesia, termasuk perahu tradisional dan peralatan navigasi. Sayangnya sebagian koleksi ini habis terbakar pada 16 Juni 2017. Salah satu koleksi istimewa yang tak boleh dilewatkan adalah replika dari relief yang ada di candi Borobudur, yang menggambarkan perahu bercadik dengan 2 tiang layar dan konstruksi 3 kaki. Mengingat candi Borobudur dibangun pada abad ke-8 Masehi, berarti pada masa itu bangsa Indonesia sudah dapat membuat perahu yang mampu mengarungi samudra. 

Fakta menarik lain yang diungkap saat PTD hari ini, di depan Museum Bahari pernah digunakan untuk Stasiun Kleine Boom (pabean pelabuhan), dengan jalur rel yang menghubungkan tempat ini hingga Stasiun Gambir (Koningsplein). Stasiun Kleine Boom digunakan untuk lalu lintas komoditas dagang, seperti batubara, kopi, teh, dan kina. Setelah pemerintah Hindia Belanda membangun pelabuhan baru di Tanjung Priok beserta jalur rel kereta api pendukungnya, Stasiun Kleine Boom tidak digunakan lagi.


Monday, August 17, 2020

Jejak Sang Pangeran di Balai Kota Batavia

 “Aku melihatnya turun di Batavia dari kapal uap yang telah membawanya dari Semarang. Kereta gubernur dan para ajudan berada di dermaga untuk menyambutnya. Dengan kereta itulah ia diangkut ke penjara, tempat ia diasingkan, tak ada yang tahu letaknya di mana, dan sejak itu tak terdengar lagi kabar beritanya.”

George Frank Davidson menjadi saksi ketika Pangeran Diponegoro tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal 8 April 1830 menggunakan kapal uap SS Van Der Capellen yang dinahkodai oleh kakak Davidson, pasca peristiwa penangkapan oleh Jendral Hendrik Merkus Baron De Kock pada tanggal 28 Maret 1830 di Magelang. Bertolak belakang dengan catatan Davidson yang menyatakan tak ada yang tahu di mana lokasi tempat Pangeran Diponegoro diasingkan, sejarah mencatat Pangeran Diponegoro diasingkan di Stadhuis Batavia (sekarang Museum Sejarah Jakarta), di sebuah kamar yang berada di atas penjara wanita. Tidak heran Davidson tidak mengetahui di mana lokasi pengasingan Pangeran Diponegoro di Batavia, karena peristiwa kedatangan Pangeran Diponegoro di Batavia tidak diberitakan sama sekali dalam Javasche Courant (Lembaran Negara) dan koran-koran lainnya.

Suasana di kamar yang digunakan Pangeran Diponegoro

Kamar yang digunakan oleh Pangeran Diponegoro sebenarnya merupakan kamar pribadi kepala penjara Batavia, yang difungsikan sebagai kamar sementara jika ada tahanan politik yang berstatus tinggi. Seperti kita ketahui, beberapa pahlawan nasional kita juga pernah mendekam di penjara Stadhuis Batavia,  seperti Untung Suropati, Kyai Maja, dan Tjoet Nyak Dien. Namun Pangeran Diponegoro merupakan tahanan politik berstatus tinggi yang disegani oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga beliau tidak menempati penjara bawah tanah Stadhuis Batavia.

Di kamar ini Pangeran Diponegoro tinggal bersama istrinya Raden Ayu Retnoningsih, adiknya Raden Ayu Dipowiyono, iparnya Raden Tumenggung Dipowiyono, serta 16 abdi yang terdiri dari punakawan, pelayan, dan koki. Mereka menghabiskan waktu 26 hari di kamar ini, sebelum pada 30 April 1830 Gubernur Jendral Johannes Graaf Van den Bosch mengeluarkan besluit (surat keputusan) mengenai pengasingan seumur hidup Diponegoro di Sulawesi Utara. Bagi Pangeran Diponegoro, perjalanan meninggalkan Tanah Jawa menuju tempat pengasingan di Sulawesi ini mengakhiri tiga “tsunami” besar dalam kehidupannya. Tsunami pertama adalah pada tahun 1793, ketika Diponegoro keluar dari Keraton Yogyakarta dan diasuh oleh nenek buyutnya. Tsunami kedua adalah pada 20 Juli 1825, ketika kediamannya di Tegalrejo diserbu tentara Hindia Belanda. Sedangkan tsunami ketiga adalah pada 28 Maret 1830 ketika Diponegoro dikhianati dan ditangkap di Magelang.

Lukisan Kuilkorvet Pollux

Tanggal 3 Mei 1830, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya bertolak dengan Kuilkorvet Pollux menuju Manado. Setelah tiga tahun menjalani masa pengasingannya di Fort Nieuw Amsterdam, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya dipindahkan ke Fort Rotterdam Makassar, hingga akhir hayatnya pada 8 Januari 1855. Pangeran Diponegoro dimakamkan di Kampung Melayu, Makassar, di dekat makam putra keduanya, Raden Mas Sarkumo.

Sejak tahun 2018, kamar tempat pengasingan Pangeran Diponegoro tersebut ditata dengan koleksi terkait peristiwa tersebut, dan mulai tanggal 1 April 2019 kamar tersebut dibuka untuk umum. Koleksi ruangan ini ditata dengan dibantu oleh Sejarawan Peter Carey sebagai kurator. Untuk berkunjung ke Ruang Diponegoro, pengunjung harus melepas alas kaki dan menggantinya dengan sandal yang sudah disiapkan, serta jumlahnya dibatasi maksimum 20 orang dalam satu waktu. Hal ini untuk menjaga agar lantai kayu ruangan tersebut lebih awet.


Lukisan Diponegoro 

Saat menaiki tangga menuju Ruang Diponegoro, koleksi pertama yang ditemui adalah foto lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh, yang dibuat pada tahun 1857. Lukisan yang asli merupakan koleksi Istana Kepresidenan RI. Raden Saleh membuat lukisan ini setelah mendapat inspirasi dari lukisan kejadian serupa karya Pieneman dengan judul “De onderwerping van Diepo Negoro aan Luitenant-Generaal De Kock, 28 Maart 1830” (penyerahan diri Dipo Negoro kepada Letnan Jendral De Kock, 28 Maret 1830). Lukisan Pieneman ini semula dimiliki ahli waris De Kock, yang kemudian diserahkan kepada Rijksmuseum di Amsterdam.

Replika lukisan "Penangkapan Pangeran Diponegoro"

Dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang dibuat Raden Saleh, digambarkan ekspresi Pangeran Diponegoro yang sangat marah, dipertegas dengan tangan kiri yang mengepal. Di belakang Sang Pangeran, istri beliau Raden Retnaningsih terlihat menangis. Jika diperhatikan, sosok orang-orang Belanda yang ada di lukisan tersebut digambarkan memiliki kepala lebih besar dibandingkan badannya. Hal ini seolah menggambarkan mereka sebagai monster yang licik. Yang menarik, di dalam lukisannya Raden Saleh selalu menyelipkan sosok dirinya. Jika ingin tahu seperti apa wajah Raden Saleh, cari saja tiga orang anggota pasukan Belanda yang berblangkon dengan wajah yang sama, itulah wajah Raden Saleh.

Lukisan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam

Selain lukisan karya Raden Saleh yang terkenal, di ruangan ini juga terpasang foto lukisan khayali berwarna yang menggambarkan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam sedang membaca teks tentang ilmu mistik Islam (tasawuf) didampingi istri beliau Raden Ayu Retnoningsih, putri bupati Keniten (Madiun) dan seorang putra – disebut Pangeran “Ali Basah” – yang sedang melihat bayangan mahluk halus atau sedang ditegur punakawan Diponegoro, Banteng Wareng, seorang bertubuh pendek, yang bertindak sebagai tutor untuk anak Diponegoro yang lahir si Sulawesi. Lukisan ini merupakan koleksi Snouck Hurgronje, dan foto yang dipamerkan di ruangan ini berasal dari Leiden Codex Orientalis 7398 atas ijin Universitetsbibliotheek Leiden.


Aktivitas Pangeran Diponegoro di Batavia

Kamar yang digunakan Pangeran Diponegoro tidak memiliki banyak jendela, dan jendela yang ada hanya mengarah ke stadhuisplein. Dapat dibayangkan saat itu Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya hanya bisa melihat aktivitas yang terjadi di halaman depan balai kota Batavia. Konon selama di Batavia, Pangeran Diponegoro beraktivitas sambil mengunyah sirih dan minum jamu (temu lawak dan beras kencur), untuk mengatasi penyakit malaria yang dideritanya. 

Satu-satunya jendela di kamar dengan pemandangan ke stadhuisplein

Kamar ini dilengkapi dengan dipan kayu berhias kelambu, 1 set meja kerja, dan beberapa pusaka yang pernah dibawa Sang Pangeran. Benda-benda ini bukan merupakan perabot asli, hanya merupakan replika untuk menggambarkan situasi pada saat Pangeran Diponegoro mendiami kamar ini. Dapat dibayangkan ketika Pangeran Diponegoro duduk di meja kerja di ruangan ini, untuk menulis surat kepada keluarga dekatnya. Surat pertama ditujukan kepada ibunda beliau, Raden Ayu Mangkorowati, yang meminta agar ibunda beliau tidak khawatir kepada nasibnya. Sedangkan surat kedua ditujukan kepada putra sulung beliau, Pangeran Diponegoro Muda, yang berisi pesan untuk menjaga adik-adiknya.

Kehadiran Pangeran Diponegoro di Batavia diabadikan dalam sketsa pensil oleh Hakim Batavia Adrianus Johannes Bik, yang bertugas mengawasi Pangeran Diponegoro selama berada di Batavia. Bik minta ijin untuk melukis Diponegoro di sela-sela masa penahanan beliau, tak lama sebelum Diponegoro berangkat menuju Sulawesi. Bik sendiri memiliki keahlian sebagai pelukis piring porselen di Belanda, sebelum merantau ke Hindia Belanda pada tahun 1821.

Atas: foto Adrianus Johannes Bik
Bawah: lukisan Diponegoro karya Bik

Bik mencitrakan Diponegoro sebagai ulama sekaligus panglima perang. Diponegoro digambarkan mengenakan pakaian ulama selama Perang Jawa, yaitu sorban, baju koko tanpa kerah, dan jubah. Di bahu kanannya tersampir selempang, serta terselip keris pusaka Kanjeng Kiai Ageng Bondoyudo Sripaduka Petarung Tanpa Senjata pada ikat punggang yang terbuat dari bahan sutra. Diponegoro sendiri digambarkan memiliki pipi cekung akibat serangan malaria yang diperoleh saat bergerilya di daerah Bagelen dan Banyuurip pada akhir masa Perang Jawa. Lukisan ini sangat hidup sekali. Setelah Bik wafat di Amsterdam pada tahun 1872, lukisan ini dihibahkan keponakannya ke Rijkmuseum.


Friday, April 26, 2019

Mengenang "Kejayaan" Ampiun di Nusantara

Alm. Bapak pernah bercerita bahwa waktu beliau kecil dan tinggal di sekitar Cikini, ada simpangan rel dari stasiun Cikini menuju gang Ampiun. Tapi saya tak pernah melihat bukti keberadaan rel tersebut, dan saya baru faham rel apa yang beliau maksud, setelah ikut Pelesiran Tempo Doeloe (PTD) yang digagas Bang Adep di Kampus Salemba UI pada tanggal 31 Maret 2019 yang lalu.

Yang manakah saya?
(sumber foto FB Indah Fidia Kalim)
Siapa yang mengira bahwa perdagangan candu di Indonesia ternyata cukup berpengaruh pada masa kolonial Belanda, dan salah satu bekas pabriknya berada tak jauh dari kita? Opium, apiun, atau candu adalah getah bahan baku narkoba yang diperoleh dari bunga Papaver somniferum atau P. Paoniflorum (bunga poppy) yang belum matang. Tanaman opium berasal dari kawasan pegunungan Eropa Tenggara, dan dibudidayakan di pegunungan kawasan subtropis. Di Asia, tanaman opium banyak dibudidayakan di Afganistan dan "segitiga emas" Myanmar-Thailand-Laos.

Kampus Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi & Bisnis UI
yang menempati bangunan bekas pabrik opium
Orang Jawa mengenal candu sejak VOC memonopoli perdagangan candu di Nusantara, melalui perantara kaum elit Tionghoa di Jawa. Kebijakan ini tidak mengherankan, karena sampai hari ini negara Belanda masih melegalkan narkoba di lokasi tertentu dengan dosis tertentu. Bunga poppy sebagai bahan dasar candu tidak tumbuh di Jawa, sehingga diduga candu didatangkan dari Turki atau Persia. Penikmat candu meluas khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama di Kediri. Para penikmat candu mulai dari kaum bangsawan Jawa dan para elite Tionghoa, para seniman, kuli-kuli, dan para serdadu. Selain sebagai gaya hidup, candu juga digunakan untuk menikmati sensasi khayali dan mengurangi pegal-pegal di badan. Di Banten dan Preanger, jumlah pecandu tidak banyak, karena mayoritas masyarakatnya pemeluk agama Islam yang relijius.

Laboratorium Farmakokinetik Departemen Farmakologi dan Terapeutik
Fakultas Kedokteran UI yang menempati bangunan bekas pabrik opium
Sejak muncul gerakan Politik Etis di Belanda yang dipelopori C.T. van Deventer di tahun 1899, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan kebijakan untuk perbaikan kesejahteraan pribumi, termasuk pengaturan peredaran candu. Pemerintah kolonial Belanda membentuk lembaga Regie Candu yang mengendalikan peredaran candu. Selain itu semua urusan opium dipusatkan di Batavia, demikian juga pabrik opium yang semula tersebar di daerah kini dipusatkan di Batavia.

Suasana Pabrik Opium
Semula pabrik opium dibangun pada tahun 1894 di daerah Paseban dan di Meester Cornelis. Namun melonjaknya permintaan membuat kedua pabrik ini tak mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk memenuhi permintaan opium yang semakin meningkat, pada tahun 1901 pemerintah kolonial Belanda membangun pabrik opium modern di jalan raya yang menghubungkan Batavia Centrum dengan Meester Cornelis, dengan kapasitas pengolahan bahan baku 100 ton candu mentah menjadi 70 ton candu hisap. Di tahun 1914, dengan jumlah tenaga kerja menjadi 1000 orang, kapasitas produksi pabrik ini meningkat menjadi 100 ton candu hisap. Pabrik ini dilengkapi dengan jalur kereta api untuk mengangkut bahan baku opium mentah yang diimpor dari Benggala, India, serta mengangkut produk opium hisap untuk didistribusikan ke seluruh kepulauan Nusantara. Pabrik candu ini berhenti beroperasi di masa pendudukan Jepang, karena larangan perdagangan dan penggunaan opium. Pemerintah kolonial Jepang beranggapan opium dapat melemahkan rakyat Indonesia yang diharapkan dapat membantu Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya.

Kemungkinan bekas jalur rel dari pabrik opium
ke Stasiun Salemba
Di masa kini, Bang Adep dan pak Rushdy Hoesin membawa rombongan PTD ke bangunan bekas pabrik opium yang sudah menjadi bagian dari Kampus Universitas Indonesia, yang lebih dikenal sebagai Kampus Salemba 4. Sebagian besar bangunan digunakan untuk ruang kelas program pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. Di masa lalu, bangunan pabrik terdiri dari 4 baris bangunan. Yang masih terlihat hari ini adalah bangunan dengan langit-langit tinggi khas pabrik.

Bekas Stasiun Salemba

Sambil mengisahkan masa lalu pabrik opium dan sejarah berdirinya Universitas Indonesia, pak Rushdy membawa kami berkeliling Kampus Salemba 4. Salah satu tempat yang ditunjukkan adalah lokasi dekat bangunan program Magister Manajemen (MMUI) yang kemungkinan merupakan bekas jalur rel dari pabrik opium menuju Stasiun Salemba. Membicarakan pabrik candu di Kampus Salemba 4 memang tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan jalur kereta api dan Stasiun Salemba yang digunakan untuk mengangkut bahan baku dan produk opium.

Bekas pintu stasiun di dalam rumah Ibu Aliansyah
Setelah berkeliling Kampus Salemba 4, rombongan PTD kemudian menelusuri Jl. Kenari II, menuju (bekas) Stasiun Salemba. Stasiun Salemba semula merupakan stasiun sentral yang memiliki banyak cabang, namun ketika dilakukan pemindahan stasiun sentral ke Stasiun Manggarai pada tahun 1922, banyak jalur yang ditutup, menyisakan jalur Stasiun Salemba-Halte Pegangsaan yang merupakan jalur pengangkut opium. Penutupan pabrik opium di tahun 1950-an membuat jalur kereta api Stasiun Salemba ke Halte Pegangsaan tidak difungsikan lagi, dan Stasiun Salemba resmi ditutup di tahun 1981. Saat ini kita sudah tidak bisa melihat Halte Pegangsaan lagi, karena sudah digantikan dengan Stasiun Cikini. 

Jembatan Kenari
(sumber foto FB Bang Adep)
Bangunan bekas Stasiun Salemba terletak di depan sebuah mushalla, tak jauh dari Museum M. Husni Thamrin, dan sudah dibagi menjadi 4 rumah tinggal pensiunan pegawai PJKA. Kami beruntung karena Ibu Aliansyah, penghuni salah satu rumah bekas stasiun Salemba, mengijinkan untuk melihat bagian dalam rumah. Di ruang makan rumah yang mungil tersebut terlihat pintu yang jaman dulunya menuju ruang kantor. Hal menarik lainnya, lantai rumah Ibu Aliansyah masih menggunakan lantai peron orisinil, dan konon katanya sulit dibersihkan dengan pel biasa. 

Pasar Cikini Ampiun
Dari Stasiun Salemba, kami menelusuri (bekas) jalur rel antara Stasiun Salemba-Halte Pegangsaan dengan mengikuti jalan setapak dari rumah Ibu Aliansyah ke arah Gang Cikini Ampiun. Nama “Ampiun” sendiri berasal dari kata “Amfioen”, kata bahasa Belanda kuno untuk opium, komoditas yang diangkut melalui jalur tersebut. Jalur rel tersebut melintas di atas Kali Ciliwung, di atas jembatan yang dikenal sebagai Jembatan Kenari. Jalur rel tersebut berakhir di tempat yang kita kenal sebagai Pasar Cikini Ampiun.

Sunday, March 4, 2018

Romantisme Heidelbeg

Heidelberg. Nama yang pertama kali saya dengar di era 1990-an, dalam sebuah lagi instrumental dari album keempat KLa Project yang dirilis tahun 1994. What's so special with this place?

Landmark Kota Heidelberg
Pertanyaan itu akhirnya terjawab 23 tahun kemudian, ketika di pertengahan musim panas tahun 2017 saya berkesempatan menginjakkan kaki ke Heidelberg. Heidelberg merupakan kota pelajar tertua di Jerman. Kota yang terletak 78 km di sisi selatan Frankfurt ini merupakan rumah dari Ruprecht-Karls Universitat Heidelberg yang didirikan pada tahun 1386 dan merupakan universitas tertua di Jerman. Namun daya tarik utama Heidelberg adalah peninggalan tata kota dan arsitektur antik dari masa Romantik di abad ke-19 yang masih tetap terjaga. Ini dimungkinkan karena Heidelberg nyaris tak tersentuh keganasan Perang Dunia II. Banyak teori yang mengatakan hal ini terjadi karena Heidelberg merupakan markas kekuatan Amerika di Eropa, sehingga lolos dari target pemboman Sekutu.

University of Heidelberg Lama di Tengah Kota Tua
Setelah semalam beristirahat melepas penat sisa perjalanan panjang dari Berlin, pukul 10.30 kami berangkat dari penginapan. Tujuan kami adalah stasiun Heidelberger Bergbahn untuk menaiki kereta yang akan membawa kami ke Heidelberger Schloss (kastil Heidelberg). Perjalanan dari penginapan kami tempuh menggunakan trem sampai Bismarck Platz, dilanjutkan dengan bis menuju Kornmarkt, di mana stasiun Heidelberger Bergbahn berada. Melalui kontur jalan menanjak melintasi daerah berbukit-bukit, tepat jam 11 kami tiba di Kornmarkt, dan bergegas mengantri di stasiun Heidelberger Bergbahn, menunggu jadwal keberangkatan kereta berikutnya. Kereta yang akan membawa kastil ini bukan kereta api biasa yang ditarik lokomotif, melainkan kereta yang ditarik dengan kabel (funicular), dengan sudut tanjakan mencapai 43%. Kereta ini telah beroperasi sejak tahun 1890, namun saat ini masih terawat dan beroperasi dengan baik. Barangkali inilah salah satu bukti kecanggihan teknologi Jerman yang bertahan seiring berjalannya waktu.

Kereta Funicular Yang Membawa Kami ke Kastil
Kurang lebih pukul 12, kereta yang membawa kami berhenti di stasiun Heidelberg Schloss. Saat keluar dari stasiun, dari kejauhan terlihat reruntuhan kastil Heidelberg. Dengan ketinggian 80 meter di atas sungai Neckar di atas tebing bukit Konigstuhl , reruntuhan kastil Heidelberg mendominasi wajah kota Heidelberg. Kastil ini memiliki gaya arsitektur campuran jaman Gothic dan jaman Renaissance.  Keberadaan kastil ini telah diketahui sejak tahun 1155, sekaligus sebagai penanda kelahiran dinasti Palatine di Heidelberg. Pada awal pembangunannya, kastil ini berfungsi sebagai benteng pertahanan. Kastil baru digunakan sebagai tempat tinggal sejak masa pemerintahan Pangeran Ruprecht III di tahun 1398.


Salah Satu Sudut Kastil Heidelberg
Sejak didirikan, kastil Heidelberg telah menjadi  saksi kekuasaan dinasti Palatine, serta beberapa kali mengalami kehancuran akibat perang atau kebakaran. Kerusakan terparah terjadi ketika kastil terbakar akibat sambaran petir di tahun 1764. Sejak saat itu kastil Heidelberg terbengkalai, bahkan batu-batunya dijarah dan dijadikan bahan pembuatan rumah-rumah modern. Namun pada tahun 1810, Count Charles de Graimberg menghentikan hal tersebut, dan kemudian menjadikan kastil Heidelberg sebagai cagar budaya. Beruntung Count de Graimberg mengambil tindakan ini, jika tidak, kastil Heidelberg barangkali hanya tinggal nama.

Salah Satu Sudut Kastil Heidelberg
Setelah melihat sisa-sisa reruntuhan kastil, kami masuk ke halaman dalam kastil dan menuju The German Pharmacy Museum. Museum ini menempati gedung Ottheinrichsbau, sebuah bangunan bergaya Renaissance yang didirikan antara tahun 1556-1566 atas perintah Pangeran Otto Heinrich. Koleksi museum terdiri dari benda-benda terkait sejarah dunia farmasi dan apotik di dunia, termasuk diorama ruang farmasi, laboratorium, buku farmakope, manuskrip, peralatan pembuatan obat, serta berbagai jenis obat-obatan dari abad 17-19. Dari isi museum tersebut, terbayang bagaimana perkembangan ilmu pengobatan dan industri obat sejak awal peradaban manusia hingga abad 19. Seandainya waktu kami cukup banyak, bisa jadi kami akan menghabiskan waktu seharian di dalam museum untuk mempelajari isi museum.

The German Pharmacy Museum
Kurang lebih di seberang Museum Farmasi, terdapat sebuah restoran yang menempati ruang bawah tanah kastil. Di dalam restoran tersebut terdapat tong anggur raksasa yang disebut Heidelberg Tun. Tong anggur ini diklaim sebagai tong anggur terbesar di dunia. Tong dengan tinggi 7 meter, lebar 8,5 meter dan berkapasitas 219.000 liter tersebut dibuat pada tahun 1751 atas perintah Pangeran Karl Theodor, untuk menampung anggur yang diserahkan para petani anggur di Palatine sebagai pembayaran upeti. Saat ini tong tersebut tidak digunakan untuk menyimpan anggur, dan lebih berfungsi sebagai obyek foto-foto.

Heidelberg Tun
Pukul 14.00, kami kembali ke stasiun Heidelberg Schloss, menaiki kereta kabel kembali ke Kornmarkt. Dari Kornmarkt, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Markplatz (Market Square), yang merupakan jantung dari Heidelberg Altstadt (kota tua Heidelberg). Markplatz ditandai dengan Heiliggeistkirche (Church of The Holy Ghost) di sisi barat, dan Balai Kota di sisi timur, serta Herkulesbrunnen atau air mancur Hercules. Sejak abad pertengahan, tempat ini merupakan pusat kegiatan di Heidelberg, termasuk untuk pasar, sekaligus tempat pemberian hukuman penjahat dan orang-orang yang dituduh sebagai penyihir.

Church of The Holy Ghost, Dilihat Dari Kastil Heidelberg
Daerah paling populer dari Altstadt adalah Hauptstrasse atau Main Street, sebuah jalur sepanjang 1,6 kilometer yang membentang sepanjang Altstadt dari Markplatz hingga ke Bismarck Platz. Tempat ini merupakan pedestrian paling panjang di Jerman. Di sepanjang jalur terdapat toko-toko souvenir, toko-toko barang bermerk seperti yang sering kita temukan di pusat perbelanjaan internasional, beer garden, dan restoran. Toko-toko ini menempati bangunan-bangunan kuno bergaya renaissance, dan hampir di setiap sudut jalanan terdapat bangunan dengan ornamen arsitektur menarik yang sayang untuk dilewatkan. Inilah yang membuat romantisme kota ini sulit ditandingi. Namun demikian, selama berjalan kaki melintasi Hauptstrasse, kami pun harus memegang erat-erat dompet, dan menguatkan tekad untuk melawan godaan berbelanja barang-barang lucu di toko-toko sepanjang Hauptstrasse.

Salah Satu Sudut Hauptstrasse
Sebelum menelusuri Hauptstrasse, kami menyempatkan diri berfoto di Karl Theodor Brucke, salah satu landmark Heidelberg lainnya. Jembatan kuno sepanjang 200 meter ini melintasi sungai Neckar dan menghubungkan Heidelberg Altstadt dengan Neunheim di seberang sungai. Bangunan jembatan ini memilki sejarah yang sama panjangnya dengan kastil Heidelberg. Pertama kali dibangun pada tahun 1248, jembatan ini beberapa kali dibangun dan bangunan yang saat ini berdiri merupakan bangunan kesembilan yang dibangun pada tahun 1788. Salah satu penanda jembatan tua ini adalah Bruckentor atau gerbang menara batu di sisi selatan, yang bentuknya menyerupai roket kembar. Sebagai pendamping, di sisi barat jembatan tua ini telah ditambahkan jembatan baru, yang menghubungkan antara Bismarkplatz dengan Neunheim.

Karl Theodor Brucke

Bruckentor
Sehari menjelajahi beberapa landmark di Heidelberg dan mengetahui berbagai kisah yang melatarbelakangi landmark tersebut, saya akhirnya memahami emosi yang ingin disampaikan KLa Project melalui lagu Heidelbeg ’92. Emosi tentang keagungan sebuah wilayah yang memiliki sejarah demikian panjang. Emosi tentang romantisme yang terkandung di setiap sudut kota. Dan emosi yang timbul, ketika upaya mempertahankan bukti sejarah panjang yang berpadu dengan atmosfer romantis telah memberikan hasil yang sepadan bagi kelangsungan Kota Heidelbeg. Tak ingin rasanya cepat pergi dari kota ini, dan semoga romantisme Heidelberg tak akan lekang dimakan oleh waktu.

Saturday, July 4, 2015

10 Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya Favorit di Jawa Tengah

Anda pecinta wisata sejarah dan budaya? Jawa Tengah adalah tempat yang tepat dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Jawa Tengah merupakan tempat asal muasal manusia Jawa. Jawa Tengah juga merupakan pusat peradaban sejak masa silam yang menjadi pusat perkembangan budaya manusia. Inilah mengapa di Jawa Tengah Anda bisa menemukan berbagai ragam destinasi wisata sejarah dan budaya yang menarik. Banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di Jawa Tengah, sehingga begitu banyak peninggalan sejarah yang kemudian dijadikan destinasi wisata. Demikian juga dengan budaya, begitu banyak kekayaan budaya di Jawa Tengah yang dijadikan destinasi wisata, baik budaya khas Jawa Tengah, maupun budaya-budaya lokal yang telah menyerap berbagai pengaruh dari luar.

Apa saja destinasi wisata sejarah dan budaya favorit Jawa Tengah? Inilah 10 destinasi wisata sejarah dan budaya favorit Jawa Tengah versi saya!

 1. CANDI BOROBUDUR
Tak ada yang memungkiri Borobudur adalah destinasi wisata budaya paling top di Jawa Tengah. Candi Buddha terbesar di dunia ini terletak di Muntilan, Magelang. Didirikan pada abad ke 8-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra dari kerajaan Mataram Kuno, saat ini Candi Borobudur sudah diakui UNESCO sebagai salah satu Situs Warisan Dunia.


Keunikan dari Candi Borobudur adalah bangunannya dibuat menutupi sebuah bukit alam. Candi ini juga dilengkapi dengan deretan relief yang jika dijajarkan, panjangnya mencapai 3000 meter. Relief-relief ini terdiri dari kisah Sang Budha, berbagai ajaran sang Budha dari India, serta gambaran kehidupan masyarakat Jawa pada masa itu. Relief yang ada di candi Borobudur diakui sebagai relief yang paling elegan dan anggun di antara karya seni berlanggam Buddha lainnya.

Saat ini Candi Borobudur masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan. Setiap tahunnya umat Buddha dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Candi Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Lengkapi kunjungan ke Candi Borobudur dengan mengunjungi Candi Mendut dan Candi Pawon, yang merupakan bagian dari prosesi para biksu dalam memperingati Hari Raya Waisak. Tak lupa singgah juga di Vihara Mendut untuk melihat rupang Sleeping Buddha di halaman depan vihara.

 2. LAWANG SEWU 
Bangunan antik yang terletak di depan Tugu Muda, Kota Semarang ini memiliki begitu banyak pintu, sehingga diberi nama “Lawang Sewu”. Sejarah bangunan ini terkait erat dengan sejarah kereta api di Indonesia. Bangunan ini dibuat pada tahun 1904, dan pada awalnya digunakan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api yang menjadi cikal bakal perusahaan kereta api di Indonesia.


Dengan bentuknya yang unik, Lawang Sewu sering digunakan sebagai tempat pameran atau dijadikan lokasi syuting film. Banyak spot-spot foto yang menarik di tempat ini, salah satunya adalah jendela di antara tangga yang dihiasi kaca patri warna warni. Namun tempat yang paling membuat penasaran adalah ruang bawah tanah yang dibangun pada tahun 1916. Awalnya ruang bawah tanah ini digunakan sebagai penampung air, khususnya karena Kota Semarang rawan banjir. Namun saat Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang di tahun 1942, ruangan ini digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan. Oleh karena lokasinya yang wingit, banyak yang melakukan “Uji Nyali” di tempat ini.

 3. LITTLE NEDERLAND 
Jalan-jalan ke Semarang, jangan lewatkan untuk melihat Kawasan Kota Tua Semarang, atau dikenal sebagai Little Nederland. Di kawasan seluas 30 hektar yang terletak di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara ini terdapat bangunan-bangunan antik yang mendapat pengaruh gaya bangunan Eropa. Karena dikelilingi jalan satu arah, untuk bisa menikmati keindahan bangunan di kawasan ini sebaiknya kita masuk melalui Jl. Merak, kemudian lanjut ke Jl.Cendrawasih, dan berbelok kanan ke Jl. Dr. Suprapto.

Di antara bangunan-bangunan antik yang terdapat di Little Nederland, terdapat beberapa bangunan yang cukup menonjol dan menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. Di antaranya adalah Marabunta Gedung Multiguna, replika dari gedung pertunjukan Komedi Stadschouwburg. Gedung yang dicirikan dengan patung semut raksasa di atas atapnya ini terkenal karena pernah menjadi tempat pementasan Mata Hari, seorang penari eksotis berkebangsaan Belanda yang menjadi mata-mata Jerman pada Perang Dunia I.


Ikon Kawasan Kota Tua Semarang adalah Gereja Blenduk. Bangunan dengan nama resmi GPIB Immanuel ini memiliki ciri khas atap berbentuk kubah, yang dalam bahasa Jawa disebut “blenduk”. Dari bangunan-bangunan di Kawasan Kota Tua, Gereja Blenduk merupakan bangunan yang paling terawat. Di dalam bangunan gereja, kita bisa melihat orgel antik yang diletakkan di atas balkon. Sayang orgel ini sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

 4. SAM POO KONG 
Semarang dikenal sebagai kota 1001 klenteng, karena kota ini memiliki kutur budaya etnis Tionghoa yang begitu kuat. Di antara klenteng-klenteng yang tersebar di seluruh Kota Semarang, terdapat sebuah klenteng yang unik dan menjadi ikon Kota Semarang, yaitu Klenteng Sam Poo Kong yang terletak di Jl. Simongan, Bongsari.

Klenteng Sam Poo Kong merupakan petilasan Laksamana Cheng Ho, seorang laksamana muslim kepercayaan Kaisar Tiongkok, yang memimpin ekspedisi kekaisaran Tiongkok ke Nusantara di awal abad ke-15. Klenteng ini didirikan oleh anak buang Cheng Ho di Semarang sebagai penghormatan kepada Cheng Ho yang dianggap telah berjasa dalam memimpin anak buahnya selama melakukan ekspedisi. Klenteng ini dikenal sebagai Gedung Batu, karena bangunan utamanya berbentuk gua batu besar yang diyakini merupakan tempat pendaratan ekspedisi Cheng Ho di Jawa. Di dalam gua ini terdapat patung Sam Poo Tay Djien, yang dianggap sebagai perwujudan Laksamana Cheng Ho.


Selain Gedung Batu, Klenteng Sam Poo Kong dilengkapi dengan berbagai bangunan yang menjadi tempat ibadah. Berbeda dengan klenteng pada umumnya, bangunan-bangunan di kompleks Klenteng Sam Poo Kong dibuat dengan arsitektur perpaduan antara gaya arsitektur Tiongkok dan Jawa. Uniknya, bangunan terbesar di kompleks klenteng ini dibangun dengan menghadap ke arah kiblat. Di tempat ini juga terdapat Anjungan Kyai Djangkar, di mana terdapat sebuah jangkar yang dipercaya merupakan jangkar dari kapal yang digunakan Laksamana Cheng Ho untuk melakukan ekspedisi ke Nusantara.

5. CANDI GEDONG SONGO
Kompleks Candi Gedong Songo terletak di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Nama “Gedong Songo” menunjukkan bahwa kompleks candi ini terdiri dari 9 bangunan yang tersebar di lereng Gunung Ungaran, di antara hutan pinus dan perkebunan sayur milik masyarakat, memberikan panorama yang unik sekaligus indah yang jarang ditemukan di tempat lain.


Tidak ada catatan atau prasasti yang menunjukkan secara pasti kapan Kompleks Candi Gedong Songo dibangun. Namun berdasarkan hasil penelitian para ahli, kompleks percandian ini dibangun pada masa yang sama dengan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng, dari masa Dinasti Sanjaya di Mataram Kuno. Diperkirakan Candi Gedong Songo merupakan bangunan agama Hindu tertua di Jawa, lebih tua dibandingkan Candi Borobudur dan Prambanan.

Untuk melihat seluruh bangunan candi yang tersebar, terdapat jalan setapak sepanjang 4 kilometer yang mengelilingi kompleks percandian. Jalan setapak ini melewati daerah perbukitan dengan kontur naik turun, dan sepanjang jalan kita bisa menikmati panorama Gunung Ungaran yang asri. Jika Anda merasa tidak kuat atau memiliki waktu yang terbatas, manfaatkan jasa transportasi kuda untuk berkeliling kompleks bangunan candi.

6. KAMPUNG BATIK LAWEYAN 
Mengunjungi Solo, jangan lupa mampir ke Kampung Batik Laweyan. Kawasan sentra batik ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Pajang di tahun 1546 Masehi. Kampung batik ini juga merupakan salah satu saksi bisu gerakan perjuangan bangsa Indonesia, ketika organisasi Sarekat Dagang Islam (cikal bakal organisasi Sarekat Islam) didirikan oleh Haji Samanhudi di Solo pada tahun 1905.


Kampung Batik Laweyan menempati wilayah seluas 24 hektar yang menampung ratusan pengrajin batik. Batik yang dijual di tempat ini umumnya batik dengan motif khas Solo, seperti Tirto Tejo dan Truntum. Selain menjual kain, toko-toko di kawasan ini juga menjual pakaian jadi dalam berbagai model dan kualitas. Beberapa toko memiliki workshop, di mana Anda bisa melihat proses pembuatan batik tulis dan batik cap oleh para pengrajin batik. Tak hanya melihat batik, Anda juga bisa melakukan “blusukan” untuk melihat rumah-rumah khas Jawa tempo doeloe.

7. CANDI CETHO 
Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, di ketinggian 1400 meter dpl. Nama “Cetho”dalam bahasa Jawa berarti “jelas”, dan nama ini diberikan karena dari tempat ini dapat terlihat pemandangan ke berbagai arah dengan jelas. Dari hasil penelitian para ahli, diketahui Candi Cetho merupakan candi bercorak Hindu, dan berasal dari masa akhir kerajaan Majapahit di abad ke-15. Sampai saat ini candi ini masih digunakan untuk beribadah oleh penduduk setempat yang memeluk agama Hindu.


Saat penggalian, diketahui kompleks Candi Cetho berbentuk seperti punden berundak yang terdiri dari 14 teras bertingkat. Dari 14 tingkat tersebut, hanya 9 teras yang dipugar, seperti yang terlihat saat ini. Keunikan dari Candi Cetho terletak di teras ketiga, di mana terdapat tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan simbol phallus, simbol surya Majapahit, dan kura-kura raksasa. Simbol-simbol ini diduga merupakan simbol penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia. Sedangkan di teras keempat terdapat jajaran batu yang memuat relief kisah Sudhamala, yang mendasari upacara ruwatan di masyarakat Jawa.

8. MUSEUM PURBAKALA SANGIRAN 
Tahukah Anda bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu tempat munculnya peradaban manusia purba awal? Di Museum Purbakala Sangiran kita akan mendapatkan informasi lengkap mengenai hal ini. Museum ini menyimpan berbagai peninggalan arkeologis dan paleontologis yang ditemukan di Situs Kepurbakalaan Sangiran yang terletak di lembah Bengawan Solo. Tak hanya penting bagi Indonesia, UNESCO sudah mengakui bahwa kawasan Sangiran merupakan tempat penelitian kehidupan prasejarah terpenting di dunia, dan di tahun 1996 menetapkan Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia. Tidak kurang dari 13.809 fosil ditemukan di tempat ini, sejak penelitian Koeningswald yang dimulai pada tahun 1936.


Pendirian Museum Sangiran berawal dari adanya kebutuhan wisatawan yang ingin melihat fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran, yang saat itu disimpan di kediaman Bapak Toto Sumarsono. Setelah Sangiran ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada tahun 1977, di tahun 1980 mulai dibangun sebuah museum yang representatif. Adapun Museum Purbakala Sangiran yang berdiri sekarang adalah bangunan baru yang diresmikan pada tahun 2011. Museum ini sudah ditata secara modern, di mana kisah sejarah manusia purba dipaparkan secara runut dan sistematis. Di dalam museum ini dipamerkan berbagai fosil manusia purba, hewan bertulang belakang, binatang air, tumbuhan laut, serta berbagai artefak peralatan dari batu.

9. MUSEUM KERETA API AMBARAWA 
Naik kereta api, tut tut tut, siapa hendak turut! Kereta api saat ini kembali menjadi salah satu moda transportasi favorit untuk bepergian antar kota. Sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai di Semarang, dengan berdirinya Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij yang berkantor di Lawang Sewu. Tapi mengapa Museum Kereta Api-nya terletak di Ambarawa ya?


Rupanya hal ini tidak lepas dari keunikan Stasiun Ambarawa. Stasiun Ambarawa merupakan stasiun transit antara jalur kereta Semarang-Ambarawa yang menggunakan lebar rel 1435 mm, dengan jalur Ambarawa-Magelang-Yogyakarta yang menggunakan lebar rel 1067 mm. Keberadaan stasiun ini tidak lepas dari fungsi Ambarawa sebagai kota militer, di mana kereta api digunakan untuk mengangkut tentara dari Ambarawa ke Semarang. Untuk itu Raja Willem I memerintahkan membangun stasiun kereta api, yang kita kenal sebagai Stasiun Ambarawa.

Museum Kereta Api Ambarawa yang beralamat resmi di Jl. Stasiun Ambarawa No. 1, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang merupakan museum terbuka dengan koleksi utama berupa lokomotif dan perlengkapan dunia perkeretaapian. Museum ini diresmikan pada tahun 1978, dan memamerkan koleksi utama berupa 22 lokomotif uap. Di antara lokomotif yang disimpan di museum ini, 2 di antaranya merupakan lokomotif bergigi yang masih bisa berfungsi menarik gerbong wisata di jalur menanjak antara stasiun Jambu dan Bedono. Selain lokomotif, Museum Kereta Api Ambarawa juga memiliki koleksi alat-alat dari dunia kereta api, termasuk mesin pencetak tiket, alat pengatur sinyal, peluit, dan seragam petugas kereta api.

10. MUSEUM BATIK PEKALONGAN 
Pekalongan merupakan sentra batik pesisir di utara Jawa, sehingga sudah sepantasnya kota ini memiliki museum batik. Museum Batik Pekalongan terletak di Jl. Jetayu No. 1, Pekalongan, di dekat Alun-Alun yang menjadi jantung Kota Pekalongan. Menempati sebuah gedung tua peninggalan kolonial Belanda bergaya art deco, museum ini merupakan tempat kita belajar batik sekaligus belajar membatik.


Koleksi batik di Museum Batik Pekalongan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu koleksi batik pesisir, koleksi batik Nusantara, dan koleksi batik pedalaman dari Yogyakarta dan Surakarta. Di museum juga terdapat peragaan bahan-bahan pembuat batik. Sedangkan di bagian belakang museum terdapat workshop, di mana terdapat peragaan pembuatan batik. Pengunjung dapat mencoba mencanting malam ke atas kain mori, untuk merasakan sendiri bagaimana salah satu bagian dari proses membuat batik.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Utama Blog Visit Jawa Tengah 2015

Tuesday, July 23, 2013

Menikmati “Little Nederland” di Semarang



Semarang, ibu Kota provinsi Jawa Tengah. Kota tua di pantai utara Jawa ini tumbuh seiring dengan majunya perdagangan komoditas perkebunan di masa kolonial Belanda. Perkembangannya didukung dengan pembangunan De Grote Postweg di awal abad 19 yang membentang antara Anyer hingga Panarukan, melewati Semarang.

Sebagai salah satu pusat perdagangan VOC di pantai utara Jawa, tak mengherankan jika Semarang memiliki berbagai peninggalan arsitektur dari masa kolonial Belanda, yang terkonsentrasi di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara. Kawasan yang dikenal dengan nama “Outstadt” ini dipenuhi dengan bangunan bergaya arsitektur khas Eropa, yang mengingatkan sebagian orang dengan suasana negeri Belanda di masa lalu. Tak heran jika Kawasan Kota Tua ini kemudian dijuluki “Little Nederland”.

Titik awal untuk masuk ke kawasan “Little Nederland” adalah Stasiun Semarang Tawang. Stasiun Induk Kota Semarang ini merupakan stasiun kereta api besar tertua di Indonesia, setelah Stasiun Semarang Gudang (yang saat ini sudah tidak berfungsi). Stasiun Tawang mulai digunakan sejak 1868, namun bangunan yang sekarang terlihat adalah bangunan hasil renovasi tahun 1911. Di depan stasiun Tawang terdapat kolam penampungan air atau Polder Tawang, yang berfungsi untuk mengatur sirkulasi air di Semarang, terutama saat terjadi banjir rob yang sering melanda kawasan Semarang Utara.

Stasiun Tawang dilihat dari seberang Polder Tawang

Dari Stasiun Tawang, Anda bisa masuk melalui Jl. Merak atau Jl. Cendrawasih. Jika melalui Jl. Cendrawasih, Anda akan menemui Gedung Marabunta. Ciri gedung ini adalah dua buah patung semut Marabunta (semut merah raksasa) yang terletak di atap gedung.  Bangunan ini adalah replika gedung Komedi Stadschouwburg, yang semula berdiri di atas lahan yang sama. Gedung Komedi Stadschouwburg menjadi terkenal karena pernah menjadi tempat pementasan Mata Hari, seorang penari eksotis berkebangsaan Belanda yang dituduh menjadi mata-mata Jerman pada Perang Dunia I. Jika Anda masuk ke dalamnya terasa seperti memasuki lorong waktu, karena interior bangunan masih mempertahankan interior asli gedung Komedi Stadschouwburg, terutama bagian lantai dan langit-langitnya yang masih terbuat dari kayu.

Gedung Marabunta
 Sebelum berbelok Jl. Letjen Suprapto, Anda akan melihat satu-satunya toko oleh-oleh di kawasan Kota Tua Semarang, yaitu Wingko Babat Cap Kereta Api. Walau dikenal sebagai oleh-oleh khas Semarang, wingko yang terbuat dari kelapa ini sebenarnya berasal dari Kota Babat, Jawa Timur. Wingko Babat Cap Kereta Api merupakan produsen wingko pertama di Semarang, yang didirikan oleh Loe Lan Hwa dan The Ek Tjong. Di toko Wingko Babat Cap Kereta Api, selain membeli wingko, Anda bisa membeli oleh-oleh khas Semarang lainnya.

Wingko Babat Cap Kereta Api


Lanjutkan perjalanan Anda menelusuri Jl. Letjen Suprapto menuju Gereja Blenduk. Ikon Little Nederland dengan nama resmi Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel ini tidak memiliki pagar, sehingga seolah menyatu dengan lingkungan di sekitarnya. Bangunan beratap kubah yang kita lihat sekarang merupakan hasil renovasi pada tahun 1895, dengan gaya arsitektur Pseudo Baroque. Gereja ini masih berfungsi sebagai rumah ibadah. Di luar jam-jam ibadah, Anda bisa melihat ke dalam dengan meminta tolong kepada petugas, dan membayar biaya kebersihan sebesar Rp 10.000 per orang. Namun jika Anda tidak ingin masuk, menikmati suasana sejuk di Taman Srigunting yang terletak bersebelahan dengan Gereja Blenduk pun sudah cukup menarik.

Gereja Blenduk


Tulisan ini disertakan dalam http://www.voucherhotel.com/travel/kontes/