Friday, May 25, 2018

Menambang Angin di Tepi Sungai Zaan

“Za-anse Schan”.

Sepanjang jalan kami berulang kali mencoba menirukan pak Nanto, pengemudi mobil rental yang kami gunakan, yang berusaha mengajarkan cara mengucapkan nama tempat yang kami tuju dengan lafal yang benar, lengkap dengan penekanan pada “ch”-nya. Zaanse Schan merupakan salah satu pemukiman yang terletak di daerah aliran sungai Zaan (Zaanstreek), tepatnya di daerah Zaandam. Tempat ini semula digunakan sebagai schans atau tempat perlindungan rakyat Belanda dari serbuan tentara Spanyol pada masa perang di abad ke-16. Di daerah ini semula terdapat 13 tempat perlindungan, dan Zaanse Schan merupakan tempat perlindungan yang terbesar.

Zaanstreek
Daerah Zaanstreek merupakan salah satu ladang angin tradisional Belanda sejak abad 17, dengan banyaknya kincir angin tradisional yang didirikan di kawasan ini. Zaanse Schan sendiri mulai tumbuh menjadi pemukiman sejak abad 18, bersamaan dengan tumbuhnya industri kapal. Kincir-kincir angin yang ada di Zaanse Schan semula difungsikan untuk mendukung industri kapal tersebut, dan baru digantikan oleh mesin uap pada abad ke-19. Saat ini Zaanse Schan berfungsi sebagai desa wisata yang menjadi salah satu atraksi favorit, dengan obyek wisata berupa rumah-rumah klasik dan kincir angin kuno. Rumah klasik dan kincir angin kuno ini sebagian besar merupakan hasil pemindahan bangunan kuno dari Zaanstrek.

Deretan Kincir Angin di Zaanse Schan
Pak Nanto memarkirkan mobil van yang kami gunakan, kemudian membantu membukakan pintu mobil. Begitu kami keluar mobil, semilir angin dingin langsung menerpa kami. Di kejauhan terlihat kincir-kincir angin (windmolen) khas Belanda. Ah, kali ini saya beneran di negoro Londo! Tak heran tempat ini digunakan sebagai ladang angin, sebab daerah ini memang cukup berangin.

Akhirnya Kesampaian Juga ke Negoro Londo!
Sambil berjalan menuju ke arah deretan kincir angin, kami mampir ke tempat peragaaan pembuatan keju Catharina Hoeve Cheese Farm, yang dibuat sebagai replika peternakan tradisional di Oostzaan. Dijelaskan oleh petugas peraga bahwa pembuatan keju dilakukan dengan memanaskan susu pada suhu 29 derajat Celcius, hingga komposisinya 90% air dan ampas keju 10%. Ampas keju tersebut kemudian ditekan dan disimpan selama beberapa waktu. Untuk menghasilkan keju yang lembut, ampas keju cukup disimpan selama 1 bulan. Namun untuk menghasilkan keju yang keras dan tahan lama, ampas keju dapat disimpan hingga 2 tahun. Untuk melindungi keju, biasanya keju dibungkus dengan beberapa lapisan. Lapisan pertama dibuat dengan bahan yang dapat dimakan untuk melindungi keju dari bakteri, sedangkan lapisan kedua dibuat dari lilin. Keju yang dijual di tempat ini juga memiliki bermacam-macam varian, mulai dari keju muda, keju tua, keju asap, keju susu kambing, keju susu domba, keju jalapeno dll. Sebelum membeli, pengunjung diperkenankan mencicipi sampel yang tersedia. Bagi orang yang tidak suka bereksplorasi dengan makanan, mencicipi aneka keju ini bukan tugas yang ringan, terutama disebabkan aroma keju yang sangat kuat, jauh lebih kuat daripada keju cheddar yang kita temui di tanah air.

Peragaan Pembuatan Keju di Catharina Hoeve Cheese Farm
Dari tempat pembuatan keju, kami melanjutkan perjalanan ke kincir angin. Sepengetahuan kami, kincir angin di Belanda digunakan untuk memompa air atau menggiling gandum. Namun di tempat ini kami mendapat penjelasan bahwa kincir angin itu bisa digunakan untuk keperluan lain, termasuk seperti penggiling mustard, penggiling bahan cat, memotong kayu, dan mengolah minyak. Di Zaanse Schan terdapat 8 kincir angin tradisional dengan fungsi yang berbeda-beda. Kincir-kincir yang terdapat di Zaanse Schan merupakan anggota asosiasi “De Zaansche Molen”. Untuk masuk ke setiap kincir kami harus membayar tiket masuk lagi. Dengan harga tiket yang tidak bisa dibilang murah untuk kocek orang Indonesia, kami memutuskan untuk memilih salah satu kincir saja.

Kincir De Kat Untuk Menggiling Bahan Baku Cat
Akhirnya kami memilih masuk ke kincir Het Jonge Schaap (The Young Sheep) yang digunakan untuk memotong kayu. Kincir ini memiliki tapak bersegi 6, dan bentuknya unik dibandingkan kincir lainnya di daerah Zaan. Secara sekilas, Het Jonge Schaap memiliki ukuran lebih besar dibandingkan kincir-kincir lain di sekitarnya. Kincir aslinya dibangun pada tahun 1680 di Westzijdrveld, Zaandam, dan aktif beroperasi sampai dengan tahun 1935, sebelum dibongkar pada tahun 1942. Antara tahun 2005 sampai dengan 2007 kincir ini direkonstruksi di lokasi baru di Zaanse Schan berdasarkan gambar dari Anton Sipman yang dibuat sebelum kincir yang asli dirubuhkan.

Tempat Pemotongan Kayu
Di dalam kincir Het Jonge Schaap terdapat pemutaran video yang menggambarkan sejarah kincir tersebut. Namun karena keburu bosan, kami langsung masuk ke bagian pemotongan kayu. Ternyata di area tersebut juga tersedia panel yang menjelaskan sejarah kincir Het Jonge Schaap dan cara kerja gergaji raksasa yang digerakkan oleh kincir angin. Dengan bantuan tenaga angin, gergaji raksasa mampu memotong kayu-kayu berukuran besar, yang kemudian didistribusikan melalui sungai.

Rancang Bangun Kincir Het Jonge Schaap
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 waktu setempat, waktunya kami makan siang. Makan siang kami hari ini adalah pancake khas Belanda. Berbeda dengan pancake ala Amerika yang cenderung tebal, pancake Belanda lebih tipis, menyerupai crepes. Pancake ini bisa dimakan polos, dengan taburan gula halus, atau dengan tambahan toping lainnya seperti pisang.

Pancake a la Belanda
Usai makan siang, kami masuk ke workshop pembuatan klompen di dalam gudang “De Vreede” yang semula digunakan oleh perusahaan Molenaar dari Westzaan. Bangunan yang digunakan untuk workshop dibuat pada tahun 1750, dan semula digunakan untuk menyimpan biji gandum dan tembakau. Tempat ini lebih cocok dinamakan museum klompen, karena memuat peragaan dan penjelasan tentang klompen, kelom, atau bakiak khas Belanda ini.

Klompen Aneka Warna
Klompen dibuat dari kayu poppler, sehingga sepatu kayu ini hangat, tahan air, serta sangat kuat. Bahkan diklaim klompen lebih kuat dibandingkan safety shoes yang ada saat ini. Klompen dibuat dengan berbagai desain untuk berbagai kebutuhan, seperti kebutuhan sehari-hari, untuk bekerja (termasuk pekerjaan berat di pabrik pemotongan kayu), untuk ke gereja, serta untuk pernikahan. Di masa lalu, klompen dbuat menggunakan pisau besar, sehingga 1 sepatu memakan waktu 2-3 jam. Saat ini klompen dibuat dengan mesin, sehingga untuk menghasilkan 1 sepatu hanya dibutuhkan 5 menit. Klompen yang sudah jadi tidak langsung dihias, tetapi harus dikeringkan selama 3-4 minggu di udara.

Peragaan Pembuatan Klompen Dengan Pisau Besar

Terpampang di Deswita Pampang

Pampang. Nama ini pertama kali muncul di awal Februari dalam sebuah email dari Mas Yitno, salah satu penggiat Desa Wisata (Deswita) Pampang, yang mengajak saya mengisi sesi tentang travel writing di Pampang. Sulit menolak tawaran ini, dan setelah sedikit melakukan “akrobat” pada jadwal kegiatan saya, saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan beliau.

Disambut hujan di Bandara Adisucipto
 Hasil pencarian tentang Pampang di “mbah “ Google ternyata kurang memuaskan, dan baru setelah kopi darat dengan Mas Yitno di bandara Adisucipto saya mendapat pencerahan mengenai latar belakang Deswita Pampang. Dibandingkan deswita lain di Provinsi DIY, Pampang bisa dikatakan masih “bayi”, karena SK sebagai deswita baru diperoleh pada tahun 2017, walaupun Pampang sebenarnya sudah dikenal sebagai sentra kerajinan perak di Gunungkidul. Daya tarik yang ditawarkan Pampang adalah river tubing di Kedungdowo serta konservasi burung. Kenapa konservasi burung? Menurut Mas Yitno, masih lekat dalam ingatannya, di masa kecilnya setiap pagi Desa Pampang penuh dengan cuitan burung, dan makin lama cuitan tersebut makin menghilang. Masyarakat Desa Pampang ingin mengembalikan cuitan tersebut lagi, dan mereka mulai membeli burung-burung endemic dari pasar burung di sekitar Pampang, untuk dilepaskan dan dikonservasi di kawasan desa. Tak hanya melepaskan burung, warga juga dilarang berburu burung, serta dengan kesadarannya telah menanam berbagai pohon sebagai cadangan makanan burung.

River Tubing, Wisata Andalan Deswita Pampang
Perjalanan dari Yogya ke Pampang cukup memakan waktu, ditambah kami sempat mampir ke Embung Nglanggeran untuk menyaksikan sunset. Sepanjang perjalanan rasanya gemas melihat banyak spot-spot wisata menarik. Sayang waktu kami terbatas dan hari sudah semakin gelap, takut kemalaman juga sampai di Pampang. Barangkali kalau dibuat bucket list, daftar tempat wisata di DIY tidak akan cukup mengisi 1 ember cuci berukuran besar… perlu 2 sampai 3 ember tampaknya.

Sunset di Atas Awan, Dilihat Dari Tepi Embung Nglanggeran
Embung Nglanggeran sendiri sebenarnya tidak didesain khusus sebagai sunset spot. Tempat ini sejatinya adalah agrowisata duren, di mana ketika pohon duren bertumbuh besar, wisatawan bisa hadir untuk makan duren sambil menikmati panorama dari ketinggian. Embung (waduk kecil) Nglanggeran sendiri dibangun sebenarnya sebagai sarana irigasi untuk perkebunan duren, namun posisinya yang strategis membuatnya menjadi salah satu sunset spot yang cantik. Saya yang terbiasa mengejar sunset di pantai atau di perkotaan, kali ini berkesempatan melihat sunset di “negeri atas awan”. Sayang sekali, hari ini sunsetnya tidak bisa maksimal, dengan banyaknya awan-awan yang menggantung. Tapi gak pa-pa, lain kali saya harus kembali ke sini!

Memandang Sunset Dari Seberang Embung Nglanggeran
Setelah semalam beristirahat di homestay milik pakde-nya Mas Yitno, pagi-pagi saya berkesempatan menjelajah ke tempat river tubing dan jalan setapak di sekitarnya. Melihat sungainya yang penuh berisi air dan arusnya cukup tenang, rasanya pengen langsung nyebur, hahaha! River tubing ini diberi nama “Bendowo”, yang berasal dari kata “Bendungan” (di tempat river tubing ini terdapat bendungan kecil untuk menahan debit alir) dan nama dusun “Kedung Dowo” tempat sungai ini mengalir. Anyway, nama “Bendowo” ini justru punya makna lain bagi saya: mugi-mugi deswita Pampang “ben dowo” umure (mudah-mudahan deswita Pampang biar panjang umurnya…).



Suasana Kedung Dowo
Sebelum acara dimulai, di homestay saya bertemu mas Hannif, blogger yang mengasuh website insanwisata.com. Mas Hannif hadir di acara ini atas prakarsa mas Zul, rekan mas Yitno yang juga pelaku aktif dalam dunia pariwisata. Yang menarik, Mas Yitno dan kawan-kawan mengundang saya dan mas Hannif secara terpisah, padahal mas Hannif dan saya sudah berteman di Instagram selama beberapa tahun, semenjak saya ikut kompetisi blog tentang Wisata Sleman. Akhirnya kopdar juga ya… Selain mas Hannif, hadir juga mbak Mumun yang merupakan half of Indohoy. Sayang mbak Mumun nggak bisa berlama-lama sampai acara selesai, tepat sebelum makan siang dirinya harus sudah kembali ke Yogyakarta.



Suasana Kelas
Acara sharing session dibuka oleh Pak Iswandi sang kepala desa, sebelum saya memulai presentasi pertama. Walaupun sudah sering presentasi di kantor, yho ndredhek juga je… Mudah-mudahan audience faham apa yang saya sampaikan, soalnya saya merasa ngebut dot com pada saat penyampaian. Presentasi berikutnya disampakan mas Hannif, dan ternyata materinya rodho lumayan nyambung (Alhamdulillah…). Setelah sesi makan siang ditemani sepoi-sepoi angin dan segarnya aroma kali Bendowo, presentasi dilanjutkan dengan materi terakhir dari pak Eko Sugiarto yang membawakan materi terkait penulisan. Acara hari itu diakhiri dengan foto bersama (yang nggak selesai-selesai), sebelum saya harus berpamitan dengan semua teman-teman baru saya di Pampang untuk kembali ke Yogyakarta.

Suasana di Tepi Kali Bendowo

Foto Bersama (yang nyaris tidak berakhir...)
Dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta, mas Yitno, mas Hannif dan mas Zul menyempatkan diri memampirkan saya ke Griya Cokelat Nglanggeran. Sebenarnya toko ini tutup pada pukul 16.00, namun karena sempat ditelpon oleh mas Yitno dkk, mereka merelakan diri buka untuk menunggu saya berbelanja, maaph ya… Tapi nggak sia-sia mereka menanti saya, karena begitu mencoba tester minumannya, wauw… rasa coklatnya nendang pake banget! Produk unggulan mereka adalah minuman serbuk Chocomix dan Chocomix Original. Jika Chocomix menggunakan komposisi gula-coklat standar, maka Chocomix Original memiliki kandungan cokklat lebih banyak. Tidak terlalu pahit seperti dark coklat, tapi coklatnya lebih nendang rasanya. Coklat yang dijual di tempat ini berasal dari pohon-pohon coklat yang ditanam warga Desa Wisata Nglanggeran. Saya bisa membayangkan mereka buka cabang di atas Embung Nglanggeran, romantis rasanya melihat sunset sambil menikmati coklat…


Inilah Coklat Asli Gunungkidul
Salah satu hal yang sangat berkesan dalam kunjungan ke Pampang adalah saya berkesempatan mencicipi sayur lombok ijo fresh from the kitchen. Adalah ibunda Mas Yitno yang membuat hal ini menjadi kenyataan. Bukan hanya karena sayur lombok ijonya enak dan segar (dan saya berkesempatan makan bukan hanya sekali, tapi dua kali…), tapi sayur lombok ijo ini mengingatkan saya pada almarhum ayah saya, yang bercita-cita ingin makan nasi merah dengan sayur lombok ijo khas Gunungkidul, dan sempat meminta kami mencari informasi tentang resto yang menjual sayur lombok ijo di Wonosari. Nuwun sewu ya Pak, lah kok malah jadinya saya yang makan sayur lombok ijo… langsung dari dapur pula…

Yang Mana Sayur Lombok Ijo-nya?

Thursday, May 24, 2018

Gula-Gula Pabrik Gondang Baru

Gara-gara kunjungan ke De Tjolomadoe di awal April 2018, ingatan saya melayang ke pertengahan tahun 2016, ketika mampir di Pabrik Gula Gondang Baru di Klaten. Pabrik yang nama aslinya Suikerfabriek Gondang Winangoen ini dibangun pada tahun 1860 oleh NV Klatensche Cultuur Maatschappij yang berkedudukan di Amsterdam, dan dikelola oleh NV Mirandolle Vaute & Co yang berkantor di Semarang. Pabrik sempat berhenti berproduksi pada masa resesi ekonomi tahun 1930-1935, sebelum beroperasi kembali sampai masa kemerdekaan Indonesia. Pasca kemerdekaan Indonesia, pabrik dikuasai pemerintah Republik Indonesia. Setelah mengalami pasang surut, di bulan Desember 1957 Pabrik Gula Gondang Winangoen sepenuhnya menjadi milik pemerintah Republik Indonesia, dan namanya diganti menjadi Pabrik Gula Gondang Baru. Sejak tahun 1996, PG Gondang Baru merupakan bagian dari PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) yang berkantor pusat di Surakarta.

Tampak Depan Museum Gula Jawa Tengah
Waktu di jam mobil menunjukkan pukul 09.30 WIB, ketika mobil yang saya kendarai merapat di parkiran Pabrik Gula Gondang Baru. Tujuan utama saya ke Pabrik Gula Gondang Baru adalah untuk singgah di Museum Gula Jawa Tengah. Museum ini didirikan pada 11 September 1982, dan menempati salah satu bangunan lama bergaya arsitektur klasik Eropa seluas 240 meter persegi. Saat ini Museum Gula Jawa Tengah menjadi bagian dari wahana wisata Agrowisata Gondang Winangoen.

Aneka Jenis Tebu di perkebunan Gondang Winangoen
Koleksi museum terdiri dari replika peralatan tradisional perkebunan tebu (termasuk proses pembukaan lahan dengan metode reynoso, peralatan penanaman bibit tebu dan pemeliharaan tanaman tebu), peralatan fabrikasi untuk memproduksi gula, peralatan laboratorium, aneka jenis tebu, aneka jenis tanaman pengganggu tebu, aneka produk antara dan produk akhir pabrik gula yang disimpan dalam toples, maket pabrik gula dan perkebunan tebu, dan foto-foto tempo doeloe (termasuk tradisi selamatan sebelum memulai proses giling pertama).

Peralatan Laboratorium
Salah satu ruangan museum ditata menyerupai ruang kerja administratur perkebunan tebu, lengkap dengan perabot gaya masa kolonial. Di ruangan ini terpasang peralatan kantor tempo doeloe (seperti mesin ketik kuno, mesin hitung kuno, dan kamera), serta peralatan komunikasi tempo doeloe. Di antara peralatan tersebut, terdapat sepasang topi dan tongkat yang digunakan Pak Sinder (supervisor perkebunan) pada saat pergi ke kebun tebu untuk melakukan inspeksi.

Contoh Ruang Kerja Administratur Perkebunan Tebu
Ruangan berikutnya berisi maket pabrik gula Gondang Baru, serta skema mengenai proses pembuatan gula di pabrik gula Gondang Baru. Pada sistem tersebut, tebu diproses pada stasiun gilingan untuk menghasilkan nira tebu, kemudian nira tebu dipisahkan dari padatan kotorannya sebelum masuk stasiun pemurnian. Di stasiun pemurnian, nira tebu dimurnikan menggunakan proses karbonatasi rangkap dengan menambahkan susu kapur dan gas karbondioksida. Hasil proses karbonatasi ini kemudian masuk pada proses sulfitasi rangkap dengan penambahan sulfit. Nira tebu yang sudah lebih jernih kemudian melalui stasiun penguapan untuk mengurangi kandungan air dan mengentalkan nira. Keluaran dari stasiun penguapan kemudian masuk ke stasiun pemasakan untuk proses kristalisasi yang mengubah nira tebu menjadi kristal gula. Selanjutnya gula memasuki stasiun putaran atau centrifuge untuk mengeringkan gula kristal, sebelum gula ditimbang dan dimasukkan ke dalam gudang.

Maket Pabrik Gula Gondang Winangoen
Di halaman museum sisi barat, terdapat koleksi lokomotif untuk menarik lori pengangkut tebu, serta mesin-mesin pabrik gula. Di antara lokomotif uap tersebut, terdapat lokomotif yang dikenal dengan nama “Simbah”. Loko kuno buatan Jerman tahun 1818 ini merupakan lokomotif tertua di museum ini, dan dulu beroperasi melayani angkutan tebu dengan rute dari Stasiun Srowot menuju Surabaya atau Semarang.

Lokomotif "Simbah"
Dalam memilih mesin-mesin pengolahan tebu menjadi gula, pemerintah kolonial Belanda sangat serius, dengan mengirimkan teknologi serta ahli-ahli terbaiknya. Untuk itu mesin-mesin pemrosesan di pabrik didatangkan dari Jerman. Saat dibangun pertama kali, pabrik ini menggunakan turbin air untuk menggerakkan mesin-mesinnya. Setelah penemuan mesin uap, pabrik menggunakan mesin-mesin dengan penggerak utama mesin uap yang memiliki kapasitas giling lebih besar. Mesin uap tertua yang ada di pabrik ini adalah B. Lahaye and Brissoneauf buatan Perancis pada tahun 1884, dan saat ini mesin uap tersebut masih berfungsi dengan baik.

Salah Satu Mesin Stasiun Gilingan Yang Digerakkan Dengan Uap
Sedangkan di sisi timur halaman museum terdapat peralatan tradisional yang digunakan untuk memproses tebu menjadi gula, seperti peralatan batu yang ditemukan di Cirebon, serta peralatan kayu yang ditarik menggunakan sapi. Hal ini menunjukkan bahwa sejatinya pabrik gula bukan merupakan industri baru di Indonesia, karena sudah pernah dilakukan dengan cara tradisional.

Peralatan Pabrik Gula Tradisional

Tuesday, May 22, 2018

Colomadu, Riwayatmu (Tak) Semanis Namamu

De Tjolomadoe. Bangunan bekas pabrik gula Colomadu yang “disulap” menjadi venue pertunjukan dan wisata instagram ini memiliki sejarah cukup panjang, seiring dengan perkembangan bisnis Kadipaten Agung Mangkunegaran di Surakarta. Namun nama Colomadu yang bermakna “gunung madu” ternyata tidak menjamin nasib pabrik gula ini semanis namanya.

De Tjolomadoe dilihat dari Jl. Adisucipto

Pabrik Gula Colomadu
Pabrik Gula Colomadu (PG Colomadu) dibangun oleh KGPAA Mangkunegoro IV sebagai pabrik gula milik pribadi keluarga Mangkunegoro IV. Pendirian pabrik gula ini didasarkan pada kondisi saat itu di mana gula sedang menjadi produk ekspor primadona yang sedang naik daun di pasar internasional. Pabrik ini dibangun mulai 8 Desember 1861, dan diberi nama Colomadu yang bermakna "gunung madu". Pabrik ini merupakan pabrik pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi proses Triple Effect Evaporator, yang merupakan teknologi termodern pada masanya. Produk gula dari PG Colomadu ditujukan untuk konsumsi local, serta diekspor ke Belanda, Singapura, dan Bandaneira. Pada masa pemerintahan Mangkunegoro VII, PG Colomadu berkembang pesat, dan menjadi pabrik gula terbesar di Asia.

Tampak Samping ex Pabrik Gula Tjolomadoe
Adanya Revolusi Sosial di Surakarta pada tahun 1946 merupakan kejadian penting yang memicu hilangnya kekuasaan Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran. Tanggal 16 Juni 1946, Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta mendirikan Karesidenan Surakarta yang membawahi Kotamadya Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten dan Boyolali. Berdirinya Karesidenan Surakarta yang diikuti berdirinya pemerintah daerah Kotamadya Surakarta secara otomatis menghapus kekuasaan Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran. Bersamaan dengan berdirinya Karesidenan Surakarta dan dicabutnya hak-hak istimewa Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran, PG Colomadu dan PG Tasikmadu dinasionalisasikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, jauh sebelum program nasionalisasi tahun 1957.

Bangunan pabrik hasil perluasan tahun 1928
Tahun 1947, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 9 tentang Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia, yang salah satunya mengatur PG Colomadu menjadi  milik pemerintah Republik Indonesia. Seiring perkembangan jaman,  berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan tanggal 28 April 1981, PG Colomadu berada di bawah pengelolaan PT Perkebunan XV-XVI (Persero) yang berkedudukan di Solo, dan pada tahun 1996 PG Colomadu berada di wilayah pengelolaan PTPN IX. Tanggal 1 Mei 1998, PG Colomadu melakukan penggilingan terakhir, dan akhirnya berhenti beroperasi karena kesulitan bahan baku.

Tugu Mangkunegoro IV
Jasa Mangkunegoro IV dalam mendirikan PG Colomadu diabadikan dalam sebuah tugu bersisi empat dengan patung dada Mangkunegoro IV di atas tugu tersebut. Tugu ini dapat ditemukan di sudut Kompleks Perumahan PG Colomadu yang berseberangan dengan De Tjolomadoe. Sama halnya dengan rumah-rumah dinas bergaya indie yang ditinggalkan dengan kondisi tak terawat,  tugu tersebut juga kurang terawat. Keempat sisi tugu dihiasi dengan prasasti. Salah satu prasasti ditulis dalam bahasa Belanda, dan prasasti lainnya ditulis dengan aksara Jawa. Tulisan dalam bahasa Belanda merupakan peringatan 75 tahun berdirinya PG Colomadu.

De Tjolomadoe
Tanggal 4 April 2017, Menteri BUMN Rini Soemarno melakukan peletakan batu pertama revitalisasi PG Colomadu. Proses revitalisasi dilakukan sebagai bagian dari program sinergi BUMN oleh 4 BUMN: PT PP, PTPN XI, PT Taman Wisata Candi, dan Jasamarga Properti.

Stasiun Gilingan
Tepat 25 Maret 2018, PG Colomadu memiliki wajah baru menjadi wisata convention & heritage seluas 6,4 hektar dengan nama De Tjolomadoe, dan menjadi wahana wisata baru bagi publik. Tempat ini telah menjadi tuan rumah bagi Konser David Foster pada tanggal 24 Maret 2018, serta menjadi venue bagi beberapa event nasional. Beberapa bagian De Tjolomadoe masih mempertahankan beberapa peralatan dan stasiun produksi gula, seperti Stasiun Gilingan, Stasiun Karbonatasi, Stasiun Penguapan, dan Stasiun Ketelan. Saat ini Stasiun Gilingan difungsikan sebagai museum, Stasiun Penguapan difungsikan sebagai arcade shop, Stasiun Karbonatasi difungsikan sebagai Art & Crafts area, Stasiun Ketelan difungsikan sebagai fine dining, dan tempat yang semula merupakan Stasiun Masakan menjadi Tjolomadoe Hall. Adapun tempat perawatan dan perbaikan peralatan digunakan sebagai Cafe Besali, dan Stasiun Ketelan yang digunakan untuk memproduksi kukus digunakan untuk restoran. Pengunjung dapat mengamati sekaligus membayangkan proses pembuatan gula. Sangat disayangkan, saat ini belum tersedia informasi detail tentang pemrosesan gula di masing-masing stasiun tersebut.

Di Stasiun Gilingan masih terpasang mesin-mesin giling yang terbuat dari besi baja buatan Cebr: Stork Co Hengelo tahun 1918. Masih terpasang juga sepasang rel kereta api selebar 1.067 mm, yang menandakan bahwa kereta api merupakan bagian tak terpisahkan dari pabrik gula. Kereta api merupakan sarana mengangkut bahan baku tebu serta produk gula pasir yang siap dikirimkan.

Proses Pembuatan Gula
Proses pembuatan gula di PG Colomadu dilakukan dengan urutan sebagai berikut:  Stasiun Gilingan digunakan untuk memproses batang tebu menjadi nira tebu. Pertama-tama batang tebu yang sudah ditimbang dan diatur masuk ke cane carrier akan dipotong-potong oleh pisau tebu dan dipecah-pecah oleh hammer shredder. Selanjutnya tebu yang sudah dicacah masuk ke mesin gilingan pertama hingga keempat untuk memperoleh nira sebanyak-banyaknya.

Alat Penghancur Tebu di Stasiun Gilingan
Nira tebu kemudian masuk ke tahap pemurnian. Tahapan pemurnian pertama adalah di Stasiun Karbonatasi , di mana nira ditambah susu kapur dan gas karbondioksida. Hasil proses karbonatasi ini kemudian menjalani proses sulfitasi dengan penambahan sulfit. Nira yang sudah menjalani proses sulfitasi kemudian dipisahkan antara bagian nira jernih dengan nira tapis dan padatan kotoran (blotong). Nira tapis kemudian dicampur kembali dengan nira mentah, sedangkan blotong dimanfaatkan sebagai pupuk organic.

Stasiun Karbonatasi
Nira tebu yang sudah lebih jernih kemudian masuk ke Stasiun Penguapan (Triple Effect Evaporator menggunakan Vacuum Pans) untuk mengurangi kandungan air dan mengentalkan nira. Nira kental kemudian masuk ke Stasiun Masakan untuk melalui proses kristalisasi yang mengubah nira tebu menjadi kristal gula. Proses pembuatan gula diakhiri dengan pemisahan kristal gula dari larutan gula (stroop) melalui talang goyang dan saringan. Kristal gula yang sudah berbentuk gula pasir yang kita kenal kemudian dikemas dalam karung berukuran 50 kg.

Stasiun Penguapan
Stasiun Ketelan digunakan untuk membangkitkan kukus (steam) dalam ketel dan kukus tersebut kemudian digunakan untuk menggerakkan mesin-mesin pabrik. Kukus yang digunakan dialirkan dalam bentuk resirkulasi, sehingga memungkinkan dilakukan penghematan terhadap bahan bakar yang dibutuhkan pabrik untuk memproduksi kukus.

Stasiun Ketelan

Wednesday, April 11, 2018

Menikmati Sunset di Tembok Berlin

Mendengar kata “Tembok Berlin”, barangkali imajinasi anda akan melayang ke Jerman. Namun “Tembok Berlin” yang satu ini tidak berada di benua Eropa, melainkan ada di Kota Sorong, salah satu pintu gerbang provinsi Papua Barat.

"Tembok Berlin"
Pantai “Tembok Berlin” merupakan nama populer bagi Pantai Dofior, pantai sempit yang masuk di dalam wilayah Kota Sorong. Nama “Tembok Berlin” berasal dari tembok setinggi 1,5 meter dengan lebar 1 meter yang membentang di sepanjang Pantai Dofior, dengan panjang tak kurang dari 3 km. Tembok pembatas antara jalan dan pantai ini berfungsi sebagai tanggul sekaligus pemecah ombak.

Pantai Dofior
Pantai ini merupakan pantai yang menghadap ke barat, sehingga sangat ideal untuk melihat matahari terbenam. Di sore hari, banyak penduduk Kota Sorong yang duduk-duduk di tembok pantai ini untuk melihat panorama matahari terbenam, serta menikmati sejuknya hembusan angin laut. Jika air sedang tenang, banyak di antara pengunjung yang berenang di pantai ini. Menjelang malam, para penggemar wisata kuliner bisa menikmati kudapan ringan atau bersantap malam di warung-warung tenda yang berdiri di sepanjang Pantai Tembok Berlin.

Sunset di Pantai Dofior
Tak hanya pemandangan matahari terbenam, dari pantai ini anda bisa melihat pemandangan kapal yang akan berlabuh atau baru saja bertolak dari pelabuhan Sorong, serta pulau-pulau kecil yang terletak di depan Kota Sorong. Salah satu pulau yang terlihat dari Pantai Tembok Berlin adalah Pulau Mutiara, atau lebih dikenal sebagai Pulau Doom. Jika anda melintas Pantai Tembok Berlin di malam hari, anda bisa melihat pancaran cahaya lampu dari pulau ini seperti kerumunan bintang yang menerangi lautan, sehingga pulau ini disebut juga sebagai Pulau Bintang. Pulau lain yang juga terlihat dari pantai ini adalah Pulau Raam, atau lebih dikenal sebagai Pulau Buaya, karena bentuknya seperti kepala buaya yang sedang berendam. Pulau Buaya terkenal karena pantainya yang landai dan berpasir putih, sehingga dari kejauhan terlihat seperti garis putih memanjang. Untuk mengunjungi pulau-pulau ini, anda bisa naik perahu dari Pelabuhan Kota Sorong.

Pulau Buaya
(artikel pernah diposting di www.adirafacesofindonesia.com tanggal 27 Maret 2012)