Showing posts with label #MuseumGoers. Show all posts
Showing posts with label #MuseumGoers. Show all posts

Monday, August 17, 2020

Jejak Sang Pangeran di Balai Kota Batavia

 “Aku melihatnya turun di Batavia dari kapal uap yang telah membawanya dari Semarang. Kereta gubernur dan para ajudan berada di dermaga untuk menyambutnya. Dengan kereta itulah ia diangkut ke penjara, tempat ia diasingkan, tak ada yang tahu letaknya di mana, dan sejak itu tak terdengar lagi kabar beritanya.”

George Frank Davidson menjadi saksi ketika Pangeran Diponegoro tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal 8 April 1830 menggunakan kapal uap SS Van Der Capellen yang dinahkodai oleh kakak Davidson, pasca peristiwa penangkapan oleh Jendral Hendrik Merkus Baron De Kock pada tanggal 28 Maret 1830 di Magelang. Bertolak belakang dengan catatan Davidson yang menyatakan tak ada yang tahu di mana lokasi tempat Pangeran Diponegoro diasingkan, sejarah mencatat Pangeran Diponegoro diasingkan di Stadhuis Batavia (sekarang Museum Sejarah Jakarta), di sebuah kamar yang berada di atas penjara wanita. Tidak heran Davidson tidak mengetahui di mana lokasi pengasingan Pangeran Diponegoro di Batavia, karena peristiwa kedatangan Pangeran Diponegoro di Batavia tidak diberitakan sama sekali dalam Javasche Courant (Lembaran Negara) dan koran-koran lainnya.

Suasana di kamar yang digunakan Pangeran Diponegoro

Kamar yang digunakan oleh Pangeran Diponegoro sebenarnya merupakan kamar pribadi kepala penjara Batavia, yang difungsikan sebagai kamar sementara jika ada tahanan politik yang berstatus tinggi. Seperti kita ketahui, beberapa pahlawan nasional kita juga pernah mendekam di penjara Stadhuis Batavia,  seperti Untung Suropati, Kyai Maja, dan Tjoet Nyak Dien. Namun Pangeran Diponegoro merupakan tahanan politik berstatus tinggi yang disegani oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga beliau tidak menempati penjara bawah tanah Stadhuis Batavia.

Di kamar ini Pangeran Diponegoro tinggal bersama istrinya Raden Ayu Retnoningsih, adiknya Raden Ayu Dipowiyono, iparnya Raden Tumenggung Dipowiyono, serta 16 abdi yang terdiri dari punakawan, pelayan, dan koki. Mereka menghabiskan waktu 26 hari di kamar ini, sebelum pada 30 April 1830 Gubernur Jendral Johannes Graaf Van den Bosch mengeluarkan besluit (surat keputusan) mengenai pengasingan seumur hidup Diponegoro di Sulawesi Utara. Bagi Pangeran Diponegoro, perjalanan meninggalkan Tanah Jawa menuju tempat pengasingan di Sulawesi ini mengakhiri tiga “tsunami” besar dalam kehidupannya. Tsunami pertama adalah pada tahun 1793, ketika Diponegoro keluar dari Keraton Yogyakarta dan diasuh oleh nenek buyutnya. Tsunami kedua adalah pada 20 Juli 1825, ketika kediamannya di Tegalrejo diserbu tentara Hindia Belanda. Sedangkan tsunami ketiga adalah pada 28 Maret 1830 ketika Diponegoro dikhianati dan ditangkap di Magelang.

Lukisan Kuilkorvet Pollux

Tanggal 3 Mei 1830, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya bertolak dengan Kuilkorvet Pollux menuju Manado. Setelah tiga tahun menjalani masa pengasingannya di Fort Nieuw Amsterdam, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya dipindahkan ke Fort Rotterdam Makassar, hingga akhir hayatnya pada 8 Januari 1855. Pangeran Diponegoro dimakamkan di Kampung Melayu, Makassar, di dekat makam putra keduanya, Raden Mas Sarkumo.

Sejak tahun 2018, kamar tempat pengasingan Pangeran Diponegoro tersebut ditata dengan koleksi terkait peristiwa tersebut, dan mulai tanggal 1 April 2019 kamar tersebut dibuka untuk umum. Koleksi ruangan ini ditata dengan dibantu oleh Sejarawan Peter Carey sebagai kurator. Untuk berkunjung ke Ruang Diponegoro, pengunjung harus melepas alas kaki dan menggantinya dengan sandal yang sudah disiapkan, serta jumlahnya dibatasi maksimum 20 orang dalam satu waktu. Hal ini untuk menjaga agar lantai kayu ruangan tersebut lebih awet.


Lukisan Diponegoro 

Saat menaiki tangga menuju Ruang Diponegoro, koleksi pertama yang ditemui adalah foto lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh, yang dibuat pada tahun 1857. Lukisan yang asli merupakan koleksi Istana Kepresidenan RI. Raden Saleh membuat lukisan ini setelah mendapat inspirasi dari lukisan kejadian serupa karya Pieneman dengan judul “De onderwerping van Diepo Negoro aan Luitenant-Generaal De Kock, 28 Maart 1830” (penyerahan diri Dipo Negoro kepada Letnan Jendral De Kock, 28 Maret 1830). Lukisan Pieneman ini semula dimiliki ahli waris De Kock, yang kemudian diserahkan kepada Rijksmuseum di Amsterdam.

Replika lukisan "Penangkapan Pangeran Diponegoro"

Dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang dibuat Raden Saleh, digambarkan ekspresi Pangeran Diponegoro yang sangat marah, dipertegas dengan tangan kiri yang mengepal. Di belakang Sang Pangeran, istri beliau Raden Retnaningsih terlihat menangis. Jika diperhatikan, sosok orang-orang Belanda yang ada di lukisan tersebut digambarkan memiliki kepala lebih besar dibandingkan badannya. Hal ini seolah menggambarkan mereka sebagai monster yang licik. Yang menarik, di dalam lukisannya Raden Saleh selalu menyelipkan sosok dirinya. Jika ingin tahu seperti apa wajah Raden Saleh, cari saja tiga orang anggota pasukan Belanda yang berblangkon dengan wajah yang sama, itulah wajah Raden Saleh.

Lukisan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam

Selain lukisan karya Raden Saleh yang terkenal, di ruangan ini juga terpasang foto lukisan khayali berwarna yang menggambarkan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam sedang membaca teks tentang ilmu mistik Islam (tasawuf) didampingi istri beliau Raden Ayu Retnoningsih, putri bupati Keniten (Madiun) dan seorang putra – disebut Pangeran “Ali Basah” – yang sedang melihat bayangan mahluk halus atau sedang ditegur punakawan Diponegoro, Banteng Wareng, seorang bertubuh pendek, yang bertindak sebagai tutor untuk anak Diponegoro yang lahir si Sulawesi. Lukisan ini merupakan koleksi Snouck Hurgronje, dan foto yang dipamerkan di ruangan ini berasal dari Leiden Codex Orientalis 7398 atas ijin Universitetsbibliotheek Leiden.


Aktivitas Pangeran Diponegoro di Batavia

Kamar yang digunakan Pangeran Diponegoro tidak memiliki banyak jendela, dan jendela yang ada hanya mengarah ke stadhuisplein. Dapat dibayangkan saat itu Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya hanya bisa melihat aktivitas yang terjadi di halaman depan balai kota Batavia. Konon selama di Batavia, Pangeran Diponegoro beraktivitas sambil mengunyah sirih dan minum jamu (temu lawak dan beras kencur), untuk mengatasi penyakit malaria yang dideritanya. 

Satu-satunya jendela di kamar dengan pemandangan ke stadhuisplein

Kamar ini dilengkapi dengan dipan kayu berhias kelambu, 1 set meja kerja, dan beberapa pusaka yang pernah dibawa Sang Pangeran. Benda-benda ini bukan merupakan perabot asli, hanya merupakan replika untuk menggambarkan situasi pada saat Pangeran Diponegoro mendiami kamar ini. Dapat dibayangkan ketika Pangeran Diponegoro duduk di meja kerja di ruangan ini, untuk menulis surat kepada keluarga dekatnya. Surat pertama ditujukan kepada ibunda beliau, Raden Ayu Mangkorowati, yang meminta agar ibunda beliau tidak khawatir kepada nasibnya. Sedangkan surat kedua ditujukan kepada putra sulung beliau, Pangeran Diponegoro Muda, yang berisi pesan untuk menjaga adik-adiknya.

Kehadiran Pangeran Diponegoro di Batavia diabadikan dalam sketsa pensil oleh Hakim Batavia Adrianus Johannes Bik, yang bertugas mengawasi Pangeran Diponegoro selama berada di Batavia. Bik minta ijin untuk melukis Diponegoro di sela-sela masa penahanan beliau, tak lama sebelum Diponegoro berangkat menuju Sulawesi. Bik sendiri memiliki keahlian sebagai pelukis piring porselen di Belanda, sebelum merantau ke Hindia Belanda pada tahun 1821.

Atas: foto Adrianus Johannes Bik
Bawah: lukisan Diponegoro karya Bik

Bik mencitrakan Diponegoro sebagai ulama sekaligus panglima perang. Diponegoro digambarkan mengenakan pakaian ulama selama Perang Jawa, yaitu sorban, baju koko tanpa kerah, dan jubah. Di bahu kanannya tersampir selempang, serta terselip keris pusaka Kanjeng Kiai Ageng Bondoyudo Sripaduka Petarung Tanpa Senjata pada ikat punggang yang terbuat dari bahan sutra. Diponegoro sendiri digambarkan memiliki pipi cekung akibat serangan malaria yang diperoleh saat bergerilya di daerah Bagelen dan Banyuurip pada akhir masa Perang Jawa. Lukisan ini sangat hidup sekali. Setelah Bik wafat di Amsterdam pada tahun 1872, lukisan ini dihibahkan keponakannya ke Rijkmuseum.


Saturday, May 9, 2020

Lorong Waktu STOVIA

Kita mengenal Museum Kebangkitan Nasional sebagai tempat berdirinya Boedi Oetomo, organisasi modern pertama yang menjadi pelopor pergerakan nasional. Namun lorong-lorong gedung yang dibangun pada tahun 1899 ini juga merupakan saksi terbentuknya generasi pertama dokter-dokter Indonesia, sekaligus menjadi cikal bakal pendidikan tinggi kedokteran di Indonesia.

Fasad depan Museum Kebangkitan Nasional
Pendidikan tinggi kedokteran di Indonesia berawal dari munculnya wabah penyakit pada abad ke-19 di Hindia Belanda. Untuk mendatangkan dokter dari Belanda akan memakan biaya besar, sehingga pada tanggal 2 Januari 1849 pemerintah kolonial Hindia Belanda memutuskan untuk membuka pendidikan kedokteran bagi masyarakat pribumi. Dua tahun kemudian berdirilah Sekolah Dokter Jawa di Rumah Sakit Militer Weltevreden (sekarang RSPAD Gatot Subroto), dan lulusannya dipekerjakan sebagai mantri cacar. Di antara para lulusan pada masa itu tersebut terdapat dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. RM Soekardi, dan dr. Abdoel Rivai.

Pada tahun 1898, dr. Hermanus Frederik Roll, Direktor Sekolah Dokter Jawa, mengusulkan kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menyelenggarakan pendidikan kedokteran yang setara dengan pendidikan kedokteran di Belanda.  Tahun 1902, berdirilah School tot Opleiding van Indlandsche Artsen (STOVIA), atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera. Setahun kemudian, dibangun gedung baru di sebelah rumah sakit militer Weltevreden, menjadi gedung yang sekarang kita kenal sebagai Museum Kebangkitan Nasional. Gedung baru ini digunakan sebagai tempat pendidikan, sekaligus dilengkapi dengan asrama.

Suasana Asrama STOVIA yang ditampilkan dalam Ruang Asrama STOVIA
Siswa STOVIA semula berasal dari golongan bangsawan tamatan sekolah Belanda. Namun pada masa Politik Etis, STOVIA mulai menerima siswa dari sekolah pribumi, dan membebaskan biaya sekolah. Kebijakan ini melahirkan golongan priyayi baru, yaitu kelompok terdidik yang berasal dari rakyat biasa. Dari sinilah muncul tokoh-tokoh pergerakan bangsa, antara lain dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan dr. Sutomo.

Diorama yang Menggambarkan Suasana Ruang Kelas Terbuka di STOVIA
Dalam aktivitas belajar mengajar, para siswa STOVIA juga melakukan praktek di laboratorium atau praktek seperti dokter. Peralatan yang digunakan sama seperti yang digunakan di rumah sakit pada masa itu. Di antara peralatan yang digunakan terdapat Alat Pemecah Kepala yang digunakan untuk memecahkan kepala pada mayat. Tujuannya adalah mempelajari isi kepala dan otak sebagai pusat utama organ tubuh manusia. Peralatan lain adalah Elektrokardiograf tempoe doeloe, yang digunakan untuk mendukung fisiologi jantung.


Alat Pemecah Kepala
Peristiwa penting yang pernah terjadi di STOVIA adalah berdirinya Boedi Oetomo, organisasi modern pertama dalam pergerakan nasional. Peristiwa tanggal 20 Mei 1908 ini terjadi di Ruang Anatomi. Situasi saat para siswa STOVIA mendeklarasikan Boedi Oetomo ini diabadikan dalam diorama di Ruang Anatomi. Untuk mempertahankan suasana asli pada saat itu, di ruangan masih terpasang meja bedah sebuah kerangka manusia asli yang digunakan untuk belajar anatomi. Seolah mengingatkan bahwa peristiwa ini diprakarsai oleh para siswa STOVIA, di dinding selatan terdapat cuplikan Sumpah Hippocrates dalam bahasa Latin.  Sumpah ini merupakan sumpah wajib bagi seluruh dokter di dunia tentang etika yang harus dilakukan dalam menjalankan praktik profesinya.

Ruang Memorial Boedi Oetomo yang menempati kelas Ruang Anatomi
Karena keberaniannya mendirikan Boedi Oetomo, Soetomo menimbulkan keresahan di staf pengajar STOVIA. Para staf pengajar sempat memperdebatkan hukuman pemecatan Soetomo dari STOVIA, karena takut dinilai gagal membina anak didiknya. Namun H.F. Roll yang saat itu masih menjabat sebagai Direktur STOVIA memberikan pandangan dalam rapat dosen, yang berakhir dengan keputusan Soetomo tetap diperkenankan menyelesaikan pendidikannya di STOVIA. Suasana rapat ini terekam dalam diorama di Ruang Dosen.

Diorama suasana rapat di Ruang Dosen
STOVIA menjalankan fungsinya untuk meluluskan dokter-dokter terbaik dari kalangan bumiputra. Beberapa di antara para lulusannya memberikan andil yang besar dalam perkembangan kesehatan di Indonesia. Seperti dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang terjun langsung dalam memberantas wabah pes di Malang, dr. Soeradji Tirtonegoro yang berperan penting dalam pemberantasan wabah busung lapar di Klaten, dr. Jacob Bernadus Sitanala yang meneliti penyakit kusta, dr. Achmad Mochtar yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi kepala Lembaga Eijkman, dr. Djoehana Wiradikarta yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi kepala Lembaga Pasteur, dan dr. Margono Soekardjo selaku ahli bedah pertama Indonesia.

Gedung STOVIA di Hospitaalweg mengakhiri tugasnya pada tahun 1920 sebagai tempat menggodok calon-calon dokter Indonesia, setelah dibangun gedung baru yang lebih representatif di Salemba, bersebelahan dengan rumah sakit terpadu yang dapat menampung lebih banyak siswa pendidikan kedokteran. Selama beberapa waktu, gedung ini masih berfungsi sebagai asrama dan tempat tinggal, sebelum digunakan untuk Museum Kebangkitan Nasional. Keberadaan Museum Kebangkitan Nasional tidak hanya sekadar menampilkan koleksi terkait sejarah pergerakan nasional, namun juga menjadi lorong waktu yang menampilkan bukti-bukti keberadaan lembaga pendidikan STOVIA sebagai pendidikan tinggi kedokteran pertama di tanah air.

Saturday, February 22, 2020

Samudramanthana dari Sirah Kencong

Kisah Samudramanthana – atau pengadukan Lautan Susu – merupakan salah satu kisah mitologi Hindu yang termuat dalam kitab Adiparwa, yang merupakan bagian dari kisah Mahabharata. Berasal dari India, Samudramanthana telah dikenal luas di daerah-daerah yang dipengaruhi budaya India, termasuk di Kamboja, Thailand, dan Indonesia. Kisah ini telah dikenal oleh masyarakat Jawa, dan telah disalin ke dalam bahasa Jawa Kuno sejak jaman Dharmawangsa Teguh, Raja Mataram Hindu yang memerintah sekitara tahun 991-1016 Masehi.

Samudramanthana menceritakan perburuan air keabadian (Tirta Amrita) di Ksirarwana / Ksira Arnawa (Samudra Susu) yang melibatkan penyu Akupa, naga Basuki, gunung Mandaragiri, para dewa, dan para asura (raksasa). Gunung Mandara digunakan sebagai alat pengaduk Samudra Susu. Kura-Kura Akupa – yang merupakan penjelmaan dewa Wisnu -- menjadi tumpuan Mandaragiri agar tidak tenggelam ke dasar Samudra Susu. Naga Basuki yang melilit Mandaragiri berfungsi sebagai tali untuk mengaduk Samudra Susu. Bagian kepala naga ditarik oleh para asura, sedangkan ekornya ditarik oleh para dewa. Dewa Indra duduk di puncak Mandaragiri, agar gunung tersebut tidak melambung. Dari pengadukan tersebut muncul ratna (benda-benda berharga), dan yang terakhir keluar adalah Dhanwantari, penyembuh surga yang membawa air keabadian Tirta Amrita. Dengan keluarnya Tirta Amrita, rencana para dewa untuk memperoleh Tirta Amrita telah selesai, sehingga mereka mengirim para asura dari surga kembali ke neraka.

Arca Samudramanthana dari Sirah Kencong, disimpan di Museum Nasional
Terinspirasi dari tulisan arkeolog M. Dwi Cahyono tentang arca Samudramanthana dari perkebunan teh Sirah Kencong di lereng barat Gunung Suci Kawi, kabupaten Blitar, Jawa Timur, saya membongkar foto-foto saat saya main ke Museum Nasional di mana arca tersebut disimpan. Ternyata arca tersebut masuk dalam pengamatan saya ketika saya berkunjung ke museum tersebut. Arca batu andesit setinggi kurang lebih 1 meter ini berasal dari abad ke 13-14 Masehi, diperkirakan dari masa kerajaan Majapahit. Arca ini diduga berfungsi sebagai jaladwara (pancuran), karena memiliki lubang di bagian bawah yang tembus ke bagian atas.  Diduga arca ini menaungi sumber air (tuk) yang diyakini sebagai air suci, karena keberadaannya di lereng Gunung Kawi yang dianggap sebagai “gunung suci”.

Bagian bawah arca berupa pedestal berbentuk padma (teratai merekah), perlambang bunga suci seolah menegaskan bahwa benda-benda di atasnya merupakan perangkat keagamaan yang suci. Di atas padmasana terdapat figur Kura-Kura Akupa, sebagai alas putar puncak Mandaragiri. Di sisi luar Mandaragiri berbentuk pahatan tokoh-tokoh yang berperan dalam kisah Samudramanthana. Di atas kepala Akupa terdapat Naga Basuki yang dililitkan pada Mandaragiri. Di sisi kanan Basuki terdapat dewa-dewa, sedangkan di sisi kiri Basuki terdapat para asura. Di bagian atas arca terdapat binatang-binatang mitologis dalam kepercayaan Hindu yang keluar selama proses pengadukan, antara lain sapi Kamadhenu, kuda Ucchaiswara, dan gajah Airawata.

Tugu Pancuran Ampelgading di Museum Trowulan


Arca dari Sirah Kencong bukan satu-satunya peninggalan purbakala di Indonesia yang merekam kisah Samudramanthana. Kisah ini juga dipahatkan pada tugu pancuran yang ditemukan di Ampelgading, Kabupaten Malang, yang saat ini disimpan di Museum Trowulan. Bagian bawah tugu memiliki lubang, dan di atas lubang tersebut berdiri figure Kura-Kura Akupa. Di atas Akupa terdapat tiang persegi empat yang dikelilingi panel berpahat figure dewa-dewa dan para asura. Di atas tiang terdapat ornament pahatan menara-menara kecil yang bertingkat, yang kemungkinan melambangkan Mandaragiri.

Teras Ketiga Candi Sukuh
Sedangkan di Jawa Tengah, kisah Samudramanthana juga divisualisasikan di Candi Sukuh, tepatnya di teras ketiga. Di teras ini terdapat bangunan induk berbentuk piramida terpancung, serta arca kura-kura. Bangunan induk diibaratkan sebagai Mandaragiri yang berfungsi sebagai alat pengaduk Samudra Susu. Arca kura-kura berukuran besar yang terletak di depan bangunan induk merupakan simbol dari Akupa. Candi Sukuh sendiri diduga berasal dari masa akhir kerajaan Majapahit.

Patung "The Churning of The Milk Ocean"
Di Thailand, kisah Samudramanthana divisualisasikan di bandara Suvarnabhumi dalam bentuk patung berukuran besar yang menggambarkan Mandaragiri yang diletakkan di atas Kura-Kura Akupa, dililit oleh Naga Basuki yang berkepala tiga. Bagian kepala Basuki ditarik oleh para asura, sedangkan bagian ekor Basuki ditarik oleh para dewa. Di atas Mandaragiri, berdiri Dewa Indra untuk memastikan gunung tersebut tidak melambung. Patung ini sangat menarik perhatian, karena berukuran cukup besar dan terletak di terminal internasional, tepat setelah penumpang menyelesaikan proses imigrasi dan masuk menuju area duty free shopping.

Tuesday, December 24, 2019

Linimasa Sejarah Bandung di Museum Kota Bandung

Cuaca Bandung di akhir pekan yang lalu sangat sendu, namun Taman Sejarah Bandung di Kawasan Balai Kota tetap ramai dengan para wisatawan. Semula saya hanya ingin menghabiskan waktu di Taman Sejarah Bandung, namun mata saya justru tertuju pada sebuah bangunan tua bertuliskan "Museum Kota Bandung". Nah, menarik ini…

Kutipan Bung Karno
"Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah". Kutipan Bung Karno yang terkenal ini mengawali kunjungan saya sebelum masuk ke bangunan antik yang menjadi rumah dari Museum Kota Bandung. Bangunan antik di Jl. Aceh No. 47 ini berdiri pada tahun 1920, pertama kali digunakan sebagai Frobelschool (Taman Kanak-Kanak) milik kelompok Vrijmetselarij (Freemasonry) Bandung. Setelah bangunan ini diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, bangunan ini digunakan sebagai Sekolah Pendidikan Olahraga dan Kantor KONI Jawa Barat, sebelum pada tahun 2013 dihibahkan kepada Pemerintah Kota Bandung dan digunakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Bandung. Tanggal 31 Oktober 2018, Walikota Bandung Oded M. Danial meresmikan bangunan ini menjadi Museum Kota Bandung.

Tampak Depan Bangunan Museum
Masuk ke dalam bangunan museum, ternyata saat ini museum belum berfungsi secara penuh. Baru 2 ruangan yang digunakan untuk menampilkan informasi sejarah Kota Bandung. Di dalam ruangan pertama berisi milestone peristiwa bersejarah di Bandung, serta nama-nama walikota Bandung dari masa ke masa, mulai dari Bertus Coops hingga Oded M. Danial. Sedangkan ruangan kedua berisi penjelasan lebih detail mengenai tonggak peristiwa bersejarah Kota Bandung, mulai dari Piagam Sultan Agung, hingga pemindahan ibukota karesidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung.

Mural di Dinding Ruangan Pertama
Sebuah pengetahuan baru bagi saya, bahwa kemungkinan catatan peristiwa bersejarah Kota Bandung yang tertua adalah Piagam Sultan Agung. Piagam tertanggal 20 April 1641 ini berisi tentang pembagian bekas daerah kekuasaan Dipati Ukur menjadi 3: wilayah Sukapura kepada Tumenggung Wiradadaha, wilayah Bandung kepada Tumenggung Wirangunagun, dan wilayah Parakanmuncang kepada Tanubaya. Namun, seiring dengan kemunduran kerajaan Mataram, pada tahun 1677 wilayah Bandung dikuasai oleh VOC.

Piagam Sultan Agung
Bandung kembali muncul dalam sejarah Indonesia pada masa pembangunan Jalan Raya Pos. Di tahun 1810, Gubernur Jendral Daendels datang ke lokasi Jalan Raya Pos yang melintasi sungai Cikapundung, dan menancapkan tongkat kayu sambil mengucapkan "Usahakan bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota". Tempat ini kemudian menjadi Titik Nol Bandung Namun Daendels tak pernah kembali. Pada akhirnya, Dalem Wiranatakusumah II memindahkan ibukota Negorij Priangan dari Krapyak ke Bandung, namun tidak berpusat pada titik Daendels menancapkan.tongkat, melainkan di tempat yang sekarang menjadi Pendopo Kota Bandung di dekat alun-alun.

Besluit Daendels Tahun 1810 tentang Perintah Pendirian Kota Bandung
Pembangunan Bandung di masa kolonial Hindia Belanda sangat pesat. Banyak bangunan fasilitas public didirikan dengan gaya arsitektur Eropa, membuat kota ini dijuluki Europe in De Tropen (Kawasan Eropa di daerah tropis). Demikian juga adanya jalur KA Cianjur-Bandung dan Bandung-Surabaya di akhir abad ke-19 membuka lebih banyak akses menuju Bandung. Masih banyak sejarah Bandung yang belum tersampaikan di museum ini, sehingga semoga museum ini dapat segera melengkapi koleksi dan informasi yang disampaikan, sebagai sarana edukasi yang lebih komprehensif mengenai sejarah Kota Bandung.

Friday, July 18, 2014

Mesin Waktu di Museum Tanjung Pandan, Belitung

I love museum very much. Setiap kali pergi ke tempat baru, yang pertama saya cek adalah ada museum apa di tempat itu. Demikian juga ketika adik saya dan teman-temannya mengajak saya pergi ke Belitung di akhir bulan Maret tahun 2014, hal pertama yang saya browsing adalah apakah di pulau cantik ini ada museumnya, dan ternyata ada!
Di hari ketiga kunjungan kami ke Belitung, setelah menikmati panorama pantai dan desa nelayan di Tanjung Binga, Pak Darwis, pengemudi mobil yang merangkap guide membawa saya, dik Anggi, Fitri dan Fitriah menuju Museum Tanjung Pandan. Museum Tanjung Pandan bukanlah museum baru, karena telah berdiri sejak tahun 1962 sebagai Museum PN Tambang Timah Belitung. Pendirian museum ini diprakarsai oleh Dr. R. Osberger, seorang ahli geologi berkebangsaan Austria. Museum ini menempati sebuah bangunan tua bekas kantor NV Biliton Maatschappij Distrik Tanjungpandan yang terletak di Jl. Melati.
Museum Tanjung Pandan

Kedatangan kami di Museum Tanjung Pandan disambut sebuah tugu batu yang menggambarkan tangan memegang linggis, seolah mempertegas keberadaan pertambangan timah yang pernah menjadi urat nadi industri di pulau Belitung. Tugu tersebut semula berada di halaman bangunan Jam Gede di Jl. Veteran, dan merupakan tugu peringatan 75 tahun penambangan timah di Belitung. Pada tugu tersebut terdapat prasasti berangka tahun 1926 yang memuat nama-nama pioneer penambangan timah di Belitung.
Tugu Peringatan 75 Tahun Pertambangan Timah di Belitung

Baru melihat bagian luar bangunan museum, hawa “ja-doel” langsung menyelimuti kami berempat. Saya sempat underestimate, apa yang bisa dilihat di sebuah museum kecil yang "ja-doel" di sebuah kota kecil yang berada di tengah pulau kecil? Ternyata banyak! Karena konsep awal museum ini merupakan Museum Geologi, sebagian besar koleksinya adalah benda-benda terkait pertambangan timah. Di antara koleksi tersebut, terdapat miniatur kapal keruk yang digunakan untuk menambang timah di laut dan sungai, berbagai koleksi contoh batuan dan bijih logam yang ditemukan di Belitung, serta maket berbagai model penambangan timah. Sementara saya sibuk membaca semua keterangan pada koleksi batuan dan bijih logam yang dikumpulkan oleh Dr. Osberger, Fitri sibuk memotret maket-maket model penambangan timah.
Kapal Keruk KM Dendang

Museum Tanjung Pandan juga memiliki koleksi fauna endemik yang banyak ditemukan di Belitung, baik dalam bentuk awetan maupun binatang hidup. Saya berkesimpulan bahwa fauna endemik yang paling populer di Belitung adalah buaya. Di dalam museum, terpajang awetan buaya betina yang pernah ditemukan di kawasan Gantung pada tahun 1959, yang kemudian diserahkan dan dipelihara di museum ini. Buaya tersebut mati pada tahun 2003 karena sudah tua dan sakit. Sementara itu di kebun binatang mini yang terletak di bagian belakang museum terdapat beberapa koleksi buaya, di mana buaya terbesar yang dipelihara di museum ini adalah buaya yang pernah ikut main dalam film "Laskar Pelangi". Melihat di kandang mereka terdapat beberapa bangkai ayam yang mengapung di permukaan air, rasanya mengerikan membayangkan mereka tengah memakan bangkai-bangkai ayam tersebut. Sementara saya sibuk memotret buaya dan beberapa binatang lainnya yang dipelihara di kebun binatang mini tersebut, dik Anggi dan teman-temannya justru sibuk berfoto narsis dengan latar belakang fasilitas bermain anak-anak yang terletak di halaman belakang museum!

Buaya Yang Ikut Bermain Dalam Film "Laskar Pelangi"
Puas berfoto-foto di halaman belakang museum, kami kembali masuk ke bangunan museum untuk melihat benda-benda tradisional peninggalan berbagai kerajaan yang pernah berdiri di Belitung. Ya, walaupun hanya merupakan pulau yang kecil, di Belitung pernah berdiri empat buah kerajaan, yaitu Kerajaan Belantu, Kerajaan Badau, Kerajaan Balok, dan Kerajaan Buding. Museum ini juga memiliki ruangan khusus yang menyimpan koleksi Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT) yang diangkat dari kapal karam di sekitar perairan Selat Karimata, Selat Gaspar, dan Selat Bangka. BMKT tersebut umumnya berupa keramik dan porselin antik dari berbagai masa. BMKT yang tertua berasal dari jaman Dinasti Tang di abad ke-7 Masehi. Keberadaan barang-barang ini merupakan bukti bahwa sejak masa silam Belitung merupakan bagian dari jalur pelayaran perdagangan internasional.
Koleksi BMKT di Museum Tanjung Pandan

Salah satu ruangan di museum ini didedikasikan untuk memamerkan koleksi terkait suku Tionghoa yang berada di Belitung, seperti benda-benda dari porselin, perlengkapan sembahyang, dan perabot dengan dekorasi khas Tionghoa. Suku Tionghoa di Belitung merupakan keturunan Tionghoa Hokkien dan Hakka. Kedatangan mereka pertama kali di Belitung adalah pada abad ke-13, ketika Tentara Mongol yang menyerbu Kerajaan Singasari singgah untuk memperbaiki kapal. Sebagian di antara mereka menikah dengan penduduk setempat, dan menjadi cikal bakal penduduk Belitung. Namun gelombang besar kedatangan suku Tionghoa di Belitung baru terjadi pada masa penambangan timah secara besar-besaran di abad ke-19.
Perabot Gaya Tiongkok

Sesaat sebelum kami meninggalkan museum, penjaga museum menunjukkan sepasang patung singa setinggi 1,5 meter di halaman museum. Patung singa khas Tiongkok atau patung Shishi berwarna kuning ini semula “mengawal” rumah Kapitan Ho A Jun, kepala komunitas Tionghoa pertama pada tahun 1852. Bentuk dan gaya patung Shishi yang ada di museum ini berbeda dengan gaya patung sejenis yang pernah saya lihat di tempat lain. Jika patung Shishi umumnya memiliki ornamen yang detail dan kaya warna, patung Shishi ini justru sangat sederhana. Ini mungkin merupakan representasi masyarakat Tionghoa yang ada di Belitung berasal dari pekerja pertambangan yang sederhana. Sambil memperlihatkan patung tersebut, penjaga museum pun bercerita bahwa konon ketika akan dipindahkan dari halaman rumah yang pernah ditempati Kapitan Ho A Jun di pusat kota Tanjung Pandan, patung ini terasa sangat berat, sehingga mereka menduga patung ini tidak mau dipindahkan dari tempatnya semula. Duh, bikin makin spooky aja....
Patung Shishi Betina

Kunjungan ke Museum Tanjung Pandan meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Bayangkan saja, dalam sebuah museum yang berukuran relatif kecil dengan harga tiket masuk relatif murah, tersimpan begitu banyak koleksi yang merepresentasikan kisah sejarah Pulau Belitung. Apalagi tempat ini juga dilengkapi dengan kebun binatang mini dan area bermain yang bisa menjadi daya tarik bagi keluarga untuk mengunjungi museum ini. Walaupun sebagian besar koleksi masih ditampilkan dengan sederhana, namun penataannya cukup baik dan menarik serta informatif. Saya berharap Museum Tanjung Pandan dapat ditata dengan lebih baik dan lebih modern, tanpa meninggalkan nuansa bangunan tempo doeloe yang merupakan bagian dari sejarah Tanjung Pandan dan Belitung.