Tuesday, January 13, 2015

Ketika Rahwana Menjadi Tokoh Favorit

Kisah Ramayana karya Walmiki memang berasal dari India berabad-abad yang lalu, namun asimilasi dengan budaya lokal Indonesia telah membuat kisah ini ditampilkan dalam berbagai kreasi kesenian, salah satunya adalah deretan relief di sepanjang dinding Candi Prambanan, Yogyakarta. Relief yang terdapat di sepanjang dinding Candi Syiwa dan Candi Wisnu ini telah mengilhami terciptanya Sendratari Ramayana atau Ramayana Ballet. Sendratari Ramayana pertama kali dipentaskan di panggung terbuka Candi Prambanan, bertepatan dengan malam bulan purnama di bulan Juni 1961. Saat ini pertunjukan Ramayana Ballet dipentaskan secara teratur setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu di Teater Terbuka pada musim kemarau (antara bulan Mei sampai dengan Oktober), dan di Teater Trimurti yang tertutup pada musim hujan. Namun pada musim liburan, jadwal pertunjukan bisa ditambah dan dilaksanakan setiap hari.

Sabtu, 27 Desember 2014. Hari ini saya akan menonton Ramayana Ballet untuk ketiga kalinya. Ya, ini kali ketiga saya akan menonton sendratari ini. Pertama kali saya menonton Ramayana Ballet adalah pada tahun 2005 di Teater Trimurti, dan kedua kali saya menonton versi yang agak berbeda di Purawisata. Untuk pertunjukan kali ini, niat saya adalah ingin mempertajam ketrampilan saya memotret pertunjukan seni, dan setelah menonton 2 kali, saya yakin Ramayana Ballet tentunya merupakan obyek yang selalu menarik untuk diabadikan.

Satu kendala yang belum berhasil saya pecahkan adalah masalah transportasi ke venue pertunjukan di Candi Prambanan, karena kali ini saya menonton sendirian (berhubung teman seperjalanan saya kali ini lebih memilih menonton konser sebuah grup musik anak muda di tengah Kota Yogyakarta pada waktu yang bersamaan). Betul bahwa saat ini tersedia banyak taksi di Yogya yang bisa mengantar sampai Candi Prambanan, tapi kalau taksinya disuruh menunggu dan argonya tetap menyala, bisa-bisa ongkos transportnya lebih mahal daripada harga tiket pertunjukan Ramayana Ballet. Demikian juga dengan rental mobil, di Yogya hampir tidak ada rental mobil yang bersedia dipakai hanya untuk 3 jam dengan tarif yang masuk akal. Saya mencoba searching di “mbah Gugel”, dan akhirnya saya mendarat di website ini: www.bomanta.com. Pertama kali membaca, saya semula ingin menggunakan jasa rental kendaraan untuk 3 jam saja untuk mengantar saya ke Candi Prambanan, karena saya melihat tarif yang ditawarkan cukup wajar. Namun setelah saya baca lebih teliti, ternyata Bomanta.com juga punya jasa transportation sharing ke Ramayana Ballet Prambanan dengan tarif hanya Rp 50.000 per orang.  Inilah yang saya butuhkan!

Tanpa menunggu lebih lama, saya menghubungi nomor yang ada di website tersebut, dan dijawab seseorang yang mengaku bernama Pak Boma. Setelah saya menjelaskan bahwa saya mau menggunakan jasa transportation sharing ke Ramayana Ballet Prambanan, Pak Boma menjelaskan bagaimana prosedurnya, sekaligus memberi informasi tambahan bahwa saya juga bisa memesan langsung tiket pertunjukan Ramayana Ballet lewat Bomanta.com, dengan harga yang sama sesuai dengan harga resmi. Wah... ini benar-benar seperti sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Langsung saya mengirimkan alamat email via SMS untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Respon yang diberikan cukup cepat, saya dihubungi staf Bomanta.com bernama Rani, yang memberikan informasi lebih detail mengenai posisi tempat duduk di Ramayana Ballet. Setelah membaca informasi yang disampaikan via email, saya pun menutup transaksi dengan memesan 1 tiket Kelas 1 pertunjukan Ramayana Ballet beserta 1 seat untuk transportation sharing. Senangnya berurusan dengan Bomanta.com, timnya sangat komunikatif, bahkan setelah saya mentransfer pembayaran dan mendapat respon bahwa tiket dan sarana transportasi sudah dipesan, masih ada tanya jawab yang lebih detail mengenai jadwal penjemputan dan hal-hal terkait lainnya.

Saat Hari-H, waktu di arloji saya masih menunjukkan pukul 14.30. Tiba-tiba saya ditelpon Pak Bima dari Bomanta.com, yang menyampaikan akan menjemput saya untuk membawa saya ke tempat pemberangkatan transportation sharing di kawasan Pawirotaman, karena dia mengkuatirkan apabila saya dijemput di penginapan pada pukul 18.00 (sesuai janji awal), ada risiko saya (dan rombongan yang sharing transportasi) akan terlambat tiba di Prambanan, mengingat tingkat kemacetan Yogyakarta yang sangat parah di masa liburan, bahkan konon lebih parah daripada saat Hari Raya Idul Fitri. Well... saya tidak perlu menyangkal fakta bahwa saat itu Yogyakarta sangat macet, karena beberapa jam sebelumnya saya sempat mencicipi early traffic jam di Malioboro, padahal waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya saya memutuskan bahwa saya akan datang sendiri ke kawasan Pawirotaman dan menunggu di sana. Anyway, killing time is my middle name. Sebagai orang Jakarta yang sudah kenyang menghadapi macet, saya punya banyak cara untuk killing time. Dan mengingat saat itu tingkat kemacetan di Kota Yogyakarta (dan arah ke Prambanan) sangat parah, saya setuju dengan saran Pak Bima, lebih baik saya datang lebih cepat dan menunggu di tempat pemberangkatan di kawasan Pawirotaman. Better waiting than late, right?

Pukul 17.00 di tempat pemberangkatan transportasi ke Prambanan, akhirnya saya bertemu langsung dengan Pak Bima, yang saat itu mengantar dua orang wisman asal Amerika Serikat yang sama-sama akan menonton Ramayana Ballet. Sempat mengobrol sebentar dengan Pak Bima, yang mungkin penasaran kenapa saya bisa menemukan website Bomanta.com. Sayang saya ketemu website Bomanta.com baru-baru saja, coba sudah ketemu sebelum bulan Oktober yang lalu, pasti Bomanta sudah ikut diperkenalkan di buku Tourismpreneurship... Lima belas menit kemudian, transport yang kami gunakan berangkat ke arah Candi Prambanan. Dan setelah blusukan melewati jalan-jalan alternatif, akhirnya kami tiba di tempat pertunjukan 15 menit sebelum pertunjukan dimulai.

Sebelum masuk ke teater terbuka, di halaman depan tempat pertunjukan disajikan tarian singkat yang dibawakan 5 orang penari yang masih belia. Setelah itu penonton mulai memasuki teater terbuka dan duduk sesuai dengan tiket yang sudah dibeli sebelumnya. Karena bersamaan dengan musim libur, wisatawan domestik yang menonton ternyata cukup banyak, kurang lebih separuh dari kapasitas tempat duduk. Ketika saya duduk, terasa hawa di teater terbuka cukup dingin, agak tidak biasa dengan udara Yogya yang umumnya tidak terlalu dingin. Sesaat saya menatap langit, mendung masih menggantung di atas langit. Mudah-mudahan hujan tidak turun pada saat pertunjukan.

Tarian Pembuka di Halaman Depan Tempat Pertunjukan
Tepat pukul 19.30, pembawa acara membuka acara dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sebelum acara dimulai, mereka memberikan pengantar berupa sejarah kisah Ramayana, yang merupakan kisah dari mitologi Hindu. Tak lupa dijelaskan juga mengenai tokoh Sri Rama yang mewakili karakter baik, dan tokoh Rahwana yang mewakili karakter jahat. Pertunjukan kemudian dimulai dengan episode ketika Sri Rama memenangkan sayembara memanah dan mendapatkan Dewi Sinta. Ketika episode tersebut selesai, gerimis mulai mengguyur teater terbuka! Penonton mulai membuka payung yang dipinjamkan pengelola pertunjukan, dan pertunjukan terpaksa dihentikan, menunggu hujan reda. Setelah 15 menit kemudian, tak ada tanda-tanda hujan reda, sehingga dengan segala kerendahan hati pengelola pertunjukan meminta penonton agar rela pindah ke Teater Trimurti yang tertutup. Hahaha, sekali membeli tiket, bisa nonton di 2 tempat!

Pertunjukan di Panggung Terbuka (sebelum dihentikan akibat hujan)
Pemindahan penonton dari teater terbuka menuju Teater Trimurti yang kapasitasnya lebih kecil membuat penonton harus rela agak berdesak-desakan. Beruntung pengelola pertunjukan sangat sigap menyediakan kursi-kursi tambahan di deretan depan dan tangga teater. Saya kebagian tempat yang “kurang beruntung”, karena saya sebenarnya mengincar kursi depan, namun kebagian duduk di kursi deretan kedua, di belakang sepasang turis Jepang yang cukup tinggi, sehingga sempat menyulitkan saya untuk memotret ke arah panggung. Namun demikian, saya sempat mendapatkan beberapa foto unik hasil memotret dari balik kedua turis Jepang tersebut.

Hasil Memotret Dari Balik Kepala Penonton :)
Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan episode selanjutnya, yaitu Sinta Diculik, dan dilanjutkan dengan 5 episode berikutnya: Hanoman Duta, Hanoman Obong, Kumbokarno Gugur, Rahwana Gugur dan Sinta Obong. Kisah Ramayana yang dibawakan dalam 7 episode ini memang merupakan versi yang singkat dan padat. Karena dilangsungkan di Teater Trimurti, jumlah penari yang mendukung pertunjukan ini hanya 50 orang, tidak sebanyak di teater terbuka yang dapat didukung oleh 250 orang penari.

Rama dan Sinta, Tokoh Utama Ramayana Ballet
Sebagai sendratari (seni drama dan tari), cerita dalam Ramayana Ballet dibawakan melalui gerak tubuh dan ekspresi wajah, dan diiringi oleh musik gamelan secara live. Agar pertunjukan semakin menarik, ditambah berbagai efek pencahayaan dan asap untuk semakin mendramatisir cerita. Tidak kalah menarik, para penari juga menampilkan berbagai ketrampilan dan atraksi yang luar biasa, di antaranya pasukan kera yang berjungkir balik, serta adegan memanah yang ditampilkan secara nyata.

Salah Satu Ekspresi Rahwana
Walaupun di akhir cerita Sri Rama berhasil merebut kembali Dewi Sinta dari Rahwana dengan bantuan Hanoman dan pasukan kera, namun tokoh favorit penonton di pertunjukan kali ini adalah Rahwana. Ya, Rahwana, tokoh antagonis dalam kisah Ramayana yang pada umumnya dibawakan secara garang, telah merebut hati penonton melalui berbagai tingkahnya yang kocak. Seperti ketika Rahwana tengah dimabuk kasmaran dan mencoba merayu Dewi Sinta dengan segala kegenitannya, namun alih-alih yang ia rayu adalah Trijata, keponakannya sendiri. Demikian juga ketika adegan menangkap Hanoman, tiba-tiba Rahwana muncul di belakang kursi penonton sambil menggeram dan “mengancam” salah seorang penonton dengan senjata kerisnya. Kapan lagi bisa melihat Rahwana yang kocak seperti ini?

Thursday, September 4, 2014

Travel Guide: Museum Sultan Mahmud Badaruddin II - Palembang

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) merupakan salah satu destinasi wisata yang populer di Kota Palembang di pusat Kota Palembang. Nama museum ini diambil dari nama Sultan Mahmud Badaruddin II, raja terakhir dari dinasti Palembang dan juga merupakan sultan yang paling terkenal karena perjuangannya menentang kaum kolonial. Saat ini Museum SMB II dikelola oleh Pemda Sumatera Selatan.
Tampak Depan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
 Museum SMB II menempati bangunan tua dan antik yang pernah digunakan sebagai rumah Regeering Commissaris pada masa kolonial Belanda. Arsitektur bangunan ini unik, karena merupakan paduan arsitektur Melayu dan Eropa. Konon lokasi tempat berdirinya bangunan ini merupakan situs Keraton Kuto Tengkuruk yang merupakan istana tempat Sultan Palembang bertahta. Istana Kesultanan Palembang ini kemudian dibumihanguskan oleh Belanda pada tahun 1823, untuk kemudian dibangun lagi menjadi bangunan yang kita lihat sekarang. Walaupun merupakan bangunan antik, namun suasana museum tidak terkesan menyeramkan.

Koleksi Museum SMB II terdiri dari replika prasasti, benda-benda kebudayaan Sumatera Selatan, dan sejarah kesultanan Palembang. Terdapat juga patung-patung peninggalan kerajaan Sriwijaya, yang merupakan bukti kebesaran kerajaan tersebut pada masa jayanya. Sedangkan pada koleksi budaya, Anda bisa melihat pelaminan adat pengantin Sumatera Selatan, alat-alat musik khas Sumatera Selatan, kain songket dan batik khas Sumatera Selatan, serta penjelasan mengenai makanan khas Sumatera Selatan. 

Lokasi dan Cara Menuju Ke Destinasi
Museum SMB II terletak di Jl. Sultan Mahmud Badaruddin II No. 2, Palembang. Untuk mencapai museum ini, anda bisa naik angkutan kota Palembang jurusan terminal Jembatan Ampera (misalnya Kertapati-Ampera, Tangga Buntung-Ampera, Plaju-Ampera, Pakjo-Ampera), turun di Terminal Jembatan Ampera. Anda juga bisa naik Bus Rapid Transit Trans Musi koridor 1 (Terminal Alang-Alang Lebar-Jembatan Ampera) dan turun di Terminal Jembatan Ampera. Dari Terminal Jembatan Ampera, anda meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki ke arah Dermaga Benteng Kuto Besak menuju Museum. Jika menggunakan kendaraan pribadi, masuk melalui Jalan Merdeka, belok kiri sebelum kantor Walikota ke Jalan Rumah Bari, di ujung jalan belok kiri dan lurus melewati Benteng Kuto Besar menuju Museum. Museum SMB II terletak kurang lebih di depan Dermaga Benteng Kuto Besak.

Jam Buka dan Harga Tiket 
Museum buka setiap hari Senin sampai dengan Kamis pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, Jum’at pukul 08.00 hingga 11.30 WIB, dan Sabtu dan Minggu pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Harga tiket masuk Rp 2.000,- per orang.

Tempat Menarik Lain Di Sekitar Destinasi
Dari Museum SMB II, Anda dapat melihat Jembatan Ampera dari dekat. Jembatan Ampera merupakan sarana penghubung Seberang Ulu dan Seberang Ilir dari kota Palembang. Jembatan ini dibangun pada tahun 1962 atas prakarsa Bung Karno, dan semula diberi nama Jembatan Bung Karno. Pada masa itu, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Namun pada masa awal orde baru, jembatan ini berganti nama menjadi Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera). Pada awalnya badan jembatan ini bisa diangkat sehingga kapal besar bisa melintas di bawahnya, namun sejak tahun 1970 tidak pernah diangkat lagi karena mengganggu lalu lintas.
Jembatan Ampera
Di sisi barat Museum SMB II terdapat Benteng Kuto Besak, yang merupakan salah satu situs bersejarah lainnya di Kota Palembang. Benteng berukuran 288,75 meter x 183,75 meter setinggi 10 meter dengan ketebalan dinding 2 meter ini dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1780. Namun benteng ini tidak dibuka untuk umum, karena digunakan untuk kantor Kodim.

Pada hari Sabtu, Minggu atau hari libur nasional, anda bisa melakukan perjalanan menyusuri sungai Musi dengan KM Putri Kembang Dadar dan melihat aktivitas di sepanjang sungai Musi, termasuk Pasar 16 Ilir, pelabuhan Boom Baru, pabrik pupuk PT Pusri, dan kompleks Pertamina Plaju. Pada hari-hari lain, dari dermaga BKB, anda dapat menyewa perahu motor, perahu wisata kecil atau kapal ketek untuk menyusuri Sungai Musi hingga ke pulau Kemaro. Pulau Kemaro merupakan delta Sungai Musi di mana di sana terdapat kelenteng yang ramai dikunjungi penziarah, terutama saat peringatan Cap Go Meh.

Tulisan ini merupakancontoh travel guide untuk event Giveaway #WisataNusantara Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis


Wednesday, August 13, 2014

Pantai Tanjung Tinggi, Di Mana Batu-Batu Tinggi Berkumpul

Nama Pantai Tanjung Tinggi mungkin tidak setenar film “Laskar Pelangi”. Masih ingatkah Anda dengan adegan saat Ikal dan kawan-kawannya beserta Bu Muslimah bermain petak umpet di balik batu-batu besar sambil menunggu matahari terbenam? Ya, Pantai Tanjung Tinggi merupakan tempat pengambilan gambar adegan ikonik tersebut. Pantai yang terletak di Desa Keciput, Kecamatan Sijuk, 27 kilometer dari Kota Tanjungpandan ini merupakan salah satu tujuan wisata utama di Pulau Belitung.
Saya Dan Papan Nama Lokasi Shooting "Laskar Pelangi"
Ini adalah kunjungan kedua saya jalan-jalan ke Pantai Tanjung Tinggi, dan kali ini saya bersama adik saya Anggi dan dua orang sahabatnya. Saat itu bertepatan dengan long weekend di penghujung bulan Maret 2014, sehingga pantai ini banyak dikunjungi keluarga yang tengah menikmati liburan. Jika pantai-pantai lain dicirikan dengan pasir halus dan pohon-pohon kelapa, ciri khas dari Pantai Tanjung Tinggi adalah hamparan batu-batu granit berukuran raksasa yang tersebar di sepanjang pantai. Batu-batu ini menjulang tinggi, sedemikian tingginya hingga bisa mencapai 15 meter, dan jumlahnya jauh lebih banyak daripada batu-batu granit yang kami temui pada saat kami melakukan island hopping di pulau-pulau kecil di sisi utara Belitung. Namun demikian, di antara batu-batuan tinggi tersebut, masih tersisa ceruk berpasir dengan perairan yang tenang sepanjang kurang lebih 150 meter, sehingga aman untuk digunakan sebagai tempat beraktivitas.
Ceruk Berpasir Tempat Pengunjung Berenang Dan Main Kano
Sambil melewati celah di antara batu-batu besar untuk mencari posisi cantik untuk berfoto narsis dengan latar belakang batu-batu besar tersebut, kami memperhatikan aktivitas pengunjung yang tengah jalan-jalan di Pantai Tanjung Tinggi. Sebagian besar pengunjung adalah anak-anak, dan mereka tengah menikmati bermain air atau berenang di teluk kecil yang berada di dalam ceruk. Beberapa pengunjung juga tengah menikmati aktivitas berkano mengelilingi ceruk, sedangkan sebagian pengunjung ada yang melakukan aktivitas yang sama dengan kami: membuat pose-pose cantik untuk berfoto.
Batu-Batu Granit Raksasa
Setelah puas berfoto-foto di sekitar batu-batu besar yang berada di dekat ceruk berpasir, Pak Darwis, supir mobil rental yang mengantar kami berempat selama di Belitung, membawa kami berjalan-jalan melewati batu-batuan besar, mencari spot terbaik untuk menikmati panorama matahari terbenam. Sesekali kami harus mendaki beberapa batu yang cukup besar, atau menyelip di celah antara batu-batu besar, untuk mencapai sebuah batu besar landai yang tepat menghadap ke arah barat. Setelah kami tiba di batu besar landai tersebut, kami pun mengambil posisi duduk yang nyaman. Selain kami, ada sekitar 10 orang yang juga sedang duduk-duduk di batu-batu tersebut, sama-sama menunggu momen matahari terbenam.
Anggi, Fitri, dan Fitri Di Atas Batu Besar
Sambil melepas dahaga dengan menikmati minuman Liang Teh Cap Panda, kami berempat melayangkan pandangan ke arah cakrawala. Dari kejauhan, samar-samar terlihat Pulau Lengkuas, pulau terluar di perairan Belitung utara yang ditandai dengan mercusuarnya. Pulau tersebut tepat berada di arah barat, sehingga seandainya kami bisa menikmati panorama matahari terbenam, pulau Lengkuas dan mercusuarnya akan menjadi latar depannya. Melihat langit yang berwarna kelabu dan arak-arakan awan yang kian menebal, saya jadi harap-harap cemas, akankah kami bisa menikmati panorama matahari terbenam?
Matahari Yang Bersembunyi Di Balik Awan
Tepat pukul 17.00 WIB, matahari memutuskan untuk bersembunyi di balik awan. Langit semakin kelabu, dan terlihat awan semakin menebal, tak lagi menyisakan celah bagi cahaya matahari untuk lewat. Gagal sudah panorama matahari terbenam hari ini! Sebelum warna langit menjadi semakin gelap, perlahan kami meninggalkan batuan besar yang kami duduki sebelumnya, untuk meninggalkan pantai berbatu besar yang cantik dan unik ini.
Suasana Pantai Tanjung Tinggi Saat Matahari Terbenam



Artikel ini diikutsertakan dalam event "Traveling ke Pantai Indonesia" bersama Liang Teh Cap Panda.

Friday, July 18, 2014

Mesin Waktu di Museum Tanjung Pandan, Belitung

I love museum very much. Setiap kali pergi ke tempat baru, yang pertama saya cek adalah ada museum apa di tempat itu. Demikian juga ketika adik saya dan teman-temannya mengajak saya pergi ke Belitung di akhir bulan Maret tahun 2014, hal pertama yang saya browsing adalah apakah di pulau cantik ini ada museumnya, dan ternyata ada!
Di hari ketiga kunjungan kami ke Belitung, setelah menikmati panorama pantai dan desa nelayan di Tanjung Binga, Pak Darwis, pengemudi mobil yang merangkap guide membawa saya, dik Anggi, Fitri dan Fitriah menuju Museum Tanjung Pandan. Museum Tanjung Pandan bukanlah museum baru, karena telah berdiri sejak tahun 1962 sebagai Museum PN Tambang Timah Belitung. Pendirian museum ini diprakarsai oleh Dr. R. Osberger, seorang ahli geologi berkebangsaan Austria. Museum ini menempati sebuah bangunan tua bekas kantor NV Biliton Maatschappij Distrik Tanjungpandan yang terletak di Jl. Melati.
Museum Tanjung Pandan

Kedatangan kami di Museum Tanjung Pandan disambut sebuah tugu batu yang menggambarkan tangan memegang linggis, seolah mempertegas keberadaan pertambangan timah yang pernah menjadi urat nadi industri di pulau Belitung. Tugu tersebut semula berada di halaman bangunan Jam Gede di Jl. Veteran, dan merupakan tugu peringatan 75 tahun penambangan timah di Belitung. Pada tugu tersebut terdapat prasasti berangka tahun 1926 yang memuat nama-nama pioneer penambangan timah di Belitung.
Tugu Peringatan 75 Tahun Pertambangan Timah di Belitung

Baru melihat bagian luar bangunan museum, hawa “ja-doel” langsung menyelimuti kami berempat. Saya sempat underestimate, apa yang bisa dilihat di sebuah museum kecil yang "ja-doel" di sebuah kota kecil yang berada di tengah pulau kecil? Ternyata banyak! Karena konsep awal museum ini merupakan Museum Geologi, sebagian besar koleksinya adalah benda-benda terkait pertambangan timah. Di antara koleksi tersebut, terdapat miniatur kapal keruk yang digunakan untuk menambang timah di laut dan sungai, berbagai koleksi contoh batuan dan bijih logam yang ditemukan di Belitung, serta maket berbagai model penambangan timah. Sementara saya sibuk membaca semua keterangan pada koleksi batuan dan bijih logam yang dikumpulkan oleh Dr. Osberger, Fitri sibuk memotret maket-maket model penambangan timah.
Kapal Keruk KM Dendang

Museum Tanjung Pandan juga memiliki koleksi fauna endemik yang banyak ditemukan di Belitung, baik dalam bentuk awetan maupun binatang hidup. Saya berkesimpulan bahwa fauna endemik yang paling populer di Belitung adalah buaya. Di dalam museum, terpajang awetan buaya betina yang pernah ditemukan di kawasan Gantung pada tahun 1959, yang kemudian diserahkan dan dipelihara di museum ini. Buaya tersebut mati pada tahun 2003 karena sudah tua dan sakit. Sementara itu di kebun binatang mini yang terletak di bagian belakang museum terdapat beberapa koleksi buaya, di mana buaya terbesar yang dipelihara di museum ini adalah buaya yang pernah ikut main dalam film "Laskar Pelangi". Melihat di kandang mereka terdapat beberapa bangkai ayam yang mengapung di permukaan air, rasanya mengerikan membayangkan mereka tengah memakan bangkai-bangkai ayam tersebut. Sementara saya sibuk memotret buaya dan beberapa binatang lainnya yang dipelihara di kebun binatang mini tersebut, dik Anggi dan teman-temannya justru sibuk berfoto narsis dengan latar belakang fasilitas bermain anak-anak yang terletak di halaman belakang museum!

Buaya Yang Ikut Bermain Dalam Film "Laskar Pelangi"
Puas berfoto-foto di halaman belakang museum, kami kembali masuk ke bangunan museum untuk melihat benda-benda tradisional peninggalan berbagai kerajaan yang pernah berdiri di Belitung. Ya, walaupun hanya merupakan pulau yang kecil, di Belitung pernah berdiri empat buah kerajaan, yaitu Kerajaan Belantu, Kerajaan Badau, Kerajaan Balok, dan Kerajaan Buding. Museum ini juga memiliki ruangan khusus yang menyimpan koleksi Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT) yang diangkat dari kapal karam di sekitar perairan Selat Karimata, Selat Gaspar, dan Selat Bangka. BMKT tersebut umumnya berupa keramik dan porselin antik dari berbagai masa. BMKT yang tertua berasal dari jaman Dinasti Tang di abad ke-7 Masehi. Keberadaan barang-barang ini merupakan bukti bahwa sejak masa silam Belitung merupakan bagian dari jalur pelayaran perdagangan internasional.
Koleksi BMKT di Museum Tanjung Pandan

Salah satu ruangan di museum ini didedikasikan untuk memamerkan koleksi terkait suku Tionghoa yang berada di Belitung, seperti benda-benda dari porselin, perlengkapan sembahyang, dan perabot dengan dekorasi khas Tionghoa. Suku Tionghoa di Belitung merupakan keturunan Tionghoa Hokkien dan Hakka. Kedatangan mereka pertama kali di Belitung adalah pada abad ke-13, ketika Tentara Mongol yang menyerbu Kerajaan Singasari singgah untuk memperbaiki kapal. Sebagian di antara mereka menikah dengan penduduk setempat, dan menjadi cikal bakal penduduk Belitung. Namun gelombang besar kedatangan suku Tionghoa di Belitung baru terjadi pada masa penambangan timah secara besar-besaran di abad ke-19.
Perabot Gaya Tiongkok

Sesaat sebelum kami meninggalkan museum, penjaga museum menunjukkan sepasang patung singa setinggi 1,5 meter di halaman museum. Patung singa khas Tiongkok atau patung Shishi berwarna kuning ini semula “mengawal” rumah Kapitan Ho A Jun, kepala komunitas Tionghoa pertama pada tahun 1852. Bentuk dan gaya patung Shishi yang ada di museum ini berbeda dengan gaya patung sejenis yang pernah saya lihat di tempat lain. Jika patung Shishi umumnya memiliki ornamen yang detail dan kaya warna, patung Shishi ini justru sangat sederhana. Ini mungkin merupakan representasi masyarakat Tionghoa yang ada di Belitung berasal dari pekerja pertambangan yang sederhana. Sambil memperlihatkan patung tersebut, penjaga museum pun bercerita bahwa konon ketika akan dipindahkan dari halaman rumah yang pernah ditempati Kapitan Ho A Jun di pusat kota Tanjung Pandan, patung ini terasa sangat berat, sehingga mereka menduga patung ini tidak mau dipindahkan dari tempatnya semula. Duh, bikin makin spooky aja....
Patung Shishi Betina

Kunjungan ke Museum Tanjung Pandan meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Bayangkan saja, dalam sebuah museum yang berukuran relatif kecil dengan harga tiket masuk relatif murah, tersimpan begitu banyak koleksi yang merepresentasikan kisah sejarah Pulau Belitung. Apalagi tempat ini juga dilengkapi dengan kebun binatang mini dan area bermain yang bisa menjadi daya tarik bagi keluarga untuk mengunjungi museum ini. Walaupun sebagian besar koleksi masih ditampilkan dengan sederhana, namun penataannya cukup baik dan menarik serta informatif. Saya berharap Museum Tanjung Pandan dapat ditata dengan lebih baik dan lebih modern, tanpa meninggalkan nuansa bangunan tempo doeloe yang merupakan bagian dari sejarah Tanjung Pandan dan Belitung.

Wednesday, June 18, 2014

Asyik, Jelajah Nusantara!



Alhamdulillah, antologi kedua saya akhirnya terbit ...

Masih tentang traveling, dan masih dengan grup Diva Press, antologi yang ditulis dan dikumpulkan oleh para penulis dari Komunitas Kampung Sastra ini sejatinya ditulis sebelum Love Journey #2, namun atas kebijakan dari Diva Press, Love Journey #2 ternyata diterbitkan lebih dulu daripada buku Asyik Jelajah Nusantara ini. Sebelum membeli buku yang dibanderol dengan harga Rp 50.000 per eksemplar. Mari kita lihat sinopsisnya berikut ini.

Selain kekayaan alam, Indonesia juga kaya akan tempat-tempat eksotis. Hal inilah yang menyebabkan banyak wisatawan, baik dari manca maupun lokal, yang tertarik untuk mengunjunginya, walaupun sangat jauh dari tempat tinggal. Selain menawarkan keindahan pesona alam, ada juga tempat yang menyajikan kekayaan budaya atau sejarah masa lalu. Tidak banyak negara yang mempunyai potensi negara yang sedemikian elok. Hanya di negara kita, negara Indonesia.

 Lalu, tempat-tempat wisata apa sajakah yang menawarkan banyak pesona itu? Baca saja buku ini! Di dalamnya, diberikan gambaran beberapa tempat wisata dari Sabang sampai Merauke, mulai dari Gua Jepang dan Gua Belanda di Jawa Barat sampai Kepulauan Raja Ampat di Papua. Semuanya disajikan secara lugas dalam penuturan beberapa penulis yang benar-benar pernah berkunjung ke tempat-tempat tersebut.

 Penasaran pengen tahu lebih jauh tentang tempat-tempat wisata tersebut? Segera miliki buku ini dan berkunjunglah ke sana. Niscaya, kita akan semakin bersyukur dengan anugerah Tuhan. Selamat membaca!