Saturday, July 7, 2018

Belajar Membatik di Museum Batik Pekalongan

Pekalongan merupakan kota pesisir di Pantai Utara Jawa yang dijuluki Kota Batik, karena menjadi pusat pengembangan batik pesisir. Industri batik di Pekalongan telah muncul sejak periode 1850-1860, dengan pengusaha batik yang terdiri dari kaum pribumi, pengusaha Tionghoa, dan para istri orang Belanda, sehingga tidak salah kiranya jika di Kota Batik ini didirikan sebuah museum yang menyimpan berbagai koleksi batik dan hal-hal terkait lainnya.

Tampak Depan Museum
Antik dan adem adalah kesan pertama ketika saya memasuki bangunan kuno bergaya art deco peninggalan masa kolonial Belanda yang menjadi tempat Museum Batik Pekalongan. Bangunan yang berada di Jl. Jetayu No. 1 ini didirikan pada tahun 1906, dan sebelumnya pernah digunakan sebagai Balai Kota Pekalongan. Saat ini, bangunan yang memiliki ruangan-ruangan luas dengan pintu dan jendela berukuran besar khas bangunan Belanda tersebut telah disulap menjadi museum dengan 3 ruang pamer, ruang pertemuan, perpustakaan, kedai cenderamata, dan sebuah workshop membatik di bagian belakang museum. Sebuah taman yang terletak di tengah-tengah bangunan menambah keasrian museum.

Halaman Dalam Museum
Sebelum melihat-lihat koleksi museum yang diresmikan pada tanggal 12 Juli 2006 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, kami mendaftar di meja registrasi, membeli tiket, dan mengambil brosur museum. Pemandu museum kemudian membawa kami memasuki ruang pamer pertama yang berisi peralatan membatik dan koleksi batik pesisir. Koleksi peralatan membatik disimpan dalam meja yang tertutup kaca, dan terdiri dari canting tulis, canting cap, malam, dan zat pewarna, baik pewarna alam maupun perwarna buatan. Khususnya untuk canting tulis, ternyata seperti alat tulis modern, canting tulis pun memiliki ukuran yang beragam, mulai dari canting 0 (canting dengan lubang yang sangat kecil untuk membuat pola) hingga canting 7 yang paling besar.

Aneka Canting Cap
Koleksi batik pesisir yang ada di ruangan ini berasal dari Pekalongan, Cirebon dan Lasem. Walaupun secara umum batik pesisir memiliki ciri warna yang cerah dengan motif naturalis, masing-masing daerah pesisir tetap memiliki ciri khas batiknya sendiri. Batik Pekalongan diwakili motif Jlamprang, yang merupakan pengembangan motif kain Patola dari India. Batik Lasem menampilkan batik dengan ciri khas warna merah seperti darah ayam. Batik Cirebon diwakili motif mega mendung yang dipengaruhi kebudayaan Cina.

Pemandu kemudian membawa kami ke ruang pamer kedua. Di dalam ruangan ini terdapat koleksi batik Nusantara. Walaupun sebetulnya tidak semua daerah di Indonesia memiliki batik, namun saat ini masing-masing daerah di Nusantara mengembangkan motif khasnya. Sebagai contoh adalah koleksi batik Lampung yang mengambil motif kain tenun tapis, koleksi batik Kalimantan yang dipengaruhi motif khas suku Dayak, serta batik-batik dari Jawa Barat yang merupakan kreasi para pengrajin batik dari Yogyakarta atau Surakarta yang mengungsi ke wilayah tersebut akibat peperangan.

Masih belum puas melihat-lihat batik Nusantara di ruangan kedua, pemandu sudah membukakan pintu menuju ruang pamer ketiga. Ruangan ini berisi batik Vorstendlanden, atau batik pedalaman yang berasal dari Yogyakarta dan Surakarta. Batik-batik ini dikembangkan dari batik yang digunakan keluarga keraton, sehingga motifnya sarat dengan makna-makna tersirat. Sebagai contoh adalah batik motif Sekar Jagad, yang bermakna penguasaan dunia. Salah satu batik yang istimewa dari koleksi batik pedalaman yang dipajang saat kami di sana adalah batik Peksi Huk yang diciptakan oleh KRT Hardjonegoro atau Go Tik Swan, seorang pembatik dari Solo yang ditugaskan Bung Karno membuat batik motif Indonesia. Di bagian terakhir dari ruangan ketiga ini terdapat batik yang disumbangkan oleh beberapa petinggi negara, seperti batik milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani, Bapak Hatta Rajasa dan Ibu Okke, serta Walikota Pekalongan Bapak M. Chaeron dan Ibu Corina. 

Belajar Membatik di Workshop
Walaupun hanya terdiri dari 3 ruang pamer, total koleksi batik di museum ini tidak kurang dari 1089 buah, sehingga untuk menampilkan seluruh koleksi, batik-batik tersebut dipamerkan secara bergiliran setiap 4 bulan sekali. Dengan demikian, apabila Anda kembali berkunjung ke museum ini di waktu yang lain, bisa jadi Anda akan menemukan koleksi batik yang berbeda dengan yang Anda lihat sebelumnya. Namun koleksi batik dalam ketiga ruangan tersebut tidak boleh dipotret, agar tidak disalahgunakan untuk merepro motif-motif tersebut.

Alat Pewarnaan Batik
Setelah melihat koleksi batik di ketiga ruangan tersebut, pemandu membawa kami ke bagian paling menarik dari museum ini, yaitu workshop. Di workshop ini terdapat rangkaian gambar yang menjelaskan proses pembuatan batik Jlamprang khas Pekalongan. Ada beberapa pembatik muda yang sedang memperagakan cara nglowong dengan menggunakan canting tulis, dan kami diperbolehkan mencobanya. Ternyata membubuhkan malam di atas kain itu tidak gampang. Salah sedikit, malam cair yang panas akan membleber pada kain, atau bahkan menetes mengenai kulit. Para pembatik kemudian mengajarkan teknik memegang canting yang benar, agar malam bisa menempel dengan rapi pada kain tanpa bleber atau menetes. Di bagian ini juga terdapat peralatan yang digunakan untuk memproses batik, termasuk canting cap dengan berbagai motif, alat-alat untuk pewarnaan batik, dan alat pengolahan limbah pewarnaan batik.

Museum Batik Pekalongan buka setiap hari Senin hingga Minggu, pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Harga tiket masuknya sangat terjangkau, yaitu Rp 5.000,- untuk orang dewasa, dan Rp 1.000,- untuk anak-anak. Bagi Anda yang ingin belajar membatik dengan lebih mendalam, museum ini juga menyediakan pelatihan tata cara membatik dengan biaya yang sangat terjangkau, bergantung pada ukuran kain yang digunakan. Sedangkan bagi Anda yang hobi berfoto narsis, usai kunjungan museum Anda bisa berfoto di depan bangunan museum, atau pada tugu di lapangan depan museum yang berbentuk huruf B, A, T, I, dan K dengan hiasan motif batik.


Artikel pernah diterbitkan di Readers' Digest Tahun 2014

Wednesday, July 4, 2018

Jelajah Sisi Lain Bandara Halim Perdanakusuma

Vliegveld Tjililitan, 24 November 1924. Fokker VII nomor registrasi NAHCC yang diawaki pilot KLM A.N.J. Thomassen a Thuessink van der Hoop, Co-Pilot Letnan H. Van Weerden Poelman, dan mekanik KLM Van den Broeke, baru saja mendarat di Vliegveld Tjililitan, Batavia setelah take off dari Muntok dalam rangka menyelesaikan tahapan akhir rute Amsterdam-Batavia. Pesawat yang lepas landas dari Schippol pada tanggal 1 Oktober 1924 ini baru saja menyelesaikan 55 hari perjalanannya, sekaligus menjawab “tantangan” membuka rute penerbangan dari Belanda ke koloni-koloninya, khususnya ke Hindia Belanda sebagai wilayah jajahan terbesar.

Monumen T-34 Mentor
Inilah salah satu peristiwa penting yang pernah terjadi di lapangan udara yang saat ini kita kenal sebagai Bandara Halim Perdanakusuma. Menjalani dua fungsi sebagai pangkalan udara militer sekaligus melayani penerbangan komersial, hari ini kami beruntung bisa mengunjungi sisi lain dari Bandara Halim Perdanakusuma. Jika sehari-hari kami ada di sisi bandara komersil untuk terbang dengan Citilink atau Batik Air, hari ini kami diajak Bang Adep dan komunitas Sahabat Museum untuk melihat Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan sejarah di balik keberadaan pangkalan udara tersebut. Bisa dibayangkan, bagi saya melihat pesawat sambil mendengarkan cerita sejarah itu udah kaya anak kecil dikasih gadget yang penuh dengan game, wauw.

Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, atau awalnya bernama Vliegveld Tjililitan, dibangun pada tahun 1915 untuk melayani penerbangan sipil, khususnya pesawat-pesawat sport. Lahan yang digunakan untuk Vliegveld Tjililitan semula merupakan tanah partikelir bernama Tandjoeng Oost yang dimiliki oleh Pieter van der Velde, yang semula diperuntukkan sebagai lahan perkebunan. Adanya pendaratan Fokker VII NAHCC tahun 1924 menandai peristiwa penting yang mengubah fungsi Vliegveld Tjililitan menjadi bandara internasional pertama di Hindia Belanda.

Monumen Dakota Skadron Udara 2
Vliegveld Tjililitan “berhenti sementara” sebagai tempat pendaratan pesawat-pesawat dari Eropa pada tahun 1940, ketika fungsi bandara komersial internasional dipindahkan ke Vliegveld Kemajoran. Dua hari sebelum peresmian Vliegveld Kemajoran tanggal 8 Juli 1940, sebuah DC-3 milik KNILM (Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaart Maatschappij) lepas landas dari Vliegveld Tjililitan untuk menjadi pesawat pertama yang mendarat di Vliegveld Kemajoran. Pada masa Perang Dunia, seiring meningkatnya kebutuhan militer, Vliegveld Tjililitan beralih fungsi menjadi lapangan udara militer. Fungsi ini berlanjut setelah tahun 1945, ketika Batavia dikuasai Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL), di mana di tahun 1946, Vliegveld Tjililitan menjadi basis  Militaire Luchtvaart van het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (ML-KNIL atau Angkatan Udara KNIL).

Sebagai salah satu hasil Konferensi Meja Bundar tahun 1949 di Den Haag, pemerintah Belanda diwakili oleh Kepala Militaire Luchtvoort (Penerbangan Militer) menyerahkan Vliegveld Tjililitan kepada pemerintah Indonesia pada 20 Juni 1950. Diterima oleh KSAU Komodor Udara Soerjadi Suryadarma, Vliegveld Tjililitan diperuntukkan sebagai pangkalan udara militer sekaligus markas Komando Operasi Angkatan Udara I TNI-AU. Tanggal 17 Agustus 1952, nama Lapangan Udara Tjiilitan kemudian diganti menjadi Halim Perdanakusuma, sebagai penghormatan kepada Marsekal Muda TNI (Anumerta) Abdul Halim Perdanakusuma yang gugur pada tanggal 14 Desember 1947 ketika pesawat yang diterbangkan jatuh di Tanjung Hantu, Semenanjung Malaya.


Keseharian Bandara HLP
Namun fungsi Lapangan Udara Halim Perdanakusuma sebagai pangkalan udara militer ternyata tidak berlangsung selamanya. Tahun 1974, Bandara Halim Perdanakusuma kembali melayani penerbangan komersial sebagai pendamping Bandara Kemayoran untuk penerbangan internasional. Setelah Bandara Kemayoran ditutup secara resmi pada 1 Mei 1985 dan seluruh penerbangan komersial dipindahkan ke Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma kembali berfokus pada kepentingan penerbangan militer. Seperti kita ketahui, sejak tahun 2014, Bandara Halim Perdanakusuma kembali melayani penerbangan komersial, untuk mengurangi kepadatan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta. 

Hanggar Skadron Udara 31
Di antara hanggar yang diserahkan oleh ML-KNIL kepada TNI-AU di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma pada tahun 1950, salah satunya adalah hanggar yang digunakan Skadron Udara 31. Hanggar ini merupakan hanggar beton buatan masa Hindia Belanda, dan masih berdiri dengan kokoh hingga hari ini. Skadron Udara 31 sendiri adalah Satuan Udara Angkut Berat, dan merupakan “rumah” bagi armada Lockheed Martin C-130 Hercules, pesawat angkut berat buatan Amerika Serikat. Sejak dibuat pertama kali tahun 1954, pesawat itu telah sukses menjalani berbagai misi militer dan sipil, dan telah berkembang dalam berbagai jenis varian. Hanggar Skadron Udara 31 memiliki Ruang Sejarah yang menyimpan kisah kedatangan Hercules di Indonesia untuk pertama kalinya dan berbagai peristiwa penting bagi Skadron Udara 31.

Keberadaan Hercules di Indonesia sendiri memiliki kisah yang menarik, karena Indonesia merupakan negara pertama di luar Amerika Serikat yang menggunakan Hercules. Generasi pertama Hercules di Indonesia merupakan “hadiah” dari pemerintah Amerika Serikat atas penukaran tawanan pilot CIA Allen Pope yang terlibat membantu pemberontakan Permesta di Sulawesi pada tahun 1958. Ketika Presiden AS JFK menawari hadiah, Soekarno meminta ditunjukkan pesawat Hercules yang saat itu masih baru. Indonesia kemudian menerima 10 pesawat Hercules (termasuk 2 varian tanker) yang menjadi embrio lahirnya Skadron Angkut Berat Jarak Jauh TNI AU.

Hanggar Skadron Udara 17
Dari Skadron Udara 31, kami berpindah ke Skadron Udara 17 yang merupakan Satuan Udara Angkut Khusus VIP/VVIP. Hanggar Skadron Udara 17 juga merupakan hanggar jadoel buatan masa Hindia Belanda. Skadron Udara 17 bertugas mengelola pesawat untuk VIP/VVIP, termasuk pesawat kepresidenan Indonesia. Pesawat pertama yang dikelola skadron ini adalah Ilyushin Il-18 pemberian pemerintah Uni Soviet yang diberi nama Dolok Martimbang. Saat ini pesawat yang digunakan cukup bervariasi, termasuk Boeing 737 seri 300 dan Hercules.

C130 Hercules
Di Skadron Udara 17 kami bisa melihat pesawat Hercules dari dekat, termasuk memasuki bagian dalam pesawat yang memiliki interior khusus untuk VIP. Ini bukan pertama kali saya melihat pesawat Hercules dari jarak dekat, tapi rupanya level “kebesaran” pesawatnya berbeda dengan ingatan dan bayangan saya. Semula saya membayangkan akan melihat pesawat yang sangat besar, setidaknya sebesar Airbus 330 di mana orang di dalamnya bisa bermain bola. Namun ternyata Hercules yang saya temui hari ini bahkan tidak sebesar pesawat Boeing 737 yang banyak digunakan untuk penerbangan komersil. Tetap saja saya harus angkat topi pada pesawat-pesawat Hercules yang ada di seluruh dunia, karena begitu banyak fungsi dan misi yang sudah mereka jalankan selama lebih dari ½ abad.

Museum Lanud Halim Perdanakusuma
Setelah melihat hanggar-hanggar buatan masa Hindia Belanda tersebut, kami rehat sejenak di Museum Lanud Halim Perdanakusuma yang terletak tak jauh dari rumah Komandan Lanud. Museum yang diprakarsai oleh Marsekal Pertama TNI A. Adang Supriyadi SE dan diresmikan oleh KSAU Marsekal Imam Sufaat, SIP pada 9 April 2012 ini menyimpan foto-foto peristiwa bersejarah dan memorabilia terkait Lanud Halim Perdanakusuma. Termasuk diantaranya adalah miniatur pesawat, panji-panji, serta foto-foto para perwira yang pernah menjadi Kepala Lanud Halim Perdanakusuma.

Foto Ereveld Tjililitan
Menurut Dr. dr. Rushdy Hoesein, narasumber kami pada hari ini, di dalam area Vliegveld Tjililitan pernah terdapat Ereveld Tjililitan, yang merupakan kompleks pemakaman militer. Beliau menyampaikan bahwa di masa Perang Dunia II sangat umum lapangan udara, khususnya lapangan udara militer, memiliki makam di dekatnya, untuk memakamkan korban perang, korban kecelakaan pesawat, atau tokoh Angkatan Udara yang wafat. Saat ini pemakaman tersebut sudah tidak ada karena pada tahun 1968 dipindahkan ke Ereveld Menteng Pulo, sesuai perjanjian sentralisasi makam Belanda.

Monumen Sapta Marga di Lanud Halim Perdanakusuma
Dari foto-foto tempo doeloe, terlihat bahwa Ereveld Tjililitan saat itu tertata dengan baik. Namun pak Rushdy juga bercerita ketika beliau menanyakan kepada penghuni Pangkalan Militer Halim Perdanakusuma mengenai pemakaman tersebut, hampir tidak ada yang tahu atau ingat bahwa di kompleks tersebut pernah ada pemakaman. Setelah menggali lebih lanjut, pak Rushdy memperkirakan lokasinya kurang lebih di sudut jalan dekat belokan ke bangunan bekas rumah sakit, di mana saat ini tempat tersebut penuh pepohonan seperti hutan kecil, dan di tengahnya berdiri Monumen Sapta Marga. Sebelum meninggalkan Lanud Halim Perdanakusuma, kami berhenti sejenak di tempat tersebut untuk mengenang mereka yang pernah dimakamkan di Ereveld Tjililitan, semoga mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan YME.

Desa Adat Ende, Desa Perisai Suku Sasak

"Pletak! Plak! Plak plak plak!"

Bunyi tongkat rotan yang beradu dengan perisai kulit kerbau ini sungguh memekakkan telinga dan membuat hati terkejut-kejut. Terlihat 2 pemuda bertelanjang dada tengah bertarung satu sama lain. Para petarung ini disebut Pepadu, dan mereka diawasi seorang sesepuh yang berperan sebagai Pakembar atau wasit. Tapi tak perlu khawatir, ini bukan pertarungan sesungguhnya. Mereka adalah warga Desa Adat Ende yang tengah melakukan Tari Peresean, sebuah tarian Suku Sasak yang fungsinya melatih kejantanan. Ketika tarian selesai, MC mengatakan bahwa tarian tadi hanya untuk simulasi, dan sebentar lagi akan dimulai sesi pertarungan yang sesungguhnya. Saat MC memanggil para Pepadu untuk memulai pertarungan sesungguhnya, dari salah satu rumah keluarlah 2 orang Pepadu cilik dan 1 orang Pakembar cilik, siap melakukan pertarungan!

 

Tari Peresean

Desa Adat Ende adalah tempat tinggal Suku Sasak yang terletak di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Amak Alfin, warga Desa Adat Ende yang mengantar kami berkeliling,menjelaskan mengenai asal usul nama Desa Ende. “Ende” dalam bahasa Sasak berarti perisai, seperti perisai yang digunakan para Pepadu saat melakukan Tari Peresean. Namun perisai juga dapat bermakna bahwa Desa Adat Ende bertugas sebagai “perisai” adat istiadat Suku Sasak. Desa Adat Ende dihuni oleh 30 kepala keluarga dengan jumlah warga 136 orang.

Desa Adat Ende
Bangunan di Desa Adat Ende terbuat dari bambu, dengan atap terbuat dari alang-alang kering. Atap alang-alang yang tahan antara 7-8 tahun ini bersifat menyejukkan bangunan saat cuaca terik, namun memberikan kehangatan di malam hari. Bangunan adat yang paling banyak terdapat di Desa Ende adalah Bale Tani, yang merupakan rumah tinggal. Bale Tani terdiri dari 2 bagian, bagian pertama adalah sesangkok terletak di sisi depan rumah dan berfungsi sebagai ruang tidur ayah dan anak lelaki. Sedangkan bagian kedua terletak di lantai atas yang disebut Dalem Bale, dan berfungsi sebagai ruang tidur ibu dan anak gadis, sekaligus sebagai dapur. Keunikan dari Bale Tani adalah cara perawatan lantainya yang digosok dengan kotoran kerbau. Penggosokkan dengan kotoran kerbau ini berfungsi untuk membersihkan lantai dari debu, memperkuat lantai, serta menghangatkan rumah di malam hari. Masyarakat Sasak juga percaya kotoran kerbau tersebut dapat mengusir serangga, sekaligus menangkal serangan magis yang ditujukan pada penghuni rumah.

Bale Tani
Jika kita ingat ikon khas bangunan adat Suku Sasak, bangunan yang memiliki bentuk seperti itu adalah Bale Lumbung yang biasanya diletakkan di depan Bale Tani. Bale Lumbung digunakan untuk menyimpan hasil panen warga untuk kebutuhan pangan selama setahun, dan masing-masing lumbung digunakan untuk menyimpan kebutuhan padi bagi 5 kepala keluarga. Menurut kepercayaan masyarakat Sasak, yang boleh mengambil padi di dalam Bale Lumbung adalah wanita yang telah berkeluarga. Dipercaya jika aturan ini dilanggar, maka wanita yang melanggar tidak akan mendapat keturunan.

Sambil menjelaskan mengenai fungsi bangunan-bangunan di Desa Adat Ende, Amak Alfin menyelipkan kisah tentang adat unik masyarakat Suku Sasak, yaitu “Kawin Lari”. Adat ini adalah ketika seorang jejaka berniat untuk menikah, ia harus “menculik” gadis yang menjadi calon istrinya. Walaupun tampaknya mudah untuk dilakukan, namun “Kawin Lari” ini memiliki banyak peraturan dan tata cara yang harus dipenuhi, di antaranya penculikan calon istrinya harus dilakukan tanpa diketahui orang tua sang gadis. Apabila proses penculikan terlihat, sang jejaka akan dikenakan denda. Setelah sang gadis berhasil diculik, pihak lelaki akan mengirimkan utusan adat untuk memberitahukan kepada pihak keluarga perempuan bahwa anak gadisnya sudah diculik dan akan dinikahkan. Menurut Amak Alfin, di era modern, biasanya antara sang jejaka dan sang gadis sudah sepakat mengenai waktu untuk melakukan “Kawin Lari”.

Gadis Sasak Menenun Selendang
Di akhir kunjungan, kami mengunjungi Bale Barugak atau gasebo panggung yang biasanya digunakan untuk balai pertemuan warga. Namun di Desa Adat Ende, Bale Barugak digunakan sebagai tempat peragaan ketrampilan menenun warga. Bagi masyarakat Suku Sasak, ketrampilan menenun merupakan bagian dari tradisi, di mana seorang perempuan Sasak tidak boleh menikah jika belum bisa menenun. ini bermanfaat untuk membantu perekonomian keluarga, khususnya jika hasil pertanian kurang baik. Para gadis Suku Sasak mulai belajar menenun pada usia 7 hingga 10 tahun, dan hari ini kami menemui 2 orang gadis cilik Suku Sasak yang memperagakan cara menenun dengan ATBM. Karena baru belajar menenun, para gadis cilik ini tidak menenun kain songket, tetapi selendang tenun. Gadis-gadis ini sangat berkonsentrasi pada pekerjaan menenun, sehingga ketika ditanya wisatawan mereka tidak menjawab. Yang menjawab adalah salah seorang ibu yang tengah memintal benang. Sayang jawaban beliau dalam bahasa Sasak, sehingga tak ada satu pun perkataan beliau yang kami mengerti!

Matur Tampiasih!
Untuk kenang-kenangan hasil karya adik-adik dari Desa Adat Ende, saya membeli sehelai selendang tenun di toko souvenir yang dikelola oleh koperasi warga desa. Tepat sebelum keluar dari Desa Adat, di bawah Bale Lumbung yang terletak dekat gerbang desa, adik-adik warga Desa Adat Ende berkumpul dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran kami, sekaligus mengucapkan harapan semoga selamat dalam perjalanan. Spontan saya menjawab “Matur Tampiasih”, ucapan terima kasih dalam bahasa Sasak yang baru saja diajarkan penjaga toko souvenir kepada saya. Kompak adik-adik itu membalas ucapan terima kasih saya dengan “Pade-pade”. Ah, tak ingin kehangatan mereka cepat berlalu dari benak saya…

Thursday, May 31, 2018

Kuil-Kuil Hindu di Kota Bangkok

Kita mengenal Thailand sebagai salah satu negara dengan mayoritas penduduknya menganut agama Buddha. Di seluruh penjuru negeri, tersebar arca Sang Buddha dan vihara yang digunakan untuk beribadah. Tapi tahukah Anda bahwa Thailand juga memiliki kuil Hindu, di pusat keramaian kota Bangkok?

Medio Juli 2016, hari ini jadwal saya terbang dari Swarnabhumi masih pukul 14.00, sehingga saya membunuh waktu dengan naik Bangkok Skytrain menuju pusat kota. Tujuan saya adalah Kuil Erawan yang menjadi salah satu ikon Kota Bangkok. Kuil Erawan, atau San Thao Maha Phrom, terletak di Grand Hyatt Erawan Hotel, di daerah Pathum Wan, dikelilingi beberapa pusat perbelanjaan besar lainnya. Kuil ini didirikan bersamaan dengan pembangunan Hotel Erawan pada tahun 1956, yang berdiri di lahan tempat Hotel Grand Hyatt Erawan saat ini. Saat Hotel Erawan didirikan, banyak hambatan dalam pembangunannya, sehingga pemerintah Thailand sebagai pemiliknya merasa perlu untuk membangun sebuah kuil untuk menetralisir karma buruk tersebut. Percaya atau tidak, setelah pendirian kuil ini, pembangunan Hotel Erawan berjalan lancar. Tahun 1987, hotel ini diruntuhkan, dan kemudian dibangun Hotel Grand Hyatt Erawan.

Phra Phrom di Kuil Erawan
Kuil Erawan merupakan rumah bagi arca Phra Phrom, yaitu perwujudan Dewa Brahma atau dewa pencipta dalam kepercayaan Hindu. Keistimewaan arca Phra Prhom adalah memiliki empat wajah yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Empat wajah ini merupakan perlambang dari 4 sifat baik, yaitu welas asih, murah hati, adil, dan meditasi. Phra Phrom digambarkan memiliki 8 tangan, yang melambangkan kehadiran dan kekuatan. Dari 8 tangan tersebut, 4 tangan memegang benda suci, sedangkan 4 tangan lainnya memegang senjata untuk mengusir kebathilan.

Penziarah di Phra Phrom
Dewa Brahma merupakan dewa agama Hindu, sehingga Kuil Erawan sejatinya adalah kuil untuk agama Hindu. Karena terletak di Bangkok, banyak yang salah kaprah menyebut arca Phra Phrom sebagai Four-Faced Buddha. Namun tampaknya hal ini tidak menjadi permasalahan bagi masyarakat Bangkok, bahkan terlihat banyak penduduk yang lewat dan memanjatkan doa di kuil tersebut. Dengan lokasi yang berada di sudut persimpangan besar dan merupakan kuil terbuka, Kuil Erawan banyak dikunjungi orang, baik yang akan beribadah maupun hanya melihat-lihat.

Penjual Bunga dan Perlengkapan Ibadah
Di trotoar sekitar Kuil Erawan banyak deretan penjual bunga dan perlengkapan untuk ibadah, sehingga kuil ini terlihat hidup dan penuh warna. Para penziarah mempersembahkan karangan bunga marigold, dupa, lilin, serta memanjatkan doa meminta perlindungan dan agar segala hambatan disingkirkan. Saya beruntung sekali, karena pada saat bersamaan dapat menyaksikan persembahan tari tradisional Thailand sebagai lambang doa kepada Dewa Brahma.

Penari Tradisional Thailand di Kuil Erawan
Dari kuil Erawan, saya berjalan ke arah Central World, menuju dua kuil Hindu yang terlihat sangat mencolok di halaman Central World. Inilah Phra Trimurti (Thep Thattatheraya atau kuil Trimurti) dan Phra Phi Khanet (kuil Ganesha). Kuil Trimurti merupakan perwujudan dari 3 dewa utama dalam agama Hindu: Brahma (sang pencipta), Vishnu (sang pemelihara), dan Shiva (sang penghancur). Dalam kepercayaan masyarakat Thailand, Trimurti merupakan dewa cinta. Kuil ini didirikan untuk mengimbangi kekuatan dari Kuil Erawan. Mereka yang patah hati, kesepian, atau pasangan yang ingin hubungannya langgeng akan berdoa di kuil ini, dengan mempersembahkan bunga seperti mawar merah.

Kuil Trimurti di Depan Central World
Sedangkan kuil yang terletak di samping kanan kuil Trimurti adalah tempat memuja Ganesha, yang merupakan dewa pendidikan, ilmu pengetahuan, kebijakan, dan kesejahteraan. Dewa ini sangat populer di kalangan pelajar, guru, dan profesi lain yang membutuhkan kebijaksanaan. Dikenal sangat menyukai adi karya seni, Ganesha menginspirasi kreativitas dan kesuksesan bagi para pemujanya. Para pemujanya akan membawa bunga marigold, buah-buahan, dupa, atau kudapan khas Thailand, serta berdoa untuk keberuntungan dan berkat berupa kebijakan dan kreativitas.

Kuil Ganesha di sisi kanan Kuil Trimurti
Dewa Ganesha mudah dikenali karena berbentuk manusia berkepala gajah dengan perut buncit. Ganesha memiliki 4 buah tangan, tangan pertama memegang jerat yang bermakna memotong nafsu duniawi dan menaklukan emosi. Tangan kedua memegang senjata yang membantu menghancurkan kejahatan. Tangan ketiga memegang potongan gading yang melambangkan menghancurkan segala penghalang. Tangan keempat memegang kudapan manis yang melambangkan kesuksesan.

Kuil Dewi Uma
Dari kuil Ganesha, saya menyeberang ke arah Big C Supercenter, untuk melihat Phra Mae Umadhevi (Kuil Dewi Uma) yang terletak di depan gedung pertokoan tersebut. Dewi Uma dikenal sebagai istri Dewa Shiva, dan dikenal akan rasa cinta yang besar dan ketaatannya kepada Shiva. Dewi Uma banyak dipuja oleh para wanita, khususnya yang menginginkan kesuksesan, kepemimpinan, kesuburan, kebahagiaan dalam berumah tangga, dan perlindungan dari marabahaya. Para penziarah umumnya mempersembahkan bunga, buah-buahan, dan dupa.

Kuil Amarindradhiraja
Dalam perjalanan kembali ke stasiun Skytrain Chitlom, saya singgah di Thao Amarindradhiraja. Kuil yang terletak di depan Amarin Plaza ini merupakan rumah bagi arca Dewa Indra yang terbuat dari batu giok berwarna hijau. Dalam kepercayaan Hindu, Dewa Indra merupakan penguasa guntur dan penguasa surga, serta merupakan raja para dewa. Dewa Indra juga merupakan penyingkir segala rintangan dan pembawa kebahagiaan. Sedangkan dalam kepercayaan agama Buddha, Indra merupakan dewa yang mendorong Siddharta menjadi guru bagi umat manusia, dan merupakan dewa pelindung dan pembela. Dewa Indra yang tengah mengendarai gajah juga seringkali muncul di segel Kota Bangkok, sehingga Dewa Indra juga merupakan dewa penting dalam kepercayaan Buddha di Thailand. Para penziarah biasanya mempersembahkan bunga marigold dan dupa, serta memanjatkan doa untuk kesejahteraan dan perlindungan dari kejahatan.

Sad Stories of Ayutthaya

Siang itu Mr. Pattarakeat Phaniert atau Pak Oat (seharusnya kami memanggilnya Mr. Oat, tapi kami lebih suka menyapanya dengan panggilan "Pak"), guide yang mendampingi kami selama di Thailand, mengarahkan mobil memasuki kawasan Ayutthaya Historical Park yang merupakan reruntuhan kota lama Ayutthaya. Sekilas kawasan ini menyerupai Trowulan, namun dengan densitas sisa bangunan candi yang lebih rapat. Ke mana pun arah mata memandang, terlihat sisa bangunan candi di mana-mana. Tidak mengherankan, karena tidak kurang dari 3000 candi terdapat di Ayutthaya.


Ayutthata, atau lengkapnya Phra Nakhon Si Ayutthaya, adalah ibukota Provinsi Ayutthaya. Kota ini semula merupakan ibukota Kerajaan Ayutthaya di Siam, yang didirikan oleh Raja Ramathibodi I (Uthong) pada tahun 1350 saat mengalahkan dinasti kerajaan Sukhothai. Nama Ayutthaya diambil dari kata Ayodhya, nama kerajaan yang dipimpin oleh Sri Rama dalam kisah Ramayana. Wilayah yang digunakan sebagai ibukota merupakan wilayah yang dikelilingi 3 buah sungai, salah satunya adalah Chao Phraya, sehingga sangat subur.

Kerajaan Ayutthaya hampir tak pernah lepas dari kisah pertumpahan darah, baik perebutan wilayah oleh kerajaan tetangga, maupun perebutan kekuasaan antar dinasti. Seperti di tahun 1569, kota Ayutthaya dikuasai oleh Burma. Masa kedamaian diperoleh saat Ayutthaya mencapai masa keemasannya di perempat kedua abad ke-18. Di tahun 1715, Ayutthaya kembali berperang melawan dinasti Nguyen dari Vietnam Selatan untuk memperebutkan kekuasaan atas Kamboja. Pada tahun 1765, wilayah Ayutthaya diserang oleh pasukan Burma yang dipimpin Raja Alaungpaya, dan pada tahun 1767 Ayutthaya menyerah dan dibumihanguskan, sebelum ditinggalkan dalam keadaan hancur, menyebabkan berakhirnya kerajaan Ayutthaya yang sudah diperintah oleh 35 raja.

Reruntuhan di Ayutthaya dimulai sejak tahun 1969 oleh Departemen Seni Rupa. Upaya renovasi ini menjadi lebih serius setelah lokasi ini dinyatakan sebagai Historical Park di tahun 1976. Sebagian dari Historical Park di Ayutthaya kemudian dinyatakan sebagai UNESCO World Heritage Site pada tahun 1991.


WAT PHRA SI SANPHET 
Pertama kali Pak Oat mengajak kami ke Wat Phra Si Sanphet, atau “Temple of the Holy, Splendid Omniscient”. Candi ini semula merupakan tempat paling suci di Istana Raja di Ayutthaya dan secara eksklusif digunakan sebagai tempat ibadah raja-raja Ayutthaya, sebelum dibumihanguskan oleh tentara Burma pada tahun 1767, bersamaan dengan kehancuran kota Ayutthaya. Candi ini merupakan candi terbesar dan tercantik di Ayutthaya, dan arsitekturnya menjadi inspirasi yang ditiru oleh Wat Phra Kaeo (Temple of Emerald Buddha) yang berlokasi di Grand Palace Bangkok.


Lokasi tempat berdirinya Wat Phra Si Sanphet semula merupakan tempat istana raja yang didirikan oleh Raja Uthong pada tahun 1350. Ketika istana tersebut dipindahkan ke lokasi baru pada tahun 1448 oleh Raja Boroma-Tri-Loka-Nat, tempat ini kemudian dijadikan tempat ibadah bagi keluarga kerajaan, sekaligus tempat diselenggarakanya upacara-upacara keagamaan kerajaan.


Ciri khas dari candi ini adalah 3 buah stupa besar (chedi) bergaya arsitektur Ceylon. Ketiga stupa ini dibangun pada masa yang berbeda-beda. Stupa di sisi timur dan di tengah dibangun oleh Raja Ramathibodi II pada tahun 1492 untuk menyimpan abu Raja Boroma-Tri-Loka-Nat dan Raja Boroma-Rachathirat III, sedangkan stupa di sisi barat dibangun pada tahun 1592 oleh Raja Borommaracha IV untuk menyimpan abu Raja Ramathibodi II.Stupa-stupa yang kami lihat hari ini merupakan hasil pemugaran pada tahun 1956.


Pak Oat juga menambahkan bahwa Wat Phra Si Sanphet merupakan salah satu tempat paling berhantu di Thailand, dan bahkan mendapat gelar sebagai 6th most haunted place di Asia. Konon di tempat ini pernah terjadi pembantaian besar-besaran oleh tentara kerajaan Burma, dan sebagian penduduk Ayutthaya masih sering melihat hantu para penduduk yang dibunuh pada peristiwa tersebut, gentayangan di sekitar reruntuhan. Mendengar cerita Pak Oat, mau tak mau bulu kuduk kami pun berdiri, membayangkan betapa menyeramkan suasana pada saat itu.


WAT MAHA THAT 
Pak Oat kemudian membawa kami ke Wat Phra Sri Rattana Mahathat, atau lebih dikenal sebagai Wat Maha That (Temple of the Great Relic). Candi ini didirikan pada tahun 1374 oleh Raja Borommaracha I (Somdet Phra Borommarachathirat) dan Phra Mahathera Thammakanlayan, dan diselesaikan pada tahun 1384 oleh Raja Ramesuan. Pada masa kejayaan Ayutthaya, Wat Maha That menjadi salah satu candi penting, karena merupakan pusat ibadah dan menyimpan relic sang Buddha.


Berbeda dengan Wat Phra Si Sanphet yang memiliki stupa bergaya arsitektur Ceylon, bangunan pada kompleks candi Wat Maha That memiliki gaya arsitektur Khmer. Candi ini memiliki prang (menara) utama dengan gaya arsitektur Khmer setinggi 46 meter. Bahan baku pembangunan candi adalah laterite dan batu bata, yang diperkuat stuko (semen putih yang terdiri dari campuran abu bakaran kayu, getah pohon dan serbuk kerang). Pagoda tersebut pernah runtuh di masa pemerintahan Raja Songtham di tahun 1610, dan kemudian direnovasi pada tahun 1633 pada masa pemerintahan Raja Prasat Thong naik tahta. Ketika Ayutthaya hancur pada tahun 1767, prang utama ini tetap bertahan, sebelum runtuh di tahun 1904. Prang yang saat ini ada merupakan hasil restorasi.


Namun atraksi utama dari Wat Maha That adalah kepala arca Buddha yang dibelit akar pohon beringin, seolah “terjebak” di batang pohon tersebut. Ekspresi wajah arca yang terlihat teduh ini meninggalkan kesan mendalam bagi yang melihat. Pak Oat mengatakan bahwa kemungkinan besar kepala arca ini berasal dari arca Buddha yang dipenggal oleh para pencuri yang mencari harta karun di reruntuhan candi, namun tertinggal di halaman candi. Seiring berjalannya waktu, pohon yang berada di dekat kepala arca tersebut tumbuh dan sulur-sulurnya membelit arca, menghasilkan posisi yang kita lihat sekarang. Saat kami akan berfoto, Pak Oat mengingatkan agar kami berfoto dalam posisi berlutut/berjongkok, untuk menghormati arca tersebut.


Saat menjelaskan tentang prang utama yang ada di candi ini, Pak Oat berbagi kisah-kisah misteri yang terjadi di Wat Maha That. Pada saat penggalian di tahun 1956, pernah tercium aroma cendana dari reruntuhan candi, dan tidak lama kemudian ditemukan relik dan barang berharga yang semula disimpan di candi ini. Kisah lain yang tak kalah seru adalah ketika terjadi penjarahan di prang utama candi pada tahun 1991, dari 20 orang pencuri yang melakukan penjarahan, 11 orang di antaranya mati misterius. Kejadian ini ditambah dengan terbakarnya 7 toko emas yang menjadi penadah benda-benda yang dicuri. Pada akhirnya sisa pencuri yang menjarah candi ini kemudian menyerah kepada pihak berwajib. Sungguh merupakan pelajaran berharga agar kita tidak melakukan hal-hal yang tidak baik, khususnya pada rumah ibadah.


WAT CHAIWATTHANARAM 
Setelah makan siang, kami mengunjungi Wat Chaiwatthanaram (“Temple of Long Reign and Glorious Era) yang terletak di sisi barat Sungai Chao Phraya. Lokasi candi ini berada di luar “pulau” Ayutthaya, dan walaupun memiliki kompleks yang besar, candi ini bukan merupakan bagian dari Historic City of Ayutthaya yang berstatus UNESCO World Heritage Site.


Candi dengan gaya arsitektur Khmer ini didirikan pada tahun 1630 oleh Raja Prasat Thong sebagai tempat pelaksanaan upacara keagamaan, seperti upacara kremasi keluarga kerajaan. Candi ini sempat digunakan sebagai perkemahan tentara pada masa perang dengan kerajaan Myanmar di tahun 1767. Setelah kehancuran Ayutthaya, Wat Chaiwatthanaram ditinggalkan oleh penghuninya, dan perlahan-lahan turut mengalami kehancuran.


Dengan gaya arsitektur dan bangunan yang berbeda daripada candi-candi lain di Ayutthaya, Wat Chaiwatthanaram dianggap merupakan salah satu candi tercantik di masa kejayaan Ayutthaya. Struktur bangunan Wat Chaiwatthanaram didesain untuk merefleksikan cara pandang Sang Buddha terhadap dunia. Candi utama (Prang Prathan) setinggi 35 meter merupakan symbol Gunung Meru (Khao Phra Sumen) atau pusat dunia. Di sekelilingnya terdapat 4 prang kecil yang melambangkan empat penjuru mata angin. Pondasi persegi panjang yang melandasi menara-menara ini merupakan dunia, sedangkan lorong persegi panjang yang membatasi sisi luar pondasi merupakan perbatasan dunia. Di sepanjang dinding lorong terdapat 120 arca Buddha dalam posisi duduk, dan seluruh arca tersebut menghadap ke arah Prang Prathan. Arca yang terdapat di dalam bangunan sudut merupakan Buddha yang diberi mahkota, sebagai lambing perwujudan raja.


Titik pusat candi dikelilingi oleh delapan buah chedi yang memiliki lukisan di dinding dalam. Sedangkan di dinding luar terdapat 12 relief yang menceritakan kisah hidup Sang Buddha, namun hanya sebagian dari lukisan dan relief tersebut yang bertahan. Ketika Pak Oat menjelaskan tentang keberadaan lukisan dan relief ini, Pak Oat sempat menyatakan bahwa ia ingin pergi ke Borobudur. Ah, saya baru menyadari, barangkali bagi para penganut agama Buddha, pergi ke Borobudur memiliki nilai relijius yang berharga, seperti halnya ketika umat Muslim akan pergi umroh ke Baitullah…


Tak lupa Pak Oat menyampaikan kisah pilu sebuah tragedi yang terkait dengan Wat Chaiwatthanaram. Raja Borommarachathirat III, atau lebih dikenal sebagai Raja Borommakot, memerintah di Ayutthaya antara tahun 1733-1758. Walaupun masa pemerintahannya berjalan dengan damai, Raja Borommakot dikenal sebagai raja yang kejam. Raja Borommakot memperoleh tahtanya pada tahun 1732 dengan merebutnya dari Pangeran Aphai dan Pangeran Paramet, dua orang putra raja Thai Sa yang saat itu merupakan raja Ayutthaya. Tahun 1741, Raja Borommakot mengangkat Pangeran Thanmathibet sebagai putra mahkota. Namun Thanmathibet berselingkuh dengan Putri Sangwal dan Putri Nim, keduanya selir Raja Borommakot. Kisah cinta segitiga ini tertangkap basah pada tahun 1746, dan ketiga orang pelakunya mendapat hukuman cambuk. Pangeran Thanmathibet mendapat 120 cambukan, sementara kedua selir mendapat masing-masing 30 cambukan. Pangeran Thanmathibet meninggal saat sedang menjalani hukuman, dan Putri Sangwal wafat tiga hari kemudian. Putri Nim tetap hidup, namun diusir dari istana. Setelah upacara kremasi Pangeran Thanmathibet, Raja Borommakot menginstruksikan untuk membuat pagoda (Chedi) di Wat Chaiwatthanaram untuk menyimpan abu Pangeran Thanmathibet. Konon penduduk setempat masih sering mendengar suara isak tangis di dekat prang yang menyimpan abu Pangeran Thanmathibet.