Saturday, July 16, 2022

Dan "Gatotkaca" pun Pensiun di Yogyakarta

Yogyakarta, kota dirgantara. Sejarah mencatat Yogyakarta merupakan tempat lahirnya TNI Angkatan Udara, menjadi kawah candradimuka para taruna TNI AU, dan menjadi “rumah” bagi pesawat-pesawat bersejarah yang menjadi bukti kemampuan para insinyur dirgantara kita. Rumah Pesawat inilah yang kita kenal sebagai Museum Dirgantara Mandala.

Saya selalu excited untuk kembali ke museum ini berulang kali, karena pesawat adalah cinta pertama saya pada teknologi. Dan kali ini, di tengah pandemi yang masih melanda, saya berkesempatan untuk kembali ke sini. Tujuan saya kali ini adalah menjenguk Gatotkaca, pesawat buatan anak bangsa yang sempat digadang-gadang menjadi penunjang jembatan udara Nusantara.di era 1990-an. Sama... tentu saja, menengok Kampret dan teman-temannya di hanggar Museum Dirgantara Mandala. Tampaknya saya perlu spill fakta menarik ini: Dirgantara Mandala adalah museum pesawat terbesar di Asia Tenggara, dengan koleksi lebih dari 50 pesawat dan berbagai alutsista lainnya.

Saat tiba di museum, ternyata ada perubahan alur pengunjung, seperti yang sudah diinfokan sebelumnya. Rupanya museum sedang melakukan penataan ulang koleksi. Baiklah, selama hanggar tidak ikut tutup, tidak masalah! Dengan perubahan pintu masuk menjadi menggunakan pintu samping, saya jadi sempat memperhatikan pesawat PBY-5A Catalina yang dipasang dekat deretan toko oleh-oleh. Pesawat patroli maritime ini merupakan pesawat amfibi yang paling banyak digunakan selama Perang Dunia II, dan saat ini masih digunakan untuk pemadaman kebakaran dari udara. Catalina buatan pabrik Douglas Amerika Serikat yang ada di museum ini digunakan TNI AU antara tahun 1950-1964 untuk memperkuat Skadron 5 Lanud Abdurrahman Saleh, dan digunakan dalam operasi penumpasan PRRI Permesta, operasi Trikora dan Dwikora.

Pesawat Amfibi PBY-5A Catalina 

Setelah saya masuk melalui ruang Kotama dan ruang mantan KSAU, saya bergegas menuju ruangan berikutnya: hanggar. Pesawat, I'm coming! Pesawat pertama yang saya cari, tentu saja si "Kampret". "Kampret" sebenarnya bukan pesawat, melainkan glider (pesawat peluncur) GX-001 buatan Sekolah Teknik Udara Perwira. Karena tidak memiliki roda, sang "Kampret" tidak dipajang di bawah bersama pesawat-pesawat lain, melainkan digantung di langit-langit. Dari caranya digantung, seolah-olah glider ini siap meluncur untuk terbang melewati koleksi pesawat di hanggar.

Glider GX-001 Kampret

Salah satu pesawat yang wajib dilihat adalah P-51 Mustang atau Si Cocor Merah. P-51 Mustang buatan Amerika merupakan pesawat buru sergap jarak jauh yang sangat handal selama PD II. Pesawat yang disimpan di museum beroperasi antara tahun 1950 sampai dengan 1969, dan pernah digunakan untuk operasi penumpasan DI/TII, PRRI/Permesta, Trikora, Dwikora, dan Operasi Trisula. 

P-51 Mustang "Si Cocor Merah"

Nama Cocor Merah berasal dari lukisan berbentuk mulut hiu menganga berwarna merah di hidung P-51. Lukisan ini bukan dibuat karena sekadar iseng. Dekorasi ini dikenal sebagai nose art, yang popular digunakan pesawat-pesawat militer sejak Perang Dunia I. Selain bertujuan untuk meningkatkan semangat tempur, lukisan ini juga menjadi sarana menyalurkan stress selama perang. Nose art yang paling popular adalah wajah ikan hiu, yang pertama kali muncul di pesawat-pesawat Jerman di Perang Dunia II. Namun wajah ikan hiu yang paling terkenal adalah yang dilukis oleh American Volunteer Group (AVG) di pesawat P-40B Flying Tiger pada bulan November 1941.

Selain Si Cocor Merah, museum juga memiliki pesawat lain yang memiliki lukisan mulut hiu, yaitu B-26 Invader. Pesawat pembom ringan buatan Amerika Serikat ini digunakan sejak tahun 1962 untuk operasi Trikora, Dwikora, Trisula, dan pada tahun 1976 digunakan memperkuat operasi Seroja sebelum di-grounded pada tahun 1977. 

B-26 Invader

Terdapat juga DH-115 Vampire, jet tempur buatan de Havilland Aircraft Company dari Inggris. Vampire merupakan jet tempur pertama yang diterbangkan di atas bumi Nusantara. TNI AU pernah memiliki 8 Vampire yang memperkuat Kesatuan Pancar Gas AURI yang (saat itu) bermarkas di Lanud Husein Sastranegara. Banyak pilot legendaris TNI AU yang pernah menerbangkan Vampire, di antaranya Rusmin Nurjadin, Leo Wattimena, Ignatius Dewanto, dan Supadio, 

DH-115 de Havilland Vampire

Di antara pesawat-pesawat tempur, tersimpan replika pesawat ringan berawak tunggal WEL-I RI-X. Pesawat pertama buatan anak bangsa ini dibuat Kapten Wiweko Soepono, tokoh perintis industri penerbangan Indonesia. Nama WEL merupakan singkatan dari Wiweko Experimental Lightplane. Pesawat ini terbang pertama kali pada tanggal 27 Oktober 1948 di pangkalan udara Maospati (sekarang Lanud Iswahyudi). Pesawat yang terpasang di museum merupakan replika, karena yang asli hancur ketika gerbong kereta api yang mengangkut pesawat ini terkena granat pemberontak PKI Madiun.

WEL-1 RI-X

Akhirnya, setelah menjenguk pesawat-pesawat dalam hangar, sampailah saya pada tujuan utama ke Dirgantara Mandala: Sang Gatotkaca. N250 Gatotkaca merupakan karya BJ Habibie, dengan cita-cita agar Indonesia mampu membuat pesawat sendiri. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat kondisi geografis Indonesia yang berbentuk negara kepulauan, akan lebih mudah jika terkoneksi melalui udara. Pesawat yang diproduksi IPTN ini digadang-gadang sebagai tonggak sejarah kejayaan kedirgantaraan Indonesia. Namun proyek N250 terpaksa harus berhenti bersamaan dengan krisis moneter tahun 1997. N250 akhirnya terparkir selama seperempat abad di sebuah sudut PTDI, sebelum akhirnya pindah rumah ke Museum Dirgantara Mandala di tahun 2020. Rasanya terharu akhirnya bisa melihat pesawat bersejarah ini dari dekat, setidaknya dia tidak berakhir menjadi besi tua yang tak jelas nasibnya. 

N250 Gatotkaca

Yang tak boleh dilewatkan adalah koleksi terbesar museum. Di halaman museum, di bawah naungan bangunan beratap, terdapat Tupolev Tu-16 buatan Rusia. Pada masanya, Tu-16 merupakan pesawat pembom strategis dengan teknologi paling canggih, serta memiliki kecepatan tinggi dan jarak jelajah yang jauh, membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling ditakuti di Asia Tenggara di era 1960-an. Konon ketika pesawat ini didatangkan ke Indonesia. agar dapat lepas landas dan mendarat dengan sempurna, landasan pacu Lanud Iswahyudi harus diperpanjang terlebih dahulu. Tu-16 merupakan bagian dari Skadron 42 yang bermarkas di Lanud Iswahyudi, dan pernah terlibat aktif dalam operasi Trikora dan Dwikora. 

Pembom Strategis Tupolev Tu-16

Di seberang Tu-16, terlihat Lockheed C-130 Hercules generasi pertama yang digunakan TNI AU. C-130 pertama kali dibuat tahun 1954, dan telah menjalani berbagai misi militer dan sipil. Kemungkinan besar C-130 di museum ini merupakan salah satu dari10 Hercules yang menjadi embrio lahirnya Skadron Angkut Berat Jarak Jauh TNI AU di era 1960 awal. Keberadaan Hercules di Indonesia memiliki kisah yang menarik, karena Indonesia merupakan negara pertama pengguna Hercules di luar Amerika Serikat. Generasi pertama Hercules di Indonesia merupakan “hadiah” pemerintah Amerika Serikat atas penukaran tawanan pilot CIA Allen Pope yang terlibat membantu pemberontakan Permesta di Sulawesi pada tahun 1958. Diduga pesawat B-26 Pope ditembak jatuh oleh P-51 Mustang TNI AU yang dipiloti Kapten Ignatius Dewanto.

C-130 Hercules generasi pertama

Koleksi pesawat yang ada di hanggar Museum Dirgantara Mandala dapat bercerita mengenai kiprah TNI AU dalam menjaga kedaulatan bangsa kita di udara. Rasanya ingin menceritakan satu per satu kisah di balik masing-masing pesawat. Semoga pesawat-pesawat ini bukan sekadar pajangan mengenang kejayaan masa lalu, tetapi bisa menjadi motivasi generasi penerus untuk senantiasa menjaga kedaulatan bangsa kita di dirgantara.

Saturday, October 2, 2021

Membangkitkan Kembali Batik Wonopringgo

Wonopringgo adalah nama salah satu kecamatan di Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah, kurang lebih di sebelah selatan Kota Pekalongan, yang merupakan salah satu cikal bakal industri batik Pekalongan yang berkembang sekitar abad ke-19. Kala itu industri batik di Wonopringgo demikian pesat, hingga buruh-buruh pabrik gula di Wonopringgo lari ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih baik daripada pabrik gula. Namun hari ini, hampir tak ada pembatik yang tersisa di Wonopringgo, karena sebagian besar dari mereka (kembali) beralih profesi untuk mencari penghidupan yang lebih baik.


Dalam sebuah kunjungan saya ke Pekalongan bersama komunitas penggemar batik, kami singgah di tempat pak Faleh yang berusaha menghidupkan kembali motif-motif khas Batik Wonopringgo. Di rumahnya yang sederhana di Desa Gondang, Kecamatan Wonopringgo, pak Faleh menerima kami dengan ramah. Beliau menunjukkan berbagai jenis batik Wonopringgo. Secara umum, batik dari Wonopringgo memiliki ciri khas yang berbeda dengan batik Pekalongan yang pada umumnya memiliki warna cerah dengan motif buketan halus. Jenis batik Wonopringgo pada dasarnya dapat dibagi dua jenis. Jenis yang pertama adalah batik katun prima dengan motif besar-besar dan warna yang tegas, seperti biru tua, hijau, coklat, merah marun, dan merah darah. Sekilas batik Wonopringgo jenis pertama ini lebih mirip batik Madura. Sedangkan jenis yang kedua adalah batik katun primissima dengan motif yang lebih halus dan warna yang mirip dengan batik 3 negeri (biru, putih, dan sogan), namun dengan tambahan warna hijau.

Ketika melihat-lihat batik di rumah Pak Faleh, saya melihat sebuah batik yang unik digantung di dinding. Rupanya batik unik ini merupakan hasil eksperimen pak Faleh yang memadukan antara motif batik Pesisiran (gaya Pekalongan) dengan batik Pedalaman (gaya Solo-Yogya) dalam sehelai kain, menggunakan konsep Pagi-Sore. Beliau memadukan motif buket (bunga-bunga) dan liong (naga) yang menjadi ciri batik Pesisiran, dengan motif Parang yang merupakan ciri motif batik Pedalaman. Saya pun meminta ijin pada pak Faleh untuk memotret batik tersebut, sebagai kenang-kenangan kunjungan kami ke rumah pak Faleh. Sungguh merupakan suatu kebanggaan jika karya-karya budaya masa silam dapat dibangkitkan kembali, sekaligus melahirkan kreasi-kreasi baru yang semakin memperkaya budaya negeri kita.


(artikel pernah diposting di www.adirafacesofindonesia.com tanggal 19 Maret 2013)


Sunday, November 15, 2020

Kembalinya Pamor Sang Pangeran

Magelang, 28 Maret 1830. Bertepatan dengan Lebaran hari kedua. Namun suasana di rumah residen Kedu terlhat penuh ketegangan. Hari itu, Pangeran Diponegoro ditangkap tentara Hindia Belanda, menandai berhentinya Perang Jawa yang telah berlangsung selama 5 tahun. Terlihat Hendrik Merkus Baron De Kock, Panglima Besar Hindia Belanda, tersenyum penuh muslihat. Sebaliknya, ekspresi Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya memancarkan kemarahan. 

Poster Pameran di Dinding Gedung Arca
Peristiwa ini merupakan salah satu episode yang diceritakan dalam sesi dongeng yang mengawali kunjungan saya di Pameran “Pamor Sang Pangeran” pada tanggal 13 November 2020 yang lalu. Pameran yang dilaksanakan antara tanggal 31 Oktober sampai dengan 26 November 2020 di Museum Nasional Indonesia ini sangat sayang untuk dilewatkan. Semula pandemik Covid membuat saya ragu-ragu untuk hadir. Namun setelah melihat aturan bahwa ada pembatasan jam kunjungan, pembatasan jumlah pengunjung dalam setiap sesi, serta calon pengunjung pameran harus mendaftar terlebih dahulu, akhirnya saya memutuskan untuk hadir.

Yang membuat pameran ini menarik adalah sosok Pangeran Diponegoro ditampilkan dalam media yang kekinian. Dalam setiap sesi kunjungan, pengunjung akan diajak mendengarkan dongeng kisah Pangeran Diponegoro. Dongeng tidak sekadar disampaikan secara lisan, namun menggunakan teknologi video mapping yang ditembakkan pada layar yang dibentuk menggunakan buku lipat. Karakter sang pangeran juga ditampilkan dengan gaya manga Jepang yang sangat kekinian.

Pendongeng Menceritakan Kisah Pangeran Diponegoro
Setelah dongeng selesai, pengunjung pameran dipersilakan melihat koleksi pusaka Pangeran Diponegoro. Sehari-hari, beberapa pusaka tersebut disimpan di museum, dan pengunjung tidak diperkenankan mengambil gambar. Namun hari ini, pusaka-pusaka tersebut dipamerkan kepada publik. Pusaka-pusaka ditampilkan dalam kotak kaca, yang dikelilingi racikan daun pandan dan bunga melati, sehingga menyebarkan aroma yang wangi. Suasana mistis dalam ruang pameran yang remang-remang ini ditambah dengan alunan Kidung Sunan Kalijaga yang menceritakan tentang ketabahan dalam menghadapi cobaan dan bagaimana menghalau segala hal negatif. Hal ini membuat saya mencoba membayangkan kembali seperti apa perasaan Sang Pangeran ketika mempertahankan haknya di Perang Jawa.


Kanjeng Kiai Rondhan

Setiap pusaka memiliki kisahnya masing-masing. Seperti tombak Kanjeng Kiai Rondhan yang dipercaya memberikan perlindungan dan peringatan (wangsit). Tombak ini tertinggal saat penyergapan tentara Belanda di pegunungan Gowong, tahun 1829. Setelah dipersembahkan kepada Raja Willem I, Kanjeng Kiai Rondhan disimpan di Museum Veteran Tentara Belanda di Bronbeek, Arnhem. Tahun 1977, tombak Kiai Rondhan dikembalikan kepada pemerintah Indonesia. 

Pelana Kanjeng Kiai Gentayu

Saat tinggal di Puri Tegalrejo, Pangeran Diponegoro memiliki banyak kuda. Di antaranya adalah Kanjeng Kiai Gentayu, kuda kesayangan Diponegoro, yang sering disebut sebagai pusaka yang hidup (living legacy). Kiai Gentayu digambarkan sebagai kuda berwarna hitam yang tinggi besar, dengan kaki berwarna putih. Pameran ini “menghidupkan” kembali Kanjeng Kiai Gentayu dalam bentuk hologram, agar kita bisa membayangkan seperti apa bentuk fisiknya di masa lalu. Pelana Kiai Gentayu termasuk dalam pusaka yang tertinggal saat penyergapan tentara Belanda di pegunungan Gowong, tahun 1829. Bersama tombak Kanjeng Kiai Rondhan, pelana Kiai Gentayu dipersembahkan kepada Raja Willem I, dan baru dikembalikan kepada pemerintah Indonesia pada tahun 1977.

Babad Diponegoro

Koleksi yang tak kalah istimewa adalah kitab Babad Diponegoro, yang merupakan otobiografi sang pangeran yang ditulis saat pengasingan di Manado. Kitab ini ditulis dengan aksara Arab pegon berbahasa Jawa, terdiri dari 1151 halaman. Syair dalam Babad Diponegoro berawal dari zaman Majapahit, masa Mataram Islam, hingga menceritakan Perang Jawa secara rinci dari sudut pandang Pangeran Diponegoro. Pada 21 Juni 2013, Babad Diponegoro telah ditetapkan sebagai Memory of The World (warisan dokumenter dunia) oleh UNESCO.

Namun primadona dari pameran ini adalah keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman. Pusaka ini sangat istimewa, karena memiliki kisah yang sangat berliku. Kiai Nogo Siluman diserahkan Diponegoro pada awal tahun 1830 kepada Kolonel Jan-Baptist Cleerens, perwakilan tentara Hindia Belanda, sebagai tanda kepercayaan Diponegoro yang disertai janji jika perundingan tidak memberikan hasil sesuai keinginan Diponegoro, maka Diponegoro dan pasukannya diperkenankan kembali ke pegunungan Bagelen tanpa cedera. Namun ternyata Cleerens ingkar janji, dan pada 28 Maret 1830 Diponegoro ditangkap.

Keris Kiai Nogo Siluman kemudian dipersembahkan kepada Raja Belanda Willem I pada tahun 1831 sebagai rampasan perang, dan kemudian disimpan di koleksi khusus Kabinet Kerajaan Belanda. Tahun 1883, koleksi khusus ini dibubarkan, dan Keris Kiai Nogo Siluman diserahkan kepada Museum Volkenkunde di Leiden. Setelah itu, keris ini sempat dinyatakan hilang selama 150 tahun. Namun setelah melalui pencarian yang cukup lama dan berliku sejak tahun 1983, akhirnya pada 3 Maret 2020 Kanjeng Kiai Naga Siluman dikembalikan Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia melalui Menteri Kebudayaan Belanda Ingrid van Engelshoven, dan diserahkan kepada Duta Besar Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja di Den Haag.

Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman
Dan hari ini, saya berdiri di depan keris tersebut. Keris dan sarungnya diletakkan di dalam sebuah kotak kaca, di ruangan yang terpisah dari pusaka yang lain. Keris Kiai Nogo Siluman terbuat dari besi berwarna hitam, dan memiliki sebelas luk. Gandik atau pangkal keris berbentuk kepala naga berwarna emas, dan terdapat badan naga memanjang mengikuti bilah keris. Paduan warna emas dan hitam disertai tatahan yang sangat detail membuat keris ini terlihat sangat gagah. Ditambah sarung keris yang bergaya branggah, yang walaupun sederhana tanpa banyak hiasan, namun secara keseluruhan semakin menonjolkan kemegahan keris tersebut.

Rasanya berat untuk mengakhiri kunjungan di pameran kali ini, selain mengingat bahwa ada batas waktu kunjungan maksimal 1 jam di setiap sesi. Sambil menatap keris Kiai Nogo Siluman sekali lagi sebelum meninggalkan ruang pameran, saya membayangkan mungkin masih banyak pusaka Pangeran Diponegoro – atau pusaka dari pahlawan-pahlawan kita yang lain -- yang belum kita ketahui dan kita temukan. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab. Adalah tugas kita sebagai penerus bangsa untuk bisa menjaga dan merawat pusaka-pusaka ini, untuk mempertebal rasa nasionalisme kita.

Tuesday, September 29, 2020

Misteri Sang Arjuna di Dataran Tinggi Dieng

Hari ini, 29 September 2020. Masih segar dalam ingatan saya, tepat 2 tahun yang lalu saya dan beberapa teman menikmati cuaca cerah di Dataran Tinggi Dieng. Sore itu kami baru saja turun dari mobil untuk meluruskan kaki, setelah perjalanan dari Kawah Sikidang. Di depan mobil, terlihat bangunan bertuliskan Pendopo Soeharto-Whitlam. Walau penasaran mengenai informasi terkait bangunan bersejarah tersebut, namun saya tak punya waktu untuk berlama-lama di sini. Kaki saya langsung mengikuti rombongan, menuju jalan setapak yang mengarah pada Kompleks Candi Arjuna.

Sambil melangkah cepat, saya mencoba menggali apa yang pernah saya baca tentang candi-candi di Dieng. Ternyata tidak banyak, selain saya diingatkan kembali tentang asal nama Dieng. Konon “Dieng” berasal dari kata dihyang, yang bermakna tempat para leluhur atau dewa. Dalam kepercayaan Hindu Kuno, dewa bertempat tinggal di tempat yang tinggi, yang melambangkan puncak Mahameru. Bisa jadi di masa lalu dataran tinggi ini diberi nama “Dieng”, karena dianggap sebagai tempat sakral yang mempertemukan antara manusia dan hyang atau dewa. Untuk itulah didirikan candi-candi yang menjadi tempat pemujaan kepada dewa.

Situs Candi Arjuna (foto koleksi pribadi)

Setibanya kami di Kompleks Candi Arjuna, baru saya bisa melihat secara jelas sosok salah satu cagar budaya kebanggaan Dieng. Bentuk candi di tempat ini sangat mirip dengan candi-candi di Gedong Songo. Dari sinilah para ahli menyimpulkan bahwa Kompleks Candi Arjuna didirikan pada masa yang sama dengan candi Gedong Songo, di antara abad ke-7 hingga abad ke-9, pada masa pemerintahan Wangsa Sanjaya. Para ahli juga memperkirakan candi-candi ini merupakan bangunan keagamaan tertua di Jawa Tengah. Namun, kapan persisnya dan alasan candi-candi ini didirikan, masih menjadi misteri. Prasasti-prasasti yang ditemukan di Dieng pun tidak ada yang secara tegas menjelaskan mengenai tahun pendirian candi atau alasan pendirian candi.

Sambil berkeliling melihat bangunan candi, sebuah pertanyaan timbul di benak saya: mengapa candi-candi di Dieng diberi nama seperti nama wayang? Kemungkinan besar nama-nama ini diberikan oleh penduduk setempat di abad ke-19, setelah candi-candi ini ditemukan pada tahun 1814 oleh Letnan H.C. Cornelius dan Captain Godfrey Phipps Baker, dalam sebuah ekspedisi arkeologi atas perintah dari Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Hindia Belanda pada masa itu. Dalam sketsa yang dibuat oleh Cornelius dan Baker, mereka tidak menyebutkan nama candi-candi tersebut, hanya menyebut sebagai “Candi Bramin”. Nampaknya nama-nama ini berasal dari imajinasi penduduk setempat berdasarkan bentuk candi yang mereka lihat. Seperti nama “Arjuna” diberikan pada candi yang terlihat paling gagah. Sedangkan nama “Semar” diberikan pada candi yang pendek dan melebar di depan Candi Arjuna, seolah mengikuti “Sang Arjuna” sebagai punakawan.

Candi Arjuna dan Candi Semar (foto koleksi pribadi)

Kompleks Candi Arjuna merupakan kompleks candi Dieng yang pertama ditemukan pada tahun 1814, dengan jumlah bangunan terbanyak dan dalam kondisi yang relatif utuh. Saat itu lahan yang ditempati Kompleks Candi Arjuna tergenang membentuk danau kecil. Penyelamatan candi-candi Dieng dilakukan sejak tahun 1856 ketika seorang fotografer arkeologi bernama Isidore van Kinsbergen memimpin upaya pengeringan danau dengan tujuan memotret candi-candi tersebut dengan lebih jelas. Setelah itu dilakukan upaya pemugaran dan penelitian, yang diteruskan hingga hari ini.

Kompleks Candi Arjuna terdiri dari 5 bangunan candi. Membentang dari utara ke selatan, tersebar candi-candi yang berbentuk untuk pemujaan, seperti Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Di depan Candi Arjuna terdapat Candi Semar, candi sarana yang kemungkinan digunakan sebagai tempat menyimpan sarana upacara. Dari bentuk candi-candi tersebut, sangat logis jika para ahli menyimpulkan tempat ini merupakan pusat kegiatan relijius. Hal ini didukung oleh isi Prasasti Kuti berangka tahun 809 M yang ditemukan di dekat Candi Arjuna, yang menyebutkan bahwa Gunung Dihyang merupakan pusat kegiatan religious.

Candi Srikandi dan Candi Puntadewa (foto koleksi pribadi)

Saya mendekat ke bangunan candi, untuk melihat lebih dekat seperti apa detail dari candi tersebut. Dari kelima candi yang ada di kompleks ini, terlihat Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, dan Candi Puntadewa berdiri dengan utuh, sedangkan Candi Sembadra dalam proses pemugaran. Namun hanya Candi Arjuna dan Candi Semar yang dapat dimasuki wisatawan. Sekilas bentuknya memang tipikal candi-candi Hindu dari Jawa bagian utara: candi tunggal dengan ukuran kecil dan memiliki ornamen sederhana. Hal ini sangat kontras dengan candi-candi di Jawa bagian Selatan yang berukuran besar dan kaya dekorasi, seperti Candi Prambanan.

Perbedaan gaya ornamen Kala yang terletak di atas pintu candi menunjukkan perbedaan masa pembangunan keempat candi tersebut. Dari gaya ornamen Kala, diduga Candi Arjuna dan Candi Semar merupakan candi yang dibangun pertama kali, antara tahun 760-812 M. Di masa berikutnya antara tahun 812-928 M, dibangun Candi Puntadewa. Sedangkan Candi Sembadra dan Candi Srikandi diperkirakan dibangun setelah tahun 928 M. Ini dipertegas dengan gaya arsitektur keempat candi yang sedikit berbeda satu dengan yang lain. Jika Candi Arjuna dipengaruhi gaya candi India yang memiliki relung yang menjorok ke dalam, candi-candi pemujaan lainnya justru memiliki lebih banyak pengaruh budaya lokal dengan relung yang menjorok keluar.

Yoni di Candi Arjuna (foto koleksi pribadi) 

Jaladwara di Dinding Utara Candi Arjuna (foto koleksi pribadi)

Saya mencoba masuk ke Candi Arjuna, walaupun tidak bisa berlama-lama karena berebutan dengan wisatawan lain. Di dalam ruangan candi terlihat yoni berukuran sedang. Yoni merupakan bagian dari upacara suci, di mana biasanya digunakan berpasangan dengan lingga. Lingga dan yoni biasanya merupakan lambang kesuburan. Dalam upacara, air dituangkan di atas lingga, yang akan mengalir ke yoni. Dari yoni air mengalir ke luar candi melalui saluran air dengan ornamen jaladwara, untuk diterima umat di luar. Di Candi Arjuna, jaladwara tersebut terpasang di dinding utara candi, tepat di bawah relung.

Sebuah info menyebutkan bahwa jumlah candi yang tersebar di kawasan ini diperkirakan berjumlah 400 buah. Saat ini hanya tersisa 8 bangunan yang tersebar dalam 4 kelompok. Seperti candi-candi di daerah lain, kemungkinan candi-candi lain rusak akibat bencana alam, aus karena cuaca, dijarah pencuri, atau terkena gusur karena perluasan pemukiman. Namun di Dieng ada faktor lain yang membuat candi-candi ini lebih cepat rusak, yaitu karena adanya uap solfatara dari kawah Sikidang yang bersifat korosif. Untuk itu perlu dipikirkan bagaimana melindungi candi-candi yang sudah dipugar agar tidak cepat rusak termakan cuaca dan uap solfatara.


Para Seniman Berpakaian Wayang di Candi Arjuna
(foto koleksi pribadi)

Setelah selesai dipugar pada tahun 2008, Kompleks Candi Arjuna resmi ditetapkan sebagai cagar budaya, sesuai dengan UU RI No. 11 tahun 2010. Hal ini menandakan pemerintah menyadari bahwa Situs Candi Arjuna memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, agama dan kebudayaan, sehingga wajib untuk dilestarikan. Agar cagar budaya dalam bentuk situs ini juga berfungsi untuk melindungi warisan budaya lainnya, Dinas Pariwisata Banjarnegara dan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) memanfaatkan Situs Candi Arjuna sebagai venue acara budaya tahunan Dieng Culture Festival sejak tahun 2010. Berbagai acara dilaksanakan di tempat ini, termasuk tradisi Ruwatan Rambut Gimbal, serta ibadah Galungan bagi umat Hindu.

Saya dan Rekan-Rekan Seperjalanan (foto koleksi pribadi)

Sayang sekali, karena hari sudah sore, dan kami sudah letih setelah paginya mengejar matahari terbit di Posong, kami tak sempat melihat candi-candi lain. Dalam perjalanan kembali ke Temanggung, terlihat sosok Candi Bima yang berdiri dengan gagah, seolah memanggil kami untuk singgah. Sabar ya, setelah pandemi ini berakhir, saya akan kembali untuk menemui kalian...

Monday, August 17, 2020

Jejak Sang Pangeran di Balai Kota Batavia

 “Aku melihatnya turun di Batavia dari kapal uap yang telah membawanya dari Semarang. Kereta gubernur dan para ajudan berada di dermaga untuk menyambutnya. Dengan kereta itulah ia diangkut ke penjara, tempat ia diasingkan, tak ada yang tahu letaknya di mana, dan sejak itu tak terdengar lagi kabar beritanya.”

George Frank Davidson menjadi saksi ketika Pangeran Diponegoro tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal 8 April 1830 menggunakan kapal uap SS Van Der Capellen yang dinahkodai oleh kakak Davidson, pasca peristiwa penangkapan oleh Jendral Hendrik Merkus Baron De Kock pada tanggal 28 Maret 1830 di Magelang. Bertolak belakang dengan catatan Davidson yang menyatakan tak ada yang tahu di mana lokasi tempat Pangeran Diponegoro diasingkan, sejarah mencatat Pangeran Diponegoro diasingkan di Stadhuis Batavia (sekarang Museum Sejarah Jakarta), di sebuah kamar yang berada di atas penjara wanita. Tidak heran Davidson tidak mengetahui di mana lokasi pengasingan Pangeran Diponegoro di Batavia, karena peristiwa kedatangan Pangeran Diponegoro di Batavia tidak diberitakan sama sekali dalam Javasche Courant (Lembaran Negara) dan koran-koran lainnya.

Suasana di kamar yang digunakan Pangeran Diponegoro

Kamar yang digunakan oleh Pangeran Diponegoro sebenarnya merupakan kamar pribadi kepala penjara Batavia, yang difungsikan sebagai kamar sementara jika ada tahanan politik yang berstatus tinggi. Seperti kita ketahui, beberapa pahlawan nasional kita juga pernah mendekam di penjara Stadhuis Batavia,  seperti Untung Suropati, Kyai Maja, dan Tjoet Nyak Dien. Namun Pangeran Diponegoro merupakan tahanan politik berstatus tinggi yang disegani oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga beliau tidak menempati penjara bawah tanah Stadhuis Batavia.

Di kamar ini Pangeran Diponegoro tinggal bersama istrinya Raden Ayu Retnoningsih, adiknya Raden Ayu Dipowiyono, iparnya Raden Tumenggung Dipowiyono, serta 16 abdi yang terdiri dari punakawan, pelayan, dan koki. Mereka menghabiskan waktu 26 hari di kamar ini, sebelum pada 30 April 1830 Gubernur Jendral Johannes Graaf Van den Bosch mengeluarkan besluit (surat keputusan) mengenai pengasingan seumur hidup Diponegoro di Sulawesi Utara. Bagi Pangeran Diponegoro, perjalanan meninggalkan Tanah Jawa menuju tempat pengasingan di Sulawesi ini mengakhiri tiga “tsunami” besar dalam kehidupannya. Tsunami pertama adalah pada tahun 1793, ketika Diponegoro keluar dari Keraton Yogyakarta dan diasuh oleh nenek buyutnya. Tsunami kedua adalah pada 20 Juli 1825, ketika kediamannya di Tegalrejo diserbu tentara Hindia Belanda. Sedangkan tsunami ketiga adalah pada 28 Maret 1830 ketika Diponegoro dikhianati dan ditangkap di Magelang.

Lukisan Kuilkorvet Pollux

Tanggal 3 Mei 1830, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya bertolak dengan Kuilkorvet Pollux menuju Manado. Setelah tiga tahun menjalani masa pengasingannya di Fort Nieuw Amsterdam, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya dipindahkan ke Fort Rotterdam Makassar, hingga akhir hayatnya pada 8 Januari 1855. Pangeran Diponegoro dimakamkan di Kampung Melayu, Makassar, di dekat makam putra keduanya, Raden Mas Sarkumo.

Sejak tahun 2018, kamar tempat pengasingan Pangeran Diponegoro tersebut ditata dengan koleksi terkait peristiwa tersebut, dan mulai tanggal 1 April 2019 kamar tersebut dibuka untuk umum. Koleksi ruangan ini ditata dengan dibantu oleh Sejarawan Peter Carey sebagai kurator. Untuk berkunjung ke Ruang Diponegoro, pengunjung harus melepas alas kaki dan menggantinya dengan sandal yang sudah disiapkan, serta jumlahnya dibatasi maksimum 20 orang dalam satu waktu. Hal ini untuk menjaga agar lantai kayu ruangan tersebut lebih awet.


Lukisan Diponegoro 

Saat menaiki tangga menuju Ruang Diponegoro, koleksi pertama yang ditemui adalah foto lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh, yang dibuat pada tahun 1857. Lukisan yang asli merupakan koleksi Istana Kepresidenan RI. Raden Saleh membuat lukisan ini setelah mendapat inspirasi dari lukisan kejadian serupa karya Pieneman dengan judul “De onderwerping van Diepo Negoro aan Luitenant-Generaal De Kock, 28 Maart 1830” (penyerahan diri Dipo Negoro kepada Letnan Jendral De Kock, 28 Maret 1830). Lukisan Pieneman ini semula dimiliki ahli waris De Kock, yang kemudian diserahkan kepada Rijksmuseum di Amsterdam.

Replika lukisan "Penangkapan Pangeran Diponegoro"

Dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang dibuat Raden Saleh, digambarkan ekspresi Pangeran Diponegoro yang sangat marah, dipertegas dengan tangan kiri yang mengepal. Di belakang Sang Pangeran, istri beliau Raden Retnaningsih terlihat menangis. Jika diperhatikan, sosok orang-orang Belanda yang ada di lukisan tersebut digambarkan memiliki kepala lebih besar dibandingkan badannya. Hal ini seolah menggambarkan mereka sebagai monster yang licik. Yang menarik, di dalam lukisannya Raden Saleh selalu menyelipkan sosok dirinya. Jika ingin tahu seperti apa wajah Raden Saleh, cari saja tiga orang anggota pasukan Belanda yang berblangkon dengan wajah yang sama, itulah wajah Raden Saleh.

Lukisan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam

Selain lukisan karya Raden Saleh yang terkenal, di ruangan ini juga terpasang foto lukisan khayali berwarna yang menggambarkan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam sedang membaca teks tentang ilmu mistik Islam (tasawuf) didampingi istri beliau Raden Ayu Retnoningsih, putri bupati Keniten (Madiun) dan seorang putra – disebut Pangeran “Ali Basah” – yang sedang melihat bayangan mahluk halus atau sedang ditegur punakawan Diponegoro, Banteng Wareng, seorang bertubuh pendek, yang bertindak sebagai tutor untuk anak Diponegoro yang lahir si Sulawesi. Lukisan ini merupakan koleksi Snouck Hurgronje, dan foto yang dipamerkan di ruangan ini berasal dari Leiden Codex Orientalis 7398 atas ijin Universitetsbibliotheek Leiden.


Aktivitas Pangeran Diponegoro di Batavia

Kamar yang digunakan Pangeran Diponegoro tidak memiliki banyak jendela, dan jendela yang ada hanya mengarah ke stadhuisplein. Dapat dibayangkan saat itu Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya hanya bisa melihat aktivitas yang terjadi di halaman depan balai kota Batavia. Konon selama di Batavia, Pangeran Diponegoro beraktivitas sambil mengunyah sirih dan minum jamu (temu lawak dan beras kencur), untuk mengatasi penyakit malaria yang dideritanya. 

Satu-satunya jendela di kamar dengan pemandangan ke stadhuisplein

Kamar ini dilengkapi dengan dipan kayu berhias kelambu, 1 set meja kerja, dan beberapa pusaka yang pernah dibawa Sang Pangeran. Benda-benda ini bukan merupakan perabot asli, hanya merupakan replika untuk menggambarkan situasi pada saat Pangeran Diponegoro mendiami kamar ini. Dapat dibayangkan ketika Pangeran Diponegoro duduk di meja kerja di ruangan ini, untuk menulis surat kepada keluarga dekatnya. Surat pertama ditujukan kepada ibunda beliau, Raden Ayu Mangkorowati, yang meminta agar ibunda beliau tidak khawatir kepada nasibnya. Sedangkan surat kedua ditujukan kepada putra sulung beliau, Pangeran Diponegoro Muda, yang berisi pesan untuk menjaga adik-adiknya.

Kehadiran Pangeran Diponegoro di Batavia diabadikan dalam sketsa pensil oleh Hakim Batavia Adrianus Johannes Bik, yang bertugas mengawasi Pangeran Diponegoro selama berada di Batavia. Bik minta ijin untuk melukis Diponegoro di sela-sela masa penahanan beliau, tak lama sebelum Diponegoro berangkat menuju Sulawesi. Bik sendiri memiliki keahlian sebagai pelukis piring porselen di Belanda, sebelum merantau ke Hindia Belanda pada tahun 1821.

Atas: foto Adrianus Johannes Bik
Bawah: lukisan Diponegoro karya Bik

Bik mencitrakan Diponegoro sebagai ulama sekaligus panglima perang. Diponegoro digambarkan mengenakan pakaian ulama selama Perang Jawa, yaitu sorban, baju koko tanpa kerah, dan jubah. Di bahu kanannya tersampir selempang, serta terselip keris pusaka Kanjeng Kiai Ageng Bondoyudo Sripaduka Petarung Tanpa Senjata pada ikat punggang yang terbuat dari bahan sutra. Diponegoro sendiri digambarkan memiliki pipi cekung akibat serangan malaria yang diperoleh saat bergerilya di daerah Bagelen dan Banyuurip pada akhir masa Perang Jawa. Lukisan ini sangat hidup sekali. Setelah Bik wafat di Amsterdam pada tahun 1872, lukisan ini dihibahkan keponakannya ke Rijkmuseum.