Sunday, June 4, 2023

Waterfront Batavia Tempo Doeloe

 Hari ini, Minggu 29 Mei 2023, PTD komunitas Sahabat Museum yang kesekian kalinya, bertepatan dengan 20 tahun Sahabat Museum. Saya tertarik untuk hadir di PTD kali ini, karena kami akan eksplorasi Menara Syahbandar, Museum Bahari, tembok kota Batavia, dan juga Pelabuhan Sunda Kelapa, Yay! Kapan lagi bisa ke tempat-tempat aneh tapi rame-rame, plus dapat cerita-cerita sejarahnya?

Setelah semua berkumpul di Menara Syahbandar, kami berjalan menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Sunda Kelapa merupakan cikal bakal kota Jakarta. Kala itu Kalapa – nama aslinya – merupakan pelabuhan Kerajaan Sunda, yang direbut oleh pasukan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah. Di jaman VOC, Sunda Kelapa merupakan pintu masuk Batavia di abad ke-17.

Pelabuhan Tradisional Sunda Kelapa

Saat ini Pelabuhan Sunda Kelapa dikelola oleh PT Pelindo II, dan hanya melayani kapal antar pulau. Kapal-kapal tradisional yang bersandar umumnya mengangkut barang kelontong, sembako, dan tekstil dari Jakarta, ditukar dengan kayu, rotan, dan kopra dari luar Jawa. Menurut petugas HSSE yang kebetulan kami temui, pemilik kapal-kapal kayu di Sunda Kelapa umumnya orang-orang Bugis. Kapal-kapal tradisional ini mengangkut barang ke perairan yang bisa dijangkau kapal, seperti Palembang atau Kalimantan.

Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, rombongan PTD kembali ke Menara Syahbandar, yang terletak di Jalan Pasar Ikan Nomor 1, Penjaringan, Jakarta Utara. Menara tersebut (Uitkijk Post atau Lookout Post) dibangun sekitar tahun 1839 yang berfungsi sebagai menara pemantau bagi kapal-kapal yang keluar-masuk Kota Batavia lewat jalur laut serta berfungsi kantor "pabean" Pelabuhan Sunda Kelapa.

Menara Syahbandar Yang "Baru"

Menara ini menempati bekas bastion Culemborg yang dibangun sekitar 1645, seiring pembuatan tembok Kota Batavia oleh Gubernur Jenderal Antolo van Dieman. Nama “Culemborg” merujuk tempat kelahiran Dieman. Pada awal abad ke-19, dengan perpindahan pusat Kota Batavia ke Weltevreden, tembok kota dan banteng tidak lagi diperlukan dan sebagian besar telah dibongkar, hanya menyisakan bastion Culemborg dan Zeeburg. Bastion Culemborg kemudian digunakan sebagai tempat untuk memasang alat bantu navigasi. 

Prasasti Penanda Meridian 0 Batavia

Pada tahun 1839, menara pertama dibangun memiliki tinggi sekitar 18 meter. Di bangunan ini juga pernah terdapat kronometer yang sangat akurat, untuk menentukan meridian Batavia. Penetapan garis bujur nol Batavia juga didokumentasikan dalam prasasti dengan tulisan Tionghoa, yang menyatakan bahwa berdasarkan hasil survey, tempat tersebut merupakan garis bujur nol Batavia. Titik nol meridian Batavia masih digunakan untuk memproduksi peta Indonesia sampai tahun 1942, mesikpun sejak 1883 meridian Greenwich sudah diterima secara universal sebagai meridian utama. 

Di menara ini dipasang bola waktu yang digunakan untuk menyesuaikan jam kapal dengan waktu standar, sekaligus mengkalibrasi alat yang digunakan untuk menentukan posisi kapal saat di laut. Karena menara kemudian digunakan untuk kegiatan lain, pada tahun 1850 didirikan menara sinyal yang baru setinggi 40 meter, sekaligus berfungsi sebagai menara pengamat untuk mengawasi kapal-kapal di depan pelabuhan.  

Tugu Penanda Nol Kilometer Jakarta

Di masa kemerdekaan, dilakukan penataan kembali bangunan, dan pada tanggal 7 Juli 1977, bersamaan dengan peresmian Museum Bahari, Menara Syahbandar diresmikan kembali. Saat itu juga dilakukan peresmian tugu penanda kilometer 0 Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Selama beberapa tahun, tempat ini masih digunakan sebagai penanda kilometer 0 Jakarta, sebelum pada tahun 1980 titik kilometer 0 Jakarta dipindahkan ke Monas.

Walaupun bangunan Menara Syahbandar diberitakan perlahan miring karena usia yang semakin tua, adanya penurunan muka tanah, serta getaran kendaraan berat yang melintas di Jalan Pasar ikan, namun bangunan tersebut masih cukup terawat. Peserta PTD hari ini bergantian naik tangga kayu jati yang cukup curam ke lantai 3 menara. Dari jendela-jendela pantau kita bisa memandang deretan perahu di Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari di utara, Kafe VOC yang dulunya merupakan galangan, serta pemandangan jalan raya.

Salah Satu Bagian Bekas Tembok Kota Batavia

Sebelum masuk ke Museum Bahari, kami melihat situs tembok Kota Batavia. Tembok ini semula setinggi 5 meter, namun saat ini ketinggiannya sudah berkurang karena pendangkalan/sedimentasi. Saat ini tembok yang masih tersisa adalah di Jl. Tongkol dan bagian utara tembok di dekat Museum Bahari. Keadaannya sudah parah, tak terawat, hampir roboh, dan penuh tanaman liar. Di beberapa bagian tembok terlihat lapisan keramik seperti dari dapur atau kamar mandi. Kemungkinan besar tembok ini pernah dimanfaatkan sebagai tembok pemukiman warga. 

PTD kami hari ini berakhir di Museum Bahari. Kompleks bangunan museum ini dibangun antara tahun 1652-1773. Dan berfungsi sebagai gudang komoditas VOC untuk menyimpan rempah (pala, cengkeh), kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil. Gedung yang digunakan di Museum Bahari semula adalah Gudang Barat (Westzijdsche Pakhuizen). Ketika masa pendudukan Jepang, bangunan beralih fungsi menjadi gudang logistik tentara Jepang. Setelah Indonesia Merdeka, bangunan digunakan untuk gudang PLN dan PTT. Tahun 1976, bangunan ini mengalami pemugaran, dan pada tanggal 7 Juli 1977 gedung ini diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sebagai Museum Bahari.

Museum Bahari

Gedung yang digunakan sebagai tempat Museum Bahari ini dibangun di atas rawa, menggunakan teknologi bangunan di Belanda pada masa itu. Seperti kita ketahui, Belanda sangat ahli dalam mengeringkan lahan dan memanfaatkannya. Tembok dibuat dari batu bata dengan tebal dinding 1 meter, karena harus memikul seluruh beban bangunan. Untuk menopang lantai dua, digunakan balok-balok kayu jati sepanjang 4 meter. 

Perahu Borobudur

Koleksi museum yang berjumlah kurang lebih 1835 koleksi sangat terkait dengan sejarah kebaharian dan kenelayanan Indonesia, termasuk perahu tradisional dan peralatan navigasi. Sayangnya sebagian koleksi ini habis terbakar pada 16 Juni 2017. Salah satu koleksi istimewa yang tak boleh dilewatkan adalah replika dari relief yang ada di candi Borobudur, yang menggambarkan perahu bercadik dengan 2 tiang layar dan konstruksi 3 kaki. Mengingat candi Borobudur dibangun pada abad ke-8 Masehi, berarti pada masa itu bangsa Indonesia sudah dapat membuat perahu yang mampu mengarungi samudra. 

Fakta menarik lain yang diungkap saat PTD hari ini, di depan Museum Bahari pernah digunakan untuk Stasiun Kleine Boom (pabean pelabuhan), dengan jalur rel yang menghubungkan tempat ini hingga Stasiun Gambir (Koningsplein). Stasiun Kleine Boom digunakan untuk lalu lintas komoditas dagang, seperti batubara, kopi, teh, dan kina. Setelah pemerintah Hindia Belanda membangun pelabuhan baru di Tanjung Priok beserta jalur rel kereta api pendukungnya, Stasiun Kleine Boom tidak digunakan lagi.


Sunday, May 14, 2023

Amazing Race Oude Paris Van Java

Program TV Amazing Race mungkin sudah tidak asing bagi kita. Siapa yang tercepat mencapai satu titik, siapa yang tercepat menyelesaikan tantangan di masing-masing pos, dan siapa yang tercepat menyelesaikan seluruh rangkaian tantangan, untuk memperebutkan hadiah sejumlah uang. Saat ini konsep Amazing Race sudah ditiru oleh banyak acara outing – terutama outing Korporat – walaupun versinya lebih sederhana dibandingkan yang dimainkan dalam Program TV.

Seperti pada acara raker Korporat kami menjelang liburan Natal tahun 2022, program berkonsep serupa Amazing Race ini menjadi acara outing yang dilakukan di hari terakhir. Ya, hitung-hitung sekalian refreshing, karena Amazing Race-nya dilakukan dengan berkeliling Kota Bandung. Titik-titik yang dijadikan tempat persinggahan dan menyelesaikan tantangan merupakan landmark terkenal di Kota Bandung. Program kami hari ini rencananya harus mengunjungi 5 titik persinggahan. Eit, tapi di mana titik persinggahannya, sebelumnya kami harus memecahkan clue yang diberikan panitia. Clue-nya gampang-gampang susah, tapi bagi pecinta Kota Bandung, pasti bisa memecahkannya.

Kelompok "Geulis"

Kelompok kami yang terdiri dari 7 orang – kebetulan perempuan semua – kebetulan mendapat titik persinggahan pertama di Titik Nol Bandung. Clue-nya susah-susah gampang, karena harus mencari tempat di mana Gubernur Jendral Daendels konon pernah menancapkan tongkat dan berkata, “usahakan bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota”. Padahal, titik ini termasuk titik yang ramai dilewati orang.. Daendels memang tak pernah kembali, tapi nyatanya tempat ini telah menjadi kota yang sangat popular.

Titik Nol Bandung, Jl. Asia-Afrika

Setelah berhasil memecahkan tantangan di Titik Nol Bandung, titik persinggahan berikutnya adalah Cikapundung Riverspot. Wah, mana pula itu? Jaman saya kuliah di Bandung belum ada! Ternyata, Plaza Cikapundung Riverspot adalah semacam open public space di tepi Cikapundung, tak jauh dari Titik Nol. Di sana tantangannya lompat tali pakai karet. Hadeuh... udah berapa puluh tahun ga pernah main beginian! Akhirnya setelah mencoba beberapa kali, berhasil, berhasil!

Cikapundung Riverspot

Main tali karet selesai, kami berpindah di titik persinggahan berikutnya di Monumen Bandung Lautan Api. Masuk dari pintu di Jl. Otto Iskandar Dinata (yang ditandai dengan clue “Si Jalak Harupat”), kami harus melintas Lapangan Tegallega untuk sampai ke tempat tantangan berikutnya. Ternyata… kami harus mencoba memanah dengan Panah Sumedang! Hadeuh… mana busurnya berat, dan membutuhkan tenaga serta strategi yang tepat agar panahnya bisa menancap di sasaran! Tapi seru juga… jadi kepikir abis ini mau nyoba olahraga panahan, hihihi.

Monumen Bandung Lautan Api

Tantangan panah selesai, kami berpindah ke persinggahan berikutnya di Padepokan Jugala Gugum Gumbira. Ketika tiba di tempatnya yang terletak di Jl. Kopo 15-17, tidak terlihat ada tanda-tanda yang jelas. Sempat bingung, namun setelah kami menjawab tantangan harus ngibing sambil nyanyi lagu Peuyeum Bandung, akhirnya kami diijinkan masuk ke padepokan melalui gank di antara bangunan.

Foto Abah Gugum di Padepokan Jugala

Rupanya Padepokan Jugala letaknya tersembunyi di dalam gank. Di dalam terdapat pendopo kecil, serta halaman kecil yang bisa digunakan untuk menari. Kami menyaksikan kelompok teman-teman kami yang tiba terlebih dahulu sudah melakukan latihan tari Jaipongan. Ha, seru! Tapi kami harus bersabar menunggu giliran kami.

Setelah tiba giliran kami latihan tari Jaipongan, sebelum mulai, ada Kang Aji yang menjelaskan tentang Padepokan Jugala yang didirikan almarhum Gugum Gumbira Tirasonjaya. Abah Gugum adalah pencipta tari Jaipongan, yang merupakan pengembangan dari tarian ketuk tilu, dikombinasikan dengan seni bela diri pencak silat, tari topeng banjet, dan teater Wayang Golek. Jaipongan memulai debutnya pada tahun 1974, ketika Abah Gugum beserta penari dan para pemain gamelan tampil di depan umum. Nama “Jaipongan” digunakan Abah Gugum untuk membedakan tari Jaipongan dari tari Ketuk Tilu. Nama “Jaipongan” berasal dari kata “Jaipong”, yang sebelumnya tidak ada maknanya. 

Foto Ibu Euis di Padepokan Jugala

Abah Gugum memiliki istri Euis Komariah, yang juga seniman di bidang tarik suara tradisional Sunda. Ibu Euis juga merupakan penyanyi dari Orkestra Jugala. Mereka memiliki 4 orang putri, dan hari ini kami dipimpin oleh Ibu Mira Tejaningrum, putri sulung Abah Gugum dan Ibu Euis, untuk mencoba menari Jaipongan.

Ternyata, tidak gampang sodara-sodara! Antara tangan dan kaki harus sinkron. Belum lagi harus ada efek “ngeper” dari gerakan kaki. Buat yang jarang olahraga, ternyata bikin pegal-pega juga. Bu Mira juga menjelaskan bahwa Jaipongan sebenarnya tidak ada unsur geal geol, yang ada pinggul bergerak mengikuti gerakan kaki.

Museum Kota Bandung di Tahun 2019

Dari Padepokan Jugala, seharusnya kami melanjutkan ke pos terakhir di Museum Kota Bandung. Museum ini menempati bangunan antik di Jl. Aceh, yang didirikan tahun 1920. Di museum ini ditampilkan informasi sejarah Kota Bandung, termasuk Piagam Sultan Agung, Besluit Gubernur Jendral Daendels mengenai pendirian Bandung, rencana pembangunan Negorij Bandoeng oleh Dalem RAA Wiranatakusumah II, serta berbagai informasi terkait Bandung lainnya. Sayangnya, karena waktu tidak memungkinkan, kami harus segera bergabung di Bandoengsche Melk Centrum untuk melanjutkan acara Korporat. Ketika kami kembali melewati museum tersebut (yang hanya 100 meter dari BMC), ternyata museum dalam kondisi tutup. Untung saya pernah ke museum ini di tahun 2019!

Sunday, April 30, 2023

Pos Bloc, Dari Kantor Pos Jadi Tempat Nongkrong

Mendengar nama Pos Bloc, hati ini rasanya penasaran. Apalagi bertempat di gedung bekas kantor pos, apakah masih ada hubungannya dengan urusan surat menyurat? Hal ini mendorong saya untuk mampir Pos Bloc Jakarta di daerah Pasar Baru. Selain ingin tahu seperti apa tempat yang (katanya) kekinian, saya – seperti biasa – tidak bisa melihat bangunan kuno tanpa mengetahui sejarah bangunannya.

Pos Bloc Jakarta menempati Gedung Filateli di Jalan Pos No. 2 Pasar Baru, dan mulai beroperasi sejak tanggal 10 Oktober 2021. Konsep dari tempat ini adalah tempat "nongkrong" dengan pilihan kuliner nusantara dan mancanegara, baik makan berat maupun sekadar kudapan ringan. Selain nongkrong sambil menikmati kuliner, pengunjung juga bisa cuci mata melihat barang-barang unik buatan anak negeri, atau melihat toko buku Indie yang menjual buku karya anak negeri. Saat ini Pos Bloc dikelola oleh PT Ruang Kreatif Pos. 

Gedung Filateli Pasar Baru

Berbicara mengenai Gedung Filateli, bangunan ini merupakan bagian dari rangkaian perkembangan aktivitas surat menyurat sejak jaman kolonial Hindia Belanda. Aktivitas surat menyurat modern di Nusantara sejatinya sudah dimulai sejak kehadiran bangsa Eropa di Nusantara. Dengan semakin tingginya arus pengiriman surat dan paket pos, Gubernur Jendral VOC Gustaaf W. Baron Van Imhoff mendirikan Kantor Pos (Postkantoor) pertama di Batavia pada tanggal 26 Agustus 1746. 

Di awal abad ke-19, atas prakarsa Gubernur Jendral Herman Willem Daendels, pusat Kota Batavia dipindahkan dari Kawasan Kota Tua ke Weltevreden. Untuk itu dibangun gedung-gedung baru, termasuk yang diperuntukkan bagi kantor pos. Pada tahun 1835 pusat kegiatan kantor pos dipindahkan ke Waterlooplein, di lantai dasar Istana Daendels (sekarang menjadi Gedung AA Maramis, Departemen Keuangan RI). Baru pada tahun 1860-an pusat kegiatan kantor pos dipindahkan ke bangunan di Posweg (Jalan Raya Pos) di tempat yang sekarang menjadi Gedung Filateli, di antara Schooburg (sekarang Gedung Kesenian Jakarta) dan Kleine Klooster (biara Ursulin, sekarang sekolah Santa Ursula). Penempatan Kantor Pos di Posweg didasarkan atas lokasi yang strategis karena terhubung dengan Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) dan dekat dengan pusat kota Weltevreden sebagai Nieuw Batavia.

Tahun 1912, gedung ini sempat dipugar ulang oleh arsitek Belanda J.F Von Hoytema. Pemugaran berlangsung selama 17 tahun, dan baru selesai pada tahun 1929. Hasil pemugaran ini adalah gedung bergaya arsitektur Eropa yang kental dengan gaya Art Deco, dan merupakan Kantor Pos terbesar di Hindia Belanda. 

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, bekas pemerintahan pendudukan Jepang bermaksud menyerahkan Jawatan Pos Telegraf Telepon kepada Sekutu. Namun Angkatan Muda Pos Telegraf Telepon (AMPTT) berupaya mendekati Jepang agar menyerahkan kekuasaan Kantor PTT kepada Republik Indonesia. Karena perundingan gagal dilakukan, maka pada 27 September 1945 AMPTT melakukan perebutan Kantor PTT di Bandung dari tangan Jepang. Tanggal ini yang dikenal sebagai Hari Bakti Pos.

Prasasti Peringatan 27 September 1969

Apa hubungan peristiwa ini dengan Gedung Filateli? Di dalam Gedung Filateli terdapat prasasti peringatan pegawai PTT yang gugur akibat peristiwa di PD II. Peristiwa berdarah di bangunan Pos Bloc saat itu menelan korban jiwa 4 orang petugas Pos, antara lain Imang, Paimin, Sarmada, dan M. Soetojo. Nama-namanya diabadikan dalam sebuah prasasti peringatan yang sekarang ada di dalam bangunan Pos Bloc. Prasasti tersebut tertanggal 27 September 1969, bersamaan dengan peringatan 24 tahun Hari Bakti Pos. Tidak begitu jelas apakah keempat petugas Pos ini termasuk di antara mereka yang gugur dalam perebutan Kantor PTT di Bandung, atau ada peristiwa lainnya.

Pada awal kemerdekaan, Gedung Filateli difungsikan sebagai pelayanan pos, telepon, dan telegram. Dengan berdirinya perkantoran baru berupa Gedung Pos Ibukota (GPI) mejadikan Gedung Kantor Pos Lama Pasar Baru difungsikan sebagai pelayanan filateli dan Kantor Cabang Persatuan Filateli Indonesia di Jakarta. Tahun 1999, Gedung Filateli didaftarkan sebagai bangunan cagar budaya, sehingga menjadi bangunan tua yang terlindungi dan terselamatkan dari penggusuran bangunan kuno. Namun seiring dengan menurunnya aktivitas pos, belum ada ide untuk memanfaatkan gedung tersebut menjadi tempat yang lebih “hidup”.

Tahun 2020-2021, muncul gagasan untuk menjadikan bangunan-bangunan heritage Kantor Pos menjadi ruang public. Gagasan ini terwujud pada tahun 2021, dengan berdirinya Pos Bloc. Nama “Pos” berasal dari fungsi gedung ini sebagai kantor pos, sedangkan “Bloc” merupakan kata Bahasa Inggris yang bermakna blok, dan dimaknai sebagai pusat kegiatan atau berjejaring.

Dan ketika saya mampir di Pos Bloc di saat jam makan siang pada hari kerja, suasana memang tidak terlalu ramai. Namun fungsi tempat ini untuk berjejaring, rasanya sudah berhasil dilakukan. Terdapat banyak tempat makan dan kudapan ringan, yang bisa menjadi meeting point untuk sekadar nongkrong atau berdiskusi. Membayangkan jika saya hadir di akhir pekan atau jika ada event, mungkin tempat ini bisa menjadi sangat penuh.

Kaca Patri, Tribun, dan Brievenbus

Dari tampak luar, sudah terlihat gaya bangunan Art Deco khas awal abad 20. Untuk mengingatkan bahwa tempat ini merupakan kantor pos, di sisi kanan bangunan masih terdapat Brievenbus, atau kotak pos dari masa Hindia Belanda. Masuk ke dalam bangunan Pos Bloc, kita disambut tribun yang biasa digunakan untuk duduk-duduk, atau menonton pertunjukan. Di sisi kiri dan kanan terdapat toko-toko souvenir untuk sekadar cuci mata. Bagian bawah bangunan dilengkapi dengan lantai marmer, seperti aslinya bangunan. Jika kita menghadap ke arah pintu masuk, terdapat kaca patri berwarna warni yang anggun menghiasi gedung.

Ruang Tengah dan Belakang

Saya mencoba menjelajah lebih dalam, sambil melihat-lihat ada makanan apa yang disajikan di gedung ini. Di ruang tengah yang saat ini menjadi pusat kegiatan di Pos Bloc, saya membayangkan dulu tempat ini penuh dengan petugas pos yang sibuk menyortir surat dan paket. Tempat ini juga dilengkapi meja dan kursi, untuk mereka yang sekadar duduk-duduk sambil menikmati kudapan ringan. Di bagian belakang bangunan, ada ruangan yang masih kosong, berhias rangka penunjang atap yang terbuat dari baja. Melihat ruangan masih kosong, gatal rasanya pengen menari keliling ruangan…

PO Box, Bis Surat dan Kantor Pos

Saya masuk ke sayap kiri dan kanan dari bangunan. Di sisi barat, selain terdapat toko buku dan penjual makanan, terdapat kotak pos tempoe doeloe dari jaman Republik, serta laci-laci yang merupakan alamat untuk PO Box. Sedangkan di sisi kiri, selain terdapat penjual makanan, kita juga bisa menemukan Kantor Pos kecil. Yaaa… namanya juga Pos Bloc, tetep harus ada kantor posnya kan?


Thursday, December 29, 2022

Curug Cantik dan Kisah Sang Tongkat

Jika bukan karena acara retreat manajemen di pertengahan November 2022, mungkin saya tidak pernah tahu tentang air terjun cantik yang jaraknya tidak jauh dari Jakarta. Curug Putri Kencana – demikian air terjun cantik tersebut dikenal – merupakan air terjun yang terletak di Kawasan Wisata Curug Putri Kencana, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Kawasan Wisata ini masih merupakan bagian dari Kawasan wisata Gunung Pancar.

Untuk mencapai tempat ini, dari Tol Jagorawi keluar melalui gerbang Sentul City, kemudian belok kiri masuk ke arah jalan menuju Jungle Land. Sebelum pintu masuk Jungle Land, belok kanan melalui jalan perkampungan. Setelah tiba di pertigaan, belok kiri dan ikuti jalan hingga bertemu papan petunjuk menuju Curug Putri Kencana. Semakin mendekati curug, jalan semakin sempit, berliku dan naik turun, sehingga terkadang menyulitkan jika berpapasan dengan mobil lain dari arah berlawanan.

Hari itu program outing kami dimulai dengan main paintball. Saya sendiri memilih tidak ikut main paintball, takut tiba-tiba darah tinggi saya kumat. Di samping itu saya memang menjaga stamina, supaya saat trekking ke curug saya masih punya energi. Agak waswas juga, karena selama pandemi saya jarang olahraga, takutnya "baterai" jadi cepat habis saat trekking.

Program paintball selesai, waktunya kami trekking ke curug. Kami naik pick up bak terbuka untuk menuju titik awal jalur trekking. Dari tempat paintball, perjalanan makan waktu 30 menit, melewati perumahan penduduk dengan jalan yang berliku dan naik turun. Adrenalin teman-teman yang ikut main paintball masih cukup tinggi, sehingga sepanjang jalan kami bercanda-canda.

Setelah pick up menurunkan kami di titik awal jalur trekking, kami memulai trekking dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang tersedia. Jalan setapak ini sebagian sudah diaspal, sebagian masih berupa tanah dan bebatuan. Jalan setapak ini sebenarnya bisa ditempuh dengan motor, namun karena dari awal sudah diniatkan untuk trekking, ya kami memilih untuk berjalan kaki.

Curug Mini sebelum bertemu Curug Putri Kencana

Setelah kurang lebih berjalan selama 20 menit melalui jalur yang cukup berliku-liku, kami tiba di loket pintu masuk Kawasan Wisata Curug Putri Kencana. Disebut “kawasan wisata”, karena tempat ini memiliki lima buah curug yang alirannya berasal dari Sungai Sadon. Curug yang paling terkenal, tentu saja Curug Putri Kencana, yang dikenal juga sebagai “Love Waterfall”. Selain itu terdapat juga Curug Leuwi Parluk, Leuwi Demang, Leuwi Balung, dan Leuwi Panjang. 

Dari loket pintu masuk, kami masih harus berjalan sekitar 500 meter, untuk mencapai area curug. Di kiri kanan, terlihat beberapa curug kecil. Namun karena keterbatasan waktu, rombongan kami tak sempat mampir di curug-curug kecil tersebut. Jalan semakin menanjak, membuat saya harus sesekali berhenti sambil mengatur napas sebelum melanjutkan perjalanan. Di jalur trekking menuju curug, kami bertemu banyak pengunjung di arah turun. Beberapa ibu-ibu yang di arah turun sempat-sempatnya meledek teman-teman pria kami yang terlihat terengah-engah, “Masa’ kalah sama Ibu-Ibu!”

10 menit berjalan melewati jalur trek yang berbatu dan menanjak, akhirnya kami tiba di area Curug Putri Kencana. Nama “Putri Kencana” berasal dari mitos warga sekitar. Menurut cerita warga setempat, setiap malam Jumát mereka sering mendengar suara wanita di sekitar curug. Bahkan tak jarang ada yang melihat seorang wanita berbusana ala kerajaan, lengkap dengan perhiasan, sedang menggunakan kereta kencana. Inilah asal usul nama Putri Kencana pada air terjun tersebut.

Panorama Curug Putri Kencana dari atas jembatan

Curug Putri Kencana mengalir di antara tebing batu, dengan air yang sangat jernih. Aliran curug membentuk kolam penampung berwarna hijau tosca. Di sekitar curug penuh dengan pepohonan, sehingga suasana sangat asri. Untuk bermain di sungai, kami harus menuruni beberapa anak tangga. Namun pengunjung tetap harus waspada, karena di beberapa titik sungai memiliki kedalaman antara 2,5-5 meter. Jika tidak hati-hati, bisa terbawa arus. Beberapa teman kami memilih untuk mencelupkan kaki di sekitar pinggiran curug. Sementara Bapak-Bapak yang cukup berani mencoba berenang ke tengah aliran sungai.

Saya sendiri memilih menikmati keindahan curug dari atas jembatan. Di sisi lain dari jembatan, terlihat aliran Sungai Sadon mengalir di antara tebing-tebing batu setinggi 10 meter. Sayang saya tidak bisa melihat area ini dengan jelas, karena tertutup antrian pengunjung yang akan melompat dari bebatuan (cliff jumping) untuk masuk ke aliran sungai tersebut.

Setelah sekitar 15 menit menikmati keindahan Curug Putri Kencana dan hawa segar di sekeliingnya, waktunya kami untuk kembali. Menelusuri kembali trek menuju titik awal, kaki mulai terasa pegal karena menahan gaya gravitasi saat bergerak turun. Tiba-tiba Naila, salah seorang anggota tim saya, menyodorkan ranting yang langsing namun cukup panjang.

"Bu, mau pakai tongkat? Enak kalau jalannya pakai tongkat."

Saya menerima tongkatnya sambil berpikir, butuh nggak ya? Ego mengatakan bahwa saya masih kuat untuk turun sampai bawah tanpa bantuan tongkat. Namun logika mendesak saya untuk mengingat usia, mohon napas dan kaki dieman-eman supaya tidak tepar, karena perjalanan masih panjang untuk sampai ke rumah. Jadi akhirnya ranting tersebut saya gunakan untuk menopang tubuh, terutama ketika melalui jalan yang menurun atau agak becek.


Kenangan di Gunung Huangshan tahun 2005

Selama perjalanan dengan tongkat, saya tiba-tiba teringat pengalaman 17 tahun silam bersama keluarga, ketika harus menuruni Gunung Huangshan dengan berjalan kaki, karena cable car stop beroperasi karena angin sedang kencang. Saat itu kami harus menuruni trek sejauh 7,5 km dan memakan waktu 3 jam. Trek tersebut sudah dibeton, sehingga jauh lebih nyaman dibandingkan jalan setapak alami di Curug Putri Kencana. Namun saat itu kami pun harus dibantu tongkat, untuk menghemat stamina otot kaki. Tongkat yang kami gunakan merupakan hasil kerajinan tangan penduduk setempat, dan dijual dengan harga yang jika dikurs 2000 rupiah saja.

Terima Kasih Ranting Besar!

Kembali ke Curug Putri Kencana, setelah menelusuri trek kembali ke titik awal, akhirnya saya tiba di titik awal dengan selamat tanpa cedera atau kelelahan yang berlebihan. Sebelum kembali ke tempat paintball, saya berfoto dulu dengan ranting yang sudah menemani saya turun dari Curug Putri Kencana, untuk kenang-kenangan saya berhasil turun dari curug tanpa bantuan mamang ojek, tetapi dengan bantuan ranting besar yang berfungsi sebagai tongkat. Terima kasih ranting besar!


Saturday, July 16, 2022

Dan "Gatotkaca" pun Pensiun di Yogyakarta

Yogyakarta, kota dirgantara. Sejarah mencatat Yogyakarta merupakan tempat lahirnya TNI Angkatan Udara, menjadi kawah candradimuka para taruna TNI AU, dan menjadi “rumah” bagi pesawat-pesawat bersejarah yang menjadi bukti kemampuan para insinyur dirgantara kita. Rumah Pesawat inilah yang kita kenal sebagai Museum Dirgantara Mandala.

Saya selalu excited untuk kembali ke museum ini berulang kali, karena pesawat adalah cinta pertama saya pada teknologi. Dan kali ini, di tengah pandemi yang masih melanda, saya berkesempatan untuk kembali ke sini. Tujuan saya kali ini adalah menjenguk Gatotkaca, pesawat buatan anak bangsa yang sempat digadang-gadang menjadi penunjang jembatan udara Nusantara.di era 1990-an. Sama... tentu saja, menengok Kampret dan teman-temannya di hanggar Museum Dirgantara Mandala. Tampaknya saya perlu spill fakta menarik ini: Dirgantara Mandala adalah museum pesawat terbesar di Asia Tenggara, dengan koleksi lebih dari 50 pesawat dan berbagai alutsista lainnya.

Saat tiba di museum, ternyata ada perubahan alur pengunjung, seperti yang sudah diinfokan sebelumnya. Rupanya museum sedang melakukan penataan ulang koleksi. Baiklah, selama hanggar tidak ikut tutup, tidak masalah! Dengan perubahan pintu masuk menjadi menggunakan pintu samping, saya jadi sempat memperhatikan pesawat PBY-5A Catalina yang dipasang dekat deretan toko oleh-oleh. Pesawat patroli maritime ini merupakan pesawat amfibi yang paling banyak digunakan selama Perang Dunia II, dan saat ini masih digunakan untuk pemadaman kebakaran dari udara. Catalina buatan pabrik Douglas Amerika Serikat yang ada di museum ini digunakan TNI AU antara tahun 1950-1964 untuk memperkuat Skadron 5 Lanud Abdurrahman Saleh, dan digunakan dalam operasi penumpasan PRRI Permesta, operasi Trikora dan Dwikora.

Pesawat Amfibi PBY-5A Catalina 

Setelah saya masuk melalui ruang Kotama dan ruang mantan KSAU, saya bergegas menuju ruangan berikutnya: hanggar. Pesawat, I'm coming! Pesawat pertama yang saya cari, tentu saja si "Kampret". "Kampret" sebenarnya bukan pesawat, melainkan glider (pesawat peluncur) GX-001 buatan Sekolah Teknik Udara Perwira. Karena tidak memiliki roda, sang "Kampret" tidak dipajang di bawah bersama pesawat-pesawat lain, melainkan digantung di langit-langit. Dari caranya digantung, seolah-olah glider ini siap meluncur untuk terbang melewati koleksi pesawat di hanggar.

Glider GX-001 Kampret

Salah satu pesawat yang wajib dilihat adalah P-51 Mustang atau Si Cocor Merah. P-51 Mustang buatan Amerika merupakan pesawat buru sergap jarak jauh yang sangat handal selama PD II. Pesawat yang disimpan di museum beroperasi antara tahun 1950 sampai dengan 1969, dan pernah digunakan untuk operasi penumpasan DI/TII, PRRI/Permesta, Trikora, Dwikora, dan Operasi Trisula. 

P-51 Mustang "Si Cocor Merah"

Nama Cocor Merah berasal dari lukisan berbentuk mulut hiu menganga berwarna merah di hidung P-51. Lukisan ini bukan dibuat karena sekadar iseng. Dekorasi ini dikenal sebagai nose art, yang popular digunakan pesawat-pesawat militer sejak Perang Dunia I. Selain bertujuan untuk meningkatkan semangat tempur, lukisan ini juga menjadi sarana menyalurkan stress selama perang. Nose art yang paling popular adalah wajah ikan hiu, yang pertama kali muncul di pesawat-pesawat Jerman di Perang Dunia II. Namun wajah ikan hiu yang paling terkenal adalah yang dilukis oleh American Volunteer Group (AVG) di pesawat P-40B Flying Tiger pada bulan November 1941.

Selain Si Cocor Merah, museum juga memiliki pesawat lain yang memiliki lukisan mulut hiu, yaitu B-26 Invader. Pesawat pembom ringan buatan Amerika Serikat ini digunakan sejak tahun 1962 untuk operasi Trikora, Dwikora, Trisula, dan pada tahun 1976 digunakan memperkuat operasi Seroja sebelum di-grounded pada tahun 1977. 

B-26 Invader

Terdapat juga DH-115 Vampire, jet tempur buatan de Havilland Aircraft Company dari Inggris. Vampire merupakan jet tempur pertama yang diterbangkan di atas bumi Nusantara. TNI AU pernah memiliki 8 Vampire yang memperkuat Kesatuan Pancar Gas AURI yang (saat itu) bermarkas di Lanud Husein Sastranegara. Banyak pilot legendaris TNI AU yang pernah menerbangkan Vampire, di antaranya Rusmin Nurjadin, Leo Wattimena, Ignatius Dewanto, dan Supadio, 

DH-115 de Havilland Vampire

Di antara pesawat-pesawat tempur, tersimpan replika pesawat ringan berawak tunggal WEL-I RI-X. Pesawat pertama buatan anak bangsa ini dibuat Kapten Wiweko Soepono, tokoh perintis industri penerbangan Indonesia. Nama WEL merupakan singkatan dari Wiweko Experimental Lightplane. Pesawat ini terbang pertama kali pada tanggal 27 Oktober 1948 di pangkalan udara Maospati (sekarang Lanud Iswahyudi). Pesawat yang terpasang di museum merupakan replika, karena yang asli hancur ketika gerbong kereta api yang mengangkut pesawat ini terkena granat pemberontak PKI Madiun.

WEL-1 RI-X

Akhirnya, setelah menjenguk pesawat-pesawat dalam hangar, sampailah saya pada tujuan utama ke Dirgantara Mandala: Sang Gatotkaca. N250 Gatotkaca merupakan karya BJ Habibie, dengan cita-cita agar Indonesia mampu membuat pesawat sendiri. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat kondisi geografis Indonesia yang berbentuk negara kepulauan, akan lebih mudah jika terkoneksi melalui udara. Pesawat yang diproduksi IPTN ini digadang-gadang sebagai tonggak sejarah kejayaan kedirgantaraan Indonesia. Namun proyek N250 terpaksa harus berhenti bersamaan dengan krisis moneter tahun 1997. N250 akhirnya terparkir selama seperempat abad di sebuah sudut PTDI, sebelum akhirnya pindah rumah ke Museum Dirgantara Mandala di tahun 2020. Rasanya terharu akhirnya bisa melihat pesawat bersejarah ini dari dekat, setidaknya dia tidak berakhir menjadi besi tua yang tak jelas nasibnya. 

N250 Gatotkaca

Yang tak boleh dilewatkan adalah koleksi terbesar museum. Di halaman museum, di bawah naungan bangunan beratap, terdapat Tupolev Tu-16 buatan Rusia. Pada masanya, Tu-16 merupakan pesawat pembom strategis dengan teknologi paling canggih, serta memiliki kecepatan tinggi dan jarak jelajah yang jauh, membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling ditakuti di Asia Tenggara di era 1960-an. Konon ketika pesawat ini didatangkan ke Indonesia. agar dapat lepas landas dan mendarat dengan sempurna, landasan pacu Lanud Iswahyudi harus diperpanjang terlebih dahulu. Tu-16 merupakan bagian dari Skadron 42 yang bermarkas di Lanud Iswahyudi, dan pernah terlibat aktif dalam operasi Trikora dan Dwikora. 

Pembom Strategis Tupolev Tu-16

Di seberang Tu-16, terlihat Lockheed C-130 Hercules generasi pertama yang digunakan TNI AU. C-130 pertama kali dibuat tahun 1954, dan telah menjalani berbagai misi militer dan sipil. Kemungkinan besar C-130 di museum ini merupakan salah satu dari10 Hercules yang menjadi embrio lahirnya Skadron Angkut Berat Jarak Jauh TNI AU di era 1960 awal. Keberadaan Hercules di Indonesia memiliki kisah yang menarik, karena Indonesia merupakan negara pertama pengguna Hercules di luar Amerika Serikat. Generasi pertama Hercules di Indonesia merupakan “hadiah” pemerintah Amerika Serikat atas penukaran tawanan pilot CIA Allen Pope yang terlibat membantu pemberontakan Permesta di Sulawesi pada tahun 1958. Diduga pesawat B-26 Pope ditembak jatuh oleh P-51 Mustang TNI AU yang dipiloti Kapten Ignatius Dewanto.

C-130 Hercules generasi pertama

Koleksi pesawat yang ada di hanggar Museum Dirgantara Mandala dapat bercerita mengenai kiprah TNI AU dalam menjaga kedaulatan bangsa kita di udara. Rasanya ingin menceritakan satu per satu kisah di balik masing-masing pesawat. Semoga pesawat-pesawat ini bukan sekadar pajangan mengenang kejayaan masa lalu, tetapi bisa menjadi motivasi generasi penerus untuk senantiasa menjaga kedaulatan bangsa kita di dirgantara.