Saturday, February 22, 2020

Samudramanthana dari Sirah Kencong

Kisah Samudramanthana – atau pengadukan Lautan Susu – merupakan salah satu kisah mitologi Hindu yang termuat dalam kitab Adiparwa, yang merupakan bagian dari kisah Mahabharata. Berasal dari India, Samudramanthana telah dikenal luas di daerah-daerah yang dipengaruhi budaya India, termasuk di Kamboja, Thailand, dan Indonesia. Kisah ini telah dikenal oleh masyarakat Jawa, dan telah disalin ke dalam bahasa Jawa Kuno sejak jaman Dharmawangsa Teguh, Raja Mataram Hindu yang memerintah sekitara tahun 991-1016 Masehi.

Samudramanthana menceritakan perburuan air keabadian (Tirta Amrita) di Ksirarwana / Ksira Arnawa (Samudra Susu) yang melibatkan penyu Akupa, naga Basuki, gunung Mandaragiri, para dewa, dan para asura (raksasa). Gunung Mandara digunakan sebagai alat pengaduk Samudra Susu. Kura-Kura Akupa – yang merupakan penjelmaan dewa Wisnu -- menjadi tumpuan Mandaragiri agar tidak tenggelam ke dasar Samudra Susu. Naga Basuki yang melilit Mandaragiri berfungsi sebagai tali untuk mengaduk Samudra Susu. Bagian kepala naga ditarik oleh para asura, sedangkan ekornya ditarik oleh para dewa. Dewa Indra duduk di puncak Mandaragiri, agar gunung tersebut tidak melambung. Dari pengadukan tersebut muncul ratna (benda-benda berharga), dan yang terakhir keluar adalah Dhanwantari, penyembuh surga yang membawa air keabadian Tirta Amrita. Dengan keluarnya Tirta Amrita, rencana para dewa untuk memperoleh Tirta Amrita telah selesai, sehingga mereka mengirim para asura dari surga kembali ke neraka.

Arca Samudramanthana dari Sirah Kencong, disimpan di Museum Nasional
Terinspirasi dari tulisan arkeolog M. Dwi Cahyono tentang arca Samudramanthana dari perkebunan teh Sirah Kencong di lereng barat Gunung Suci Kawi, kabupaten Blitar, Jawa Timur, saya membongkar foto-foto saat saya main ke Museum Nasional di mana arca tersebut disimpan. Ternyata arca tersebut masuk dalam pengamatan saya ketika saya berkunjung ke museum tersebut. Arca batu andesit setinggi kurang lebih 1 meter ini berasal dari abad ke 13-14 Masehi, diperkirakan dari masa kerajaan Majapahit. Arca ini diduga berfungsi sebagai jaladwara (pancuran), karena memiliki lubang di bagian bawah yang tembus ke bagian atas.  Diduga arca ini menaungi sumber air (tuk) yang diyakini sebagai air suci, karena keberadaannya di lereng Gunung Kawi yang dianggap sebagai “gunung suci”.

Bagian bawah arca berupa pedestal berbentuk padma (teratai merekah), perlambang bunga suci seolah menegaskan bahwa benda-benda di atasnya merupakan perangkat keagamaan yang suci. Di atas padmasana terdapat figur Kura-Kura Akupa, sebagai alas putar puncak Mandaragiri. Di sisi luar Mandaragiri berbentuk pahatan tokoh-tokoh yang berperan dalam kisah Samudramanthana. Di atas kepala Akupa terdapat Naga Basuki yang dililitkan pada Mandaragiri. Di sisi kanan Basuki terdapat dewa-dewa, sedangkan di sisi kiri Basuki terdapat para asura. Di bagian atas arca terdapat binatang-binatang mitologis dalam kepercayaan Hindu yang keluar selama proses pengadukan, antara lain sapi Kamadhenu, kuda Ucchaiswara, dan gajah Airawata.

Tugu Pancuran Ampelgading di Museum Trowulan


Arca dari Sirah Kencong bukan satu-satunya peninggalan purbakala di Indonesia yang merekam kisah Samudramanthana. Kisah ini juga dipahatkan pada tugu pancuran yang ditemukan di Ampelgading, Kabupaten Malang, yang saat ini disimpan di Museum Trowulan. Bagian bawah tugu memiliki lubang, dan di atas lubang tersebut berdiri figure Kura-Kura Akupa. Di atas Akupa terdapat tiang persegi empat yang dikelilingi panel berpahat figure dewa-dewa dan para asura. Di atas tiang terdapat ornament pahatan menara-menara kecil yang bertingkat, yang kemungkinan melambangkan Mandaragiri.

Teras Ketiga Candi Sukuh
Sedangkan di Jawa Tengah, kisah Samudramanthana juga divisualisasikan di Candi Sukuh, tepatnya di teras ketiga. Di teras ini terdapat bangunan induk berbentuk piramida terpancung, serta arca kura-kura. Bangunan induk diibaratkan sebagai Mandaragiri yang berfungsi sebagai alat pengaduk Samudra Susu. Arca kura-kura berukuran besar yang terletak di depan bangunan induk merupakan simbol dari Akupa. Candi Sukuh sendiri diduga berasal dari masa akhir kerajaan Majapahit.

Patung "The Churning of The Milk Ocean"
Di Thailand, kisah Samudramanthana divisualisasikan di bandara Suvarnabhumi dalam bentuk patung berukuran besar yang menggambarkan Mandaragiri yang diletakkan di atas Kura-Kura Akupa, dililit oleh Naga Basuki yang berkepala tiga. Bagian kepala Basuki ditarik oleh para asura, sedangkan bagian ekor Basuki ditarik oleh para dewa. Di atas Mandaragiri, berdiri Dewa Indra untuk memastikan gunung tersebut tidak melambung. Patung ini sangat menarik perhatian, karena berukuran cukup besar dan terletak di terminal internasional, tepat setelah penumpang menyelesaikan proses imigrasi dan masuk menuju area duty free shopping.

Saturday, January 11, 2020

Kedai Kopi di (bekas) Toko Buku Tempo Doeloe

Sore itu menjelang perayaan Natal di tahun 2019, cuaca Bandung agak sendu manja. Namun ini tidak menyurutkan hasrat para wisatawan untuk berpartisipasi dalam keramaian di kawasan Braga. Dari arah Braga Permai, terlihat etalase toko berkaca bening, bertuliskan " Kopi Toko Djawa". Masih segar dalam ingatan saya sebuah toko buku kecil di tempat yang sama. Toko Buku Djawa. Toko buku tempo doeloe yang berdiri sejak tahun 1955, bersamaan dengan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Di masa jayanya antara dekade 1960-1980-an, toko ini direferensikan oleh banyak pelajar di Bandung. Salah satu pelanggannya adalah mantan presiden Republik Indonesia B.J. Habibie.

Toko Buku Djawa di Tahun 2011
Di masa ketika saya masih berkeliaran di Bandung pada akhir dekade 1990-an, saya masih terbayang-bayang ketika tiap kali saya mampir ke toko buku ini. Walaupun tampak jadoel, namun sebenarnya mereka cukup canggih, karena pada masa itu buku dan majalah yang dijual cukup update. Saat itu, belum banyak toko buku kecil yang mau bertransaksi dengan credit card, namun saya pernah membeli majalah berbahasa Inggris di Toko Buku Djawa dan membayarnya dengan credit card.

Kopi Toko Djawa di tahun 2019
Ketika melihat berita di internet, hati kecil saya sempat trenyuh, Toko Buku Djawa ternyata harus tergerus kemajuan jaman. Tahun 2015, toko buku kecil ini terpaksa tutup karena kalah bersaing. Namun rasa trenyuh itu terobati dengan kenyataan bangunan tua itu tidak dibongkar. Sejak tahun 2017, bangunan dan difungsikan sebagai café yang digunakan untuk tempat kongkow yang kekinian. Bahkan papan nama Toko Buku Djawa masih terpampang, untuk mengenang masa jayanya saat menjadi sebuah toko buku.

Kopi Gula Aren dan Merchandise di event Semasa di Kota Tua

Setelah sempat mencicipi Kopi Gula Aren Kopi Toko Djawa (yang nendang banget) di event Semasa Di Kota Tua di akhir November yang lalu di Jakarta, akhirnya saya berkesempatan untuk hadir di Toko Kopi Djawa. Seperti halnya toko-toko kopi kekinian, Kopi Toko Djawa telah dikelola secara modern, dan antrian para pembeli kopi pun tampak mengular. Sebagian besar tampak duduk di dekat meja barista, menunggu pesanan kopi mereka selesai untuk di-take away. Sebagian yang lain duduk di meja-meja, mungkin bermaksud menghabiskan waktu lebih lama di tempat ini. Bahkan ada yang hanya sekadar duduk-duduk di kursi depan café, menikmati hawa dingin di Kawasan Braga.


Saya memang tak bermaksud untuk berlama-lama di sana, hanya sekadar membeli minuman panas sambil mencicipi apakah vibe dari masa lalu masih terasa hingga kini. Pada dasarnya suasana cafenya cozy, namun tidak menghilangkan hawa-hawa tempo doeloe-nya. Hal yang "diwariskan" dari Toko Buku Djawa adalah cafe ini menyediakan buku-buku bacaan untuk para pengunjungnya. Seandainya ada waktu , rasanya ingin tinggal lebih lama untuk menikmati suasana jadoel di tempat ini.

Tuesday, December 24, 2019

Linimasa Sejarah Bandung di Museum Kota Bandung

Cuaca Bandung di akhir pekan yang lalu sangat sendu, namun Taman Sejarah Bandung di Kawasan Balai Kota tetap ramai dengan para wisatawan. Semula saya hanya ingin menghabiskan waktu di Taman Sejarah Bandung, namun mata saya justru tertuju pada sebuah bangunan tua bertuliskan "Museum Kota Bandung". Nah, menarik ini…

Kutipan Bung Karno
"Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah". Kutipan Bung Karno yang terkenal ini mengawali kunjungan saya sebelum masuk ke bangunan antik yang menjadi rumah dari Museum Kota Bandung. Bangunan antik di Jl. Aceh No. 47 ini berdiri pada tahun 1920, pertama kali digunakan sebagai Frobelschool (Taman Kanak-Kanak) milik kelompok Vrijmetselarij (Freemasonry) Bandung. Setelah bangunan ini diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, bangunan ini digunakan sebagai Sekolah Pendidikan Olahraga dan Kantor KONI Jawa Barat, sebelum pada tahun 2013 dihibahkan kepada Pemerintah Kota Bandung dan digunakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Bandung. Tanggal 31 Oktober 2018, Walikota Bandung Oded M. Danial meresmikan bangunan ini menjadi Museum Kota Bandung.

Tampak Depan Bangunan Museum
Masuk ke dalam bangunan museum, ternyata saat ini museum belum berfungsi secara penuh. Baru 2 ruangan yang digunakan untuk menampilkan informasi sejarah Kota Bandung. Di dalam ruangan pertama berisi milestone peristiwa bersejarah di Bandung, serta nama-nama walikota Bandung dari masa ke masa, mulai dari Bertus Coops hingga Oded M. Danial. Sedangkan ruangan kedua berisi penjelasan lebih detail mengenai tonggak peristiwa bersejarah Kota Bandung, mulai dari Piagam Sultan Agung, hingga pemindahan ibukota karesidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung.

Mural di Dinding Ruangan Pertama
Sebuah pengetahuan baru bagi saya, bahwa kemungkinan catatan peristiwa bersejarah Kota Bandung yang tertua adalah Piagam Sultan Agung. Piagam tertanggal 20 April 1641 ini berisi tentang pembagian bekas daerah kekuasaan Dipati Ukur menjadi 3: wilayah Sukapura kepada Tumenggung Wiradadaha, wilayah Bandung kepada Tumenggung Wirangunagun, dan wilayah Parakanmuncang kepada Tanubaya. Namun, seiring dengan kemunduran kerajaan Mataram, pada tahun 1677 wilayah Bandung dikuasai oleh VOC.

Piagam Sultan Agung
Bandung kembali muncul dalam sejarah Indonesia pada masa pembangunan Jalan Raya Pos. Di tahun 1810, Gubernur Jendral Daendels datang ke lokasi Jalan Raya Pos yang melintasi sungai Cikapundung, dan menancapkan tongkat kayu sambil mengucapkan "Usahakan bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota". Tempat ini kemudian menjadi Titik Nol Bandung Namun Daendels tak pernah kembali. Pada akhirnya, Dalem Wiranatakusumah II memindahkan ibukota Negorij Priangan dari Krapyak ke Bandung, namun tidak berpusat pada titik Daendels menancapkan.tongkat, melainkan di tempat yang sekarang menjadi Pendopo Kota Bandung di dekat alun-alun.

Besluit Daendels Tahun 1810 tentang Perintah Pendirian Kota Bandung
Pembangunan Bandung di masa kolonial Hindia Belanda sangat pesat. Banyak bangunan fasilitas public didirikan dengan gaya arsitektur Eropa, membuat kota ini dijuluki Europe in De Tropen (Kawasan Eropa di daerah tropis). Demikian juga adanya jalur KA Cianjur-Bandung dan Bandung-Surabaya di akhir abad ke-19 membuka lebih banyak akses menuju Bandung. Masih banyak sejarah Bandung yang belum tersampaikan di museum ini, sehingga semoga museum ini dapat segera melengkapi koleksi dan informasi yang disampaikan, sebagai sarana edukasi yang lebih komprehensif mengenai sejarah Kota Bandung.

Friday, April 26, 2019

Mengenang "Kejayaan" Ampiun di Nusantara

Alm. Bapak pernah bercerita bahwa waktu beliau kecil dan tinggal di sekitar Cikini, ada simpangan rel dari stasiun Cikini menuju gang Ampiun. Tapi saya tak pernah melihat bukti keberadaan rel tersebut, dan saya baru faham rel apa yang beliau maksud, setelah ikut Pelesiran Tempo Doeloe (PTD) yang digagas Bang Adep di Kampus Salemba UI pada tanggal 31 Maret 2019 yang lalu.

Yang manakah saya?
(sumber foto FB Indah Fidia Kalim)
Siapa yang mengira bahwa perdagangan candu di Indonesia ternyata cukup berpengaruh pada masa kolonial Belanda, dan salah satu bekas pabriknya berada tak jauh dari kita? Opium, apiun, atau candu adalah getah bahan baku narkoba yang diperoleh dari bunga Papaver somniferum atau P. Paoniflorum (bunga poppy) yang belum matang. Tanaman opium berasal dari kawasan pegunungan Eropa Tenggara, dan dibudidayakan di pegunungan kawasan subtropis. Di Asia, tanaman opium banyak dibudidayakan di Afganistan dan "segitiga emas" Myanmar-Thailand-Laos.

Kampus Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi & Bisnis UI
yang menempati bangunan bekas pabrik opium
Orang Jawa mengenal candu sejak VOC memonopoli perdagangan candu di Nusantara, melalui perantara kaum elit Tionghoa di Jawa. Kebijakan ini tidak mengherankan, karena sampai hari ini negara Belanda masih melegalkan narkoba di lokasi tertentu dengan dosis tertentu. Bunga poppy sebagai bahan dasar candu tidak tumbuh di Jawa, sehingga diduga candu didatangkan dari Turki atau Persia. Penikmat candu meluas khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama di Kediri. Para penikmat candu mulai dari kaum bangsawan Jawa dan para elite Tionghoa, para seniman, kuli-kuli, dan para serdadu. Selain sebagai gaya hidup, candu juga digunakan untuk menikmati sensasi khayali dan mengurangi pegal-pegal di badan. Di Banten dan Preanger, jumlah pecandu tidak banyak, karena mayoritas masyarakatnya pemeluk agama Islam yang relijius.

Laboratorium Farmakokinetik Departemen Farmakologi dan Terapeutik
Fakultas Kedokteran UI yang menempati bangunan bekas pabrik opium
Sejak muncul gerakan Politik Etis di Belanda yang dipelopori C.T. van Deventer di tahun 1899, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan kebijakan untuk perbaikan kesejahteraan pribumi, termasuk pengaturan peredaran candu. Pemerintah kolonial Belanda membentuk lembaga Regie Candu yang mengendalikan peredaran candu. Selain itu semua urusan opium dipusatkan di Batavia, demikian juga pabrik opium yang semula tersebar di daerah kini dipusatkan di Batavia.

Suasana Pabrik Opium
Semula pabrik opium dibangun pada tahun 1894 di daerah Paseban dan di Meester Cornelis. Namun melonjaknya permintaan membuat kedua pabrik ini tak mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk memenuhi permintaan opium yang semakin meningkat, pada tahun 1901 pemerintah kolonial Belanda membangun pabrik opium modern di jalan raya yang menghubungkan Batavia Centrum dengan Meester Cornelis, dengan kapasitas pengolahan bahan baku 100 ton candu mentah menjadi 70 ton candu hisap. Di tahun 1914, dengan jumlah tenaga kerja menjadi 1000 orang, kapasitas produksi pabrik ini meningkat menjadi 100 ton candu hisap. Pabrik ini dilengkapi dengan jalur kereta api untuk mengangkut bahan baku opium mentah yang diimpor dari Benggala, India, serta mengangkut produk opium hisap untuk didistribusikan ke seluruh kepulauan Nusantara. Pabrik candu ini berhenti beroperasi di masa pendudukan Jepang, karena larangan perdagangan dan penggunaan opium. Pemerintah kolonial Jepang beranggapan opium dapat melemahkan rakyat Indonesia yang diharapkan dapat membantu Jepang memenangkan Perang Asia Timur Raya.

Kemungkinan bekas jalur rel dari pabrik opium
ke Stasiun Salemba
Di masa kini, Bang Adep dan pak Rushdy Hoesin membawa rombongan PTD ke bangunan bekas pabrik opium yang sudah menjadi bagian dari Kampus Universitas Indonesia, yang lebih dikenal sebagai Kampus Salemba 4. Sebagian besar bangunan digunakan untuk ruang kelas program pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. Di masa lalu, bangunan pabrik terdiri dari 4 baris bangunan. Yang masih terlihat hari ini adalah bangunan dengan langit-langit tinggi khas pabrik.

Bekas Stasiun Salemba

Sambil mengisahkan masa lalu pabrik opium dan sejarah berdirinya Universitas Indonesia, pak Rushdy membawa kami berkeliling Kampus Salemba 4. Salah satu tempat yang ditunjukkan adalah lokasi dekat bangunan program Magister Manajemen (MMUI) yang kemungkinan merupakan bekas jalur rel dari pabrik opium menuju Stasiun Salemba. Membicarakan pabrik candu di Kampus Salemba 4 memang tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan jalur kereta api dan Stasiun Salemba yang digunakan untuk mengangkut bahan baku dan produk opium.

Bekas pintu stasiun di dalam rumah Ibu Aliansyah
Setelah berkeliling Kampus Salemba 4, rombongan PTD kemudian menelusuri Jl. Kenari II, menuju (bekas) Stasiun Salemba. Stasiun Salemba semula merupakan stasiun sentral yang memiliki banyak cabang, namun ketika dilakukan pemindahan stasiun sentral ke Stasiun Manggarai pada tahun 1922, banyak jalur yang ditutup, menyisakan jalur Stasiun Salemba-Halte Pegangsaan yang merupakan jalur pengangkut opium. Penutupan pabrik opium di tahun 1950-an membuat jalur kereta api Stasiun Salemba ke Halte Pegangsaan tidak difungsikan lagi, dan Stasiun Salemba resmi ditutup di tahun 1981. Saat ini kita sudah tidak bisa melihat Halte Pegangsaan lagi, karena sudah digantikan dengan Stasiun Cikini. 

Jembatan Kenari
(sumber foto FB Bang Adep)
Bangunan bekas Stasiun Salemba terletak di depan sebuah mushalla, tak jauh dari Museum M. Husni Thamrin, dan sudah dibagi menjadi 4 rumah tinggal pensiunan pegawai PJKA. Kami beruntung karena Ibu Aliansyah, penghuni salah satu rumah bekas stasiun Salemba, mengijinkan untuk melihat bagian dalam rumah. Di ruang makan rumah yang mungil tersebut terlihat pintu yang jaman dulunya menuju ruang kantor. Hal menarik lainnya, lantai rumah Ibu Aliansyah masih menggunakan lantai peron orisinil, dan konon katanya sulit dibersihkan dengan pel biasa. 

Pasar Cikini Ampiun
Dari Stasiun Salemba, kami menelusuri (bekas) jalur rel antara Stasiun Salemba-Halte Pegangsaan dengan mengikuti jalan setapak dari rumah Ibu Aliansyah ke arah Gang Cikini Ampiun. Nama “Ampiun” sendiri berasal dari kata “Amfioen”, kata bahasa Belanda kuno untuk opium, komoditas yang diangkut melalui jalur tersebut. Jalur rel tersebut melintas di atas Kali Ciliwung, di atas jembatan yang dikenal sebagai Jembatan Kenari. Jalur rel tersebut berakhir di tempat yang kita kenal sebagai Pasar Cikini Ampiun.

Saturday, December 8, 2018

Wisata Pemakaman PD II (2): Ereveld Menteng Pulo dan Jakarta War Cemetery

Dari Ereveld Ancol, kami berpindah ke Ereveld Menteng Pulo. Dalam perjalanan dari Ancol ke kawasan Casablanca, di bis Bang Adep memutarkan film Tuan Papa, kisah dokumenter anak-anak indo hasil perkawinan antara tentara Belanda dan orang Indonesia di masa Perang Kemerdekaan. Sebagian besar dari anak-anak indo tersebut menghabiskan masa kecilnya tanpa pernah bertemu ayah kandungnya, dan baru setelah beberapa puluh tahun kemudian sebagian dari mereka dapat bertemu dengan ayah kandungnya. Melihat film tersebut, hati ini merinding, perang ternyata tidak hanya menimbulkan kepiluan akibat kematian. Banyak drama kehidupan lain sebagai dampak dari peperangan, dan walaupun beberapa drama tersebut berakhir dengan happy ending, tapi sebagian masih menyisakan kepedihan.

Ms. Eveline dan Ibu Wulan
Tiba di Menteng Pulo, Eveline sudah menyambut kami bersama Ibu Wulan, “kuncen” dari Ereveld Menteng Pulo, dan mengawali kunjungan kami dengan kisah berdirinya Ereveld Menteng Pulo. Eereveld ini bukan yang terbesar di Indonesia, tetapi merupakan ereveld yang paling dikenal. Diresmikan pada tanggal 8 Desember 1947 oleh Jendral Spoor, sebelumnya tempat ini sudah digunakan sebagai area pemakaman. Desain pemakaman dirancang oleh Letkol Hugo Anthonius van Oerle, seorang arsitek dari sekaligus pimpinan batalion zeni Divisi 7 Desember Koninklijke Landmacht  (Angkatan Darat) Kerajaan Belanda.

Ereveld Menteng Poelo
Dikepung oleh gedung-gedung tinggi di seputaran kawasan Casablanca, Ereveld Menteng Pulo merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi 4300 orang, baik dari kalangan militer maupun sipil, termasuk wanita dan anak-anak yang merupakan korban perang dunia kedua di Indonesia. Sebagian besar yang dimakamkan di sini adalah orang-orang Belanda, serta orang-orang Indo Belanda atau orang Indonesia yang menjadi prajurit KNIL. Ereveld Menteng Pulo juga menerima pindahan dari ereveld lain, seperti dari Banjarmasin, Tarakan, Menado, Palembang, Balikpapan, Makassar, dan Cililitan, sesuai perjanjian sentralisasi makam Belanda.

Blok Muslim
Blok paling dekat pintu masuk adalah pemakaman untuk Muslim, yang sebagian besar merupakan orang Indonesia yang menjadi prajurit KNIL. Makam di blok ini menghadap ke arah yang berbeda dengan makam-makam lain, karena diatur agar menghadap ke kiblat. Di belakangnya terdapat Blok Tjililitan, yang merupakan pindahan dari Ereveld Tjililitan (yang semula terletak di kawasan Pangkalan Udara Militer Halim Perdanakusuma) pada tahun 1968. Blok ini ditandai dengan tugu yang dihiasi baling-baling pesawat dan prasasti bertuliskan “ter nagedachtenis aan onze gevallen kameraden” yang bermakna “Untuk rekan-rekan kami yang telah jatuh”.

Tugu Baling-Baling Patah
Di sisi kanan dekat pintu masuk merupakan makam prajurit Belanda dari KNIL maupun Koninklijke Landmacht (KL – Angkatan Darat). Pada umumnya mereka beragama Kristen, namun terdapat pula mereka yang beragama Yahudi dan Buddha yang dimakamkan di tempat ini. Di blok ini terdapat makam Jendral Spoor, panglima tertinggi Tentara Belanda di Indonesia antara 1946-1949. Beliau adalah orang dengan pangkat tertinggi yang dimakamkan di Menteng Pulo. Tidak ada perbedaan antara makam Spoor dengan makam para prajurit lainnya. Seperti mengutip kata-kata Spoor sendiri, “mereka berada di sini tanpa [peduli] ras, agama, etnis, pangkat, atau jabatan”.

Makam Jendral Spoor
Di sisi kanan jauh terdapat Blok Divisi 7 Desember yang merupakan tempat peristirahatan terakhir anggota Pasukan Belanda dari Divisi Pertama 7 Desember yang dikirim pada tahun 1946 ke Indonesia untuk misi pemulihan setelah kekalahan Jepang. Blok ini ditandai dengan kode 7DD, dan terdapat sebuah tugu dengan kalimat di latar belakangnya “Onze eenheid is bevestigd door ons gezamenlijk lijden”, atau “Kesatuan kami diteguhkan dalam penderitaan bersama.”. Sedangkan di bagian belakang kompleks terdapat makam wanita dan anak-anak yang merupakan warga sipil. Mereka umumnya merupakan korban eksekusi yang dilakukan di kamp tawanan perang di Indonesia.

Simultaankerk

Eveline mengajak kami masuk ke Gereja Simultan (Simultaankerk).Walaupun disebut gereja, tempat ini berfungsi sebagai tempat upacara sebelum jenazah dimakamkan, dan saat ini bangunan tersebut digunakan sebagai tempat peringatan. Setidaknya setiap tahunnya Ereveld Menteng Pulo menyelenggarakan dua kali peringatan, yaitu pada tanggal 14 Mei untuk memperingati berakhirnya perang dunia II di Eropa, serta pada tanggal 15 Agustus sebagai peringatan berakhirnya perang dunia II di Asia Tenggara.Di dekat altar Gereja Simultan terdapat salib kayu besar. Salib ini terbuat dari bantalan rel kereta api, sebagai peringatan korban perang yang dipaksa militer Jepang untuk membangun jalur kereta api antara Siam dan Burma. Para korban berasal dari beberapa negara, yaitu Australia, Belanda, Inggris, dan Amerika.

Salib Dari Kayu Rel Kereta Api
Di sisi kanan Gereja Simultan terdapat Columbarium (rumah abu), yang dibangun pada tahun 1950. Bangunan ini ditopang deretan pilar berwarna putih dengan sebuah kubah berwarna tosca di atasnya. Columbarium menyimpan 754 guci logam berisi abu jenazah para prajurit Belanda yang menjadi tawanan perang Jepang terutama mereka yang menjadi korban dalam pembangunan jalur rel Siam-Birma. Ketika mereka meninggal pihak militer Jepang melakukan kremasi pada jenazahnya. Pada setiap guci tertulis nama, pangkat, tanggal lahir, dan tanggal wafat.

Deretan Guci Abu di Columbarium
Baik Gereja Simultan maupun Columbarium dihiasi dengan kaca patri berwarna-warni. Tepat di bawah kubah berwarna tosca, terdapat meja yang di atasnya terdapat satu buah guci abu, serta relief wanita yang di atas kepalanya tertulis “De geest heeft overwonnen”, yang berarti “roh telah menang”. Kalimat ini merupakan semboyan dari Seksi Pemakaman Angkatan Darat Belanda. Meja dan relief ini merupakan tanda peringatan bagi mereka yang wafat dan tidak dikenal.

Peringatan Bagi Mereka Yang Tak Dikenal
Dari Ereveld Menteng Pulo, kami masuk melalui sebuah pintu kecil menuju Jakarta War Cemetery (JWC) yang bersebelahan pagar dengan Ereveld Menteng Pulo. Pemakaman ini merupakan tempat peristirahan terakhir korban perang dari tentara Sekutu yang berasal dari negara-negara Persemakmuran Inggris. Tempat ini dikelola oleh Commonwealth War Graves Cemetery (CWGC), yang merupakan mitra dari OGS dalam mengelola makam orang-orang Belanda yang dimakamkan di pemakaman korban perang dari Inggris.

Jakarta War Cemetery
Berbeda dengan Ereveld Menteng Pulo yang juga digunakan sebagai makam korban perang sipil, Jakarta War Cemetary yang didesain oleh Ralph Hobday O.B.E., arsitek senior dari CWGC, hanya diperuntukkan bagi personil militer anggota tentara Persemakmuran yang berasal dari Inggris, India, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Afrika Selatan, yang gugur pada pertempuran antara tahun 1942-1949. Di awal berdirinya, tempat ini memiliki 474 makam. Pada tahun 1961, atas permintaan pemerintah Republik Indonesia, makam para prajurit Persemakmuran yang berada di Ereveld Kembang Kuning, Palembang, Medan, dan Muntok dipindahkan ke JWC, sehingga total makam yang ada sekarang berjumlah 1181 makam.

Jakarta War Cemetery
Berbeda dengan ereveld yang menggunakan nisan berbentuk patok, nisan di JWC menggunakan marmer prasasti dengan posisi horizontal. Di masing-masing nisan tertulis nama, pangkat, lambang kesatuan, agama (dilambangkan dengan huruf Arab, tanda salib,bintang Daud, atau aksara Hindi), dan tanggal kematiannya. Di setiap nisan juga ditulis kata-kata mutiara dari keluarga. Yang khas dari pemakaman ini adalah adanya taman kecil di sisi kiri-kanan dari setiap nisan.

Kelompok Makam Prajurit Persemakmuran dari India dan Pakistan
Seperti halnya Ereveld Menteng Pulo, para prajurit yang dimakamkan di tempat ini memiliki pangkat yang beragam, dari mulai prajurit rendah hingga perwira tinggi. Terdapat kelompok makam yang khusus bagi para prajurit yang direkrut Inggris dari India atau Pakistan, di mana nisan mereka ditandai dengan tulisan Arab atau tulisan Hindi. Pasukan India ini bukanlah pasukan Gurkha, dan berasal dari beberapa suku di India.

Makam Brigadir Mallaby
Salah satu perwira tinggi yang dimakamkan di tempat ini adalah Brigadier A.W.S. Mallaby. Nama ini tidak asing bagi penggemar sejarah revolusi Indonesia, karena merupakan Mallaby yang gugur di Surabaya pada tanggal 30 Oktober 1945, dan kematiannya memicu “Pertempuran Surabaya 10 November 1945”. Makam Brigadir Mallaby juga tidak berbeda dengan para prajurit yang lain. Semula makam Mallaby terletak di Surabaya, dan baru pada tahun 1947 dipindah ke Jakarta.