Friday, July 19, 2013

[7wonders] Desa Adat Sade Rembitan dan Konservasi Budaya Suku Sasak



Desa Adat Sade Rembitan di Lombok Tengah merupakan salah satu dari 3 desa adat yang menjadi pemukiman Suku Sasak di Lombok. Desa seluas 5 hektar ini konon sudah berdiri sejak 600 tahun yang lalu, dan telah dijadikan tujuan wisata budaya sejak masa Hindia Belanda. Untuk mencapai Desa Sade cukup mudah, karena terletak di tepi jalan utama dari Mataram menuju Pantai Kuta, Kabupaten Lombok Tengah. Dari Kota Mataram, Desa Sade dapat dicapai menggunakan angkutan umum dengan lama perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Atau dari Bandara Internasional Lombok, Anda bisa menggunakan taksi atau kendaraan sewa menuju Desa Sade, dengan lama perjalanan hanya sekitar 20 menit. Saat masuk ke Desa Sade, wisatawan akan disambut para pemuda Sasak yang akan menjadi pemandu berkeliling di desa. Wisatawan juga akan diminta mengisi buku tamu dan mengisi sumbangan sekadarnya. 


Rumah Tradisional Suku Sasak
Hal pertama yang akan ditunjukkan para pemandu kepada wisatawan adalah bangunan khas Suku Sasak. Ciri khas dari bangunan Suku Sasak adalah dinding dan tiang terbuat dari bambu, dengan atap yang terbuat dari alang-alang kering. Keistimewaan dari atap alang-alang ini adalah atap tersebut akan menyejukkan bangunan saat cuaca terik, namun sebaliknya memberikan kehangatan di malam hari. Jarak antar bangunan sangat rapat, dan masing-masing bangunan dihubungkan dengan jalan setapak yang tak bisa dilewati kendaraan bermotor.
Wisatawan akan diajak masuk ke dalam Bale Tani, atau rumah tinggal. Nama bangunannya mencerminkan profesi penghuninya sebagai petani. Bale Tani terdiri dari 3 bagian, bagian pertama yang disebut sesangkok terletak di bagian depan rumah dan digunakan untuk ruang tidur orang tua dan anak lelaki. Bagian kedua terletak di lantai atas yang disebut Dalem Bale, dan berfungsi sebagai ruang tidur anak gadis sekaligus sebagai dapur. Di dalam Dalem Bale terdapat bagian ketiga yang disebut Bale Dalam. Ruangan kecil ini digunakan untuk pengantin atau tempat melahirkan. Jumlah Bale Tani di Desa Sade kurang lebih 150 rumah, sama dengan jumlah kepala keluarga di desa tersebut. 


Salah satu keistimewaan dari Bale Tani adalah cara perawatannya. Seminggu sekali lantai Bale Tani digosok dengan kotoran kerbau yang dicampur sedikit air, kemudian setelah kering disapu dan digosok dengan batu. Penggosokkan dengan kotoran kerbau ini berfungsi untuk membersihkan lantai dari debu, memperkuat lantai, serta menghangatkan rumah di malam hari. Masyarakat Sasak percaya bahwa kotoran kerbau tersebut dapat mengusir serangga sekaligus menangkal serangan magis yang ditujukan pada penghuni rumah.
Di depan Bale Tani, terdapat lumbung padi, yang menjadi ikon khas bangunan Suku Sasak. Bangunan ini dibuat di atas empat pilar kayu dengan atap berbentuk topi yang terbuat dari alang-alang. Lumbung ini digunakan untuk menyimpan hasil panen warga untuk kebutuhan pangan selama setahun, dan masing-masing lumbung digunakan untuk menyimpan kebutuhan padi bagi 5 kepala keluarga. Menurut kepercayaan masyarakat Sasak, yang boleh mengambil padi adalah wanita yang telah berkeluarga. Dipercaya jika hal ini dilanggar, maka wanita yang melanggar tidak akan mendapat keturunan.

Adat Istiadat Suku Sasak
Sambil menunjukkan Bale Tani, para pemandu biasanya akan menceritakan pula adat istiadat masyarakat Suku Sasak, salah satunya adalah adat merarik atau selarian. Adat ini adalah ketika seorang jejaka berniat untuk menikah, ia akan melakukan “kawin lari”, dengan menculik gadis yang menjadi calon istrinya. Istilah "kawin lari" bagi suku Sasak berbeda dengan "kawin culik". Pada "kawin lari", telah terjadi kesepakatan antara sang jejaka dengan sang gadis, sedangkan pada "kawin culik", sang jejaka menculik sang gadis secara paksa. Setelah sang gadis dilarikan, beberapa hari kemudian pihak lelaki akan mengirimkan utusan adat untuk melakukan mesejati, atau memberitahukan kepada pihak keluarga perempuan bahwa anak gadisnya sudah diculik dan akan dinikahkan. Selanjutnya akan dilakukan nyelabar, atau kesepakatan mengenai biaya pesta pernikahan.
Menurut adat istiadat Suku Sasak, cara “kawin culik” ini dianggap lebih kesatria dibandingkan dengan melamar secara baik-baik. Walaupun tampaknya mudah untuk dilakukan, namun banyak peraturan dan tata cara yang harus dipenuhi. Antara lain, penculikan harus dilakukan pada malam hari, dan sang jejaka yang akan menculik harus membawa teman atau kerabat sebagai pengecoh dan saksi serta pengiring, supaya proses penculikan tidak terlihat oleh siapapun. Apabila proses penculikan terlihat, sang jejaka akan dikenakan denda oleh pihak perempuan dan pihak desa. Setelah sang gadis berhasil diculik, ia tidak boleh langsung dibawa ke rumah sang jejaka, tetapi ke rumah kerabat pihak laki-laki terlebih dahulu. Selain itu, karena susunan rumah adat Suku Sasak di mana kamar untuk anak perempuan berada di bagian paling dalam dan terletak di tingkat atas, tentunya proses penculikan sang gadis tidak akan mudah dan penuh perjuangan, karena sang jejaka harus melewati sesangkok yang ditempati orang tua sang gadis.

Kain Tenun Sasak
Kunjungan ke Desa Sade belum lengkap jika tidak melihat tenunan karya para wanita di Desa Sade. Bagi masyarakat Suku Sasak, ketrampilan menenun merupakan bagian dari tradisi, di mana terdapat aturan adat bahwa seorang perempuan Sasak tidak boleh menikah jika belum bisa menenun. Ketrampilan ini dimanfaatkan untuk membantu perekonomian keluarga, khususnya jika hasil pertanian kurang baik. Umumnya para wanita Suku Sasak mulai belajar menenun pada usia 7 hingga 10 tahun. Salah satu produk kain tenun yang menjadi ciri khas Suku Sasak adalah kain songket, yang terbuat dari benang emas atau perak yang ditenun bersama benang katun atau sutra.


Pembuatan kain tenun di Desa Sade dimulai dari pemintalan kapas menjadi benang. Benang tersebut kemudian diberi warna dan ditenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang terbuat dari kayu dan bambu. Pembuatan kain songket sepanjang 2 meter memerlukan waktu pengerjaan antara 1 minggu hingga 1 bulan, bergantung pada tingkat kerumitan polanya. Harga satu lembar kain songket berkisar antara 100 ribu hingga 350 ribu Rupiah. Di berbagai sudut Desa Sade terdapat kios-kios yang menjajakan kain tenun, masing-masing kios merupakan koperasi yang dikelola beberapa orang.

Tuesday, July 16, 2013

Travel Feature: Sarana Asyik Berbagi Keindahan Nusantara

Pantai Malimbu, Lombok

 Saya yakin, semua orang sepakat dengan saya bahwa Indonesia ini sangat indah. Begitu indahnya, sampai rasanya tak ada habisnya walaupun kita selalu menceritakannya bahkan dengan berulang-ulang. Karena begitu luasnya wilayah Indonesia, belum tentu kita bisa menikmati seluruh keindahan nusantara dari Sabang sampai Merauke. Salah satu cara untuk "menikmati" keindahan nusantara ini yakni melalui travel feature, atau artikel perjalanan.

Travel Feature merupakan salah satu bentuk tulisan genre Travel Writing, yang mengulas mengenai sebuah tempat atau perjalanan. Travel Feature banyak diasosiasikan dengan kegiatan wisata, karena artikel-artikelnya biasanya ditulis untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai sebuah objek wisata atau destinasi, tips dan saran dalam mengunjungi objek wisata atau destinasi tersebut,

Pada dasarnya, travel feature adalah sebuah karya jurnalistik yang merupakan perpaduan jurnal perjalanan, emosi dan opini penulis, serta informasi teknis tentang lokasi atau kegiatan wisata yang dikunjungi. Travel feature ditulis dari sudut pandang orang pertama, dalam artian penulis melakukan sendiri perjalanan dan wisata yang diulas dalam artikel tersebut. Karena mengandung emosi dan opini penulis, kisah perjalanan yang dimuat dalam travel feature seharusnya bisa lebih hidup dan kaya informasi.

Apa saja topik yang bisa ditulis dalam travel feature? Banyak sekali, sama banyaknya dengan jenis perjalanan atau wisata yang bisa dilakukan. Termasuk di antaranya adalah wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner, wisata petualangan, wisata belanja, wisata sejarah, wisata kriya, wisata arsitektur, dan lain sebagainya. Bahkan untuk satu destinasi perjalanan, Anda bisa menulis lebih dari satu feature dengan aspek yang berbeda, misalnya ketika Anda pergi ke Imogiri, Anda tidak hanya bisa menceritakan mengenai pemakaman Sultan serta kerabat keraton Yogyakarta dan Surakarta sekaligus berbagai tradisi yang dilakukan di sana, tetapi Anda juga bisa menuliskan feature tentang wedhang uwuh, minuman khas Imogiri yang banyak dijual di sekitar pemakaman.

Untuk membuat sebuah travel feature yang menarik, Anda tidak harus menulis tentang destinasi wisata yang terkenal, atau yang sulit dijangkau, atau petualangan yang menaikkan adrenalin. Mulailah dengan destinasi yang terdekat di rumah Anda, misalnya tentang perjalanan "blusukan" di pasar tradisional, atau tentang jajanan khas yang tidak ada di tempat lain. Namun demikian, jangan takut menuliskan destinasi yang pernah ditulis orang lain. Setiap perjalanan sifatnya personal, dan Anda akan selalu bisa menemukan hal-hal menarik lainnya yang  belum pernah dituliskan sebelumnya.

Salah satu ciri travel feature yang baik adalah penulis menceritakan hal-hal yang dirasakan oleh panca inderanya, sehingga pembaca dapat merasakan seolah-olah sedang berada di lokasi yang diulas, dan dapat merasakan sendiri apa yang dirasakan oleh penulisnya. Untuk menghasilkan travel feature yang menarik, berikut ini beberapa hal yang harus dipersiapkan:

• Lakukan riset untuk mencari data dan fakta sebanyak mungkin tentang objek wisata yang akan ditulis. Riset bisa dilakukan dari buku panduan atau internet. Data yang dicari di antaranya adalah keunikan objek wisata, kondisi geografis, adat istiadat di lokasi wisata, moda transportasi menuju ke sana, akomodasi yang tersedia, dana yang dibutuhkan, dan jadwal event khusus pada jadwal kunjungan Anda.

• Buat outline sebagai panduan Anda dalam mencari data selama berwisata. Outline akan membantu Anda lebih fokus pada topik tertentu di lokasi wisata yang akan diliput.

• Susun itinerary perjalanan untuk mengetahui waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk menuju ke sebuah destinasi, serta berapa waktu yang tersedia untuk meliput di destinasi tersebut. Hal ini akan membantu agar jadwal perjalanan menjadi lebih efektif, dan biaya perjalanan menjadi lebih efisien.

Selama berada di destinasi perjalanan, seorang travel writer wajib menikmati setiap momen dan proses dalam perjalanan. Pergunakan seluruh panca indera Anda untuk mengetahui semua "rasa", baik dari segi penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecap, dan yang tak kalah penting adalah perasaan yang membentuk emosi dan opini.

Catat setiap hal yang Anda alami dan rasakan dalam jurnal perjalanan. Catatan ini merupakan sumber informasi pertama Anda dalam menulis artikel. Gali sebanyak mungkin informasi di objek wisata, baik dari brosur yang tersedia maupun dari orang-orang yang Anda temui selama berwisata.

Jangan lupa membuat foto sebanyak mungkin, sehingga Anda memiliki dokumentasi yang lengkap serta foto yang menawan untuk mendukung travel feature yang akan ditulis. Foto juga bermanfaat untuk memicu kembali perasaan yang pernah Anda rasakan selama di destinasi, jika Anda tiba-tiba mengalami writers’ block saat sedang menulis feature.

Setelah Anda selesai melakukan perjalanan, sangat disarankan untuk segera menuliskan travel feature, agar perasaan, pendapat, kesan dan emosi yang dirasakan masih dingat dengan jelas. Deskripsikan bagaimana pengalaman, perasaan dan opini Anda selama di destinasi tersebut, dan tambahkan dialog dengan orang-orang yang Anda temui agar artikel menjadi lebih hidup.

Tambahkan keterangan deskriptif mengenai destinasi sebagai informasi tambahan sekaligus untuk memperkaya tulisan. Setelah selesai ditulis, baca kembali tulisan Anda, lakukan penyuntingan, dan setelah Anda puas, Anda bisa menerbitkannya di blog, atau mengirimkannya ke media cetak untuk dimuat.


Keterangan : Artikel asli dimuat di Republika Online..

Thursday, July 11, 2013

Obyek Wisata Sejarah dan Budaya di Medan




Medan, kota terbesar di Pulau Sumatra, dan kota terbesar keempat di Indonesia. Kota yang berkembang seiring dengan perkembangan industri perkebunan di Sumatra bagian utara ini merupakan kota yang multikultur, dan ditandai dengan berbagai obyek wisata sejarah dan budaya yang unik.

Sebut saja Istana Maimoon yang menjadi ikon Kota Medan. Istana bergaya Melayu-India-Eropa ini merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Deli, yang dibangun oleh Sultan Deli ke-IX Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada awal abad 20. Bangunan berwarna kuning-hijau ini memiliki gaya arsitektur yang terinspirasi dari istana Kesultanan Islam di Andalusia dan Mogul, dipadukan dengan gaya arsitektur modern Eropa pada masa itu. Namun demikian, bangunan ini masih memiliki ciri khas arsitektur Melayu, yang ditandai dengan atap limasan bertingkat dipadukan dengan atap kubah bergaya Mogul yang terletak di penampil depan Istana.

Bersamaan dengan pembangunan Istana Maimoon, Sultan Deli juga memerintahkan pembangunan Masjid Raya Al Mashun, yang terletak hanya 200 meter dari Istana Maimoon. Serupa dengan Istana Maimoon, Masjid Raya Al Mashun juga memiliki perpaduan gaya arsitektur Timur Tengah, India, dan Spanyol. Sejak berdiri pada tahun 1906 hingga hari ini, Masjid Al Mashun belum pernah direnovasi. Di bulan Ramadhan, Masjid Raya Al Mashun terkenal dengan tradisi Bubur Sop yang dimasak mulai pukul 2 siang hingga pukul 4 sore, untuk kemudian dibagi-bagikan kepada para jamaah sebagai hidangan berbuka puasa.


Jika Anda peminat sejarah dari masa kolonial, Anda bisa meneruskan wisata heritage menuju kawasan Kesawan. Kawasan Kesawan yang berada di Jl. Ahmad Yani merupakan pusat perniagaan Medan di masa lalu. Di kawasan ini terdapat Tjong A Fie Mansion. Rumah besar bernuansa Tionghoa ini semula merupakan rumah tinggal Tjong A Fie, Mayor atau pemimpin komunitas Tionghoa Medan pada awal abad ke-20. Saat ini rumah tersebut masih dihuni oleh keturunan Tjong A Fie, sekaligus dijadikan “museum hidup” mengenai kehidupan kaum peranakan di Medan pada awal abad ke-20.


Melanjutkan perjalanan menuju arah Lapangan Merdeka di Jl. Balai Kota, terdapat  banyak peninggalan arsitektur kolonial. Salah satunya adalah Gedung London Sumatera, yang semua dimiliki perusahaan perkebunan karet Harrison & Crossfield. Gedung dengan gaya arsitektur khas Eropa tersebut dibangun pada tahun 1906, dan merupakan gedung bertingkat tertua di Medan.  Saat ini Gedung London Sumatera masih berfungsi sebagai kantor PT PP London Sumatera Tbk.


 
Tak jauh dari Gedung London Sumatera, di sudut antara Jl. Balai Kota dengan Jl. Raden Saleh, terdapat Gedung Balai Kota Lama. Bangunan ini dibuat pada tahun 1908, dan semula akan digunakan oleh kantor De Javasche Bank. Namun karena rancangannya tidak disetujui, bangunan ini kemudian dibeli Dewan Kota Medan, dan difungsikan sebagai Balai Kota. Konon lonceng yang ada di atas menara Balai Kota Lama merupakan sumbangan dari Tjong A Fie. Saat ini Balai Kota Lama merupakan bagian dari Hotel Grand Aston City Hall, dan difungsikan sebagai kafe.

Kurang lebih 200 meter dari Balai Kota Lama, terdapat Kantor Pos Medan. Bangunan dengan atap kubah ini didirikan pada tahun 1909, dan masih berfungsi sebagai Kantor Pos. Dengan adanya jendela-jendela berbentuk setengah lingkaran, bangunan ini bentuknya mirip kandang burung merpati, yang sekaligus merupakan lambang PT Pos Indonesia.

Kunjungan ke Medan belum lengkap jika Anda belum singgah di Kuil Shri Mariamman. Rumah ibadah agama Hindu ini terletak di Jl. Teuku Umar No. 18, di tengah wilayah yang dikenal sebagai Kampung Madras atau Kampung Keling. Kuil yang dibangun pada tahun 1884 ini merupakan kuil pemujaan terhadap Kali (Dewi Durga, atau Mariamman), istri Dewa Siwa yang  merupakan lambang kematian. Dari luar, bangunan yang dikelilingi tembok ini hanya terlihat bagian gopuram-nya, yaitu menara bertingkat khas India Selatan yang berhias relief dewa-dewa Hindu. Gopuram ini dicat warna emas, sehingga sangat menonjol dibandingkan tembok bangunan yang berwarna abu-abu tua.



Tulisan ini disertakan dalam http://www.voucherhotel.com/travel/kontes/

Wednesday, April 10, 2013

Travel Writing is Easy!


Berwisata saat ini merupakan kegiatan yang digemari, yang biasanya bertujuan untuk melepas stress dan kejenuhan. Dengan semakin banyak kegiatan wisata yang dilakukan, maka akan semakin banyak kisah perjalanan dan foto-foto yang bisa dituangkan dalam bentuk artikel wisata.

Artikel wisata adalah tulisan jurnalistik berbentuk feature yang merupakan perpaduan jurnal, pendapat penulis, serta informasi lokasi atau kegiatan wisata yang dikunjungi. Sebuah artikel wisata biasanya ditulis dari sudut pandang orang pertama, dalam artian penulis melakukan sendiri perjalanan dan wisata yang dikisahkan dalam tulisan tersebut. Topik yang bisa ditulis dalam sebuah artikel wisata sama banyaknya dengan jenis wisata yang bisa dilakukan, misalnya wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner, wisata petualangan, wisata belanja, wisata sejarah, wisata kriya, hotel dan akomodasi, arsitektur antik, dan masih banyak lagi. Anda bisa menulis lebih dari satu feature untuk satu lokasi wisata, dengan meliput aspek-aspek atau obyek yang berbeda untuk masing-masing feature.

Untuk membuat sebuah artikel wisata yang menarik, anda tidak harus menulis tentang obyek wisata terkenal, tentang obyek wisata yang sulit dijangkau, atau tentang wisata petualangan yang seru namun membutuhkan ketahanan fisik yang prima. Anda bisa memulai dengan menulis obyek wisata yang terdekat dengan rumah anda, misalnya tentang suasana alun-alun di kota tempat kita tinggal, atau tentang berburu kuliner khas di kota Anda. Namun jangan takut untuk menulis tentang obyek wisata yang sudah pernah ditulis sebelumnya, karena anda selalu bisa menemukan hal-hal menarik lainnya yang belum pernah diliput.

Sebuah artikel wisata yang baik bukan sekedar tulisan pengalaman saat berwisata. Ciri dari artikel wisata yang baik adalah penulis menceritakan hal-hal yang dirasakan oleh panca inderanya, membuat seolah-olah pembacanya sedang berada di lokasi yang ditulis dan dapat merasakan apa yang dirasakan penulisnya. Untuk dapat membuat artikel wisata yang baik, perlu persiapan yang matang sebagai berikut :

  • Lakukan riset untuk mencari data dan fakta sebanyak mungkin tentang obyek wisata yang akan ditulis, termasuk diantaranya adalah keunikan obyek wisata, kondisi geografis, adat istiadat di lokasi wisata, moda transportasi menuju ke sana, akomodasi yang tersedia, dana yang dibutuhkan, dan jadwal event khusus yang mungkin bisa diulas.
  • Buat outline atau kerangka penulisan, sebagai panduan anda dalam mencari data selama berwisata. Outline akan membantu anda lebih fokus pada topik tertentu di lokasi wisata yang akan diliput.
  • Susun itinerary perjalanan untuk mengetahui berapa waktu yang dibutuhkan untuk menuju ke lokasi serta berapa waktu yang tersedia untuk meliput di lokasi. Hal ini akan sangat membantu ketika dalam satu perjalanan anda bisa mengunjungi lebih dari satu obyek wisata, sehingga jadwal perjalanan menjadi lebih efektif.

Selama berwisata, hal yang wajib dilakukan oleh seorang travel writer adalah menikmati setiap momen dan proses dalam perjalanan. Apa yang anda alami dan rasakan dalam setiap momen sebaiknya segera dicatat dalam jurnal perjalanan. Catatan ini penting sebagai sumber informasi anda dalam menulis artikel. Gali sebanyak mungkin informasi di obyek wisata, baik dari brosur yang tersedia maupun dari orang-orang yang anda temui selama berwisata. Jangan lupa membuat foto-foto wisata sebanyak mungkin, sehingga anda memiliki dokumentasi yang lengkap serta foto yang menawan untuk mendukung artikel wisata yang akan ditulis.
Setelah selesai perjalanan, usahakan untuk sesegera mungkin menulis artikel wisata, agar perasaan, pendapat, kesan dan emosi yang dirasakan selama di tempat wisata masih dingat dengan jelas. Agar artikel wisata lebih hidup dan mengesankan, di dalam artikel yang ditulis anda bisa melibatkan penulis dan tokoh-tokoh lain yang ditemui selama berwisata, misalnya rekan seperjalanan, pemandu wisata, penduduk di sekitar lokasi. Sedangkan keterangan deskriptif mengenai obyek wisata merupakan informasi tambahan kepada pembaca, sekaligus untuk memperkaya tulisan.

Sama seperti feature pada umumnya, artikel wisata memiliki susunan sebagai berikut :

  • Teras Feature (Lead). Teras feature adalah kalimat pembuka dan merupakan bagian paling penting dari artikel wisata, karena berfungsi untuk menarik perhatian pembaca. Teras feature bisa berupa pernyataan, narasi, deskripsi, ringkasan, ungkapan, dialog, pertanyaan, atau sesuatu yang sensasional.
  • Badan Tulisan. Badan tulisan ditulis sesuai arahan pada teras. Di sinilah isi artikel wisata berupa cerita perjalanan, deskripsi mengenai obyek wisata dan orang-orang yang ditemui, serta informasi lainnya.
  • Penutup. Penutup bisa berupa ringkasan yang mengacu kembali pada teras, bisa berupa klimaks, bisa berupa pertanyaan retoris, atau pernyataan yang menggugah pembaca.

Artikel wisata sebaiknya diberi judul yang orisinil, kreatif, serta menarik, agar pembaca tergugah dan tergerak untuk membaca. Sertakan catcher atau semacam ringkasan dalam 1-2 kalimat, agar pembaca mendapat gambaran mengenai isi artikel dan tertarik untuk membacanya lebih lanjut.

Karena sifatnya berupa feature, artikel wisata dapat dibuat seperti sebuah karya sastra, walaupun disampaikan secara deskriptif dan obyektif. Bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa sehari-hari, dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Gaya penulisan artikelnya bisa berbeda-beda. Gaya penulisan sangat dipengaruhi oleh ciri khas masing-masing penulis, namun tetap memperhatikan gaya penulisan media yang menjadi sasaran tempat penulis akan mengirimkan artikelnya. Sebagai contoh, artikel wisata untuk majalah travelling tentu akan ditulis dengan gaya yang berbeda dengan artikel wisata untuk majalah remaja putri. Jika anda merasa belum menemukan gaya penulisan yang menjadi ciri khas anda, anda bisa terlebih dulu meniru gaya penulisan para travel writer yang sudah menerbitkan artikelnya di berbagai media, sambil terus mengembangkan gaya penulisan anda sendiri.

Untuk mengikuti kelanjutan pembahasan mengenai artikel wisata dan foto pendukungnya, buku Travel Writing 101 akan membantu Anda menjelajah dunia travel writing dan travel photography. Segera dapatkan buku ini di toko buku terdekat, atau dengan menghubungi kami di 081410822982 (WhatsApp/SMS only) atau e-mail : arini_che@yahoo.com.

Keterangan : artikel asli dipublikasikan di IIDN.org

Thursday, March 7, 2013

Travel Writing 101 - Kupas Tuntas Cara Mudah Membuat Artikel dan Foto Perjalanan

Melakukan perjalanan wisata saat ini telah menjadi kegiatan yang digemari banyak orang. Dengan semakin banyak orang melakukan wisata dan perjalanan, maka semakin banyak media, baik dari dalam maupun luar negeri, yang memuat artikel-artikel wisata yang didukung foto-foto yang menawan.
BukuTravel Writing 101 ini berawal dari ide bahwa semakin banyak orang yang menulis tentang perjalanan wisata serta membuat foto-foto perjalanan, namun belum banyak buku panduan penulisan artikel perjalanan dan foto pelengkapnya yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Buku ini dapat dipergunakan sebagai panduan bagaimana menjadi seorang travel writer dan travel photographer.
Berawal dari hobi travelling, menulis, dan membuat foto dokumentasi perjalanannya, Arin memadukan ketiga hal tersebut dan memulai penjelajahan dalam bidang travel writing dan travel photography. Beberapa artikel yang pernah ditulisnya terpilih menjadi pemenang dalam event Adira Best 100 Faces of Indonesia 2011. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail arini.tathagati@gmail.com atau Twitter @tathagati.

Banner4