Saturday, September 21, 2024

Wisata Pemakaman PD II (7): Ereveld Kalibanteng

Menuntaskan perjalanan saya ke 7 ereveld di Indonesia, dari Ereveld Candi, saya menuju ke Ereveld Kalibanteng, yang terletak tak jauh dari bandara Ahmad Yani Semarang, bersebelahan dengan Kawasan Pusdik Penerbad, Pangkalan Udara Ahmad Yani. Secara resmi, Ereveld Kalibanteng beralamat di Jl. Siliwangi 293, Semarang, terletak di tepi jalan raya yang merupakan bagian dari Jalan Raya Pos yang dibangun oleh H.W. Daendels. 

Diresmikan pada tanggal 22 April 1949, tempat ini merupakan tempat peristirahatan 3100 korban perang, sebagian besar merupakan korban sipil dari kamp konsentrasi tentara Jepang di Jawa Tengah, seperti Ambarawa, Banyubiru, Lampersari, Halmahera, Bangkong, Gedangan, dan Karangpanas. Pada saat penggabungan ereveld di Indonesia, Ereveld Kalibanteng menerima pemindahan makam dari ereveld di Tegal, Kobong, Blora, Tarakan (1964), Balikpapan (1967), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Saat tiba di Ereveld Kalibanteng, pintu gerbang dalam keadaan terbuka, sehingga saya masuk ke dalam. Saya bertemu pak Eko, penjaga ereveld yang sedang merawat tanaman. Setelah menjelaskan maksud saya berkunjung ke ereveld, Pak Eko mempersilakan saya untuk melihat ke dalam.

Ereveld Kalibanteng yang dikelilingi pohon cemara

Ereveld ini berbentuk segitiga sama sisi, dengan sekeliling lahan ereveld terdapat parit besar yang berisi air. Menurut pak Eko, air pada parit ini berasal dari sungai, dan digunakan untuk perawatan tanaman di Ereveld. Jika melihat dari dalam ke arah jalan raya, akan terlihat pemandangan Gunung Ungaran di kejauhan. Namun kontras dengan Ereveld Candi, Ereveld Kalibanteng terletak di dataran dekat pantai, hanya beberapa ratus meter dari tepi laut. Salah satu keunikan lain dari ereveld ini adalah deretan pohon cemara yang mengelilingi lahan ereveld.

Bagian Malam Perempuan di Sisi Barat Ereveld

Ereveld Kalibanteng dikenal sebagai “Vrouwen-Ereveld” (Ereveld Perempuan), karena banyaknya wanita dan anak-anak yang dimakamkan di tempat ini. di mana di sisi barat digunakan untuk makam wanita, dan di sisi timur digunakan mayoritas untuk makam pria. Sedangkan makam anak-anak terdapat di area tengah, menghadap ke jalan raya. Di Ereveld Kalibanteng juga terdapat pemakaman muslim, yang terletak di sisi belakang ereveld.

Monumen Peti Mati untuk
Korban Perempuan Tak Dikenal

Di dekat tiang bendera terdapat patung batu berbentuk peti mati. Jika biasanya peti mati tersebut untuk mengenang prajurit tak dikenal, kali ini peti mati tersebut ditujukan khusus untuk mengenang korban perempuan tak dikenal. Di seberang peti mati terdapat lempengan batu peringatan dari marmer putih dengan teks yang ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris yang berbunyi “Ter eerbiedige negadachtenis aan de vele ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.”, yang bermakna untuk mengenang mereka yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan.

Monumen "Jongen Kampen"

Berjalan ke arah belakang melintasi jalur yang diapit 18 pilar, terlihat dua buah monumen yang mencerminkan keberadaan Perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perang. Monumen pertama adalah monument “Jongen Kampen” (Kamp Anak Laki-Laki) karya Anton Beysens pada tahun 1988. Monumen ini untuk mengenang para anak lelaki yang dipisahkan dari ibunya dan gugur di kamp konsentrasi laki-laki, seperti di di Ambarawa, Bangkong, Gedongjati, dan Cimahi. Patung perunggu tersebut menunjukkan seorang anak lelaki kurus yang membawa pacul di atas pundaknya, bersandar pada kapak, dan tubuhnya hanya dibalut selembar kain. Terdapat tulisan pada monumen itu “Zij waren nog zo jong”, yang bermakna “Mereka masih sangat muda”.

Monumen Perempuan

Di seberang monumen ini terdapat taman dengan monumen dua orang wanita buatan Marian Gobius pada tahun 1954. Monumen perunggu tersebut menggambarkan seorang wanita yang bangga dan berdiri tegap, tengah memegang wanita lain yang membungkuk, seolah berusaha menenangkan. Mereka sama-sama menggandeng tangan seorang anak kecil yang berada di antara mereka berdua. Monumen ini menggambarkan perasaan senasib antara Wanita dan anak-anaknya, khususnya di masa sulit tersebut. 

Wisata Pemakaman PD II (6): Ereveld Candi

Setelah beberapa waktu, akhirnya saya berkesempatan ke Semarang (lebih cepat daripada perkiraan saya), yang saya manfaatkan untuk menuntaskan perjalanan mengunjungi 7 Ereveld yang ada di Indonesia. Pagi itu cuaca sangat cerah, ketika saya memulai perjalanan menuju Ereveld Candi.

Ereveld Candi terletak di Jl. Taman Jendral Sudirman 4, Bendungan Gajahmungkur, Candi Baru, di atas bukit di sisi selatan Kota Semarang. Ereveld ini dibangun atas inisiatif pasukan pertama Belanda dari Tijgerbrigade (T-Brigade) yang mendarat di Semarang pada 12 Maret 1946. Mereka memilih tempat pemakaman untuk rekan-rekan mereka yang gugur di puncak bukit Candi, yang saat itu merupakan Tillemaplein (Taman Tillema, diberi nama dari Hendrik Freerk Tillema, pendiri air minum kemasan pertama di Semarang). Pemakaman tersebut dirancang oleh Letnan Satu Ir. H. Stippel dari pasukan zeni. Pemakaman ini diresmikan pada bulan Maret 1947 dan diberi nama Ereveld Tillemaplein. Namun pada tahun 1967, atas permintaan dari pihak Indonesia, nama ereveld ini berubah menjadi Ereveld Candi.

Ereveld Candi di bawah naungan Gunung Ungaran

Ketika saya tiba di gerbang ereveld ini, yang pertama kali menarik perhatian adalah panorama gunung Ungaran yang seolah menaungi Ereveld Candi. Ini bukan satu-satunya ereveld yang memiliki panorama gunung, karena Ereveld Pandu dan Ereveld Leuwigajah pun juga dinaungi oleh gunung. Namun keunikan dari Ereveld Candi adalah letaknya di lereng bukit, sehingga lahannya dibentuk seperti terasering, dengan 5 teras yang berbentuk setengah lingkaran, Masing-masing teras dihubungkan dengan tangga dari batu alam. 

Karena saya tidak melihat petugas di dekat pintu (dan bel pintu sepertinya tidak berfungsi), saya mencoba membuka gerbang yang tidak dikunci. Dari jauh terlihat ada beberapa petugas sedang melakukan perawatan tanaman ereveld. Di kantor ereveld ternyata ada petugas yang sedang bekerja di depan computer, yang kemudian mengijinkan saya untuk melihat ke dalam ereveld. 

Dari informasi yang saya baca dari berbagai sumber, tempat ini merupakan satu-satunya ereveld khusus militer di Indonesia. Dan sejauh mata memandang nisan-nisan yang ada di Ereveld Candi, terlihat bahwa semua yang dimakamkan di tempat ini adalah laki-laki, tidak ada perempuan. Demikian juga tidak ada orang muslim yang dimakamkan di sini, hanya ada beberapa makam Yahudi dan Tionghoa.

Pada awal didirikan, tempat ini hanya ditujukan untuk memakamkan kembali seluruh tentara yang gugur masa perang kemerdekaan di Jawa Tengah. Namun pada akhirnya tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir para tentara yang gugur di Jawa Tengah pada masa Perang Dunia II. Saat ini hampir 1000 anggota tentara Belanda (KNIL) yang dimakamkan di tempat ini, termasuk menampung makam yang dipindahkan dari pemakaman tentara Belanda di Kampung Ploso (Pacitan), Gundih (Semarang), Mario Tjamba (Maros), Patjinang (Makassar), dan Palembang, antara tahun 1960-1970.

Monumen Salib

Tempat ini memiliki monumen salib berwarna putih berukuran besar yang terletak di bagian tengah pemakaman, dihiasi jalan setapak yang terbentuk dari batu-batu alam. Di bagian kaki salib tersebut terdapat prasasti dengan tulisan “Voor Veiligheid en Recht”, atau berarti “For Security and Justice”, yang menjadi titik fokus untuk merefleksikan kedua nilai ini. Pada tangga menuju salib, terdapat plakat yang menandakan ucapan dari Palang Merah Semarang. Pada tangga sisi kanan menuju salib, terdapat plakat bertulisan “Uw plichtsbetrachting maakte ons werk van naastenliefde mogelijk” dari Roode Kruis Semarang (Palang Merah Semarang pada masa Agresi Militer), yang bermakna “Pengabdian Anda pada tugas membuat pekerjaan amal kami bisa terwujud.”

Seperti di ereveld lain, terdapat monument untuk mengenang mereka yang gugur dalam perang namun tak dimakamkan di ereveld. Jika di ereveld lain monumen tersebut dalam bentuk patung peti mati, maka di Ereveld Candi monument tersebut dalam bentuk sebongkah batu berbentuk persegi di dekat tiang bendera, yang bertuliskan “Ter eerbiedige nagedachtenis aan de velle ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden.” (Untuk mengenang banyak orang yang tidak disebutkan namanya yang mengorbankan hidup mereka dan tidak beristirahat di Taman Makam Kehormatan). 

Monumen II-13 R.I.

Terdapat juga monumen untuk memperingati gugurnya 8 tentara dari Batalyon II – 13 R.I. (Regiment Infanterie), atau dikenal sebagai Batalyon Limburg. Delapan orang yang namanya terdapat di monumen tersebut sepertinya tidak dimakamkan di ereveld Candi. Batalyon II-13 sebelumnya memperkuat tentara Sekutu di Munich-Gladbach, sebelum diberangkatkan menuju Indonesia melalui Inggris pada 12 Oktober 1945, dan mendarat di Semarang pada 9 Maret 1946. Selama bertugas di Indonesia, mereka berada di bawah pimpinan Letnan Kolonel D.A. Erdman. Mereka sempat ditugaskan di Semarang, Salatiga, Pameungpeuk, Garut, Darmaredja, Gempol, dan Plered, sebelum pada 26 Februari 1948 mereka dipulangkan ke Belanda. 


Saturday, August 24, 2024

Sultan Agung vs VOC di "Kota Tahi"

Anda mungkin sering mendengar cerita pertempuran antara pasukan Mataram Islam yang dikirim Sultan Agung untuk berperan melawan VOC di Batavia yang berakhir dengan kekalahan pasukan Mataram karena dilempari tinja oleh pasukan VOC. Tapi pernahkah Anda mencari tahu, di mana persisnya lokasi pertempuran dengan amunisi aneh tersebut?

Di tanggal 11 Agustus 2024 yang lalu, Sahabat Museum melakukan Plesiran Tempo Doeloe bertajuk Koetika Kompeni Terpodjok, dengan mengunjungi bekas lokasi Fort Hollandia, sebuah bastion yang berada di ujung terluar tembok kota Batavia, yang menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Mataram dan pasukan VOC tersebut. Namun sebelum tiba di bekas lokasi Fort Hollandia, sejenak kita akan kilas balik perjalanan pasukan Mataram menuju Batavia di tahun 1628, di bawah pimpinan Ki Mandurareja. Perjalanan dari keraton Mataram di Kerto menuju Batavia memakan waktu selama 3 bulan, melalui Kulon Progo-Prembun-Pekalongan-Tegal-Cirebon-Sumedang- Cianjur-Pakuan (Bogor), untuk kemudian naik rakit menyusuri Ciliwung menuju Batavia. Tak hanya pasukan berjalan kaki, Sultan Agung juga mengirim pasukan pendahuluan melalui laut yang dipimpin Tumenggung Bahureksa. 

Di bulan Agustus 1628, pasukan Mataram telah mengepung Kota Batavia selama sebulan penuh. Pada malam tanggal 21 September 1628, para prajurit Mataram berusaha mendekati Fort Hollandia (atau lebih tepatnya Redoute Hollandia) yang merupakan pertahanan terakhir VOC. Mereka berusaha memanjat kubu atau menghancurkan tembok, serta menembaki kubu dengan bedil laras panjang. Di dalam kubu, Sersan Hans Madelijn beserta 24 serdadunya mencoba bertahan. Pihak VOC sempat kewalahan, hingga mereka kehabisan amunisi. Madelijn memiliki gagasan sinting. Ia meminta anak buahnya membawa sekeranjang penuh tinja. Dengan putus asa, pasukan VOC melemparkan kantong berisi tinja ke tubuh-tubuh prajurit Mataram yang merayapi dinding kubu Hollandia. Sekejap pasukan Mataram lari tunggang-langgang karena terkena peluru tinja tersebut. Hari berikutnya, pasukan Mataram mundur, dan serangan pun gagal. Inilah yang menjadi sumber nama “Kota Tahi”, julukan pasukan Mataram untuk kubu Hollandia.

Kisah pertempuran tersebut tercatat dalam beberapa sumber. Di antaranya adalah laporan Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen pada Dewan Hindia per 3 November 1628, Namun dalam laporan tersebut, Coen tidak menyebutkan adanya amunisi unik yang digunakan untuk menghalau pasukan Mataram. Kisah tersebut tertulis dalam sebuah buku berjudul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an Tartarischen Cham (terbit tahun 1669), serta dalam Babad Tanah Jawi. Di abad berikutnya, kisah ini juga tertulis dalam buku History of Java Volume II karya Thomas Stamford Raffles, serta dalam buku Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek, yang terbit pada 1911.

Rombongan Batmus di Situs Bekas Kubu Hollandia

Lalu, di mana lokasi sesungguhnya kubu Redoute Hollandia? Napak tilas dalam Pelesiran Tempo Doeloe kali ini membawa kami menelusuri Jl. Pinangsia Timur hingga ke ujung, blusukan di antara kompleks ruko dan pemukiman padat. Di ujung timur Jl. Pinangsia Timur, dibatasi oleh aliran Sungai Ciliwung, terdapat tapak bekas kubu Hollandia. Jika dibandingkan dengan peta lama dari jaman VOC, aliran Sungai Ciliwung yang pernah membatasi kubu Hollandia masih memiliki alur dan pola yang sama dengan yang kami lihat saat ini.

Lalu, seperti apakah rupa bangunan kubu Hollandia tatkala Mataram menyerbu Batavia pada 1628? Bang Ade Purnama sebagai penggerak Sahabat Museum menunjukkan gambar bahwa terdapat 2 rujukan yang memberikan gambaran berbeda. Dalam sebuah sumber tertulis, terdapat informasi bahwa kubu tersebut berbentuk Menara dengan pagar deretan kayu berujung runcing. Rujukan lain dari peta karya Frans Florisz. van Berckenrode berangka tahun 1627) menunjukkan bahwa pertahanan di timur kota itu berupa dinding batu yang melintang dari selatan hingga ke utara.  Di masa Gubernur Jendral Johan Camphuijs, kubu tersebut pernah dimasukkan dalam daftar monumen bersejarah. Namun disayangkan, bangunan tersebut menghilang di tahun 1766.

Posisi Situs Bekas Kubu Hollandia dari arah Jembatan Manggis

Setelah mendapatkan banyak cerita tentang pertempuran prajurit Mataram dan serdadu VOC di titik yang merupakan bekas tapak kubu Hollandia, kami berjalan kaki menyeberangi Sungai Ciliwung, memasuki Jl. Manggis 1, menuju Jembatan Manggis. Dari arah Jembatan Manggis, terlihat lebih jelas bekas lokasi kubu Hollandia dari arah Sungai Ciliwung. Bisa dibayangkan, kurang lebih demikianlah sudut pandang pasukan Mataram saat mendekati kubu Hollandia untuk melakukan penyerbuan. Dan hari ini, tempat yang pernah menjadi saksi sejarah pertempuran legendaris antara Mataram dan VOC tersebut hanya menyisakan keheningan tanpa jejak.


Sunday, August 18, 2024

Napak Tilas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 16 Agustus 1945 dini hari. Kala itu para pemuda dari perkumpulan "Menteng 31" yang terdiri dari Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh "menculik" Bung Karno dan Bung Hatta, untuk diamankan di Rengasdengklok, 81 km dari Jakarta. Tujuan mereka adalah untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan. Mengapa ke Rengasdengklok? Karena lokasinya yang cukup terpencil, namun tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain itu, di Rengasdengklok terdapat markas PETA. 

Gedung Joang 45 di Jl. Menteng Raya No. 31, Jakarta

Di manakah markas para pemuda “Menteng 31”? Bangunan yang berlokasi di jantung kota Jakarta ini semula merupakan hotel elite yang dibangun oleh L.C. Schomper pada tahun 1938, dan dikenal sebagai Hotel Schomper I. Pada masanya, hotel ini merupakan hotel yang megah. Saat Belanda menyerah di tahun 1942, bangunan hotel dikuasai oleh Badan Propaganda Jepang (Gunseikanbu Sendebu).  Di bulan Juli 1942, para pemuda yang terdiri dari Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik dan AM Hanafi meminta ijin kepada Jepang untuk memanfaatkan Gedung tersebut sebagai asrama, yang kemudian dikenal sebagai Asrama Menteng 31. Asrama ini kemudian berfungsi sebagai tempat Pendidikan politik kebangsaan, dengan para pengajar di antaranya Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Moh. Yamin, Mr. Achmad Subarjo, dll. Tahun 1943, Gedung Menteng 31 kemudian dijadikan sebagai markas Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA). Setahun kemudian, PUTERA dibubarkan dan diganti dengan organisasi baru Bernama Jawa Hokokai (Kebangkitan Rakyat Jawa), dan berkantor di Gedung tersebut.

Rumah Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok

Selama di Rengasdengklok, Bung Karno dan Bung Hatta tinggal di rumah milik Djiaw Kie Siong. Konon rencana semula Bung karno dan Bung Hatta akan ditempatkan di markas PETA di Rengasdengklok, namun karena kondisinya yang kurang layak sebagai tempat tinggal, maka para pemuda mengalihkan Bung Karno dan keluarga beserta Bung Hatta ke rumah Babah Djiaw.

Bersama Pak Yanto dan Bu Lani

Rumah milik Babah Djiaw di Rengasdengklok pernah saya singgahi bersama rombongan WalkIndies, dalam perjalanan menuju Candi Batujaya di pertengahan April 2024. Dengan sambutan hangat dari pak Yanto, cucu dari Babah Djiaw, serta ibu Lani istrinya, serta kondisi rumah bersejarah yang masih terjaga, kami malah membayangkan jangan-jangan kata “penculikan” sebenarnya agak berlebihan. Mungkin di Rengasdenglok Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda sebenarnya hanya “cangkrukan” sambil merokok dan makan gorengan. Sambil “cangkrukan”, bisa jadi Bung Karno dan Bung Hatta membujuk para pemuda agar bersabar, karena mereka tidak ingin terjadi pertumpahan darah jika proklamasi dipersiapkan secara terburu-buru.

16 Agustus 1945 tengah malam, akhirnya Bung Karno, Bung Hatta dan para pemuda kembali ke Jakarta. Setelah mereka mengetahui bahwa Jepang tidak memberikan ijin untuk mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia seperti yang telah dijanjikan Marsekal Terauchi di Dalat, mereka menuju kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang dan Angkatan Darat Jepang.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Di ruang makan rumah Maeda, dilakukan penyusunan teks proklamasi oleh Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Setelah konsep yang ditulis tangan dirasa cukup, Sayuti Melik mengetik naskah tersebut, dengan diawasi oleh B.M. Diah. Naskah proklamasi ketikan Sayuti Melik ini kemudian ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta di atas piano yang berada di rumah tersebut. Selanjutnya naskah ini pun dibacakan pada 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi di kediaman Bung Karno Jl. Pegangsaan Timur 56.

Naskah Proklamasi Ketikan Sayuti Melik

Setelah proklamasi Kemerdekaan, Rumah Laksamana Maeda sempat dijadikan Markas Tentara Inggris, dan sejak itu beberapa kali beralih fungsi. Baru pada tahun 1992 rumah yang terletak di Jl. Imam Bonjol No. 1 ini ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Satu-satunya yang masih asli dari peristiwa perumusan naskah proklamasi tahun 1945 adalah bangunan tersebut. Sedangkan benda-benda seperti kursi, meja, mesin ketik, pulpen, serta piano yang digunakan pada masa itu sudah tidak ketahuan lagi rimbanya, sehingga yang dipamerkan di museum hanyalah replikanya saja.

Monumen Proklamator

17 Agustus 1945, pukul 10 pagi. Di kediamannya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, Bung Karno membacakan Naskah Proklamasi, membuka babak baru dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pembacaan Naskah Proklamasi ini selanjutnya diikuti oleh pengibaran bendera Merah Putih yang dijahit Ibu Fatmawati oleh Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed. Pengibaran ini diiringi dengan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh hadirin.

Tugu Petir Tempat Bung Karno Berdiri Saat Membacakan Proklamasi

Jika hari ini Anda mencari tahu di apakah kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur itu masih ada, bentuk dan suasananya sudah tidak sama dengan bentuk dan suasana di tahun 1945. Saat ini lokasi tersebut sudah menjadi Taman Proklamasi, dan rumah yang menjadi kediaman Bung Karno di tahun 1945 sudah tidak ada. Pada tahun 1961, rumah tersebut dibongkar untuk dijadikan Gedung Pola Pembangunan Semesta, yang menjadi tempat koordinasi program Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahap Pertama 1961-1969. 

Tempat Bung Karno berdiri ketika membacakan naskah proklamasi ditandai dengan Tugu Petir, yang dibangun di tahun 1961. Pada tugu terdapat plakat dengan tulisan "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta". Di taman tersebut terdapat patung Bung Karno dan Bung Hatta berukuran besar, yang menggambarkan suasana pembacaan naskah proklamasi. Di antara patung Bung Karno dan Bung Hatta, terdapat patung naskah proklamasi versi ketikan oleh Sayuti Melik, terbuat dari lempengan batu marmer hitam. Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 Agustus 1980.


Monday, April 8, 2024

Jalan-Jalan ke Pabrik Pesawat Satu-Satunya di ASEAN

 "Siapa mau jadi pilot?"

Pertanyaan pemandu program edutainment di PT Dirgantara Indonesia ini sontak membuat pengunjung anak-anak berlomba-lomba mengacungkan tangan. Saya, satu-satunya peserta yang tidak membawa anak, barangkali sama sumringahnya dengan mereka, apalagi saat bis Bandros yang kami gunakan masuk ke area pabrik.

Program edutainment PTDI merupakan program memperkenalkan industri dirgantara PTDI sebagai satu-satunya pabrik pesawat di ASEAN. Jika factory tour umumnya dilakukan secara berombongan dengan mengirimkan surat resmi terlebih dahulu, program edutainment memungkinkan peserta perorangan untuk mengikuti factory tour di akhir pekan. Dan karena pesawat adalah cinta pertama saya pada teknologi, jadi saya harus menyegerakan untuk ikut program edutainment ini -- sebelum program ini menghilang tanpa jejak.

Memasuki area pabrik PTDI, pemandu menjelaskan tahapan pembuatan pesawat. Hanggar pertama adalah produksi fuselage yang akan menjadi badan pesawat. Fuselage dan bagian pesawat lainnya seperti sayap, ekor, dan roda pendaratan kemudian dirakit di hanggar berikutnya, serta melengkapi pesawat dengan mesin, instrumentasi, dan interior yang dibutuhkan. Setelah melewati tahap ini, pesawat akan dicat sesuai permintaan pemesan.

Hanggar berikutnya adalah tempat pengujian pesawat yang sudah dirakit. Sebelum diserahkan kepada pemesan, pesawat akan diinspeksi dan diujicoba terlebih dahulu untuk memastikan semua sistemnya berjalan dengan baik. Di dalam hanggar terdapat CN 235 flying test bed yang digunakan untuk uji coba. Sekilas saya cari di internet, kemungkinan pesawat ini digunakan untuk ujicoba green avtur.

Sebelum lanjut ke tahapan berikutnya, bis Bandros berhenti di dekat pesawat-pesawat yang parkir di depan hanggar. Pengunjung diperkenankan turun dan melihat wujud nyata pesawat produksi PTDI, walaupun tidak bisa terlalu dekat karena diberi pembatas. Saya mengenali pesawat pertama yang terlihat, kok ada Gatotkaca? Bukan, itu bukan N250 Gatotkaca yang pulang kampung dari Museum Dirgantara Mandala. Pesawat dengan bentuk dan warna yang sama dengan Gatotkaca tersebut adalah N250 Krincingwesi, "adik" N250 Gatotkaca.

Atas: N250 Krincingwesi
Bawah: N250 Gatotkaca di Museum Dirgantara Mandala

N250 merupakan pesawat penumpang turboprop 2 mesin karya BJ Habibie, sebagai wujud cita-cita agar Indonesia mampu membuat pesawat sendiri. Hal ini sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang berbentuk negara kepulauan, akan lebih mudah jika terkoneksi melalui udara. Pesawat yang diproduksi PTDI ini digadang-gadang akan menjadi tonggak sejarah kejayaan kedirgantaraan Indonesia. 

N250 Gatotkaca sebagai purwarupa pertama terbang perdana pada 10 Agustus 1995 di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Pesawat tersebut sempat mengikuti beberapa airshow, dan menjadi bintang Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Untuk pengembangan selanjutnya, dibuat purwarupa kedua N250 Krincingwesi, yang terbang perdana pada 19 Desember 1996. Krincingwesi dibuat sedikit lebih panjang daripada Gatotkaca, sehingga memiliki kapasitas lebih besar. Namun bobotnya lebih ringan, karena tata letaknya dibuat lebih efisien. Selain itu desain strukturnya juga dibuat lebih halus.

Pada 1997, seiring krisis moneter yang melanda Indonesia, Proyek N250 terpaksa harus berhenti. N250 Gatotkaca dan N250 Krincingwesi terparkir selama seperempat abad di PTDI. Atas permintaan Panglima TNI Hadi Tjahjanto, pada tahun 2020 N250 Gatotkaca dipindahkan ke Yogyakarta menjadi penghuni Museum Dirgantara Mandala, sebagai sarana edukasi masyarakat bahwa bangsa kita telah mampu merancang dan membuat pesawat sendiri. Sedangkan Krincingwesi masih berada di PTDI, dan turut menjadi sarana edukasi bagi para peserta factory tour.

CN 235 Flying Test Bed

Selain Krincingwesi, di parkiran hanggar terdapat CN 235 flying test bed yang sudah tidak digunakan lagi, CN 235 merupakan signature product pesawat penumpang PTDI yang sukses. Dikembangkan pada 1979 oleh IPTN (nama PTDI pada masa itu) dan CASA (sekarang menjadi Airbus Defense &Space), prototipe CN 235 buatan IPTN bernama Tetuko terbang pertama kali pada Desember 1983. Produksi pertama dilakukan pada 1986, dan saat ini CN 235 sudah diproduksi dengan berbagai varian dan digunakan di berbagai negara. 

Peragaan MALE di Ruang Mock Up

Ada benda panjang berwarna hitam di sisi CN 235. Benda tersebut bukan rudal, melainkan purwarupa drone jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) bernama "Elang Hitam". Drone ini hasil pengembangan Konsorsium Kementerian Pertahanan, TNI Angkatan Udara, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), PT Dirgantara Indonesia (PTDI), PT LEN Industri dan ITB. Purwarupa drone ini telah di-roll out pada 30 Desember 2019. Pesawat nirawak ini direncanakan dapaf dimanfaatkan untuk menangkal ancaman territorial, pengawasan cuaca dan pencegahan kebakaran hutan.

Dari apron, kami naik Bandros menuju hanggar pemeliharaan. Saat kami berkunjung, salah satu pesawat yang ada di dalam adalah Helikopter Super Puma. Helikopter NAS-332 Super Puma merupakan pengembangan SA-330 Puma kerjasama IPTN dengan Aeropastiale (sekarang Airbus Helicopters) dengan mesin yang diperbarui serta kabin penumpang diperbesar. Super Puma pertama kali terbang pada 1978, dan sejak 1980 menggantikan SA-330 Puma, Helikopter dengan 2 mesin ini dapat membawa 29 penumpang, serta dapat dipersenjatai dengan pod senapan, roket, dan misil, serta senjata untuk perang anti serangan laut. 

Informasi N219 di Ruang Mock Up

Hanggar terakhir sebelum masuk ruang mock up adalah tempat perakitan N219. N219 Nurtanio adalah pesawat multiguna generasi baru yang sepenuhnya karya anak bangsa. Dirancang sebagai pesawat angkutan penumpang, pesawat bermesin ganda turboprop berkapasitas 19 penumpang ini memiliki luas kabin terbesar di kelasnya. Ide dan desain N219 dikembangkan oleh PTDI, dengan pengembangan program dilakukan oleh PTDI dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. N219 dirancang dengan fixed tricycle landing gear, memungkinkan pesawat ini untuk melakukan Short Take-off and Landing (STOL), serta melakukan pendaratan dan lepas landas di medan yang sulit, seperti di bandara di ketinggian, atau di landasan bandara perintis. Purwarupa dari N219 telah melakukan uji terbang perdana pada 16 Agustus 2017, dan masih menjalani serangkaian pengujian sertifikasi, untuk menjamin keamanan dan keselamatan.

Informasi KF-21 Boramae di Ruang Mock Up

Ruang mock up merupakan ruang terakhir sebelum factory tour berakhir. Di sini terdapat informasi lebih detail tentang produk PTDI, seperti PUNA MALE, UAV Wulung, N219, CN 235 dalam berbagai varian, serta NC 212. Di antara pesawat yang diperkenalkan, terdapat KFX/IFX, pesawat hasil kerjasama PTDI dengan Korea Aerospace Industries, yang dikenal juga sebagai KF-21 Boramae. Program pesawat tempur ini didanai 80% oleh Republik Korea dan 20% oleh Republik Indonesia. 

Mock Up CN 235 ex Merpati Nusantara Airlines

Bagi yang ingin tahu seperti apa kokpit sebuah pesawat, ruangan ini memiliki mock up CN 235 yang pernah dioperasikan oleh Merpati Nusantara Airlines. Interiornya sudah dikosongkan, menyisakan galley yang digunakan untuk menyajikan makanan. Mock up ini tentunya menjadi favorit anak-anak, yang langsung menyerbu untuk bergantian menjajal kokpitnya. Sementara saya mencoba mengingat, jangan-jangan dulu saya pernah naik pesawat ini dari Halim menuju bandara Tunggul Wulung pakai mampir di Husein Sastranegara…

Friday, March 22, 2024

Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa

 "Payah loe, udah dibantu GM*ps tapi tetep aja nyasar!"

Percakapan ini sepertinya lumrah kita dengar saat ini. Yeps, peta digital memang sangat praktis untuk keperluan mobilisasi di jaman kiwari. Peta merupakan representasi visual dari berbagai elemen yang ada di muka bumi. Perjalanan ilmu kartografi atau pembuatan peta saat ini sudah sedemikian canggih, hingga memungkinkan kita membaca peta dalam versi digital, bahkan dalam genggaman. Namun, seperti apa peta-peta di masa lampau, yang digunakan para pelaut untuk navigasi kapal-kapal mereka menjelajah samudra?

Nusa Jawa dalam pandangan kartografer Portugis Abraham Ortelius 1595

Pameran Kartografi Nusa Jawa yang diselenggarakan antara 16 Januari s/d 30 April 2024 di Museum Bahari memamerkan peta-peta kuno -- khususnya peta pulau Jawa dari abad ke-16. Jika kita bandingkan dengan peta masa kini yang penggambarannya sudah sesuai dengan kondisi nyata, peta-peta kuno tersebut sangat berbeda. Bisa dilihat bahwa peta kuno tersebut mencerminkan interpretasi para pembuat peta jaman dulu terhadap wilayah yang dipetakan. Misalnya pada peta penjelajah Belanda abad 16, pulau Jawa digambarkan sama besarnya dengan pulau Sumatera. Atau peta yang dibuat kartografer Belanda pada tahun 1606, yang memperlihatkan seolah Pulau Jawa dibelah oleh sungai besar dari pantai utara hingga pantai selatan. Peta-peta kuno tersebut saat ini dapat dianggap sebagai sebuah karya seni berbasis kartografi. Selain peta-peta kuno, kita juga diperkenalkan dengan peralatan yang membantu kartografer masa lalu untuk membuat peta atau membantu para pelaut menentukan posisi kapalnya. Di antara peralatan tersebut terdapat sekstan dan teropong panjang.

Peta Pulau Jawa Terpisah oleh Pieter Van Der Aa 1707

Salah satu peta yang ditampilkan adalah Peta Tjiela. Peta Tjiela yang asli ditemukan di Desa Ciela, Kec. Bayongbong, Garut, pada tahun 1858 oleh Karel Frederik Holle, pemilik perkebunan the di CIkajang, Garut. Tuan Holla (panggilan akrab masyarakat Cikajang kepada Holle) memang bukan sekadar juragan perkebunan the, namun juga peminat kebudayaan Sunda. Peta Tjiela tergambar pada sehelai kain kafan berukuran 1 meter x 2 meter. Peta tersebut menggambarkan wilayah yang cukup luas, mencakup wilayah yang sekarang menjadi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, sampai dengan Kabupaten Cilacap. Dalam peta tersebut termuat symbol laut, sungai, gunung, bukit, danau, jalan, dan rawa, dengan symbol yang umum digunakan pada peta yang kita kenal hari ini. Peta tersebut memuat keterangan nama yang ditulis dengan huruf Sunda kuno, seperti Cirebon, Bekassih, dan Nusa Kalapa. Di bagian tengah peta tergambar wilayah kerajaan bernama Timbangaten. Uniknya, arah utara pada peta diletakkan di bagian bawah, sedangkan arah selatan pada bagian atas peta.

Holle meyakini peta tersebut dibuat sekitar tahun 1560. Dugaan ini diperkuat oleh penelitian arkeolog lainnya, yang mengatakan kemungkinan peta tersebut berasal dari abad ke-16. Siapa pembuat peta ini, tidak diketahui, namun peta ini dibuat oleh penduduk Nusantara. Ini menjadi bukti bahwa sejatinya penduduk asli Nusantara sudah mengenal pembuatan peta sebelum para penjelajah Eropa hadir di Nusantara. Salah satu tokoh dari Nusantara yang mengenal peta dan globe adalah Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri dan penasehat utama Raja Gowa di abad ke-17. Dari hasil penelitian lebih lanjut oleh para ahli geologi Indonesia di tahun 1976-1977, penulis buku Prof. P. D. A Harvey menduga bahwa Peta Ciela memiliki kemiripan dengan peta masa awal Dinasti Han dari Cina.

Atas: Puzzle Peta Ciela di Museum Sejarah Jakarta (foto koleksi pribadi, 2019)
Bawah: Salinan Peta Ciela di Pameran Kartografi Nusa Jawa (foto koleksi pribadi, 2024)

Beruntung Holle sempat membuat salinan Peta Tjiela tersebut dan menuliskan ulasan tentang peta tersebut dalam sebuah majalah, karena pada tahun 1975 diketahui peta yang asli telah hilang, diduga terbakar dan hilang tenggelam bersama kapal yang mengangkutnya. Tulisan Holle menjadi sumber awal yang penting dalam menelusuri kartografi yang dilakukan penduduk Nusantara. Di Pameran Kartografi Nusa Jawa kita bisa melihat bentuk salinan dari peta tersebut, sedangkan jika kita ingin melihat dari dekat, kita bisa melihat Peta Tjiela dalam bentuk puzzle yang dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta. Saat ini salinan Peta Tjiela yang dibuat berdasarkan salinan Holle disimpan oleh keluarga Ihak Lukman di Desa Ciela, dan dianggap sebagai benda pusaka.

Mengingat pentingnya peta untuk membantu menunjukkan posisi atau lokasi relative dalam hubungannya dengan tempat lain di permukaan bumi, khususnya dalam aktivitas pelayaran di masa lalu, tidak mengherankan jika pameran ini dibuat di Museum Bahari Jakarta. Museum ini dulu merupakan gudang VOC untuk menyimpan komoditas seperti rempah, kopi, the, tembaga, timah, dan tekstil. Selain melihat-lihat koleksi terkait kebaharian Indonesia, arsitektur museum sendiri juga menarik untuk ditelisik, mengingat museum ini dibangun dengan teknologi abad ke-17, dan masih bertahan hingga sekarang, walaupun dinding-dindingnya harus menghadapi ancaman penggaraman.

Sisa Pilar Kayu dan Pintu yang Terbakar di Memorial Museum Bahari

Selesai melihat pameran peta, saya tertarik dengan ruangan di Gedung sebelah, yang pintunya terbuka dan cukup terang. Ternyata ruangan tersebut merupakan Ruang Memorial Museum Bahari, dan menyimpan informasi terkait peristiwa kebakaran besar pada 16 Januari  2018 yang melalap 64 koleksi museum. Pada ruang memorial ini dipamerkan beberapa kaki pilar, pintu, dan ambang jendela yang terbuat dari kayu jati, yang sebagian besar hangus dilalap si jago merah. Ruangan ini juga menampilkan video upaya pemadaman kebakaran, serta kliping surat kabar yang memuat berita kebakaran tersebut dan upaya pemulihan kembali museum pasca kebakaran. Saat menapakkan kaki, saya baru sadar, mungkin Ruang Memorial ini adalah salah satu ruangan yang ikut terbakar saat itu, karena terdapat bagian ruangan dengan lantai kayu yang terlihat lebih baru dibandingkan bagian ruangan lainnya. Bagi saya, Ruang Memorial ini mungkin menjadi pengingat bagi kita, untuk terus berupaya memitigasi bencana kebakaran agar tidak terjadi lagi, khususnya di museum-museum kita.

Sunday, March 17, 2024

TPU Pandu, Tempat Peristirahatan Terakhir Tokoh-Tokoh Kota Bandung

Mengunjungi Ereveld Pandu, rasanya tak lengkap kalau tak sekalian menjelajah TPU Pandu. TPU Pandu didirikan pada tahun 1932, sebagai bagian dari penertiban pemakaman di Kota Bandung sesuai Bouwverrordening van Bandung tahun 1917. Berdiri di lahan seluas 83.000 m2 (kurang lebih 10 hektar), TPU Pandu memiliki jumlah makam hingga 21 ribu. Daya tarik makam ini adalah merupakan tempat peristirahatan terakhir beberapa tokoh terkenal di Kota Bandung. Tahun 1973, TPU Pandu merupakan salah satu TPU yang digunakan untuk merelokasi makam dari Kerkhoff Kebon Jahe (sekarang menjadi Sarana Olahraga Sport Hall Pajajaran).

Nisan Profesor Schoemaker

Di antara ribuan makam yang ada di TPU Pandu, terdapat nisan Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker, seorang arsitek dan guru besar Technische Hogeschool te Bandoeng (sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung). Prof. Schoemaker lahir di Banyubiru, Ambarawa, pada 25 Juli 1882. Karirnya diawali sebagai insinyur KNIL, sebelum kemudian mengundurkan diri dan bekerja di biro arsitek. Sebagai guru besar di THB, salah satu murid Schoemaker adalah Ir. Soekarno, presiden pertama RI. Karya arsitektur Schoemaker masih dapat kita lihat hari ini, seperti Gedung Merdeka, Hotel Preanger, Katedral Santo Petrus, Gereja Bethel, Villa Isola, dan Masjid Cipaganti. 

Gedung Merdeka, salah satu karya Prof Schoemaker

Schoemaker wafat pada 22 Mei 1949 dan dimakamkan di TPU Pandu. Namun ironisnya, makam Schoemaker tidak seartistik karya-karyanya. Nisan yang bertuliskan tanggal lahir, tanggal wafat, dan gelar kehormatan Ridder in De Orde van Denetherlandse Leeuw (Ksatria Ordo Singa Belanda) ini seperti batu nisan biasa, tanpa ornament berlebihan, dan terhimpit batu nisan makam-makam lain, sehingga untuk mencapai makam Schoemaker, kita harus melewati atau meloncati makam-makam lainnya.

Konon makam Schoemaker merupakan salah satu makam yang sempat terancam akan dibongkar di tahun 2002, karena tidak ada yang membayar retribusinya. Namun rencana ini urung dilaksanakan, setelah putra mendiang Presiden Soekarno, Guruh Sukarnoputra, mengulurkan bantuan. Di tahun 2003, Juan Schoemaker, cucu dari Schomaker yang sudah lama mencari makam mendiang kakeknya, akhirnya berhasil berkunjung ke makam ini.

Selain makam Schoemaker, di TPU Pandu terdapat makam keluarga Ursone. Keluarga Ursone berkebangsaan Italia, dan datang ke Bandung di tahun 1890-an sebagai musisi. Mereka kemudian mengembangkan usaha pemerahan susu sapi yang berada di Lembang sejak tahun 1895. Mereka merupakan pendiri Bandoengsche Melk Centrale (BMC), yang saat ini masih beroperasi di Jalan Aceh. Keluarga Ursone memiliki lahan yang cukup luas di Lembang, bahkan lahan observatorium Bosscha merupakan hibah dari keluarga Ursone.

Mausoleum Keluarga Ursone

Dibandingkan makam Schoemaker, makam Ursone terlihat lebih menonjol, karena dapat dikatakan merupakan makam paling megah di antara makam yang ada di TPU Pandu. Makam berbentuk mausoleum dengan pilar tinggi ini dihiasi sepasang patung wanita yang sedang menunduk seolah menunjukkan kedukaan. Di atas pilarnya bertuliskan “Orate Pro Nobis” yang bermakna “doakan kami”. Di mausoleum tersebut terdapat nama 8 anggota keluarga Ursone yang (semula) dimakamkan di mausoleum tersebut. Makam bergaya barok ini terbuat dari marmer. Hal ini kemungkinan sangat berkaitan karena salah satu anggota keluarga Ursone, A. Ursone pernah membuka usaha batu marmer yang bernama Carrara Marmerhandel en bewerking di daerah Banceuy, Kota Bandung. Makam ini bukan merupakan makam asli di TPU Pandu, melainkan pindahan dari Kerkhof Kebon Jahe (sekarang GOR Pajajaran). 


Saturday, March 16, 2024

Wisata Pemakaman PD II (5): Ereveld Pandu

Lautan awan yang menggantung di langit Kota Bandung menemani saya melangkahkan kaki dari pintu masuk TPU Pandu, menuju Kompleks Ereveld Pandu. Di pintu masuk TPU Pandu, sudah tertulis bahwa bagi mereka yang akan berkunjung ke Ereveld agar berjalan terus sejauh 100 meter untuk kemudian menekan bel di pintu gerbang. Sesampainya di gerbang Ereveld yang tertutup, saya dibantu salah satu petugas TPU untuk membukakan gerbang Ereveld, sebelum kemudian membunyikan bel memanggil petugas Ereveld.

Ereveld Pandu adalah Taman Makam Kehormatan Belanda yang terletak di tengah-tengah TPU Pandu, tepatnya di Jl. Pandu No. 32, Bandung. TPU Pandu sendiri berdiri pada 1932, lebih tua daripada Ereveld Pandu yang didirikan pada 1948. Ereveld Pandu diresmikan pada 7 Maret 1948 oleh Jendral S.H. Spoor. Pemilihan tanggal tersebut bersamaan dengan peringatan pertempuran Tjiaterstelling di tahun 1942, di mana dalam upacara peresmian Ereveld dilakukan pemakaman kembali 14 jenasah tentara KNIL yang gugur pada pertempuran tersebut. 

Terdapat lebih dari 4000 makam di Ereveld Pandu. Mereka yang dimakamkan di sini adalah mereka yang meninggal di kamp konsentrasi Jepang atau gugur dalam pertempuran selama Perang Dunia II dan di masa Perang Kemerdekaan, baik dari miiter maupun sipil. Antara tahun 1960-1970, sesuai dengan perjanjian sentralisasi Makam Belanda, Ereveld Pandu menerima pemakaman kembali mereka yang semula dimakamkan di ereveld dari Muntok (1960), Palembang (1967), dan Makassar (1968).

Mereka berbaring di bawah naungan Tangkuban Perahu

Saya datang di hari Minggu, sehingga ereveld sangat sepi. Menurut informasi pak Wiradi, petugas jaga malam Ereveld Pandu, Ereveld Pandu banyak menerima pengunjung dari mereka yang ingin berziarah mencari makam kerabatnya, serta dari individu atau rombongan komunitas peminat sejarah. Sekilas melihat, ereveld ini terlihat lebih luas daripada Ereveld Leuwigajah yang saya datangi sebulan lalu, walaupun jumlah makam di Pandu lebih sedikit dibandingkan di Leuwigajah. 

Mirip seperti Ereveld Leuwigajah, Ereveld Pandu juga dilatari pemandangan gunung. Di sisi utara, terlihat jelas siluet Gunung Tangkuban Parahu, walaupun cuaca sedang tidak terlalu cerah. Sedangkan di sisi selatan, terdapat siluet Gunung Halimun, seolah saling berhadapan dengan Gunung Tangkuban Parahu.

Seluas mata memandang, yang terlihat adalah nisan berwarna putih, yang didominasi bentuk salib. Dari bentuk nisannya, dapat diketahui agama dari yang dimakamkan di tempat tersebut. apakah Kristen, Islam, atau Buddha. Jika yang bersangkutan adalah personil militer, biasanya disebutkan pangkat dan asal satuannya. Beberapa makam bertuliskan “Onbekend”, yang berarti “tidak dikenal”. Beberapa makam juga memiliki tulisan yang menjelaskan makam tersebut merupakan pindahan dari ereveld lain. Khusus pemakaman muslim, mereka ditempatkan di blok sendiri dan jenasahnya diatur menghadap kiblat.

Monumen Umum di pintu masuk ereveld

Kekhasan Ereveld Pandu adalah 4 monumen untuk mengenang momen penting, lebih banyak dibandingkan ereveld lain. Monumen pertama adalah monumen umum rancangan A.W. Gmelig Meyling. Monumen ini berdiri di atas platform dan disangga 8 pilar. Di atas monumen terdapat kalimat “Opgerichtter Gedachtenis Aan Hen Die Vielen Als Offer In De Strijd Om Vrede En Recht”, yang bermakna “Dalam kenangan kepada mereka yang gugur berkorban memperjuangkan perdamaian dan keadilan”. Jika di ereveld lain umumnya hanya terdapat 1 monumen peti batu, monumen ini memiliki 2 peti batu yang mengapit tablet granit dengan relief Singa Belanda. Peti batu di sisi kiri diberi lambang helm dan pedang, merupakan monumen bagi “Prajurit Tak Dikenal”. Sedangkan peti batu di sisi kanan diberi lambang obor, merupakan monumen bagi “Warga Sipil Tak Dikenal”.

Monumen KNIL

Monumen kedua adalah Monumen KNIL, yang merupakan replika monumen di Koninklijk Tehuis voor Oud-militairen “Bronbeek” di Arnhem, Belanda. Monumen yang didesain oleh Mrs. Therese de Groot-Haider ini didirikan pada 15 Agustus 1991, menggambarkan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijke Nederlands-Indische Leger - KNIL) dengan pakaian dinas lapangan, dilengkapi klewang dan pistol carbine yang menjadi ciri khas KNIL. Keberadaan monumen ini di Ereveld Pandu merupakan bentuk ikatan antara KNIL dan Bandung, karena markas besar KNIL terletak di Bandung.

Monumen ketiga adalah Monumen Padalarang yang terbuat dari 5 pilar dan sebuah buku. Monumen ini merupakan peringatan gugurnya 5 musisi dalam kecelakaan pesawat Koninklijke Luchtvaart Maatschappij Interinsulair Bedrijf DC-3 PK-REA tanggal 10 Februari 1948 yang jatuh di Padalarang akibat cuaca buruk. Menurut saksi mata, pesawat terbakar di bagian mesin dan kondisi badai, sehingga pesawat tak terkendali dan jatuh pada pukul 16.05 WIB di dekat lintasan rel antara Stasiun Cilame dan Sasaksaat. Pesawat tersebut membawa 4 awak dan 15 penumpang, bertolak dari Andir menuju ke Kemayoran.

Monumen Musisi Korban Kecelakaan PK-REA

Di antara 15 penumpang, terdapat lima warga sipil yang terdiri dari tiga musisi klasik asal Belanda, yaitu pianis Elisabeth Everts (28 tahun), pemain cello Johan Gutlich (36 tahun), dan violist Rudi Broer van Dijk (22 tahun), eluctionist Francina Geertruida Maria Gerrese (46 tahun), serta seorang pensiunan sersan KNIL Leendert Paay (45 tahun). Mereka datang ke Hindia Belanda sejak bulan Oktober 1947 dalam rangka misi pentas untuk menghibur para serdadu KNIL. Pentas mereka didukung organisasi Nationale Inspanning Welzijnsverzorging Indië (NIWIN), sebuah organisasi amal untuk kesejahteraan pasukan Belanda di Indonesia. Jenasah mereka semula dimakamkan pada tanggal 12 Februari 1948 di Ereveld Parkweg Bandung (sekarang Kampus Unisba). Karena dianggap berjasa menghibur pasukan KNIL, maka pada tanggal 21 Maret 1950 kelima jenasah tersebut dipindahkan ke Ereveld Pandu. Adapun penumpang lainnya yang merupakan anggota ML KNIL dimakamkan di Ereveld Tjililitan, sebelum kemudian dipindahkan ke Ereveld Menteng Pulo.

Monumen Tjiaterstelling

Monumen keempat adalah monumen Tjiaterstelling (Pos Ciater), sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang gugur ketika melawan Jepang antara 1-8 Maret 1942 di sekitar Subang, Kalijati dan Ciater. Pertempuran Perlintasan Ciater terjadi di antara perkebunan Ciater dan hutan Jayagiri Cikole, berlangsung dari 5 hingga 7 Maret 1942 antara pasukan invasi Jepang melawan pasukan KNIL. Pertempuran ini memperebutkan Perlintasan Ciater yang merupakan garis pertahanan terakhir Batalion 5 KNIL di Bandung, dalam upaya mempertahankan Kota Bandung. Pertempuran berakhir dengan kekalahan pasukan KNIL. Dari 72 orang yang dieksekusi di Ciater, hanya 3 orang yang selamat. Pada 8 Maret 1942 pemerintah Hindia Belanda menyerahkan Hindia Belanda kepada Jepang di Kalijati.

Monumen Tjiaterstelling berbentuk 12 prasasti yang melingkari tiang bendera pada monumen, bertuliskan nama-nama mereka yang gugur di Tjiaterstelling dan Subangtelling. Di pondasi tiang bendera terdapat 12 simbol zodiak dan simbol 4 agama besar di dunia. Sedangkan di dasar tiang terdapat nama-nama tempat pertempuran KNIL: Subang, Ciater, Kalijati, Cihapit, Karees, Batalyon 15, Sukamiskin, Cirebon, Banyumas, Cianjur, dan Preanger.


Sunday, March 3, 2024

Tarekat Mason Bebas di Nusantara

Secret Society of Batavia, wow… membayangkan di masa Hindia Belanda, ada perkumpulan rahasia di Batavia. Benarkah itu? Perjalanan saya bersama Tour WalkIndies pada awal Oktober 2023 yang lalu akhirnya menguak banyak cerita menarik tentang Perkumpulan Rahasia ini.

Yang dimaksud Perkumpulan Rahasia tersebut adalah “Freemasonry”. Freemasonry (bahasa Belanda: Vrijmetselarij, bahasa Indonesia: Tarekat Mason Bebas,) adalah organisasi persaudaraan yang asal-usulnya tidak jelas dan muncul antara akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, dan saat ini anggotanya tersebar di seluruh dunia. Freemasonry merupakan organisasi yang sangat eksklusif, tertutup dan ketat dalam penerimaan anggota barunya. Kata mason berasal dari bahasa Prancis, maçon, yang artinya "tukang batu", karena organisasi ini pertama kali dibentuk oleh para “tukang batu” (jaman sekarang profesi tersebut setara dengan insinyur). Persyaratan untuk bergabung dengan Freemason saat itu adalah harus laki-laki, memiliki agama, dan bebas dari perbudakan. Tujuan utamanya adalah membangun persaudaraan dan pengertian bersama akan kebebasan berpikir dengan standar moral yang tinggi. Hal ini mencerminkan tujuan utama Freemasonry untuk membangun persaudaraan dan pengertian bersama akan kebebasan berpikir dengan standar moral yang tinggi. 

Freemason masuk ke Nusantara sejak tahun 1762, ditandai dengan pendirian loji pertamanya di Batavia, "La Choisie", oleh J.C.M. Radermacher (1741–1783).  Radermarcher dikenal sebagai pendiri organisasi Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (cikal bakal Museum Nasional Indonesia). Di masa Hindia Belanda, Freemason berkembang cukup pesat, didorong faktor banyak tentara Belanda yang ditugaskan ke Hindia Belanda yang merupakan anggota Freemason. 

Sempat surut di masa pendudukan Jepang, ketika Indonesia Merdeka dan dinyatakan berdaulat, Freemason mulai hadir kembali. Antara 1950-1951, banyak loji-loji baru didirikan di Indonesia. Pada tanggal 7 April 1955 didirikan Tarekat Mason Indonesia. Namun keberadaan Freemason di Indonesia tidak berlangsung lama. Tahun 1961, Presiden Soekarno menerbitkan Peraturan Penguasa Perang Tertinggi Republik Indonesia nomor 7 tahun 1961 yang melarang beberapa organisasi yang dianggap bersumber dari luar Indonesia dan tidak sesuai dengan kepribadian nasional, salah satunya adalah “Vrijmetselaren-Logge" (Loge Agung Indonesia). Adanya peraturan ini membuat organisasi Freemason di Indonesia dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. 

Saat mengikuti tour “Secret Society of Batavia” bersama WalkIndies, kami melihat bukti keberadaan Freemason di Nusantara, yang ditandai dengan simbol-simbol khas pada nisan para anggota Freemason. Simbol pada nisan tersebut dapat ditemui di Museum Taman Prasasti, yang dahulu merupakan pemakaman elite modern dan tertua di dunia, dikenal dengan nama Kebon Jahe Kober. 

Nisan Mayor Schneider dengan Simbol Jangka dan Mistar

Nisan pertama di Museum Taman Prasasti yang memiliki simbol Freemason adalah nisan tembaga dari Mayor Lodewijk Schneider yang wafat tahun 1820. Pada nisan tersebut terdapat simbol jangka dan mistar, dengan atasnya terdapat Segitiga berisi mata, atau “All-Seeing Eye”. Jangka dan mistar merupakan simbol bahwa Tarekat Mason Bebas berawal dari profesi tukang batu. Simbol ini juga dapat dimaknai bahwa para Mason memiliki misi "membangun" kuil kemanusiaan. Sedangkan “All Seeing Eye” merupakan lambang Mata Ilahi yang mengawasi umat manusia, sebagai pengingat bahwa pemikiran dan perbuatan para Mason selalu diawasi oleh Tuhan.

Di Museum Taman Prasasti juga terdapat nisan Olivia Mariamne, istri Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Hindia Belanda pada masa penjajahan Inggris. Walaupun tidak dilengkapi simbol Masonik, namun kaitannya dengan Freemason adalah Raffles juga merupakan anggota Mason yang bergabung pada tahun 1812. Uniknya, Raffles dilantik menjadi anggota Mason bukan di Eropa, melainkan di Jawa. Ada yang mengatakan Raffles dilantik sebagai anggota Mason di Loji Virtutis et Artis Amici di Pondok Gede. Tahun 1813, Raffles naik jabatan menjadi Worshipful Master dengan upacara di Loji De Vriendschap di Tunjungan, Surabaya. 

Nisan JH Horst dengan Momento Mori

Tak jauh dari nisan Olivia, terdapat nisan JH Horst, kepala badan survey tanah yang mendesain Willemskerk (sekarang GPIB Immanuel Jakarta), walaupun Horst bukan seorang arsitek. Di atas nisannya terdapat simbol Masonik “Momento Mori” yang berbentuk tengkorak dengan dua tulang bersilang, yang bermakna "mengingat kematian". Melingkari simbol Memento Mori, terdapat ukiran ranting akasia. Ukiran ranting akasia ini berasal dari kisah Hiram Abiff, seorang arsitek kepala di jaman Nabi Sulaiman yang dipercaya memegang kata kunci rahasia Mason. Dalam proses pembangunan Bait Salomo yang dipimpin oleh Abiff, suatu hari terdapat 3 orang yang mencegat Abiff dan meminta kunci rahasia Mason. Abiff tak mau memberikan kata kunci tersebut, sehingga ketiga orang itu membunuhnya dan menyembunyikan jasadnya di puing-puing, kemudian menandainya dengan ranting akasia. 

Nisan Jendral Kohler dengan Ouroboros

Salah satu tokoh militer Hindia Belanda yang juga merupakan anggota Freemason adalah Jendral J.H.R. Kohler, panglima perang Hindia Belanda yang tewas dalam Perang Aceh tahun 1873.  Keterlibatan Kohler dengan Freemason ditandai dengan simbol ular yang menggigit ekornya sendiri atau Ouroboros pada nisannya. Simbol ini bermakna lingkaran siklus kehidupan: kehidupan-kematian-kelahiran kembali. Selain Ouroboros, keterlibatan Kohler dalam Freemason juga ditandai dengan simbol obor terbalik. Nyala obor menandakan kehidupan, namun karena di nisan Kohler obor tersebut diletakkan terbalik, bermakna kematian bagi Kohler. Saat jasad di pemakaman Kebon Jahe Kober dipindahkan dan tempat ini dijadikan museum, jasad Kohler dipindahkan ke Kerkhoff Peucut di Banda Aceh.

Dari Museum Taman Prasasti, tour jalan kaki berlanjut melewati Istana Merdeka, GKI Immanuel, Gedung AA Maramis, dan berakhir di Kantor Pusat Kimia Farma di Jl. Budi Utomo. Bangunan yang didirikan tahun 1830 ini dulu merupakan Loji Bintang Timur (De Ster in het Oosten), salah satu loji Freemason yang digunakan untuk tempat pertemuan. Pada masanya, terdapat tidak kurang dari 20 loji utama Freemason di Nusantara: 14 di Jawa, 3 di Sumatra, serta terdapat di Makassar dan Hollandia (Jayapura). Banyak loji yang ditutup pada masa pendudukan Jepang. Walaupun setelah masa kemerdekaan sempat berdiri beberapa loji baru, semua loji di Indonesia ditutup setelah organisasi Freemason dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

Gedung Kimia Farma, dulunya Loji Bintang Timur

Menariknya, di masa Hindia Belanda, Jl. Budi Utomo tempat berdirinya Loji Bintang Timur ini diberi nama Vrijmetselaars Weg (Jalan Fremason). Namun organisasi Budi Utomo tidak ada hubungannya dengan Freemason, walaupun beberapa tokoh pentingnya merupakan anggota Freemason, seperti Dr. Radjiman Wedyodiningrat dan Pangeran Ario Notodirodjo. Fakta lainnya, Dr. Radjiman bukan pribumi pertama yang menjadi anggota Freemason.  Anggota Freemason pribumi pertama adalah Raden Saleh, pelukis pelopor aliran Romantisme di Nusantara. Raden Saleh diketahui menjadi Freemason ketika menempuh pendidikan di maestro lukis di Den Haag.

Gedung Bappenas, dulunya Loji Adhuc Stat

Tahun 1935, Freemason membuat loji baru di Kawasan Menteng bernama Loji Adhuc Stat, yang kini digunakan sebagai Gedung Bappenas. Bangunannya merupakan desain dari NE Burkoven Jaspers, dan dibangun sejak tahun 1934. Freemason bisa mendapatkan tanah untuk membuat loji, karena walikota Batavia saat itu merupakan anggota Freemason. Masyarakat mengenal gedung Bappenas sebagai Gedung Setan, karena sering dikira sebagai tempat pemujaan setan oleh para anggota Mason.


Wednesday, February 14, 2024

Masjid Cut Mutiah, Biro Yang Menjadi Rumah Ibadah

 Bagi mereka yang sering melintasi kawasan Cikini dan Gondangdia, Masjid Cut Mutiah yang beralamat di Jl. Cut Mutiah Nomor 1 ini bukan merupakan tempat yang asing. Bangunan dua lantai ini semua merupakan kantor biro arsitek dan pengembang N.V. De Bouwploeg, di bawah pimpinan Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Moojen sendiri yang merancang bangunan berbentuk kubus yang dibangun pada tahun 1922. Nama De Bouwploeg memiliki arti harfiah “Kelompok Membangun”.

Tampak Luar Mesjid Cut Mutiah

N.V. De Bouwploeg merupakan pengembang wilayah Menteng yang dibangun sejak tahun 1912. Di era Tanam Paksa, hampir semua Perusahaan yang beroperasi di sektor pertanian dan Perkebunan di Hindia Belanda membutuhkan kantor pusat yang berlokasi di dekat Batavia (saat itu batas kota Batavia baru sampai sekitar Kebon Sirih). Sebelum berkantor di kawasan Menteng, N.V. De Bouwploeg berkantor di kawasan Kota Tua, kurang lebih di Gedung BNI yang dekat Stasiun Kota. 

Setelah N.V. De Bouwploeg dinyatakan bangkrut pada tahun 1925, bangunan ini pernah memiliki berbagai fungsi, mulai dari Proviciale Waterstaat, kantor pos pembantu, pada Perang Dunia II digunakan oleh Kempetai Angkatan Laut Jepang (1942-1945), Kantor Jawatan Kereta Api hingga tahun 1957, Dinas Perumahan Rakyat (1957-1964), Gedung Perusahaan Air Minum, Sekretariat DPR-GR dan MPRS, dan Kantor Urusan Agama (1964-1970). Walaupun telah beralihfungsi beberapa kali, sejak tahun 1971 bangunan ini berada di bawah dinas Museum dan sejarah, karena telah ditetapkan sebagai cagar budaya, sehingga tidak boleh diubah bentuknya.

Bangunan ini mulai digunakan sebagai masjid sejak tahun 1970. Bangunan ini kemudian diwakafkan kepada angkatan 66. Para aktivitas angkatan 1966, seperti Akbar Tanjung dan Fahmi Idris, kemudian mendirikan Yayasan Masjid Al Jihad dan memfungsikan bangunan ini sebagai tempat shalat Jumat. Selanjutnya warga mendatangi Jendral A.H. Nasution sebagai Ketua MPRS, dan meminta gedung Bouwploeg bisa dialihfungsikan menjadi masjid sepenuhnya. 

Atas desakan dari berbagai pihak, baru pada masa Gubernur DKI Wiyogo Atmodarminto, bangunan ini diresmikan sebagai masjid tingkat provinsi dengan surat keputusan nomor SK 5184/1987 tanggal 18 Agustus 1987. Nama Masjid Cut Mutiah diambil karena jalan di samping masjid adalah Jl. Cut Mutiah. Namun demikian, nama Bouwploeg sendiri tidak hilang begitu saja, karena daerah tersebut masih sering disebut dengan Boplo, dan pasar yang terletak di sisi barat stasiun kereta api Gondangdia juga masih disebut sebagai Pasar Boplo.

Minggu 28 Januari 2024, akhirnya saya bersama rombongan Sahabat Museum berkesempatan untuk melihat bagian dalam bangunan ini (liputan lengkapnya bisa lihat di sini). Menarik, karena untuk bisa memahami arsitekturnya, kita harus tahu sejarah penggunaan bangunan ini. Karena semula dirancang untuk bangunan kantor, maka bangunan seluas 4.616 meter persegi ini dibuat menggunakan gaya Indie, untuk menyesuaikan dengan daerah tropis. Bangunan yang aslinya berbentuk kubus berlantai dua ini memiliki 3 buah jendela kaca di setiap sisinya, dengan total jendela 104 buah. Di bagian tengah bangunan terdapat menara ventilasi setinggi 4,2 meter untuk mengatur sirkulasi udara di dalam bangunan. 

Interior Mesjid Cut Mutiah

Ketika bangunan ini dijadikan masjid, banyak dilakukan penyesuaian, agar berbagai aspek masjid dapat masuk ke dalam bangunan tersebut. Sebagai hasilnya, bangunan masjid bergaya kolonial ini sangat unik dan tidak ditemukan di masjid lainnya. Salah satunya adalah mihrab masjid yang diletakkan di samping kiri dari saf shalat (tidak di tengah seperti pada umumnya). Selain itu, karena bangunan masjid dibuat tidak mengarah ke kiblat, maka posisi safnya miring terhadap bangunan masjidnya sendiri, kurang lebih 45 derajat dari poros bangunan. 

Jika diperhatikan, di dalam masjid terdapat balkon namun seperti tidak ada tangganya. Perubahan ini terjadi karena tangga balkon semula berada di tengah ruangan, tepat berada di arah kiblat. Agar tidak mengganggu jemaah yang beribadah, tangga ini kemudian dicopot, digantikan dengan tangga yang diletakkan di teras depan. Secara total, masjid ini mampu menampung 3000 jamaah di kedua lantainya.

Bang Adep sebagai pengelola komunitas Sahabat Museum menceritakan bahwa di masa lalu, di taman depan Gedung Bouwploeg terdapat Monumen Van Heutsz yang menghadap ke arah Jl. Menteng. Van Heutsz, lengkapnya Johannes Benedictus van Heutsz, adalah Gubernur Jendral Belanda yang sebelumnya pernah mengikuti misi militer ke Aceh dan pada tahun 1899 terlibat pertempuran dan berhasil menewaskan Teuku Umar. Monumen dengan dimensi lebar 16 meter x Panjang 20 meter x tinggi 12 meter tersebut dibangun pada tahun 1932. Monumen rancangan arsitek Belanda W.M. Dudok ini menggambarkan tuntasnya proses Pasifikasi Belanda selama masa pemerintahan Van Heutsz. Dalam monument tersebut digambarkan patung dada Van Heutsz di atas sebuah pilar, dan di bawah terdapat orang-orang dari Aceh, Jawa, dan Papua. Patung tersebut juga memiliki bentuk gajah, Binatang yang banyak terdapat di Sumatera. Tahun 1953, patung ini dihancurkan, dan sekarang tempat berdirinya patung yang sebelumnya bernama Van Heutsz Plein tersebut menjadi Taman Cut Mutiah.

Menariknya, di masa Hindia Belanda, jalan terbesar di dekat Gedung Bouwploeg dan Monumen Van Heutsz diberi nama Van Heutsz Boulevard. Di masa kemerdekaan, pada tahun 1950-an dilakukan pergantian nama jalan menjadi nama yang lebih nasionalis. Van Heutsz Boulevard kemudian berganti nama menjadi Jl. Teuku Umar, musuh bebuyutan Van Heutsz selama berlangsungnya Perang Aceh. Dan jika diperhatikan, daerah sekitar Mesjid Cut Mutia memiliki nama-nama pahlawan Aceh, termasuk Cut Mutia dan Cut Nyak Dien.