Showing posts with label jerman. Show all posts
Showing posts with label jerman. Show all posts

Tuesday, July 10, 2018

(Bukan) Museum Pergamon

Museum Pergamon. Membaca namanya saja sudah membuat tertarik untuk mengunjungi. Museum yang terletak di Kota Berlin ini menyimpan koleksi barang antik, benda-benda dari Timur Tengah, serta kesenian Islam. Koleksi primadonanya adalah Altar Pergamon, Gerbang Ishtar Babilonia, rekonstruksi Gerbang Pasar Miletus dari reruntuhan di Anatolia, serta Fasad Mshatta, membuat saya semakin penasaran untuk mengunjunginya.

Katedral di Sungai Spree
Siang itu kami mendarat di Museumsinsel (Museum Island), sebuah pulau buatan di atas Sungai Spree di tengah Kota Berlin, Tempat ini telah dibangun sejak tahun 1797, dan secara bertahap berdiri museum-museum berikut: Altes Museum (Old Museum), Neues Museum (New Museum), Alte Nationalgalerie (Old National Gallery), Bode Museum, dan Pergamon Museum. Tentu saja, kami sangat ingin melihat Museum Pergamon, museum yang terbaru (walau sudah dibangun sejak 1930) sekaligus yang paling terkenal. Namun ketika kami tiba di bangunan Pergamon Museum, terlihat antrian panjang menanti kehadiran kami. Alamak, panjang antriannya melebihi antrian wahana di Dufan! Akhirnya setelah melihat situasi panjang antrian, kami memutuskan untuk masuk ke Neues Museum yang antriannya tidak terlalu panjang.

Salah Satu Arca Mesir di Neues Museum
Neues Museum merupakan museum kedua yang didirikan di Museuminsel. Dibangun antara tahun 1843 dan 1855, nama Neues Museum diberikan karena sebelumnya di tempat ini sudah ada Konigliches Museum yang berganti nama menjadi Altes Museum. Museum didirikan untuk menampung koleksi yang sudah tidak bisa disimpan di Altes Museum. Bangunan museum dirancang oleh Friedrich August Stuler dengan konsep museum untuk menampilkan adikarya seni seperti lukisan-lukisan dari pelukis Eropa sebelum abad ke-19, serta patung-patung klasik dari masa Yunani dan Romawi kuno.

Lukisan Dinding

Museum sempat tutup ketika Perang Dunia II dimulai pada tahun 1939, dan rusak berat akibat pengeboman Kota Berlin. Sempat ditelantarkan selama bertahun-tahun, pembangunan kembali museum ini sempat dicoba pada tahun 1986, namun terhenti karena peristiwa diruntuhkannya Tembok Berlin dan Penyatuan Jerman. Tahun 2003, pembangunan kembali museum dilakukan di bawah koordinasi arsitek asal Inggris David Chipperfield, hingga museum dibuka kembali pada tahun 2009. Saat ini museum menyimpan tidak kurang dari 6000 koleksi dengan tema Jaman Mesir Kuno, Jaman Pra-Sejarah, dan awal Jaman Sejarah.

Firaun dari jauh
Firaun dari dekat

Setelah bersabar mengantri untuk membeli tiket dan masuk ke bangunan Neues Museum, “masalah” baru muncul: museum ini terdiri dari 4 lantai dan sangat besar, padahal kami bermaksud membatasi waktu kunjungan karena masih mau melihat tempat-tempat lain di Kota Berlin. Akhirnya kami memutuskan untuk berfokus pada koleksi dari masa Mesir Kuno yang terdapat di lantai 1 dan basement museum. Kami meminjam alat audio guide berbahasa Inggris untuk bisa mendapatkan penjelasan lebih detail mengenai koleksi museum. Namun pada kenyataannya, alat yang saya gunakan kurang begitu berfungsi, dan informasi yang saya inginkan ternyata sudah tercantum dalam panel-panel di dekat benda koleksi. Beberapa panel bahkan menjelaskan kondisi ruangan sebelum rusak akibat Perang Dunia II, dan ruangan tersebut masih menyimpan sisa interior dari ruangan museum sebelum Perang Dunia II.

Sisa Interior Bangunan Lama
Salah Satu Kubah Museum
Ini adalah pengalaman pertama saya melihat koleksi sejarah Mesir Kuno dari dekat. Peradaban Mesir Kuno sangat kental dalam mempercayai kekuatan gaib dan kehidupan setelah kematian (afterworld). Untuk itu mereka memiliki cara pemakaman yang diyakini sebagai kebutuhan menjamin keabadian setelah kematian, yaitu mumifikasi (pengawetan tubuh) dan penguburan mayat bersama barang-barang yang akan digunakan almarhum di akhirat. Merinding juga ketika saya melewati serta mengamati beberapa koleksi terkait mumifikasi dan peralatan yang digunakan untuk menyimpan organ tubuh serta barang-barang almarhum di dalam makam.

Peralatan Mumifikasi
Guci untuk menyimpan organ tubuh
Dengan perkembangan peradaban, orang Mesir Kuno meletakkan mayat di dalam sarkofagus (peti mati) berupa batu empat persegi panjang atau peti kayu. Setiap sarkofagus memiliki bentuk yang berbeda, karena didesain dengan menyesuaikan pada status dan profesi jenasah yang dimakamkan pada sarkofagus tersebut. Sebagai contoh, foto berikut menggambarkan sarkofagus yang penuh dengan tulisan hieroglif untuk seorang Djehapimu atau petugas audit kerajaan Mesir Kuno. Walaupun koleksi sarkofagus milik Neues Museum diletakkan di tempat terbuka dan terang benderang, tetap saja ada perasaan merinding saat saya berada di dekat benda tersebut.

Sarkofagus Petugas Audit Kerajaan
Koleksi primadona dari Neues Museum adalah patung dada Ratu Nefertiti dari Mesir. Patung yang menggambarkan permaisuri dari Firaun Akhenaten ini dibuat oleh Thutmose, dengan bahan baku batu kapur yang dicat dengan lapisan stucco. Dipercaya dibuat pada tahun 1345 SM, patung ini merupakan adikarya Mesir kuno yang paling banyak direplika. Nefertiti sendiri merupakan ikon kecantikan, karena digambarkan dengan profil yang memiliki leher jenjang, alis anggun, tulang pipi tinggi, hidung mancung, serta senyum dengan bibir merah merekah. Patung dada ini ditemukan oleh tim arkeologi Jerman yang dipimpin oleh Ludwig Borchardt pada tahun 1912 di Mesir, dan tiba di Jerman pada tahun 1913, sebelum dipajang di Neues Museum hingga masa Perang Dunia II. Dalam perjalanannya, patung ini sempat berpindah-pindah tempat, termasuk di gudang bawah tanah sebuah bank, di tambang garam di Merker-Kieselbach, Museum Dahlem, Museum Mesir di Charlottenburg, dan Altes Museum. Patung dada ini akhirnya kembali ke Neues Museum ketika museum dibuka kembali setelah renovasi pada tahun 2009. Sayang sekali, koleksi primadona ini tidak boleh dipotret, dan dijaga ketat oleh petugas sekuriti.

Koleksi Sarkofagus
Sebelum meninggalkan museum, saya memperhatikan patung-patung yang menjadi hiasan taman di sekitar museumsinsel. Terlihat sebuah patung singa berwarna hitam yang menarik perhatian, sehingga saya langsung memotret dan mempostingnya di social media. Patung singa tersebut buatan August Gaul, seorang tokoh seni Jerman dari masa sebelum Perang Dunia I. Patung ini sebenarnya dilengkapi dengan QR code, dan pengunjung yang memindai QR code tersebut akan mendapat telepon dari sang patung dan menceritakan kisahnya. Namun saya melewatkan kesempatan ini, karena saya terlalu memperhatikan kok patung tersebut mirip patung macan Cisewu ya...

Gaul's Lowe

Monday, May 28, 2018

Mengenang Tragedi Kemanusiaan di Holocaust Memorial

Berlin, ibukota sekaligus merupakan kota terbesar di Jerman. Kota ini merupakan saksi bisu dampak Perang Dunia II kepada dunia. Selain tembok yang dibangun untuk memisahkan wilayah kekuasaan Jerman (Timur) dan wilayah Sekutu di dalam Kota Berlin, kota ini juga merupakan salah satu lokasi pembantaian orang-orang Yahudi di Eropa. Salah satu monumen yang dibangun di pusat Kota Berlin untuk mengenang tragedi kemanusiaan tersebut adalah The Memorial to the Murdered Jews of Europe (Denkmal fur die ermordeten Juden Europas), atau singkatnya Holocaust Memorial (Holocaust-Mahnmal).

Holocaust Memorial di Senja Kala
Senja temaram menggantung di langit kota Berlin, ketika saya membuka jendela apartemen yang kami sewa selama di Berlin. Ah, inilah rasanya menikmati musim panas di belahan bumi utara, jam sudah menunjukkan pukul 21.00 waktu setempat, tapi langit masih cukup terang. Dari jendela apartemen terlihat jelas susunan batu-batu berbentuk kotak yang seperti berserakan di sebuah lapangan. Inilah Holocaust Memorial, monumen yang dibangun antara tahun 2003-2004 untuk memperingati tragedi pembantaian orang-orang Yahudi selama masa Perang Dunia II. Bayangan gedung yang menimpa susunan batu-batu tersebut membuat suasana terkesan semakin mencekam. Tak terbayangkan betapa menyeramkannya suasana saat itu. Kurang lebih 3 juta orang Yahudi telah menjadi korban dari holocaust (pembantaian massal) selama Perang Dunia II di seluruh Eropa.

Holocaust Memorial di Siang Hari
Holocaust Memorial didesain oleh arsitek Peter Eisenman dan insinyur Buro Happold. Monumen ini berdiri di atas lahan seluas 1,9 hektar, terdiri dari 2711 balok beton (stelae) yang disusun membentuk pola grid pada lapangan yang konturnya naik turun (sloping field). Setiap balok memiliki panjang 2,38 m, lebar 0,95 meter, dan tinggi bervariasi antara 0,2 hingga 4,7 meter. Balok-balok ini disusun membentuk baris/lorong, 54 balok mengarah utara Selatan, dan 87 mengarah timur barat. Biaya untuk membangun monumen diperkirakan 25 juta Euro. Monumen ini diresmikan 10 Mei 2005, 60 tahun setelah PD II berakhir.

Mengapa monumen ini dibangun di Berlin? Sebelum Perang Dunia II Berlin merupakan kota dengan jumlah populasi orang Yahudi terbesar di Eropa. Dengan demikian monumen ini juga berperan sebagai focal point yang menyatukan berbagai monumen holocaust di seluruh penjuru Jerman. Lokasi tempat berdirinya monumen ini merupakan pusat administrasi pasukan Hitler, termasuk bunker yang pernah digunakan.

Bradenburg Gate
Bekas Tapak Tembok Berlin

Kami baru berkesempatan mengunjungi monumen pada sore hari berikutnya, setelah mengunjungi Brandenburg Gate dan bekas tapak Tembok Berlin yang terletak tak jauh dari lokasi monumen. Dari berbagai sumber informasi, tampaknya tidak ada makna khusus dari desain dan jumlah pilar di Holocaust Memorial. Namun demikian, masih terpatri dalam ingatan saya, ketika melihat dari jendela apartemen, yang tampak lebih mirip deretan batu nisan di sebuah pemakaman besar. Hal ini membuat bulu kuduk saya berdiri, mengenang masa-masa kelam Jerman di Perang Dunia II. Konon monumen ini memang dirancang oleh Eisenman untuk memicu suasana yang tidak nyaman dan membingungkan, seolah mengembalikan perasaan yang dialami penduduk Jerman pada masa itu.

Tampak Close-Up Holocaust Memorial
Di sisi lain, saya juga menemukan himbauan tertulis agar para pengunjung monumen tidak melakukan aktivitas yang mengganggu ketenangan orang lain, seperti bersuara terlalu keras, melompat-lompat dari satu stelae ke stelae lain, membawa binatang peliharaan, memarkir sepeda dan kendaraan lain secara serampangan, serta merokok dan mengonsumsi minuman keras. Nampaknya himbauan ini dibuat karena banyak pengunjung yang sengaha mengunjungi monumen ini untuk berziarah, mengenang kerabat mereka yang menjadi korban pembantaian massal pada masa Perang Dunia II. Himbauan ini pun seolah mengingatkan kembali agar tragedi kemanusiaan semacam ini jangan pernah terjadi lagi dalam kehidupan manusia.

Sunday, March 25, 2018

Bukan Konser Kekinian

Melanjutkan perjalanan kami di Heidelberg, pada hari kedua kami menghabiskan separuh pagi untuk melihat-lihat kampus modern Universitas Heidelberg, sebelum siangnya kami kembali ke Altstadt. Tujuan kami adalah Heiliggeistkirche, atau Church of Holy Spirit. Gereja bergaya Gothic ini terletak di Markplatz, yang merupakan jantung dari Altstadt Heidelberg.
Church of Holy Spirit dilihat dari Kastil Heidelberg
Church of Holy Spirit dilihar dari Markplatz

Sejatinya Church of Holy Spirit bukan gereja pertama yang didirikan di Heidelberg, namun merupakan yang paling populer. Nama gereja ini pertama kali muncul pada sebuah dokumen berangka tahun 1239. Bangunan gereja yang kita kenal sekarang pertama kali didirikan pada tahun 1398 atas perintah Pangeran Ruprecht III, di atas pondasi bangunan gereja yang lebih tua. Gereja ini kemudian dibangun secara bertahap sampai tahun 1544. Selain berfungsi sebagai rumah ibadah, Church of Holy Spirit jug berfungsi sebagai perpustakaan Bibliotheca Palatina, sebelum koleksinya dicuri pada tahun 1623. Setelah sempat dibakar oleh tentara Perancis pada Perang Penerus Palatine, pada tahun 1709 gereja ini dibangun kembali dengan gaya arsitektur Baroque, menjadi bangunan suci ketiga yang didirikan di lahan yang sama. Saat ini menara Church of Holy Spirit merupakan landmark besar yang mudah dilihat dari segala penjuru Kota Heidelberg.

Bagian Dalam dan Altar Church of Holy Spirit
Church of Holy Spirit memiliki peran penting dalam perkembangan Gereja Reformasi di dunia, karena gereja ini merupakan tempat kelahiran Katekismus Heidelberg pada tahun 1563. Katekismus Heidelberg merupakan Katekismus yang paling banyak digunakan oleh Gereja Reformasi di seluruh dunia. Uniknya, gereja ini pernah dipakai baik oleh penganut Kristen Katolik maupun Protestan. Di tahun 1706, pengelola gereja menempatkan partisi di dalam gereja, sehingga baik umat Protestan maupun Katolik dapat menggunakan gereja ini secara bersamaan tanpa saling mengganggu. Partisi ini kemudian disingkirkan pada tahun 1936, dan saat ini gereja digunakan hanya untuk umat Kristen Protestan.

Kunjungan kami ke Church of Holy Spirit tentunya bukan untuk beribadah, melainkan untuk menonton konser orgel. Pengumuman penyelenggaraan konser orgel ini sudah kami lihat satu hari sebelumnya, sebagai rangkaian konser orgel yang diselenggarakan oleh pengelola gereja. Harga tiket masuk untuk setiap orang sebesar EUR 3, dan tentunya harga ini tergolong sangat murah jika dibandingkan dengan harga tiket konser klasik di Eropa yang biasanya berkisar antara EUR 50-85. Ini bukan pertama kali saya melihat orang memainkan orgel, namun menyaksikan secara langsung konser klasik hanya menggunakan orgel tentunya meninggalkan kesan tersendiri.

Daftar Lagu untuk konser hari ini
Setelah membeli tiket masuk, petugas memberi kami daftar lagu yang akan dimainkan. Rupanya hari ini orgelist akan memainkan lagu-lagu dari jaman Baroque. Kami beruntung bahwa di antara lagu-lagu yang dimainkan terdapat beberapa lagu yang cukup popular, termasuk lagu favorit saya Canon in D dari Johann Pachelbel. Karena kami hadir 30 menit sebelum konser dimulai, kami sempat melihat orgel yang akan dimainkan dari dekat.

Orgel yang ada di Church of Holy Spirit aslinya adalah orgel kuno yang direkonstruksi oleh Walcker Orgelbau pada tahun 1903. Setelah itu orgel tersebut sudah beberapa kali mengalami perbaikan lagi, antara lain pada tahun 1954 dengan meredesain suara yang diproduksi serta melakukan elektrifikasi keyboard. Perbaikan dilakukan lagi pada tahun 1981 oleh Steinmeyer, dan pada tahun 1997 oleh Lenter. Jika diperhatikan dari dekat, orgel tersebut memiliki beberapa panel elektrik.

Orgel dan Sistem Perpipaannya
Sebelum konser, kami melihat-lihat di sekeliling ruangan gereja. Di dinding terlihat beberapa batu nisan yang terpasang. Rupanya seperti tradisi gereja-gereja di Eropa, gereja Heidelberg pernah memiliki 54 makam di dalamnya. Namun makam ini sebagian besar rusak saat Perang Penerus Palatine yang menghancurkan Heidelberg di tahun 1693, menyisakan makan Pangeran Ruprecht III dan istrinya Elisabeth von Hohenzollern. Pangeran Ruprecht III diangkat sebagai Raja Jerman pada tahun 1401, dan wafat di Oppenheim pada tahun 1410. Ruprecth III adalah pendiri Universitas Heidelberg pada tahun 1398, sekaligus yang meletakkan batu pondasi gereja Church of Holy Spirit pada tahun 1401. Atas jasanya tersebut, maka jenazah Ruprecht III dibawa ke Heidelberg dan dimakamkan di dalam gereja ini.

Makam Ruprecth III dan Elizabeth von Hohenzollern

Tepat pukul 17.15, Jannick Huffner, orgelist yang akan mempersembahkan konser, membuka konser dengan pidato singkat dalam bahasa Jerman (di mana kami tidak mengerti sepatah kata pun, heeee). Penampilan Huffner yang hanya mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam terkesan sangat sederhana, jauh berbeda dengan para pemain music dalam sebuah konser music klasik di konservatorium yang umumnya menggunakan jas buntut. Setelah menyebutkan daftar lagu yang akan dimainkan, Huffner memulai memainkan orgel.

Jannick Huffner
Ternyata memainkan orgel memerlukan ketrampilan tersendiri. Harus ada koordinasi yang sangat rumit antara tangan dan kaki, apalagi orgel yang dimainkan menggunakan 3 tingkat keyboard. Di salah satu lagu, Huffner bahkan hanya menggunakan kedua kakinya untuk memainkan melodi dengan pedal kaki yang mengeluarkan nada-nada sangat rendah. Di akhir konser, saat mengakhiri lagu Te Deum dari Marc Charpentier, Huffner memberikan tambahan efek suara, sehingga konser hari ini ditutup dengan suasana yang sangat meriah.

Huffner memainkan orgel

Sunday, March 4, 2018

Romantisme Heidelbeg

Heidelberg. Nama yang pertama kali saya dengar di era 1990-an, dalam sebuah lagi instrumental dari album keempat KLa Project yang dirilis tahun 1994. What's so special with this place?

Landmark Kota Heidelberg
Pertanyaan itu akhirnya terjawab 23 tahun kemudian, ketika di pertengahan musim panas tahun 2017 saya berkesempatan menginjakkan kaki ke Heidelberg. Heidelberg merupakan kota pelajar tertua di Jerman. Kota yang terletak 78 km di sisi selatan Frankfurt ini merupakan rumah dari Ruprecht-Karls Universitat Heidelberg yang didirikan pada tahun 1386 dan merupakan universitas tertua di Jerman. Namun daya tarik utama Heidelberg adalah peninggalan tata kota dan arsitektur antik dari masa Romantik di abad ke-19 yang masih tetap terjaga. Ini dimungkinkan karena Heidelberg nyaris tak tersentuh keganasan Perang Dunia II. Banyak teori yang mengatakan hal ini terjadi karena Heidelberg merupakan markas kekuatan Amerika di Eropa, sehingga lolos dari target pemboman Sekutu.

University of Heidelberg Lama di Tengah Kota Tua
Setelah semalam beristirahat melepas penat sisa perjalanan panjang dari Berlin, pukul 10.30 kami berangkat dari penginapan. Tujuan kami adalah stasiun Heidelberger Bergbahn untuk menaiki kereta yang akan membawa kami ke Heidelberger Schloss (kastil Heidelberg). Perjalanan dari penginapan kami tempuh menggunakan trem sampai Bismarck Platz, dilanjutkan dengan bis menuju Kornmarkt, di mana stasiun Heidelberger Bergbahn berada. Melalui kontur jalan menanjak melintasi daerah berbukit-bukit, tepat jam 11 kami tiba di Kornmarkt, dan bergegas mengantri di stasiun Heidelberger Bergbahn, menunggu jadwal keberangkatan kereta berikutnya. Kereta yang akan membawa kastil ini bukan kereta api biasa yang ditarik lokomotif, melainkan kereta yang ditarik dengan kabel (funicular), dengan sudut tanjakan mencapai 43%. Kereta ini telah beroperasi sejak tahun 1890, namun saat ini masih terawat dan beroperasi dengan baik. Barangkali inilah salah satu bukti kecanggihan teknologi Jerman yang bertahan seiring berjalannya waktu.

Kereta Funicular Yang Membawa Kami ke Kastil
Kurang lebih pukul 12, kereta yang membawa kami berhenti di stasiun Heidelberg Schloss. Saat keluar dari stasiun, dari kejauhan terlihat reruntuhan kastil Heidelberg. Dengan ketinggian 80 meter di atas sungai Neckar di atas tebing bukit Konigstuhl , reruntuhan kastil Heidelberg mendominasi wajah kota Heidelberg. Kastil ini memiliki gaya arsitektur campuran jaman Gothic dan jaman Renaissance.  Keberadaan kastil ini telah diketahui sejak tahun 1155, sekaligus sebagai penanda kelahiran dinasti Palatine di Heidelberg. Pada awal pembangunannya, kastil ini berfungsi sebagai benteng pertahanan. Kastil baru digunakan sebagai tempat tinggal sejak masa pemerintahan Pangeran Ruprecht III di tahun 1398.


Salah Satu Sudut Kastil Heidelberg
Sejak didirikan, kastil Heidelberg telah menjadi  saksi kekuasaan dinasti Palatine, serta beberapa kali mengalami kehancuran akibat perang atau kebakaran. Kerusakan terparah terjadi ketika kastil terbakar akibat sambaran petir di tahun 1764. Sejak saat itu kastil Heidelberg terbengkalai, bahkan batu-batunya dijarah dan dijadikan bahan pembuatan rumah-rumah modern. Namun pada tahun 1810, Count Charles de Graimberg menghentikan hal tersebut, dan kemudian menjadikan kastil Heidelberg sebagai cagar budaya. Beruntung Count de Graimberg mengambil tindakan ini, jika tidak, kastil Heidelberg barangkali hanya tinggal nama.

Salah Satu Sudut Kastil Heidelberg
Setelah melihat sisa-sisa reruntuhan kastil, kami masuk ke halaman dalam kastil dan menuju The German Pharmacy Museum. Museum ini menempati gedung Ottheinrichsbau, sebuah bangunan bergaya Renaissance yang didirikan antara tahun 1556-1566 atas perintah Pangeran Otto Heinrich. Koleksi museum terdiri dari benda-benda terkait sejarah dunia farmasi dan apotik di dunia, termasuk diorama ruang farmasi, laboratorium, buku farmakope, manuskrip, peralatan pembuatan obat, serta berbagai jenis obat-obatan dari abad 17-19. Dari isi museum tersebut, terbayang bagaimana perkembangan ilmu pengobatan dan industri obat sejak awal peradaban manusia hingga abad 19. Seandainya waktu kami cukup banyak, bisa jadi kami akan menghabiskan waktu seharian di dalam museum untuk mempelajari isi museum.

The German Pharmacy Museum
Kurang lebih di seberang Museum Farmasi, terdapat sebuah restoran yang menempati ruang bawah tanah kastil. Di dalam restoran tersebut terdapat tong anggur raksasa yang disebut Heidelberg Tun. Tong anggur ini diklaim sebagai tong anggur terbesar di dunia. Tong dengan tinggi 7 meter, lebar 8,5 meter dan berkapasitas 219.000 liter tersebut dibuat pada tahun 1751 atas perintah Pangeran Karl Theodor, untuk menampung anggur yang diserahkan para petani anggur di Palatine sebagai pembayaran upeti. Saat ini tong tersebut tidak digunakan untuk menyimpan anggur, dan lebih berfungsi sebagai obyek foto-foto.

Heidelberg Tun
Pukul 14.00, kami kembali ke stasiun Heidelberg Schloss, menaiki kereta kabel kembali ke Kornmarkt. Dari Kornmarkt, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Markplatz (Market Square), yang merupakan jantung dari Heidelberg Altstadt (kota tua Heidelberg). Markplatz ditandai dengan Heiliggeistkirche (Church of The Holy Ghost) di sisi barat, dan Balai Kota di sisi timur, serta Herkulesbrunnen atau air mancur Hercules. Sejak abad pertengahan, tempat ini merupakan pusat kegiatan di Heidelberg, termasuk untuk pasar, sekaligus tempat pemberian hukuman penjahat dan orang-orang yang dituduh sebagai penyihir.

Church of The Holy Ghost, Dilihat Dari Kastil Heidelberg
Daerah paling populer dari Altstadt adalah Hauptstrasse atau Main Street, sebuah jalur sepanjang 1,6 kilometer yang membentang sepanjang Altstadt dari Markplatz hingga ke Bismarck Platz. Tempat ini merupakan pedestrian paling panjang di Jerman. Di sepanjang jalur terdapat toko-toko souvenir, toko-toko barang bermerk seperti yang sering kita temukan di pusat perbelanjaan internasional, beer garden, dan restoran. Toko-toko ini menempati bangunan-bangunan kuno bergaya renaissance, dan hampir di setiap sudut jalanan terdapat bangunan dengan ornamen arsitektur menarik yang sayang untuk dilewatkan. Inilah yang membuat romantisme kota ini sulit ditandingi. Namun demikian, selama berjalan kaki melintasi Hauptstrasse, kami pun harus memegang erat-erat dompet, dan menguatkan tekad untuk melawan godaan berbelanja barang-barang lucu di toko-toko sepanjang Hauptstrasse.

Salah Satu Sudut Hauptstrasse
Sebelum menelusuri Hauptstrasse, kami menyempatkan diri berfoto di Karl Theodor Brucke, salah satu landmark Heidelberg lainnya. Jembatan kuno sepanjang 200 meter ini melintasi sungai Neckar dan menghubungkan Heidelberg Altstadt dengan Neunheim di seberang sungai. Bangunan jembatan ini memilki sejarah yang sama panjangnya dengan kastil Heidelberg. Pertama kali dibangun pada tahun 1248, jembatan ini beberapa kali dibangun dan bangunan yang saat ini berdiri merupakan bangunan kesembilan yang dibangun pada tahun 1788. Salah satu penanda jembatan tua ini adalah Bruckentor atau gerbang menara batu di sisi selatan, yang bentuknya menyerupai roket kembar. Sebagai pendamping, di sisi barat jembatan tua ini telah ditambahkan jembatan baru, yang menghubungkan antara Bismarkplatz dengan Neunheim.

Karl Theodor Brucke

Bruckentor
Sehari menjelajahi beberapa landmark di Heidelberg dan mengetahui berbagai kisah yang melatarbelakangi landmark tersebut, saya akhirnya memahami emosi yang ingin disampaikan KLa Project melalui lagu Heidelbeg ’92. Emosi tentang keagungan sebuah wilayah yang memiliki sejarah demikian panjang. Emosi tentang romantisme yang terkandung di setiap sudut kota. Dan emosi yang timbul, ketika upaya mempertahankan bukti sejarah panjang yang berpadu dengan atmosfer romantis telah memberikan hasil yang sepadan bagi kelangsungan Kota Heidelbeg. Tak ingin rasanya cepat pergi dari kota ini, dan semoga romantisme Heidelberg tak akan lekang dimakan oleh waktu.