Thursday, May 28, 2015

Kabupaten Sleman, Rumahnya Candi-Candi Cantik

Mendengar kata candi di Kabupaten Sleman, yang terbayang barangkali adalah Kompleks Candi Prambanan dan Situs Keraton Ratu Boko yang sudah tersohor. Tapi sebenarnya di Kabupaten Sleman banyak bertebaran candi-candi cantik lainnya dari masa kerajaan Mataram Kuno, baik yang bergaya Hindu maupun Buddha. Sebagian candi itu sudah dipugar dan dibuka untuk wisata umum, sedangkan sebagian lainnya masih dalam proses penggalian atau pemugaran. Ada candi apa saja ya di Sleman?

Candi Sambisari
Saat berkendara dari arah kota Yogya menuju Klaten, candi pertama yang bisa dikunjungi adalah Candi Sambisari yang terletak di sisi kiri jalan, kurang lebih 10 km dari pusat kota Yogyakarta. Namun jangan heran saat pertama kali hadir kita tidak bisa menemukan candinya, karena Candi Sambisari seperti terletak di bawah permukaan tanah. Saat ditemukan pada tahun 1966, posisi Candi Sambisari memang terpendam sedalam 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Besar kemungkinan hal ini terjadi akibat timbunan lahar Gunung Merapi. Pemugaran Candi Sambisari membutuhkan waktu 21 tahun, dan pada tahun 1987 candi ini dibuka untuk umum.



Dari sebuah prasasti berbentuk lempengan emas yang ditemukan di dekat candi, para ahli memperkirakan Candi Sambisari dibangun antara tahun 812-838 M. Candi Sambisari terdiri dari sebuah candi induk dengan 3 candi perwara, yang dikelilingi tembok berukuran 50 meter x 48 meter. Jika melihat bentuk bangunan candi serta arca yang terletak di tubuh candi, Candi Sambisari merupakan candi Hindu.Di dalam bangunan utama juga terdapat sepasang lingga-yoni berdiameter 1,5 meter, yang digunakan untuk membuat air suci.

Candi Kalasan
Candi Kalasan terletak kurang lebih 7 km di sisi barat Candi Prambanan. Tidak sulit untuk menemukan candi ini, karena lokasi candi terlihat dari jalan raya Yogyakarta-Klaten. Apabila kita berkendara dari arah Yogya menuju Klaten, Candi Kalasan terletak di sisi kanan jalan.
Candi Kalasan merupakan Candi Buddha tertua di sekitar Yogyakarta. yang dibangun sekitar akhir abad ke-8 Masehi oleh Rakai Panangkaran dari Wangsa Syailendra. Diduga candi ini dibangun sebagai penghormatan pada Tarabhawana, salah satu bodhisattwa wanita menurut mitologi agama Budha, sehingga dikenal sebagai Candi Tara. Konon Atisha Dipankara, seorang pendeta Budha asal Bengali, India, pernah mengunjungi Candi Kalasan dan candi ini menjadi salah satu sumber inspirasinya dalam menyebarkan agama Budha.



Bangunan candi setinggi 24 meter dengan panjang sisi 16,5 meter ini berbentuk tambun, sesuai dengan ciri khas candi-candi Budha. Candi Kalasan pernah mengalami pemugaran hingga empat kali, dan pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 1939-1940. Candi ini memiliki pintu masuk di sisi timur, namun saat ini candi tidak dapat dimasuki karena tangga ke arah bagian dalam candi hanya berupa tumpukan batu. Permukaan tubuh candi penuh dengan relief cantik, di antaranya relief pohon dewata dan awan beserta penghuni kahyangan yang tengah bermain musik. Puncak candi diduga berbentuk stupa besar, namun belum berhasil direkonstruksi karena banyak batuan asli yang tidak ditemukan. Dari batuan yang ditemukan, diperkirakan Candi Kalasan dikelilingi oleh kurang lebih 52 stupa, dengan tinggi kurang lebih 4,6 meter. Stupa-stupa ini sebagian besar banyak yang tidak dapat dibangun lagi karena batunya banyak yang hilang.

Candi Sari
Candi Sari terletak 500 meter di sisi timur laut dari Candi Kalasan, dengan lokasi candi kurang lebih berseberangan dengan Candi Kalasan. Jika Anda berkendara dari kota Yogyakarta ke arah Solo, jalan masuk menuju Candi Sari terletak di sisi kiri.



Candi Sari ditemukan pada tahun 1840, dan pertama kali dipugar pada tahun 1929-1930. Dari berbagai ciri arsitektur dan ornamen bangunan, diketahui bahwa bangunan ini merupakan bangunan agama Buddha, serta dibangun pada masa yang sama dengan Candi Kalasan. Sekilas, bangunan Candi Sari berbentuk seperti asrama, sehingga para ahli menduga bangunan ini merupakan vihara atau tempat tinggal para pendeta. Sangat mungkin bangunan ini adalah vihara yang dimaksud dalam prasasti Kalasan.
Candi ini berukuran penampang alas 17,3 meter x  10 meter. Bagian tubuh candi terdiri dari 3 ruangan yang masing-masing dihubungkan dengan pintu. Di dalam masing-masing ruangan terdapat relung, yang diduga semula merupakan tempat arca Budha yang diapit Bodhisatwa. Jika cukup teliti, Anda bisa melihat lubang-lubang di tembok bagian dalam candi. Diperkirakan lubang ini merupakan tempat dudukan kayu untuk menyangga lantai di bagian atas. Bagian atas candi terdapat 9 stupa yang tersusun dalam 3 deretan sejajar.

Candi Banyu Nibo
Di Desa Cepit, tak jauh dari pintu masuk Kompleks Keraton Ratu Boko, terdapat Candi Banyu Nibo. "Banyu Nibo" dalam bahasa Jawa berarti air menetes, nama ini diberikan karena penduduk setempat melihat bentuk candi ini dari jauh seperti tetesan air yang jatuh ke tanah. Candi Banyu Nibo didirikan pada sekitar abad 9 Masehi. Saat ditemukan pada tahun 1940, Candi Banyunibo berada dalam keadaan runtuh. Pemugaran candi dilakukan secara bertahap hingga selesai dibangun kembali pada tahun 1978. Saat ini candi ini terlihat masih utuh dan kokoh dengan berbagai relief yang masih nampak jelas.



Kompleks candi ini terdiri dari satu candi induk yang menghadap ke barat dan enam candi perwara yang berderet di sisi selatan dan timur. Bangunan utama candi berukuran 15,3 meter x 14,25 meter dengan tinggi 14,25 meter. Di bagian dalam bangunan candi utama,  di sisi selatan terdapat relief wanita yang dikelilingi anak-anak yang merupakan perwujudan Dewi Hariti (dewi kesuburan atau dewi kekayaan dalam agama Budha), sedangkan di sisi utara terdapat relief pria yang sedang duduk yang ditafsirkan merupakan perwujudan Vaisarawana. Bagian puncak candi berbentuk stupa, yang merupakan ciri arsitektur bagunan suci umat Budha. Pada masing-masing sudut kaki candi dan di bagian tengah masing-masing sisi kaki candi terdapat hiasan berupa "Jaladwara" berbentuk Makara yang berfungsi sebagai saluran air hujan. Di sekeliling candi terdapat selasar yang berfungsi sebagai lorong untuk mengelilingi candi.

Candi Ijo
Candi Ijo merupakan candi yang terletak paling tinggi di Kabupaten Sleman, bahkan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi ini berada di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, di atas bukit Gumuk Ijo pada ketinggian 410 meter di atas permukaan laut. Untuk mencapai candi ini, ikuti jalan ke arah Candi Ratu Boko, kemudian di persimpangan menuju Ratu Boko-Banyunibo-Candi Ijo berbelok ke kanan ke arah Candi Ijo. Sepanjang perjalanan terlihat pemandangan hutan jati dan perbukitan kapur.



Candi Ijo merupakan kompleks candi Hindu yang (seharusnya) terdiri dari 17 bangunan yang terbagi dalam 11 teras berundak. Susunan seperti ini berbeda dengan susunan candi yang ditemukan di sekitar Jawa Tengah dan DI Yogyakarta yang pada umumnya memusat ke tengah. Keunikan lainnya, pondasi candi di kompleks Candi Ijo tidak terbuat dari batu andesit, melainkan dipahat langsung dari batuan bukit kapur. Saat ini bagian yang sudah dipugar dan dapat dilihat oleh umum adalah pada teras paling atas atau teras kesebelas. Di teras ini terdapat tiga bangunan candi utama atau bagian yang paling suci yang menunjukkan penghormatan kepada Trimurti atau tiga dewa utama dalam mitologi Hindu : Brahma, Wisnu dan Syiwa, serta tiga candi perwara di depannya. Candi-candi utama ini dipugar antara tahun 2000-2003.

Penasaran dengan candi-candi cantik yang baru saja saya ceritakan? Atau ingin tahu candi-candi cantik lainnya di Kabupaten Sleman? Mari melakukan perjalanan Wisata ke Sleman, dijamin banyak pengalaman menarik dan seru yang bisa kita alami!

Banner Lomba


Tuesday, March 24, 2015

Wisata Cagar Budaya Jateng: Ketika Matahari Bersinar Terang di Candi Gedongsongo

“Naik kuda, Mbak?”
 Teguran salah satu pengasuh kuda di Candi Gedongsongo mengalihkan perhatian saya dari bangunan candi yang terlihat di depan mata. Bangunan candi yang ada di depan saya adalah Candi Gedong I, seperti yang tertera pada papan di dekat candi tersebut, dan tidak terlihat bangunan candi lainnya. Setelah melihat keterangan di papan mengenai Kompleks Candi Gedong Songo, ternyata untuk mengelilingi seluruh kompleks, saya harus menempuh jalan setapak dengan kontur yang naik turun sejauh 4 kilometer. Karena waktu terbatas dan untuk menghemat tenaga, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi kuda. Pengelola Kompleks Candi Gedong Songo sudah menetapkan standar tarif wisata berkuda, sehingga saya tak perlu repot tawar menawar dengan para pengasuh kuda. Akhirnya saya menyambut tawaran Mas Apip, pengasuh kuda yang menegur saya, untuk menggunakan jasa kudanya yang bernama Riska berkeliling seluruh kompleks candi.

Saya dan Riska di Depan Candi Gedong IV
Kompleks Candi Gedong Songo terletak di Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Kompleks percandian ini pertama kali ditemukan pada tahun 1740 oleh Loten. Nama Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa “Gedong” yang berarti bangunan, serta “Songo” yang berarti sembilan, karena di kawasan candi ini terdapat sembilan kelompok bangunan yang dibagi dalam 5 kelompok besar. Bangunan-bangunan tersebut tersebar di lereng Gunung Ungaran, di antara hutan pinus dan perkebunan sayur masyarakat, memberikan paduan panorama indah dan unik yang sulit ditemukan di tempat lain. Tidak diketahui secara pasti kapan kompleks percandian ini dibangun, namun diperkirakan candi ini dibangun oleh Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad VII Masehi, dan merupakan bangunan agama Hindu tertua di Jawa, lebih tua daripada Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Mas Apip mengarahkan Riska untuk membawa saya menuju ke Candi Gedong V terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan menuju Candi Gedong V, terlihat hamparan pepohonan dan perkebunan sayur milik warga, dinaungi langit yang terang benderang. Di kompleks candi yang berada di ketinggian 1200 meter ini, hawanya biasanya cukup dingin, dan sering kali kabut tipis turun. Namun hari ini matahari sedang “berbaik hati”, cuaca yang terang benderang membuat saya bisa melihat keindahan panorama alam ini, termasuk melihat dengan jelas candi-candi yang terdapat di kompleks percandian ini dari kejauhan. Karena tak terbiasa naik kuda, awalnya saya sempat tegang, terutama saat melewati jalan yang terjal sekaligus berkelok. Mas Apip berulang kali mengingatkan agar badan saya lentur mengikuti gerakan kudanya.

Setelah mendaki selama 20 menit dan menembus deretan pepohonan pinus, tanpa terasa kami tiba di lapangan terdekat dengan Candi Gedong V. Saya turun dari punggung Riska, kemudian melangkahkan kaki ke arah Candi Gedong V. Inilah candi dengan tempat tertinggi di kompleks pecandian Gedong Songo, di ketinggian 1308 meter dari permukaan laut. Di tempat ini, hanya tersisa sebuah candi yang relatif utuh, sedangkan sisanya berupa reruntuhan batu yang sulit untuk disusun ulang. Dari tempat ini terlihat pemandangan gugusan pegunungan Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Telomoyo yang mengelilingi kawasan candi Gedong Songo. Saat melihat ke arah bawah, terlihat candi-candi lain seperti bangunan kecil yang menyembul di antara hamparan hijau tumbuh-tumbuhan.


Candi Gedong V Dengan Latar Belakang Pegunungan Telomoyo
Dari Candi Gedong V, saya kembali ke lapangan. Di sisi seberang lapangan, terlihat Candi Gedong IV. Setelah melepas dahaga dengan minuman yang saya beli dari penjaja minuman di dekat Candi Gedong V, saya menyeberangi lapangan untuk melihat Candi Gedong IV dari dekat. Di Candi Gedong IV terlihat satu candi yang masih utuh, sisanya adalah reruntuhan candi yang tinggal puing-puing. Kurang lebih 50 meter dari Candi Gedong IV, terlihat satu buah candi perwara yang baru selesai direnovasi pada tahun 2010. Dari sisa bangunan yang ada, Candi Gedong IV diperkirakan semula memiliki 12 bangunan. Dari Candi Gedong IV, saya naik ke punggung Riska, dan Mas Apip membawa kami melewati jalan setapak melewati sumber air panas untuk menuju Candi Gedong III. Mendekati lokasi sumber air panas, mulai terlihat kepulan uap air dan tercium bau belerang. Batu-batuan yang berada di sekitar kawah terlihat kekuningan, menandakan kandungan belerang yang cukup tinggi. Air panas yang mengandung belerang ini dialirkan ke kolam khusus untuk digunakan berendam, dan konon berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit, khususnya penyakit kulit.

Candi Gedong IV

Salah Satu Kawah Belerang di Dekat Sumber Air Panas
Sambil melanjutkan perjalanan menuju Candi Gedong III, saya mencoba membayangkan posisi bangunan candi yang ada di Gedong Songo, seolah candi-candi tersebut dibuat mengitari sumber air panas. Banyak penafsiran para ahli terhadap lokasi bangunan candi yang terpencar-pencar. Satu pendapat mengatakan bahwa candi-candi ini dibuat untuk melindungi sumber air panas yang dianggap suci. Pendapat lain adalah candi-candi ini menggambarkan petunjuk rangkaian prosesi keagamaan yang dilakukan dari candi terbawah hingga teratas. Dugaan lain, posisi candi yang berderet dari bawah hingga ke atas merupakan gambaran hirarki kesucian, di mana candi yang di atas posisinya lebih suci dibandingkan candi di bawahnya. Mana pendapat yang paling tepat, tentunya perlu penelitian lebih lanjut. Tiba di Candi Gedong III, saya turun dari punggung Riska untuk melihat ke Candi Gedong III. Di antara kompleks candi yang ada di Gedong Songo, Candi Gedong III merupakan yang paling lengkap. Candi ini dibatasi dengan beranda dan terdiri dari 3 buah bangunan. Masih terlihat beberapa arca di relung luar candi induk, yaitu arca Durga dan Ganesha, serta arca pengawal dewa Syiwa Nandiswara dan Mahakala yang berada di samping kanan kiri pintu candi.

Candi Gedong III
Puas memotret di Candi Gedong III, saya kembali naik ke punggung Riska dan melanjutkan perjalanan ke Candi II. Di Candi Gedong II yang berada di ketinggian 1274 meter, terdapat dua bangunan candi induk yang menghadap ke barat, dengan reruntuhan candi perwara yang berhadapan dengan candi induk. Candi induk di kompleks ini merupakan candi yang paling besar yang terdapat di Gedong Songo. Karena bentuknya yang relatif utuh, candi ini menjadi favorit wisatawan untuk berfoto ria.

Candi Gedong II Dilihat Dari Atas
Setelah selesai melihat-lihat di Candi Gedong II, saya kembali naik ke punggung Riska, dan Mas Apip membawa kami menelusuri jalan setapak kembali ke titik awal pemberangkatan kami di dekat Candi Gedong I. Setelah turun dari punggung Riska dan membayar tarif wisata kuda ke Mas Apip sebesar Rp 70.000,-, saya melihat jam tangan, rupanya saya sudah berkeliling Kompleks Candi Gedongsongo selama 1 jam 15 menit. Saya kemudian mendekati bangunan Candi Gedong I yang hanya terdiri dari 1 bangunan. Saat melongok ke dalam ruangan candi, ternyata Candi Gedong I adalah satu-satunya candi yang masih memiliki yoni tanpa lingga, sedangkan candi lainnya kosong. Di dalam ruangan candi Gedong I terlihat tebaran bunga sesaji, menunjukkan bahwa tempat ini masih digunakan untuk pemujaan.

Candi Gedong I
Sebelum keluar dari Kompleks Candi Gedong Songo, sekali lagi saya memandang ke arah perbukitan. Masih melekat kuat dalam benak perjalanan yang baru saja saya lakukan bersama Riska dan Mas Apip. Tanpa Riska dan Mas Apip, rasanya tak mungkin saya bisa menjangkau seluruh candi di kompleks ini dalam waktu singkat. Sebuah pengalaman yang akan terus saya kenang, berkeliling candi-candi cantik di perbukitan dengan naik kuda.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 2.

Saturday, February 14, 2015

#GAWisataDaerahmu: Suasana Jadoel Parijs Van Java

Bandung, my second hometown. Tinggal selama 9 tahun di Bandung membuat kota ini selalu ngangenin, khususnya dari sisi ke-jadoel-annya. Potensi wisata tempo doeloe di Bandung hampir tidak ada habisnya, khususnya dari peninggalan-peninggalan masa kolonial Belanda, ketika kota ini menjadi tujuan akhir pekan para Preangerplanter.

Salah Satu Sudut Jalan Braga
Salah satu tempat jadoel yang wajib dikunjungi di Bandung adalah Jalan Braga. Di masa jayanya, Jalan Braga merupakan pusat perbelanjaan paling bergengsi di Kota Bandung. Bangunan-bangunan tua bergaya art deco dibangun berjajar di sepanjang sisi kiri-kanan jalan, sebagai saksi bisu bahwa kawasan ini pernah menjadi jantung Parijs van Java di masa silam.

Etalase Tempat Memajang Roti di "Sumber Hidangan"
Melangkahkan kaki sepanjang Jalan Braga ke arah selatan, menjelang ujung jalan Anda akan menemukan toko roti "Sumber Hidangan". Toko roti dengan nama jadoel "Het Snoephuis" (secara harfiah berarti “rumah makanan manis”) ini banyak menjual aneka roti dan kue gaya Belanda. Masuklah ke dalam toko roti tersebut, dan Anda akan merasa seperti masuk ke dalam mesin waktu, karena suasana di dalam toko ini tidak jauh berbeda dengan ketika toko ini pertama kali dibuka pada tahun 1929. Interior di dalam restoran masih mempertahankan suasana tempo doeloe, termasuk kursi-meja di restoran, etalase tempat memajang roti, dan toples tempat menyimpan kue kering. Nuansa tempo doeloe ini diperkuat dengan keberadaan sebuah mesin kasir jadoel merk JVC yang masih menggunakan satuan florin-gulden.

Mesin Kasir Jadoel
 Di etalase, terlihat berbagai jenis roti dan camilan khas Belanda dari masa silam. Sebut saja bitterbalen, kaastengels, kattetong, janhagel,krentebrood, ananastaart, likeur bonbon, vruchten zandtaart, chocolade rotsjes, mocca truffel, dan bokkepoot doublet. "Sumber Hidangan" juga menjual suiker hagelslag atau gula tabur sebagai teman makan roti, dengan pilihan rasa sitrun, nanas, apel, vanila, frambozen, dan coklat. Agar pengalaman merasakan ke-jadoel-an di tempat ini semakin komplit, pesanlah salah satu camilan gaya Belanda tersebut, dan duduklah di kursi restoran Sumber Hidangan, sambil menatap Jalan Braga dan membayangkan suasana Parijs van Java di masa silam.

Seporsi Bitterbalen 

Saturday, January 24, 2015

Wisata Alam Jawa Tengah: Menyaksikan Candi Borobudur "Mengapung" Di Lautan Nirwana

Borobudur Nirwana Sunrise merupakan salah satu destinasi wisata alam di Jawa Tengah. Terletak di Dusun Kerahan, Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, destinasi wisata alam yang lebih dikenal dengan nama Punthuk Setumbu ini menawarkan panorama alam yang unik: mendakit bukit setinggi 400 meter untuk menyaksikan matahari terbit dari balik pasangan gunung Merapi-Merbabu, serta menyaksikan siluet Candi Borobudur yang terbalut kabut, sehingga terlihat seolah mengapung di lautan awan.

Spanduk Selamat Datang di Pintu Masuk Borobudur Nirwana Sunrise
Untuk mencapai Punthuk Setumbu, dari pertigaan pintu gerbang Kawasan Taman Wisata Borobudur, belok ke kiri. Setelah melewati gerbang Hotel Manohara, kurang lebih 200 meter kemudian terdapat perempatan, belok ke kanan mengikuti papan petunjuk ke arah Borobudur Nirwana Sunrise. Ikuti jalan desa yang beraspal kurang lebih 3-4 km, hingga bertemu pertigaan di Desa Karangrejo dan mengikuti petunjuk berbelok ke kanan. Ikuti petunjuk petugas, karena jalan menuju pintu masuk Punthuk Setumbu sempit dan menanjak. Petugas akan memandu Anda menuju tempat parkir.
Setelah tiba di gerbang masuk Punthuk Setumbu, wisatawan diwajibkan membeli tiket masuk. Untuk wisatawan domestic, biaya tiket sebesar Rp 15.000, sedangkan wisatawan mancanegara dikenakan biaya tiket Rp 30.000. Di loket juga terdapat petugas yang menyewakan senter sebagai penerangan untuk melewati jalan setapak sepanjang 300 meter menuju puncak bukit. Siapkan jaket untuk menahan hawa dingin pagi hari, serta kenakan sepatu untuk melakukan pendakian di jalan setapak yang sebagian masih berupa jalan tanah. Khususnya pada 100 meter terakhir, jalan cukup menanjak, sehingga Anda perlu menyiapkan stamina yang prima.

Para Fotografer di Punthuk Setumbu
Di puncak bukit terdapat pelataran sepanjang 200 meter yang merupakan spot tempat memandang matahari terbit. Usahakan untuk tiba di puncak bukit paling lambat pukul 5 pagi, agar Anda bisa menikmati pemandangan terbaik yang disajikan, serta bisa memilih tempat terbaik untuk memandangnya. Kurang lebih pukul 5.15, fajar mulai merekah di ufuk timur. Perlahan-lahan cahaya kuning Sang Surya mulai timbul dari balik gunung Merapi-Merbabu, menerangi pepohonan yang terletak kaki kedua gunung tersebut. Waktu terbaik untuk melihat panorama menakjubkan ini adalah antara bulan Mei-Juli, saat cuaca pada umumnya bersahabat, serta matahari terbit kurang lebih tepat di antara gunung Merapi dan Merbabu. Jika beruntung, Anda juga bisa menyaksikan ray of light dari sinar matahari yang menembus awan.


Siluet Borobudur Dilihat Dari Punthuk Setumbu, Seolah Mengapung Di Lautan Awan
Bersamaan dengan Sang Surya yang terbit dari balik Gunung Merapi, siluet Candi Borobudur, mahakarya kerajaan Mataram Kuno, terlihat semakin jelas. Terletak di arah kanan dari Gunung Merapi, siluet Candi Borobudur terlihat di antara rimbunan pohon dan kumpulan kabut dan awan, membuat Candi Borobudur tampak seperti mengapung di atas awan. Inikah yang disebut dengan nirwana, negeri di atas awan yang penuh kedamaian? Sambil menikmati momen menakjubkan ini, Anda bisa membayangkan diri Anda sebagai Raja Samaratungga dan Gunadarma sang arsitek yang berdiri di puncak bukit untuk mencari lokasi yang tepat bagi candi yang megah tersebut. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan momen-momen menakjubkan ini, karena momen lukisan alam ini hanya berlangsung tak lebih dari 1 jam setelah matahari terbit.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 1.


Tuesday, January 13, 2015

Ketika Rahwana Menjadi Tokoh Favorit

Kisah Ramayana karya Walmiki memang berasal dari India berabad-abad yang lalu, namun asimilasi dengan budaya lokal Indonesia telah membuat kisah ini ditampilkan dalam berbagai kreasi kesenian, salah satunya adalah deretan relief di sepanjang dinding Candi Prambanan, Yogyakarta. Relief yang terdapat di sepanjang dinding Candi Syiwa dan Candi Wisnu ini telah mengilhami terciptanya Sendratari Ramayana atau Ramayana Ballet. Sendratari Ramayana pertama kali dipentaskan di panggung terbuka Candi Prambanan, bertepatan dengan malam bulan purnama di bulan Juni 1961. Saat ini pertunjukan Ramayana Ballet dipentaskan secara teratur setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu di Teater Terbuka pada musim kemarau (antara bulan Mei sampai dengan Oktober), dan di Teater Trimurti yang tertutup pada musim hujan. Namun pada musim liburan, jadwal pertunjukan bisa ditambah dan dilaksanakan setiap hari.

Sabtu, 27 Desember 2014. Hari ini saya akan menonton Ramayana Ballet untuk ketiga kalinya. Ya, ini kali ketiga saya akan menonton sendratari ini. Pertama kali saya menonton Ramayana Ballet adalah pada tahun 2005 di Teater Trimurti, dan kedua kali saya menonton versi yang agak berbeda di Purawisata. Untuk pertunjukan kali ini, niat saya adalah ingin mempertajam ketrampilan saya memotret pertunjukan seni, dan setelah menonton 2 kali, saya yakin Ramayana Ballet tentunya merupakan obyek yang selalu menarik untuk diabadikan.

Satu kendala yang belum berhasil saya pecahkan adalah masalah transportasi ke venue pertunjukan di Candi Prambanan, karena kali ini saya menonton sendirian (berhubung teman seperjalanan saya kali ini lebih memilih menonton konser sebuah grup musik anak muda di tengah Kota Yogyakarta pada waktu yang bersamaan). Betul bahwa saat ini tersedia banyak taksi di Yogya yang bisa mengantar sampai Candi Prambanan, tapi kalau taksinya disuruh menunggu dan argonya tetap menyala, bisa-bisa ongkos transportnya lebih mahal daripada harga tiket pertunjukan Ramayana Ballet. Demikian juga dengan rental mobil, di Yogya hampir tidak ada rental mobil yang bersedia dipakai hanya untuk 3 jam dengan tarif yang masuk akal. Saya mencoba searching di “mbah Gugel”, dan akhirnya saya mendarat di website ini: www.bomanta.com. Pertama kali membaca, saya semula ingin menggunakan jasa rental kendaraan untuk 3 jam saja untuk mengantar saya ke Candi Prambanan, karena saya melihat tarif yang ditawarkan cukup wajar. Namun setelah saya baca lebih teliti, ternyata Bomanta.com juga punya jasa transportation sharing ke Ramayana Ballet Prambanan dengan tarif hanya Rp 50.000 per orang.  Inilah yang saya butuhkan!

Tanpa menunggu lebih lama, saya menghubungi nomor yang ada di website tersebut, dan dijawab seseorang yang mengaku bernama Pak Boma. Setelah saya menjelaskan bahwa saya mau menggunakan jasa transportation sharing ke Ramayana Ballet Prambanan, Pak Boma menjelaskan bagaimana prosedurnya, sekaligus memberi informasi tambahan bahwa saya juga bisa memesan langsung tiket pertunjukan Ramayana Ballet lewat Bomanta.com, dengan harga yang sama sesuai dengan harga resmi. Wah... ini benar-benar seperti sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Langsung saya mengirimkan alamat email via SMS untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Respon yang diberikan cukup cepat, saya dihubungi staf Bomanta.com bernama Rani, yang memberikan informasi lebih detail mengenai posisi tempat duduk di Ramayana Ballet. Setelah membaca informasi yang disampaikan via email, saya pun menutup transaksi dengan memesan 1 tiket Kelas 1 pertunjukan Ramayana Ballet beserta 1 seat untuk transportation sharing. Senangnya berurusan dengan Bomanta.com, timnya sangat komunikatif, bahkan setelah saya mentransfer pembayaran dan mendapat respon bahwa tiket dan sarana transportasi sudah dipesan, masih ada tanya jawab yang lebih detail mengenai jadwal penjemputan dan hal-hal terkait lainnya.

Saat Hari-H, waktu di arloji saya masih menunjukkan pukul 14.30. Tiba-tiba saya ditelpon Pak Bima dari Bomanta.com, yang menyampaikan akan menjemput saya untuk membawa saya ke tempat pemberangkatan transportation sharing di kawasan Pawirotaman, karena dia mengkuatirkan apabila saya dijemput di penginapan pada pukul 18.00 (sesuai janji awal), ada risiko saya (dan rombongan yang sharing transportasi) akan terlambat tiba di Prambanan, mengingat tingkat kemacetan Yogyakarta yang sangat parah di masa liburan, bahkan konon lebih parah daripada saat Hari Raya Idul Fitri. Well... saya tidak perlu menyangkal fakta bahwa saat itu Yogyakarta sangat macet, karena beberapa jam sebelumnya saya sempat mencicipi early traffic jam di Malioboro, padahal waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya saya memutuskan bahwa saya akan datang sendiri ke kawasan Pawirotaman dan menunggu di sana. Anyway, killing time is my middle name. Sebagai orang Jakarta yang sudah kenyang menghadapi macet, saya punya banyak cara untuk killing time. Dan mengingat saat itu tingkat kemacetan di Kota Yogyakarta (dan arah ke Prambanan) sangat parah, saya setuju dengan saran Pak Bima, lebih baik saya datang lebih cepat dan menunggu di tempat pemberangkatan di kawasan Pawirotaman. Better waiting than late, right?

Pukul 17.00 di tempat pemberangkatan transportasi ke Prambanan, akhirnya saya bertemu langsung dengan Pak Bima, yang saat itu mengantar dua orang wisman asal Amerika Serikat yang sama-sama akan menonton Ramayana Ballet. Sempat mengobrol sebentar dengan Pak Bima, yang mungkin penasaran kenapa saya bisa menemukan website Bomanta.com. Sayang saya ketemu website Bomanta.com baru-baru saja, coba sudah ketemu sebelum bulan Oktober yang lalu, pasti Bomanta sudah ikut diperkenalkan di buku Tourismpreneurship... Lima belas menit kemudian, transport yang kami gunakan berangkat ke arah Candi Prambanan. Dan setelah blusukan melewati jalan-jalan alternatif, akhirnya kami tiba di tempat pertunjukan 15 menit sebelum pertunjukan dimulai.

Sebelum masuk ke teater terbuka, di halaman depan tempat pertunjukan disajikan tarian singkat yang dibawakan 5 orang penari yang masih belia. Setelah itu penonton mulai memasuki teater terbuka dan duduk sesuai dengan tiket yang sudah dibeli sebelumnya. Karena bersamaan dengan musim libur, wisatawan domestik yang menonton ternyata cukup banyak, kurang lebih separuh dari kapasitas tempat duduk. Ketika saya duduk, terasa hawa di teater terbuka cukup dingin, agak tidak biasa dengan udara Yogya yang umumnya tidak terlalu dingin. Sesaat saya menatap langit, mendung masih menggantung di atas langit. Mudah-mudahan hujan tidak turun pada saat pertunjukan.

Tarian Pembuka di Halaman Depan Tempat Pertunjukan
Tepat pukul 19.30, pembawa acara membuka acara dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sebelum acara dimulai, mereka memberikan pengantar berupa sejarah kisah Ramayana, yang merupakan kisah dari mitologi Hindu. Tak lupa dijelaskan juga mengenai tokoh Sri Rama yang mewakili karakter baik, dan tokoh Rahwana yang mewakili karakter jahat. Pertunjukan kemudian dimulai dengan episode ketika Sri Rama memenangkan sayembara memanah dan mendapatkan Dewi Sinta. Ketika episode tersebut selesai, gerimis mulai mengguyur teater terbuka! Penonton mulai membuka payung yang dipinjamkan pengelola pertunjukan, dan pertunjukan terpaksa dihentikan, menunggu hujan reda. Setelah 15 menit kemudian, tak ada tanda-tanda hujan reda, sehingga dengan segala kerendahan hati pengelola pertunjukan meminta penonton agar rela pindah ke Teater Trimurti yang tertutup. Hahaha, sekali membeli tiket, bisa nonton di 2 tempat!

Pertunjukan di Panggung Terbuka (sebelum dihentikan akibat hujan)
Pemindahan penonton dari teater terbuka menuju Teater Trimurti yang kapasitasnya lebih kecil membuat penonton harus rela agak berdesak-desakan. Beruntung pengelola pertunjukan sangat sigap menyediakan kursi-kursi tambahan di deretan depan dan tangga teater. Saya kebagian tempat yang “kurang beruntung”, karena saya sebenarnya mengincar kursi depan, namun kebagian duduk di kursi deretan kedua, di belakang sepasang turis Jepang yang cukup tinggi, sehingga sempat menyulitkan saya untuk memotret ke arah panggung. Namun demikian, saya sempat mendapatkan beberapa foto unik hasil memotret dari balik kedua turis Jepang tersebut.

Hasil Memotret Dari Balik Kepala Penonton :)
Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan episode selanjutnya, yaitu Sinta Diculik, dan dilanjutkan dengan 5 episode berikutnya: Hanoman Duta, Hanoman Obong, Kumbokarno Gugur, Rahwana Gugur dan Sinta Obong. Kisah Ramayana yang dibawakan dalam 7 episode ini memang merupakan versi yang singkat dan padat. Karena dilangsungkan di Teater Trimurti, jumlah penari yang mendukung pertunjukan ini hanya 50 orang, tidak sebanyak di teater terbuka yang dapat didukung oleh 250 orang penari.

Rama dan Sinta, Tokoh Utama Ramayana Ballet
Sebagai sendratari (seni drama dan tari), cerita dalam Ramayana Ballet dibawakan melalui gerak tubuh dan ekspresi wajah, dan diiringi oleh musik gamelan secara live. Agar pertunjukan semakin menarik, ditambah berbagai efek pencahayaan dan asap untuk semakin mendramatisir cerita. Tidak kalah menarik, para penari juga menampilkan berbagai ketrampilan dan atraksi yang luar biasa, di antaranya pasukan kera yang berjungkir balik, serta adegan memanah yang ditampilkan secara nyata.

Salah Satu Ekspresi Rahwana
Walaupun di akhir cerita Sri Rama berhasil merebut kembali Dewi Sinta dari Rahwana dengan bantuan Hanoman dan pasukan kera, namun tokoh favorit penonton di pertunjukan kali ini adalah Rahwana. Ya, Rahwana, tokoh antagonis dalam kisah Ramayana yang pada umumnya dibawakan secara garang, telah merebut hati penonton melalui berbagai tingkahnya yang kocak. Seperti ketika Rahwana tengah dimabuk kasmaran dan mencoba merayu Dewi Sinta dengan segala kegenitannya, namun alih-alih yang ia rayu adalah Trijata, keponakannya sendiri. Demikian juga ketika adegan menangkap Hanoman, tiba-tiba Rahwana muncul di belakang kursi penonton sambil menggeram dan “mengancam” salah seorang penonton dengan senjata kerisnya. Kapan lagi bisa melihat Rahwana yang kocak seperti ini?