Tuesday, May 22, 2018

Colomadu, Riwayatmu (Tak) Semanis Namamu

De Tjolomadoe. Bangunan bekas pabrik gula Colomadu yang “disulap” menjadi venue pertunjukan dan wisata instagram ini memiliki sejarah cukup panjang, seiring dengan perkembangan bisnis Kadipaten Agung Mangkunegaran di Surakarta. Namun nama Colomadu yang bermakna “gunung madu” ternyata tidak menjamin nasib pabrik gula ini semanis namanya.

De Tjolomadoe dilihat dari Jl. Adisucipto

Pabrik Gula Colomadu
Pabrik Gula Colomadu (PG Colomadu) dibangun oleh KGPAA Mangkunegoro IV sebagai pabrik gula milik pribadi keluarga Mangkunegoro IV. Pendirian pabrik gula ini didasarkan pada kondisi saat itu di mana gula sedang menjadi produk ekspor primadona yang sedang naik daun di pasar internasional. Pabrik ini dibangun mulai 8 Desember 1861, dan diberi nama Colomadu yang bermakna "gunung madu". Pabrik ini merupakan pabrik pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi proses Triple Effect Evaporator, yang merupakan teknologi termodern pada masanya. Produk gula dari PG Colomadu ditujukan untuk konsumsi local, serta diekspor ke Belanda, Singapura, dan Bandaneira. Pada masa pemerintahan Mangkunegoro VII, PG Colomadu berkembang pesat, dan menjadi pabrik gula terbesar di Asia.

Tampak Samping ex Pabrik Gula Tjolomadoe
Adanya Revolusi Sosial di Surakarta pada tahun 1946 merupakan kejadian penting yang memicu hilangnya kekuasaan Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran. Tanggal 16 Juni 1946, Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta mendirikan Karesidenan Surakarta yang membawahi Kotamadya Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten dan Boyolali. Berdirinya Karesidenan Surakarta yang diikuti berdirinya pemerintah daerah Kotamadya Surakarta secara otomatis menghapus kekuasaan Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran. Bersamaan dengan berdirinya Karesidenan Surakarta dan dicabutnya hak-hak istimewa Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran, PG Colomadu dan PG Tasikmadu dinasionalisasikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, jauh sebelum program nasionalisasi tahun 1957.

Bangunan pabrik hasil perluasan tahun 1928
Tahun 1947, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 9 tentang Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia, yang salah satunya mengatur PG Colomadu menjadi  milik pemerintah Republik Indonesia. Seiring perkembangan jaman,  berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan tanggal 28 April 1981, PG Colomadu berada di bawah pengelolaan PT Perkebunan XV-XVI (Persero) yang berkedudukan di Solo, dan pada tahun 1996 PG Colomadu berada di wilayah pengelolaan PTPN IX. Tanggal 1 Mei 1998, PG Colomadu melakukan penggilingan terakhir, dan akhirnya berhenti beroperasi karena kesulitan bahan baku.

Tugu Mangkunegoro IV
Jasa Mangkunegoro IV dalam mendirikan PG Colomadu diabadikan dalam sebuah tugu bersisi empat dengan patung dada Mangkunegoro IV di atas tugu tersebut. Tugu ini dapat ditemukan di sudut Kompleks Perumahan PG Colomadu yang berseberangan dengan De Tjolomadoe. Sama halnya dengan rumah-rumah dinas bergaya indie yang ditinggalkan dengan kondisi tak terawat,  tugu tersebut juga kurang terawat. Keempat sisi tugu dihiasi dengan prasasti. Salah satu prasasti ditulis dalam bahasa Belanda, dan prasasti lainnya ditulis dengan aksara Jawa. Tulisan dalam bahasa Belanda merupakan peringatan 75 tahun berdirinya PG Colomadu.

De Tjolomadoe
Tanggal 4 April 2017, Menteri BUMN Rini Soemarno melakukan peletakan batu pertama revitalisasi PG Colomadu. Proses revitalisasi dilakukan sebagai bagian dari program sinergi BUMN oleh 4 BUMN: PT PP, PTPN XI, PT Taman Wisata Candi, dan Jasamarga Properti.

Stasiun Gilingan
Tepat 25 Maret 2018, PG Colomadu memiliki wajah baru menjadi wisata convention & heritage seluas 6,4 hektar dengan nama De Tjolomadoe, dan menjadi wahana wisata baru bagi publik. Tempat ini telah menjadi tuan rumah bagi Konser David Foster pada tanggal 24 Maret 2018, serta menjadi venue bagi beberapa event nasional. Beberapa bagian De Tjolomadoe masih mempertahankan beberapa peralatan dan stasiun produksi gula, seperti Stasiun Gilingan, Stasiun Karbonatasi, Stasiun Penguapan, dan Stasiun Ketelan. Saat ini Stasiun Gilingan difungsikan sebagai museum, Stasiun Penguapan difungsikan sebagai arcade shop, Stasiun Karbonatasi difungsikan sebagai Art & Crafts area, Stasiun Ketelan difungsikan sebagai fine dining, dan tempat yang semula merupakan Stasiun Masakan menjadi Tjolomadoe Hall. Adapun tempat perawatan dan perbaikan peralatan digunakan sebagai Cafe Besali, dan Stasiun Ketelan yang digunakan untuk memproduksi kukus digunakan untuk restoran. Pengunjung dapat mengamati sekaligus membayangkan proses pembuatan gula. Sangat disayangkan, saat ini belum tersedia informasi detail tentang pemrosesan gula di masing-masing stasiun tersebut.

Di Stasiun Gilingan masih terpasang mesin-mesin giling yang terbuat dari besi baja buatan Cebr: Stork Co Hengelo tahun 1918. Masih terpasang juga sepasang rel kereta api selebar 1.067 mm, yang menandakan bahwa kereta api merupakan bagian tak terpisahkan dari pabrik gula. Kereta api merupakan sarana mengangkut bahan baku tebu serta produk gula pasir yang siap dikirimkan.

Proses Pembuatan Gula
Proses pembuatan gula di PG Colomadu dilakukan dengan urutan sebagai berikut:  Stasiun Gilingan digunakan untuk memproses batang tebu menjadi nira tebu. Pertama-tama batang tebu yang sudah ditimbang dan diatur masuk ke cane carrier akan dipotong-potong oleh pisau tebu dan dipecah-pecah oleh hammer shredder. Selanjutnya tebu yang sudah dicacah masuk ke mesin gilingan pertama hingga keempat untuk memperoleh nira sebanyak-banyaknya.

Alat Penghancur Tebu di Stasiun Gilingan
Nira tebu kemudian masuk ke tahap pemurnian. Tahapan pemurnian pertama adalah di Stasiun Karbonatasi , di mana nira ditambah susu kapur dan gas karbondioksida. Hasil proses karbonatasi ini kemudian menjalani proses sulfitasi dengan penambahan sulfit. Nira yang sudah menjalani proses sulfitasi kemudian dipisahkan antara bagian nira jernih dengan nira tapis dan padatan kotoran (blotong). Nira tapis kemudian dicampur kembali dengan nira mentah, sedangkan blotong dimanfaatkan sebagai pupuk organic.

Stasiun Karbonatasi
Nira tebu yang sudah lebih jernih kemudian masuk ke Stasiun Penguapan (Triple Effect Evaporator menggunakan Vacuum Pans) untuk mengurangi kandungan air dan mengentalkan nira. Nira kental kemudian masuk ke Stasiun Masakan untuk melalui proses kristalisasi yang mengubah nira tebu menjadi kristal gula. Proses pembuatan gula diakhiri dengan pemisahan kristal gula dari larutan gula (stroop) melalui talang goyang dan saringan. Kristal gula yang sudah berbentuk gula pasir yang kita kenal kemudian dikemas dalam karung berukuran 50 kg.

Stasiun Penguapan
Stasiun Ketelan digunakan untuk membangkitkan kukus (steam) dalam ketel dan kukus tersebut kemudian digunakan untuk menggerakkan mesin-mesin pabrik. Kukus yang digunakan dialirkan dalam bentuk resirkulasi, sehingga memungkinkan dilakukan penghematan terhadap bahan bakar yang dibutuhkan pabrik untuk memproduksi kukus.

Stasiun Ketelan

Wednesday, April 11, 2018

Menikmati Sunset di Tembok Berlin

Mendengar kata “Tembok Berlin”, barangkali imajinasi anda akan melayang ke Jerman. Namun “Tembok Berlin” yang satu ini tidak berada di benua Eropa, melainkan ada di Kota Sorong, salah satu pintu gerbang provinsi Papua Barat.

"Tembok Berlin"
Pantai “Tembok Berlin” merupakan nama populer bagi Pantai Dofior, pantai sempit yang masuk di dalam wilayah Kota Sorong. Nama “Tembok Berlin” berasal dari tembok setinggi 1,5 meter dengan lebar 1 meter yang membentang di sepanjang Pantai Dofior, dengan panjang tak kurang dari 3 km. Tembok pembatas antara jalan dan pantai ini berfungsi sebagai tanggul sekaligus pemecah ombak.

Pantai Dofior
Pantai ini merupakan pantai yang menghadap ke barat, sehingga sangat ideal untuk melihat matahari terbenam. Di sore hari, banyak penduduk Kota Sorong yang duduk-duduk di tembok pantai ini untuk melihat panorama matahari terbenam, serta menikmati sejuknya hembusan angin laut. Jika air sedang tenang, banyak di antara pengunjung yang berenang di pantai ini. Menjelang malam, para penggemar wisata kuliner bisa menikmati kudapan ringan atau bersantap malam di warung-warung tenda yang berdiri di sepanjang Pantai Tembok Berlin.

Sunset di Pantai Dofior
Tak hanya pemandangan matahari terbenam, dari pantai ini anda bisa melihat pemandangan kapal yang akan berlabuh atau baru saja bertolak dari pelabuhan Sorong, serta pulau-pulau kecil yang terletak di depan Kota Sorong. Salah satu pulau yang terlihat dari Pantai Tembok Berlin adalah Pulau Mutiara, atau lebih dikenal sebagai Pulau Doom. Jika anda melintas Pantai Tembok Berlin di malam hari, anda bisa melihat pancaran cahaya lampu dari pulau ini seperti kerumunan bintang yang menerangi lautan, sehingga pulau ini disebut juga sebagai Pulau Bintang. Pulau lain yang juga terlihat dari pantai ini adalah Pulau Raam, atau lebih dikenal sebagai Pulau Buaya, karena bentuknya seperti kepala buaya yang sedang berendam. Pulau Buaya terkenal karena pantainya yang landai dan berpasir putih, sehingga dari kejauhan terlihat seperti garis putih memanjang. Untuk mengunjungi pulau-pulau ini, anda bisa naik perahu dari Pelabuhan Kota Sorong.

Pulau Buaya
(artikel pernah diposting di www.adirafacesofindonesia.com tanggal 27 Maret 2012)

Sunday, March 25, 2018

Bukan Konser Kekinian

Melanjutkan perjalanan kami di Heidelberg, pada hari kedua kami menghabiskan separuh pagi untuk melihat-lihat kampus modern Universitas Heidelberg, sebelum siangnya kami kembali ke Altstadt. Tujuan kami adalah Heiliggeistkirche, atau Church of Holy Spirit. Gereja bergaya Gothic ini terletak di Markplatz, yang merupakan jantung dari Altstadt Heidelberg.
Church of Holy Spirit dilihat dari Kastil Heidelberg
Church of Holy Spirit dilihar dari Markplatz

Sejatinya Church of Holy Spirit bukan gereja pertama yang didirikan di Heidelberg, namun merupakan yang paling populer. Nama gereja ini pertama kali muncul pada sebuah dokumen berangka tahun 1239. Bangunan gereja yang kita kenal sekarang pertama kali didirikan pada tahun 1398 atas perintah Pangeran Ruprecht III, di atas pondasi bangunan gereja yang lebih tua. Gereja ini kemudian dibangun secara bertahap sampai tahun 1544. Selain berfungsi sebagai rumah ibadah, Church of Holy Spirit jug berfungsi sebagai perpustakaan Bibliotheca Palatina, sebelum koleksinya dicuri pada tahun 1623. Setelah sempat dibakar oleh tentara Perancis pada Perang Penerus Palatine, pada tahun 1709 gereja ini dibangun kembali dengan gaya arsitektur Baroque, menjadi bangunan suci ketiga yang didirikan di lahan yang sama. Saat ini menara Church of Holy Spirit merupakan landmark besar yang mudah dilihat dari segala penjuru Kota Heidelberg.

Bagian Dalam dan Altar Church of Holy Spirit
Church of Holy Spirit memiliki peran penting dalam perkembangan Gereja Reformasi di dunia, karena gereja ini merupakan tempat kelahiran Katekismus Heidelberg pada tahun 1563. Katekismus Heidelberg merupakan Katekismus yang paling banyak digunakan oleh Gereja Reformasi di seluruh dunia. Uniknya, gereja ini pernah dipakai baik oleh penganut Kristen Katolik maupun Protestan. Di tahun 1706, pengelola gereja menempatkan partisi di dalam gereja, sehingga baik umat Protestan maupun Katolik dapat menggunakan gereja ini secara bersamaan tanpa saling mengganggu. Partisi ini kemudian disingkirkan pada tahun 1936, dan saat ini gereja digunakan hanya untuk umat Kristen Protestan.

Kunjungan kami ke Church of Holy Spirit tentunya bukan untuk beribadah, melainkan untuk menonton konser orgel. Pengumuman penyelenggaraan konser orgel ini sudah kami lihat satu hari sebelumnya, sebagai rangkaian konser orgel yang diselenggarakan oleh pengelola gereja. Harga tiket masuk untuk setiap orang sebesar EUR 3, dan tentunya harga ini tergolong sangat murah jika dibandingkan dengan harga tiket konser klasik di Eropa yang biasanya berkisar antara EUR 50-85. Ini bukan pertama kali saya melihat orang memainkan orgel, namun menyaksikan secara langsung konser klasik hanya menggunakan orgel tentunya meninggalkan kesan tersendiri.

Daftar Lagu untuk konser hari ini
Setelah membeli tiket masuk, petugas memberi kami daftar lagu yang akan dimainkan. Rupanya hari ini orgelist akan memainkan lagu-lagu dari jaman Baroque. Kami beruntung bahwa di antara lagu-lagu yang dimainkan terdapat beberapa lagu yang cukup popular, termasuk lagu favorit saya Canon in D dari Johann Pachelbel. Karena kami hadir 30 menit sebelum konser dimulai, kami sempat melihat orgel yang akan dimainkan dari dekat.

Orgel yang ada di Church of Holy Spirit aslinya adalah orgel kuno yang direkonstruksi oleh Walcker Orgelbau pada tahun 1903. Setelah itu orgel tersebut sudah beberapa kali mengalami perbaikan lagi, antara lain pada tahun 1954 dengan meredesain suara yang diproduksi serta melakukan elektrifikasi keyboard. Perbaikan dilakukan lagi pada tahun 1981 oleh Steinmeyer, dan pada tahun 1997 oleh Lenter. Jika diperhatikan dari dekat, orgel tersebut memiliki beberapa panel elektrik.

Orgel dan Sistem Perpipaannya
Sebelum konser, kami melihat-lihat di sekeliling ruangan gereja. Di dinding terlihat beberapa batu nisan yang terpasang. Rupanya seperti tradisi gereja-gereja di Eropa, gereja Heidelberg pernah memiliki 54 makam di dalamnya. Namun makam ini sebagian besar rusak saat Perang Penerus Palatine yang menghancurkan Heidelberg di tahun 1693, menyisakan makan Pangeran Ruprecht III dan istrinya Elisabeth von Hohenzollern. Pangeran Ruprecht III diangkat sebagai Raja Jerman pada tahun 1401, dan wafat di Oppenheim pada tahun 1410. Ruprecth III adalah pendiri Universitas Heidelberg pada tahun 1398, sekaligus yang meletakkan batu pondasi gereja Church of Holy Spirit pada tahun 1401. Atas jasanya tersebut, maka jenazah Ruprecht III dibawa ke Heidelberg dan dimakamkan di dalam gereja ini.

Makam Ruprecth III dan Elizabeth von Hohenzollern

Tepat pukul 17.15, Jannick Huffner, orgelist yang akan mempersembahkan konser, membuka konser dengan pidato singkat dalam bahasa Jerman (di mana kami tidak mengerti sepatah kata pun, heeee). Penampilan Huffner yang hanya mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam terkesan sangat sederhana, jauh berbeda dengan para pemain music dalam sebuah konser music klasik di konservatorium yang umumnya menggunakan jas buntut. Setelah menyebutkan daftar lagu yang akan dimainkan, Huffner memulai memainkan orgel.

Jannick Huffner
Ternyata memainkan orgel memerlukan ketrampilan tersendiri. Harus ada koordinasi yang sangat rumit antara tangan dan kaki, apalagi orgel yang dimainkan menggunakan 3 tingkat keyboard. Di salah satu lagu, Huffner bahkan hanya menggunakan kedua kakinya untuk memainkan melodi dengan pedal kaki yang mengeluarkan nada-nada sangat rendah. Di akhir konser, saat mengakhiri lagu Te Deum dari Marc Charpentier, Huffner memberikan tambahan efek suara, sehingga konser hari ini ditutup dengan suasana yang sangat meriah.

Huffner memainkan orgel

Sunday, March 4, 2018

Romantisme Heidelbeg

Heidelberg. Nama yang pertama kali saya dengar di era 1990-an, dalam sebuah lagi instrumental dari album keempat KLa Project yang dirilis tahun 1994. What's so special with this place?

Landmark Kota Heidelberg
Pertanyaan itu akhirnya terjawab 23 tahun kemudian, ketika di pertengahan musim panas tahun 2017 saya berkesempatan menginjakkan kaki ke Heidelberg. Heidelberg merupakan kota pelajar tertua di Jerman. Kota yang terletak 78 km di sisi selatan Frankfurt ini merupakan rumah dari Ruprecht-Karls Universitat Heidelberg yang didirikan pada tahun 1386 dan merupakan universitas tertua di Jerman. Namun daya tarik utama Heidelberg adalah peninggalan tata kota dan arsitektur antik dari masa Romantik di abad ke-19 yang masih tetap terjaga. Ini dimungkinkan karena Heidelberg nyaris tak tersentuh keganasan Perang Dunia II. Banyak teori yang mengatakan hal ini terjadi karena Heidelberg merupakan markas kekuatan Amerika di Eropa, sehingga lolos dari target pemboman Sekutu.

University of Heidelberg Lama di Tengah Kota Tua
Setelah semalam beristirahat melepas penat sisa perjalanan panjang dari Berlin, pukul 10.30 kami berangkat dari penginapan. Tujuan kami adalah stasiun Heidelberger Bergbahn untuk menaiki kereta yang akan membawa kami ke Heidelberger Schloss (kastil Heidelberg). Perjalanan dari penginapan kami tempuh menggunakan trem sampai Bismarck Platz, dilanjutkan dengan bis menuju Kornmarkt, di mana stasiun Heidelberger Bergbahn berada. Melalui kontur jalan menanjak melintasi daerah berbukit-bukit, tepat jam 11 kami tiba di Kornmarkt, dan bergegas mengantri di stasiun Heidelberger Bergbahn, menunggu jadwal keberangkatan kereta berikutnya. Kereta yang akan membawa kastil ini bukan kereta api biasa yang ditarik lokomotif, melainkan kereta yang ditarik dengan kabel (funicular), dengan sudut tanjakan mencapai 43%. Kereta ini telah beroperasi sejak tahun 1890, namun saat ini masih terawat dan beroperasi dengan baik. Barangkali inilah salah satu bukti kecanggihan teknologi Jerman yang bertahan seiring berjalannya waktu.

Kereta Funicular Yang Membawa Kami ke Kastil
Kurang lebih pukul 12, kereta yang membawa kami berhenti di stasiun Heidelberg Schloss. Saat keluar dari stasiun, dari kejauhan terlihat reruntuhan kastil Heidelberg. Dengan ketinggian 80 meter di atas sungai Neckar di atas tebing bukit Konigstuhl , reruntuhan kastil Heidelberg mendominasi wajah kota Heidelberg. Kastil ini memiliki gaya arsitektur campuran jaman Gothic dan jaman Renaissance.  Keberadaan kastil ini telah diketahui sejak tahun 1155, sekaligus sebagai penanda kelahiran dinasti Palatine di Heidelberg. Pada awal pembangunannya, kastil ini berfungsi sebagai benteng pertahanan. Kastil baru digunakan sebagai tempat tinggal sejak masa pemerintahan Pangeran Ruprecht III di tahun 1398.


Salah Satu Sudut Kastil Heidelberg
Sejak didirikan, kastil Heidelberg telah menjadi  saksi kekuasaan dinasti Palatine, serta beberapa kali mengalami kehancuran akibat perang atau kebakaran. Kerusakan terparah terjadi ketika kastil terbakar akibat sambaran petir di tahun 1764. Sejak saat itu kastil Heidelberg terbengkalai, bahkan batu-batunya dijarah dan dijadikan bahan pembuatan rumah-rumah modern. Namun pada tahun 1810, Count Charles de Graimberg menghentikan hal tersebut, dan kemudian menjadikan kastil Heidelberg sebagai cagar budaya. Beruntung Count de Graimberg mengambil tindakan ini, jika tidak, kastil Heidelberg barangkali hanya tinggal nama.

Salah Satu Sudut Kastil Heidelberg
Setelah melihat sisa-sisa reruntuhan kastil, kami masuk ke halaman dalam kastil dan menuju The German Pharmacy Museum. Museum ini menempati gedung Ottheinrichsbau, sebuah bangunan bergaya Renaissance yang didirikan antara tahun 1556-1566 atas perintah Pangeran Otto Heinrich. Koleksi museum terdiri dari benda-benda terkait sejarah dunia farmasi dan apotik di dunia, termasuk diorama ruang farmasi, laboratorium, buku farmakope, manuskrip, peralatan pembuatan obat, serta berbagai jenis obat-obatan dari abad 17-19. Dari isi museum tersebut, terbayang bagaimana perkembangan ilmu pengobatan dan industri obat sejak awal peradaban manusia hingga abad 19. Seandainya waktu kami cukup banyak, bisa jadi kami akan menghabiskan waktu seharian di dalam museum untuk mempelajari isi museum.

The German Pharmacy Museum
Kurang lebih di seberang Museum Farmasi, terdapat sebuah restoran yang menempati ruang bawah tanah kastil. Di dalam restoran tersebut terdapat tong anggur raksasa yang disebut Heidelberg Tun. Tong anggur ini diklaim sebagai tong anggur terbesar di dunia. Tong dengan tinggi 7 meter, lebar 8,5 meter dan berkapasitas 219.000 liter tersebut dibuat pada tahun 1751 atas perintah Pangeran Karl Theodor, untuk menampung anggur yang diserahkan para petani anggur di Palatine sebagai pembayaran upeti. Saat ini tong tersebut tidak digunakan untuk menyimpan anggur, dan lebih berfungsi sebagai obyek foto-foto.

Heidelberg Tun
Pukul 14.00, kami kembali ke stasiun Heidelberg Schloss, menaiki kereta kabel kembali ke Kornmarkt. Dari Kornmarkt, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Markplatz (Market Square), yang merupakan jantung dari Heidelberg Altstadt (kota tua Heidelberg). Markplatz ditandai dengan Heiliggeistkirche (Church of The Holy Ghost) di sisi barat, dan Balai Kota di sisi timur, serta Herkulesbrunnen atau air mancur Hercules. Sejak abad pertengahan, tempat ini merupakan pusat kegiatan di Heidelberg, termasuk untuk pasar, sekaligus tempat pemberian hukuman penjahat dan orang-orang yang dituduh sebagai penyihir.

Church of The Holy Ghost, Dilihat Dari Kastil Heidelberg
Daerah paling populer dari Altstadt adalah Hauptstrasse atau Main Street, sebuah jalur sepanjang 1,6 kilometer yang membentang sepanjang Altstadt dari Markplatz hingga ke Bismarck Platz. Tempat ini merupakan pedestrian paling panjang di Jerman. Di sepanjang jalur terdapat toko-toko souvenir, toko-toko barang bermerk seperti yang sering kita temukan di pusat perbelanjaan internasional, beer garden, dan restoran. Toko-toko ini menempati bangunan-bangunan kuno bergaya renaissance, dan hampir di setiap sudut jalanan terdapat bangunan dengan ornamen arsitektur menarik yang sayang untuk dilewatkan. Inilah yang membuat romantisme kota ini sulit ditandingi. Namun demikian, selama berjalan kaki melintasi Hauptstrasse, kami pun harus memegang erat-erat dompet, dan menguatkan tekad untuk melawan godaan berbelanja barang-barang lucu di toko-toko sepanjang Hauptstrasse.

Salah Satu Sudut Hauptstrasse
Sebelum menelusuri Hauptstrasse, kami menyempatkan diri berfoto di Karl Theodor Brucke, salah satu landmark Heidelberg lainnya. Jembatan kuno sepanjang 200 meter ini melintasi sungai Neckar dan menghubungkan Heidelberg Altstadt dengan Neunheim di seberang sungai. Bangunan jembatan ini memilki sejarah yang sama panjangnya dengan kastil Heidelberg. Pertama kali dibangun pada tahun 1248, jembatan ini beberapa kali dibangun dan bangunan yang saat ini berdiri merupakan bangunan kesembilan yang dibangun pada tahun 1788. Salah satu penanda jembatan tua ini adalah Bruckentor atau gerbang menara batu di sisi selatan, yang bentuknya menyerupai roket kembar. Sebagai pendamping, di sisi barat jembatan tua ini telah ditambahkan jembatan baru, yang menghubungkan antara Bismarkplatz dengan Neunheim.

Karl Theodor Brucke

Bruckentor
Sehari menjelajahi beberapa landmark di Heidelberg dan mengetahui berbagai kisah yang melatarbelakangi landmark tersebut, saya akhirnya memahami emosi yang ingin disampaikan KLa Project melalui lagu Heidelbeg ’92. Emosi tentang keagungan sebuah wilayah yang memiliki sejarah demikian panjang. Emosi tentang romantisme yang terkandung di setiap sudut kota. Dan emosi yang timbul, ketika upaya mempertahankan bukti sejarah panjang yang berpadu dengan atmosfer romantis telah memberikan hasil yang sepadan bagi kelangsungan Kota Heidelbeg. Tak ingin rasanya cepat pergi dari kota ini, dan semoga romantisme Heidelberg tak akan lekang dimakan oleh waktu.

Wednesday, January 3, 2018

Jejak Megalitikum Situs Cibalay

“Semangat, Kakak!”
Sebuah kalimat yang terus menerus saya ucapkan di dalam hati, ketika melintasi jalan setapak menuju ke Situs Megalitikum Arca Domas, Desa Cibalay, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Situs megalitikum yang terletak dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak ini letaknya tersembunyi dari keramaian, kurang lebih berjarak 2 kilometer dari jalan raya. Sedemikian “tersembunyinya” lokasi situs ini, kendaraan roda empat hanya bisa mencapai satu titik, sebelum kami harus meneruskan perjalanan melintasi jalan setapak dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor. Kami beruntung hari ini cuaca cerah, sehingga kami ditempati panorama persawahan yang membentang di kaki Gunung Salak, serta bunga-bunga rumput yang cantik di sepanjang jalan yang kami lalui.
Terdapat 8 situs megalitikum yang terletak di Desa Cibalay, namun saat mengisi liburan Natal ini kami hanya sempat mengunjungi 2 di antaranya. Situs pertama yang kami kunjungi adalah Situs Balekambang, yang terletak di area terbuka sebelum gapura masuk bertuliskan “Selamat Datang di Situs Cibalay”. Situs ini terdiri dari batu-batu besar dan pipih, dua di antaranya merupakan menhir yang diletakkan dalam posisi berdiri, serta terdapat beberapa buah dolmen berukuran kecil. Menurut cerita penduduk setempat, konon Situs Balekambang ini berfungsi seperti pintu gerbang, sehingga sebelum melakukan peribadatan di Situs Arca Domas para penziarah harus berhenti sejenak di Situs Balekambang untuk mempersiapkan diri.

Situs Balekambang

Setelah melihat-lihat Situs Balekambang, kami memasuki gapura bertuliskan “Selamat Datang di Situs Cibalay”, dan melewati anak tangga menuju ke Situs Arca Domas. Situs ini pertama kali diteliti secara detail oleh N.J. Krom pada tahun 1914, dan hasilnya dilaporkan dalam Rapporten van den Oudheidkundige Diensten Nederlandsch-Indie: inventaris dehindoe-oudeheden. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa penemuan situs ini sudah dilaporkan oleh De Wilde pada tahun 1830. Situs ini juga pernah tercatat oleh Junghuhn pada tahun 1844, dan Muller pada tahun 1856.

Situs Arca Domas
 Jika dilihat sekilas, struktur Situs Arca Domas mengingatkan saya pada situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur, dalam skala yang lebih kecil. Situs ini terdiri dari batu-batu pipih yang disusun membentuk punden berundak lima tingkat dan menghadap ke arah Gunung Salak. Di undakan paling tinggi terlihat teras utama yang memiliki beberapa menhir berbentuk batu pipih dalam posisi berdiri. Hal ini sangat terkait dengan kepercayaan kuno bahwa roh leluhur bersemayam di tempat tinggi. Dari jauh situs ini terlihat seperti sebuah bukit hijau, karena tanah yang menyelimuti situs seluas 2500 meter persegi ini banyak ditumbuhi semacam lumut.

Altar Utama Situs Arca Domas

 Kang Deni, petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang yang mengantarkan kami, menjelaskan bahwa situs Arca Domas diperkirakan berasal dari masa 2000-3000 tahun sebelum Masehi. Walaupun diberi nama “Arca Domas”, di kawasan ini belum pernah ditemukan arca. Nama “Domas” diberikan karena diperkirakan terdapat 800 buah (domas berarti 800) batu pipih yang berbentuk seperti arca. Kang Deni sendiri mengenal situs ini dengan sangat baik, karena kakeknya juga bertugas sebagai penjaga situs dari dinas purbakala sejak tahun 1970. Satu hal, walaupun situs ini terletak di Kabupaten Bogor, namun pengelolaan situs ini berada di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya yang berkantor di Serang, Banten. Unit teknis ini berada di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan wilayah kerja meliputi Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi Lampung.