Wednesday, January 3, 2018

Jejak Megalitikum Situs Cibalay

“Semangat, Kakak!”
Sebuah kalimat yang terus menerus saya ucapkan di dalam hati, ketika melintasi jalan setapak menuju ke Situs Megalitikum Arca Domas, Desa Cibalay, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Situs megalitikum yang terletak dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak ini letaknya tersembunyi dari keramaian, kurang lebih berjarak 2 kilometer dari jalan raya. Sedemikian “tersembunyinya” lokasi situs ini, kendaraan roda empat hanya bisa mencapai satu titik, sebelum kami harus meneruskan perjalanan melintasi jalan setapak dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor. Kami beruntung hari ini cuaca cerah, sehingga kami ditempati panorama persawahan yang membentang di kaki Gunung Salak, serta bunga-bunga rumput yang cantik di sepanjang jalan yang kami lalui.
Terdapat 8 situs megalitikum yang terletak di Desa Cibalay, namun saat mengisi liburan Natal ini kami hanya sempat mengunjungi 2 di antaranya. Situs pertama yang kami kunjungi adalah Situs Balekambang, yang terletak di area terbuka sebelum gapura masuk bertuliskan “Selamat Datang di Situs Cibalay”. Situs ini terdiri dari batu-batu besar dan pipih, dua di antaranya merupakan menhir yang diletakkan dalam posisi berdiri, serta terdapat beberapa buah dolmen berukuran kecil. Menurut cerita penduduk setempat, konon Situs Balekambang ini berfungsi seperti pintu gerbang, sehingga sebelum melakukan peribadatan di Situs Arca Domas para penziarah harus berhenti sejenak di Situs Balekambang untuk mempersiapkan diri.

Situs Balekambang

Setelah melihat-lihat Situs Balekambang, kami memasuki gapura bertuliskan “Selamat Datang di Situs Cibalay”, dan melewati anak tangga menuju ke Situs Arca Domas. Situs ini pertama kali diteliti secara detail oleh N.J. Krom pada tahun 1914, dan hasilnya dilaporkan dalam Rapporten van den Oudheidkundige Diensten Nederlandsch-Indie: inventaris dehindoe-oudeheden. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa penemuan situs ini sudah dilaporkan oleh De Wilde pada tahun 1830. Situs ini juga pernah tercatat oleh Junghuhn pada tahun 1844, dan Muller pada tahun 1856.

Situs Arca Domas
 Jika dilihat sekilas, struktur Situs Arca Domas mengingatkan saya pada situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur, dalam skala yang lebih kecil. Situs ini terdiri dari batu-batu pipih yang disusun membentuk punden berundak lima tingkat dan menghadap ke arah Gunung Salak. Di undakan paling tinggi terlihat teras utama yang memiliki beberapa menhir berbentuk batu pipih dalam posisi berdiri. Hal ini sangat terkait dengan kepercayaan kuno bahwa roh leluhur bersemayam di tempat tinggi. Dari jauh situs ini terlihat seperti sebuah bukit hijau, karena tanah yang menyelimuti situs seluas 2500 meter persegi ini banyak ditumbuhi semacam lumut.

Altar Utama Situs Arca Domas

 Kang Deni, petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang yang mengantarkan kami, menjelaskan bahwa situs Arca Domas diperkirakan berasal dari masa 2000-3000 tahun sebelum Masehi. Walaupun diberi nama “Arca Domas”, di kawasan ini belum pernah ditemukan arca. Nama “Domas” diberikan karena diperkirakan terdapat 800 buah (domas berarti 800) batu pipih yang berbentuk seperti arca. Kang Deni sendiri mengenal situs ini dengan sangat baik, karena kakeknya juga bertugas sebagai penjaga situs dari dinas purbakala sejak tahun 1970. Satu hal, walaupun situs ini terletak di Kabupaten Bogor, namun pengelolaan situs ini berada di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya yang berkantor di Serang, Banten. Unit teknis ini berada di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan wilayah kerja meliputi Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi Lampung.

Sunday, August 27, 2017

Dhamma Vihara Sundara, Candi Putih di Tepi Bengawan Solo

Dhamma Vihara Sundara. Nama rumah ibadah umat Buddha Sangha Theravada yang terletak di Jl. Ir. H. Juanda No. 223 B, Pucangsawit, Jebres, Surakarta ini pertama kali diperkenalkan di Instagram, dengan embel-embel “seperti di Thailand”. Tapi impresi itu langsung sirna ketika saya datang ke sana dan melihat sendiri seperti apa vihara tersebut. Sejatinya, vihara ini lebih cantik daripada yang saya bayangkan, jauh lebih cantik dari candi-candi yang pernah saya lihat di Thailand.

Vihara yang terletak tak jauh dari aliran Bengawan Solo ini didirikan oleh Sundara Husea, pengusaha pemilik Sun Motor group. Diresmikan pada 24 Maret 2002, kompleks rumah ibadah ini terdiri dari 2 buah bangunan. Bangunan utama vihara merupakan gedung bertingkat dengan atap berbentuk limasan. Di lantai atas merupakan Ruang Dhammasala (ruang ibadah), sedangkan di bagian bawah digunakan sebagai kantor dan toko yang menjual buku serta video terkait ibadah umat Buddha.Sedangkan bangunan kedua merupakan candi berwarna putih yang menyerupai candi-candi khas kerajaan Nusantara kuno. Saat ini Dhamma Vihara Sundara tidak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah, tetapi juga menjadi salah satu tujuan wisata religi di Kota Solo.


Ruang Dhammasala

Memasuki dari pintu utama, kita disambut sepasang patung singa yang menyerupai patung singa penjaga pintu gerbang di Candi Borobudur. Menurut kepercayaan Buddha, singa adalah kendaraan sang Buddha menuju nirwana. Singa juga merupakan symbol dari Sang Buddha, karena singa merupakan raja para binatang yang melambangkan kekuatan, keberanian, kemenangan, serta kemampuan untuk melindungi para penganut agama Buddha. Pada undakan menuju Ruang Dhammasala, terdapat sepasang arca dengan kepala manusia dan berbadan burung. Menaiki undakan menuju Ruang Dhammasala, di cungkup depan bangunan terlihat lukisan kaca patri yang menggambarkan rusa dalam posisi berhadapan dengan mulut mencium roda, serta dua kepala naga dengan mulut terbuka di kedua sudut kaca menghadap ke arah luar. Penggambaran rusa yang mencium roda ini merupakan ikon khas Buddha yang menggambarkan khutbah pertama Sang Buddha di Taman Rusa Isipatana di Sarnath, Varanasi.

Arca Buddha di Ruang Dhammasala

Memasuki Ruang Dhammasala, di bagian altar terdapat arca Buddha berwarna emas dalam posisi kaki bersila, dengan mudra (posisi tangan) telapak tangan kiri terbuka ke atas diletakkan di atas lipatan kaki, dan telapak tangan tertelungkup diletakkan di atas lutut kanan.Posisi ini melambangkan Dhyani Buddha Aksobhya, yang memanggil bumi sebagai saksi. Arca ini diapit oleh patung 2 murid sang Buddha dengan tangan bertangkup di depan dada. Di depan arca-arca tersebut terdapat perlengkapan upacara seperti hio dan lilin. Sehari sebelum ibadah, petugas biasanya akan menata alas duduk dan papan silang tempat kitab suci. Saya menengadah ke atas, ternyata langit-langit ruangan berbentuk kubah. Kubah tersebut dihiasi 8 lukisan kaca patri yang menggambarkan berbagai simbol terkait sang Buddha, seperti dharmachakra, gajah putih, dan pohon bodhi.

Candi Batu Putih
Keluar dari Ruang Dhammasala, saya berjalan ke arah bangunan candi yang terbuat dari batu berwarna putih. Bangunan tersebut berdiri di atas pelataran batu berwarna hitam, dan memiliki arsitektur menyerupai candi-candi Buddha dari masa Mataram Kuno dengan ukuran menyerupai Candi Sojiwan. Di puncak bangunan terdapat sebuah stupa besar yang dikelilingi stupa-stupa kecil. Bagian atas puncak stupa besar dihiasi catra yang terbuat dari logam. Di sisi kiri, kanan, dan belakang, terdapat tiga relief sang Buddha dengan pakaian dan mudra yang berbeda. Pada pintu masuk candi, bagian atasnya dihiasi ornament Kala. Terdapat pintu masuk ke dalam candi, namun pintu masuk tersebut terkunci. Bagi para penggemar candi kuno, bangunan ini seolah merupakan bentuk utuh dari candi-candi Buddha kuno dari Nusantara.

Candi dari batu putih ini di”kawal” oleh sepasang gajah berwarna putih, yang mungkin membuat orang mengatakan bahwa tempat ini seperti di Thailand. Di bagian depan candi terdapat patung Sundara Husea, pendiri Dhamma Vihara Sundara. Patung ini diresmikan pada tanggal 24 Maret 2013, sebagai peringatan atas 3 tahun wafatnya Sundara Husea. Sundara Husea wafat pada tanggal 23 Maret 2010, dan dikremasi di Taman Memorial Delingan, Karanganyar pada 27 Maret 2010.

Tuesday, August 22, 2017

Situs Batujaya, candi-candi masa Tarumanegara di Tengah Sawah

Langit cerah berwarna pucat di atas wilayah Karawang menemani kami, 25 peserta Plesiran Tempo Doeloe, menelusuri pematang beton yang membelah kawasan persawahan menuju situs percandian Batujaya. Berjalan paling depan adalah Pak Dwi Cahyono, peneliti sejarah dan arkeologi, beserta Pak Kaisin, sesepuh Desa Segaran yang sudah berusia lebih dari 80 tahun. Cuaca hari itu lumayan panas, namun kami tetap bersemangat melihat situs candi tertua di Jawa Barat, yang bahkan diduga lebih tua dibandingkan Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Situs percandian Batujaya terletak 50 km di ke arah timur dari Jakarta, atau 47 km ke arah barat laut dari pusat Kota Karawang, tepatnya di kawasan Teluk Karawang yang merupakan bagian dari Teluk Jakarta. Situs ini berada di wilayah seluas 5 km2, meliputi Desa Segaran di Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya di Kecamatan Pakis. Berdasarkan hasil analisis radiocarbon pada sekam padi yang terkandung dalam batu bata yang membangun candi, para ahli menduga Situs Batujaya dibangun pada abad 2-3 Masehi, menandai peralihan dari masa prasejarah menuju masa sejarah. Hasil analisa tersebut membuat situs Batujaya sering dikaitkan dengan Kerajaan Tarumanegara yang merupakan kerajaan Hindu Waisnawa. Uniknya, temuan-temuan arkeologis di situs Batujaya menunjukkan bahwa candi-candi di Batujaya bukan merupakan candi Hindu, melainkan candi Buddha Mahayana. Hal ini membawa kesimpulan bahwa situs Batujaya bukanlah lokasi pusat kerajaan Tarumanegara.

Situs Batujaya mulai diketahui keberadaannya pada tahun 1984, ketika para peneliti dari tim survey arkeologi Universitas Indonesia akan meneliti Situs Cibuaya yang terletak tak jauh dari kawasan Batujaya. Menurut Pak Kaisin, penduduk Batujaya menyampaikan kepada para peneliti bahwa di Batujaya terdapat banyak temuan dalam bentuk batu bata. Para penduduk kemudian mengantarkan para peneliti untuk melihat “unur” (gundukan tanah) yang terdapat di kawasan persawahan. Setelah gundukan tersebut digali, ternyata di bawahnya terdapat struktur candi atau peninggalan purbakala lainnya. Sampai saat ini telah ditemukan 53 situs, yang terdiri dari 23 candi dan 30 unur yang belum digali. Dari 53 situs tersebut, baru 2 situs yang dipugar dan layak dikunjungi, yaitu Candi Jiwa (Candi Segaran 1) dan Candi Blandongan (Candi Segaran 5).

Candi pertama yang kami kunjungi adalah Candi Blandongan, yang letaknya paling jauh. Candi Blandongan mulai dipugar sejak tahun 2002. Nama Blandongan identik dengan pendopo, karena ketika masih berbentuk gundukan candi ini digunakan sebagai tempat beristirahat para gembala kambing. Kami sebenarnya tidak diijinkan mendekat ke bangunan candi, namun Pak Kaisin mengijinkan Pak Dwi untuk mendekat ke bangunan candi, sehingga dapat menjelaskan secara detail ornamen-ornamen pada bangunan candi.

Candi Blandongan
Pak Dwi memperlihatkan bahwa Candi Blandongan memiliki 4 pintu masuk di setiap penjuru. Pintu masuk utama diduga di sisi tenggara, yang ditandai bekas tiang untuk torana. Dari bentuknya, diduga bentuk asli Candi Blandongan adalah sebuah stupa, dengan adanya temuan bata berbentuk melengkung. Dijelaskan juga bahwa di bagian atas kaki candi terdapat sisa pagar langkan yang mengelilingi selasar, sehingga kemungkinan besar candi ini merupakan tempat ritual pradaksina. Pada selasar ini juga ditemukan jejak umpak, yang kemungkinan besar digunakan untuk tiang atap sepanjang selasar.

Dari Candi Blandongan, pak Dwi dan pak Kaisin membawa kami ke Candi Lempeng. Sejatinya situs ini tidak berbentuk bangunan candi, melainkan merupakan lempengan tutup dolmen atau peti mati kuno. Tutup dolmen ini semula dimiringkan untuk mengetahui apakah di bagian dalamnya terdapat inskripsi, namun tidak dikembalikan lagi ke posisi semula. Menurut pak Kaisin, lempeng batu tersebut sangat berat, bahkan 40 orang tidak kuat mengangkat lempeng batu tersebut, sehingga dibiarkan dalam kondisi miring. Di sekitar lokasi candi, terlihat beberapa unur. Menurut Pak Dwi, sebagian unur tersebut berisi struktur bangunan kuno yang sudah melalui tahap penelitian awal oleh para arkeolog, tinggal menunggu waktu untuk dapat digali dan diteliti lebih lanjut.

Candi Lempeng
Penjelajahan kami di situs Batujaya kami akhiri di Candi Jiwa. Candi yang dipugar sejak tahun 1990 ini mendapatkan namanya dari pengalaman penduduk. Menurut Pak Kaisin, daerah Batujaya sangat rawan banjir yang merupakan limpahan dari Ci Tarum yang hanya berjarak 1 km di sisi selatan dari Candi Jiwa. Jika terjadi banjir maka penduduk banyak mengungsi ke gundukan atau unur. Namun tiap kali para gembala kambing menempatkan kambingnya di gundukan yang berisi Candi Jiwa, maka kambing tersebut akan mati tanpa diketahui penyebabnya.

Candi Jiwa
Berbeda dengan Candi Blandongan yang memiliki tangga masuk di setiap penjuru, Candi Jiwa tidak memiliki tangga untuk naik ke bagian atas candi. Selain itu, selasar yang digunakan untuk pradaksina tidak terletak di atas kaki candi, melainkan dalam bentuk jalan setapak mengelilingi kaki candi. Di atas kaki candi, terlihat susunan batu bata bergelombang, seolah membentuk kelopak bunga teratai berukuran besar. Pak Dwi juga menjelaskan bahwa di Candi Jiwa banyak ditemukan tablet persembahan terakota yang berisi mantra (rapal doa) atau figure pantheon Buddha Mahayana, memperkuat dugaan para ahli bahwa bangunan Candi Jiwa diperuntukkan bagi penganut Buddha Mahayana.


Stupika yang Ditemukan di Candi Blandongan
Sebelum kembali ke Jakarta, kami menyempatkan untuk mengunjungi Museum Situs Cagar Budaya Batujaya. Bangunan yang digunakan untuk museum kecil ini awalnya adalah tempat penyelamatan hasil-hasil penelitian dan artefak hasil pemugaran, namun saat ini digunakan untuk memamerkan sebagian artefak hasil temuan, seperti stupika (stupa kecil) di candi Blandongan, tablet-tablet terakota, pecahan tembikar, dan kerangka manusia. Sebagian dari artefak yang ditemukan sudah dibawa untuk diteliti di Museum Nasional. Namun sebenarnya sebagian besar temuan disimpan di gudang yang terletak di dekat pintu masuk kawasan candi, menunggu untuk diteliti. Dengan masih banyak temuan yang harus diteliti, serta masih banyak unur yang harus digali, nampaknya masih banyak misteri Batujaya yang harus dipecahkan…

Monday, August 14, 2017

Museum Dirgantara Mandala, Rekam Jejak Kejayaan Indonesia di Udara

PESAWAT! Kata ini yang terlintas ketika mobil yang saya kendarai memasuki Kompleks TNI-AU Wonocatur menuju ke Museum Dirgantara Mandala. Museum Pusat TNI AU ini menyimpan berbagai benda-benda terkait sejarah TNI Angkatan Udara, dan koleksi favorit pengunjungnya adalah pesawat-pesawat yang pernah digunakan oleh TNI AU.

A4-Skyhawk di Halaman Museum
Memasuki halaman depan museum, saya disambut beberapa pesawat berukuran besar. Pesawat terbesar yang menarik perhatian saya adalah Tupolev Tu-16 buatan Rusia. Pada masanya, Tu-16 merupakan pesawat pembom strategis yang paling ditakuti, karena merupakan pesawat dengan teknologi paling canggih, serta memiliki kecepatan tinggi dan jarak jelajah yang jauh. Pesawat ini terlibat aktif dalam operasi Trikora dan Dwikora.

Tupolev Tu-16

Setelah membeli tiket masuk seharga Rp 3.000 dan ijin potret Rp 1.000, saya mulai melihat ke bagian dalam museum. Koleksi museum ini sebagian besar adalah koleksi sejarah TNI Angkatan Udara Koleksi-koleksi ini terdiri dari surat-surat penting, foto peristiwa, foto kegiatan operasi militer dan non militer TNI AU, pakaian seragam TNI AU, dan benda-benda memorabilia dari empat orang perintis TNI AU : Marsekal Muda Anumerta Iswahyudi, Marsekal Muda Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma, Marsekal Muda Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dan Marsekal Muda Anumerta Agustinus Adisutjipto. Terdapat juga beberapa diorama yang menggambarkan berbagai peristiwa penting dalam sejarah TNI AU.

Para Perintis TNI AU
Di antara koleksi sejarah TNI AU, mata saya langsung melihat sebuah pesawat ringan yang terletak di dalam ruangan. Ternyata pesawat ini adalah replika pesawat ringan berawak tunggal WEL-I RI-X, pesawat buatan Wiweko Soepono yang merupakan pesawat pertama yang dibuat oleh bangsa Indonesia. Pesawat ini pertama kali diterbangkan pada tanggal 27 Oktober 1948 di pangkalan udara Maospati Madiun (sekarang pangkalan udara Iswahyudi). Pesawat ini merupakan replika, karena yang asli hancur ketika gerbong kereta api yang mengangkut pesawat ini terkena granat pemberontak PKI Madiun.

WEL-I RI-X Buatan Wiweko Soepono
Setelah puas melihat-lihat koleksi sejarah TNI AU, saya bergegas ke bagian hanggar, bagian favorit saya. Hanggar ini penuh sesak dengan koleksi pesawat yang berjumlah kurang lebih 46 buah. Walaupun koleksinya barangkali belum seperti museum-museum besar di mancanegara, namun koleksi pesawat di museum ini banyak bercerita kepada kita mengenai kiprah TNI AU dalam menjaga kedaulatan bangsa kita di udara. Beberapa pesawat yang wajib dilihat adalah Cureng, P-51 Mustang dan Mig-21. Pesawat Cureng adalah pesawat latih buatan Jepang produksi tahun 1933, yang menjadi pesawat pertama berbendera Indonesia yang diterbangkan di wilayah udara Indonesia pada tanggal 27 Oktober 1945 oleh Komodor Udara Agustinus Adisutjipto. Sedangkan pesawat P-51 Mustang buatan Amerika dan Mig-21 buatan Rusia merupakan pesawat tempur yang handal pada masanya, sehingga pada tahun 1950-1970-an kekuatan udara Indonesia termasuk salah satu yang disegani di dunia. Di salah satu sudut hanggar, terdapat studio foto yang menyediakan paket foto mengenakan seragam penerbang dengan latar belakang pesawat. Studio foto ini laris manis dikunjungi mereka yang ingin berfoto, terutama anak-anak

Salah satu koleksi pesawat yang patut dilihat adalah C-47 buatan Amerika, atau lebih dikenal sebagai DC-3 Dakota. Dalam sejarah dunia penerbangan, pesawat ini konon adalah pesawat paling sukses, karena merupakan pesawat yang aman, ekonomis, dan nyaman pada masanya. Sampai hari ini masih banyak DC-3 yang laik terbang dan digunakan untuk terjun payung atau joy flight. Salah satu DC-3 yang paling terkenal di Indonesia adalah RI-001 Seulawah, yang merupakan pesawat angkut pertama milik Republik Indonesia yang dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. DC-3 yang dipasang di museum ini merupakan versi militer, dan karena pintu pesawat sengaja dibuka, saya bisa melihat interiornya, dan tentunya kondisinya jauh berbeda dengan pesawat komersil yang kita kenal sekarang.


DC-3 Dakota Versi Militer
Menjelang pintu keluar hanggar, di dekat pintu terdapat replika bagian ekor DC-3 Dakota VT-CLA, yaitu pesawat yang ditembak Belanda pada 29 Juli 1947 di dusun Ngoto, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Peristiwa memilukan ini merupakan aksi balas dendam pengeboman di Semarang, Salatiga dan Ambarawa yang dilakukan para kadet AURI pada pagi harinya. Dalam peristiwa ini gugur beberapa tokoh perintis TNI Angkatan Udara, yaitu Agustinus Adisucipto, Abdulrahman Saleh, dan Adisumarmo Wirjokusumo.

Akhirnya saya tiba di ruangan terakhir. Sebelum mampir ke kios cenderamata, saya melihat beberapa miniatur pesawat, yang merupakan sumbangan dari penggemar miniatur pesawat. Setelah puas melihat miniatur pesawat dan cenderamata, saya bergegas keluar museum, karena masih banyak obyek wisata lain di Yogyakarta yang menunggu kehadiran saya.

(artikel pernah diposting di www.adirafacesofindonesia.com tanggal 19 November 2011)

Saturday, November 28, 2015

Wayang Orang Sriwedari, Seni Pertunjukan Yang Bertahan Lebih Dari Satu Abad

Alunan suara pesinden diiringi gamelan yang dimainkan para pengrawit mengiringi langkah kami memasuki Gedung Wayang Orang Sriwedari pada pukul 20.15. Baru baris depan yang terisi penonton, dan kami menghitung baru sekitar 10-15 orang yang sudah menempati kursi-kursi penonton. Sambil sesekali menatap ke arah panggung yang masih tertutup dan berharap pertunjukan segera dimulai, saya, Murni, Rinta dan Arum masih sibuk membahas harga tiket masuk sebesar Rp 3.000,- per orang, nilai yang kalau di Jakarta bahkan belum cukup untuk membayar parkir selama 1 jam di pusat perbelanjaan terkemuka.

Semakin malam, makin banyak penonton yang hadir dan memenuhi kursi di baris depan. Barangkali ada 4-5 baris kursi yang terisi sekitar 50-60 orang penonton. Di luar dugaan kami, ternyata cukup banyak penonton yang berusia muda, bahkan beberapa di antara penonton datang bersama keluarga dan anak-anak, padahal saat itu bukan malam libur. Rasanya senang mengetahui masih ada yang berminat menyaksikan pertunjukan tradisional seperti wayang orang.

 Wayang orang, atau dalam bahasa Jawa disebut wayang wong, adalah pertunjukan wayang yang dimainkan menggunakan orang. Pertunjukan semacam teater tradisional ini mulai berkembang di lingkungan keraton sejak diciptakan oleh Mangkunegara I dari Solo pada tahun 1757. Pertunjukan ini tidak bertahan lama, dan kemudian lebih berkembang di Yogyakarta. Di bulan April 1868, sewaktu Mangkunegara IV mengadakan acara khitanan untuk putranya, didatangkan kelompok wayang orang dari Yogyakarta, dan sejak saat itu wayang orang kembali hidup di Solo. Mangkunegara IV dan Mangkunegara V kemudian menyempurnakan pertunjukan wayang orang, khususnya dalam hal pakaian dan perlengkapan. Kisah yang ditampilkan kebanyakan bersumber pada cerita wayang purwa, yang merupakan pengembangan kisah Ramayana dan Mahabharata.

Wayang orang semakin berkibar di Solo sejak pembangunan Taman Sriwedari pada tahun 1899 oleh Susuhunan Pakubuwana X dari Surakarta. Di masa itu wayang orang masih merupakan konsumsi eksklusif bagi lingkungan keraton. Wayang Orang Sriwedari sendiri merupakan kelompok budaya komersial pertama dalam pertunjukan wayang orang. Berdiri pada tahun 1911, Wayang Orang Sriwedari mengadakan pentas secara tetap di Taman Sriwedari, yang merupakan taman hiburan umum miliki Keraton Kasunanan Surakarta. Saat ini terdapat 33 Pegawai Negeri Sipil, 30 orang non-PNS (honorer), dan 5 orang pendukung yang menjadi pemain, pengrawit dan sinden yang mendukung pertunjukan Wayang Orang Sriwedari. Mereka melakukan pementasan setiap hari pada pukul 20.00-22.00, kecuali pada hari Minggu malam.

Prabu Siwandakala dan Putri Sriwitari
Kembali ke Gedung Wayang Orang Sriwedari, pada pukul 20.30 akhirnya lampu dimatikan dan layar bergambar gunungan dibuka, menandakan pertunjukan wayang orang dimulai. Adegan pertama diawali dengan munculnya tokoh Prabu Siwandakala dari kerajaan Medang Sawanda, tiga orang pria yang sepertinya merupakan senopati (panglima perang), serta para selir yang mengenakan kemben warna merah. Karena pada waktu masuk ke ruangan saya tidak sempat melihat judul cerita pada hari itu, serta tidak ada sinopsis yang dibagikan, saya menebak-nebak dengan mencoba mendengarkan dialog yang dibawakan. Walaupun dialog disampaikan menggunakan bahasa Jawa yang masih bisa saya mengerti, namun saya masih belum bisa menyimpulkan judul pertunjukan pada hari itu, kecuali bahwa lakon yang dimainkan hari ini bukan merupakan kisah utama dari Mahabharata, melainkan salah satu kembangannya.

Suasana pertunjukan mulai menjadi meriah ketika tokoh Putri Sriwitari, adik dari Prabu Siwandakala muncul ke panggung. Walaupun merupakan seorang satria wanita yang sakti, namun Putri Sriwitari memiliki karakter yang manja pada kakaknya. Kecerewetan yang ditampilkan dalam dialog yang “mrepet” (nyaris tak berujung) dengan nada tinggi ini membuat Rinta, yang sebenarnya tidak mengerti satu pun dialog yang diucapkan dalam bahasa Jawa, sangat terhibur melihat cara sang pemain menggambarkan karakter tokohnya. Tidak hanya terhibur dengan kelucuan yang terjadi di atas panggung, Rinta juga memperhatikan bahwa walaupun harga tiket masuk sangat murah bagi kami, pertunjukan ini digarap dengan sangat serius, mulai dari panggung dengan dekor yang ditata apik, kostum yang terlihat berkilau dan terawat, dandanan para pemain yang sangat serius sesuai dengan karakternya, dan bahkan akting para pemain pun terlihat sangat serius.

Prabu Siwandakala Menyerbu Kerajaan Mandura dan Dwarawati
Beralih ke adegan berikutnya, ketika Prabu Siwandakala mengirimkan ultimatum untuk menaklukan kerajaan Mandura di bawah pimpinan Prabu Baladewa, kerajaan Dwarawati di bawah pimpinan Prabu Kresna, dan kerajaan Amarta di bawah pimpinan Puntadewa dan Pandawa Lima. Mulailah terjadi perang kembang antara para patih kerajaan Medang Sewanda dan Setyaki, panglima dari kerajaan Dwarawati, yang dibawakan melalui tarian yang seru. Sayang sekali, Setyaki harus mengakui kesaktian Prabu Siwandakala, dan para senapati dari Mandura dan Dwarawati harus mundur dari medan peperangan.

Bagong, Petruk dan Gareng Dengan Banyolannya
Munculnya para punakawan (Bagong, Petruk, dan Gareng) memberikan penyegaran suasana bagi penonton untuk sejenak tertawa melihat banyolan-banyolan mereka. Punawakan ini merupakan tokoh khas wayang Indonesia, yang tidak dijumpai di kisah Mahabharata versi asli dari India. Bagi beberapa orang, para punawakan ini seolah “berfungsi” untuk menyeimbangkan pertunjukan agar tidak terlalu “berat”. Namun para punakawan ini sebenarnya mewakili rakyat atau orang kebanyakan yang bertugas mengasuh sekaligus menasehati para ksatria yang berbudi luhur, melakukan kritis sosial, sekaligus sebagai sumber kebenaran dan kebijakan, yang dibawakan melalui banyolan.

Setelah Bagong, Petruk dan Gareng selesai mengocok perut penonton dengan banyolan baris berbarisnya, adegan beralih ketika Sriwitari bertemu dengan Arjuna. Begitu pemeran Arjuna muncul, kami langsung berkomentar, “waaa... ganteng yaaa....”. Arjuna memang dikenal sebagai “lananging jagat”, yang berparas rupawan, berhati lembut, namun sekaligus seorang kesatria unggulan dan petarung tanpa tanding di medan laga. Karakter-karakter inilah yang membuat Arjuna dianggap sebagai perwujudan lelaki seutuhnya, sehingga dalam pertunjukan wayang orang, tokoh Arjuna sedapat mungkin ditampilkan oleh penari laki-laki yang berparas tampan dan memiliki aura lembut, serta ditampilkan dengan kostum yang lebih menyolok dibandingkan karakter lainnya.

Putri Sriwitari Tengah Merayu Arjuna
Namun di dalam kisah hari ini, Arjuna menolak cinta dari Sriwitari. Rayuan Sriwitari dan penolakan Arjuna digambarkan dalam dialog dan tarian yang kalem, jauh berbeda dengan adegan-adegan penolakan cinta yang biasa kita tonton dalam sinetron. Karena cintanya ditolak Arjuna, Sriwitari dengan kesaktiannya mengutuk Arjuna menjadi banteng. Setelah adegan Arjuna berubah menjadi banteng, Murni mencoba googling, dan barulah kami tahu bahwa judul lakon yang hari ini kami saksikan adalah “Arjuna Bantheng”.

Arjuna Dikutuk Menjadi Banteng
Setelah Arjuna dikutuk menjadi banteng, Prabu Siwandakala dan para senopatinya melanjutkan penyerbuan ke Kerajaan Amarta dan menyerang keluarga Pandawa. Tidak sanggup menghadapi kesaktian Prabu Siwandakala, keluarga Pandawa menyingkir dan meminta nasihat dari Kresna. Saat itu para punakawan membawa banteng jelmaan Arjuna kepada keluarga Pandawa. Di tengah kedukaan keluarga Pandawa karena mengetahui saudara mereka dikutuk menjadi banteng, Kresna menyatukan dirinya dengan banteng tersebut, untuk kemudian menghadapi Prabu Siwandakala.

Banteng Jelmaan Arjuna dan Kresna Menghadapi Prabu Siwandakala
Perang tanding antara Prabu Siwandakala dan Putri Sriwitari melawan Kresna dan Arjuna tidak terelakkan. Ketika banteng terkena senjata candrasa milik Prabu Siwandakala, banteng tersebut berubah wujud kembali menjadi Kresna dan Arjuna, yang kemudian melanjutkan perang tanding dengan Prabu Siwandakala dan Putri Sriwitari. Pertunjukan wayang hari itu diakhiri dengan kemenangan Kresna dan Arjuna. Setelah Kresna dan Arjuna memenangkan pertandingan, layar bergambar gunungan ditutup, para pengrawit dan pesinden meninggalkan tempatnya, dan penonton pun satu per satu beranjak meninggalkan kursinya meninggalkan Gedung Pertunjukan.

Kresna dan Arjuna

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 6.