Showing posts with label wisata alam. Show all posts
Showing posts with label wisata alam. Show all posts

Saturday, August 26, 2023

Curug Nangka, Curug Tersembunyi di Antara Tebing

Gerbang bertuliskan "Selamat Datang di Wana Wisata Curug Nangka" baru saja kami lewati. Terlihat warna langit di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini cerah, secerah hati kami yang (akhirnya) bisa melarikan diri sejenak dari polusi ibu kota. Adrenalin rombongan kami sedang tinggi-tingginya, tak sabar untuk melihat keindahan Curug Nangka. 

 

Curug Nangka terletak di lereng Gunung Salak, di Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, di dalam Kawasan wana wisata seluas 17 hektar, yang dibuka untuk umum sejak tahun 1991. Tidak sulit untuk mencapai Curug Nangka, dengan berkendara kurang lebih 1 jam ke arah Selatan Kota Bogor. Curug (air terjun) ini merupakan salah satu destinasi wisata alam yang cukup populer di Bogor.

Melangkah menuju hutan pinus, terlihat berbagai pasang mata memandang dengan tatapan penasaran. Namun saya berusaha cuek, karena kalau sampai mereka tertarik untuk mendekat, bisa runyam! Kera-kera ini merupakan penghuni asli dari kawasan wana wisata, dan konon mereka cukup nakal, jika iseng mereka bisa mengambil barang kita dengan paksa. Makanya saya memilih cuek, supaya tidak diganggu.


Menempuh jalan setapak beraspal menuju Curug Nangka, terlihat beberapa warung yang menjajakan makanan dan minuman. Di dekatnya ada toilet, serta beberapa lahan yang bisa dijadikan tempat berkemah. Lumayan, kalau pas perjalanan balik terus lapar atau kehabisan minum, bisa top up logistik di sini!

Di titik percabangan menuju Curug Nangka, terlihat papan petunjuk yang mengarah ke bawah. Kami mengikuti petunjuk tersebut, dan bertemu anak sungai yang diapit 2 tebing. Pemandu kami sejak awal sudah menyampaikan bahwa untuk mencapai Curug Nangka, harus menyusuri anak sungai terlebih dahulu. Untung saya sudah menyiapkan diri dengan sandal gunung dan celana quick dry, jadi kaki tercelup air? No problem!

Ternyata dari ujung anak sungai menuju curug tidak dekat. Makin mendekati curug, terdapat beberapa bagian yang dalamnya hampir sebetis orang dewasa. Setiap melangkah harus hati-hati, jangan sampai tergelincir. Menurut teman-teman yang survey sebelumnya, saat survey air tidak setinggi ini. Kelihatannya karena hari sebelumnya sempat hujan, maka debit airnya naik. Pemandu kami pun berulang kali mengingatkan agar barang bawaan kami dijaga, terutama yang tidak boleh basah.

Setelah menyusuri anak sungai kurang lebih 10 menit, dari kejauhan terlihat Curug Nangka, obyek primadona dari kawasan ini. Nama "Nangka" konon berasal dari pepohonan nangka yang dulu pernah berada di sekitar area ini. Namun mata saya tertumbuk pada rangkaian janur di atas sebuah batu yang cukup besar. Saya mengenali rangkaian janur itu sebagai banten, semacam sajen khas kepercayaan Hindu Bali.


"Tak jauh dari sini kan ada Pura Parahyangan, jadi banyak juga yang beribadah dan meletakkan sajen di sini." Pemandu kami menjelaskan keberadaan banten di batu tersebut. Ah, ternyata demikian. Dari berbagai sumber, diketahui bahwa menurut kepercayaan penduduk setempat, lokasi air terjun ini pernah menjadi tempat semedi para leluhur, antara lain Raden Surya Kencana, Bah Haji Gempor, dan Bah Jamrong, dan lainnya. Dan jika diperhatikan lebih jauh, dalam radius beberapa km dari curug banyak situs-situs purbakala. Mungkin air terjun ini memang dianggap salah satu tempat suci di kawasan ini.


Kami akhirnya tiba di lokasi Curug Nangka. Curug ini memiliki ketinggian 25 meter, dan berlokasi di ketinggian 750 dpl. Airnya selalu  mengalir dan tidak pernah habis, walaupun sedang musim kemarau. Aliran airnya sangat jernih dan sejuk. Kolam yang terbentuk di bawah curug pun bisa direnangi dan tidak terlalu dalam, hanya sekitar sebetis orang dewasa. Namun disarankan untuk menghindari bagian yang terlalu dalam di dekat air terjun.

Masih di kawasan yang sama, sekitar 1 km dari Curug Nangka terdapat 2 air terjun lainnya, yaitu Curug Kawung dan Curug Daun. Ketiga curug ini sejatinya merupakan rangkaian aliran air, mulai dari Curug Kaung yang paling atas dengan ketinggian 17 meter, Curug Daun dengan ketinggian hanya 2 meter, dan Curug Nangka yang paling bawah. Curug Kawung dan Curug Daun memiliki debit lebih kecil dibandingkan Curug Nangka, sehingga keduanya kurang populer dibandingkan Curug Nangka.

Dari pengalaman menyusuri anak sungai menuju Curug Nangka, ternyata memerlukan fisik yang prima dan stamina yang cukup. Jika fisik dirasa kurang siap, sebaiknya tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan trekking hingga ke Curug Nangka. Selain itu perhatikan juga cuaca. Jika cuaca kurang mendukung, terutama jika mendung dan berpotensi hujan, sebaiknya mengurungkan niat untuk pergi ke curug, karena ketika hujan maka debit alir bisa tiba-tiba meningkat.


Sunday, October 21, 2018

Meet Me Under The Pring

Jam 05.30, telepon kamar berdering, rupanya kami sudah ditunggu di lobi untuk ke Pasar Papringan! Bu Indah, kepala rombongan kami, mengatakan agar kami segera berangkat, takut terjebak kemacetan. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, waktu menunjukkan pukul 06.30 saat kami masuk ke Desa Ngadiprono. Dari tempat parkir, kami masih harus berjalan sekitar 500 meter sebelum menemukan titik nol Pasar Papringan. Inilah pasar unik yang sedang hype di dunia Instagram.

Find Me Under the Pring!
Pasar Papringan digagas oleh Singgih Susilo Kartono, putra asli Desa Kandangan, Temanggung. Melalui Lembaga Swadaya Masyarakat Spedagi, Singgih dan tim mengubah kebun bambu menjadi sebuah destinasi wisata pasar tradisional. Singgih sendiri dikenal terlebih dahulu sebagai pembuat radio kayu Magno, dan sepeda bambu Spedagi yang telah diekspor ke luar negeri. Sejak didirikan pada tahun 2015, pasar ini hanya buka pada Minggu Wage dan Minggu Pon, dari pukul 6 pagi hingga 12 siang. Pada awalnya pasar ini berlokasi di Kandangan, namun sejak tahun 2017 berpindah lokasi ke Ngadiprono.

Titik Nol Km Pasar Papringan
Sebelum berbelanja, kami harus menukar uang dengan mata uang Pasar Papringan: Pring (dalam bahasa Jawa, Pring berarti bambu). Keping pring terbuat dari bambu dengan setiap pring memiliki "kurs" 2000 rupiah. Rata-rata makanan ringan seharga 1-3 pring, makanan berat seharga 3-6 pring, minuman seharga 1-2 pring, hasil tani 1-15 pring, serta kerajinan tangan 1-5 pring. Keping pring tidak bisa ditukarkan kembali dengan uang, namun dapat digunakan kembali pada gelaran Pasar Papringan berikutnya, atau dijadikan suvenir. Saya sendiri menukarkan 20 pring (senilai Rp 40.000), dengan perhitungan saya hanya akan melakukan wisata kuliner atau membeli kerajinan tangan berukuran kecil.

Pring, Mata Uang Pasar Papringan
Para pedagang di Pasar Papringan merupakan masyarakat lokal Desa Ngadiprono, yang khusus dilatih untuk terlibat dalam Pasar Papringan. Menurut mas Yudi, kurator sekaligus pembina kuliner Pasar Papringan, butuh waktu untuk melatih penduduk Ngadiprono, karena pada dasarnya pekerjaan mereka sehari-hari bukanlah pedagang atau penjual makanan. Komoditas favorit di Pasar Papringan adalah kuliner tempo doeloe. Sesuai kebijakan untuk menggunakan bahan-bahan alami, kuliner yang tersedia di sana tidak menggunakan gula buatan, MSG, dan pewarna buatan. Ketika dicoba, memang rasanya beda ya... (agak sulit diungkapkan dengan kata-kata, karena hanya ada “enak” dan “uenak”).

Salah Satu Jajanan di Pasar Papringan
Kami beruntung datang cukup pagi, sehingga masih bisa mencicipi hampir seluruh makanan yang dijual di sana. Saya hanya "sempat" mencicipi dawet ireng, wedhang ronde, dan beberapa jenis jajan pasar, karena hampir semua counter penuh sesak oleh pengunjung. Rondenya unik, karena diberi emping. Saya sudah "berburuk sangka" rasa emping yang umumnya getir akan merusak rasa wedhangnya. Ternyata tidak sama sekali!

Kerajinan Tangan dari Bambu
Selain kuliner khas Jawa Tengah, di Pasar Papringan juga tersedia produk hasil tani masyarakat lokal dan kerajinan tangan dari bambu dan batok kelapa. Di antara kerajinan tangan yang dijual, terdapat sendok batok, gelas bambu, mainan anak-anak dari bambu. Barang-barang kerajinan seperti sendok batok dan gelas batok serupa dengan yang digunakan untuk berjualan makanan, bahkan bisa dikatakan semua “peralatan” yang digunakan di pasar ini terbuat dari bambu atau bahan organik lainnya, termasuk keranjang sampah dan dinding pembatas antara area berjualan dengan area cuci piring. Untuk berbelanja, pengunjung bisa membeli keranjang bambu seharga 2 pring.

Pedagang Hasil Tani di Pasar Papringan
Ketika kami berjalan kembali ke tempat parkir, alamak, ternyata antrian "money changer" sudah mengular. Dari arah pintu masuk, semakin banyak orang yang berjalan masuk ke pasar. Kami mempercepat langkah kaki menuju tempat parkir, daripada terjebak dalam lautan manusia di Pasar Papringan... Pembludakan pengunjung ini di luar prediksi pengelola, terutama setelah video tentang pasar papringan Ngadiprono beredar di dunia maya. Dan ketika saya membuka akun IG Pasar Papringan, mereka mengumumkan bahwa hari ini terpaksa menutup tempat parkir lebih awal pada pukul 8 pagi. Untung tadi kami datang pagi-pagi!

Sunday, October 14, 2018

Posong Yang Tidak Kosong

Waktu masih menunjukkan pukul 4.30 dinihari ketika bu Indah dan Anis mengordinir sekumpulan tukang ojek untuk mengantar kami dari jalan raya Temanggung-Wonosobo, tak jauh dari jembatan Kledung, menuju sunrise spot Posong. Di tengah kegelapan malam, motor yang kami kendarai beriring-iringan melewati jalanan yang bergerenjul menembus hutan. Terlihat siluet batang-batang pohon menjulang di kiri kanan jalan, ah, tampaknya kami tengah melewati hutan pinus.

Wisata Alam Posong merupakan obyek wisata yang “relatif baru” di Kabupaten Temanggung. Nama “Posong” konon diambil dari kata “kosong”. Nama ini berasal dari masa Perang Diponegoro, di mana di tempat pasukan Pangeran Diponegoro mendirikan pos kosong untuk mengelabui tentara kolonial Belanda. Posong sendiri berlokasi di lembah Gunung Sindoro, dan jika cuaca cerah, dari tempat ini dapat terlihat 7 puncak gunung, termasuk Sindoro-Sumbing, Merapi-Merbabu, puncak Telomoyo, bukit Ungaran, dan gunung Muria.

Fajar Merekah di Balik Gunung Sumbing
Setelah berkendara sejauh 3,5 km, tibalah kami di sunrise spot. Bunyi adzan mengingatkan kami pada waktu shalat Subuh, spontan kami melihat jam tangan, waktu masih menunjukkan pukul 04.30 WIB. Masih cukup waktu untuk shalat, sambil menunggu matahari terbit di ufuk. Pukul 05.00, fajar berwarna merah mulai merekah sedikit demi sedikit. Terlihat siluet gunung Sumbing di sisi timur cakrawala. Harap-harap cemas, akankah kami menikmati golden sunrise yang sempurna, dengan banyaknya lembayung yang menggantung di ufuk timur?

Edelwiess dan Bunga Tembakau
Ketika langit semakin terang, tampaknya harapan untuk melihat sunrise semakin menipis. Namun petualangan belum berakhir. Bu Indah mengajak kami untuk melihat bunga Edelweiss di sisi atas sunrise spot. Ternyata rumpun bunga Edelweiss tersebut berada di tepi kebun tembakau yang baru saja dipanen daunnya, menyisakan batang-batang pohon tembakau dengan bunga-bunga mungil di atasnya. Bunga-bunga Edelweiss tersebut sangat menggoda untuk dipetik. Tapi please, jangan sekali-kali memetik bunga tersebut, biarkan mereka hidup di habitatnya.

Ray of Light
Ketika kami sedang menikmati foto-foto di atas, barulah sang mentari menampakkan diri di antara lembayung fajar, memperlihatkan siluet gunung-gunung lainnya. Dari kejauhan, terlihat puncak gunung Ungaran yang menjulang di antara lautan awan. Rasanya makjleb melihat ray of light yang menembus di antara lautan awan, menyinari gunung yang berdiri dengan gagah. Sungguh merupakan momen yang tepat untuk mensyukuri alam indah karunia Tuhan.

Lautan Awan
Dalam perjalanan kembali ke jalan raya Temanggung-Wonosobo, baru kami melihat bahwa yang semula kami pikir merupakan hutan pinus, ternyata merupakan perkebunan tembakau. Sesuai keterangan mamang ojek, baru kami tahu bahwa karena kami datang bertepatan dengan musim panen tembakau, mobil tidak boleh naik sampai ke sunset spot, sehingga perjalanan dari jalan raya Temanggung-Wonosobo harus kami tempuh dengan ojek.

Tempat Menjemur Tembakau
Di dekat jalan raya, Bu Indah mengajak kami mampir ke rumah penduduk yang memproses tembakau hasil panen. Rupanya tembakau yang sudah dipanen kemudian ditentukan grade-nya, kemudian diperam (diimbon) di dalam ruangan yang tidak boleh kena angin atau panas, agar daun terfermentasi dan tumbuh jamur. Setelah terfermentasi dan warnanya kehitaman, daun dirajang halus, dicampur gula pasir, kemudian ditata pada irig untuk dijemur. Rajangan tembakau yang sudah kering kemudian dimasukkan ke dalam keranjang berkapasitas 40-50 kg, untuk kemudian diserahkan kepada pabrik rokok. Harga keranjangnya sendiri kurang lebih Rp 200.000 per keranjang, sedangkan harga tembakau rata-rata antara Rp 50.000-90.000 per kg, sehingga 1 keranjang penuh tembakau dapat mencapai harga Rp 4.500.000,-

Mbak Penjual Nasi Jagung di Pasar Entho
Perjalanan mengejar sunset pagi ini “berakhir” di Pasar Entho, yang dikenal sebagai pusat jajanan tradisional di Kecamatan Parakan. Untuk sarapan pagi, bu Indah menyarankan kami mencoba nasi jagung. Bayangan saya, yang namanya nasi jagung itu bertekstur kasar dengan ada bulir-bulir jagung diantaranya. Ternyata salah besar! Nasi jagung yang kami santap justru bertekstur sangat halus, lebih halus daripada ampas kelapa. Belum lagi jajanan pasar lainnya, rasanya tidak kepengen pergi sebelum memborong semua jajan pasar di pasar tersebut.

Friday, May 25, 2018

Terpampang di Deswita Pampang

Pampang. Nama ini pertama kali muncul di awal Februari dalam sebuah email dari Mas Yitno, salah satu penggiat Desa Wisata (Deswita) Pampang, yang mengajak saya mengisi sesi tentang travel writing di Pampang. Sulit menolak tawaran ini, dan setelah sedikit melakukan “akrobat” pada jadwal kegiatan saya, saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan beliau.

Disambut hujan di Bandara Adisucipto
 Hasil pencarian tentang Pampang di “mbah “ Google ternyata kurang memuaskan, dan baru setelah kopi darat dengan Mas Yitno di bandara Adisucipto saya mendapat pencerahan mengenai latar belakang Deswita Pampang. Dibandingkan deswita lain di Provinsi DIY, Pampang bisa dikatakan masih “bayi”, karena SK sebagai deswita baru diperoleh pada tahun 2017, walaupun Pampang sebenarnya sudah dikenal sebagai sentra kerajinan perak di Gunungkidul. Daya tarik yang ditawarkan Pampang adalah river tubing di Kedungdowo serta konservasi burung. Kenapa konservasi burung? Menurut Mas Yitno, masih lekat dalam ingatannya, di masa kecilnya setiap pagi Desa Pampang penuh dengan cuitan burung, dan makin lama cuitan tersebut makin menghilang. Masyarakat Desa Pampang ingin mengembalikan cuitan tersebut lagi, dan mereka mulai membeli burung-burung endemic dari pasar burung di sekitar Pampang, untuk dilepaskan dan dikonservasi di kawasan desa. Tak hanya melepaskan burung, warga juga dilarang berburu burung, serta dengan kesadarannya telah menanam berbagai pohon sebagai cadangan makanan burung.

River Tubing, Wisata Andalan Deswita Pampang
Perjalanan dari Yogya ke Pampang cukup memakan waktu, ditambah kami sempat mampir ke Embung Nglanggeran untuk menyaksikan sunset. Sepanjang perjalanan rasanya gemas melihat banyak spot-spot wisata menarik. Sayang waktu kami terbatas dan hari sudah semakin gelap, takut kemalaman juga sampai di Pampang. Barangkali kalau dibuat bucket list, daftar tempat wisata di DIY tidak akan cukup mengisi 1 ember cuci berukuran besar… perlu 2 sampai 3 ember tampaknya.

Sunset di Atas Awan, Dilihat Dari Tepi Embung Nglanggeran
Embung Nglanggeran sendiri sebenarnya tidak didesain khusus sebagai sunset spot. Tempat ini sejatinya adalah agrowisata duren, di mana ketika pohon duren bertumbuh besar, wisatawan bisa hadir untuk makan duren sambil menikmati panorama dari ketinggian. Embung (waduk kecil) Nglanggeran sendiri dibangun sebenarnya sebagai sarana irigasi untuk perkebunan duren, namun posisinya yang strategis membuatnya menjadi salah satu sunset spot yang cantik. Saya yang terbiasa mengejar sunset di pantai atau di perkotaan, kali ini berkesempatan melihat sunset di “negeri atas awan”. Sayang sekali, hari ini sunsetnya tidak bisa maksimal, dengan banyaknya awan-awan yang menggantung. Tapi gak pa-pa, lain kali saya harus kembali ke sini!

Memandang Sunset Dari Seberang Embung Nglanggeran
Setelah semalam beristirahat di homestay milik pakde-nya Mas Yitno, pagi-pagi saya berkesempatan menjelajah ke tempat river tubing dan jalan setapak di sekitarnya. Melihat sungainya yang penuh berisi air dan arusnya cukup tenang, rasanya pengen langsung nyebur, hahaha! River tubing ini diberi nama “Bendowo”, yang berasal dari kata “Bendungan” (di tempat river tubing ini terdapat bendungan kecil untuk menahan debit alir) dan nama dusun “Kedung Dowo” tempat sungai ini mengalir. Anyway, nama “Bendowo” ini justru punya makna lain bagi saya: mugi-mugi deswita Pampang “ben dowo” umure (mudah-mudahan deswita Pampang biar panjang umurnya…).



Suasana Kedung Dowo
Sebelum acara dimulai, di homestay saya bertemu mas Hannif, blogger yang mengasuh website insanwisata.com. Mas Hannif hadir di acara ini atas prakarsa mas Zul, rekan mas Yitno yang juga pelaku aktif dalam dunia pariwisata. Yang menarik, Mas Yitno dan kawan-kawan mengundang saya dan mas Hannif secara terpisah, padahal mas Hannif dan saya sudah berteman di Instagram selama beberapa tahun, semenjak saya ikut kompetisi blog tentang Wisata Sleman. Akhirnya kopdar juga ya… Selain mas Hannif, hadir juga mbak Mumun yang merupakan half of Indohoy. Sayang mbak Mumun nggak bisa berlama-lama sampai acara selesai, tepat sebelum makan siang dirinya harus sudah kembali ke Yogyakarta.



Suasana Kelas
Acara sharing session dibuka oleh Pak Iswandi sang kepala desa, sebelum saya memulai presentasi pertama. Walaupun sudah sering presentasi di kantor, yho ndredhek juga je… Mudah-mudahan audience faham apa yang saya sampaikan, soalnya saya merasa ngebut dot com pada saat penyampaian. Presentasi berikutnya disampakan mas Hannif, dan ternyata materinya rodho lumayan nyambung (Alhamdulillah…). Setelah sesi makan siang ditemani sepoi-sepoi angin dan segarnya aroma kali Bendowo, presentasi dilanjutkan dengan materi terakhir dari pak Eko Sugiarto yang membawakan materi terkait penulisan. Acara hari itu diakhiri dengan foto bersama (yang nggak selesai-selesai), sebelum saya harus berpamitan dengan semua teman-teman baru saya di Pampang untuk kembali ke Yogyakarta.

Suasana di Tepi Kali Bendowo

Foto Bersama (yang nyaris tidak berakhir...)
Dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta, mas Yitno, mas Hannif dan mas Zul menyempatkan diri memampirkan saya ke Griya Cokelat Nglanggeran. Sebenarnya toko ini tutup pada pukul 16.00, namun karena sempat ditelpon oleh mas Yitno dkk, mereka merelakan diri buka untuk menunggu saya berbelanja, maaph ya… Tapi nggak sia-sia mereka menanti saya, karena begitu mencoba tester minumannya, wauw… rasa coklatnya nendang pake banget! Produk unggulan mereka adalah minuman serbuk Chocomix dan Chocomix Original. Jika Chocomix menggunakan komposisi gula-coklat standar, maka Chocomix Original memiliki kandungan cokklat lebih banyak. Tidak terlalu pahit seperti dark coklat, tapi coklatnya lebih nendang rasanya. Coklat yang dijual di tempat ini berasal dari pohon-pohon coklat yang ditanam warga Desa Wisata Nglanggeran. Saya bisa membayangkan mereka buka cabang di atas Embung Nglanggeran, romantis rasanya melihat sunset sambil menikmati coklat…


Inilah Coklat Asli Gunungkidul
Salah satu hal yang sangat berkesan dalam kunjungan ke Pampang adalah saya berkesempatan mencicipi sayur lombok ijo fresh from the kitchen. Adalah ibunda Mas Yitno yang membuat hal ini menjadi kenyataan. Bukan hanya karena sayur lombok ijonya enak dan segar (dan saya berkesempatan makan bukan hanya sekali, tapi dua kali…), tapi sayur lombok ijo ini mengingatkan saya pada almarhum ayah saya, yang bercita-cita ingin makan nasi merah dengan sayur lombok ijo khas Gunungkidul, dan sempat meminta kami mencari informasi tentang resto yang menjual sayur lombok ijo di Wonosari. Nuwun sewu ya Pak, lah kok malah jadinya saya yang makan sayur lombok ijo… langsung dari dapur pula…

Yang Mana Sayur Lombok Ijo-nya?

Wednesday, April 11, 2018

Menikmati Sunset di Tembok Berlin

Mendengar kata “Tembok Berlin”, barangkali imajinasi anda akan melayang ke Jerman. Namun “Tembok Berlin” yang satu ini tidak berada di benua Eropa, melainkan ada di Kota Sorong, salah satu pintu gerbang provinsi Papua Barat.

"Tembok Berlin"
Pantai “Tembok Berlin” merupakan nama populer bagi Pantai Dofior, pantai sempit yang masuk di dalam wilayah Kota Sorong. Nama “Tembok Berlin” berasal dari tembok setinggi 1,5 meter dengan lebar 1 meter yang membentang di sepanjang Pantai Dofior, dengan panjang tak kurang dari 3 km. Tembok pembatas antara jalan dan pantai ini berfungsi sebagai tanggul sekaligus pemecah ombak.

Pantai Dofior
Pantai ini merupakan pantai yang menghadap ke barat, sehingga sangat ideal untuk melihat matahari terbenam. Di sore hari, banyak penduduk Kota Sorong yang duduk-duduk di tembok pantai ini untuk melihat panorama matahari terbenam, serta menikmati sejuknya hembusan angin laut. Jika air sedang tenang, banyak di antara pengunjung yang berenang di pantai ini. Menjelang malam, para penggemar wisata kuliner bisa menikmati kudapan ringan atau bersantap malam di warung-warung tenda yang berdiri di sepanjang Pantai Tembok Berlin.

Sunset di Pantai Dofior
Tak hanya pemandangan matahari terbenam, dari pantai ini anda bisa melihat pemandangan kapal yang akan berlabuh atau baru saja bertolak dari pelabuhan Sorong, serta pulau-pulau kecil yang terletak di depan Kota Sorong. Salah satu pulau yang terlihat dari Pantai Tembok Berlin adalah Pulau Mutiara, atau lebih dikenal sebagai Pulau Doom. Jika anda melintas Pantai Tembok Berlin di malam hari, anda bisa melihat pancaran cahaya lampu dari pulau ini seperti kerumunan bintang yang menerangi lautan, sehingga pulau ini disebut juga sebagai Pulau Bintang. Pulau lain yang juga terlihat dari pantai ini adalah Pulau Raam, atau lebih dikenal sebagai Pulau Buaya, karena bentuknya seperti kepala buaya yang sedang berendam. Pulau Buaya terkenal karena pantainya yang landai dan berpasir putih, sehingga dari kejauhan terlihat seperti garis putih memanjang. Untuk mengunjungi pulau-pulau ini, anda bisa naik perahu dari Pelabuhan Kota Sorong.

Pulau Buaya
(artikel pernah diposting di www.adirafacesofindonesia.com tanggal 27 Maret 2012)

Saturday, January 24, 2015

Wisata Alam Jawa Tengah: Menyaksikan Candi Borobudur "Mengapung" Di Lautan Nirwana

Borobudur Nirwana Sunrise merupakan salah satu destinasi wisata alam di Jawa Tengah. Terletak di Dusun Kerahan, Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, destinasi wisata alam yang lebih dikenal dengan nama Punthuk Setumbu ini menawarkan panorama alam yang unik: mendakit bukit setinggi 400 meter untuk menyaksikan matahari terbit dari balik pasangan gunung Merapi-Merbabu, serta menyaksikan siluet Candi Borobudur yang terbalut kabut, sehingga terlihat seolah mengapung di lautan awan.

Spanduk Selamat Datang di Pintu Masuk Borobudur Nirwana Sunrise
Untuk mencapai Punthuk Setumbu, dari pertigaan pintu gerbang Kawasan Taman Wisata Borobudur, belok ke kiri. Setelah melewati gerbang Hotel Manohara, kurang lebih 200 meter kemudian terdapat perempatan, belok ke kanan mengikuti papan petunjuk ke arah Borobudur Nirwana Sunrise. Ikuti jalan desa yang beraspal kurang lebih 3-4 km, hingga bertemu pertigaan di Desa Karangrejo dan mengikuti petunjuk berbelok ke kanan. Ikuti petunjuk petugas, karena jalan menuju pintu masuk Punthuk Setumbu sempit dan menanjak. Petugas akan memandu Anda menuju tempat parkir.
Setelah tiba di gerbang masuk Punthuk Setumbu, wisatawan diwajibkan membeli tiket masuk. Untuk wisatawan domestic, biaya tiket sebesar Rp 15.000, sedangkan wisatawan mancanegara dikenakan biaya tiket Rp 30.000. Di loket juga terdapat petugas yang menyewakan senter sebagai penerangan untuk melewati jalan setapak sepanjang 300 meter menuju puncak bukit. Siapkan jaket untuk menahan hawa dingin pagi hari, serta kenakan sepatu untuk melakukan pendakian di jalan setapak yang sebagian masih berupa jalan tanah. Khususnya pada 100 meter terakhir, jalan cukup menanjak, sehingga Anda perlu menyiapkan stamina yang prima.

Para Fotografer di Punthuk Setumbu
Di puncak bukit terdapat pelataran sepanjang 200 meter yang merupakan spot tempat memandang matahari terbit. Usahakan untuk tiba di puncak bukit paling lambat pukul 5 pagi, agar Anda bisa menikmati pemandangan terbaik yang disajikan, serta bisa memilih tempat terbaik untuk memandangnya. Kurang lebih pukul 5.15, fajar mulai merekah di ufuk timur. Perlahan-lahan cahaya kuning Sang Surya mulai timbul dari balik gunung Merapi-Merbabu, menerangi pepohonan yang terletak kaki kedua gunung tersebut. Waktu terbaik untuk melihat panorama menakjubkan ini adalah antara bulan Mei-Juli, saat cuaca pada umumnya bersahabat, serta matahari terbit kurang lebih tepat di antara gunung Merapi dan Merbabu. Jika beruntung, Anda juga bisa menyaksikan ray of light dari sinar matahari yang menembus awan.


Siluet Borobudur Dilihat Dari Punthuk Setumbu, Seolah Mengapung Di Lautan Awan
Bersamaan dengan Sang Surya yang terbit dari balik Gunung Merapi, siluet Candi Borobudur, mahakarya kerajaan Mataram Kuno, terlihat semakin jelas. Terletak di arah kanan dari Gunung Merapi, siluet Candi Borobudur terlihat di antara rimbunan pohon dan kumpulan kabut dan awan, membuat Candi Borobudur tampak seperti mengapung di atas awan. Inikah yang disebut dengan nirwana, negeri di atas awan yang penuh kedamaian? Sambil menikmati momen menakjubkan ini, Anda bisa membayangkan diri Anda sebagai Raja Samaratungga dan Gunadarma sang arsitek yang berdiri di puncak bukit untuk mencari lokasi yang tepat bagi candi yang megah tersebut. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan momen-momen menakjubkan ini, karena momen lukisan alam ini hanya berlangsung tak lebih dari 1 jam setelah matahari terbit.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 1.