Saturday, August 24, 2024

Sultan Agung vs VOC di "Kota Tahi"

Anda mungkin sering mendengar cerita pertempuran antara pasukan Mataram Islam yang dikirim Sultan Agung untuk berperan melawan VOC di Batavia yang berakhir dengan kekalahan pasukan Mataram karena dilempari tinja oleh pasukan VOC. Tapi pernahkah Anda mencari tahu, di mana persisnya lokasi pertempuran dengan amunisi aneh tersebut?

Di tanggal 11 Agustus 2024 yang lalu, Sahabat Museum melakukan Plesiran Tempo Doeloe bertajuk Koetika Kompeni Terpodjok, dengan mengunjungi bekas lokasi Fort Hollandia, sebuah bastion yang berada di ujung terluar tembok kota Batavia, yang menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Mataram dan pasukan VOC tersebut. Namun sebelum tiba di bekas lokasi Fort Hollandia, sejenak kita akan kilas balik perjalanan pasukan Mataram menuju Batavia di tahun 1628, di bawah pimpinan Ki Mandurareja. Perjalanan dari keraton Mataram di Kerto menuju Batavia memakan waktu selama 3 bulan, melalui Kulon Progo-Prembun-Pekalongan-Tegal-Cirebon-Sumedang- Cianjur-Pakuan (Bogor), untuk kemudian naik rakit menyusuri Ciliwung menuju Batavia. Tak hanya pasukan berjalan kaki, Sultan Agung juga mengirim pasukan pendahuluan melalui laut yang dipimpin Tumenggung Bahureksa. 

Di bulan Agustus 1628, pasukan Mataram telah mengepung Kota Batavia selama sebulan penuh. Pada malam tanggal 21 September 1628, para prajurit Mataram berusaha mendekati Fort Hollandia (atau lebih tepatnya Redoute Hollandia) yang merupakan pertahanan terakhir VOC. Mereka berusaha memanjat kubu atau menghancurkan tembok, serta menembaki kubu dengan bedil laras panjang. Di dalam kubu, Sersan Hans Madelijn beserta 24 serdadunya mencoba bertahan. Pihak VOC sempat kewalahan, hingga mereka kehabisan amunisi. Madelijn memiliki gagasan sinting. Ia meminta anak buahnya membawa sekeranjang penuh tinja. Dengan putus asa, pasukan VOC melemparkan kantong berisi tinja ke tubuh-tubuh prajurit Mataram yang merayapi dinding kubu Hollandia. Sekejap pasukan Mataram lari tunggang-langgang karena terkena peluru tinja tersebut. Hari berikutnya, pasukan Mataram mundur, dan serangan pun gagal. Inilah yang menjadi sumber nama “Kota Tahi”, julukan pasukan Mataram untuk kubu Hollandia.

Kisah pertempuran tersebut tercatat dalam beberapa sumber. Di antaranya adalah laporan Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen pada Dewan Hindia per 3 November 1628, Namun dalam laporan tersebut, Coen tidak menyebutkan adanya amunisi unik yang digunakan untuk menghalau pasukan Mataram. Kisah tersebut tertulis dalam sebuah buku berjudul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an Tartarischen Cham (terbit tahun 1669), serta dalam Babad Tanah Jawi. Di abad berikutnya, kisah ini juga tertulis dalam buku History of Java Volume II karya Thomas Stamford Raffles, serta dalam buku Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, yang terbit pada 1911.

Rombongan Batmus di Situs Bekas Kubu Hollandia

Lalu, di mana lokasi sesungguhnya kubu Redoute Hollandia? Napak tilas dalam Pelesiran Tempo Doeloe kali ini membawa kami menelusuri Jl. Pinangsia Timur hingga ke ujung, blusukan di antara kompleks ruko dan pemukiman padat. Di ujung timur Jl. Pinangsia Timur, dibatasi oleh aliran Sungai Ciliwung, terdapat tapak bekas kubu Hollandia. Jika dibandingkan dengan peta lama dari jaman VOC, aliran Sungai Ciliwung yang pernah membatasi kubu Hollandia masih memiliki alur dan pola yang sama dengan yang kami lihat saat ini.

Lalu, seperti apakah rupa bangunan kubu Hollandia tatkala Mataram menyerbu Batavia pada 1628? Bang Ade Purnama sebagai penggerak Sahabat Museum menunjukkan gambar bahwa terdapat 2 rujukan yang memberikan gambaran berbeda. Dalam sebuah sumber tertulis, terdapat informasi bahwa kubu tersebut berbentuk Menara dengan pagar deretan kayu berujung runcing. Rujukan lain dari peta karya Frans Florisz. van Berckenrode berangka tahun 1627) menunjukkan bahwa pertahanan di timur kota itu berupa dinding batu yang melintang dari selatan hingga ke utara.  Di masa Gubernur Jendral Johan Camphuijs, kubu tersebut pernah dimasukkan dalam daftar monumen bersejarah. Namun disayangkan, bangunan tersebut menghilang di tahun 1766.

Posisi Situs Bekas Kubu Hollandia dari arah Jembatan Manggis

Setelah mendapatkan banyak cerita tentang pertempuran prajurit Mataram dan serdadu VOC di titik yang merupakan bekas tapak kubu Hollandia, kami berjalan kaki menyeberangi Sungai Ciliwung, memasuki Jl. Manggis 1, menuju Jembatan Manggis. Dari arah Jembatan Manggis, terlihat lebih jelas bekas lokasi kubu Hollandia dari arah Sungai Ciliwung. Bisa dibayangkan, kurang lebih demikianlah sudut pandang pasukan Mataram saat mendekati kubu Hollandia untuk melakukan penyerbuan. Dan hari ini, tempat yang pernah menjadi saksi sejarah pertempuran legendaris antara Mataram dan VOC tersebut hanya menyisakan keheningan tanpa jejak.


Sunday, August 18, 2024

Napak Tilas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 16 Agustus 1945 dini hari. Kala itu para pemuda dari perkumpulan "Menteng 31" yang terdiri dari Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh "menculik" Bung Karno dan Bung Hatta, untuk diamankan di Rengasdengklok, 81 km dari Jakarta. Tujuan mereka adalah untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan. Mengapa ke Rengasdengklok? Karena lokasinya yang cukup terpencil, namun tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain itu, di Rengasdengklok terdapat markas PETA. 

Gedung Joang 45 di Jl. Menteng Raya No. 31, Jakarta

Di manakah markas para pemuda “Menteng 31”? Bangunan yang berlokasi di jantung kota Jakarta ini semula merupakan hotel elite yang dibangun oleh L.C. Schomper pada tahun 1938, dan dikenal sebagai Hotel Schomper I. Pada masanya, hotel ini merupakan hotel yang megah. Saat Belanda menyerah di tahun 1942, bangunan hotel dikuasai oleh Badan Propaganda Jepang (Gunseikanbu Sendebu).  Di bulan Juli 1942, para pemuda yang terdiri dari Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik dan AM Hanafi meminta ijin kepada Jepang untuk memanfaatkan Gedung tersebut sebagai asrama, yang kemudian dikenal sebagai Asrama Menteng 31. Asrama ini kemudian berfungsi sebagai tempat Pendidikan politik kebangsaan, dengan para pengajar di antaranya Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Moh. Yamin, Mr. Achmad Subarjo, dll. Tahun 1943, Gedung Menteng 31 kemudian dijadikan sebagai markas Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Setahun kemudian, PUTERA dibubarkan dan diganti dengan organisasi baru Bernama Jawa Hokokai (Kebangkitan Rakyat Jawa), dan berkantor di Gedung tersebut.

Rumah Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok

Selama di Rengasdengklok, Bung Karno dan Bung Hatta tinggal di rumah milik Djiaw Kie Siong. Konon rencana semula Bung karno dan Bung Hatta akan ditempatkan di markas PETA di Rengasdengklok, namun karena kondisinya yang kurang layak sebagai tempat tinggal, maka para pemuda mengalihkan Bung Karno dan keluarga beserta Bung Hatta ke rumah Babah Djiaw.

Bersama Pak Yanto dan Bu Lani

Rumah milik Babah Djiaw di Rengasdengklok pernah saya singgahi bersama rombongan WalkIndies, dalam perjalanan menuju Candi Batujaya di pertengahan April 2024. Dengan sambutan hangat dari pak Yanto, cucu dari Babah Djiaw, serta ibu Lani istrinya, serta kondisi rumah bersejarah yang masih terjaga, kami malah membayangkan jangan-jangan kata “penculikan” sebenarnya agak berlebihan. Mungkin di Rengasdenglok Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda sebenarnya hanya “cangkrukan” sambil merokok dan makan gorengan. Sambil “cangkrukan”, bisa jadi Bung Karno dan Bung Hatta membujuk para pemuda agar bersabar, karena mereka tidak ingin terjadi pertumpahan darah jika proklamasi dipersiapkan secara terburu-buru.

16 Agustus 1945 tengah malam, akhirnya Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda kembali ke Jakarta. Setelah mereka mengetahui bahwa Jepang tidak memberikan ijin untuk mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia seperti yang telah dijanjikan Marsekal Terauchi di Dalat, mereka menuju kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang dan Angkatan Darat Jepang.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Di ruang makan rumah Maeda, dilakukan penyusunan teks proklamasi oleh Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Setelah konsep yang ditulis tangan dirasa cukup, Sayuti Melik mengetik naskah tersebut, dengan diawasi oleh B.M. Diah. Naskah proklamasi ketikan Sayuti Melik ini kemudian ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta di atas piano yang berada di rumah tersebut. Selanjutnya naskah ini pun dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi di kediaman Bung Karno Jl. Pegangsaan Timur 56.

Naskah Proklamasi Ketikan Sayuti Melik

Setelah proklamasi Kemerdekaan, Rumah Laksamana Maeda sempat dijadikan Markas Tentara Inggris, dan sejak itu beberapa kali beralih fungsi. Baru pada tahun 1992 rumah yang terletak di Jl. Imam Bonjol No. 1 ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Satu-satunya yang masih asli dari peristiwa perumusan naskah proklamasi tahun 1945 adalah bangunan tersebut. Sedangkan benda-benda seperti kursi, meja, mesin ketik, pulpen, serta piano yang digunakan pada masa itu sudah tidak ketahuan lagi rimbanya, sehingga yang dipamerkan di museum hanyalah replikanya saja.

Monumen Proklamator

17 Agustus 1945, pukul 10 pagi. Di kediamannya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Bung Karno membacakan Naskah Proklamasi, membuka babak baru dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pembacaan Naskah Proklamasi ini selanjutnya diikuti oleh pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit Ibu Fatmawati oleh Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed. Pengibaran ini diiringi dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh hadirin.

Tugu Petir Tempat Bung Karno Berdiri Saat Membacakan Proklamasi

Jika hari ini Anda mencari tahu di apakah kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur itu masih ada, bentuk dan suasananya sudah tidak sama dengan bentuk dan suasana di tahun 1945. Saat ini lokasi tersebut sudah menjadi Taman Proklamasi, dan rumah yang menjadi kediaman Bung Karno di tahun 1945 sudah tidak ada. Pada tahun 1961, rumah tersebut dibongkar untuk dijadikan Gedung Pola Pembangunan Semesta, yang menjadi tempat koordinasi program Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahap Pertama 1961-1969. 

Tempat Bung Karno berdiri ketika membacakan naskah proklamasi ditandai dengan Tugu Petir, yang dibangun di tahun 1961. Pada tugu terdapat plakat dengan tulisan "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta". Di taman tersebut terdapat patung Bung Karno dan Bung Hatta berukuran besar, yang menggambarkan suasana pembacaan naskah proklamasi. Di antara patung Bung Karno dan Bung Hatta, terdapat patung naskah proklamasi versi ketikan oleh Sayuti Melik, terbuat dari lempengan batu marmer hitam. Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 Agustus 1980.


Monday, April 8, 2024

Jalan-Jalan ke Pabrik Pesawat Satu-Satunya di ASEAN

 "Siapa mau jadi pilot?"

Pertanyaan pemandu program edutainment di PT Dirgantara Indonesia ini sontak membuat pengunjung anak-anak berlomba-lomba mengacungkan tangan. Saya, satu-satunya peserta yang tidak membawa anak, barangkali sama sumringahnya dengan mereka, apalagi saat bis Bandros yang kami gunakan masuk ke area pabrik.

Program edutainment PTDI merupakan program memperkenalkan industri dirgantara PTDI sebagai satu-satunya pabrik pesawat di ASEAN. Jika factory tour umumnya dilakukan secara berombongan dengan mengirimkan surat resmi terlebih dahulu, program edutainment memungkinkan peserta perorangan untuk mengikuti factory tour di akhir pekan. Dan karena pesawat adalah cinta pertama saya pada teknologi, jadi saya harus menyegerakan untuk ikut program edutainment ini -- sebelum program ini menghilang tanpa jejak.

Memasuki area pabrik PTDI, pemandu menjelaskan tahapan pembuatan pesawat. Hanggar pertama adalah produksi fuselage yang akan menjadi badan pesawat. Fuselage dan bagian pesawat lainnya seperti sayap, ekor, dan roda pendaratan kemudian dirakit di hanggar berikutnya, serta melengkapi pesawat dengan mesin, instrumentasi, dan interior yang dibutuhkan. Setelah melewati tahap ini, pesawat akan dicat sesuai permintaan pemesan.

Hanggar berikutnya adalah tempat pengujian pesawat yang sudah dirakit. Sebelum diserahkan kepada pemesan, pesawat akan diinspeksi dan diujicoba terlebih dahulu untuk memastikan semua sistemnya berjalan dengan baik. Di dalam hanggar terdapat CN 235 flying test bed yang digunakan untuk uji coba. Sekilas saya cari di internet, kemungkinan pesawat ini digunakan untuk ujicoba green avtur.

Sebelum lanjut ke tahapan berikutnya, bis Bandros berhenti di dekat pesawat-pesawat yang parkir di depan hanggar. Pengunjung diperkenankan turun dan melihat wujud nyata pesawat produksi PTDI, walaupun tidak bisa terlalu dekat karena diberi pembatas. Saya mengenali pesawat pertama yang terlihat, kok ada Gatotkaca? Bukan, itu bukan N250 Gatotkaca yang pulang kampung dari Museum Dirgantara Mandala. Pesawat dengan bentuk dan warna yang sama dengan Gatotkaca tersebut adalah N250 Krincingwesi, "adik" N250 Gatotkaca.

Atas: N250 Krincingwesi
Bawah: N250 Gatotkaca di Museum Dirgantara Mandala

N250 merupakan pesawat penumpang turboprop 2 mesin karya BJ Habibie, sebagai wujud cita-cita agar Indonesia mampu membuat pesawat sendiri. Hal ini sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang berbentuk negara kepulauan, akan lebih mudah jika terkoneksi melalui udara. Pesawat yang diproduksi PTDI ini digadang-gadang akan menjadi tonggak sejarah kejayaan kedirgantaraan Indonesia. 

N250 Gatotkaca sebagai purwarupa pertama terbang perdana pada 10 Agustus 1995 di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Pesawat tersebut sempat mengikuti beberapa airshow, dan menjadi bintang Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Untuk pengembangan selanjutnya, dibuat purwarupa kedua N250 Krincingwesi, yang terbang perdana pada 19 Desember 1996. Krincingwesi dibuat sedikit lebih panjang daripada Gatotkaca, sehingga memiliki kapasitas lebih besar. Namun bobotnya lebih ringan, karena tata letaknya dibuat lebih efisien. Selain itu desain strukturnya juga dibuat lebih halus.

Pada 1997, seiring krisis moneter yang melanda Indonesia, Proyek N250 terpaksa harus berhenti. N250 Gatotkaca dan N250 Krincingwesi terparkir selama seperempat abad di PTDI. Atas permintaan Panglima TNI Hadi Tjahjanto, pada tahun 2020 N250 Gatotkaca dipindahkan ke Yogyakarta menjadi penghuni Museum Dirgantara Mandala, sebagai sarana edukasi masyarakat bahwa bangsa kita telah mampu merancang dan membuat pesawat sendiri. Sedangkan Krincingwesi masih berada di PTDI, dan turut menjadi sarana edukasi bagi para peserta factory tour.

CN 235 Flying Test Bed

Selain Krincingwesi, di parkiran hanggar terdapat CN 235 flying test bed yang sudah tidak digunakan lagi, CN 235 merupakan signature product pesawat penumpang PTDI yang sukses. Dikembangkan pada 1979 oleh IPTN (nama PTDI pada masa itu) dan CASA (sekarang menjadi Airbus Defense &Space), prototipe CN 235 buatan IPTN bernama Tetuko terbang pertama kali pada Desember 1983. Produksi pertama dilakukan pada 1986, dan saat ini CN 235 sudah diproduksi dengan berbagai varian dan digunakan di berbagai negara. 

Peragaan MALE di Ruang Mock Up

Ada benda panjang berwarna hitam di sisi CN 235. Benda tersebut bukan rudal, melainkan purwarupa drone jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) bernama "Elang Hitam". Drone ini hasil pengembangan Konsorsium Kementerian Pertahanan, TNI Angkatan Udara, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), PT Dirgantara Indonesia (PTDI), PT LEN Industri dan ITB. Purwarupa drone ini telah di-roll out pada 30 Desember 2019. Pesawat nirawak ini direncanakan dapaf dimanfaatkan untuk menangkal ancaman territorial, pengawasan cuaca dan pencegahan kebakaran hutan.

Dari apron, kami naik Bandros menuju hanggar pemeliharaan. Saat kami berkunjung, salah satu pesawat yang ada di dalam adalah Helikopter Super Puma. Helikopter NAS-332 Super Puma merupakan pengembangan SA-330 Puma kerjasama IPTN dengan Aeropastiale (sekarang Airbus Helicopters) dengan mesin yang diperbarui serta kabin penumpang diperbesar. Super Puma pertama kali terbang pada 1978, dan sejak 1980 menggantikan SA-330 Puma, Helikopter dengan 2 mesin ini dapat membawa 29 penumpang, serta dapat dipersenjatai dengan pod senapan, roket, dan misil, serta senjata untuk perang anti serangan laut. 

Informasi N219 di Ruang Mock Up

Hanggar terakhir sebelum masuk ruang mock up adalah tempat perakitan N219. N219 Nurtanio adalah pesawat multiguna generasi baru yang sepenuhnya karya anak bangsa. Dirancang sebagai pesawat angkutan penumpang, pesawat bermesin ganda turboprop berkapasitas 19 penumpang ini memiliki luas kabin terbesar di kelasnya. Ide dan desain N219 dikembangkan oleh PTDI, dengan pengembangan program dilakukan oleh PTDI dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. N219 dirancang dengan fixed tricycle landing gear, memungkinkan pesawat ini untuk melakukan Short Take-off and Landing (STOL), serta melakukan pendaratan dan lepas landas di medan yang sulit, seperti di bandara di ketinggian, atau di landasan bandara perintis. Purwarupa dari N219 telah melakukan uji terbang perdana pada 16 Agustus 2017, dan masih menjalani serangkaian pengujian sertifikasi, untuk menjamin keamanan dan keselamatan.

Informasi KF-21 Boramae di Ruang Mock Up

Ruang mock up merupakan ruang terakhir sebelum factory tour berakhir. Di sini terdapat informasi lebih detail tentang produk PTDI, seperti PUNA MALE, UAV Wulung, N219, CN 235 dalam berbagai varian, serta NC 212. Di antara pesawat yang diperkenalkan, terdapat KFX/IFX, pesawat hasil kerjasama PTDI dengan Korea Aerospace Industries, yang dikenal juga sebagai KF-21 Boramae. Program pesawat tempur ini didanai 80% oleh Republik Korea dan 20% oleh Republik Indonesia. 

Mock Up CN 235 ex Merpati Nusantara Airlines

Bagi yang ingin tahu seperti apa kokpit sebuah pesawat, ruangan ini memiliki mock up CN 235 yang pernah dioperasikan oleh Merpati Nusantara Airlines. Interiornya sudah dikosongkan, menyisakan galley yang digunakan untuk menyajikan makanan. Mock up ini tentunya menjadi favorit anak-anak, yang langsung menyerbu untuk bergantian menjajal kokpitnya. Sementara saya mencoba mengingat, jangan-jangan dulu saya pernah naik pesawat ini dari Halim menuju bandara Tunggul Wulung pakai mampir di Husein Sastranegara…

Friday, March 22, 2024

Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa

 "Payah loe, udah dibantu GM*ps tapi tetep aja nyasar!"

Percakapan ini sepertinya lumrah kita dengar saat ini. Yeps, peta digital memang sangat praktis untuk keperluan mobilisasi di jaman kiwari. Peta merupakan representasi visual dari berbagai elemen yang ada di muka bumi. Perjalanan ilmu kartografi atau pembuatan peta saat ini sudah sedemikian canggih, hingga memungkinkan kita membaca peta dalam versi digital, bahkan dalam genggaman. Namun, seperti apa peta-peta di masa lampau, yang digunakan para pelaut untuk navigasi kapal-kapal mereka menjelajah samudra?

Nusa Jawa dalam pandangan kartografer Portugis Abraham Ortelius 1595

Pameran Kartografi Nusa Jawa yang diselenggarakan antara 16 Januari s/d 30 April 2024 di Museum Bahari memamerkan peta-peta kuno -- khususnya peta pulau Jawa dari abad ke-16. Jika kita bandingkan dengan peta masa kini yang penggambarannya sudah sesuai dengan kondisi nyata, peta-peta kuno tersebut sangat berbeda. Bisa dilihat bahwa peta kuno tersebut mencerminkan interpretasi para pembuat peta jaman dulu terhadap wilayah yang dipetakan. Misalnya pada peta penjelajah Belanda abad 16, pulau Jawa digambarkan sama besarnya dengan pulau Sumatera. Atau peta yang dibuat kartografer Belanda pada tahun 1606, yang memperlihatkan seolah Pulau Jawa dibelah oleh sungai besar dari pantai utara hingga pantai selatan. Peta-peta kuno tersebut saat ini dapat dianggap sebagai sebuah karya seni berbasis kartografi. Selain peta-peta kuno, kita juga diperkenalkan dengan peralatan yang membantu kartografer masa lalu untuk membuat peta atau membantu para pelaut menentukan posisi kapalnya. Di antara peralatan tersebut terdapat sekstan dan teropong panjang.

Peta Pulau Jawa Terpisah oleh Pieter Van Der Aa 1707

Salah satu peta yang ditampilkan adalah Peta Tjiela. Peta Tjiela yang asli ditemukan di Desa Ciela, Kec. Bayongbong, Garut, pada tahun 1858 oleh Karel Frederik Holle, pemilik perkebunan the di CIkajang, Garut. Tuan Holla (panggilan akrab masyarakat Cikajang kepada Holle) memang bukan sekadar juragan perkebunan the, namun juga peminat kebudayaan Sunda. Peta Tjiela tergambar pada sehelai kain kafan berukuran 1 meter x 2 meter. Peta tersebut menggambarkan wilayah yang cukup luas, mencakup wilayah yang sekarang menjadi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, sampai dengan Kabupaten Cilacap. Dalam peta tersebut termuat symbol laut, sungai, gunung, bukit, danau, jalan, dan rawa, dengan symbol yang umum digunakan pada peta yang kita kenal hari ini. Peta tersebut memuat keterangan nama yang ditulis dengan huruf Sunda kuno, seperti Cirebon, Bekassih, dan Nusa Kalapa. Di bagian tengah peta tergambar wilayah kerajaan bernama Timbangaten. Uniknya, arah utara pada peta diletakkan di bagian bawah, sedangkan arah selatan pada bagian atas peta.

Holle meyakini peta tersebut dibuat sekitar tahun 1560. Dugaan ini diperkuat oleh penelitian arkeolog lainnya, yang mengatakan kemungkinan peta tersebut berasal dari abad ke-16. Siapa pembuat peta ini, tidak diketahui, namun peta ini dibuat oleh penduduk Nusantara. Ini menjadi bukti bahwa sejatinya penduduk asli Nusantara sudah mengenal pembuatan peta sebelum para penjelajah Eropa hadir di Nusantara. Salah satu tokoh dari Nusantara yang mengenal peta dan globe adalah Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri dan penasehat utama Raja Gowa di abad ke-17. Dari hasil penelitian lebih lanjut oleh para ahli geologi Indonesia di tahun 1976-1977, penulis buku Prof. P. D. A Harvey menduga bahwa Peta Ciela memiliki kemiripan dengan peta masa awal Dinasti Han dari Cina.

Atas: Puzzle Peta Ciela di Museum Sejarah Jakarta (foto koleksi pribadi, 2019)
Bawah: Salinan Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa (foto koleksi pribadi, 2024)

Beruntung Holle sempat membuat salinan Peta Tjiela tersebut dan menuliskan ulasan tentang peta tersebut dalam sebuah majalah, karena pada tahun 1975 diketahui peta yang asli telah hilang, diduga terbakar dan hilang tenggelam bersama kapal yang mengangkutnya. Tulisan Holle menjadi sumber awal yang penting dalam menelusuri kartografi yang dilakukan penduduk Nusantara. Di Pameran Kartografi Nusa Jawa kita bisa melihat bentuk salinan dari peta tersebut, sedangkan jika kita ingin melihat dari dekat, kita bisa melihat Peta Tjiela dalam bentuk puzzle yang dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta. Saat ini salinan Peta Tjiela yang dibuat berdasarkan salinan Holle disimpan oleh keluarga Ihak Lukman di Desa Ciela, dan dianggap sebagai benda pusaka.

Mengingat pentingnya peta untuk membantu menunjukkan posisi atau lokasi relative dalam hubungannya dengan tempat lain di permukaan bumi, khususnya dalam aktivitas pelayaran di masa lalu, tidak mengherankan jika pameran ini dibuat di Museum Bahari Jakarta. Museum ini dulu merupakan gudang VOC untuk menyimpan komoditas seperti rempah, kopi, the, tembaga, timah, dan tekstil. Selain melihat-lihat koleksi terkait kebaharian Indonesia, arsitektur museum sendiri juga menarik untuk ditelisik, mengingat museum ini dibangun dengan teknologi abad ke-17, dan masih bertahan hingga sekarang, walaupun dinding-dindingnya harus menghadapi ancaman penggaraman.

Sisa Pilar Kayu dan Pintu yang Terbakar di Memorial Museum Bahari

Selesai melihat pameran peta, saya tertarik dengan ruangan di Gedung sebelah, yang pintunya terbuka dan cukup terang. Ternyata ruangan tersebut merupakan Ruang Memorial Museum Bahari, dan menyimpan informasi terkait peristiwa kebakaran besar pada 16 Januari  2018 yang melalap 64 koleksi museum. Pada ruang memorial ini dipamerkan beberapa kaki pilar, pintu, dan ambang jendela yang terbuat dari kayu jati, yang sebagian besar hangus dilalap si jago merah. Ruangan ini juga menampilkan video upaya pemadaman kebakaran, serta kliping surat kabar yang memuat berita kebakaran tersebut dan upaya pemulihan kembali museum pasca kebakaran. Saat menapakkan kaki, saya baru sadar, mungkin Ruang Memorial ini adalah salah satu ruangan yang ikut terbakar saat itu, karena terdapat bagian ruangan dengan lantai kayu yang terlihat lebih baru dibandingkan bagian ruangan lainnya. Bagi saya, Ruang Memorial ini mungkin menjadi pengingat bagi kita, untuk terus berupaya memitigasi bencana kebakaran agar tidak terjadi lagi, khususnya di museum-museum kita.

Sunday, March 17, 2024

TPU Pandu, Tempat Peristirahatan Terakhir Tokoh-Tokoh Kota Bandung

Mengunjungi Ereveld Pandu, rasanya tak lengkap kalau tak sekalian menjelajah TPU Pandu. TPU Pandu didirikan pada tahun 1932, sebagai bagian dari penertiban pemakaman di Kota Bandung sesuai Bouwverrordening van Bandung tahun 1917. Berdiri di lahan seluas 83.000 m2 (kurang lebih 10 hektar), TPU Pandu memiliki jumlah makam hingga 21 ribu. Daya tarik makam ini adalah merupakan tempat peristirahatan terakhir beberapa tokoh terkenal di Kota Bandung. Tahun 1973, TPU Pandu merupakan salah satu TPU yang digunakan untuk merelokasi makam dari Kerkhoff Kebon Jahe (sekarang menjadi Sarana Olahraga Sport Hall Pajajaran).

Nisan Profesor Schoemaker

Di antara ribuan makam yang ada di TPU Pandu, terdapat nisan Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker, seorang arsitek dan guru besar Technische Hogeschool te Bandoeng (sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung). Prof. Schoemaker lahir di Banyubiru, Ambarawa, pada 25 Juli 1882. Karirnya diawali sebagai insinyur KNIL, sebelum kemudian mengundurkan diri dan bekerja di biro arsitek. Sebagai guru besar di THB, salah satu murid Schoemaker adalah Ir. Soekarno, presiden pertama RI. Karya arsitektur Schoemaker masih dapat kita lihat hari ini, seperti Gedung Merdeka, Hotel Preanger, Katedral Santo Petrus, Gereja Bethel, Villa Isola, dan Masjid Cipaganti. 

Gedung Merdeka, salah satu karya Prof Schoemaker

Schoemaker wafat pada 22 Mei 1949 dan dimakamkan di TPU Pandu. Namun ironisnya, makam Schoemaker tidak seartistik karya-karyanya. Nisan yang bertuliskan tanggal lahir, tanggal wafat, dan gelar kehormatan Ridder in De Orde van Denetherlandse Leeuw (Ksatria Ordo Singa Belanda) ini seperti batu nisan biasa, tanpa ornament berlebihan, dan terhimpit batu nisan makam-makam lain, sehingga untuk mencapai makam Schoemaker, kita harus melewati atau meloncati makam-makam lainnya.

Konon makam Schoemaker merupakan salah satu makam yang sempat terancam akan dibongkar di tahun 2002, karena tidak ada yang membayar retribusinya. Namun rencana ini urung dilaksanakan, setelah putra mendiang Presiden Soekarno, Guruh Sukarnoputra, mengulurkan bantuan. Di tahun 2003, Juan Schoemaker, cucu dari Schomaker yang sudah lama mencari makam mendiang kakeknya, akhirnya berhasil berkunjung ke makam ini.

Selain makam Schoemaker, di TPU Pandu terdapat makam keluarga Ursone. Keluarga Ursone berkebangsaan Italia, dan datang ke Bandung di tahun 1890-an sebagai musisi. Mereka kemudian mengembangkan usaha pemerahan susu sapi yang berada di Lembang sejak tahun 1895. Mereka merupakan pendiri Bandoengsche Melk Centrale (BMC), yang saat ini masih beroperasi di Jalan Aceh. Keluarga Ursone memiliki lahan yang cukup luas di Lembang, bahkan lahan observatorium Bosscha merupakan hibah dari keluarga Ursone.

Mausoleum Keluarga Ursone

Dibandingkan makam Schoemaker, makam Ursone terlihat lebih menonjol, karena dapat dikatakan merupakan makam paling megah di antara makam yang ada di TPU Pandu. Makam berbentuk mausoleum dengan pilar tinggi ini dihiasi sepasang patung wanita yang sedang menunduk seolah menunjukkan kedukaan. Di atas pilarnya bertuliskan “Orate Pro Nobis” yang bermakna “doakan kami”. Di mausoleum tersebut terdapat nama 8 anggota keluarga Ursone yang (semula) dimakamkan di mausoleum tersebut. Makam bergaya barok ini terbuat dari marmer. Hal ini kemungkinan sangat berkaitan karena salah satu anggota keluarga Ursone, A. Ursone pernah membuka usaha batu marmer yang bernama Carrara Marmerhandel en bewerking di daerah Banceuy, Kota Bandung. Makam ini bukan merupakan makam asli di TPU Pandu, melainkan pindahan dari Kerkhof Kebon Jahe (sekarang GOR Pajajaran).