Friday, March 28, 2025

Napak Tilas Kereta Api BOS

Panasnya kawasan kota tua di tengah bulan Ramadhan tahun 2025 tidak menyurutkan para peserta Pelesiran Tempo Doeloe Sahabat Museum yang sudah berniat ngabuburit dengan napak tilas jalur kereta yang di jaman baheula dikelola oleh BOS. Tapi omong-omong, siapa si BOS ini?

Rombongan PTD Sahabat Museum

BOS adalah Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menguasai jalur kereta api sepanjang 63 km yang menghubungkan Batavia dengan Krawang via Meester Cornelis dan Bekasi. Singkatan namanya sebenarnya BOS atau BOSM, namun lidah penduduk lokal mungkin menyebutnya sebagai Be-OS, sehingga lama-lama masyarakat menyebutnya sebagai BEOS.

Fasad Stasiun Jakarta Kota (Stasiun BEOS) sebelum pandemi

Napak tilas hari ini dimulai di Stasiun Jakarta Kota, yang sering disebut sebagai Stasiun BEOS. Sebenarnya nama ini salah kaprah, karena Stasiun Jakarta Kota (atau nama aslinya Stasiun Benedenstad) yang kita kenal saat ini bukan milik BOS, melainkan dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS). Stasiun BEOS yang asli adalah Stasiun Batavia Zud, yang saat ini sudah dibongkar. Stasiun Jakarta Kota merupakan titik nol jalur kereta api di Pulau Jawa (kita bisa melihat pal titik nol-nya di Jalur 7), dan bertipe stasiun terminus (ujung) yang tidak memiliki jalur lanjutan lagi. Cirinya adalah adanya stopper atau sepur baduk di ujung rel.

Pal Titik Nol Km Rel Kereta Api di Jalur 7

Bangunan stasiun Jakarta Kota merupakan rancangan arsitek Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels. Ghijsels mendesain bangunan stasiun dengan gaya art deco, yang walaupun sederhana, memiliki cita rasa tinggi. Konon, Stasiun Jakarta Kota merupakan salah satu karya terbaik Ghijsels. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dalam bentuk pesta satu hari satu malam. Di jaman pendudukan Jepang, semua nama yang berbau-bau Jepang diganti, sehingga stasiun ini berganti nama menjadi Stasiun Djakarta.

Hall Stasiun Jakarta Kota dengan ciri khas lengkung Art Deco

Salah satu benda yang menarik perhatian di Stasiun Jakarta Kota adalah sebuah jam kuno di tengah peron. Jam ini sebenarnya bukan asli milik Stasiun Batavia Benedenstad, melainkan dari Stasiun Sukabumi yang dibangun tahun 1882, yang diserahkan ke Stasiun Jakarta Kota pada tahun 2009. Jam antik ini diperkirakan dibuat pada tahun 1881, dan diduga diimpor oleh FM Ohlenroth, sebuah toko jam mewah di Hindia Belanda.

Jam Antik Stasiun Jakarta Kota

Dari Stasiun Jakarta Kota, napak tilas berlanjut dengan KRL menuju Stasiun Senen, transit di Kampung Bandan. Kami nyaris ketinggalan kereta transit, karena terlalu asyik ngobrol di peron atas! Hahaha… tenang, masih ada KRL yang akan lewat. Karena KRL yang kami naiki ternyata tidak berhenti di Senen, kami harus turun di stasiun Gang Sentiong, untuk kemudian naik KRL arah balik dan turun di Stasiun Pasar Senen.

Stasiun Pasar Senen, sesuai namanya, didirikan untuk mendukung pengembangan Pasar Senen, pasar tertua di Batavia yang didirikan pada tahun 1733. BOS membuka Stasiun Pasar Senen pada 31 Maret 1887 sebagai sebuah perhentian kecil. Lokasinya bukan di stasiun yang sekarang, melainkan di sekitar Gelanggang Remaja Jakarta Pusat. Pembukaan stasiun ini bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api Batavia—Bekasi. Jalur ini kemudian dibeli oleh SS pada tahun 1898 karena utang BOS yang membengkak.

Fasad Stasiun Pasar Senen

Seiring peningkatan arus penumpang, Stasiun Pasar Senen kemudian dipindahkan dan dibangun ulang pada tahun 1916, di lokasi yang sekarang. Bangunan stasiun generasi pertama yang dibangun BOS kemudian dialihfungsikan menjadi gudang, sebelum dibongkar untuk pembangunan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat.

Rombongan Sahabat Museum di Peron Stasiun Pasar Senen

Bangunan Stasiun Pasar Senen yang sekarang kita kenal diresmikan pada tanggal 19 Maret 1925, bertepatan dengan 50 tahun SS pada 6 April 1925, sekaligus untuk menyambut layanan baru SS yaitu elektrifikasi jalur Tanjung Priok-Meester Cornelis, yang menjadi cikal bakal KRL yang kita kenal sekarang. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Johan van Gendt, dengan gaya arsitektur Neo-Indische.

Kanan: Dekorasi khas Art Deco di Stasiun Pasar Senen
Kiri: Terowongan Stasiun Pasar Senen

Stasiun Pasar Senen dirancang sebagai stasiun pulau, dan merupakan stasiun pertama yang memiliki terowongan untuk lalu lintas penumpang yang masih berfungsi sampai saat ini. Di sisi peron penumpang kereta api jarak jauh, kita bisa melihat tiang bergaya art deco yang terbuat dari logam, yang diduga digunakan untuk meletakkan lampu. Posisi tiang yang berada di dekat terowongan membuka dugaan lampu di tiang tersebut berfungsi untuk menerangi terowongan tempat lalu lalang penumpang.

Puas melihat-lihat Stasiun Pasar Senen, rombongan melanjutkan perjalanan menuju pemberhentian terakhir di Stasiun Jatinegara. Karena KRL arah Jatinegara tidak berhenti di Stasiun Pasar Senen, kami harus naik KRL ke Stasiun Kemayoran, baru berpindah ke KRL arah Jatinegara. Melewati stasiun Pondok Jati yang berlokasi di sekitar Palmeriam, teringatlah kisah Gang Solitude, sebuah lokasi yang terkait dengan Perang Napoleon di Jawa (silakan lihat di sini).

Tampak Depan Stasiun Jatinegara

Dan akhirnya, tibalah kami di Stasiun Jatinegara. Stasiun Jatinegara ini aslinya adalah Stasiun Meester Cornelis yang dibangun SS dan mulai beroperasi pada 15 Oktober 1909. Sedangkan Stasiun Meester Cornelis milik BOS dibangun pada 1887 dan mulai beroperasi pada 31 Maret 1887, bersamaan dengan pembukaan jaringan kereta api Batavia-Meester Cornelis-Bekasi pada 31 Maret 1887. Karena menghadapi masalah keuangan, tahun 1889 jaringan rel Batavia-Bekasi dibeli oleh SS, termasuk Stasiun Meester Cornelis BOS. Lokasi Stasiun Meester Cornelis BOS terletak di dekat Depo Jatinegara saat ini.

Atap Ciri Khas Stasiun Jatinegara

Bangunan Stasiun Jatinegara dirancang oleh arsitek Ir. Simon Snuyf. Gaya arsitekturnya merupakan perpaduan antara Indische Empire dan kolonial modern. Ciri khas dari bangunan Stasiun Jatinegara adalah atap yang sangat miring, menyerupai gaya bangunan di Belanda. Di puncak bangunan terdapat menara yang berfungsi seperti mercusuar serta untuk penerang ruangan. Saat ini bangunan lama Stasiun Jatinegara masih dipertahankan, sementara di bagian belakang stasiun sudah berdiri bangunan baru yang lebih modern yang mampu menampung penumpang lebih banyak.

Rombongan Sahabat Museum di Stasiun Jatinegara

Gara-gara sempat mampir ke Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Jatinegara, jadi pengen naik kereta api ke luar kota. Jadi, kapan kita naik kereta api ke Surabaya?

Perang Napoleon di Jatinegara

Tahukah Anda, Jatinegara pernah menjadi saksi berbagai pertempuran, termasuk Perang Napoleon? Mungkin tidak banyak yang sadar, dampak Perang Napoleon ternyata sampai juga ke Nusantara, bersamaan dengan masuknya Inggris untuk menguasai Nusantara. Ini tidak lepas dari pergolakan politik di Eropa. 

Berawal di tahun 1810 ketika Belanda takluk dari Perancis, sehingga seluruh daerah kekuasaannya diambil Perancis, termasuk Hindia Belanda. Inggris yang berupaya mengurangi kendali Prancis atas Hindia Belanda mengirimkan ekspedisi militer di pertengahan 1811 di bawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty. Jumlahnya luar biasa, mencapai 12.000 tentara dan 100 kapal, termasuk 4 kapal perang, 14 kapal pengawal, 7 kapal penjaga, dan 8 kapal penjelajah East Indian Company. Sejarah mencatat ekspedisi ini menjadi ekspedisi militer laut terbesar sebelum Perang Dunia Kedua.

Minggu, 4 Agustus 1811, konvoi militer ini tiba di Teluk Batavia, kemudian masuk ke Batavia melalui pantai Cilincing. Pada tanggal 10 Agustus 1811, pasukan Inggris telah menguasai benteng di Weltevreden. Pasukan Inggris kemudian bergerak ke arah kamp militer pasukan Prancis di Meester Cornelis. Kamp ini dilindungi benteng pertahanan di pinggir anak Ciliwung, yang dikenal sebagai The Slokan. Pada akhirnya, kamp militer ini berhasil dikuasai. Kekuasaan Prancis di Nusantara berakhir setelah Kapitulasi Tuntang pada 16 September 1811 yang menandai penyerahan kekuasaan dari Prancis ke Inggris.

Stasiun Jatinegara, pernah jadi Stasiun Meester Cornelis
atau Stasiun Rawa Bangke

Pertempuan antara Inggris dan Prancis di Meester Cornelis meninggalkan beberapa penanda. Di antaranya adalah daerah yang bernama Rawa Bunga. Konon di kawasan ini dulu banyak mayat korban pertempuran serdadu Inggris dan Perancis, sehingga awalnya dinamakan Rawa Bangke. Di dekat Rawa Bangke inilah berdirinya Stasiun Meester Cornelis yang sekarang kita kenal sebagai Stasiun Jatinegara.

Anak Sungai Ciliwung (The Slokan)di Jl. KH Ahmad Dahlan - Palmeriam
pernah jadi bagian benteng pertahanan pasukan Prancis

Selain itu, ada sebuah tempat yang dikenal warga lokal Palmeriam sebagai Gang Solitude, yang saat ini menjadi Jl. KH Ahmad Dahlan. Tempat ini merupakan bagian dari benteng pertahanan kamp militer Perancis pada awal abad 19. Solitude sendiri bermakna “hening”. Konon nama ini berasal dari situasi ketika ada gudang mesiu yang meledak, di mana setelah ledakan itu terjadi keheningan yang luar biasa.

Suasana Gang Solitude di Era Millenials

Pada tahun 1820, kamp militer Meester Cornelis berubah fungsi menjadi penjara. Setelah kembali ke tangan pemerintah kolonial Hindia Belanda, kamp militer Meester Cornelis tetap digunakan sebagai kamp militer. Kamp militer ini dilengkapi kompleks perumahan dinas perwira Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) yang dikenal sebagai Generaal Staallaan. Rumah-rumah di kompleks tersebut memiliki gaya Indisch yang dipadu ornamen ala Betawi dan Jawa.

Roemah Djatinegara, salah satu peninggalan
General Staallaan

Selain para perwira KNIL yang umumnya berkebangsaan Belanda yang menempati kompleks tersebut, terdapat satu perwira KNIL pribumi berpangkat Kapten yang menempati salah satu rumah dinas. Beliau adalah Oerip Soemohardjo, yang menempati rumah dinas di kompleks ini antara tahun 1928-1933. Oerip Soemohardjo adalah Kepala Staf Umum TKR pertama di tahun 1945. Dulu beliau menempati rumah dinas di Generaal Staallaan nomor 17. Saat ini rumah tersebut menjadi sekolah karate.

Rombongan Sahabat Museum di salah satu rumah Generaal Staallaan

Jatinegara juga menjadi saksi pertempuran mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat sejak November 1945-Januari 1946, kerap terjadi pertempuran besar antara pemuda Indonesia melawan serdadu Inggris/Belanda di sepanjang jalur Pasar Senen-Kramat Raya-Meester Cornelis (Jatinegara). Puncaknya terjadi ketika para serdadu Inggris/Belanda di awal Jamuari 1946 datang dari arah Senen menyerbu ke Jatinegara. Para pemuda Republik dari berbagai etnis (Betawi, Tionghoa, Sunda, Jawa, Batak, Minahasa, Ambon dll) sudah melakukan penghadangan di sekitar Stasiun Rawabangke dan di bawah viaduct Jatinegara. Pertempuran pun berlangsung hebat dan menimbulkan korban di kedua pihak.

Patung Perjuangan Jatinegara
di depan Gereja Koinonia

Peristiwa ini diabadikan dalam sebuah monumen di depan gereja Koinonia, yang diresmikan pada 7 Juni 1982. Patung tersebut menggambarkan 2 orang pejuang, yang merupakan ayah dan anak. Mereka tergabung dalam  laskar KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi) yang aktif di wilayah Jakarta pada 1945-1946. Sang bapak bernama Martinus Runtunuwu, sedangkan patung anak menggambarkan putra bungsunya yang bernama Bernard. Dalam usia masih sangat muda (13 tahun), Bernard sudah ikut bersama ayahnya dalam pertempuran di Stasiun Rawa Bangke dan Viaduct, kendati hanya bersenjata sebuah katapel. Dikisahkan, Bernard Runtunuwu kemudian ikut bersama satu regu pasukan KRIS pimpinan Decky Pontoan, yang bertugas mempertahankan front Karawang.  Pada pertengahan Februari 1946, Bernard gugur di Rawa Buaya saat pasukannya harus berhadapan dengan satu unit tentara Belanda.

Saturday, September 21, 2024

Wisata Pemakaman PD II (7): Ereveld Kalibanteng

Menuntaskan perjalanan saya ke 7 ereveld di Indonesia, dari Ereveld Candi, saya menuju ke Ereveld Kalibanteng, yang terletak tak jauh dari bandara Ahmad Yani Semarang, bersebelahan dengan Kawasan Pusdik Penerbad, Pangkalan Udara Ahmad Yani. Secara resmi, Ereveld Kalibanteng beralamat di Jl. Siliwangi 293, Semarang, terletak di tepi jalan raya yang merupakan bagian dari Jalan Raya Pos yang dibangun oleh H.W. Daendels. 

Diresmikan pada tanggal 22 April 1949, tempat ini merupakan tempat peristirahatan 3100 korban perang, sebagian besar merupakan korban sipil dari kamp konsentrasi tentara Jepang di Jawa Tengah, seperti Ambarawa, Banyubiru, Lampersari, Halmahera, Bangkong, Gedangan, dan Karangpanas. Pada saat penggabungan ereveld di Indonesia, Ereveld Kalibanteng menerima pemindahan makam dari ereveld di Tegal, Kobong, Blora, Tarakan (1964), Balikpapan (1967), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Saat tiba di Ereveld Kalibanteng, pintu gerbang dalam keadaan terbuka, sehingga saya masuk ke dalam. Saya bertemu pak Eko, penjaga ereveld yang sedang merawat tanaman. Setelah menjelaskan maksud saya berkunjung ke ereveld, Pak Eko mempersilakan saya untuk melihat ke dalam.

Ereveld Kalibanteng yang dikelilingi pohon cemara

Ereveld ini berbentuk segitiga sama sisi, dengan sekeliling lahan ereveld terdapat parit besar yang berisi air. Menurut pak Eko, air pada parit ini berasal dari sungai, dan digunakan untuk perawatan tanaman di Ereveld. Jika melihat dari dalam ke arah jalan raya, akan terlihat pemandangan Gunung Ungaran di kejauhan. Namun kontras dengan Ereveld Candi, Ereveld Kalibanteng terletak di dataran dekat pantai, hanya beberapa ratus meter dari tepi laut. Salah satu keunikan lain dari ereveld ini adalah deretan pohon cemara yang mengelilingi lahan ereveld.

Bagian Malam Perempuan di Sisi Barat Ereveld

Ereveld Kalibanteng dikenal sebagai “Vrouwen-Ereveld” (Ereveld Perempuan), karena banyaknya wanita dan anak-anak yang dimakamkan di tempat ini. di mana di sisi barat digunakan untuk makam wanita, dan di sisi timur digunakan mayoritas untuk makam pria. Sedangkan makam anak-anak terdapat di area tengah, menghadap ke jalan raya. Di Ereveld Kalibanteng juga terdapat pemakaman muslim, yang terletak di sisi belakang ereveld.

Monumen Peti Mati untuk
Korban Perempuan Tak Dikenal

Di dekat tiang bendera terdapat patung batu berbentuk peti mati. Jika biasanya peti mati tersebut untuk mengenang prajurit tak dikenal, kali ini peti mati tersebut ditujukan khusus untuk mengenang korban perempuan tak dikenal. Di seberang peti mati terdapat lempengan batu peringatan dari marmer putih dengan teks yang ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris yang berbunyi “Ter eerbiedige negadachtenis aan de vele ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.”, yang bermakna untuk mengenang mereka yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan.

Monumen "Jongen Kampen"

Berjalan ke arah belakang melintasi jalur yang diapit 18 pilar, terlihat dua buah monumen yang mencerminkan keberadaan Perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perang. Monumen pertama adalah monument “Jongen Kampen” (Kamp Anak Laki-Laki) karya Anton Beysens pada tahun 1988. Monumen ini untuk mengenang para anak lelaki yang dipisahkan dari ibunya dan gugur di kamp konsentrasi laki-laki, seperti di di Ambarawa, Bangkong, Gedongjati, dan Cimahi. Patung perunggu tersebut menunjukkan seorang anak lelaki kurus yang membawa pacul di atas pundaknya, bersandar pada kapak, dan tubuhnya hanya dibalut selembar kain. Terdapat tulisan pada monumen itu “Zij waren nog zo jong”, yang bermakna “Mereka masih sangat muda”.

Monumen Perempuan

Di seberang monumen ini terdapat taman dengan monumen dua orang wanita buatan Marian Gobius pada tahun 1954. Monumen perunggu tersebut menggambarkan seorang wanita yang bangga dan berdiri tegap, tengah memegang wanita lain yang membungkuk, seolah berusaha menenangkan. Mereka sama-sama menggandeng tangan seorang anak kecil yang berada di antara mereka berdua. Monumen ini menggambarkan perasaan senasib antara Wanita dan anak-anaknya, khususnya di masa sulit tersebut. 

Wisata Pemakaman PD II (6): Ereveld Candi

Setelah beberapa waktu, akhirnya saya berkesempatan ke Semarang (lebih cepat daripada perkiraan saya), yang saya manfaatkan untuk menuntaskan perjalanan mengunjungi 7 Ereveld yang ada di Indonesia. Pagi itu cuaca sangat cerah, ketika saya memulai perjalanan menuju Ereveld Candi.

Ereveld Candi terletak di Jl. Taman Jendral Sudirman 4, Bendungan Gajahmungkur, Candi Baru, di atas bukit di sisi selatan Kota Semarang. Ereveld ini dibangun atas inisiatif pasukan pertama Belanda dari Tijgerbrigade (T-Brigade) yang mendarat di Semarang pada 12 Maret 1946. Mereka memilih tempat pemakaman untuk rekan-rekan mereka yang gugur di puncak bukit Candi, yang saat itu merupakan Tillemaplein (Taman Tillema, diberi nama dari Hendrik Freerk Tillema, pendiri air minum kemasan pertama di Semarang). Pemakaman tersebut dirancang oleh Letnan Satu Ir. H. Stippel dari pasukan zeni. Pemakaman ini diresmikan pada bulan Maret 1947 dan diberi nama Ereveld Tillemaplein. Namun pada tahun 1967, atas permintaan dari pihak Indonesia, nama ereveld ini berubah menjadi Ereveld Candi.

Ereveld Candi di bawah naungan Gunung Ungaran

Ketika saya tiba di gerbang ereveld ini, yang pertama kali menarik perhatian adalah panorama gunung Ungaran yang seolah menaungi Ereveld Candi. Ini bukan satu-satunya ereveld yang memiliki panorama gunung, karena Ereveld Pandu dan Ereveld Leuwigajah pun juga dinaungi oleh gunung. Namun keunikan dari Ereveld Candi adalah letaknya di lereng bukit, sehingga lahannya dibentuk seperti terasering, dengan 5 teras yang berbentuk setengah lingkaran, Masing-masing teras dihubungkan dengan tangga dari batu alam. 

Karena saya tidak melihat petugas di dekat pintu (dan bel pintu sepertinya tidak berfungsi), saya mencoba membuka gerbang yang tidak dikunci. Dari jauh terlihat ada beberapa petugas sedang melakukan perawatan tanaman ereveld. Di kantor ereveld ternyata ada petugas yang sedang bekerja di depan computer, yang kemudian mengijinkan saya untuk melihat ke dalam ereveld. 

Dari informasi yang saya baca dari berbagai sumber, tempat ini merupakan satu-satunya ereveld khusus militer di Indonesia. Dan sejauh mata memandang nisan-nisan yang ada di Ereveld Candi, terlihat bahwa semua yang dimakamkan di tempat ini adalah laki-laki, tidak ada perempuan. Demikian juga tidak ada orang muslim yang dimakamkan di sini, hanya ada beberapa makam Yahudi dan Tionghoa.

Pada awal didirikan, tempat ini hanya ditujukan untuk memakamkan kembali seluruh tentara yang gugur masa perang kemerdekaan di Jawa Tengah. Namun pada akhirnya tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir para tentara yang gugur di Jawa Tengah pada masa Perang Dunia II. Saat ini hampir 1000 anggota tentara Belanda (KNIL) yang dimakamkan di tempat ini, termasuk menampung makam yang dipindahkan dari pemakaman tentara Belanda di Kampung Ploso (Pacitan), Gundih (Semarang), Mario Tjamba (Maros), Patjinang (Makassar), dan Palembang, antara tahun 1960-1970.

Monumen Salib

Tempat ini memiliki monumen salib berwarna putih berukuran besar yang terletak di bagian tengah pemakaman, dihiasi jalan setapak yang terbentuk dari batu-batu alam. Di bagian kaki salib tersebut terdapat prasasti dengan tulisan “Voor Veiligheid en Recht”, atau berarti “For Security and Justice”, yang menjadi titik fokus untuk merefleksikan kedua nilai ini. Pada tangga menuju salib, terdapat plakat yang menandakan ucapan dari Palang Merah Semarang. Pada tangga sisi kanan menuju salib, terdapat plakat bertulisan “Uw plichtsbetrachting maakte ons werk van naastenliefde mogelijk” dari Roode Kruis Semarang (Palang Merah Semarang pada masa Agresi Militer), yang bermakna “Pengabdian Anda pada tugas membuat pekerjaan amal kami bisa terwujud.”

Seperti di ereveld lain, terdapat monument untuk mengenang mereka yang gugur dalam perang namun tak dimakamkan di ereveld. Jika di ereveld lain monumen tersebut dalam bentuk patung peti mati, maka di Ereveld Candi monument tersebut dalam bentuk sebongkah batu berbentuk persegi di dekat tiang bendera, yang bertuliskan “Ter eerbiedige nagedachtenis aan de velle ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.” (Untuk mengenang banyak orang yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan). 

Monumen II-13 R.I.

Terdapat juga monumen untuk memperingati gugurnya 8 tentara dari Batalyon II – 13 R.I. (Regiment Infanterie), atau dikenal sebagai Batalyon Limburg. Delapan orang yang namanya terdapat di monumen tersebut sepertinya tidak dimakamkan di ereveld Candi. Batalyon II-13 sebelumnya memperkuat tentara Sekutu di Munich-Gladbach, sebelum diberangkatkan menuju Indonesia melalui Inggris pada 12 Oktober 1945, dan mendarat di Semarang pada 9 Maret 1946. Selama bertugas di Indonesia, mereka berada di bawah pimpinan Letnan Kolonel D.A. Erdman. Mereka sempat ditugaskan di Semarang, Salatiga, Pameungpeuk, Garut, Darmaredja, Gempol, dan Plered, sebelum pada 26 Februari 1948 mereka dipulangkan ke Belanda. 


Saturday, August 24, 2024

Sultan Agung vs VOC di "Kota Tahi"

Anda mungkin sering mendengar cerita pertempuran antara pasukan Mataram Islam yang dikirim Sultan Agung untuk berperan melawan VOC di Batavia yang berakhir dengan kekalahan pasukan Mataram karena dilempari tinja oleh pasukan VOC. Tapi pernahkah Anda mencari tahu, di mana persisnya lokasi pertempuran dengan amunisi aneh tersebut?

Di tanggal 11 Agustus 2024 yang lalu, Sahabat Museum melakukan Plesiran Tempo Doeloe bertajuk Koetika Kompeni Terpodjok, dengan mengunjungi bekas lokasi Fort Hollandia, sebuah bastion yang berada di ujung terluar tembok kota Batavia, yang menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Mataram dan pasukan VOC tersebut. Namun sebelum tiba di bekas lokasi Fort Hollandia, sejenak kita akan kilas balik perjalanan pasukan Mataram menuju Batavia di tahun 1628, di bawah pimpinan Ki Mandurareja. Perjalanan dari keraton Mataram di Kerto menuju Batavia memakan waktu selama 3 bulan, melalui Kulon Progo-Prembun-Pekalongan-Tegal-Cirebon-Sumedang- Cianjur-Pakuan (Bogor), untuk kemudian naik rakit menyusuri Ciliwung menuju Batavia. Tak hanya pasukan berjalan kaki, Sultan Agung juga mengirim pasukan pendahuluan melalui laut yang dipimpin Tumenggung Bahureksa. 

Di bulan Agustus 1628, pasukan Mataram telah mengepung Kota Batavia selama sebulan penuh. Pada malam tanggal 21 September 1628, para prajurit Mataram berusaha mendekati Fort Hollandia (atau lebih tepatnya Redoute Hollandia) yang merupakan pertahanan terakhir VOC. Mereka berusaha memanjat kubu atau menghancurkan tembok, serta menembaki kubu dengan bedil laras panjang. Di dalam kubu, Sersan Hans Madelijn beserta 24 serdadunya mencoba bertahan. Pihak VOC sempat kewalahan, hingga mereka kehabisan amunisi. Madelijn memiliki gagasan sinting. Ia meminta anak buahnya membawa sekeranjang penuh tinja. Dengan putus asa, pasukan VOC melemparkan kantong berisi tinja ke tubuh-tubuh prajurit Mataram yang merayapi dinding kubu Hollandia. Sekejap pasukan Mataram lari tunggang-langgang karena terkena peluru tinja tersebut. Hari berikutnya, pasukan Mataram mundur, dan serangan pun gagal. Inilah yang menjadi sumber nama “Kota Tahi”, julukan pasukan Mataram untuk kubu Hollandia.

Kisah pertempuran tersebut tercatat dalam beberapa sumber. Di antaranya adalah laporan Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen pada Dewan Hindia per 3 November 1628, Namun dalam laporan tersebut, Coen tidak menyebutkan adanya amunisi unik yang digunakan untuk menghalau pasukan Mataram. Kisah tersebut tertulis dalam sebuah buku berjudul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an Tartarischen Cham (terbit tahun 1669), serta dalam Babad Tanah Jawi. Di abad berikutnya, kisah ini juga tertulis dalam buku History of Java Volume II karya Thomas Stamford Raffles, serta dalam buku Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, yang terbit pada 1911.

Rombongan Batmus di Situs Bekas Kubu Hollandia

Lalu, di mana lokasi sesungguhnya kubu Redoute Hollandia? Napak tilas dalam Pelesiran Tempo Doeloe kali ini membawa kami menelusuri Jl. Pinangsia Timur hingga ke ujung, blusukan di antara kompleks ruko dan pemukiman padat. Di ujung timur Jl. Pinangsia Timur, dibatasi oleh aliran Sungai Ciliwung, terdapat tapak bekas kubu Hollandia. Jika dibandingkan dengan peta lama dari jaman VOC, aliran Sungai Ciliwung yang pernah membatasi kubu Hollandia masih memiliki alur dan pola yang sama dengan yang kami lihat saat ini.

Lalu, seperti apakah rupa bangunan kubu Hollandia tatkala Mataram menyerbu Batavia pada 1628? Bang Ade Purnama sebagai penggerak Sahabat Museum menunjukkan gambar bahwa terdapat 2 rujukan yang memberikan gambaran berbeda. Dalam sebuah sumber tertulis, terdapat informasi bahwa kubu tersebut berbentuk Menara dengan pagar deretan kayu berujung runcing. Rujukan lain dari peta karya Frans Florisz. van Berckenrode berangka tahun 1627) menunjukkan bahwa pertahanan di timur kota itu berupa dinding batu yang melintang dari selatan hingga ke utara.  Di masa Gubernur Jendral Johan Camphuijs, kubu tersebut pernah dimasukkan dalam daftar monumen bersejarah. Namun disayangkan, bangunan tersebut menghilang di tahun 1766.

Posisi Situs Bekas Kubu Hollandia dari arah Jembatan Manggis

Setelah mendapatkan banyak cerita tentang pertempuran prajurit Mataram dan serdadu VOC di titik yang merupakan bekas tapak kubu Hollandia, kami berjalan kaki menyeberangi Sungai Ciliwung, memasuki Jl. Manggis 1, menuju Jembatan Manggis. Dari arah Jembatan Manggis, terlihat lebih jelas bekas lokasi kubu Hollandia dari arah Sungai Ciliwung. Bisa dibayangkan, kurang lebih demikianlah sudut pandang pasukan Mataram saat mendekati kubu Hollandia untuk melakukan penyerbuan. Dan hari ini, tempat yang pernah menjadi saksi sejarah pertempuran legendaris antara Mataram dan VOC tersebut hanya menyisakan keheningan tanpa jejak.